Reaksi untuk Puisi Sukmawati: Sekujur Tubuh Kita adalah Puisi 0 1234

Aduh…

Andai saja menyelesaikan konflik sekaliber menistakan agama bisa semudah duduk bersama, ngupi-ngupi, sambil ngrasani orang. Walaupun di luar sana, jauh di luar sana, orang-orang bertemu di tempat ngopi untuk merencanakan sesuatu yang produktif: membuat kapal, inovasi teknologi, jual beli big data, merakit pesawat, menyelidiki kehidupan planet. Sementara kita, di dalam sini, jauh di dalam sini, sedang sibuk membuat masalah. Masalah yang sebenarnya bersifat transenden, dimana hanya Tuhan dan hambanyalah yang dapat menyelesaikan itu. Bukan negara, netijen, atau bahkan ormas. Bukan.

Hari ini dan hari-hari esok adalah milik Sukmawati Soekarnoputri. Berkat puisinya berjudul ‘Ibu Indonesia’ SS (Sukmawati Soekarnoputri) berhasil mengantarkan dirinya ke hadapan para selebgram syariah, yakni, Persaudaraan Alumni 212. Sungguh, ini benar-benar ada guys. Rasa-rasanya mereka menjalar ke sembarang tempat. Mungkin SS tidak mengira, bagaimana akhirnya aksi pembacaan puisi dalam acara tribute 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018 akan menjadi bahan perpeloncoan sebagai orang baru dalam kasus penistaan agama: menjadi juniornya Ahok.

Puisi ini dianggap kontroversial, dan dapat memecah belah bangsa negara, serta umat sekalian, karena telah lancang melecehkan Islam melalui diksi yang memuat Syariat Islam dan Azan. Titik kritis mazhab 212 ini ditekankan pada kedua kata tersebut, yang dianggap telah membanding-bandingkan Islam dengan sesuatu yang receh. Berikut adalah penggalan larik puisi Ibu Indonesia:

“Aku tak tahu Syariat Islam

Yang kutahu suara kidung Indonesia, sangatlah elok

Lebih merdu dari alunan azanmu

Gemulai gerak tariannya adalah ibadah

Semurni irama puji kepada illahi”

….

Pekerjaan menafsirkan itu memang sulit, namun yang lebih sulit, adalah berusaha memahami. Makanya riskan untuk mengambil peran ini, berat, biar ahli hermeneutik saja (mas Robbyan tolong hentikan gombalan kampung a la Dilan ini, bosan—ttd Editor). Tapi kalau dipikir-pikir kembali, Puisi itu niscaya multi-tafsir, walaupun kata Barthes, mbah semiotika yang termasyur itu, “pengarang sudah mati di hadapan pembaca.”

Namun di arti lain, pengarang sesungguhnya tetap memiliki otoritas atas makna yang disuguhkan pada pembaca. Nah, kalau semisal, SS mau mengklarifikasi makna dari puisinya itu dengan makna yang lebih “alim”, dan berbanding terbalik dengan makna yang dipahami Mazhab Persaudaraan Alumni 212, maka tuntutan pidana yang dijuruskan padanya bisa terpental. Selanjutnya, SS bisa menuntut balik Persaudaraan Alumni 212 dengan dalih pencemaran nama baik dan penyebaran berita hoax, atau fitnah.

Tapi bukankah semua yang ada di dunia ini sedang kita tafsirkan. Bahkan gambaran dunia di dalam kitab suci dikemas sedemikian puitis. Tuhan menurunkan kitab suci dengan gaya sastra bukan tanpa sebab, supaya ketika membacanya kita tetap berpikir. Supaya kita dapat menjalankan fungsi bahasa dalam akal kita. Sebab bahasa, adalah satu-satunya pembeda manusia dengan hewan. Keliru menafsirkan kitab suci berarti keliru menafsirkan dunia, keliru menafsirkan dunia berarti keliru menafsirkan hidup, keliru menafsirkan hidup berarti keliru menafsirkan diri sendiri, keliru menafsirkan diri sendiri berarti kita keliru menafsirkan Tuhan. Jika sudah sejauh itu, maka segeralah kembali ke kitab suci: Iqra’. Berulang-ulang, sampai kelak kita dihadapkan pada pidana milik-Nya.

Hanya saja, penulis curiga, jangan-jangan kegaduhan ini sengaja dibiarkan agar terus dibicarakan oleh masyarakat. Dengan begitu, mereka yang terlibat dalam konflik menjadi lebih famous. Followers nambah. Terlebih demi mempersiapkan jumlah penonton 212 Movie yang akan rilis di bioskop pada 9 Mei 2018 nanti. Bisa jadi, isu ini memiliki relasi dengan strategi pemasaran film tersebut agar ramai pengunjung, minimal mengimbangi sakses Dilan. Film ini meromantisir perjuangan mulia habibana Rizieq, yang sekaligus dikomodifikasi untuk kepentingan ekonomi anak-anaknya. Sekali lagi, jangan-jangan, isu penistaan agama kembali dimunculkan untuk merawat massa aksi 212, dengan kata lain merawat penonton 212 Movie di bioskop nanti. Akan ada 7 juta orang masuk bioskop pada tanggal 9 Mei nanti (mungkin dengan dreesscode serba putih).

Itu kan tafsiran penulis, kalau film 212 itu diterbitkan untuk sekadar mengenang perjoeangan suatu kaum, sah-sah saja. Tapi kalau penonton prematur macam penulis ini mau memaknai itu sebagai agenda kapitalisme kan boleh juga. Sebagaimana Mazhab Alumni 212 yang memaknai hanya permukaan dari puisi Soekmawati Soekarnoputri secara prematur. Bukankah sekujur tubuh kita dan setiap sudut dunia ini adalah puisi yang memang harus ditafsirkan?

Wallahu A’lam Bish-Shawabi

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 150

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 173

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks