Reaksi untuk Puisi Sukmawati: Sekujur Tubuh Kita adalah Puisi 0 1183

Aduh…

Andai saja menyelesaikan konflik sekaliber menistakan agama bisa semudah duduk bersama, ngupi-ngupi, sambil ngrasani orang. Walaupun di luar sana, jauh di luar sana, orang-orang bertemu di tempat ngopi untuk merencanakan sesuatu yang produktif: membuat kapal, inovasi teknologi, jual beli big data, merakit pesawat, menyelidiki kehidupan planet. Sementara kita, di dalam sini, jauh di dalam sini, sedang sibuk membuat masalah. Masalah yang sebenarnya bersifat transenden, dimana hanya Tuhan dan hambanyalah yang dapat menyelesaikan itu. Bukan negara, netijen, atau bahkan ormas. Bukan.

Hari ini dan hari-hari esok adalah milik Sukmawati Soekarnoputri. Berkat puisinya berjudul ‘Ibu Indonesia’ SS (Sukmawati Soekarnoputri) berhasil mengantarkan dirinya ke hadapan para selebgram syariah, yakni, Persaudaraan Alumni 212. Sungguh, ini benar-benar ada guys. Rasa-rasanya mereka menjalar ke sembarang tempat. Mungkin SS tidak mengira, bagaimana akhirnya aksi pembacaan puisi dalam acara tribute 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018 akan menjadi bahan perpeloncoan sebagai orang baru dalam kasus penistaan agama: menjadi juniornya Ahok.

Puisi ini dianggap kontroversial, dan dapat memecah belah bangsa negara, serta umat sekalian, karena telah lancang melecehkan Islam melalui diksi yang memuat Syariat Islam dan Azan. Titik kritis mazhab 212 ini ditekankan pada kedua kata tersebut, yang dianggap telah membanding-bandingkan Islam dengan sesuatu yang receh. Berikut adalah penggalan larik puisi Ibu Indonesia:

“Aku tak tahu Syariat Islam

Yang kutahu suara kidung Indonesia, sangatlah elok

Lebih merdu dari alunan azanmu

Gemulai gerak tariannya adalah ibadah

Semurni irama puji kepada illahi”

….

Pekerjaan menafsirkan itu memang sulit, namun yang lebih sulit, adalah berusaha memahami. Makanya riskan untuk mengambil peran ini, berat, biar ahli hermeneutik saja (mas Robbyan tolong hentikan gombalan kampung a la Dilan ini, bosan—ttd Editor). Tapi kalau dipikir-pikir kembali, Puisi itu niscaya multi-tafsir, walaupun kata Barthes, mbah semiotika yang termasyur itu, “pengarang sudah mati di hadapan pembaca.”

Namun di arti lain, pengarang sesungguhnya tetap memiliki otoritas atas makna yang disuguhkan pada pembaca. Nah, kalau semisal, SS mau mengklarifikasi makna dari puisinya itu dengan makna yang lebih “alim”, dan berbanding terbalik dengan makna yang dipahami Mazhab Persaudaraan Alumni 212, maka tuntutan pidana yang dijuruskan padanya bisa terpental. Selanjutnya, SS bisa menuntut balik Persaudaraan Alumni 212 dengan dalih pencemaran nama baik dan penyebaran berita hoax, atau fitnah.

Tapi bukankah semua yang ada di dunia ini sedang kita tafsirkan. Bahkan gambaran dunia di dalam kitab suci dikemas sedemikian puitis. Tuhan menurunkan kitab suci dengan gaya sastra bukan tanpa sebab, supaya ketika membacanya kita tetap berpikir. Supaya kita dapat menjalankan fungsi bahasa dalam akal kita. Sebab bahasa, adalah satu-satunya pembeda manusia dengan hewan. Keliru menafsirkan kitab suci berarti keliru menafsirkan dunia, keliru menafsirkan dunia berarti keliru menafsirkan hidup, keliru menafsirkan hidup berarti keliru menafsirkan diri sendiri, keliru menafsirkan diri sendiri berarti kita keliru menafsirkan Tuhan. Jika sudah sejauh itu, maka segeralah kembali ke kitab suci: Iqra’. Berulang-ulang, sampai kelak kita dihadapkan pada pidana milik-Nya.

Hanya saja, penulis curiga, jangan-jangan kegaduhan ini sengaja dibiarkan agar terus dibicarakan oleh masyarakat. Dengan begitu, mereka yang terlibat dalam konflik menjadi lebih famous. Followers nambah. Terlebih demi mempersiapkan jumlah penonton 212 Movie yang akan rilis di bioskop pada 9 Mei 2018 nanti. Bisa jadi, isu ini memiliki relasi dengan strategi pemasaran film tersebut agar ramai pengunjung, minimal mengimbangi sakses Dilan. Film ini meromantisir perjuangan mulia habibana Rizieq, yang sekaligus dikomodifikasi untuk kepentingan ekonomi anak-anaknya. Sekali lagi, jangan-jangan, isu penistaan agama kembali dimunculkan untuk merawat massa aksi 212, dengan kata lain merawat penonton 212 Movie di bioskop nanti. Akan ada 7 juta orang masuk bioskop pada tanggal 9 Mei nanti (mungkin dengan dreesscode serba putih).

Itu kan tafsiran penulis, kalau film 212 itu diterbitkan untuk sekadar mengenang perjoeangan suatu kaum, sah-sah saja. Tapi kalau penonton prematur macam penulis ini mau memaknai itu sebagai agenda kapitalisme kan boleh juga. Sebagaimana Mazhab Alumni 212 yang memaknai hanya permukaan dari puisi Soekmawati Soekarnoputri secara prematur. Bukankah sekujur tubuh kita dan setiap sudut dunia ini adalah puisi yang memang harus ditafsirkan?

Wallahu A’lam Bish-Shawabi

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Huru-Hara Anti-masker di Negeri Pak Trump 0 79

Oleh: Deanita Nurkhalisa*

 

Kisah datang dari Amerika Serikat (AS), negeri nun jauh dengan jumlah penderita terkonfirmasi Covid-19 terbanyak di level global mencapai titik tertinggi 3,4 juta kasus, 67 ribu kasus baru dan total kematian sebanyak 136 ribu jiwa. Ketika tak kunjung tampak terobosan signifikan dalam penanganan kasus, pada saat yang sama muncul pula sikap meremehkan yang datang dari berbagai kelompok, dari awam hingga figur berpengaruh. Anjuran dan nasihat kesehatan dimentahkan oleh gerakan anti-masker.

Gerakan anti-masker (anti-mask) menuai perhatian semenjak persyaratan lockdown perlahan diangkat dan fasilitas umum kembali dibuka dengan ketentuan wajib seperti pengenaan masker. Mereka menentang keras pendapat ilmiah, seperti dari Central for Disease Control and Prevention (CDC) yang meyakinkan publik bahwa penggunaan masker mengurangi risiko penularan. Tindakan ini sejalan dengan istilah keren ‘flatten the curve’, merebahkan kurva jumlah penderita dengan menginstruksikan penggunaan masker atau sarana pencegahan lain demi menekan laju Covid-19.

Kerumunan anti-masker mencuri perhatian atas apa yang mereka lakukan di pusat-pusat perbelanjaan, provokasi demonstrasi, maupun menyuarakan aspirasi lewat pertemuan dewan kota. Bentuk protes terhadap mandat penggunaan masker juga ditunjukkan melalui ejekan penggunaan masker berbentuk jaring (mesh mask) yang tentunya tidak melindungi wajah dari partikel berbahaya. Di Roseville, Sacramento, seorang warga mengencingi lantai toko Verizon Store karena menolak diusir meninggalkan toko akibat tidak mengenakan masker.

Di kesempatan tertentu, sekelompok anti-maskers meneriakkan kalimat ‘I can’t breathe’ (‘aku ra isa ambegan’) yang sebelumnya menjadi slogan solidaritas gerakan Black Lives Matter, mengutip kalimat terakhir George Floyd sebelum ia menjadi korban rasisme yang dilakukan aparat kepolisian di AS. Ironisnya, kalimat tersebut diinisiasi oleh anggota dewan kota Scottsdale, Arizona, pada aksi protes pengenaan masker akhir bulan lalu. Fakta-fakta itu menunjukkan egoisme, ketidakpekaan, dan minimnya empati dalam kelompok protes tersebut.

Klaim utama kelompok antimasker adalah bahwa kewajiban penggunaan masker oleh pemerintah ‘merenggut hak asasi dan kebebasan atas tubuh’ atau ‘perbudakan, penundukan, dan penaklukan’ oleh negara atas warga.

Beberapa pernyataan ini mengherankan karena beberapa alasan.

Adanya pandemi global memerlukan pencegahan yang dalam jangka panjang dapat memberikan hasil efektif, apabila dilakukan dengan benar dan secara massal untuk mencegah penularan. Tujuan untuk kebaikan bersama tersebut yang menjadi dasar pemerintah menggalakkan penggunaan masker. Tidak ada yang dapat menjamin seseorang akan dapat terinfeksi atau bahkan menginfeksi orang lain. Namun, tindakan pencegahan dapat membantu menurunkan risiko tersebut.

Masker bukanlah simbol atas penaklukan, apalagi menempatkan penggunanya sebagai ‘budak’, melainkan hanyalah sebuah alat penghalau partikel berbahaya di udara agar tubuh manusia tidak terinfeksi. Tidak ada anggapan implisit rasis atau misoginis yang ditemukan dari pengenaan masker. Pun bukanlah wujud dari agenda politis pihak oposisi untuk tujuan tertentu.

Tindakan pencegahan di masa pandemi ini tidak seharusnya menjadi isu politis maupun konspiratif yang dapat memecah opini. Dibutuhkan solidaritas, empati dan kebesaran hati untuk bergerak saling melindungi demi berakhirnya pandemi. Hal tersebut juga harus diiringi oleh informasi yang sesuai dan data yang cukup serta kemampuan berdialog secara efektif berdasarkan fakta yang ada. Bukan didasari sentimen apapun seperti pandangan politik, sehingga perdebatan mengenai pengenaan masker setidaknya dapat dilakukan secara substantif dan tidak sewenang-wenang.

Begitu juga dengan figur pemerintah yang memiliki pengaruh signifikan ke masyarakat. Sudah seharusnya mereka menyediakan edukasi, jaminan dan kepastian yang dibutuhkan oleh masyarakat agar negara tetap utuh dalam menghadapi krisis pandemi global.

 

*)Mahasiswi yang senang puisi, kucing, dan antariksa. Terbuka atas masukan atau cuma basa-basi lewat akun Instagram @ohitsjustdenit.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Tips Buat Para Penganggur di Masa Pandemi 1 173

Oleh: Putu Gadis Arvia Puspa*

Karena tulisan ini terbit sehari setelah hari kemerdekaan, maka penulis hendak mengucapkan: dirgahayu Indonesiaku yang ke tujuh puluh lima! 17 Agustus-an tahun ini terasa sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Indonesia dan dunia sedang menghadapi perang pandemi Covid-19.

Atmosfer orang ketika batuk akan berubah. Perlahan akan timbul rasa cemas kemudian diantisipasi penyebaran virusnya oleh masyarakat dengan mundur beberapa langkah, lengkap dengan masker yang sudah menempel di wajah.

Dari segi ekonomi, tentu ada yang kehilangan pekerjaan. Dari segi hubungan kedekatan, bisa juga kehilangan pasangannya. Yang paling tragis adalah sampai kehilangan orang tua dan keluarga tercinta. Semuanya membekaskan luka dan duka.

Tahun 2020 ini benar-benar menguji kesabaran, kewaspadaan dan kemampuan adaptif kita sebagai mahluk hidup untuk tetap berjuang walau rasanya hidup ini bagai kiamat. Masalah itu akan selalu ada, sehingga menjadi tantangan untuk diri sendiri dan bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaannya.

Sama juga seperti artikel ini yang sengaja ditulis H-1 hari kemerdekaan Indonesia biar kerasa vibes-nya kayak lagi mempersiapkan proklamasi di Renglasdengklok bareng Bung Karno. Ihiy. Yaaaa anggap saja ini seperti proklamasi versi saya. Secara ini tulisan pertama saya kalo jadi terbit di Kalikata (red: jadi terbit kok, tapi butuh waktu buat ngeditnya aja, hehe).

Pintu kamar saya tutup rapat. Pertanda saatnya beraksi mencari inspirasi dan pengalaman baru di internet. Saking lamanya di rumah, saya biasanya jadi terlalu dalam menjelajah internet, akhirnya jadi lupa waktu, lupa makan, tapi tetap mandi kok.

Gilak! Rasanya tuh kayak bener-bener pusing sih. Mata kabur, punggung pegal, kaki keram. Tapi, diri ini tetap asyik seharian baca-baca artikel, main gartic bareng teman, typing test, dan nonton TikTok. Pengen sih nonton Netflix, tapi gak punya duit buat langganan. Yaudah, manfaatkan apa yang bisa ditonton saja dulu, di mana lagi kalau bukan di Youtubeee. Karena Youtube Youtube Youtube lebih dari Tv boom! Ea.

Kangen sebenarnya sama lambe-lambe di tongkrongan yang bilang “Udah tau belom, kalo si itu… bla bla bla bla“, nggosip. Tidak ada yang bisa mengalahkan asyiknya bisa bersosialisasi sekaligus diskusi. Kurang lebih sama lah ya kayak Chaerul Saleh dan kawan-kawan yang ngumpul buat diskusi politik di masa itu.

Tapi situasi sekarang kan susah ya kalo mau diskusi seaysik itu. Harus chat dulu, nunggu di-read, share link, saling debat pake paragraph panjang-panjang. Itupun cepet-cepetan ngetik ya kan. Belom lagi urusan sinyal. Story tellingnya kurang dapet gitu loh. Ekspresi dan nada suara teman kita itu ga bisa lagi untuk menendang gejolak emosi jiwa kompetitif dari kaum yang suka keributan ini.

Ada sih alternatif misalnya pake Zoom, Google Meet, dan platform video call lainnya buat ngatasin masalah tadi. Tapi tetep aja rasanya gak afdol gitu kalo ga ketemu langsung. Huhhh..

Ngomongin internet, kasus kan lagi banyak nih yang viralnya bukan main di medsos. Apalagi momentumnya sekarang orang lagi di rumah aja, jadi tingkat fokusnya dalam menyimak berita terkini lebih tinggi, ya walaupun belum tentu tajam.

Ketidakseriusan sejak awal pemerintah dalam menghadapi pandemi akhirnya makin merusak dan membakar emosi dari harapan rakyat. Transparansi selalu dituntut guna mengetahui kenyataan, namun ditahan dengan niat agar tidak menghawatirkan rakyat.

Baru-baru ini, juga ada kabar seorang aktivis pegiat HAM diminta mengembalikan beasiswa senilai 773 juta dari LPDP. Netijen pun berasumsi, hal ini diduga kuat sebagai upaya terbaru untuk menekan Veronica Koman berhenti melakukan advokasi HAM Papua.

Kasus lain lagi, berbagai kekerasan seksual yang mulai terkuak. Ini semua berkat pengakuan para korban yang akhirnya berani speak up di media sosial.

Ada pula kenyataan bahwa politik dinasti yang kian ramai mengisi pilkada Indonesia. Pun, tragedi kecurangan pada seleksi masuk perguruan tinggi negeri hingga sekolah kedinasan. Di sisi lain, dampak buruk akibat Covid-19 di hampir semua sektor secara global, semakin mengancam dan menghantui negara kita untuk resesi ekonomi.

Tidak cukup sampai di situ, saya pun sempat menengok Twitter, yang juga baru-baru ini menjadi tempat ajang demo online oleh mahasiswa Unair dalam menyuarakan isi hati. Isu ini juga jadi trending di media sosial: soal tuntutan penurunan UKT.

Di balik semua masalah yang memaksa otak kita untuk berpikir sok kritis, tentu ada juga banyak hal trending yang bisa membuat kita tetap terhibur, terinspirasi, sampai speechless. Misalnya lalu lintas TikTok yang kini makin populer, karena dianggap lebih seru. Aplikasi yang satu ini bikin auto menggerakan saraf manusia untuk joget ala TikTok (bahkan sudah dianggap cabang tarian). Terkadang, kontennya juga dinilai bermanfaat karena informatif.

Makin banyak orang-orang kreatif yang memamerkan karyanya di tengah pandemic ini. Misalnya Lathi challenge yang hypenya super dimana-mana. Mulai dari jadi backsound time lapse orang gambar animasi baju adat Indonesia lewat ipad, sampai backsound make up oleh Jharnabhagwani. Kalo di Twitter abang Fiersa Besari, terakhir Lathi dipake buat senam sama ibu ibu.

Untungnya, di hari kesekian menghabiskan waktu di rumah, tentu saja saya melakukan berbagai aktivitas yang sudah saya sebutkan tadi. Berbeda dengan video Youtube Sobat Miskin Official dengan konten “2 jam gak ngapa-ngapain” (dan saya pun kena prank nonton videonya sampai habis), yang bikin saya mikir “kok ada-ada aja ya ide orang di tengah pandemi ini”.

Sebagai pengamat Youtube, saya mau sedikit berpesan pada para pembaca. Menghabiskan waktu di rumah aja memang membosankan, tapi ada banyak hal yang bisa dilakukan kok. Kreativitas kita yang tanpa batas masih bisa ditampung dengan konten audio visual, dan dipublikasikan di Youtube atau media sosial lainnya. Tapi, memang harus serba hati-hati dengan derasnya informasi, karena bisa bikin pusing sendiri.

Yang terpenting, jangan sampai gara gara stock anime atau film atau drama korea habis, kalian malah mengisi waktu luang dengan membuat prank aneh-aneh atau video cringe “ara ara”. Mending review film ae lah! Kalo gak, mukbang atau ASMR. Atau nonton Youtube Got Talentnya SkinnyIndonesian24, juga bisa jadi pilihan.

 

*) Penonton setia Youtube, drama korea, kartun, dan anime, tapi ga terlalu. Tujuan utama dalam hidup adalah untuk mencapai moksa. Mata sipit belum tentu Cina, siapa tahu Bali.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Editor Picks