Reaksi untuk Puisi Sukmawati: Sekujur Tubuh Kita adalah Puisi 0 1106

Aduh…

Andai saja menyelesaikan konflik sekaliber menistakan agama bisa semudah duduk bersama, ngupi-ngupi, sambil ngrasani orang. Walaupun di luar sana, jauh di luar sana, orang-orang bertemu di tempat ngopi untuk merencanakan sesuatu yang produktif: membuat kapal, inovasi teknologi, jual beli big data, merakit pesawat, menyelidiki kehidupan planet. Sementara kita, di dalam sini, jauh di dalam sini, sedang sibuk membuat masalah. Masalah yang sebenarnya bersifat transenden, dimana hanya Tuhan dan hambanyalah yang dapat menyelesaikan itu. Bukan negara, netijen, atau bahkan ormas. Bukan.

Hari ini dan hari-hari esok adalah milik Sukmawati Soekarnoputri. Berkat puisinya berjudul ‘Ibu Indonesia’ SS (Sukmawati Soekarnoputri) berhasil mengantarkan dirinya ke hadapan para selebgram syariah, yakni, Persaudaraan Alumni 212. Sungguh, ini benar-benar ada guys. Rasa-rasanya mereka menjalar ke sembarang tempat. Mungkin SS tidak mengira, bagaimana akhirnya aksi pembacaan puisi dalam acara tribute 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di Indonesia Fashion Week 2018 akan menjadi bahan perpeloncoan sebagai orang baru dalam kasus penistaan agama: menjadi juniornya Ahok.

Puisi ini dianggap kontroversial, dan dapat memecah belah bangsa negara, serta umat sekalian, karena telah lancang melecehkan Islam melalui diksi yang memuat Syariat Islam dan Azan. Titik kritis mazhab 212 ini ditekankan pada kedua kata tersebut, yang dianggap telah membanding-bandingkan Islam dengan sesuatu yang receh. Berikut adalah penggalan larik puisi Ibu Indonesia:

“Aku tak tahu Syariat Islam

Yang kutahu suara kidung Indonesia, sangatlah elok

Lebih merdu dari alunan azanmu

Gemulai gerak tariannya adalah ibadah

Semurni irama puji kepada illahi”

….

Pekerjaan menafsirkan itu memang sulit, namun yang lebih sulit, adalah berusaha memahami. Makanya riskan untuk mengambil peran ini, berat, biar ahli hermeneutik saja (mas Robbyan tolong hentikan gombalan kampung a la Dilan ini, bosan—ttd Editor). Tapi kalau dipikir-pikir kembali, Puisi itu niscaya multi-tafsir, walaupun kata Barthes, mbah semiotika yang termasyur itu, “pengarang sudah mati di hadapan pembaca.”

Namun di arti lain, pengarang sesungguhnya tetap memiliki otoritas atas makna yang disuguhkan pada pembaca. Nah, kalau semisal, SS mau mengklarifikasi makna dari puisinya itu dengan makna yang lebih “alim”, dan berbanding terbalik dengan makna yang dipahami Mazhab Persaudaraan Alumni 212, maka tuntutan pidana yang dijuruskan padanya bisa terpental. Selanjutnya, SS bisa menuntut balik Persaudaraan Alumni 212 dengan dalih pencemaran nama baik dan penyebaran berita hoax, atau fitnah.

Tapi bukankah semua yang ada di dunia ini sedang kita tafsirkan. Bahkan gambaran dunia di dalam kitab suci dikemas sedemikian puitis. Tuhan menurunkan kitab suci dengan gaya sastra bukan tanpa sebab, supaya ketika membacanya kita tetap berpikir. Supaya kita dapat menjalankan fungsi bahasa dalam akal kita. Sebab bahasa, adalah satu-satunya pembeda manusia dengan hewan. Keliru menafsirkan kitab suci berarti keliru menafsirkan dunia, keliru menafsirkan dunia berarti keliru menafsirkan hidup, keliru menafsirkan hidup berarti keliru menafsirkan diri sendiri, keliru menafsirkan diri sendiri berarti kita keliru menafsirkan Tuhan. Jika sudah sejauh itu, maka segeralah kembali ke kitab suci: Iqra’. Berulang-ulang, sampai kelak kita dihadapkan pada pidana milik-Nya.

Hanya saja, penulis curiga, jangan-jangan kegaduhan ini sengaja dibiarkan agar terus dibicarakan oleh masyarakat. Dengan begitu, mereka yang terlibat dalam konflik menjadi lebih famous. Followers nambah. Terlebih demi mempersiapkan jumlah penonton 212 Movie yang akan rilis di bioskop pada 9 Mei 2018 nanti. Bisa jadi, isu ini memiliki relasi dengan strategi pemasaran film tersebut agar ramai pengunjung, minimal mengimbangi sakses Dilan. Film ini meromantisir perjuangan mulia habibana Rizieq, yang sekaligus dikomodifikasi untuk kepentingan ekonomi anak-anaknya. Sekali lagi, jangan-jangan, isu penistaan agama kembali dimunculkan untuk merawat massa aksi 212, dengan kata lain merawat penonton 212 Movie di bioskop nanti. Akan ada 7 juta orang masuk bioskop pada tanggal 9 Mei nanti (mungkin dengan dreesscode serba putih).

Itu kan tafsiran penulis, kalau film 212 itu diterbitkan untuk sekadar mengenang perjoeangan suatu kaum, sah-sah saja. Tapi kalau penonton prematur macam penulis ini mau memaknai itu sebagai agenda kapitalisme kan boleh juga. Sebagaimana Mazhab Alumni 212 yang memaknai hanya permukaan dari puisi Soekmawati Soekarnoputri secara prematur. Bukankah sekujur tubuh kita dan setiap sudut dunia ini adalah puisi yang memang harus ditafsirkan?

Wallahu A’lam Bish-Shawabi

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagi Mereka, Antirasisme Tak Lebih dari Sekadar Konten 0 164

George Floyd, pria berkulit hitam yang meninggal karena lehernya ditindih kaki petugas pulisi berkulit putih Minneapolis, AS menimbulkan gelombang protes. Bahkan ribuan warga AS teramasuk selebritis sudah bodo amat dengan korona dan ‘stay at home.

Mereka turun ke jalan untuk memprotes diskriminasi terhadap warga berkulit hitam dan menuntut  pemerintah agar pelaku pembunuhan segera diadili. Di media sosial juga ramai postingan penuh empati yang dibungkus amarah warga net mengenai kasus yang tak kunjung menemukan titik cerah itu.

Louis Vuitton sebagai merek legendaris pun terkena bola api amarah netizen karena marketing masif tas terbarunya ‘Pont 9’. Merek asal Paris ini membayar sejumlah artis dan fashion influencer di seluruh dunia untuk promosi di Instagram.

Namun, tak ada postingan yang menunjukkan empati mereka terhadap isu rasisme yang sedang panas itu. Alhasil, merek high-end ini pun dikecam netizen dan pesohor seperti Emily Ratajkowski karena dinilai tak peka dengan isu sosial. Tak hanya dikecam, pada 31 Mei lalu, butik Louis Vuitton di Oregon dijarah oleh massa.

Tak mau menjadi sasaran amukan massa, merek-merek lain akhirnya memposting foto prihatin terhadap kasus ini dan menyuarakan antirasisme. Diawali dari Versace, lalu dilanjut oleh Dior, Alexander McQueen, dan merek-merek beken lainnya.

Dari observasi kecil-kecilan saya, hingga saat ini, hanya Louis Vuitton yang masih bersih dari postingan antirasisme. Ya sudah, terserah dia.

Saya mengira masalah sudah beres. Ternyata, kasus Louis Vuitton hanyalah appetizer dari masalah empati dan antirasisme yang ada di dunia yang fana ini. Seperti yang tertulis di lirik lagu penyanyi indie terpopuler se-Indonesia, Kekeyi, “ucapanmu manis di bibir saja”, pun juga dengan kampanye antirasisme dari selebgram dan merek-merek kedagingan ini. Rupanya, postingan mereka sebatas wacana yang tidak dipraktikkan di dunia nyata.

Celine, merek asal Perancis ini memposting foto bahwa ia mengecam segala bentuk diskriminasi. Ia juga menuliskan di kepsyen “#BLACKLIVESMATTER” sebagai cherry on top.

Postingan ini diprotes oleh seorang fashion stylist, Jason Bolden. Hal ini dikarenakan Heidi Slimane, sang creative director, enggan mendandani seebritis berkulit hitam, kecuali stylist mereka berkulit putih.

Merek di bawah naungan LVMH ini selalu – semenjak kursi creative director diduduki oleh Heidi Slimane – memiliki jumlah model berkulit hitam di setiap shownya. Pada koleksi musim gugur 2020 misalnya, hanya ada 10 model berkulit hitam dari 111 model (9 persen). Sosok model berkulit hitam sangat jarang ditemui di feed Instagramnya.

Selanjutnya, ada kasus dari L’oréal . Merek mek-ap ini mengunggah foto di Instagram dan twit di Twitter yang intinya melawan segala bentuk diskriminasi warna kulit. Munroe Bergdorf, seorang model berkulit hitam, sontak memberikan tanggapan sinis kepada L’oréal. Rupanya, iapernah didapuk sebagai modelnya pada 2017. Sayangnya, ia dipecat usai menyuarakan protes terhadap white supremacy di Facebook.

Zimmermann, merek pakaian bergaya bohemian ini masuk ke dalam daftar pihak-pihak yang cari aman usai kasus Louis Vuitton. Sama dengan kasus-kasus di atas, merek asal Sydney ini mengatakan bahwa intinya ia berkomitmen untuk melawan praktik-praktik diskriminasi.

Namun, mereka-mereka yang pernah bekerja dan magang di sana angkat bicara. Mereka mengatakan bahwa pekerja kulit hitam kerap kali mendapat diskriminasi dan sering dipojokkan. Tak hanya itu, Zimmermann juga menerapkan beauty standard perempuan berkulit putih Eropa.

Lalu Kris Schitzel, selebgram Rusia yang berfoto di tengah pendemo sambil membawa tulisan “BLACK LIVES MATTER”.  Ia menerima hujatan usai video behind the scene “pemotretan” untuk foto tersebut beredar. Terlihat ia menata pose sedemikian rupa sambil membenarkan gaunnya.

Memang tak seniat video Brojabro dengan sayap Victoria’s Secret-nya saat aksi unjuk rasa mahasiswa di Surabaya silam, namun video tersebut sudah dapat membuat kita menyimpulkan bahwa ternyata gerakan yang ia lakukan tak lebih dari kebutuhan produksi konten di medsos.

Last but not least, kasus yang menyeret perempuan paling berpengaruh di dunia fashion saat ini, Anna Wintour. Vogue AS, majalah ternama yang dikepalai oleh Wintour ini di media sosialnya aktif  menyuarakan Black Lives Matter. Namun, pada Rabu (10/6) lalu, wanita yang mendapat julukan “Nuclear Wintour” ini meminta maaf atas minimnya kesempatan bekerja bagi orang berkulit hitam di kantornya.

Pernyataan tersebut membuat beberapa mantan pekerja berkulit hitam di Vogue angkat bicara di Twitter. Mereka mengungkapkan perlakuan tidak menyenangkan dari Wintour dan pekerja lain. Mulai dari di-bully, hingga gaji yang lebih sedikit harus mereka telan selama bekerja di majalah yang dijuluki fashion bible tersebut.

Miris sekali ya, ketika empati kita sangat dibutuhkan di masa ini, ternyata hanya dijadikan konten guna menaikkan citra mereka, biar seakan-akan peduli dengan isu rasisme. Tuntutan netijen yang begitu besar untuk menampilkan konten empati, malah membuat sejumlah pihak menganggapnya sebagai formalitas belaka.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Renungan Seonggok Pemuja Online Shop 0 84

Sudah hampir 3 bulan kita dihajar kampanye urban yang telah menjadi gaya hidup: #dirumahaja. Walau sebentar kita tak perlu merasa terkurung lagi, tatanan kehidupan yang baru hampir terbentuk dari babak hidup kemarin.

Semua aktivitas lantas dilakukan dari tempat ternyaman, entah sofa atau bahkan tempat tidur, termasuk belanja online.

Mau ke supermarket sebenarnya bisa sih. Toh supermarket dan pasar adalah salah satu ragam bisnis yang senantiasa terkecualikan dengan boleh tetap bernapas, demi mengisi logistik masyarakat.

Tapi sebagian dari kita yang tidak termakan teori konspirasi JRX percaya virus corona ada, menjadi was-was dan meminimalisir kegiatan keluar rumah, sekalipun sekadar untuk berbelanja.  Sebisa mungkin di rumah, menghindari kerumunan, memenuhi bujukan anjuran pemerintah. Beraktivitas di luar rumah menjadi suatu kegiatan yang bahkan mulai terasa asing.

Kita patut bersyukur, bahwa sebelum corona memutuskan untuk mengusik kehidupan kita, teknologi market place sudah berkembang sedemikian rupa. Peluangnya bahkan makin merambah di situasi seperti sekarang ini.

Semua-semua saja dibeli online. Mulai dari susu hingga pisau dapur, dari sayur-mayur hingga cairan pewangi pakaian, kaos kaki impor Cina atau HP hasil pasar gelap, semua dimungkinkan hanya dengan sentuhan jari di gawai.

Bahkan kata teman-teman saya, selama menikmati PSBB di rumah, membuka aplikasi online shop sudah jadi habitus baru yang tak terhindarkan. Ajaibnya, online shop kini berkembang fungsinya, sampai-sampai ikut jadi pereda kebosanan. Ia menjadi obat mujarab atas panas nan jenuhnya hati atau menghindarkan diri dari potensi termakan hoax di grup WhatsApp keluarga.

Namun, ada akibat fatal yang tak kuasa kita taklukkan. Kita tak bisa hanya sekadar “cuci mata” di aplikasi belanja online. Kita susah untuk menolak check out habis keranjang belanja virtual tanpa ampun. Kalau sudah begini, online shop berubah wajah. Justru ialah musuh bebuyutan dompet tipismu.

Pun online shop menghantar kita pada berbagai belahan dan jurang pengalaman. Kadang membeli barang yang mungkin gak terlalu berdayaguna, hanya karena promo dan kode voucher, yang setelah dibeli dan dibayar malah menyesal. Persis kayak habis putus, lalu pengen balikan karena mantan tiba-tiba jadi lebih cakep setelah putus.

Tren online shop sudah merasuk sejak beberapa tahun ke belakang, tapi popularitasnya melonjak dan bahkan menjadi adikuasa yang padanya kita makin menghamba.

Ia hanyalah substitusi emol-emol dan café dengan menu-menu dengan bahasa enggresan ndakik-ndakik. Menggeser rejeki dari mbak-mbak SPG dan mas-mas barista, ke para kurir dan mamang-mamang packaging paket. Merekalah yang memastikan belanjaan kita sampai persis di depan pintu rumah.

Online shop adalah pemain pengganti, dari perasaan tak sabar menunggu antrian kasir di toko, ke perasaan dag-dig-dug tak sabar menunggu teriakan “paket” di depan gerbang rumah.

Begitu pula dengan penggunaan e-wallet dan m-banking yang tersedia di platform e-commerce, yang membuat jasa penukar uang pinggiran jalan gigit jari, teknisi IT start-up digital pesta pora, serta mahasiswa informatika kini jadi kandidat calon mantu idaman, menggantikan dokter yang semakin gak bisa ketemu keluarganya di masa sekarang.

Mungkin ini yang dinamakan “new normal”, sebuah istilah yang sudah sangat lacur penggunaannya dalam konversesyen tiap harinya. Kebaruan yang dianggap normal. Namun juga kenormalan lama yang dibuatkan bentuk barunya. Kebiasaan baru rakjat untuk berbelanja, dan segala lika-liku di baliknya, jadi salah satu bab tak terelakkan di dalamnya.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (Instagram: @petiteanette)

Editor Picks