Sembilan Dosa Bocah Milenial 2 807

Redaksi kali ini memuat hal menarik: panduan ringkas memahami karakteristik masyarakat milenial! Barangsiapa hendak mengikuti tren yang terjadi (juga mungkin keganjilan-keganjilannya), bolehlah disimak:

1. Raimu ketulung mobilmu

Begitulah kira-kira perumpamaan paling sahih untuk menggambarkan skala prioritas para milenial. Mereka menghidupi nilai di mana penampilan adalah segalanya. Sebetulnya tak cuma dandanan luar, tapi juga keseluruhan atribut yang dapat dilekatkan dan dapat meningkatkan status sosial. Pengeluaran per bulan untuk mendandani diri adalah prioritas nomor satu. Pomade, baju branded (preloved rapopo sing penting Zara), sepatu, lipstick (musti matte biar kalo mimik di gelas tanpa bekas), mobil (kredit dijabani pokoke pantes, minimal Agya Ayla) dan seterusnya.

2. Hape apel krowak sebagai sekte agama

Milenial melihat ponsel sebagai ritus baru beragama. Rutin dihayati dan disayang-sayang. Coba periksa di manapun mereka berada, ponsel tak pernah absen di pelukan. Mulai bobo cantik sampai menjelang cawik, hape tak lepas di genggaman. Merek didominasi apel krowak, tapi isi aplikasi paling melip hanya game, youtube atau instant messenger (karena memang mampunya mengoperasikan itu, mohon dimaklumi). Sesekali diisi fasilitas editing foto, biar aduhai kalau selfie diunggah ke media sosial.

3. Nongkrong sampe mbulak

Kapanpun harus disisakan waktu luang. Ini ciri yang sangat kentara, sebab milenial senantiasa mencari sekeras-kerasnya waktu luang, sekalipun di tengah kesibukan maha padat. Nongki-nongki sambil isep Vape biasanya menjadi pilihan. Sekedar di kafe kelas menengah, atau sampai kelas atas, yang menunya punya prinsip ra enak ra popo sing penting instagrammable. Kadang karena ingin dinilai memahami selera elite, pergilah mereka ke Setarbak—yang andai kopinya dituker dengan kapal api 2.500 rupiah pun milenial tak sadar beda rasanya. Pokoke nggaya!

 4. My trip my adventure, mak crit mak plekentur

Banyak milenial ababil yang tega menabung banyak untuk dihabiskan seluruhnya demi vakansi. Liburan ini konon adalah pelarian semi-intelektual: kembali pada alam, menghayati ciptaan Tuhan, menepi ke pantai, kontemplasi ke pegunungan, dan segudang alasan-alasan gombal mbelgedhes. Intine kepingin hura-hura kok harus repot mencari alasan filosofis. Tiket kereta api atau pesawat bisa di-booking jauh-jauh hari. Kalau perlu sampai ke luar negeri, biar kaffah liburannya, Havana o nana. Singapore gakpapalah, lumayan bisa poto-poto di depan singa muntah. Atau negeri-negeri eksotis lainnya, agar bisa wisata kuliner unik-unik, lalu bikin vlog, atau story. Tujuannya jelas: mari dipamerkan ke handai-taulan ngenes yang melas di media sosial.

5. Isolasi sosyel

Milenial acapkali mengisolasi dirinya atau kumpulan gengnya dari orang lain. Asyik-asyik sendiri, galo-galo sendiri dan kalau berkumpul, menu utama selalu ghibah. Jarang bertemu atau sulit membuka diri dari kelompok lain. Akibatnya, tak ada tradisi dalam diri mereka untuk merekat secara sosial, saling tegur sapa, memahami secara intens dunia sosialnya. Mungkin sudah terlalu lelah masturbasi dengan identitasnya sendiri.

6. Susah setia

Para millenial ini senang hidup tanpa pilihan, jadi nihilis ben filosofis. Tiada kuasa mereka bertahan lebih dari 2 jam hanya mengerjakan satu kegiatan. Bosenan. Sebentar buka Line, beberapa menit kemudian pindah ke instagram, lalu Twitter-an. Bentar-bentar buka pintu dapur, buka kulkas, gak ada apa-apa, dikit-dikit mie instan lagi. Ini dapat dipahami kerena mereka hanya menunggang tren yang amat sementara. Setelah tren gaya itu perlahan mereda, berpindahlah mereka ke wilayah lain. Milenial adalah orang-orang yang nomaden dalam bergaya.

7. Antologi quotes berjalan

Kutap-kutip kalimat indah antologi biar keliatan sentimentil. Kalau bisa jangan hanya jadi antologi berjalan; jadilah kamus, atau perpustakaan sekalian. Ini demi perbendaharaan kata-kata mutiara yang jitu untuk melengkapi caption foto Instagram, selfie di bawah pohon rindang yang korelasinya tentu bernilai nol. Atau jadi senjata mutakhir untuk merayu mbak’e, berjajarlah amunisi gombalan Dilan sampai Ditto, tinggal dipilih sesuai situasi. Tentu yang diutamakan bukan quotes berbau masalah politik-ekonomi-sosial, apalagi religi. Semua berputar pada ranah romansa, satu-satunya aspek kehidupan yang paling dikuasai millenials. Cinta-cintaan, menghindar dari mantan. Ncen kakehan gaya. Mbayar iuran kas kelas ae sek kredit.

8. Cenayang nirkabel

Hanya bermodalkan kuota internet, itu pun kadang numpang tethering, milenial bisa tahu aktivitas terbaru dari teman-temannya (baca: following dan follower). Milenial mengumpulkan pundi-pundi informasi itu dari story, postingan, tweet, dan seabrek fitur medsos lain. Jelas sekali, nuansa nongki cantik jadi tidak diwarnai dengan saling menanyakan kabar, tapi sekedar klarifikasi. Kondisi ini menuntut milenial untuk selalu up to date. Asu tenan.

9. Ra ngurus dapuranmu

“Situ sapah kok ngurusi hidup eike?” Begitulah filosofi hidup milenial. Maksudnya ingin tampil independen dan mandiri, tapi sering tersesat pada apatisme. Maksudnya berupaya mendobrak konservatisme nilai-nilai, tapi meleset ke kebodohan. Sangat sensitif pada privasi, dan menjadi paranoid agar hidupnya tak diinterupsi oleh orang lain. Sebaliknya, karena terlalu berkonsentrasi pada diri sendiri, individu milenial mengabaikan dunia lain. Orang lain adalah antah-berantah. Yang penting urusan diri sendiri beres, situ mau jumpalitan juga terserah. Sangat cuek dan masa bodoh.

Itu tadi sembilan ulasan dari kami. Jika ada bantahan atau tambahan, bolehlah dikirimkan pada kami. Siapa tau juru bicara milenial tersinggung. Hehehe.

Previous ArticleNext Article

2 Comments

  1. Betul, mas editor…. Terkadang millennials ketika menulis quote tidak berdasar apa yang mereka ingat dari buku yang mereka baca atau film yang mereka tonton, tapi mencari dulu di google quote” dari org terkenal yang sekiranya bisa membuat mereka terlihat bijak sekaligus pintar. Satu lagi, saya sangat risih dengan orang yang upload foto selfie tapi pakai caption quotes apalagi kutipan ayat kitab suci. KORELASINYA APA?!
    Satu lagi, mengikuti kuliah sebagai amunisi insta story dan snapchat belaka agar kelihatan memiliki kegiatan yang berfaedah….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagaimana Kita dan Media Membungkus Gilang 0 333

Cerita murung bermula dari cuitan akun Twitter @m_fikris yang menceritakan kronologi bagaimana seorang laki-laki muda, dari suatu kampus kondang di Surabaya, melakukan pelecehan seksual secara verbal melalui pesan elektronik. Kisah pahit itu dijuduli dengan judul bombastis, macam portal berita onlen: “Predator Fetish Kain Jarik Berkedok Riset dari Mahasiswa PTN di SBY”. Lantas, satu negara ini sejenak melupakan corona, berpindah gandrung pada ‘Gilang’, nama yang disebut-sebut menjadi pelaku pelecehan.

Cerita bertopik seks semacam ini, pembaca tahu, dengan cepat sambung-menyambung, berbalas, dan dibagikan secara meluas di linimasa. Tak hanya ramai di media sosial, yang bahkan sempat menduduki tingkatan teratas trending topic, ia ramai menjadi buah bibir tetangga, hingga agenda pemberitaan media massa.

Selain soal menumbuhkan kewaspadaan bersama, tapi lalu mengapa media, dan juga kita, sangat berambisi pada cerita-cerita semacam ini? Ada beberapa hal yang penulis ajukan di sini.

Pertama, media kita memang mudah sekali terangsang mengangkat berita-berita berbau seks. Apalagi ada anomali yang baru, fetish atau dorongan seksual dalam konteks kasus Gilang ini unik: napsu melihat orang yang dibungkus seperti pocong dengan kain jarik. Sayangnya, pembawaan berita berputar-putar pada fenomena, bahkan mengungkap sejarah Gilang yang sudah sering melakukan tindakan asusila.

Tapi, kemalasan media membuatnya lupa memberi pendalaman perspektif psikologis atasnya. Apakah benar memang fetish? Atau justru gangguan kejiwaan lainnya yang tak berhubungan dengan seksualitas?

Ah, jangan heran, media kita kan memang dari dulu begitu. Sejak zaman Orde Baru, kita sudah di-ninabobo-kan dengan berita konflik pertumpahan darah dan SEKS, supaya pemerintah tidak perlu repot-repot menjawabi pemberitaan yang mengkritisi kinerjanya.

Kedua, kita sepakat – jika memang ini adalah kasus pelecehan seksual – selalu bak gunung es. Korban-korban Gilang lainnya, yang telah menjadi target operasi bertahun-tahun silam, baru terungkap semuanya, ketika ada satu orang yang berani bicara. Kita memang patut berterima kasih (jika memang baik budi niatnya) pada si pembuat thread pada mulanya.

Demikian pula dengan kasus pelecehan seksual yang sudah-sudah. Entah itu pedofilia, pelecehan dalam keluarga, bahkan dalam konteks pria-wanita, selalu membuat sang korban tak berani bicara. Sebaliknya, korban lebih banyak dirundung, dituduh menggoda dengan pakaian terbuka.

Karena memang, belum ada hukum di negeri ini yang mampu melindungi korban pelecehan seksual. Kalaupun ada kasus yang terungkap ke permukaan dan diproses hukum, ia haruslah viral terlebih dahulu di media sosial (dengan mempermalukan korban 2 kali lipat), agar bisa ditindak pakai ‘Sang Maha-benar’ UU ITE, yang tak pernah benar-benar menggasak betapa brengseknya tindakan pelecehan itu sendiri. Benar apa kata sjw-sjw feminis: RUU PKS harus segera disahkan!

Ketiga, persoalan Gilang ini tak bisa hanya dilihat soal orientasi seksual yang melenceng. Kita sepakat bahwa hal tersebut adalah kemerdekaan hak setiap orang. Yang jadi persoalan, cara Gilang – jika, sekali lagi, memang benar fetish – dalam mengajak si korban memuaskan birahinya.

Gilang menggunakan kata-kata yang manipulatif, membohongi anak-anak yang lebih muda darinya agar mau membantunya mengerjakan ‘tugas kuliah’. Ia juga mendekati orang-orang yang tak ia kenal sebelumnya, dengan bahasa perkenalan yang cenderung superior, dominan, sekaligus minim etika. Unggah-ungguh berkenalan, ngobrol, dan meminta tolong pada orang yang baru dikenal seharusnya milik kita semua, terlepas dari apapun pilihan jalan hidup dan orientasi seksualnya.

Keempat, pendapat netijen yang bermunculan akhir-akhir ini justru bernada mengolok karena menganggap Gilang pantas mendapatkannya. Ejekan itu berkedok guyonan, bahkan nama-nama besar seperti Babe Cabita – yang kemudian banyak dihujat netijen juga – ikut-ikutan menertawakan tindakan Gilang. Selain itu, kamu dan saya, mulut kita semua sudah sibuk ngrasani bersama teman-teman tentang betapa tak warasnya Gilang.

Kita tidak sadar, bahwa diri sendiri ini juga sami mawon: menjauhi dan mencibir entah korban entah pelaku, entah juga orang-orang macam Gilang; tapi lupa bersimpati, mendekati, mencari akar masalah, dan menyelesaikannya bersama-sama. Memang benar, gotong-royong yang diajarkan founding fathers kita hanya tinggal klise sekarang (lihat tulisan: ‘Menghidupkan Kembali Klise Kesadaran Kolektif’).

Pada akhirnya, soal bungkus-membungkus ini memang bukan milik Gilang dan rektorat kampusnya yang sibuk memberi pernyataan sikap semata. Ini juga masalah kita semua, yang sudah lama dibungkus rasa egois dan gengsi, menutup mata dan telinga pada persoalan sosial di sekitar kita.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Menangisi Gagalnya Nobar di Bioskop 0 194

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Cucu Ahmad Kurnia, sudah fix menunda pembukaan bioskop yang seharusnya terjadwal 29 Juli ini, sampai waktu yang belum ditentukan. Tentu saja niatnya baik: demi memutus mata rantai penularan COVID-19, yang makin hari angkanya makin naik gak karu-karuan.

Di kolom ini tentu saja kita tidak perlu membahas efektivitas kebijakan menahan pembukaan sejumlah tempat hiburan malam dan bioskop, namun membiarkan tempat wisata lain (yang lebih banyak digunakan untuk pesepeda dadakan) tetap beroperasi.

Yang jelas, sebagian dari kita tentu mengeluh dalam hati. Rasanya bak diberi harapan tapi diputus tiba-tiba. Setelah lebih dari seribu bioskop di 52 kota di Indonesia tutup sejak 26 Maret 2020, mengurung jiwa-jiwa hedon kita. Berbulan-bulan loh gak nonton bioskop! Rasanya mau mati, kalau katanya influencer review makanan. Se-introvert-introvert-nya saya (maaf ngaku-ngaku), saya pun sama dengan kalian: rindu nonton bioskop.

Saya paham betul anyep-nya ketawa sendirian sepanjang nonton film genre komedi, dan sepinya menangis sendiri saat nonton adegan yang mengharukan. Saya sadar betul betapa gak mbois-nya nonton film di layar kecil HP, atau paling banter di layar laptop 14 inci. Saya juga gak bisa merasakan sensasi spiker D*lby all around you, apalagi layar Imax yang segede lapangan futsal itu.

Kita tentu rindu rasa-rasa ketika baru masuk gedung bioskop, mendengar teriakan mas-mas penjual popcorn supaya kita tertarik beli dagangannya, berasa artis yang disoraki fans. Kita tentu kangen sekali perjuangan mencari promo tiket melalui platform daring. Kita mungkin rindu rasa balap-balapan pre-order booking kursi untuk penayangan premiere film kesayangan yang sudah kita tunggu-tunggu serialnya.

Sudah lama juga ya rasanya gak makan popcorn, yang gara-gara saking asyiknya sampai habis duluan sebelum filmnya mulai. Sampai lupa rasanya pamer foto tiket nobar bioskop film yang sedang hype di Instagram Story—yang kalau teman-teman kita kebetulan sudah nonton duluan, kita wajib ancam mereka dengan segenap kekuatan jiwa-raga supaya mereka tidak spoiler.

Tentu jadi kerinduan bersama pula buat pegangan tangan dengan kekasih sepanjang film berlangsung—apalagi kalau filmnya horor (wes ngakuo ae, aku yo eruh modusmu!)—untuk saling menyalurkan rasa hangat tubuh, meminimalisir begitu br*ngs*knya dinginnya AC gedung teater. Hal sesederhana tertawa bersama penonton lain di adegan-adegan konyol, atau berteriak bersama ketika ada jumpscare, semua itu bikin kangen.

Kita semua memang bersedih dan tak kunjung kelar mengeluh dengan tertundanya pembukaan bioskop ini. Mengutuki dalam hati: koronah gatheeeel! Walau sebenarnya sudah ada Netflix yang sudah dibuka blokirnya oleh Indihome, atau aplikasi lain (dan website streaming ilegal yang belum diblokir pemerintah) yang bisa diakses, menambal kerinduan-kerinduan kita akan nobar di bioskop.

Tapi mungkin gara-gara kita sibuk berduka, kita sampai lupa ada yang nasibnya lebih terkatung-katung.

Ketua Umum Asosisasi Produser Film Indonesia menyebut, ada sekitar 15 proyek film yang gagal produksi tahun ini. Hal ini tentu berdampak pula bagi para sutradara dan kisah produksi mereka. Mulai dari Joko Anwar sampai Livi Zheng, semua gigit jari.

Para aktor dan aktris, walau setenar Reza Rahadian dan Tara Basro sekalipun, di masa begini, pupus sudah seluruh jadwal syuting yang telah tersusun rapi sepanjang tahun 2020. Jangan lupa keseluruhan kru film, yang dalam sekali pembuatan film, bisa ada 80-100 orang bahkan lebih. Bisa jadi, side job supir G*jek sempat melintas di benak mereka (atau bahkan ada yang sudah merealisasikannya) demi menyambung hidup.

“Loh kan filmnya bisa tayang secara onlen”. Mulut gampang bicara. Tapi bagaimana menggaji kru film dan biaya produksi yang bermiliar-miliar hanya dengan online streaming? Bagaimana caranya menutup kekurangan biaya 80-90 persen yang selama ini didapatnya dari bioskop?

Juga mereka, para reviewer atau kritikus film, tak lagi punya bahan untuk dikomentari. Tak lagi mereka mengirim tulisan untuk media, di mana juga berarti hilangnya sebagian besar penghasilan (dan passion) mereka.

Mbak-mbak penyobek tiket nontonmu, mereka yang membersihkan sampah bekas popcorn yang kamu tinggalkan begitu saja di kursi, tukang pel kamar mandi eks-eks-wan, mereka semua juga ingin kembali ke bioskop. Mereka yang harus dirumahkan, kena pengurangan gaji, atau bahkan PHK, semua sama kangennya dengan bioskop seperti kita, gaes!

Tapi, berbeda dengan kamu semua yang rindu mencari hiburan di tengah kebosanan, mereka ingin kembali ke bioskop karena rindu kembali bekerja.

Kata Kakak Anji: “Corona gak semengerikan itu kok”. Mungkin benar bagi sebagian orang, tapi tidak bagi mereka, para pejuang seni garda terdepan dan pekerja kreatif, yang sama sekali kehilangan pekerjaannya gara-gara Corona.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks