Sembilan Dosa Bocah Milenial 2 732

Redaksi kali ini memuat hal menarik: panduan ringkas memahami karakteristik masyarakat milenial! Barangsiapa hendak mengikuti tren yang terjadi (juga mungkin keganjilan-keganjilannya), bolehlah disimak:

1. Raimu ketulung mobilmu

Begitulah kira-kira perumpamaan paling sahih untuk menggambarkan skala prioritas para milenial. Mereka menghidupi nilai di mana penampilan adalah segalanya. Sebetulnya tak cuma dandanan luar, tapi juga keseluruhan atribut yang dapat dilekatkan dan dapat meningkatkan status sosial. Pengeluaran per bulan untuk mendandani diri adalah prioritas nomor satu. Pomade, baju branded (preloved rapopo sing penting Zara), sepatu, lipstick (musti matte biar kalo mimik di gelas tanpa bekas), mobil (kredit dijabani pokoke pantes, minimal Agya Ayla) dan seterusnya.

2. Hape apel krowak sebagai sekte agama

Milenial melihat ponsel sebagai ritus baru beragama. Rutin dihayati dan disayang-sayang. Coba periksa di manapun mereka berada, ponsel tak pernah absen di pelukan. Mulai bobo cantik sampai menjelang cawik, hape tak lepas di genggaman. Merek didominasi apel krowak, tapi isi aplikasi paling melip hanya game, youtube atau instant messenger (karena memang mampunya mengoperasikan itu, mohon dimaklumi). Sesekali diisi fasilitas editing foto, biar aduhai kalau selfie diunggah ke media sosial.

3. Nongkrong sampe mbulak

Kapanpun harus disisakan waktu luang. Ini ciri yang sangat kentara, sebab milenial senantiasa mencari sekeras-kerasnya waktu luang, sekalipun di tengah kesibukan maha padat. Nongki-nongki sambil isep Vape biasanya menjadi pilihan. Sekedar di kafe kelas menengah, atau sampai kelas atas, yang menunya punya prinsip ra enak ra popo sing penting instagrammable. Kadang karena ingin dinilai memahami selera elite, pergilah mereka ke Setarbak—yang andai kopinya dituker dengan kapal api 2.500 rupiah pun milenial tak sadar beda rasanya. Pokoke nggaya!

 4. My trip my adventure, mak crit mak plekentur

Banyak milenial ababil yang tega menabung banyak untuk dihabiskan seluruhnya demi vakansi. Liburan ini konon adalah pelarian semi-intelektual: kembali pada alam, menghayati ciptaan Tuhan, menepi ke pantai, kontemplasi ke pegunungan, dan segudang alasan-alasan gombal mbelgedhes. Intine kepingin hura-hura kok harus repot mencari alasan filosofis. Tiket kereta api atau pesawat bisa di-booking jauh-jauh hari. Kalau perlu sampai ke luar negeri, biar kaffah liburannya, Havana o nana. Singapore gakpapalah, lumayan bisa poto-poto di depan singa muntah. Atau negeri-negeri eksotis lainnya, agar bisa wisata kuliner unik-unik, lalu bikin vlog, atau story. Tujuannya jelas: mari dipamerkan ke handai-taulan ngenes yang melas di media sosial.

5. Isolasi sosyel

Milenial acapkali mengisolasi dirinya atau kumpulan gengnya dari orang lain. Asyik-asyik sendiri, galo-galo sendiri dan kalau berkumpul, menu utama selalu ghibah. Jarang bertemu atau sulit membuka diri dari kelompok lain. Akibatnya, tak ada tradisi dalam diri mereka untuk merekat secara sosial, saling tegur sapa, memahami secara intens dunia sosialnya. Mungkin sudah terlalu lelah masturbasi dengan identitasnya sendiri.

6. Susah setia

Para millenial ini senang hidup tanpa pilihan, jadi nihilis ben filosofis. Tiada kuasa mereka bertahan lebih dari 2 jam hanya mengerjakan satu kegiatan. Bosenan. Sebentar buka Line, beberapa menit kemudian pindah ke instagram, lalu Twitter-an. Bentar-bentar buka pintu dapur, buka kulkas, gak ada apa-apa, dikit-dikit mie instan lagi. Ini dapat dipahami kerena mereka hanya menunggang tren yang amat sementara. Setelah tren gaya itu perlahan mereda, berpindahlah mereka ke wilayah lain. Milenial adalah orang-orang yang nomaden dalam bergaya.

7. Antologi quotes berjalan

Kutap-kutip kalimat indah antologi biar keliatan sentimentil. Kalau bisa jangan hanya jadi antologi berjalan; jadilah kamus, atau perpustakaan sekalian. Ini demi perbendaharaan kata-kata mutiara yang jitu untuk melengkapi caption foto Instagram, selfie di bawah pohon rindang yang korelasinya tentu bernilai nol. Atau jadi senjata mutakhir untuk merayu mbak’e, berjajarlah amunisi gombalan Dilan sampai Ditto, tinggal dipilih sesuai situasi. Tentu yang diutamakan bukan quotes berbau masalah politik-ekonomi-sosial, apalagi religi. Semua berputar pada ranah romansa, satu-satunya aspek kehidupan yang paling dikuasai millenials. Cinta-cintaan, menghindar dari mantan. Ncen kakehan gaya. Mbayar iuran kas kelas ae sek kredit.

8. Cenayang nirkabel

Hanya bermodalkan kuota internet, itu pun kadang numpang tethering, milenial bisa tahu aktivitas terbaru dari teman-temannya (baca: following dan follower). Milenial mengumpulkan pundi-pundi informasi itu dari story, postingan, tweet, dan seabrek fitur medsos lain. Jelas sekali, nuansa nongki cantik jadi tidak diwarnai dengan saling menanyakan kabar, tapi sekedar klarifikasi. Kondisi ini menuntut milenial untuk selalu up to date. Asu tenan.

9. Ra ngurus dapuranmu

“Situ sapah kok ngurusi hidup eike?” Begitulah filosofi hidup milenial. Maksudnya ingin tampil independen dan mandiri, tapi sering tersesat pada apatisme. Maksudnya berupaya mendobrak konservatisme nilai-nilai, tapi meleset ke kebodohan. Sangat sensitif pada privasi, dan menjadi paranoid agar hidupnya tak diinterupsi oleh orang lain. Sebaliknya, karena terlalu berkonsentrasi pada diri sendiri, individu milenial mengabaikan dunia lain. Orang lain adalah antah-berantah. Yang penting urusan diri sendiri beres, situ mau jumpalitan juga terserah. Sangat cuek dan masa bodoh.

Itu tadi sembilan ulasan dari kami. Jika ada bantahan atau tambahan, bolehlah dikirimkan pada kami. Siapa tau juru bicara milenial tersinggung. Hehehe.

Previous ArticleNext Article

2 Comments

  1. Betul, mas editor…. Terkadang millennials ketika menulis quote tidak berdasar apa yang mereka ingat dari buku yang mereka baca atau film yang mereka tonton, tapi mencari dulu di google quote” dari org terkenal yang sekiranya bisa membuat mereka terlihat bijak sekaligus pintar. Satu lagi, saya sangat risih dengan orang yang upload foto selfie tapi pakai caption quotes apalagi kutipan ayat kitab suci. KORELASINYA APA?!
    Satu lagi, mengikuti kuliah sebagai amunisi insta story dan snapchat belaka agar kelihatan memiliki kegiatan yang berfaedah….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tak Ada Kejutan di Comeback Tonight Show 0 220

“Tonight’s mania??? Mantap!!”

Slogan begini sudah bisa ditemui lagi di layar kaca, ya? Bukannya kemarin sedih-sedihan setelah 7 tahun beracara dan malah berpamitan?

1 Juni kemarin acara Tonight Show di stasiun televisi yang mengklaim dirinya sebagai “masa kini” sudah bisa kembali dinikmati pemirsa. Memenuhi keinginan penonton garis kerasnya yang minta ditayangkan lagi barangkali menjadi salah satu alasan.

Sebelum wajah barunya yang sekarang, Tonight Show versi Indonesia – kita semua tahu kan, ada Tonight Show with Jimmy Fallon versi NBC – ini sudah berkali-kali ganti formasi. Sempat dibawakan oleh Arie Untung, juga diisi Aurellie sebagai co-host. Hingga akhirnya formasi yang empat orang sekarang ini – Vincent, Desta, Heti, Enzy – menjadi yang katanya paling difavoritkan penonton.

Perlu diakui memang, kemistri di antara mereka seakan nampak nyata di depan kamera. Kata netijen “ketawanya nular”. Tipikal host rame-an yang banyak melempar joke internal, namun mampu dipahami se-Indonesia raya.

Saat mengaku pamit 25 April lalu, mereka sebetulnya tidak benar-benar hilang dari peredaran dunia hiburan. Mereka membangun platform online, menghelat channel Youtube, yang belum ada kontennya saja sudah meraup 500 ribu lebih subscribers. Beda jauh kan sama kalian yang sudah tahunan juga subscribernya segitu-segitu aja. Thanks to nama besar dan popularitas.

Selama bulan puasa kemarin, mereka rajin menggelar live streaming dengan maksud menyapa para fans yang terkenal militan. Fans-nya bukanlah sebuah fandom biasa. Mereka bukan hanya yang setia menonton dan menunggu live Youtube, tapi bahkan telah berkumpul, saling bertemu, dan menggelar aksi penggalangan dana dalam rangka penanggulangan dampak pandemi.

Keempat figur publik ini sadar, bahwa televisi bukanlah satu-satunya yang bisa diandalkan di hari-hari ini. Bahwa semua saja harus mulai merayu pengguna dunia maya, memperkenalkan diri, membangun kerajaan bisnis di dalamnya.

Jika dulu “waktu” adalah musuh paling kuat di dunia, kini ia disubstitusi oleh “netijen”. Sebab netijen lah yang punya kemerdekaan menentukan jenis tayangan apa yang hendak ditonton, kapan dan di mana akan menyaksikannya. Konsekuensinya tentu pula menentukan nasib hajat hidup pekerja dunia hiburan.

Hal ini pun sudah disadari perusahaan media televisi. Pemilihan jam tayang di pukul 7 malam alias prime time, mengadu domba penonton sinetron dan acara dengan penonton bayaran di channel sebelah, bukan tanpa alasan. Mereka sadar betul, segmentasi penonton mereka adalah masyarakat urban penggemar on demand, TV kabel atau Youtube.

Tenang. Mereka tahu betul strategi apa yang harus diambil dalam perang ini. Bintang tamu dipilih dengan seksama.  Nassar saat tayangan edisi lebaran dan Rina Nose di pembukaan Juni. Merekalah yang punya daya tarik, yang mampu menggoda penonton untuk mengambil remot TV, yang membuat penonton mengganti channel demi seorang idola.

Selamat datang Iis Dahlia, Soimah, Raffi Ahmad, Ruben Onsu, dan Vicky Prasetyo! Bukan tidak mungkin kan, mereka adalah alternatif bintang tamu selanjutnya?

Dalam peperangan ini, musuh program-program televisi adalah mereka yang jatuh dalam dunia streaming dan anti-FTA (free to air). Sesungguhnya segala ragam games atau pertaruhan menggelar gimmick akan sia-sia belaka di hadapan kuasa netijen.

Musuh media mainstream kini adalah media online, sang adikuasa yang tak masuk hitungan rating and share Nielsen. Pilihannya ada dua: adaptasi atau mati.

Pada akhirnya, Tonight Show adalah satu lagi catatan tentang media kita yang berdilema antara bisnis dan idealis. Tidak ada yang baru bukan? Tak ada yang mengejutkan.

Bagaimana Seharusnya Kita Tanggapi Pelantikan Menteri 0 296

Kita semua setuju 2 hal ini sebagai persoalan utama bangsa:
1. Mau keluar dari grup Whatsapp, tapi sungkan, akhirnya di-mute aja
2. Pilpres-pilpresan nan sangat melelahkan

Bagaimana tidak? Proses dari penentuan capres-cawapres, kampanye, pemilu, sampai finalisasi kabinet memakan waktu lebih dari 1 tahun, terlama sepanjang sejarah. Pemilu periode ini memang yang terbesar korbannya, yang harus dicatat dalam sejarah.

Pun harus dicatat pula bahwa kali ini, baik eksekutif maupun legislatif pilihan kalean semuah, diisi orang-orang dari partai sama di pucuk pimpinannya. Kecuali MPR, yang yaaah… ketuanya juga dari kubu koalisi.

Beli 01, gratis 02. Begitu katanya arek-arek di social media. Prabowo, capres 2 periode berturut-turut yang sangat macho dan mantap jadi oposisi selama ini, kini “ciut”, memilih “bertahan hidup”, naik satu “gerbong (MRT)” yang sama dengan lawannya, Jokowi, di Kabinet Indonesia Maju.

Keputusan petinggi Gerindra tersebut, yang jelas menyuratkan sikap politik partai ini, menghasilkan reaksi dari rakyat. Ada yang kecewa berat, ada pula yang kecewa sangat berat.

Yang kecewa-kecewa itu kebanyakan mengimpikan Prabowo, pahlawan junjungannya itu, tetap jadi oposisi saja. Tentu tetap dengan semangat mempertahankan check and balances agar tetap berjalan di pemerintahan. Eh, tapi ujung-ujungnya si doi luluh juga, merapat ke sisi istana.

Walau begitu, Prabowo dan kawan-kawan Gerindra-nya berjanji untuk tetap kritis walau mendukung pemerintahan. Sungguh sebuah semangat dan prinsip yang patriotik. Walau kita tak tahu, apa dan bagaimana definisi serta batasan “sikap kritis” itu.

Tak hanya Prabowo, sejumlah deretan menteri yang diumumkan 3 hari sesudah pelantikan Jokowi-Ma’ruf ini, membuat netijen kaget… dan nyinyir.

Nadiem Makarim, yang tak punya bekgron tersertifikasi di bidang pendidikan dan kebudayaan itu, justru jadi Mendikbud. Zainudin Amali, yang suka jalan pagi dan berenang itu, ditunjuk jadi Menpora. Bu Susi, putri laut kebanggaan rakjat itu, tak melaju lagi dan alih-alih kursinya diisi Edhy Prabowo, waketum Gerindra.

Hal paling memuakkan bagi saya bukanlah soal masih banyak deretan nama lain yang mengejutkan. Tapi, karena kita semua merasa tiba-tiba paling mahir menganalisa wawasan dan kapabilitas bapak-ibu menteri ini. Kita tiba-tiba menjadi paling ahli di antara yang ahli.

Seluruh warga dunia maya kini merasa punya kekuatan untuk mengemukakan pendapatnya. Nge-twit, bikin status, bikin video klarifikasi, membuat daftar nama ideal yang seharusnya dipilih Jokowi. Tak peduli itu masih bursa calon, atau bahkan setelah pelantikan sekalipun.

Kenapa kok yang ini gak dipertahankan dan malah didepak? Padahal bagus banget loh kerjanya.”

“Kenapa Jokowi tetep milih si ini sih?

Ocehan-ocehan kayak begini bahkan tak hanya muncul di linimasa media sosial, atau bertengger di grup Whatsapp yang kita sungkan buat keluarnya.

Masih mending kalau argumen yang disampaikan didasari analisis track record dan tantangan bidang yang bersangkutan dalam kondisi terkini. Lah wong kadang penilaiannya sangat subjektif. Bahkan terkesam memendam dendam kesumat pada sebagian orang yang sempat dikenal secara personal.

Seberapa jauh sih kalian kenal mereka dan pemetaan kursi menteri? Seberapa jauh pengamatan kalian pada latar belakang situasi kondisi, persoalan, dan tantangan bidang-bidang kementerian?

Mereka yang hari ini telah dilantik telah menunjukkan performa terbaiknya. Entah berhasil berprestasi di periode sebelumnya, hingga dipinang jadi menteri lagi. Entah karena telah bertekun dalam bidang profesinya. Atau karena pandai memanfaatkan resources dan lobi-lobian politik.

Satu-satunya cara untuk bisa menilai menteri sesungguhnya hanya dari hasil karyanya nanti. Pun reshuffle-reshuffle-an tak bisa jadi ukuran. Siapa yang pernah tahu kalau reshuffle bukan semata-mata karena “kemandulan” produktivitas menteri? Bisa jadi kan karena konsensus dan sikut-menyikut koalisi-oposisi parpol?

Lantas apa yang bisa kita lakukan sebagai bangsa? Apakah diam saja dan tak boleh proaktif mengawal pemerintah?

Demokratis boleh, sok tahu jangan. Ati-ati aja. Negara mana sih yang suka rakyatnya terlalu pinter? Apa-apa yang ‘terlalu’ itu gak baik bagi kesehatan.

Pada akhirnya, hidup bernegara ini memang harus dihadapi dengan santuy. Jangan terlalu banyak mikiri! Apa gak capek 1 tahun belakangan ini ngurusi Jokowi terooooos?

Mari kita senderkan punggung, nonton sertijab menteri-menteri ini dari layar kaca! Sembari menikmati buah salak yang dikupas Nia Ramadhani.

 

Foto: Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia (setneg.go.id)

Editor Picks