Siapa Bilang Kartini Feminis?! 0 596

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Kartini bukan feminis.

Itu jelas.

Kartini adalah nasionalis sejati, dan disitu yang banyak orang salah kaprah.

Bahwa benar dalam konteks sejarah dan asal-usul keningratan Kartini, ia harus dipingit dan dibatasi adat-adat kesopanan  dan kebangsawanan yang rumit. Dipaksa menikah muda (lagi-lagi karena adat) dengan suami yang jauh lebih tua dan sudah beristri tiga. Bahwa ia tidak setuju dan “memberontak” pada adat yang begitu rupa, adalah juga benar. Tapi, apa hanya begitu saja yang kita ingat dan ketahui dari Kartini?

Hal itu berdampak dalam pembelajaran sejarah di sekolah-sekolah, Kartini lebih banyak dieksploitasi pada satu aspek saja, yakni ketidaksetujuannya pada adat itu dan bahwa ia kemudian membuka sekolah untuk perempuan. Ia diperkenalkan dalam rupa potret wanita Jawa berkebaya dan berkonde. Wanita yang hari lahirnya 21 April ini akhirnya diperingati sebagai momentum emansipasi wanita. Ia diingat sebagai Raden Ajeng Kartini, wanita Jepara yang kumpulan surat korespondensinya dalam buku berjudul ikonik: Habis Gelap Terbitlah Terang.

Secara parsial, pemahaman sepihak inilah (entah oleh siapa yang mencetuskan ini, tetapi kemungkinan besar adalah Tuan Abendanon dan suasana politik etis Belanda seperti diduga dalam Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer) yang melekat dan berasosiasi pada Kartini. Padahal, jika kita bersama menilik dan mengenal siapa Kartini sekaligus dengan apa serta bagaimana pemikirannya, kita akan dibuat begitu takjub dan tercengang.

Pembaca tidak akan lagi sampai hati mengucapkan “Selamat Hari Kartini” hanya pada perempuan. Ekstrimnya, Pembaca tidak akan pernah lagi memasang embel-embel keperempuanan, kebaya, konde, atau apa sajalah yang menjuruskan perhatian hanya sebatas pada isu perempuan. Karena Kartini bukan milik perempuan, tetapi seluruh Rakyat.

Mengapa?

Karena Ibu Kita Kartini, Sang Pendekar Kaumnya, tidak pernah hanya memperjuangkan perempuan saja!

Sungguh langkah yang tergesa-gesa dan menyalahi sejarah jika Pembaca menjadikannya pahlawan emansipasi wanita, apalagi feminis! Iya beliau perempuan, iya, tapi Kartini bukan feminis.

Nyanyikan lagi lagu “Ibu Kita Kartini” dan pahamilah bahwa kaumnya bukan hanya perempuan, tapi sekalian seluruh Rakyatnya!

Perputaran sejarah tidak mengizinkannya untuk berjuang selain dengan tulisan dan keberadaannya di Jepara. Segala konsepsi yang ia tuang dalam tulisan komprehensif dan penuh pertimbangan dan observasi dalam tiap surat, buku, dan artikel karyanya adalah cikal bakal Indonesia. Hal ini karena pemikirannya selalu mencakup keseluruhan Rakyatnya.

Hal ini dirasa tidak berlebihan, sebab dalam alur sejarahnya pun, pemikiran Kartini banyak mempengaruhi tokoh yang lahir setelahnya. Misal saja W.R. Supratman, yang lantas menjadikannya inspirasi lagunya. Jelas sudah ada dasar nasionalisme yang sengaja diletakkan Kartini untuk diwariskan pada mereka yang lahir setelahnya demi kebaikan dan kemajuan bangsanya.

Menurut penulis, bisa dikatakan, Kartini adalah kritikus sosial yang humanis sekaligus pengamat dengan intelektualisme tinggi. Tidak hanya berhenti di situ, ia mampu menawarkan solusi. Misalkan soal pendidikan. Jauh sebelum Anies Baswedan menggetolkan pendidikan berkarakter, dalam suratnya pada E.C Abendanon tertanggal 15 Agustus 1902, dikatakan Kartini, “Duh, karena itu aku inginkan, hendaknya di lapangan pendidikan itu pembentukan watak diperhatikan dengan tidak kurang baiknya akan dan terutama sekali pendidikan ketabahan. Dalam pendidikan ini harus dapat dikembangkam dalam diri kanak-kanak, terus-terus..

Ah.. indah sekali.

Buah pemikirannya luhur, yang selalu terjun sekaligus bermuara pada bagaimana melepaskan Rakyatnya dari feodalisme Jawa yang sakit dan Belanda yang menghisap Utamanya, bagaimana agar Rakyatnya maju dan sejahtera termashyur seni dan kearifan lokalnya, terdidik dan beradab, serta tak lupa, menjadi Rakyat yang merdeka. Sejauh diketahui, Kartini mengangkat kritik soal feodalisme dan “penindasan” yang dilakukan pembesar Jawa dan Belanda yang merasa dirinya ideal dan “lebih”, dalam bahasa Kartini (istilah Indonesia baru gencar digunakan kaum nasionalis sejak berdirinya Budi Oetomo tahun 1908, empat tahun setelah kematian Kartini). Usahanya memajukan kesenian Jepara, membukakan pendidikan perempuan dengan sekolah. Ia pun memikirkan soal pertanian!

Penulis tidak membela Kartini. Itu mubazir dan tidak perlu. Biarlah pembaca mengenal Kartini melalui perjumpaan pribadi dengan Kartini. Melalui tulisannya sendiri, melalui surat-suratnya. Karena sungguhpun, dalam surat-suratnya pada Estelle Zeehandelaar, Keluarga Ovink-Soer, ataupun Abendanon, tidak pernah sekalipun ia hanya membincangkan semata-mata soal perempuan saja. Kartini dan segala pemikiran dan intelektualisme humanismenya tidak sesempit dan tergesa-gesa itu.

Tidak banyak yang tahu juga kalau Kartini berminat dalam sastra, seni lukis, dan tari. Ia pun mewujudkan sisi filosofisnya dalam peraduan dan pemikiran-pertimbangannya soal Tuhan dan agama.

Berikut beberapa penggalan surat Kartini yang dihimpun, semata-mata untuk memberi gambaran sekilas soal isi pikiran dan keberpihakan Kartini dalam kelangsungan sejarah pergerakan Indonesia.

Surat pada Estelle Zeehandelaar tertanggal 10 Juni 1902 yang dikutip dari Panggil Aku Kartini Saja karya Pram, berbunyi : “Alangkah mesra rasanya di hati karena antusiasme publik Eropa terhadap karya dan seni Rakyat kami, mesra sekali. Kami bangga pada Rakyat kami, yang begitu sedikit dikenal dan tidak diakui itu! Hore! Demi seni dan kerajinan tangan Pribumi! Dengan para artis itu menghadapi hari depan yang indah!”

Kemudian adapun pendapatnya soal feodalisme adat yang kaku dan seringkali  sampai-sampai tidak “manusiawi” dalam surat tertanggal 18 Agustus 1899, juga kepada Estelle Zeehandelaar, “Duh, kau akan menggigil, kalau ada di tengah-tengah keluarga Pribumi yang terkemuka. Bicara dengan atasan haruslah sedemikian pelannya, hanya orang di dekatnya saja bisa dengar. Kalau seorang wanita muda tertawa o-heo, tak boleh dia membuka mulutnya.”

Surat pada Nyonya Abendanon tertanggal 8 April 1902, “ […] Dan lebih keras dari pada erang dan rintih itu, mendesing dan menderu di kupingku: Kerja! Kerja! Kerja! Perjuangkan kebebasanmu! […] Aku dengar itu begitu jelas, nampak tertulis di depan mataku.”

Sekali waktu ia menyergah, membantah, dan menyerang Nyonya Abendanon, melalui surat tertanggal 27 Oktober 1902, “Kami berpendapat bahwa Bunda haruslah mengetahui, apa-apa yang kami temukan dalam masyarakat Bunda; karena rupa-rupanya Bunda berpendapat, bahwa kami menganggap dunia Eropa sebagai ideal. […] dan kami pun mengetahui, bahwa Bunda pun sependapat dengan kami: peradaban yang sebenarnya sama sekali belum menjadi milik negeri-negeri peradaban. Yang sebenarnya itu pun terdapat pada Rakyat-Rakyat, yang oleh massa besar orang kulit putih yang yakin akan kenomor-wahidannya, dipandang hina.” Kartini tidak segan berkata demikian, ia tidak terima Rakyatnya diremehkan, dipandang sebelah mata.

Soal seni Rakyat, ia katakan kepada Estelle Zeehandelaar, tertanggal 11 Oktober 1901, “Siapakah yang dapat menggarap kepentingan-kepentingan kesenian Jawa dengan lebih baik kalau bukan putra Rakyat sendiri, yang kahir bersama kecintaannya pada kesenian Pribumi dan bukan karena kecintaan itu diajarkan padanya? Sebagai anak nasion Jawa itu sendiri, Rukmini di mana pun akan di terima, di mana orang Eropa, betapapun baik maksudnya, akan ditolak.”

Soal keagamaan, ia katakan pada Estelle Zeehandelaar pada surat tertanggal 6 November 1899, “[…] Benarkah agama menjadi karunia bagi umat manusia? Sering pertanyaan itu timbul dalam hatiku yang ragu. Agama yang harusnya melindungi diri kita dari dosa ini, berapa saja kejahatan yang orang telah lakukan atas namaMu!”

Kepada Estelle Zeehandelaar, tertanggal 17 Mei 1902 bernada bahagia, “[…] disebut bersama dengan Rakyatku; dengannyalah dia akan berada buat selama-lamanya! Aku sangat bangga, Stella, disebut dengan satu nafas dengan Rakyatku.”

Lalu sekarang, masihkah Pembaca menyakini anggapan bahwa cita-cita Kartini sekedar emansipasi wanita?

*Selain pencerewet sosial, penulis adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Berminat pada isu-isu keperempuanan dan gender.

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Solusi untuk Kekecewaan Netijen atas Debat Pilpres 2019 0 382

Tak perlulah menunggu 24 jam berlalu untuk menyimpulkan ketidakpuasan khalayak masyarakat Endonesa dengan jalannya Debat Capres-Cawapres 2019 seri pertama tempo hari. Wong belum dimulai saja netijen sudah berebut saling menuduh kok! (Persis seperti performa kedua paslon di panggung debat kemarin.)

Indikator ‘mboseni’ jadi tajuk utama pidato-pidato tertulis rakyat dunia maya di kanal media sosial masing-masing. Maka, tidak heran jika para moderator debat kini kudu banget menyapa mereka dengan sebutan ‘warganet’ secara spesifik. Sebab, nonton netijen tonjok-tonjokan via live chat bisa jadi lebih seru ketimbang debat berkisi-kisi kemarin.

Penulis mengamati lalu lintas online dan menemukan minimal tiga tipe penonton debat Endonesa. Satu, warganet fanatik. Tipe ini bersorak kapan saja paslon dukungannya berbicara. Tidak peduli omongan bodoh kekanakan atau tidak, mereka merayakan argumen paslon tersebut dan mendiskreditkan argumen paslon lawan, meskipun kadang-kadang sing diomong sakjane podho intine.

Dua, warganet semi-teredukasi. Ini adalah golongan unik yang punya kesantunan cukup dan kesadaran mumpuni bahwa sebenarnya kedua paslon pancene podho wae. Meski demikian, spesies satu ini umumya sudah menetapkan jagoan pribadinya dan hanya menonton debat untuk mengonfirmasi bahwa pilihannya sudah tepat. Kemampuan mereka untuk nyelimur  tidak diragukan di kala paslon jagoannya kelihatan nggak menguasai topik. Caranya, mencari cocokologi supaya bisa membela paslonnya di hadapan warganet kubu satunya.

Tiga, warganet super-teredukasi. Nama lain golongan ini adalah golongan plegmatis-utopis. Didominasi oleh mereka yang doyan banget nonton tontonan luar negeri, golongan ini gemar sekali memuja dan mengonsumsi apa-apa yang dari luar Indonesia—biasa, dengan merujuk negara-negara “maju” saja—dan memicingkan mata untuk persoalan-persoalan genting di negaranya sendiri. Boro-boro mencari tahu dan mengomparasi keabsahan data argumen para paslon, umumnya ketertarikan politik mereka berhenti seraya mengucap kalimat, “Tuh kan. Ya gini ini Indonesia, politiknya kotor. Capres nggak ada yang bener. Mending gue tinggal di negara XXX daripada disalahin karena golput.

Padahal, dengan mayoritas kaum milenial-belum-cukup-dewasa, tipe terakhir ini cukup banyak jumlahnya. Sumbangan suaranya tidak bisa dianggap kecil, apalagi sumbangan partisipasi politiknya di masa depan. Sungguh eman bahwa justru tipe inilah yang memiliki keberjarakan paling lebar dengan persoalan politik dan hukum Indonesia.

Tapi di sisi lain, mereka tidak bisa sepenuhnya disalahkan juga. Dari debat kemarin saja, kedua paslon terang-terangan kalah telak untuk mengelaborasi visi-misi mereka secara konseptual dan rinci seperti yang dilakukan Nurhadi-Aldo, hehe. Alhasil, performa kedua pasangan bukan hanya mengecewakan bagi mereka yang teredukasi secara politik, melainkan juga para pendukung, tim sukses, dan tim kampanye masing-masing.

Penulis juga paham, andaikata memang kedua paslon tampil all out dan argumennya “saling terkam”, bisa-bisa bacok-bacokan kedua kubu jadi lebih panas. Skak mat emang jadi capres-cawapres 2019 – yang senantiasa harus diingatkan lagi dan lagi untuk kampanye damai.

 

Ya Sudah Begini Saja

Di tahun 2016 lalu, penulis menemukan fenomena internet yang lucu bin ajaib, unik bin geli, sekaligus mampu jadi solusi mujarab. Ditemukan di sebuah dimensi yang biasa dieksplorasi warganet super-teredukasi, penulis menyimpulkan bahwa ini pastilah sesuatu yang bisa banget menarik hati (dan suara) para netijen plegmatis-utopis. Temuan ini berjudul “Anies x Sandi Fanfiction”, sebuah naskah bromance.

Sebagian pembaca mungkin sudah familiar dengan istilah ini, namun sebagian lain mungkin tidak. Bromance, atau yang merupakan singkatan dari brother dan romance, adalah sebuah genre kultur populer yang merayakan dan mengomersilkan kemesraan antara lelaki dengan lelaki lainnya.

Bukti-bukti nyata lain dari keberadaan fenomena ini adalah berkembangnya fanfiction atau fiksi fantasi di situs-situs online penggemar. Mulai dari tayangan televisi, anime, grup idola, hingga selebriti, para fans ini memasang-masangkan dua atau lebih tokoh laki-laki dalam satu cerita, umumnya dengan tema asmara. Skalanya sangat lebar, mulai dari cinta vanila hingga hardcore romance, yang tentunya demi kepuasan fantasi para penggemar semata.

Bukti selanjutnya adalah membludaknya video bromance moments yang mengompilasikan momen-momen kedekatan selebriti laki-laki K-Pop di Yutub. Mulai dari yang rangkul-rangkulan sampai yang—yah apa aja ada lah ya. Video-video tersebut ditonton ratusan ribu bahkan jutaan orang, dengan kolom komentar didominasi pujian dan ekspresi gemes. Berani taruhan, nyaris separuh dari total penonton itu adalah fans dari Indonesia, yang hobi cekikikan di atas kasur tengah malam menyaksikan para idolanya bertingkah mesra satu sama lain.

Mungkin di sinilah keunggulan Sandi-Prabowo dibanding Jokowi-Ma’ruf. Segelintir rakjat berhasil dibuat jerit-jerit dengan aksi mesra mereka kemarin, lengkap dengan setelan jas necis ala oppa-oppa kaya dari drama Korea. Sepertinya, salah satu alasan keberadaan sejumlah fiksi fan macam ‘Anies x Sandi’ adalah karena Sandiaga Uno memang orang yang boyfriend goal bingits. Lihat saja, dengan pasangan barunya—ehem—Sandi bahkan berani pijet-pijetan di depan umum! Apalagi setelah Prabowo mencuit kalau doi bisa tidur nyenyak setelahnya… Kyah! Mana bisa otak-otak fangirl tidak berfantasi?!

Begini lho maksudnya. Janganlah hal-hal seperti bromance ini lalu dilihat sebagai penistaan budaya bangsa, apalagi degradasi moral para milenial, sebagaimana kerap diujar para orang tua (dan polisi moral). Lihatlah ini sebagai sebuah ekspresi kedekatan antara satu pribadi dengan pribadi lain. Lihatlah ini sebagai sebuah cara baru saling mencintai dan mengapresiasi sesama manusia, yang sesuai dengan cita-cita bangsa untuk hidup rukun tanpa banyak masalah.

Bromance, sebagai ekspresi baru cinta dan kedamaian, juga bisa jadi jalan tengah bagi persoalan capres-cawapres 2019 saat ini. Tim kampanye yang buntu jalan bisa banget mengeksplorasi cara ini untuk mem-branding paslonnya. Siapa sih, yang nggak suka menyaksikan dua orang yang berkomitmen menggenggam negara selama bertahun-tahun bisa dekat dan mesra satu sama lain? Sama seperti sejoli yang cubit-cubitan, dorong-dorongan, rangkul-rangkulan, sambil memandang mata satu sama lain dengan senyum mengembang.

Minimal, bromance ini seenggaknya bisa lah menarik mata dan hati dan suara tipe warganet ketiga tadi. Lumayan kan untuk memerbaiki image paslon pasca-debat pertama dan mencairkan ketegangan hari-hari ini? Sudah menarik, kyuti, damai pula. Komplit!

Bocoran Soal KPU dalam Kesahihan Tata Hukum Debaters 0 262

Di era ini, banyak muncul pekerjaan baru seperti supir ojek online hingga influencer media sosial. Namun, tak sedikit pula pekerjaan lawas yang masih bertahan. Kita patut bersyukur masih bisa menemui loper koran dan teller bank, dua pekerjaan yang kayaknya terancam punah kalau kita terus-terusan semakin menghamba pada virtual.

Selain itu, ditengarai calo penyedia kunci jawaban soal ujian juga masih terus lestari. Selama ujian masih ada, eksistensi mereka tetap abadi!

Namun, juru pembocor soal ini gak laku di Debat Pilpres 17 Januari 2019 besok. Lah wong KPU sudah membocorkan pertanyaan debat pada masing-masing pasangan calon. Kerja panelis merumuskan pertanyaan sudah di ujung deadline. Semuanya demi Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi supaya bisa memelajari contekannya sambil latihan ngomong di depan cermin sebelum bertemu Ira Koesno dan Imam Priyono di panggung “panas” nanti.

Keputusan KPU ini lantas menuai pro-kontra. Mulai dari drama antar tim pemenangan yang menjemukan, hingga netizen yang selalu hobi sekadar mengingatkan. Simpulnya, KPU dinilai tidak bijak.  Peserta debat jadi tidak benar-benar teruji. Segala dalih KPU ngalor-ngidul yang katanya ingin ‘mengedepankan konten debat, bukan show’ dimentahkan sudah. ‘Ra mashok blas!

Sesungguhnya, kebijakan KPU ini lahir karena fenomena lebih melekatnya di benak kita ketokohan paslon ketimbang visi-misinya. Kita lebih tahu “Game of Thrones-nya Jokowi dan Prabowo ikut natalan ketimbang program kerja yang ditawarkan keduanya. Miris!

Namun, di luar itu, masyarakat kita memang naturnya punya tingkat kepedulian yang tinggi. Saking tingginya, segala macam benda baik yang hidup maupun mati jadi sasaran omelan. Jadi, tidak perlu heran jika bocoran soal KPU ini pun jadi bahan nyinyir. Lah wong warna celana dalam mbak-mbak ayu saja habis dimakan kok.

Padahal memberikan kisi-kisi soal pada peserta debat sangatlah lumrah. Dalam tata hukum debaters, sebut saja dalam dapur Asian Parliamentary, ada dua macam mosi debat yaitu prepared motion dan impromptu motion.

Prepared motion adalah mosi atau topik debat yang diberitahukan jauh sebelum perdebatan dilangsungkan. Kalau dalam lomba, biasanya separah-parahnya akan diberikan dua atau tiga hari sebelum. Jadi peserta dimungkinkan untuk riset dari berbagai literatur, fisik maupun internet.

Sedangkan impromptu motion maksudnya adalah topik debat spontan, diberikan beberapa menit sebelum memulai debat. Iya, udah macem pacar yang ngasih surprise birthday present, bikin deg-degan isinya. Kita tidak pernah tahu akan dapat topik debat yang seperti apa, walaupun tidak terlepas dari lingkup tema. Walau begitu, akan tetap ada waktu case building bagi peserta, alias mempersiapkan kerangka dan strategi bicara.

Wah berarti lebih gampang yang prepared motion dong ya daripada impromptu? Lah rumangsamu!

Keduanya punya level tantangan yang berbeda. Prepared motion tentu menuntut ketepatan data dan kedalaman analisa. Karena sudah diberi waktu yang lebih untuk mempersiapkan, nek pancet debate ora cetha yo nemen! Demikian pula impromptu motion memang menggoda seluas apa wawasan yang dimiliki peserta debat, serta kepandaian menyusun logika dan taktik “perang” dalam sempitnya waktu.

Kalau dalam debat, tipe mosi manakah yang paling sering dipakai? Jawabannya adalah dua-duanya. Seimbang. Sama seperti Tuhan ketika menjawab doamu, kadang dikabulkan, kadang bodo amat, hehe. Nah, jika penerapan dua tipe mosi ini berlaku di lomba-lomba debat anak sekolahan, memangnya nggak boleh KPU melakukan hal serupa? Makanya, kita ini jadi netizen jangan kayak doi kalau lagi marah, nggak mau denger penjelasan dulu.

Seperti biasa, debat terbuka capres-cawapres akan terbagi menjadi beberapa termin mulai dari visi-misi, menjawab pertanyaan panelis, debat antar paslon, hingga closing statement. Nah yang disodorkan adalah pertanyaan panelis sejumlah lima buah. Sedangkan pada sistem di hari H nanti, pasangan calon akan mengambil undian dan hanya mendapatkan salah satu pertanyaan. Mau nggak mau mereka harus mempersiapkan jawaban terbaik dari kelimanya, karena nggak tahu bakal dapat pertanyaan yang mana. Jadi, walaupun prepared motion juga gak segampang itu Fergusso!

Toh masih ada pula sesi saling bertanya antar paslon. Nah, ini termasuk tipe pertanyaan impromptu. Mosok ya mereka janjian pertanyaan dulu kalau sudah begitu.

Mbok jangan suudzon dulu! Jangan-jangan personil KPU tipenya humoris, suka ngasih prank. Dikasih kisi-kisi lima, taunya yang keluar soal nomor enam, yaaahh kena deh! Persis seperti kamu yang dulu merasa diplokothoi sama kisi-kisi soal UNAS.

Intinya, janganlah kita ini suka menyalahkan, apalagi menyalahkan KPU. Sakno lho, mumet ndas’e! Persoalan kardus suara pun sudah kamu jadikan bahan olok, sekarang ditambah lagi. Jahat memang kalian, hiks. 🙁

Pokoknya, apapun kata netizen, kami segenap debaters siap pasang badan untuk membela KPU! Dengan ini, kami telah menyatakan, sistem debat KPU ini sudah sesuai dengan tata hukum debaters yang berlaku.

Editor Picks