Siapa Bilang Kartini Feminis?! 0 1237

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Kartini bukan feminis.

Itu jelas.

Kartini adalah nasionalis sejati, dan disitu yang banyak orang salah kaprah.

Bahwa benar dalam konteks sejarah dan asal-usul keningratan Kartini, ia harus dipingit dan dibatasi adat-adat kesopanan  dan kebangsawanan yang rumit. Dipaksa menikah muda (lagi-lagi karena adat) dengan suami yang jauh lebih tua dan sudah beristri tiga. Bahwa ia tidak setuju dan “memberontak” pada adat yang begitu rupa, adalah juga benar. Tapi, apa hanya begitu saja yang kita ingat dan ketahui dari Kartini?

Hal itu berdampak dalam pembelajaran sejarah di sekolah-sekolah, Kartini lebih banyak dieksploitasi pada satu aspek saja, yakni ketidaksetujuannya pada adat itu dan bahwa ia kemudian membuka sekolah untuk perempuan. Ia diperkenalkan dalam rupa potret wanita Jawa berkebaya dan berkonde. Wanita yang hari lahirnya 21 April ini akhirnya diperingati sebagai momentum emansipasi wanita. Ia diingat sebagai Raden Ajeng Kartini, wanita Jepara yang kumpulan surat korespondensinya dalam buku berjudul ikonik: Habis Gelap Terbitlah Terang.

Secara parsial, pemahaman sepihak inilah (entah oleh siapa yang mencetuskan ini, tetapi kemungkinan besar adalah Tuan Abendanon dan suasana politik etis Belanda seperti diduga dalam Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer) yang melekat dan berasosiasi pada Kartini. Padahal, jika kita bersama menilik dan mengenal siapa Kartini sekaligus dengan apa serta bagaimana pemikirannya, kita akan dibuat begitu takjub dan tercengang.

Pembaca tidak akan lagi sampai hati mengucapkan “Selamat Hari Kartini” hanya pada perempuan. Ekstrimnya, Pembaca tidak akan pernah lagi memasang embel-embel keperempuanan, kebaya, konde, atau apa sajalah yang menjuruskan perhatian hanya sebatas pada isu perempuan. Karena Kartini bukan milik perempuan, tetapi seluruh Rakyat.

Mengapa?

Karena Ibu Kita Kartini, Sang Pendekar Kaumnya, tidak pernah hanya memperjuangkan perempuan saja!

Sungguh langkah yang tergesa-gesa dan menyalahi sejarah jika Pembaca menjadikannya pahlawan emansipasi wanita, apalagi feminis! Iya beliau perempuan, iya, tapi Kartini bukan feminis.

Nyanyikan lagi lagu “Ibu Kita Kartini” dan pahamilah bahwa kaumnya bukan hanya perempuan, tapi sekalian seluruh Rakyatnya!

Perputaran sejarah tidak mengizinkannya untuk berjuang selain dengan tulisan dan keberadaannya di Jepara. Segala konsepsi yang ia tuang dalam tulisan komprehensif dan penuh pertimbangan dan observasi dalam tiap surat, buku, dan artikel karyanya adalah cikal bakal Indonesia. Hal ini karena pemikirannya selalu mencakup keseluruhan Rakyatnya.

Hal ini dirasa tidak berlebihan, sebab dalam alur sejarahnya pun, pemikiran Kartini banyak mempengaruhi tokoh yang lahir setelahnya. Misal saja W.R. Supratman, yang lantas menjadikannya inspirasi lagunya. Jelas sudah ada dasar nasionalisme yang sengaja diletakkan Kartini untuk diwariskan pada mereka yang lahir setelahnya demi kebaikan dan kemajuan bangsanya.

Menurut penulis, bisa dikatakan, Kartini adalah kritikus sosial yang humanis sekaligus pengamat dengan intelektualisme tinggi. Tidak hanya berhenti di situ, ia mampu menawarkan solusi. Misalkan soal pendidikan. Jauh sebelum Anies Baswedan menggetolkan pendidikan berkarakter, dalam suratnya pada E.C Abendanon tertanggal 15 Agustus 1902, dikatakan Kartini, “Duh, karena itu aku inginkan, hendaknya di lapangan pendidikan itu pembentukan watak diperhatikan dengan tidak kurang baiknya akan dan terutama sekali pendidikan ketabahan. Dalam pendidikan ini harus dapat dikembangkam dalam diri kanak-kanak, terus-terus..

Ah.. indah sekali.

Buah pemikirannya luhur, yang selalu terjun sekaligus bermuara pada bagaimana melepaskan Rakyatnya dari feodalisme Jawa yang sakit dan Belanda yang menghisap Utamanya, bagaimana agar Rakyatnya maju dan sejahtera termashyur seni dan kearifan lokalnya, terdidik dan beradab, serta tak lupa, menjadi Rakyat yang merdeka. Sejauh diketahui, Kartini mengangkat kritik soal feodalisme dan “penindasan” yang dilakukan pembesar Jawa dan Belanda yang merasa dirinya ideal dan “lebih”, dalam bahasa Kartini (istilah Indonesia baru gencar digunakan kaum nasionalis sejak berdirinya Budi Oetomo tahun 1908, empat tahun setelah kematian Kartini). Usahanya memajukan kesenian Jepara, membukakan pendidikan perempuan dengan sekolah. Ia pun memikirkan soal pertanian!

Penulis tidak membela Kartini. Itu mubazir dan tidak perlu. Biarlah pembaca mengenal Kartini melalui perjumpaan pribadi dengan Kartini. Melalui tulisannya sendiri, melalui surat-suratnya. Karena sungguhpun, dalam surat-suratnya pada Estelle Zeehandelaar, Keluarga Ovink-Soer, ataupun Abendanon, tidak pernah sekalipun ia hanya membincangkan semata-mata soal perempuan saja. Kartini dan segala pemikiran dan intelektualisme humanismenya tidak sesempit dan tergesa-gesa itu.

Tidak banyak yang tahu juga kalau Kartini berminat dalam sastra, seni lukis, dan tari. Ia pun mewujudkan sisi filosofisnya dalam peraduan dan pemikiran-pertimbangannya soal Tuhan dan agama.

Berikut beberapa penggalan surat Kartini yang dihimpun, semata-mata untuk memberi gambaran sekilas soal isi pikiran dan keberpihakan Kartini dalam kelangsungan sejarah pergerakan Indonesia.

Surat pada Estelle Zeehandelaar tertanggal 10 Juni 1902 yang dikutip dari Panggil Aku Kartini Saja karya Pram, berbunyi : “Alangkah mesra rasanya di hati karena antusiasme publik Eropa terhadap karya dan seni Rakyat kami, mesra sekali. Kami bangga pada Rakyat kami, yang begitu sedikit dikenal dan tidak diakui itu! Hore! Demi seni dan kerajinan tangan Pribumi! Dengan para artis itu menghadapi hari depan yang indah!”

Kemudian adapun pendapatnya soal feodalisme adat yang kaku dan seringkali  sampai-sampai tidak “manusiawi” dalam surat tertanggal 18 Agustus 1899, juga kepada Estelle Zeehandelaar, “Duh, kau akan menggigil, kalau ada di tengah-tengah keluarga Pribumi yang terkemuka. Bicara dengan atasan haruslah sedemikian pelannya, hanya orang di dekatnya saja bisa dengar. Kalau seorang wanita muda tertawa o-heo, tak boleh dia membuka mulutnya.”

Surat pada Nyonya Abendanon tertanggal 8 April 1902, “ […] Dan lebih keras dari pada erang dan rintih itu, mendesing dan menderu di kupingku: Kerja! Kerja! Kerja! Perjuangkan kebebasanmu! […] Aku dengar itu begitu jelas, nampak tertulis di depan mataku.”

Sekali waktu ia menyergah, membantah, dan menyerang Nyonya Abendanon, melalui surat tertanggal 27 Oktober 1902, “Kami berpendapat bahwa Bunda haruslah mengetahui, apa-apa yang kami temukan dalam masyarakat Bunda; karena rupa-rupanya Bunda berpendapat, bahwa kami menganggap dunia Eropa sebagai ideal. […] dan kami pun mengetahui, bahwa Bunda pun sependapat dengan kami: peradaban yang sebenarnya sama sekali belum menjadi milik negeri-negeri peradaban. Yang sebenarnya itu pun terdapat pada Rakyat-Rakyat, yang oleh massa besar orang kulit putih yang yakin akan kenomor-wahidannya, dipandang hina.” Kartini tidak segan berkata demikian, ia tidak terima Rakyatnya diremehkan, dipandang sebelah mata.

Soal seni Rakyat, ia katakan kepada Estelle Zeehandelaar, tertanggal 11 Oktober 1901, “Siapakah yang dapat menggarap kepentingan-kepentingan kesenian Jawa dengan lebih baik kalau bukan putra Rakyat sendiri, yang kahir bersama kecintaannya pada kesenian Pribumi dan bukan karena kecintaan itu diajarkan padanya? Sebagai anak nasion Jawa itu sendiri, Rukmini di mana pun akan di terima, di mana orang Eropa, betapapun baik maksudnya, akan ditolak.”

Soal keagamaan, ia katakan pada Estelle Zeehandelaar pada surat tertanggal 6 November 1899, “[…] Benarkah agama menjadi karunia bagi umat manusia? Sering pertanyaan itu timbul dalam hatiku yang ragu. Agama yang harusnya melindungi diri kita dari dosa ini, berapa saja kejahatan yang orang telah lakukan atas namaMu!”

Kepada Estelle Zeehandelaar, tertanggal 17 Mei 1902 bernada bahagia, “[…] disebut bersama dengan Rakyatku; dengannyalah dia akan berada buat selama-lamanya! Aku sangat bangga, Stella, disebut dengan satu nafas dengan Rakyatku.”

Lalu sekarang, masihkah Pembaca menyakini anggapan bahwa cita-cita Kartini sekedar emansipasi wanita?

*Selain pencerewet sosial, penulis adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Berminat pada isu-isu keperempuanan dan gender.

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alasan untuk Jangan Keburu Alergi terhadap Soal Hitungan di Tes Seleksi Kerja 0 131

Mengapa musti sulit belajar matematika dari TK sampai SMA? Sedang di kehidupan nyata cuma untuk menghitung uang kembalian, itupun sekarang sudah ada kalkulator? Telanjur capek-capek belajar dari bilangan eksponen, matriks, trigonometri, sampai geometri, gak bakalan dipakai buat bekal hidup!

Barangkali banyak dari Pembaca budiman yang beranggapan demikian. Apalagi kalau Pembaca bekerja atau berkuliah di luar jalur sains, pasti setuju kalau belajar matematika sampai muntah cecek ternyata tak berguna. Ada juga yang kesal dengan sistem seleksi calon karyawan yang menggunakan soal matematika (dalam TPA), sehingga kembali bertemu angka-angka brengsek itu.

Terlanjur move on dari matematika saat kuliah, banyak teman saya yang kaget harus kembali belajar matematika untuk kerja, sebal harus kembali berhadapan dengan musuhnya saat sekolah dulu. Dan itu termasuk saya. Namun, seorang pelanggan toko mengirim wahyu yang mengubah (dengan radikal dan revolusioner) pandangan-pandangan saya.

Suatu hari, seorang laki-laki tambun datang ke toko saya untuk membeli kaca untuk dekorasi kafenya. Ia minta dipotongkan kaca berbentuk segitiga sama kaki dengan alas 1 meter dan panjang kaki sebesar 20 cm. Sontak saya dan orang tua saya kaget dengan kompak.

“Mana bisa, Mas? Kan alasnya semeter, kalau sisinya 20 cm dong jadinya gini?” Jelas Mama saya sambil menunjukkan bentuk sisi segitiga yang tidak bisa menyatu. Ya, mirip pacaran berda agama.

Orang itupun nampak bingung.  “Berapa bisanya? Kalau 30 cm bisa gak?” Tanya orang tersebut.

“Ya gak bisa, Mas. Paling nggak sisi-sisinya semeter, nanti jadinya segitiga sama sisi,” jawab Papa saya.

Bukannya merasa tercerahkan, orang tersebut masih nampak bingung dengan urusan segitiganya. Padahal, selama sekolah, kita sudah mati-matian dihajar oleh segitiga. Dari yang paling sederhana, mencari keliling, hingga utak-atik sisi dan sudut menggunakan trigonometri. Kalaupun semisal mas-mas tersebut hanya lulusan SD, seharusnya ia sudah pernah belajar jenis-jenis segitiga, sifat-sifat segitiga, dan triple pythagoras.

Untuk mencari sisi yang pas untuk segitiga mas-mas tersebut sendiri cukup mudah. Yang paling gampang bisa menyamakan sisi kaki dengan sisi alasnya. Atau, kalau mas-mas tersebut kekeuh dengan bentuk segitiga sama kaki, bisa menggunakan angka triple pythagoras dan hasilnya adalah 130 cm.

Kejadian ini menunjukkan saya bahwa problem matematika di kehidupan sehari-hari tidak melulu soal uang. Selain masalah logika sederhana seperti tadi, pengetahuan matematis juga akan dijuji saat Anda mengerjakan tes IQ atau tes potensi akademik (TPA). Tes-tes itu, pembaca tahu, banyak diajukan dalam tes seleksi kerja atau CPNS.

“Lho, kan tidak semua orang dikaruniai kecerdasan numerikal?”

Yak, benar memang. Tes IQ sendiri juga banyak menuai kontra karena dianggap hanya melihat kecerdasan numerikal, linguistik, dan spasial. Tapi, bukan berarti Anda memilih untuk alergi apalagi fobia dengan urusan angka.

Saya sendiri menyarankan Anda untuk sesekali mengerjakan soal matematika sederhana seperti soal-soal TPA tatkala menganggur. Tenang, ini bukan rekomendasi abal-abal seperti inpluenser lokal (Baca: Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi). Tersebab, saya sudah melakukan riset kecil-kecilan mengenai kecerdasan.

Banyak teman saya yang lesu putus asa saat harus kembali belajar matematika untuk bisa mengerjakan TPA saat melamar pekerjaan. Sifat alergi itu datang lantaran pikiran mereka hanya dibayangi oleh bejibun angka-angka, tanpa tahu tujuan dari tes tersebut.

Secara sains, mengerjakan soal seperti ini terbukti meningkatkan IQ Anda. Dengan mengulas lagi pelajaran yang sudah usang, ikatan antar saraf otak Anda akan kembali terjalin dan menguat. Hubungan antar syaraf (sinapsis) pada otak inilah yang menentukan kecerdasan manusia.

Peningkatan IQ ini tidak hanya terkait kecerdasan numerikal saja. Setidaknya menurut pengalaman saya, mengerjakan soal TPA meningkatkan kemampuan menganalisis pola-pola dalam sebuah masalah, dan kemudian mencari solusinya. Mungkin, inilah mengapa banyak sekali perusahaan dan instansi yang menggunakan soal TPA untuk menyeleksi calon karyawan. Sekali lagi, bukan melihat kecerdasan numerikal namun identifikasi pola dalam masalah dan mencari solusinya.

Selain meningkatkan kecerdasan, belajar matematika juga melatih ketelitian. Saya rasa untuk poin ini, Anda sudah mengerti. Hal ini karena hasil yang benar tidak akan didapatkan apabila terdapat kesalahan dalam menghitung.

Di samping menguji ketelitian, mengerjakan soal matematika juga menguji kesabaran.  Tak jarang kita harus menghitung ulang saat tidak menemukan jawaban kita di pilihan jawaban…

Dan yang terakhir itu adalah manfaat tak terelakan, minimal meningkatkan kapasitas imej Anda di mata anak-anak kelak. Bayangkan bila suatu hari nanti anak-anak Anda meminta bantuan mengerjakan soal matematika sederhana, tetapi Anda tidak bisa mengerjakannya….

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

Ibadah yang Tertinggal di Ramadhan: Refleksi Diri Bagi Golongan Sok Sibuk 0 200

Oleh: Edeliya Relanika*

 

*Peringatan: Ini bukan artikel dakwah, jadi jangan cari petunjuk religi di bacaan ini

 

Yah, tak terasa Ramadhan di tahun 2021 sudah berlalu. Lebaran bahkan sudah lewat lebih dari seminggu lalu. Tapi kok hidup tetep gini-gini aja, gak ada fitri-fitrinya. Sedih rasanya harus melewatkan Ramadhan dengan begitu cepat—yang tentu saja masih digandeng mesra sama si COVID-19.

Selama Ramadhan kemarin, aku telah tertimbun oleh beratnya tugas kuliah dan proyek kepenulisan. Bukan karena aku jadi materialis dan sekonyong-konyong berorientasi pada pencapaian duniawi, aku juga banyak mulai memikirkan hal yang bahkan belum disadari pada Ramadhan beberapa tahun ke belakang:

Kehilangan kesempatan beribadah Ramadhan saat kita beranjak dewasa, akibat disibukkan dengan pencapaian duniawi yang paradoksal.

Menjadi lebih tua nyatanya bisa membuat kita jadi lebih sibuk pada hal-hal profan. Jika diputar ke sisi lainnya, pencapaian duniawi itu toh juga akan berhenti saat kita meninggal dunia. Mungkin warisan pencapaian itu masih akan tersimpan dan dinikmati oleh keturunan kita. Namun, apakah pencapaian duniawi itu akan menina bobokkan kita di alam kubur?

Mudah saja bagi orang dewasa muda hingga tua untuk memafhumkan pelewatan beberapa ritual ibadah Ramadhan—yang biasa rutin dijalankan ketika waktu lebih muda dahulu. Sebelum aku menjadi lebih tua dan semakin malas beribadah (karena sok sibuk banyak kerjaan), ada beberapa poin catatan pribadi yang mungkin bisa relate dengan para pembaca Kalikata, dan mungkin bisa diterapkan di Ramadhan tahun depan: (karena sesungguhnya Ramadhan tiap tahun harusnya membuat kita manusia yang lebih baik khan, azeq)

Tidak skip ibadah lima waktu salat fardu saat di tengah hari berpuasa.

Dengan alasan banyak tugas dan pekerjaan lainnya (masih yang bersifat duniawi), banyak dari golongan sok sibuk (((seperti aku dan kamu))) yang seringkali lalai untuk melaksanakan salat fardu lima waktu secara full time. Nah, itu ibadah wajib jangan sampai kalian skip kayak iklan di YouTube yang masih belum premium.

 

Kalau tugas ber-deadline tengah malam, mending coba salat Tarawih dulu saja.

Kalau kalian memiliki waktu luang sekitar pukul 7 hingga 9 malam, sempatkanlah untuk salat Tarawih. Bukannya malah latihan joget Tiktok biar masuk fyp. Kalau masih ada tanggungan tugas gimana dong, kak? Coba saja tugas tersebut diselesaikan di pagi, siang, atau sore harinya.

 

Jangan suka begadang nugas atau kerja hingga waktu sahur, lalu jadi kelelawar dan bobok hingga waktu berbuka puasa.

Ini sih dilema para pelajar (apalagi mahasiswa) dan pekerja lainnya. Udah skip banyak ibadah Ramadan dengan alasan kecapaian, eh tapi malah kuat begadang kerja hingga sahur. Kalau kasusnya seperti itu, cobalah kalian pikir ulang. Untuk nugas saja kuat; mengapa untuk ibadah sebentar saja malah banyak alasan? Xixixi.

 

Coba mendaras ayat-ayat Alquran secara konsisten, walau tak sampai puluhan ayat jumlahnya.

Bagi kalian yang berniat untuk membaca Alquran walau pun tidak khatam, tidak apa-apa. Belajarlah konsisten untuk tak luput memaknai isi Alquran. Kalau bisa khatam Alquran di bulan Ramadhan, tentu lebih baik lagi! Biar tiap tahun ada faedahnya Ramadhan kita.

 

Jangan lupa banyak beramal dan bersabar.

Kemenangan Hari Raya nanti akan menjadi lebih bermakna, apabila Ramadan ini dapat kita jalankan dengan beban yang diringankan bersama ikhtiar serta qonaah.

 

Catatan refleksi ini kuharap akan terus berakar dan bertumbuh; dalam menyadarkan kekhilafan kita yang suka skip berbagai ritual ibadah di bulan Ramadhan. Semangat berubah untuk lebih baik boleh-boleh saja berkembang, namun jangan dengan kemalasan diri pada golongan sok sibuk seperti kita hehehe.

Tumben banget Kalikata serius.

 

*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya. Tinggal di Gresik, dan menghasilkan karya dari hobi menulis, salah satunya “Antroposen” di Gramedia Writing Project (Instagram: @edeliyarerelala).

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks