Siapa Bilang Kartini Feminis?! 0 859

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Kartini bukan feminis.

Itu jelas.

Kartini adalah nasionalis sejati, dan disitu yang banyak orang salah kaprah.

Bahwa benar dalam konteks sejarah dan asal-usul keningratan Kartini, ia harus dipingit dan dibatasi adat-adat kesopanan  dan kebangsawanan yang rumit. Dipaksa menikah muda (lagi-lagi karena adat) dengan suami yang jauh lebih tua dan sudah beristri tiga. Bahwa ia tidak setuju dan “memberontak” pada adat yang begitu rupa, adalah juga benar. Tapi, apa hanya begitu saja yang kita ingat dan ketahui dari Kartini?

Hal itu berdampak dalam pembelajaran sejarah di sekolah-sekolah, Kartini lebih banyak dieksploitasi pada satu aspek saja, yakni ketidaksetujuannya pada adat itu dan bahwa ia kemudian membuka sekolah untuk perempuan. Ia diperkenalkan dalam rupa potret wanita Jawa berkebaya dan berkonde. Wanita yang hari lahirnya 21 April ini akhirnya diperingati sebagai momentum emansipasi wanita. Ia diingat sebagai Raden Ajeng Kartini, wanita Jepara yang kumpulan surat korespondensinya dalam buku berjudul ikonik: Habis Gelap Terbitlah Terang.

Secara parsial, pemahaman sepihak inilah (entah oleh siapa yang mencetuskan ini, tetapi kemungkinan besar adalah Tuan Abendanon dan suasana politik etis Belanda seperti diduga dalam Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer) yang melekat dan berasosiasi pada Kartini. Padahal, jika kita bersama menilik dan mengenal siapa Kartini sekaligus dengan apa serta bagaimana pemikirannya, kita akan dibuat begitu takjub dan tercengang.

Pembaca tidak akan lagi sampai hati mengucapkan “Selamat Hari Kartini” hanya pada perempuan. Ekstrimnya, Pembaca tidak akan pernah lagi memasang embel-embel keperempuanan, kebaya, konde, atau apa sajalah yang menjuruskan perhatian hanya sebatas pada isu perempuan. Karena Kartini bukan milik perempuan, tetapi seluruh Rakyat.

Mengapa?

Karena Ibu Kita Kartini, Sang Pendekar Kaumnya, tidak pernah hanya memperjuangkan perempuan saja!

Sungguh langkah yang tergesa-gesa dan menyalahi sejarah jika Pembaca menjadikannya pahlawan emansipasi wanita, apalagi feminis! Iya beliau perempuan, iya, tapi Kartini bukan feminis.

Nyanyikan lagi lagu “Ibu Kita Kartini” dan pahamilah bahwa kaumnya bukan hanya perempuan, tapi sekalian seluruh Rakyatnya!

Perputaran sejarah tidak mengizinkannya untuk berjuang selain dengan tulisan dan keberadaannya di Jepara. Segala konsepsi yang ia tuang dalam tulisan komprehensif dan penuh pertimbangan dan observasi dalam tiap surat, buku, dan artikel karyanya adalah cikal bakal Indonesia. Hal ini karena pemikirannya selalu mencakup keseluruhan Rakyatnya.

Hal ini dirasa tidak berlebihan, sebab dalam alur sejarahnya pun, pemikiran Kartini banyak mempengaruhi tokoh yang lahir setelahnya. Misal saja W.R. Supratman, yang lantas menjadikannya inspirasi lagunya. Jelas sudah ada dasar nasionalisme yang sengaja diletakkan Kartini untuk diwariskan pada mereka yang lahir setelahnya demi kebaikan dan kemajuan bangsanya.

Menurut penulis, bisa dikatakan, Kartini adalah kritikus sosial yang humanis sekaligus pengamat dengan intelektualisme tinggi. Tidak hanya berhenti di situ, ia mampu menawarkan solusi. Misalkan soal pendidikan. Jauh sebelum Anies Baswedan menggetolkan pendidikan berkarakter, dalam suratnya pada E.C Abendanon tertanggal 15 Agustus 1902, dikatakan Kartini, “Duh, karena itu aku inginkan, hendaknya di lapangan pendidikan itu pembentukan watak diperhatikan dengan tidak kurang baiknya akan dan terutama sekali pendidikan ketabahan. Dalam pendidikan ini harus dapat dikembangkam dalam diri kanak-kanak, terus-terus..

Ah.. indah sekali.

Buah pemikirannya luhur, yang selalu terjun sekaligus bermuara pada bagaimana melepaskan Rakyatnya dari feodalisme Jawa yang sakit dan Belanda yang menghisap Utamanya, bagaimana agar Rakyatnya maju dan sejahtera termashyur seni dan kearifan lokalnya, terdidik dan beradab, serta tak lupa, menjadi Rakyat yang merdeka. Sejauh diketahui, Kartini mengangkat kritik soal feodalisme dan “penindasan” yang dilakukan pembesar Jawa dan Belanda yang merasa dirinya ideal dan “lebih”, dalam bahasa Kartini (istilah Indonesia baru gencar digunakan kaum nasionalis sejak berdirinya Budi Oetomo tahun 1908, empat tahun setelah kematian Kartini). Usahanya memajukan kesenian Jepara, membukakan pendidikan perempuan dengan sekolah. Ia pun memikirkan soal pertanian!

Penulis tidak membela Kartini. Itu mubazir dan tidak perlu. Biarlah pembaca mengenal Kartini melalui perjumpaan pribadi dengan Kartini. Melalui tulisannya sendiri, melalui surat-suratnya. Karena sungguhpun, dalam surat-suratnya pada Estelle Zeehandelaar, Keluarga Ovink-Soer, ataupun Abendanon, tidak pernah sekalipun ia hanya membincangkan semata-mata soal perempuan saja. Kartini dan segala pemikiran dan intelektualisme humanismenya tidak sesempit dan tergesa-gesa itu.

Tidak banyak yang tahu juga kalau Kartini berminat dalam sastra, seni lukis, dan tari. Ia pun mewujudkan sisi filosofisnya dalam peraduan dan pemikiran-pertimbangannya soal Tuhan dan agama.

Berikut beberapa penggalan surat Kartini yang dihimpun, semata-mata untuk memberi gambaran sekilas soal isi pikiran dan keberpihakan Kartini dalam kelangsungan sejarah pergerakan Indonesia.

Surat pada Estelle Zeehandelaar tertanggal 10 Juni 1902 yang dikutip dari Panggil Aku Kartini Saja karya Pram, berbunyi : “Alangkah mesra rasanya di hati karena antusiasme publik Eropa terhadap karya dan seni Rakyat kami, mesra sekali. Kami bangga pada Rakyat kami, yang begitu sedikit dikenal dan tidak diakui itu! Hore! Demi seni dan kerajinan tangan Pribumi! Dengan para artis itu menghadapi hari depan yang indah!”

Kemudian adapun pendapatnya soal feodalisme adat yang kaku dan seringkali  sampai-sampai tidak “manusiawi” dalam surat tertanggal 18 Agustus 1899, juga kepada Estelle Zeehandelaar, “Duh, kau akan menggigil, kalau ada di tengah-tengah keluarga Pribumi yang terkemuka. Bicara dengan atasan haruslah sedemikian pelannya, hanya orang di dekatnya saja bisa dengar. Kalau seorang wanita muda tertawa o-heo, tak boleh dia membuka mulutnya.”

Surat pada Nyonya Abendanon tertanggal 8 April 1902, “ […] Dan lebih keras dari pada erang dan rintih itu, mendesing dan menderu di kupingku: Kerja! Kerja! Kerja! Perjuangkan kebebasanmu! […] Aku dengar itu begitu jelas, nampak tertulis di depan mataku.”

Sekali waktu ia menyergah, membantah, dan menyerang Nyonya Abendanon, melalui surat tertanggal 27 Oktober 1902, “Kami berpendapat bahwa Bunda haruslah mengetahui, apa-apa yang kami temukan dalam masyarakat Bunda; karena rupa-rupanya Bunda berpendapat, bahwa kami menganggap dunia Eropa sebagai ideal. […] dan kami pun mengetahui, bahwa Bunda pun sependapat dengan kami: peradaban yang sebenarnya sama sekali belum menjadi milik negeri-negeri peradaban. Yang sebenarnya itu pun terdapat pada Rakyat-Rakyat, yang oleh massa besar orang kulit putih yang yakin akan kenomor-wahidannya, dipandang hina.” Kartini tidak segan berkata demikian, ia tidak terima Rakyatnya diremehkan, dipandang sebelah mata.

Soal seni Rakyat, ia katakan kepada Estelle Zeehandelaar, tertanggal 11 Oktober 1901, “Siapakah yang dapat menggarap kepentingan-kepentingan kesenian Jawa dengan lebih baik kalau bukan putra Rakyat sendiri, yang kahir bersama kecintaannya pada kesenian Pribumi dan bukan karena kecintaan itu diajarkan padanya? Sebagai anak nasion Jawa itu sendiri, Rukmini di mana pun akan di terima, di mana orang Eropa, betapapun baik maksudnya, akan ditolak.”

Soal keagamaan, ia katakan pada Estelle Zeehandelaar pada surat tertanggal 6 November 1899, “[…] Benarkah agama menjadi karunia bagi umat manusia? Sering pertanyaan itu timbul dalam hatiku yang ragu. Agama yang harusnya melindungi diri kita dari dosa ini, berapa saja kejahatan yang orang telah lakukan atas namaMu!”

Kepada Estelle Zeehandelaar, tertanggal 17 Mei 1902 bernada bahagia, “[…] disebut bersama dengan Rakyatku; dengannyalah dia akan berada buat selama-lamanya! Aku sangat bangga, Stella, disebut dengan satu nafas dengan Rakyatku.”

Lalu sekarang, masihkah Pembaca menyakini anggapan bahwa cita-cita Kartini sekedar emansipasi wanita?

*Selain pencerewet sosial, penulis adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Berminat pada isu-isu keperempuanan dan gender.

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Merenungkan Kembali Esensi Ujian Take-Home 0 201

Pada pekan UAS, seperti halnya mahasiswa lainnya, kopi dan ibuprofen menjadi sahabat saya. Apalagi di jurusan saya semua UAS-nya merupakan take-home dan kebanyakan menulis essay dan mini riset.

Ujian semacam ini lebih menantang kemampuan analisis dan menulis kita. Wah, kalau pekan UAS ini rasanya lobus frontal (bagian otak untuk berpikir) saya mengalami dehidrasi hebat.

Tak hanya itu, jari-jari saya rasanya keram. Hal ini dikarenakan adanya ketentuan minimal kata dan lembar halaman. Alhasil, dalam mengerjakan soal, ada tiga yang kita pikirkan: apa jawaban yang tepat, apa yang harus ditulis sampai (misalnya) 3.000 kata, dan bagaimana menulis 3.000 kata secara tepat waktu.

Akan tetapi, mahasiswa (termasuk saya), sering kali fokus kepada poin kedua dan ketiga. Harus nggambas kayak gimana lagi biar sesuai dengan jumlah minimal kata, dan gimana cara selesai sebelum deadline? Ketentuan ini lebih mengintimidasi daripada pertanyaan soal itu sendiri.

Jujur saja, sebagai orang yang to the point dan menulis dengan singkat-padat-jelas, saya sangat kesulitan mengembangkan tulisan saya hingga sesuai dengan jumlah ketentuan kata. Kadang saya berpikir, selain adonan roti, andai ragi juga bisa mengembangkan tulisan saya.

Ada banyak cara yang dilakukan mahasiswa untuk mengatasi masalah klasik hamba take-home seperti ini. Salah duanya adalah memperbanyak sitasi dan juga nggambas. Saya pribadi lebih suka memperbanyak sitasi karena membuat tulisan saya seakan-akan memiliki dasar yang kuat.

Namun, saya merenungkan kembali. Tidak seharusnya kita merasa terintimidasi sedemikian rupa oleh ketentuan minimal kata atau halaman yang diberikan dosen. Kenapa? Karena itu cara dosen memberikan kita ruang lebih untuk mengembangkan kemampuan analisa kita.

Sayangnya, kita sudah terlanjur terintimidasi oleh jumlah minimal kata dan halaman. Terlalu fokus dengan ketentuan jumlah kata dan halaman ini akhirnya kita lupa dengan esensi ujian itu sendiri: MENJAWAB PERTANYAAN.

Dibandingkan memikirkan apa jawabannya dan bagaimana menyusun argumen secara sistematik dan mudah dipahami, kita terlalu fokus pada bagaimana caranya biar jawabannya panjang. Akhirnya, kita lupa dan tak sadar bahwa tulisan kita belum menjawab pertanyaan soal tersebut.

Saat saya baca-baca ulang tugas di semester awal, sontak saya tertawa membaca kebodohan saya. Tugas saya bagaikan S**i Roti yang terlihat mengembang, tapi kalau di-press jadi imut-imut.

Karena takut tak memenuhi syarat, akhirnya saya asal kutip sana kutip sini. Kalau dilihat lagi, saya lebih banyak membahas tentang definisi ketimbang argumen saya pribadi. Belum lagi soal pemborosan kata dan kutipan-kutipan yang sebenarnya tidak berguna.

Alhasil, tulisan saya tak lebih dari tulisan orang yang ngomong ngalor-ngidul. Tentu ini kesalahan yang fatal sekaligus konyol. Apabila kita mengerjakan tugas seperti ini, tugas kita barangkali jadi bahan ketawaan para dosen yang menilai.

Maka dari itu, perlu bagi kita untuk mengetahui esensi dari sesuatu yang kita lakukan agar kerja kita tidak asal-asalan. Kalau ngerjain soal, ya jawab dulu pertanyaannya. Kalau jumlah katanya masih kurang, nanti bisa ditambahi. Kalau kita bekerja asal-asalan, bukan hanya kualitas diri kita yang rendah, tetapi juga merepotkan orang lain yang bekerja dengan kita.

Tapi, beda lagi kalau soalnya memang pengen ngerjain mahasiswa. Kalau soalnya aneh-aneh dan kesannya ngerjain mahasiswa, udahlah gak usah mikir substansi… pokoknya jadi! Hehehe….

 

*) Ilustrasi: Celine Anjanette (Instagram: @petiteanette)

Sinetron Absurd ala Indonesia dan Khasiat Mujarabnya 0 103

Menahun sudah segenap rakjat bertanya-tanya, sebagaimanapun kami juga (lihat tulisan: ‘Logika Hello Kitty Rebus vs Drama Korea’), kenapa sinetron Indonesia kok modelannya begitu-begitu terus? Bukannya semakin waktu semakin baik, malah semakin absurd. Adegan-adegannya super duper konyol out of the box. Mulai dari boneka Hello Kitty direbus sampai seorang wanita yang berteriak panik dikerubutin buaya CGI.

Tak mau kalah, latar tempat pun ikut jadi bahan humor tersendiri. Bagaimana ceritanya istana kahyangan seorang dewi kepercayaan Jawa berhiaskan patung-patung megah bergaya Yunani, lengkap dengan pose-pose melankolis seraya menutup sebagian anggota tubuh? Atau bagaimana bisa yang dikata para tokoh sebagai “diskotik top” adalah ruangan yang dindingnya cuma berbalut kain hitam dan lampu kerlap-kerlip macam hiasan pohon natal?

Sebelum kita melanjutkan protas-protes ria ini, mungkin ada baiknya kita hening sejenak dan berpikir ulang. Apa betul keadaaan sinetron Indonesia yang seperti ini nih sungguh-sungguh jelek dan mutlak pol negatifnya? Apa benar akar masalahnya hanya ada pada masalah kejar tayang dan keterbatasan proses produksinya, sehingga pilihan-pilihan adegan sedemikian “progresif nan alternatif” boleh langsung diambil gambar?

Memang, jika dilihat dari sisi lain, di zaman penuh kehausan akan aktualisasi brand dan bacok-bacokan antar-netijen, semakin aneh sebuah adegan berarti semakin tinggi kemungkinannya untuk bisa viral. Itu juga bisa jadi salah satu “reward” bagi tim produser yang mungkin harus senantiasa kalang-kabut di balik penayangan tiap episode.

Tapi toh kita kerap mendapati situasi di mana sebuah keluarga berkumpul dengan tatapan tanpa kedipan, melekat kuat di layar TV, menonton adegan-adegan “konyol” tersebut dengan mata berkaca-kaca atau bibir yang mewek-mewek.

Sebuah adegan yang bagi kita langsung bikin tepok jidat, ternyata sebegitu serius bagi mereka. Sebuah adegan yang bagi kita hanya pantas dlirik satu kali, untuk langsung divonis sebagai ‘tayangan tak bermutu’, ternyata sanggup membikin orang lain nangis kejer atau berok-berok sambil lempar piring karena saking gumush-nya sama si tokoh jahat. Lalu reaksi mereka itu membuat kita tertawa karena lucunya, atau bagi yang lebih keji lagi, karena gobloknya.

Kita sendiri bisa dengan sombong bangga mengumumkan pada jagad raya, “Sori, ya. Aku cuma mau pakai merk ini, ini, dan ini karena value perusahaannya sesuai sama value aku”. Atau, “Selera aku tuh yang begini, nih. Kalau yang kayak gitu, em… nggak sesuai lah sama karakter aku”.

Maka boleh juga dong kita mengakui bahwa sinetron Indonesia, sejungkirbalik apapun logika yang ada di dalamnya, amatlah nggathuk sama pasarnya. Jangan-jangan, nilai dalam sinetron lucu-lucu ini sungguh mencerminkan nilai yang sama dalam kehidupan penggemarnya sehari-hari?

Bolehlah kita bilang adegan jenazah yang sudah dipocong kemudian terlempar dalam mesin molen itu kejadian ajaib. Tapi jika kemudian kita lihat keseharian mereka, bukankah hal-hal tak kalah ajaib juga sering terjadi?

Diiming-imingi kerjaan “enak”, tanpa perlu syarat ijazah dan pengalaman kerja, menggiring mereka pada situasi banting-tulang, pagi sampai tengah malam 7 hari seminggu. Beberapa di antara mereka sampai bertaruh keamanan diri, ketika terpaksa harus melakukan tindakan ilegal atau melawan hukum demi menjalankan apa kata bos. Ketika digaji cuma dapat sekian repes, nominal upah yang saking super ajaibnya sampai tak masuk akal dan nurani. Bekerja tanpa kontrak resmi, dan ketika terjadi kecelakaan kerja atau bahkan sampai meninggal, tidak mendapat pertanggungjawaban yang pantas.

Belum lagi jika masih ditambah kasak-kusuk, “Salah sendiri, dia mau sih kerja nggak bener begitu”. Kalau sudah begini, bukankah bibir-bibir yang demikian berujar sama saja durjananya dengan molen yang menggiling si pocong nahas?

Sama halnya dengan persoalan plot. Dalam sinetron ‘serial istri tersakiti’ misalnya. Banyak yang jadi gatal gara-gara kisahnya selalu dan melulu tentang suami yang “direbut” perempuan lain. Apa tidak bisa menemukan alur cerita lain? Kita senantiasa berharap seri selanjutnya akan hadir dengan penyajian yang berbeda. Ternyata memang berbeda… pemainnya, busananya, dan setting lokasinya. Plotnya sama.

Demikian pula dengan kehidupan para penonton setianya. Dalam setiap hari, minggu, dan bulan, mereka bekerjakeras berusaha meningkatkan derajat hidup. Atau minimal, supaya bisa sedikit menabung. Senangnya bukan main jika dapat lebihan pendapatan harian. Tapi penyakit yang muncul karena kelelahan bekerja membuat cuan ekstra itu harus direlakan demi pengobatan. Atau kalau sekarang, anaknya tiba-tiba butuh dibelikan kuota bejibun buat sekolah online. Tabungan amblas. Hidup akhirnya segitu-segitu aja.

Oke. Ada yang bilang kalau kualitas plot yang stagnan dalam sinetron adalah buah dari episode yang mulur-mulur macam keju pizza masih anget. Bisa jadi benar. Namun bukankah kehidupan mereka rasanya juga seperti itu? Berpanjang-panjang dan tak menentu. Seiring datangnya hari, bukannya semakin besar harapan dalam hati mereka, hidup justru makin bikin angkat tangan.

Ya sudahlah… Terserah dunia ini mau seperti apa. Apapun yang terjadi besok ya dihadapi saja. Kalau bagus ya syukur. Kalau nggak ya sudah… pasrah saja.’

Maka, dalam perkara stagnansi opera sabun negara zamrud khatulistiwa ini, sesungguhnya siapa yang akhirnya menginspirasi siapa?

Apakah tim produser selalu bertolak dari kehidupan nyata para pemirsanya, yang secerdas mungkin ditangkap dan diterjemahkan dalam bahasa layar kaca dengan segala keterbatasan yang menghadang? Atau stagnansi ini akhirnya dibentuk terbentuk demi mengobati perih luka dalam hati pemirsanya?

Supaya kalau hidup mereka gitu-gitu aja, tak kunjung menemui solusi, sering dibuat kalah-kalahan, serta nampak seperti benang membundel yang rumit dan tak berujung… ya sudah, tidak masalah.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks