Bagaimana Sebaiknya Kita Mengenang Minggu, 13 Mei 2018? 0 670

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Menentukan Bingkai Untuk Mencatat Sejarah

Hemat penulis, Minggu, 13 Mei 2018 kemungkinan besar akan melekat di ingatan warga Surabaya dan Indonesia. Mungkin juga kemudian akan diperingati dengan emosional dan mengharu-biru setiap tahunnya mulai dari sekarang. Mungkin pula dengan mengheningkan cipta, teatrikal atau entah akan seperti apa.

Mungkin saja.

Hanya kemudian, akan diingat dan diperingati sebagai apa dan bagaimana menjadi cukup penting untuk dijadikan bahan pikir. Apakah Minggu, 13 Mei 2018 akan diingat sebagai hari dimana Surabaya dan Indonesia diguncang bom teror tertubi-tubi, yang lantas membuat warganya takut dan terpecah belah?

Atau kemungkinan lain, dimana Minggu, 13 Mei 2018 akan diingat sebagai hari barisan kemanusiaan Surabaya dan Indonesia bersatu dan bangkit dalam semangat keberanian dan bersama mengecam kebiadaban terorisme?

Menurut penulis, ini adalah pilihan genting dan krusial untuk segera diambil. Mengapa? Karena penting untuk menentukan bagaimana cara kita mengingat Minggu 13 Mei 2018 oleh sebab, tentu ingatan itu akan berkorelasi langsung dengan sikap. Sikap yang nantinya akan menentukan seperti apa dan bagaimana kita ke depan. Sikap yang akan membentuk bagaimana sejarah tercatat.

Awal mulanya berakar dari ingatan yang kita bingkai hari ini. Kemudian, bagaimana sebaiknya kita membingkai ingatan itu?

Yang Terjadi Hari Itu

Menurut penulis ada beberapa hal yang bisa membantu kita menentukan pilihan itu, berangkat dari apa saja yang terjadi di Minggu pagi pukul 06.30 di Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB), GKI Diponegoro, dan GPPS Sawahan. Tiga bom bunuh diri meledak di tiga gereja itu. Bersusul-susulan dalam jeda tiga puluh menit. Korban meninggal tercatat 13 orang dan puluhan lain luka-luka.

Rombongan Presiden Joko Widodo bersama Kapolri Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Din Syamsuddin, Mahfud MD, dan Wiranto langsung terbang dari Jakarta dan meninjau gereja-gereja Surabaya yang diledakkan. Semuanya mengecam kebiadaban terorisme dan mengimbau agar masyarakat tidak takut. Didampingi pula Tri Rismaharini dan Soekarwo saat memberi pernyataan di RS Bhayangkara pada (13/5) sore.

Selang sehari, Kapolri Tito Karnavian memastikan ketiganya adalah lanjutan kasus kerusuhan di Mako Brimob, Jakarta yang selidik punya selidik berafiliasi pula dengan gerakan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid, pendukung utama ISIS di Indonesia.
Pelaku pengeboman adalah keluarga Dita Oepriarto dan Puji Kuswanti beserta empat orang anak mereka. Dita adalah ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya. Ia baru pulang dari Suriah, dan diketahui bertempat tinggal di Wonorejo Asri Blok K/22, Rungkut, Surabaya.
Hingga malam turun pukul 21.30, sebuah bom teror lain meledak di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Esok harinya, Senin 14 Mei 2018, kembali terjadi peledakan bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya. Berselang beberapa saat, pecah baku tembak antara polisi dan komplotan teroris di kawasan Urang Agung dan Puri Maharani  Sidoarjo.

Soal kronologi yang lebih mendetail, pembaca tentulah sudah mahfum. Media apapun mengabari kita dengan breaking news yang terus-menerus. Penulis yakin, pembaca Kalikata pasti  mengikuti apa yang terjadi.

Lalu apa?

Soal Menentukan dan Membentuk Bingkai

Kembali pada tujuan tulisan ini, bagaimana kita membingkai segala rangkaian kejadian teror ini untuk kemudian kita ingat?

Tentu saja harus kembali dari apa yang terjadi pula di Minggu, 13 Mei 2018. Tidak hanya kekejian, tapi kemanusiaan pun tersaji begitu indah dan mengharukan kemarin. Membantu kita menentukan bingkai sejarah, dan membentuk ingatan yang harus dirawat.

Karena perlu kita ingat, selain para pelaku pengeboman, keberadaan pahlawan-pahlawan kemanusiaan yang juga gugur kemarin adalah antitesis, tandingan dari kebengisan teroris. Mereka tidak boleh sekalipun dilupakan. Aloysius Bayu dan Yesaya Bayang, dua sosok pahlawan kemanusiaan yang bisa membantu kita mengingat Minggu, 13 Mei 2018 dalam bingkai yang heroik dan kental nuansa humanisme. Keduanya wafat saat pasang badan menghadang pelaku pengeboman, lantas ikut meledak.

Mati syahid mereka adalah bukti, manusia dapat menjadi perisai -bahkan dalam artian harfiah- bagi sesamanya. Kemanusiaan tidak sirna. Kematian mereka pun bukan hanya berbuah kegagalan teroris meledakkan bom di dalam gedung gereja. Pun lebih dari keselamatan jemaat yang masih di dalam gereja saat itu. Heroisme Aloysius Bayu dan Yesaya Bayang, laksana bara semangat kemanusiaan yang membakar semua yang hidup dan terinspirasi oleh kisah mereka berdua. Menguatkan kita yang takut dan hampir paranoid.

Juga perlu disoroti solidaritas warga Surabaya yang atas inisiatif sendiri, berbondong-bondong mendatangi kantor PMI untuk donor darah. Dikabarkan antrean mengular panjang sejak pagi, sebanyak 600 lebih orang bersimpati segera setelah gereja-gereja meledak. Mereka datang tentu dengan satu harapan, agar darahnya bisa mengaliri nadi korban dan menyelamatkan sesama. Menyambung hidup mereka yang hampir dicerabut oleh bahan peledak dan jihad yang salah kaprah.

Tak lupa juga dukungan moril dan doa di sosial media, pun dengan tagar #SuroboyoWani, #Kamitidaktakut, dan #TerorisJancok yang digunakan untuk menciptakan konsolidasi rasa.

Kemarin, tidak seorang pun dibiarkan menghadapi kekacauan ini sendirian. Seluruh warga Surabaya dan Indonesia ada untuk saling menguatkan dan mendukung. Esensi kesatuan tercipta, pun keberanian bangkit untuk bersama melawan terorisme yang berani-beraninya menginjakkan kaki di Surabaya. Atmosfir kebersamaannya begitu terasa, bahkan cukup kuat untuk menenangkan hati yang ketar-ketir karena kabar bom yang terus ditemukan.

Simpati yang mengalir pun tidak henti-hentinya. Doa-doa dilantunkan, elemen-elemen masyarakat dan mahasiswa berkumpul dalam aksi solidaritas dan doa bersama di Tugu Pahlawan. Juga jauh-jauh dari Vatikan. Paus Fransiskus mengajak seluruh umat Katolik sedunia mendoakan dan bersimpati pada Surabaya. Dukungan dam doa datang bahkan dari yang jauh sekalipun. Begitulah kemanusiaan bekerja. Begitulah seharusnya ketika manusia menjadi manusia.

Lalu Akhirnya..

Sampai di sini, sudahkah Pembaca menentukan bingkai apa yang sebaiknya digunakan? Ingatan macam apa yang harus dirawat dan dijaga? Juga sikap apa yang harus ditumbuh-kembangkan pasca Minggu, 13 Mei 2018?

Pembaca, semoga kita selalu memilih kemanusiaan

*Selain pencerewet sosial, penulis adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Berminat pada isu-isu keperempuanan dan gender.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagi Mereka, Antirasisme Tak Lebih dari Sekadar Konten 0 157

George Floyd, pria berkulit hitam yang meninggal karena lehernya ditindih kaki petugas pulisi berkulit putih Minneapolis, AS menimbulkan gelombang protes. Bahkan ribuan warga AS teramasuk selebritis sudah bodo amat dengan korona dan ‘stay at home.

Mereka turun ke jalan untuk memprotes diskriminasi terhadap warga berkulit hitam dan menuntut  pemerintah agar pelaku pembunuhan segera diadili. Di media sosial juga ramai postingan penuh empati yang dibungkus amarah warga net mengenai kasus yang tak kunjung menemukan titik cerah itu.

Louis Vuitton sebagai merek legendaris pun terkena bola api amarah netizen karena marketing masif tas terbarunya ‘Pont 9’. Merek asal Paris ini membayar sejumlah artis dan fashion influencer di seluruh dunia untuk promosi di Instagram.

Namun, tak ada postingan yang menunjukkan empati mereka terhadap isu rasisme yang sedang panas itu. Alhasil, merek high-end ini pun dikecam netizen dan pesohor seperti Emily Ratajkowski karena dinilai tak peka dengan isu sosial. Tak hanya dikecam, pada 31 Mei lalu, butik Louis Vuitton di Oregon dijarah oleh massa.

Tak mau menjadi sasaran amukan massa, merek-merek lain akhirnya memposting foto prihatin terhadap kasus ini dan menyuarakan antirasisme. Diawali dari Versace, lalu dilanjut oleh Dior, Alexander McQueen, dan merek-merek beken lainnya.

Dari observasi kecil-kecilan saya, hingga saat ini, hanya Louis Vuitton yang masih bersih dari postingan antirasisme. Ya sudah, terserah dia.

Saya mengira masalah sudah beres. Ternyata, kasus Louis Vuitton hanyalah appetizer dari masalah empati dan antirasisme yang ada di dunia yang fana ini. Seperti yang tertulis di lirik lagu penyanyi indie terpopuler se-Indonesia, Kekeyi, “ucapanmu manis di bibir saja”, pun juga dengan kampanye antirasisme dari selebgram dan merek-merek kedagingan ini. Rupanya, postingan mereka sebatas wacana yang tidak dipraktikkan di dunia nyata.

Celine, merek asal Perancis ini memposting foto bahwa ia mengecam segala bentuk diskriminasi. Ia juga menuliskan di kepsyen “#BLACKLIVESMATTER” sebagai cherry on top.

Postingan ini diprotes oleh seorang fashion stylist, Jason Bolden. Hal ini dikarenakan Heidi Slimane, sang creative director, enggan mendandani seebritis berkulit hitam, kecuali stylist mereka berkulit putih.

Merek di bawah naungan LVMH ini selalu – semenjak kursi creative director diduduki oleh Heidi Slimane – memiliki jumlah model berkulit hitam di setiap shownya. Pada koleksi musim gugur 2020 misalnya, hanya ada 10 model berkulit hitam dari 111 model (9 persen). Sosok model berkulit hitam sangat jarang ditemui di feed Instagramnya.

Selanjutnya, ada kasus dari L’oréal . Merek mek-ap ini mengunggah foto di Instagram dan twit di Twitter yang intinya melawan segala bentuk diskriminasi warna kulit. Munroe Bergdorf, seorang model berkulit hitam, sontak memberikan tanggapan sinis kepada L’oréal. Rupanya, iapernah didapuk sebagai modelnya pada 2017. Sayangnya, ia dipecat usai menyuarakan protes terhadap white supremacy di Facebook.

Zimmermann, merek pakaian bergaya bohemian ini masuk ke dalam daftar pihak-pihak yang cari aman usai kasus Louis Vuitton. Sama dengan kasus-kasus di atas, merek asal Sydney ini mengatakan bahwa intinya ia berkomitmen untuk melawan praktik-praktik diskriminasi.

Namun, mereka-mereka yang pernah bekerja dan magang di sana angkat bicara. Mereka mengatakan bahwa pekerja kulit hitam kerap kali mendapat diskriminasi dan sering dipojokkan. Tak hanya itu, Zimmermann juga menerapkan beauty standard perempuan berkulit putih Eropa.

Lalu Kris Schitzel, selebgram Rusia yang berfoto di tengah pendemo sambil membawa tulisan “BLACK LIVES MATTER”.  Ia menerima hujatan usai video behind the scene “pemotretan” untuk foto tersebut beredar. Terlihat ia menata pose sedemikian rupa sambil membenarkan gaunnya.

Memang tak seniat video Brojabro dengan sayap Victoria’s Secret-nya saat aksi unjuk rasa mahasiswa di Surabaya silam, namun video tersebut sudah dapat membuat kita menyimpulkan bahwa ternyata gerakan yang ia lakukan tak lebih dari kebutuhan produksi konten di medsos.

Last but not least, kasus yang menyeret perempuan paling berpengaruh di dunia fashion saat ini, Anna Wintour. Vogue AS, majalah ternama yang dikepalai oleh Wintour ini di media sosialnya aktif  menyuarakan Black Lives Matter. Namun, pada Rabu (10/6) lalu, wanita yang mendapat julukan “Nuclear Wintour” ini meminta maaf atas minimnya kesempatan bekerja bagi orang berkulit hitam di kantornya.

Pernyataan tersebut membuat beberapa mantan pekerja berkulit hitam di Vogue angkat bicara di Twitter. Mereka mengungkapkan perlakuan tidak menyenangkan dari Wintour dan pekerja lain. Mulai dari di-bully, hingga gaji yang lebih sedikit harus mereka telan selama bekerja di majalah yang dijuluki fashion bible tersebut.

Miris sekali ya, ketika empati kita sangat dibutuhkan di masa ini, ternyata hanya dijadikan konten guna menaikkan citra mereka, biar seakan-akan peduli dengan isu rasisme. Tuntutan netijen yang begitu besar untuk menampilkan konten empati, malah membuat sejumlah pihak menganggapnya sebagai formalitas belaka.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Renungan Seonggok Pemuja Online Shop 0 74

Sudah hampir 3 bulan kita dihajar kampanye urban yang telah menjadi gaya hidup: #dirumahaja. Walau sebentar kita tak perlu merasa terkurung lagi, tatanan kehidupan yang baru hampir terbentuk dari babak hidup kemarin.

Semua aktivitas lantas dilakukan dari tempat ternyaman, entah sofa atau bahkan tempat tidur, termasuk belanja online.

Mau ke supermarket sebenarnya bisa sih. Toh supermarket dan pasar adalah salah satu ragam bisnis yang senantiasa terkecualikan dengan boleh tetap bernapas, demi mengisi logistik masyarakat.

Tapi sebagian dari kita yang tidak termakan teori konspirasi JRX percaya virus corona ada, menjadi was-was dan meminimalisir kegiatan keluar rumah, sekalipun sekadar untuk berbelanja.  Sebisa mungkin di rumah, menghindari kerumunan, memenuhi bujukan anjuran pemerintah. Beraktivitas di luar rumah menjadi suatu kegiatan yang bahkan mulai terasa asing.

Kita patut bersyukur, bahwa sebelum corona memutuskan untuk mengusik kehidupan kita, teknologi market place sudah berkembang sedemikian rupa. Peluangnya bahkan makin merambah di situasi seperti sekarang ini.

Semua-semua saja dibeli online. Mulai dari susu hingga pisau dapur, dari sayur-mayur hingga cairan pewangi pakaian, kaos kaki impor Cina atau HP hasil pasar gelap, semua dimungkinkan hanya dengan sentuhan jari di gawai.

Bahkan kata teman-teman saya, selama menikmati PSBB di rumah, membuka aplikasi online shop sudah jadi habitus baru yang tak terhindarkan. Ajaibnya, online shop kini berkembang fungsinya, sampai-sampai ikut jadi pereda kebosanan. Ia menjadi obat mujarab atas panas nan jenuhnya hati atau menghindarkan diri dari potensi termakan hoax di grup WhatsApp keluarga.

Namun, ada akibat fatal yang tak kuasa kita taklukkan. Kita tak bisa hanya sekadar “cuci mata” di aplikasi belanja online. Kita susah untuk menolak check out habis keranjang belanja virtual tanpa ampun. Kalau sudah begini, online shop berubah wajah. Justru ialah musuh bebuyutan dompet tipismu.

Pun online shop menghantar kita pada berbagai belahan dan jurang pengalaman. Kadang membeli barang yang mungkin gak terlalu berdayaguna, hanya karena promo dan kode voucher, yang setelah dibeli dan dibayar malah menyesal. Persis kayak habis putus, lalu pengen balikan karena mantan tiba-tiba jadi lebih cakep setelah putus.

Tren online shop sudah merasuk sejak beberapa tahun ke belakang, tapi popularitasnya melonjak dan bahkan menjadi adikuasa yang padanya kita makin menghamba.

Ia hanyalah substitusi emol-emol dan café dengan menu-menu dengan bahasa enggresan ndakik-ndakik. Menggeser rejeki dari mbak-mbak SPG dan mas-mas barista, ke para kurir dan mamang-mamang packaging paket. Merekalah yang memastikan belanjaan kita sampai persis di depan pintu rumah.

Online shop adalah pemain pengganti, dari perasaan tak sabar menunggu antrian kasir di toko, ke perasaan dag-dig-dug tak sabar menunggu teriakan “paket” di depan gerbang rumah.

Begitu pula dengan penggunaan e-wallet dan m-banking yang tersedia di platform e-commerce, yang membuat jasa penukar uang pinggiran jalan gigit jari, teknisi IT start-up digital pesta pora, serta mahasiswa informatika kini jadi kandidat calon mantu idaman, menggantikan dokter yang semakin gak bisa ketemu keluarganya di masa sekarang.

Mungkin ini yang dinamakan “new normal”, sebuah istilah yang sudah sangat lacur penggunaannya dalam konversesyen tiap harinya. Kebaruan yang dianggap normal. Namun juga kenormalan lama yang dibuatkan bentuk barunya. Kebiasaan baru rakjat untuk berbelanja, dan segala lika-liku di baliknya, jadi salah satu bab tak terelakkan di dalamnya.

Editor Picks