Ironi dari Pengguna Secreto Site 0 1359

Oleh: Annisa Pinastika*

Tulisan ini sebenarnya lebih ke ungkapan kegelisahan penulis terhadap bagaimana website Secreto muncul melalui status whatsapp dan instastory kawan-kawan sejawat berikut fenomena penggunaannya yang aneh bin luar biasa. Tentu kita pernah terpapar pesan-pesan macam: “Hai, yang mau kepo-kepo tapi gaberani, boleh tanya aku di *insert link secreto here*”, “Ditunggu kritik, masukan, sarannya, ya klik aja link di bio aku *lagi-lagi link secreto*”.  Gosh, opo seh sakjane Secreto iki?

Secreto terkenal sebagai website teranyar (tapi gak anyar-anyar amat) yang mengadopsi pendahulunya, yakni Sarahah, Ask.fm, dan Formspring. Sudah merasa familiar? Yap, lagi-lagi website yang menyediakan wadah bagi user-nya untuk memberikan pertanyaan atau komentar di akun seseorang, dilengkapi dengan fitur full anonim alias si penanya tidak akan dimunculkan identitasnya. Berbeda dengan ask.fm di mana penanya dapat memilih untuk menjadi completely anonymous atau tidak, Secreto benar-benar menjadikan orang yang ingin meninggalkan komentar mereka di profil tersebut sebagai anonymous. Terlebih, mereka tidak perlu membuat akun Secreto, cukup dengan klik link menuju profil akun Secreto yang dituju, maka siapapun bisa bebas memberikan testimoni atau kritik saran (yang kemudian disebut dengan pesan) kepada si pemilik akun tanpa perlu menampilkan identitas mereka.

Uniknya lagi, Secreto hadir sebagai counter dari salah satu keunggulan internet, yaitu interaktivitas. Melalui Secreto, si pemilik akun tidak dapat memberikan klarifikasi terhadap pernyataan atau komentar yang muncul di profil mereka. Memang, di bawah pesan tersebut disertai fitur komentar, akan tetapi sekalipun pemilik akun berusaha merespon melalui kolom tersebut, identitas dari pemilik akun pun tidak akan ditampakkan. Jadi kita hanya bisa menduga-duga apakah komentar tersebut benar dari pemilik yang bersangkutan atau dari orang lain yang turut berkomentar dengan berpura-pura menjadi pemilik akun. Di situlah seni dari ber-Secreto-ria, di mana semua tampil sebagai anonim.

Keberadaan website-website berbasis Q&A pendahulu Secreto sempat menimbulkan kegelisahan, mengingat publikasi media massa cenderung menyalahkan website-website tersebut sebagai penyebab para penggunanya melakukan suicide. Website Q&A dengan fitur anonymous ini kerap disalahgunakan untuk ajang mencaci dan melakukan praktik cyberbullying terhadap pemilik akun. Bahkan meskipun Formspring mengalami kebangkrutan di akhir 2011, kenapa eksistensi website-website Q&A dengan keunggulan anonimitasnya ini masih dilanggengkan netizen di Indonesia?

Rupanya, hasil penelitian yang dilakukan oleh Kang et.al. (2013) tentang motif sesorang menggunakan anonymity di dunia maya,  92% dari subjek penelitian yang berasal dari negara timur mengatakan bahwa adanya fitur anonim dapat dijadikan suatu cara untuk mengontrol dan melindungi hubungan asli mereka dengan orang-orang di dunia nyata. Kang dan kawan-kawannya mengasumsikan bahwa adanya fitur anonim ini bermanfaat bagi penduduk dengan budaya ketimuran yang masih amat menjunjung kehidupan bermasyarakatan secara kolektif. Tentunya pernyataan yang dapat menimbulkan gesekan di kehidupan bermasyarakat dapat menyebabkan orang yang mengajukan pertanyaan tersebut berpotensi dikucilkan dari lingkup sosialnya. Pembaca juga merasakan itu, toh? Oleh karena itu, keberadaan website Secreto dan konco-konconya sebagai platform yang menyediakan anonimitas membuat kita merasa seolah-olah memiliki kendali untuk mengkritik (gak peduli sejahat atau sesadis apapun itu) si subjek tanpa perlu khawatir hubungan kita dengannya berantakan di dunia nyata. Yes! Asyik, kan? Toh pemilik akun ya dengan legowo-nya membagikan link profil Secreto dia dan menyatakan dengan sukarela menerima kritik dari kita.

Eh, tapi anehnya para pemilik akun Secreto ini gemar sekali meng-capture pertanyaan-pertanyaan dan kritik saran yang mereka terima. Kalau untuk konsumsi pribadi, sih ya terserah elo aja, tapi ini justru dipublish lewat platform lain seperti status Whatsapp dan Instastory. Sudah begitu, mereka bubuhkan respon, jawaban atau tanggapan mereka terhadap pernyataan-pernyataan tersebut melalui status dan story tersebut. Loh, kan dengan merespon komentar-komentar tersebut berarti menghilangkan esensi secret dari Secreto sendiri, ya tho? Yo terus gawe opo rek Secreto, koen pengen onok sing ngritik tapi ga terimo ngono trus mbok jawab-jawab dewe lewat Instastory? Padahal, sekalipun pemilik akun ini tidak berkenan atas pesan yang ia rasa dapat menjatuhkan citranya, ia bisa mengklik lambang X di pojok kanan pesan tersebut agar terhapus dan tidak muncul lagi di profilnya. Akan tetapi, bahkan pesan remeh-temeh tanpa nada bullying pun mereka capture, publish, dan balas melalui media sosial lainnya.

Saya jadi kasihan sama developer dari Secreto, sudah merancang sedemikian rupa agar Secreto memiliki keunggulan dan menjalankan fungsi anonimnya dengan pantas, netizen selalu punya cara untuk membuat fungsi-fungsi tersebut terlibas. Pun saya bertanya-tanya, apakah tindakan pemilik akun Secreto yang tidak menghapus pesan berisi kritik jahat dan menjawabnya via media sosial lain semata agar membuat ia terlihat eksis karena banyak haters? Hehe.

Kalau begitu jadi ironi memang, sebagaimana fungsi dari media sosial lain, Secreto yang mulanya tampil sebagai representasi pemilik akun dalam menciptakan identitas melalui komentar orang lain, dianggap benar-benar menampilkan identitas dan kepribadian sesungguhnya dari pemilik akun di kehidupan nyata.

Kalau sudah begitu, pemilik akun Secreto terjebak pada keadaan hyperreal, di mana sudah tidak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak nyata lagi di ranah cyberspace. Pemilik akun Secreto merasa bahwa dirinya, yang mana ditampakkan melalui komentar di ranah online merupakan sosok identitas dirinya yang sesungguhnya. Maka dengan semakin banyak kritik dan pesan yang ia terima menjadikan ia seolah-olah sebagai sosok yang penting bagi hidup banyak orang dan perlu ditanggapi secepatnya, demi menjaga agar identitas dirinya yang asli tidak tercemari oleh kritik-kritik di Secreto. Kalau enggak, ngapain pakai di-publish dan dikonfirmasi lewat sosial media lainnya? Hehe. Hanya pemilik Secreto yang tahu jawabnya. Kalau tidak terima sama tulisan ini, bisa buat artikel tandingan, kan ya editor?

*Penulis adalah mahasiswa biasa-biasa saja, memiliki nama kecil Ratu Mahabencana.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Huru-Hara Anti-masker di Negeri Pak Trump 0 74

Oleh: Deanita Nurkhalisa*

 

Kisah datang dari Amerika Serikat (AS), negeri nun jauh dengan jumlah penderita terkonfirmasi Covid-19 terbanyak di level global mencapai titik tertinggi 3,4 juta kasus, 67 ribu kasus baru dan total kematian sebanyak 136 ribu jiwa. Ketika tak kunjung tampak terobosan signifikan dalam penanganan kasus, pada saat yang sama muncul pula sikap meremehkan yang datang dari berbagai kelompok, dari awam hingga figur berpengaruh. Anjuran dan nasihat kesehatan dimentahkan oleh gerakan anti-masker.

Gerakan anti-masker (anti-mask) menuai perhatian semenjak persyaratan lockdown perlahan diangkat dan fasilitas umum kembali dibuka dengan ketentuan wajib seperti pengenaan masker. Mereka menentang keras pendapat ilmiah, seperti dari Central for Disease Control and Prevention (CDC) yang meyakinkan publik bahwa penggunaan masker mengurangi risiko penularan. Tindakan ini sejalan dengan istilah keren ‘flatten the curve’, merebahkan kurva jumlah penderita dengan menginstruksikan penggunaan masker atau sarana pencegahan lain demi menekan laju Covid-19.

Kerumunan anti-masker mencuri perhatian atas apa yang mereka lakukan di pusat-pusat perbelanjaan, provokasi demonstrasi, maupun menyuarakan aspirasi lewat pertemuan dewan kota. Bentuk protes terhadap mandat penggunaan masker juga ditunjukkan melalui ejekan penggunaan masker berbentuk jaring (mesh mask) yang tentunya tidak melindungi wajah dari partikel berbahaya. Di Roseville, Sacramento, seorang warga mengencingi lantai toko Verizon Store karena menolak diusir meninggalkan toko akibat tidak mengenakan masker.

Di kesempatan tertentu, sekelompok anti-maskers meneriakkan kalimat ‘I can’t breathe’ (‘aku ra isa ambegan’) yang sebelumnya menjadi slogan solidaritas gerakan Black Lives Matter, mengutip kalimat terakhir George Floyd sebelum ia menjadi korban rasisme yang dilakukan aparat kepolisian di AS. Ironisnya, kalimat tersebut diinisiasi oleh anggota dewan kota Scottsdale, Arizona, pada aksi protes pengenaan masker akhir bulan lalu. Fakta-fakta itu menunjukkan egoisme, ketidakpekaan, dan minimnya empati dalam kelompok protes tersebut.

Klaim utama kelompok antimasker adalah bahwa kewajiban penggunaan masker oleh pemerintah ‘merenggut hak asasi dan kebebasan atas tubuh’ atau ‘perbudakan, penundukan, dan penaklukan’ oleh negara atas warga.

Beberapa pernyataan ini mengherankan karena beberapa alasan.

Adanya pandemi global memerlukan pencegahan yang dalam jangka panjang dapat memberikan hasil efektif, apabila dilakukan dengan benar dan secara massal untuk mencegah penularan. Tujuan untuk kebaikan bersama tersebut yang menjadi dasar pemerintah menggalakkan penggunaan masker. Tidak ada yang dapat menjamin seseorang akan dapat terinfeksi atau bahkan menginfeksi orang lain. Namun, tindakan pencegahan dapat membantu menurunkan risiko tersebut.

Masker bukanlah simbol atas penaklukan, apalagi menempatkan penggunanya sebagai ‘budak’, melainkan hanyalah sebuah alat penghalau partikel berbahaya di udara agar tubuh manusia tidak terinfeksi. Tidak ada anggapan implisit rasis atau misoginis yang ditemukan dari pengenaan masker. Pun bukanlah wujud dari agenda politis pihak oposisi untuk tujuan tertentu.

Tindakan pencegahan di masa pandemi ini tidak seharusnya menjadi isu politis maupun konspiratif yang dapat memecah opini. Dibutuhkan solidaritas, empati dan kebesaran hati untuk bergerak saling melindungi demi berakhirnya pandemi. Hal tersebut juga harus diiringi oleh informasi yang sesuai dan data yang cukup serta kemampuan berdialog secara efektif berdasarkan fakta yang ada. Bukan didasari sentimen apapun seperti pandangan politik, sehingga perdebatan mengenai pengenaan masker setidaknya dapat dilakukan secara substantif dan tidak sewenang-wenang.

Begitu juga dengan figur pemerintah yang memiliki pengaruh signifikan ke masyarakat. Sudah seharusnya mereka menyediakan edukasi, jaminan dan kepastian yang dibutuhkan oleh masyarakat agar negara tetap utuh dalam menghadapi krisis pandemi global.

 

*)Mahasiswi yang senang puisi, kucing, dan antariksa. Terbuka atas masukan atau cuma basa-basi lewat akun Instagram @ohitsjustdenit.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Klasifikasi Netizen Pasca JRX Menjadi Tersangka 0 92

Oleh: Rio Abadi*

 

Beberapa waktu kebelakang, nama Jerinx/JRX kerap menjadi sorotan netizen karena unggahan media sosialnya di berbagai platform. Ya, JRX memang secara gamblang mengunggah teori konspirasi terkait Covid-19 meskipun kerap dikecam dan banyak yang tak sependapat. Tapi tak bisa ditampik bahwa ada juga yang sepaham dan mengamini apa yang disampaikan JRX. 

Segmentasi netizen yang mengisi kolom komentar setiap unggahan Instagram @jrxsid cenderung lebih mendukung setiap apa yang diumbar oleh JRX. Sedangkan di Twitter, netizen yang merespon cuitan @JRXSID_Official kerap kali memberi antitesis terhadap teori konspirasi yang dilontarkannya. Akun media sosial milik JRX di kedua platform tadi-pun, beberapa kali sempat di-suspend akibat dinamika bermedia sosial. 

Namun pada 7 Agustus lalu, JRX resmi menyandang status hukum sebagai tersangka yang ditetapkan oleh Polda Bali atas kasus dugaan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian. Dengan delik aduan, I Gede Ari Astina dilaporkan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) provinsi Bali, atas unggahan Instagram JRX dengan caption “Gara-gara bangga jadi kacung WHO, IDI dan rumah sakit dengan seenaknya mewajibkan semua orang yang akan melahirkan tes Covid-19”. 

Pasca ditetapkan sebagai tersangka, beragam reaksi netizen pun bermunculan. Di media sosial seperti Twitter, netizen terbagi menjadi tiga golongan: 

 

Die Hard JRX

Ini adalah golongan pembela JRX. Mereka mendukung teori konspirasi terkait Covid-19 yang sering diumbar JRX sejak virus Corona merambah ke Indonesia Mereka seolah mengamini bahwa Covid-19 adalah senjata biologis yang dirancang oleh para elit global seperti Bill Gates, atau dengan kata lain,  mereka mengimani bahwa Covid-19 tak lebih dari sekedar rekayasa dan alat propaganda. Mungkin hampir semua dari mereka adalah outsider. Bisa jadi juga mereka bukan penikmat musik SID, namun memiliki kekaguman terhadap teori konspirasi yang digembar-gemborkan oleh JRX.

Meski proses hukum tetap berjalan, ditetapkanya JRX sebagai tersangka mungkin menjadi suatu malapetaka bagi mereka. Bayangkan, salah satu orang yang berani menyuarakan konspirasi di tengah pandemi, berani memiliki sudut pandang yang berbeda dengan orang kebanyakan harus diborgol dengan kabel ties, diboyong ke markas polisi, dan dijebloskan ke rumah tahanan.

 

Anti JRX

Kalau golongan ini, adalah netizen yang kontra dengan segala pernyataan JRX terkait konspirasi Covid-19. Sebelum JRX berurusan dengan hukum, golongan ini menghujat seolah dia adalah orang yang paling hina seantero dunia. Mereka menganggap teori konspirasi yang dilontarkan JRX selama ini adalah sesuatu yang dapat menyesatkan masyarakat. 

Bagi golongan ini, ditangkapnya JRX diharapkan dapat menjadi peringatan bagi siapapun yang berani menebarkan teori konspirasi, walaupun JRX dijerat dengan pasal tersakti se-Indonesia Raya: Pasal 28 Ayat 2 UU ITE, dugaan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian. Akibatnya, JRX terancam hukuman paling lama 6 tahun penjara dan denda maksimal 1 miliar rupiah. Hayo, kapokmu kapan?

 

Half JRX

Netizen yang berada dalam golongan ini adalah mereka yang tidak sepakat dengan teori konspirasi Covid-19, namun menentang penetapan JRX sebagai tersangka. Mereka tidak percaya teori konspirasi. Mereka meyakini eksistensi Covid-19 sebagai bencana non-alam. Mereka percaya meminimalisir kontak fisik antar individu dan menerapkan protokol kesehatan adalah cara untuk mencegah penyebaran Covid-19, sembari menunggu vaksin ditemukan oleh para ilmuwan. 

Tapi mereka tak setuju dengan “cara” menjerat JRX. Mereka menganggap UU ITE berisi pasal-pasal karet yang multitafsir nan mandraguna.

Tak sedikit pula yang membandingkan foto ketika JRX dengan tersangka kasus korupsi, ketika masuk ke tahanan. Bahkan sehari setelah JRX menjadi tersangka, muncul petisi dengan #BebaskanJrxSID. 

Entah siapa yang menginisiasi petisi tersebut, karena bisa jadi berasal dari golongan ini, tapi mungkin juga berasal dari mereka yang masuk dalam golongan pertama.

 

*) Seorang hamba Allah. Profil diri penulis yang lebih rinci sengaja dirahasiakan.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks