Ironi dari Pengguna Secreto Site 0 1514

Oleh: Annisa Pinastika*

Tulisan ini sebenarnya lebih ke ungkapan kegelisahan penulis terhadap bagaimana website Secreto muncul melalui status whatsapp dan instastory kawan-kawan sejawat berikut fenomena penggunaannya yang aneh bin luar biasa. Tentu kita pernah terpapar pesan-pesan macam: “Hai, yang mau kepo-kepo tapi gaberani, boleh tanya aku di *insert link secreto here*”, “Ditunggu kritik, masukan, sarannya, ya klik aja link di bio aku *lagi-lagi link secreto*”.  Gosh, opo seh sakjane Secreto iki?

Secreto terkenal sebagai website teranyar (tapi gak anyar-anyar amat) yang mengadopsi pendahulunya, yakni Sarahah, Ask.fm, dan Formspring. Sudah merasa familiar? Yap, lagi-lagi website yang menyediakan wadah bagi user-nya untuk memberikan pertanyaan atau komentar di akun seseorang, dilengkapi dengan fitur full anonim alias si penanya tidak akan dimunculkan identitasnya. Berbeda dengan ask.fm di mana penanya dapat memilih untuk menjadi completely anonymous atau tidak, Secreto benar-benar menjadikan orang yang ingin meninggalkan komentar mereka di profil tersebut sebagai anonymous. Terlebih, mereka tidak perlu membuat akun Secreto, cukup dengan klik link menuju profil akun Secreto yang dituju, maka siapapun bisa bebas memberikan testimoni atau kritik saran (yang kemudian disebut dengan pesan) kepada si pemilik akun tanpa perlu menampilkan identitas mereka.

Uniknya lagi, Secreto hadir sebagai counter dari salah satu keunggulan internet, yaitu interaktivitas. Melalui Secreto, si pemilik akun tidak dapat memberikan klarifikasi terhadap pernyataan atau komentar yang muncul di profil mereka. Memang, di bawah pesan tersebut disertai fitur komentar, akan tetapi sekalipun pemilik akun berusaha merespon melalui kolom tersebut, identitas dari pemilik akun pun tidak akan ditampakkan. Jadi kita hanya bisa menduga-duga apakah komentar tersebut benar dari pemilik yang bersangkutan atau dari orang lain yang turut berkomentar dengan berpura-pura menjadi pemilik akun. Di situlah seni dari ber-Secreto-ria, di mana semua tampil sebagai anonim.

Keberadaan website-website berbasis Q&A pendahulu Secreto sempat menimbulkan kegelisahan, mengingat publikasi media massa cenderung menyalahkan website-website tersebut sebagai penyebab para penggunanya melakukan suicide. Website Q&A dengan fitur anonymous ini kerap disalahgunakan untuk ajang mencaci dan melakukan praktik cyberbullying terhadap pemilik akun. Bahkan meskipun Formspring mengalami kebangkrutan di akhir 2011, kenapa eksistensi website-website Q&A dengan keunggulan anonimitasnya ini masih dilanggengkan netizen di Indonesia?

Rupanya, hasil penelitian yang dilakukan oleh Kang et.al. (2013) tentang motif sesorang menggunakan anonymity di dunia maya,  92% dari subjek penelitian yang berasal dari negara timur mengatakan bahwa adanya fitur anonim dapat dijadikan suatu cara untuk mengontrol dan melindungi hubungan asli mereka dengan orang-orang di dunia nyata. Kang dan kawan-kawannya mengasumsikan bahwa adanya fitur anonim ini bermanfaat bagi penduduk dengan budaya ketimuran yang masih amat menjunjung kehidupan bermasyarakatan secara kolektif. Tentunya pernyataan yang dapat menimbulkan gesekan di kehidupan bermasyarakat dapat menyebabkan orang yang mengajukan pertanyaan tersebut berpotensi dikucilkan dari lingkup sosialnya. Pembaca juga merasakan itu, toh? Oleh karena itu, keberadaan website Secreto dan konco-konconya sebagai platform yang menyediakan anonimitas membuat kita merasa seolah-olah memiliki kendali untuk mengkritik (gak peduli sejahat atau sesadis apapun itu) si subjek tanpa perlu khawatir hubungan kita dengannya berantakan di dunia nyata. Yes! Asyik, kan? Toh pemilik akun ya dengan legowo-nya membagikan link profil Secreto dia dan menyatakan dengan sukarela menerima kritik dari kita.

Eh, tapi anehnya para pemilik akun Secreto ini gemar sekali meng-capture pertanyaan-pertanyaan dan kritik saran yang mereka terima. Kalau untuk konsumsi pribadi, sih ya terserah elo aja, tapi ini justru dipublish lewat platform lain seperti status Whatsapp dan Instastory. Sudah begitu, mereka bubuhkan respon, jawaban atau tanggapan mereka terhadap pernyataan-pernyataan tersebut melalui status dan story tersebut. Loh, kan dengan merespon komentar-komentar tersebut berarti menghilangkan esensi secret dari Secreto sendiri, ya tho? Yo terus gawe opo rek Secreto, koen pengen onok sing ngritik tapi ga terimo ngono trus mbok jawab-jawab dewe lewat Instastory? Padahal, sekalipun pemilik akun ini tidak berkenan atas pesan yang ia rasa dapat menjatuhkan citranya, ia bisa mengklik lambang X di pojok kanan pesan tersebut agar terhapus dan tidak muncul lagi di profilnya. Akan tetapi, bahkan pesan remeh-temeh tanpa nada bullying pun mereka capture, publish, dan balas melalui media sosial lainnya.

Saya jadi kasihan sama developer dari Secreto, sudah merancang sedemikian rupa agar Secreto memiliki keunggulan dan menjalankan fungsi anonimnya dengan pantas, netizen selalu punya cara untuk membuat fungsi-fungsi tersebut terlibas. Pun saya bertanya-tanya, apakah tindakan pemilik akun Secreto yang tidak menghapus pesan berisi kritik jahat dan menjawabnya via media sosial lain semata agar membuat ia terlihat eksis karena banyak haters? Hehe.

Kalau begitu jadi ironi memang, sebagaimana fungsi dari media sosial lain, Secreto yang mulanya tampil sebagai representasi pemilik akun dalam menciptakan identitas melalui komentar orang lain, dianggap benar-benar menampilkan identitas dan kepribadian sesungguhnya dari pemilik akun di kehidupan nyata.

Kalau sudah begitu, pemilik akun Secreto terjebak pada keadaan hyperreal, di mana sudah tidak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak nyata lagi di ranah cyberspace. Pemilik akun Secreto merasa bahwa dirinya, yang mana ditampakkan melalui komentar di ranah online merupakan sosok identitas dirinya yang sesungguhnya. Maka dengan semakin banyak kritik dan pesan yang ia terima menjadikan ia seolah-olah sebagai sosok yang penting bagi hidup banyak orang dan perlu ditanggapi secepatnya, demi menjaga agar identitas dirinya yang asli tidak tercemari oleh kritik-kritik di Secreto. Kalau enggak, ngapain pakai di-publish dan dikonfirmasi lewat sosial media lainnya? Hehe. Hanya pemilik Secreto yang tahu jawabnya. Kalau tidak terima sama tulisan ini, bisa buat artikel tandingan, kan ya editor?

*Penulis adalah mahasiswa biasa-biasa saja, memiliki nama kecil Ratu Mahabencana.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ruwetnya Kerja dengan Orang Jawa 0 262

Jika pembaca sedang melamar pekerjaan dan mengetahui bos Anda adalah orang Jawa, atau Anda sebagai atasan dan seorang pelamar kerja imut-imut bau kencur yang akan jadi bawahan adalah orang Jawa, sebaiknya mengambil ancang-ancang 10 ribu kali. Jika perlu, berpuasalah 3 siang-malam untuk mendapat ilham cara bertahan hidup ke depannya.

Bekerjasama dengan orang Jawa itu ruwet. Ini adalah keniscayaan.

Sebab, (kami) orang Jawa adalah suatu suku di muka bumi ini yang diberi kelebihan oleh Sang Kuasa sebagai orang-orang perasa.

Kami sarankan kepada para bos, mohon kalau bicara atau memberi perintah jangan sambil berteriak. Usahakan volume suara Anda tetap dalam tataran normal ke sedang, tidak terlalu pelan untuk bisa didengar, namun juga tidak terlalu kencang sampai membuat jantung copot. Sebab mendengar suara bos membentak-bentak membuat hati kami ciut, terlepas dari karakter vokal dan kebiasaan sehari-hari sang pemilik suara.

Selain berteriak, bos-bos yang hobi bicara lembut tapi nyelekit juga suatu tantangan bagi kami. Walau mungkin konteks pembicaraan adalah dalam lingkup profesionalitas kerja, tanpa menyinggung persona, kami akan menyimpannya dalam hati dan kepikiran sampai berhari-hari. Secuil kesalahan kami yang dikoreksi atasan dengan kritikan pedas, rasanya seperti telah memporak-porandakan seluruh imej dan karir.

Kami peringatkan juga untuk para bos agar cukup tegar hatinya. Karena kami, para pegawai kelas menengah akan kerap ngrasani di belakang. Kami tak punya cukup nyali untuk berargumen di depan bos. Alasannya, tentu karena kami sangat menjunjung tinggi unggah-ungguh bersikap dengan atasan. Sebaliknya, kami terbiasa mbendol mburi. Cacat-cela – sekecil apapun – akan menjadi bahan rasan-rasan kami ketika ngopi bareng.

Sesungguhnya, selain dengan bos, keruwetan itu juga terjadi dalam hubungan yang sederajat. Dalam berbagai proyek, kami dituduh klemar-klemer. Kalian perlu tahu, wahai fellow buruh bayaran, ini bukan karena kami tak tangkas bekerja, tapi karena mengutamakan kehati-hatian. Kami berpikir sebelum bicara, bukannya gamang. Penuh perhitungan sebelum bertindak, bukan bimbang.

Persoalan pelik lain dengan sesama karyawan, tentu saja perihal penggunaan bahasa. Padahal komunikasi yang baik adalah koentji kekompakan dalam lingkungan kerja. Namun, tak jarang kami kesulitan menerjemahkan maksud kami ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa gaul lain yang bisa dipahami secara nasional.

Terkadang yang ada di otak maunya melontarkan satu kalimat utuh atau pendeskripsian situasi dalam bahasa Jawa, tapi sadar betul bahwa lawan bicara kemungkinan besar tak akan mengerti. Butuh setidaknya 5 detik supaya otak dapat meng-google-translate­-kannya. Jangan heran bila dalam percakapan sehari-hari, ada jeda waktu yang tercipta dari antara jawaban-ke-jawaban yang keluar dari mulut kami. Tentu, proses internal kami memakan waktu dan tenaga yang tak sedikit.

Lha wong buat ngobrol biasa saja kami ngos-ngosan beradaptasi, apalagi mau bercanda.

Beberapa permasalahan yang telah dijabarkan di atas, belum termasuk fakta-fakta di lapangan bagi kami yang bekerja di ibu kota. Mendengar logat kami yang khas, dengan penekanan huruf mati yang muanteb (baca: medhok), sesama karyawan biasanya akan bertanya “Asalnya dari mana? Dari Jawa ya?”

Entah apa maksud pertanyaan ini, benar ingin tahu atau menertawakan logat kami yang unik. Pun pertanyaan ini sungguh lucu dan menampik kenyataan bahwa ia, yang bertanya, dan tempat kami berdiri ini, juga namanya Pulau Jawa.

Tapi tak mengapa. Pengalaman yang terakhir itu wajar adanya. Sama seperti gaya bicara ke-Jakarta-jakarta-an yang terdengar di tongkrongan tempat asal saya, yang terdengar asing dan menggemaskan.

Oh iya, di Pulau Jawa yang maha-sempit namun sok-sokan menjadi pusat dunia ini, ada beragam variasi orang Jawa dengan segala kelakuannya di tempat kerja. Barangkali, yang tertulis di sini adalah kisah satu jenis orang Jawa saja.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 156

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks