Ironi dari Pengguna Secreto Site 0 2015

Oleh: Annisa Pinastika*

Tulisan ini sebenarnya lebih ke ungkapan kegelisahan penulis terhadap bagaimana website Secreto muncul melalui status whatsapp dan instastory kawan-kawan sejawat berikut fenomena penggunaannya yang aneh bin luar biasa. Tentu kita pernah terpapar pesan-pesan macam: “Hai, yang mau kepo-kepo tapi gaberani, boleh tanya aku di *insert link secreto here*”, “Ditunggu kritik, masukan, sarannya, ya klik aja link di bio aku *lagi-lagi link secreto*”.  Gosh, opo seh sakjane Secreto iki?

Secreto terkenal sebagai website teranyar (tapi gak anyar-anyar amat) yang mengadopsi pendahulunya, yakni Sarahah, Ask.fm, dan Formspring. Sudah merasa familiar? Yap, lagi-lagi website yang menyediakan wadah bagi user-nya untuk memberikan pertanyaan atau komentar di akun seseorang, dilengkapi dengan fitur full anonim alias si penanya tidak akan dimunculkan identitasnya. Berbeda dengan ask.fm di mana penanya dapat memilih untuk menjadi completely anonymous atau tidak, Secreto benar-benar menjadikan orang yang ingin meninggalkan komentar mereka di profil tersebut sebagai anonymous. Terlebih, mereka tidak perlu membuat akun Secreto, cukup dengan klik link menuju profil akun Secreto yang dituju, maka siapapun bisa bebas memberikan testimoni atau kritik saran (yang kemudian disebut dengan pesan) kepada si pemilik akun tanpa perlu menampilkan identitas mereka.

Uniknya lagi, Secreto hadir sebagai counter dari salah satu keunggulan internet, yaitu interaktivitas. Melalui Secreto, si pemilik akun tidak dapat memberikan klarifikasi terhadap pernyataan atau komentar yang muncul di profil mereka. Memang, di bawah pesan tersebut disertai fitur komentar, akan tetapi sekalipun pemilik akun berusaha merespon melalui kolom tersebut, identitas dari pemilik akun pun tidak akan ditampakkan. Jadi kita hanya bisa menduga-duga apakah komentar tersebut benar dari pemilik yang bersangkutan atau dari orang lain yang turut berkomentar dengan berpura-pura menjadi pemilik akun. Di situlah seni dari ber-Secreto-ria, di mana semua tampil sebagai anonim.

Keberadaan website-website berbasis Q&A pendahulu Secreto sempat menimbulkan kegelisahan, mengingat publikasi media massa cenderung menyalahkan website-website tersebut sebagai penyebab para penggunanya melakukan suicide. Website Q&A dengan fitur anonymous ini kerap disalahgunakan untuk ajang mencaci dan melakukan praktik cyberbullying terhadap pemilik akun. Bahkan meskipun Formspring mengalami kebangkrutan di akhir 2011, kenapa eksistensi website-website Q&A dengan keunggulan anonimitasnya ini masih dilanggengkan netizen di Indonesia?

Rupanya, hasil penelitian yang dilakukan oleh Kang et.al. (2013) tentang motif sesorang menggunakan anonymity di dunia maya,  92% dari subjek penelitian yang berasal dari negara timur mengatakan bahwa adanya fitur anonim dapat dijadikan suatu cara untuk mengontrol dan melindungi hubungan asli mereka dengan orang-orang di dunia nyata. Kang dan kawan-kawannya mengasumsikan bahwa adanya fitur anonim ini bermanfaat bagi penduduk dengan budaya ketimuran yang masih amat menjunjung kehidupan bermasyarakatan secara kolektif. Tentunya pernyataan yang dapat menimbulkan gesekan di kehidupan bermasyarakat dapat menyebabkan orang yang mengajukan pertanyaan tersebut berpotensi dikucilkan dari lingkup sosialnya. Pembaca juga merasakan itu, toh? Oleh karena itu, keberadaan website Secreto dan konco-konconya sebagai platform yang menyediakan anonimitas membuat kita merasa seolah-olah memiliki kendali untuk mengkritik (gak peduli sejahat atau sesadis apapun itu) si subjek tanpa perlu khawatir hubungan kita dengannya berantakan di dunia nyata. Yes! Asyik, kan? Toh pemilik akun ya dengan legowo-nya membagikan link profil Secreto dia dan menyatakan dengan sukarela menerima kritik dari kita.

Eh, tapi anehnya para pemilik akun Secreto ini gemar sekali meng-capture pertanyaan-pertanyaan dan kritik saran yang mereka terima. Kalau untuk konsumsi pribadi, sih ya terserah elo aja, tapi ini justru dipublish lewat platform lain seperti status Whatsapp dan Instastory. Sudah begitu, mereka bubuhkan respon, jawaban atau tanggapan mereka terhadap pernyataan-pernyataan tersebut melalui status dan story tersebut. Loh, kan dengan merespon komentar-komentar tersebut berarti menghilangkan esensi secret dari Secreto sendiri, ya tho? Yo terus gawe opo rek Secreto, koen pengen onok sing ngritik tapi ga terimo ngono trus mbok jawab-jawab dewe lewat Instastory? Padahal, sekalipun pemilik akun ini tidak berkenan atas pesan yang ia rasa dapat menjatuhkan citranya, ia bisa mengklik lambang X di pojok kanan pesan tersebut agar terhapus dan tidak muncul lagi di profilnya. Akan tetapi, bahkan pesan remeh-temeh tanpa nada bullying pun mereka capture, publish, dan balas melalui media sosial lainnya.

Saya jadi kasihan sama developer dari Secreto, sudah merancang sedemikian rupa agar Secreto memiliki keunggulan dan menjalankan fungsi anonimnya dengan pantas, netizen selalu punya cara untuk membuat fungsi-fungsi tersebut terlibas. Pun saya bertanya-tanya, apakah tindakan pemilik akun Secreto yang tidak menghapus pesan berisi kritik jahat dan menjawabnya via media sosial lain semata agar membuat ia terlihat eksis karena banyak haters? Hehe.

Kalau begitu jadi ironi memang, sebagaimana fungsi dari media sosial lain, Secreto yang mulanya tampil sebagai representasi pemilik akun dalam menciptakan identitas melalui komentar orang lain, dianggap benar-benar menampilkan identitas dan kepribadian sesungguhnya dari pemilik akun di kehidupan nyata.

Kalau sudah begitu, pemilik akun Secreto terjebak pada keadaan hyperreal, di mana sudah tidak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak nyata lagi di ranah cyberspace. Pemilik akun Secreto merasa bahwa dirinya, yang mana ditampakkan melalui komentar di ranah online merupakan sosok identitas dirinya yang sesungguhnya. Maka dengan semakin banyak kritik dan pesan yang ia terima menjadikan ia seolah-olah sebagai sosok yang penting bagi hidup banyak orang dan perlu ditanggapi secepatnya, demi menjaga agar identitas dirinya yang asli tidak tercemari oleh kritik-kritik di Secreto. Kalau enggak, ngapain pakai di-publish dan dikonfirmasi lewat sosial media lainnya? Hehe. Hanya pemilik Secreto yang tahu jawabnya. Kalau tidak terima sama tulisan ini, bisa buat artikel tandingan, kan ya editor?

*Penulis adalah mahasiswa biasa-biasa saja, memiliki nama kecil Ratu Mahabencana.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alasan untuk Jangan Keburu Alergi terhadap Soal Hitungan di Tes Seleksi Kerja 0 123

Mengapa musti sulit belajar matematika dari TK sampai SMA? Sedang di kehidupan nyata cuma untuk menghitung uang kembalian, itupun sekarang sudah ada kalkulator? Telanjur capek-capek belajar dari bilangan eksponen, matriks, trigonometri, sampai geometri, gak bakalan dipakai buat bekal hidup!

Barangkali banyak dari Pembaca budiman yang beranggapan demikian. Apalagi kalau Pembaca bekerja atau berkuliah di luar jalur sains, pasti setuju kalau belajar matematika sampai muntah cecek ternyata tak berguna. Ada juga yang kesal dengan sistem seleksi calon karyawan yang menggunakan soal matematika (dalam TPA), sehingga kembali bertemu angka-angka brengsek itu.

Terlanjur move on dari matematika saat kuliah, banyak teman saya yang kaget harus kembali belajar matematika untuk kerja, sebal harus kembali berhadapan dengan musuhnya saat sekolah dulu. Dan itu termasuk saya. Namun, seorang pelanggan toko mengirim wahyu yang mengubah (dengan radikal dan revolusioner) pandangan-pandangan saya.

Suatu hari, seorang laki-laki tambun datang ke toko saya untuk membeli kaca untuk dekorasi kafenya. Ia minta dipotongkan kaca berbentuk segitiga sama kaki dengan alas 1 meter dan panjang kaki sebesar 20 cm. Sontak saya dan orang tua saya kaget dengan kompak.

“Mana bisa, Mas? Kan alasnya semeter, kalau sisinya 20 cm dong jadinya gini?” Jelas Mama saya sambil menunjukkan bentuk sisi segitiga yang tidak bisa menyatu. Ya, mirip pacaran berda agama.

Orang itupun nampak bingung.  “Berapa bisanya? Kalau 30 cm bisa gak?” Tanya orang tersebut.

“Ya gak bisa, Mas. Paling nggak sisi-sisinya semeter, nanti jadinya segitiga sama sisi,” jawab Papa saya.

Bukannya merasa tercerahkan, orang tersebut masih nampak bingung dengan urusan segitiganya. Padahal, selama sekolah, kita sudah mati-matian dihajar oleh segitiga. Dari yang paling sederhana, mencari keliling, hingga utak-atik sisi dan sudut menggunakan trigonometri. Kalaupun semisal mas-mas tersebut hanya lulusan SD, seharusnya ia sudah pernah belajar jenis-jenis segitiga, sifat-sifat segitiga, dan triple pythagoras.

Untuk mencari sisi yang pas untuk segitiga mas-mas tersebut sendiri cukup mudah. Yang paling gampang bisa menyamakan sisi kaki dengan sisi alasnya. Atau, kalau mas-mas tersebut kekeuh dengan bentuk segitiga sama kaki, bisa menggunakan angka triple pythagoras dan hasilnya adalah 130 cm.

Kejadian ini menunjukkan saya bahwa problem matematika di kehidupan sehari-hari tidak melulu soal uang. Selain masalah logika sederhana seperti tadi, pengetahuan matematis juga akan dijuji saat Anda mengerjakan tes IQ atau tes potensi akademik (TPA). Tes-tes itu, pembaca tahu, banyak diajukan dalam tes seleksi kerja atau CPNS.

“Lho, kan tidak semua orang dikaruniai kecerdasan numerikal?”

Yak, benar memang. Tes IQ sendiri juga banyak menuai kontra karena dianggap hanya melihat kecerdasan numerikal, linguistik, dan spasial. Tapi, bukan berarti Anda memilih untuk alergi apalagi fobia dengan urusan angka.

Saya sendiri menyarankan Anda untuk sesekali mengerjakan soal matematika sederhana seperti soal-soal TPA tatkala menganggur. Tenang, ini bukan rekomendasi abal-abal seperti inpluenser lokal (Baca: Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi). Tersebab, saya sudah melakukan riset kecil-kecilan mengenai kecerdasan.

Banyak teman saya yang lesu putus asa saat harus kembali belajar matematika untuk bisa mengerjakan TPA saat melamar pekerjaan. Sifat alergi itu datang lantaran pikiran mereka hanya dibayangi oleh bejibun angka-angka, tanpa tahu tujuan dari tes tersebut.

Secara sains, mengerjakan soal seperti ini terbukti meningkatkan IQ Anda. Dengan mengulas lagi pelajaran yang sudah usang, ikatan antar saraf otak Anda akan kembali terjalin dan menguat. Hubungan antar syaraf (sinapsis) pada otak inilah yang menentukan kecerdasan manusia.

Peningkatan IQ ini tidak hanya terkait kecerdasan numerikal saja. Setidaknya menurut pengalaman saya, mengerjakan soal TPA meningkatkan kemampuan menganalisis pola-pola dalam sebuah masalah, dan kemudian mencari solusinya. Mungkin, inilah mengapa banyak sekali perusahaan dan instansi yang menggunakan soal TPA untuk menyeleksi calon karyawan. Sekali lagi, bukan melihat kecerdasan numerikal namun identifikasi pola dalam masalah dan mencari solusinya.

Selain meningkatkan kecerdasan, belajar matematika juga melatih ketelitian. Saya rasa untuk poin ini, Anda sudah mengerti. Hal ini karena hasil yang benar tidak akan didapatkan apabila terdapat kesalahan dalam menghitung.

Di samping menguji ketelitian, mengerjakan soal matematika juga menguji kesabaran.  Tak jarang kita harus menghitung ulang saat tidak menemukan jawaban kita di pilihan jawaban…

Dan yang terakhir itu adalah manfaat tak terelakan, minimal meningkatkan kapasitas imej Anda di mata anak-anak kelak. Bayangkan bila suatu hari nanti anak-anak Anda meminta bantuan mengerjakan soal matematika sederhana, tetapi Anda tidak bisa mengerjakannya….

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

Ibadah yang Tertinggal di Ramadhan: Refleksi Diri Bagi Golongan Sok Sibuk 0 183

Oleh: Edeliya Relanika*

 

*Peringatan: Ini bukan artikel dakwah, jadi jangan cari petunjuk religi di bacaan ini

 

Yah, tak terasa Ramadhan di tahun 2021 sudah berlalu. Lebaran bahkan sudah lewat lebih dari seminggu lalu. Tapi kok hidup tetep gini-gini aja, gak ada fitri-fitrinya. Sedih rasanya harus melewatkan Ramadhan dengan begitu cepat—yang tentu saja masih digandeng mesra sama si COVID-19.

Selama Ramadhan kemarin, aku telah tertimbun oleh beratnya tugas kuliah dan proyek kepenulisan. Bukan karena aku jadi materialis dan sekonyong-konyong berorientasi pada pencapaian duniawi, aku juga banyak mulai memikirkan hal yang bahkan belum disadari pada Ramadhan beberapa tahun ke belakang:

Kehilangan kesempatan beribadah Ramadhan saat kita beranjak dewasa, akibat disibukkan dengan pencapaian duniawi yang paradoksal.

Menjadi lebih tua nyatanya bisa membuat kita jadi lebih sibuk pada hal-hal profan. Jika diputar ke sisi lainnya, pencapaian duniawi itu toh juga akan berhenti saat kita meninggal dunia. Mungkin warisan pencapaian itu masih akan tersimpan dan dinikmati oleh keturunan kita. Namun, apakah pencapaian duniawi itu akan menina bobokkan kita di alam kubur?

Mudah saja bagi orang dewasa muda hingga tua untuk memafhumkan pelewatan beberapa ritual ibadah Ramadhan—yang biasa rutin dijalankan ketika waktu lebih muda dahulu. Sebelum aku menjadi lebih tua dan semakin malas beribadah (karena sok sibuk banyak kerjaan), ada beberapa poin catatan pribadi yang mungkin bisa relate dengan para pembaca Kalikata, dan mungkin bisa diterapkan di Ramadhan tahun depan: (karena sesungguhnya Ramadhan tiap tahun harusnya membuat kita manusia yang lebih baik khan, azeq)

Tidak skip ibadah lima waktu salat fardu saat di tengah hari berpuasa.

Dengan alasan banyak tugas dan pekerjaan lainnya (masih yang bersifat duniawi), banyak dari golongan sok sibuk (((seperti aku dan kamu))) yang seringkali lalai untuk melaksanakan salat fardu lima waktu secara full time. Nah, itu ibadah wajib jangan sampai kalian skip kayak iklan di YouTube yang masih belum premium.

 

Kalau tugas ber-deadline tengah malam, mending coba salat Tarawih dulu saja.

Kalau kalian memiliki waktu luang sekitar pukul 7 hingga 9 malam, sempatkanlah untuk salat Tarawih. Bukannya malah latihan joget Tiktok biar masuk fyp. Kalau masih ada tanggungan tugas gimana dong, kak? Coba saja tugas tersebut diselesaikan di pagi, siang, atau sore harinya.

 

Jangan suka begadang nugas atau kerja hingga waktu sahur, lalu jadi kelelawar dan bobok hingga waktu berbuka puasa.

Ini sih dilema para pelajar (apalagi mahasiswa) dan pekerja lainnya. Udah skip banyak ibadah Ramadan dengan alasan kecapaian, eh tapi malah kuat begadang kerja hingga sahur. Kalau kasusnya seperti itu, cobalah kalian pikir ulang. Untuk nugas saja kuat; mengapa untuk ibadah sebentar saja malah banyak alasan? Xixixi.

 

Coba mendaras ayat-ayat Alquran secara konsisten, walau tak sampai puluhan ayat jumlahnya.

Bagi kalian yang berniat untuk membaca Alquran walau pun tidak khatam, tidak apa-apa. Belajarlah konsisten untuk tak luput memaknai isi Alquran. Kalau bisa khatam Alquran di bulan Ramadhan, tentu lebih baik lagi! Biar tiap tahun ada faedahnya Ramadhan kita.

 

Jangan lupa banyak beramal dan bersabar.

Kemenangan Hari Raya nanti akan menjadi lebih bermakna, apabila Ramadan ini dapat kita jalankan dengan beban yang diringankan bersama ikhtiar serta qonaah.

 

Catatan refleksi ini kuharap akan terus berakar dan bertumbuh; dalam menyadarkan kekhilafan kita yang suka skip berbagai ritual ibadah di bulan Ramadhan. Semangat berubah untuk lebih baik boleh-boleh saja berkembang, namun jangan dengan kemalasan diri pada golongan sok sibuk seperti kita hehehe.

Tumben banget Kalikata serius.

 

*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya. Tinggal di Gresik, dan menghasilkan karya dari hobi menulis, salah satunya “Antroposen” di Gramedia Writing Project (Instagram: @edeliyarerelala).

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks