Ironi dari Pengguna Secreto Site 0 2662

Oleh: Annisa Pinastika*

Tulisan ini sebenarnya lebih ke ungkapan kegelisahan penulis terhadap bagaimana website Secreto muncul melalui status whatsapp dan instastory kawan-kawan sejawat berikut fenomena penggunaannya yang aneh bin luar biasa. Tentu kita pernah terpapar pesan-pesan macam: “Hai, yang mau kepo-kepo tapi gaberani, boleh tanya aku di *insert link secreto here*”, “Ditunggu kritik, masukan, sarannya, ya klik aja link di bio aku *lagi-lagi link secreto*”.  Gosh, opo seh sakjane Secreto iki?

Secreto terkenal sebagai website teranyar (tapi gak anyar-anyar amat) yang mengadopsi pendahulunya, yakni Sarahah, Ask.fm, dan Formspring. Sudah merasa familiar? Yap, lagi-lagi website yang menyediakan wadah bagi user-nya untuk memberikan pertanyaan atau komentar di akun seseorang, dilengkapi dengan fitur full anonim alias si penanya tidak akan dimunculkan identitasnya. Berbeda dengan ask.fm di mana penanya dapat memilih untuk menjadi completely anonymous atau tidak, Secreto benar-benar menjadikan orang yang ingin meninggalkan komentar mereka di profil tersebut sebagai anonymous. Terlebih, mereka tidak perlu membuat akun Secreto, cukup dengan klik link menuju profil akun Secreto yang dituju, maka siapapun bisa bebas memberikan testimoni atau kritik saran (yang kemudian disebut dengan pesan) kepada si pemilik akun tanpa perlu menampilkan identitas mereka.

Uniknya lagi, Secreto hadir sebagai counter dari salah satu keunggulan internet, yaitu interaktivitas. Melalui Secreto, si pemilik akun tidak dapat memberikan klarifikasi terhadap pernyataan atau komentar yang muncul di profil mereka. Memang, di bawah pesan tersebut disertai fitur komentar, akan tetapi sekalipun pemilik akun berusaha merespon melalui kolom tersebut, identitas dari pemilik akun pun tidak akan ditampakkan. Jadi kita hanya bisa menduga-duga apakah komentar tersebut benar dari pemilik yang bersangkutan atau dari orang lain yang turut berkomentar dengan berpura-pura menjadi pemilik akun. Di situlah seni dari ber-Secreto-ria, di mana semua tampil sebagai anonim.

Keberadaan website-website berbasis Q&A pendahulu Secreto sempat menimbulkan kegelisahan, mengingat publikasi media massa cenderung menyalahkan website-website tersebut sebagai penyebab para penggunanya melakukan suicide. Website Q&A dengan fitur anonymous ini kerap disalahgunakan untuk ajang mencaci dan melakukan praktik cyberbullying terhadap pemilik akun. Bahkan meskipun Formspring mengalami kebangkrutan di akhir 2011, kenapa eksistensi website-website Q&A dengan keunggulan anonimitasnya ini masih dilanggengkan netizen di Indonesia?

Rupanya, hasil penelitian yang dilakukan oleh Kang et.al. (2013) tentang motif sesorang menggunakan anonymity di dunia maya,  92% dari subjek penelitian yang berasal dari negara timur mengatakan bahwa adanya fitur anonim dapat dijadikan suatu cara untuk mengontrol dan melindungi hubungan asli mereka dengan orang-orang di dunia nyata. Kang dan kawan-kawannya mengasumsikan bahwa adanya fitur anonim ini bermanfaat bagi penduduk dengan budaya ketimuran yang masih amat menjunjung kehidupan bermasyarakatan secara kolektif. Tentunya pernyataan yang dapat menimbulkan gesekan di kehidupan bermasyarakat dapat menyebabkan orang yang mengajukan pertanyaan tersebut berpotensi dikucilkan dari lingkup sosialnya. Pembaca juga merasakan itu, toh? Oleh karena itu, keberadaan website Secreto dan konco-konconya sebagai platform yang menyediakan anonimitas membuat kita merasa seolah-olah memiliki kendali untuk mengkritik (gak peduli sejahat atau sesadis apapun itu) si subjek tanpa perlu khawatir hubungan kita dengannya berantakan di dunia nyata. Yes! Asyik, kan? Toh pemilik akun ya dengan legowo-nya membagikan link profil Secreto dia dan menyatakan dengan sukarela menerima kritik dari kita.

Eh, tapi anehnya para pemilik akun Secreto ini gemar sekali meng-capture pertanyaan-pertanyaan dan kritik saran yang mereka terima. Kalau untuk konsumsi pribadi, sih ya terserah elo aja, tapi ini justru dipublish lewat platform lain seperti status Whatsapp dan Instastory. Sudah begitu, mereka bubuhkan respon, jawaban atau tanggapan mereka terhadap pernyataan-pernyataan tersebut melalui status dan story tersebut. Loh, kan dengan merespon komentar-komentar tersebut berarti menghilangkan esensi secret dari Secreto sendiri, ya tho? Yo terus gawe opo rek Secreto, koen pengen onok sing ngritik tapi ga terimo ngono trus mbok jawab-jawab dewe lewat Instastory? Padahal, sekalipun pemilik akun ini tidak berkenan atas pesan yang ia rasa dapat menjatuhkan citranya, ia bisa mengklik lambang X di pojok kanan pesan tersebut agar terhapus dan tidak muncul lagi di profilnya. Akan tetapi, bahkan pesan remeh-temeh tanpa nada bullying pun mereka capture, publish, dan balas melalui media sosial lainnya.

Saya jadi kasihan sama developer dari Secreto, sudah merancang sedemikian rupa agar Secreto memiliki keunggulan dan menjalankan fungsi anonimnya dengan pantas, netizen selalu punya cara untuk membuat fungsi-fungsi tersebut terlibas. Pun saya bertanya-tanya, apakah tindakan pemilik akun Secreto yang tidak menghapus pesan berisi kritik jahat dan menjawabnya via media sosial lain semata agar membuat ia terlihat eksis karena banyak haters? Hehe.

Kalau begitu jadi ironi memang, sebagaimana fungsi dari media sosial lain, Secreto yang mulanya tampil sebagai representasi pemilik akun dalam menciptakan identitas melalui komentar orang lain, dianggap benar-benar menampilkan identitas dan kepribadian sesungguhnya dari pemilik akun di kehidupan nyata.

Kalau sudah begitu, pemilik akun Secreto terjebak pada keadaan hyperreal, di mana sudah tidak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak nyata lagi di ranah cyberspace. Pemilik akun Secreto merasa bahwa dirinya, yang mana ditampakkan melalui komentar di ranah online merupakan sosok identitas dirinya yang sesungguhnya. Maka dengan semakin banyak kritik dan pesan yang ia terima menjadikan ia seolah-olah sebagai sosok yang penting bagi hidup banyak orang dan perlu ditanggapi secepatnya, demi menjaga agar identitas dirinya yang asli tidak tercemari oleh kritik-kritik di Secreto. Kalau enggak, ngapain pakai di-publish dan dikonfirmasi lewat sosial media lainnya? Hehe. Hanya pemilik Secreto yang tahu jawabnya. Kalau tidak terima sama tulisan ini, bisa buat artikel tandingan, kan ya editor?

*Penulis adalah mahasiswa biasa-biasa saja, memiliki nama kecil Ratu Mahabencana.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengapa Pejabat Emoh dengan Media dan Memilih Channel Deddy Corbuzier 0 302

Pejabat atau pemerintah atau orang-orang penting seperti selebriti sekalipun, dari dulu takut dengan media. Sebab apapun pernyataan yang muncul dari mulut, tentu akan dikutip dan dijadikan judul berita, dari sudut beragam rupa, tergantung siapa wartawannya dan di media mana ia bekerja. Bahkan ketika si figur publik diam saja, bahasa tubuhnya tetap akan jadi berita, lengkap dengan kutipan narasumber ahli pembaca mimik wajah.

Tapi ada satu rahasia: sampai sekarang mereka-mereka ini masih takut dengan media.

Buktinya, mereka lebih mudah ditemui tampil di Youtube sekarang. Seorang teman wartawan dengar-dengar sempat sebel dengan seorang sosok penting. Katanya berhari-hari mengejarnya demi wawancara tak kunjung digubris. Begitu diundang Om Deddy Corbuzier untuk “wan tu tri klos de dor”, langsung mau ngomong panjang lebar dengan durasi 1 jam.

Pembaca tahu kan, channel Om Deddy itu memang ajaib. Di kursi potkesnya, segala macam menteri mulai dari yang kemudian digotong KPK, sampai Lord Luhut, sudah pernah duduk dan bercengkeramah di sana. Bahkan terakhir, sejumlah media mainstream sampai mengutip omongan Luhut dari Youtube Om Deddy, soal cara penanganan corona di Indonesia.

Beberapa orang yang dulu kita temui tenar sekali di layar kaca, sekarang bahkan membangun kanal Youtube sendiri. Buanyak contohnya. Saya rasa pembaca bahkan salah satu subscribernya. Mulai Raffi Ahmad sampai Bambang Soesatyo Ketua MPR RI, kini bikin channel sendiri.

Setidaknya, penulis membaca fenomena ini sebagai berikut:

Pertama, karena mereka-mereka ini tahu siapa target yang disasarnya. Kaum milenial sampai generasi Z dan Alpha. Mereka yang sudah mulai, bahkan sama sekali, meninggalkan media mainstream. Mereka yang menghabiskan hari-hari berselancar di media sosial. Mereka-mereka ini, terlebih para pejabat publik, berusaha meraih perhatian mereka dengan turut aktif bermedsos. Tentu untuk membangun citra baik.

Sebut saja Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta yang selalu jadi tempat menumpahkan sumpah serapah penyebab banjir, macet, dan episentrum covid-nya ibu kota. Baru kali ini saya lihat Anies marah-marah (loh kok niru-niru mantan walikotaku seh) pada pemimpin perusahaan non-esensial yang masih buka di kala PPKM Darurat mengharuskan 100 persen WFH.

Aksi itu bukan terekam di layar kaca berita loh ya, tapi di story Instargram-nya. Hal ini terjadi di tengah iritnya humas pemprov membagi agenda harian sidak-sidak gubernur pada awak media.

Belum lagi Khofifah Indar Parawansa, bunda-ne arek-arek, yang baru saja mengunggah foto tak biasa di akun Instagramnya. Bukan program kerja, melainkan tangkapan layar balas-balasan komennya dengan seorang netijen pemuda patah hati. Pendekatan yang sama juga sudah lama dilakukan Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng, dan terlebih Ridwan Kamil, Gubernur Jabar.

Mereka paham betul bagaimana bahasa yang harus digunakan pada para muda, dan topik apa saja yang menarik dibahas. Eh ralat, mungkin merekanya gak paham, setidaknya tim jubir, tim staf khusus ahli komunikasi, atau tim kampanye 2024-nya yang paham strategi memenangkan hati rakjat.

Hal kedua, ya tetap bermuara pada kesimpulan pejabat takut dengan media. Podcast para youtuber bisa menjadi pelarian yang paling tepat. Sebab hanya di medsos-lah, pejabat-pejabat ini bisa dengan bebas ngobrol soal musik favorit, hobi, bahkan love story. Hanya di sana, mereka bisa libur sejenak dari pertanyaan-pertanyaan memuakkan wartawan media mainstream yang tak pernah lelah “menyudutkan” (baca: mengkritisi).

Tapi gak apa-apa. Saya rasa, media mainstream tak perlu ikut-ikutan gaya youtuber agar disukai masyarakat atau membuat pejabat mau diwawancarai. Media cukup menjadi dirinya sendiri. Sebab apapun dalam kue kehidupan di dunya ini punya potongan dan porsinya masing-masing.

Media idealnya memang pilar keempat demokrasi dengan segala kekakuan prinsip, struktur, dan etika profesinya. Sementara medsos harus tetap ada pada pondasinya untuk membuat masyarakat kita berproses.

Masyarakat kita bisa tetap kok memilih media mainstream sebagai jujugan utama, landasan teori dan mewacanakan diskursus, yang kemudian bisa direalisasikan dalam tukar pendapat di medsos yang tak ada ambang batasnya, kecuali UU ITE.

Tapi, hal yang barusan saya bicarakan di atas itu kayaknya ya hanya harapan kita saja. Hari-hari ini, pembaca semua tahu, media mainstream dan media sosial sudah dikapitalisasi, jika tak terlalu kasar kita menyebutnya dimonopoli, oleh mereka yang berduit dan berkuasa saja, tak mampu membuat kita bebas mencerna dan berbagi wawasan.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Indonesia Harus Mencetak Lebih Banyak Duta 0 328

Judul tulisan ini bukan sekadar bercanda. Kalimat dalam judul saya tuliskan karena kenyataannya, pada titik ini, Indonesia sudah banyak sekali merekrut duta baru.

Sebut saja dua duta masker dari Bekasi dan Surabaya. Mereka bukan datang dari kalangan orang-orang yang punya wawasan mendalam soal pandemi COVID-19, ataupun influencer yang suka mempromosikan protokol kesehatan.

Alkisah seorang pemuda masjid di Bekasi yang memantik adu mulut karena seorang jamaah pakai masker saat salat. Menurut kepercayaannya, dalam Al-Qur’an tak ada ajaran untuk pakai masker saat menjalankan ibadah.

Sementara itu, dari Surabaya, seorang pemuda di suatu mall dengan bangga memamerkan dirinya yang tak pakai masker, dan justru berteriak mengolok-olok pengunjung lain yang taat prokes.

Pembaca sudah tahu kan, apa kelanjutan kisah dari dua orang itu? Keduanya malah dinobatkan jadi duta masker. Hal inilah yang membuat sebagian dari masyarakat naik pitam.

Dari mana logika para pembuat kebijakan dan yang mengangkat mereka menjadi duta berasal? Bagaimana bisa, seorang pelanggar malah diangkat menjadi duta yang harusnya menjadi contoh bagi orang lain? Begitu paling tidak yang juga dikatakan Om Deddy Corbuzier di salah satu potkes “close the door”-nya.

Eits, tapi cara ini tak sepenuhnya salah, loh! Dalam ilmu psikologi, ada yang namanya reward atau penghargaan, dan punishment atau hukuman. Penelitian menyebut, memberi penghargaan lebih efektif daripada menjatuhi hukuman. Gak percaya? Sini saya jelaskan.

Menurut ilmu neuroscience untuk menjelaskan reward, seseorang akan berusaha keras dan melakukan suatu aksi. Ada sinyal di otak yang dipantik oleh neuron dopaminergik di bagian otak tengah yang bergerak ke motor cortex, dan memengaruhi aksi atau perilaku kita.

Mangkanya waktu kecil, kita diiming-imingi orang tua akan dibelikan es krim kalau nilai matematika bagus. Kita lalu berusaha keras untuk belajar siang-malam, mengerjakan soal ujian dengan sungguh-sungguh, agar meraih penghargaan yang telah dijanjikan orang tua.

Sebaliknya, punishment membuat seseorang berusaha untuk menghindari bahaya dengan cara tidak melakukan suatu aksi. Sinyal di otak yang terjadi hampir sama ketika kita memproses reward. Bedanya, punishment membuat sebuah efek “freeze” di otak, sehingga kita tidak jadi melakukan suatu tindakan.

Misalnya, kita diperingati orang tua untuk tidak suka memanjat pagar agar tidak jatuh. Karena kita tahu jika jatuh menyebabkan sakit, berdarah, dan luka, maka kita tak jadi melakukannya.

Nah, dari kedua reaksi otak dan aksi yang ditimbulkannya, peneliti tersebut menyebut otak lebih mudah menerima informasi positif ketimbang negatif. Artinya, ya manusia normal akan lebih mengejar reward dan menjalankan aksi, ketimbang menghindari aksi untuk tidak mendapat punsihment.

Sudah banyak contohnya kata ilmuan. Misalnya orang akan lebih mudah untuk dimotivasi berolahraga dan makan makanan sehat dengan sejumlah reward kecil berupa hadiah, daripada diingatkan tentang bahaya obesitas dan penyakit. Selain itu, masih buanyak contoh penelitian tentang persoalan ini.

Paling mudah lihat ke diri sendiri saja. Kita lebih suka diberi pujian (reward) oleh bos saat kerjaan kita baik. Kita jadi ingin terus-terusan kerja maksimal agar dipuji lagi. Sebaliknya, kita jadi bekerja makin males-malesan dan setengah hati, ketika terus-terusan diberi punishment oleh atasan. (hehe maaf curhat pengalaman pribadi)

Hal yang sama sebenarnya berlaku pada si duta masker, atau duta-duta lain termasuk Duta Sheila on 7. (sorry iki dicoret wae soale guyonane garing koyok bapack-bapack komplek)

Memberi jabatan sebagai duta sama saja dengan memberi penghargaan baru. Sekaligus justru menjadi tanggung jawab. Sebab, setelah menjadi duta, seseorang akan sadar bahwa dirinya menjadi panutan atau tolok ukur masyarakat.

Seperti pemuda di Bekasi yang bernama Nawir itu. Ia kini mengambil hikmah dari ribut-ribut soal masker dan salat itu. Kini ia jadi aktivis mengingatkan jamaah agar memakai masker sebelum memasuki area masjid. Bahkan ia membagi-bagikan secara gratis masker dan hand sanitizer.

Jika dibina baik-baik, pemuda-pemuda pengikut konspirasi elit global yang tak percaya COVID-19 bisa berubah 180 derajat, justru menjadi pelaku protokol kesehatan yang paling taat.

Jangan-jangan, Indonesia harus mulai memikirkan kembali mengapa rakyatnya sulit sekali memakai masker dan menjaga jarak. Seluruh sanksi sosial dan denda para pelanggar prokes mungkin tak cukup efektif. Justru sebaliknya, sediakan saja dana untuk mengangkat duta-duta baru. Selamat mencoba!

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Editor Picks