Mencari Wewangian di Muka Bumi: Review ‘Aroma Karsa’ Dewi Lestari 1 1036

Oleh: Polikarpus Ivan*

Tulisan ini dibuat atas subyektifitas penulis menelaah rentetan kalimat yang kaya akan aroma buku. Novel ke-12 karya Dewi Lestari, Aroma Karsa, ini berhasil membius sebagian besar pembaca dan sejawat penulis dengan keterpaduan imajinasi dan realitas. Keberhasilan Dee itu direngkuh dari proses riset selama 4 tahun. Salah satunya dengan cara membuat sebuah akun digital tribe di Facebook.

Dee memberikan pendekatan dengan mengirimkan cerbung setiap part-nya ke pembaca yang tergabung dalam akun media sosial tersebut. Komentar yang diberikan oleh netizen inilah yang menjadi salah satu alasan untuk selalu merevisi novel Aroma Karsa hingga mencapai cita-rasa yang sempurna. Pola cerita sekuel yang dihadirkan ini disatukan dalam novel cetaknya yang dirilis pada bulan Maret tahun 2018. Dee memang dikenal sebagai penulis yang inspiratif dan tabah dalam berproses. Ketabahannya mampu merealisasikan imajinasi yang liar namun tetap terasa akrab bagi para pembaca.

Ini cerita tentang tokoh unik Jati Wesi, seorang pemulung yang terampil dengan hidung tikus yang dimilikinya. Segala aroma datang menghardik hidung Jati tanpa pernah minta izin. Akibat kekuatan yang dimilikinya itu, Jati merasa berbeda dengan teman-teman pemulung yang lain di TPA Bantar Gebang. Perbedaan itu membawanya untuk memulai untaian perjalanan hidup yang besar dalam pencarian jati diri Jati Wesi.

Sensitifitas Hidung Tikus milik Jati, membuatnya mudah mengenali dan memilah macam-macam aroma. Mulai dari yang paling menakutkan seperti bangkai bayi hingga yang menyejukkan seperti parfum-parfum terpopuler yang ia produksi ulang di toko parfum Attarwalla. Syahdan, ia lantas diberi tugas oleh Raras Prayagung: menemukan bunga wangi Puspa Karsa sekaligus mencari ‘rumah’.

Dee menarasikan 2 ruang yang berbeda antara di TPA Bantar gebang dan rumah mewah milik Raras Prayagung, pemilik produk parfum Kemara. Kedua ruang ini memiliki tempo kehidupan yang berbeda jika dibandingkan dengan tayangan opera sabun yang digandrungi sebagian besar ibu rumah tangga. Tidak seperti opera sabun Indonesia yang mempertemukan mereka dengan suatu kebetulan yang dipaksakan, ruang ini berjalan berirama hingga mencapai keterpaduan ketika Jati menjadi bagian dari keluarga Raras Prayagung. Jurang kelas itu luntur dengan settingan logis yang menjadi grand design antara masing-masing karakter yang ada. Jati juga menemukan cinta kepada makhluk yang masih ‘satu jenis’ dengannya. Kepekaan mereka terhadap bau membawa romansa tersendiri yang tentu dengan tujuan akhir mencari ‘rumah’. Macam aroma yang dihadirkan Dee seakan merangsek masuk kehidupan pembaca dengan berhasil membaui tubuh kita, parfum kita atau jati diri kita. Aroma itu menyerahkan diri dalam setiap kelikir kehidupan Jati.

Penekanan spiritual diceriterakan pada bagian pencarian bunga Puspa Karsa. Dee menarasikan obsesi Raras untuk mencari bunga itu dengan melakukan segala cara, salah satunya memaksa orang terdekatnya. Menjadi seorang Presiden Direktur Kemara tidak lagi menarik bagi Raras, seolah itu hanya batu loncatan untuk memenuhi ambisinya yang lain. Ambisi pencarian Puspa Karsa untuk direproduksi dalam botol kaca diyakini sebagai denyut terakhir yang akan melanggengkan Kemara sepanjang masa. Berdasar lontar kuno milik Janirah, neneknya, dan penemuan prasasti di Planggatan, Raras yakin bahwa Puspa Karsa bukanlah sebuah legenda. Data-data lain menunjukkan bahwa Puspa Karsa terletak pada jalan pendakian tengah Gunung Lawu, yang konon katanya sebagai tempat pertama turunnya dewa-dewi di pulau Jawa. Dee menggambarkan sosok Raras yang serba ada, kaya luar biasa masih bisa terpengaruh oleh hal klenik yang digaungkan oleh nenek moyangnya. Seakan menjadi penanda bagi orang-orang kaya yang mungkin masih mengandalkan pesugihan untuk melanggengkan harta mereka. Fenomena itu masih sering dijumpai di beberapa gunung keramat di Jawa seperti Gunung Lawu atau Gunung Kawi. Di dunia modern seperti sekarang ini, masih banyak lumbung-lumbung aliran animisme dan dinamisme bagi para pengikutnya yang setia.

Setiap awal, akhir, titik, jeda memberikan ruang reflektifitas akan relevansi yang dapat ditarik dari imajinasi dan realitas novel Aroma Karsa. Kekuatan dalam membangun cerita menjadi tolak ukur Dee untuk tidak memberikan celah irasional kepada para pembaca ketika mewacanakan hal yang berbau legenda. Entah, memang bakat ini anugerah atau perlu latihan yang cukup lama. Dee telah berhasil menjadi legenda baru dalam dunia penulisan yang menyeimbangkan antara yang khayalan dan kenyataan.

*Selain sebagai mahasiswa di Perguruan Tinggi Surabaya, Poli–begitu jejaka ini biasa disapa–juga aktif dalam kajian dan produksi sinema. 

Previous ArticleNext Article

1 Comment

  1. Ini novel risetnya nggak main-main, Dee Lestari selalu ngerjakan setiap karyanya dengan penuh dedikasi. Jadi, wajar saja hasilnya bisa saya sebut luar biasa. Dee Lestari memang salah satu penulis favoritku, mungkin butuh belajar banyak dari beliau untuk bisa melahirkan karya yang menurut saya layak disebut sebagai masterpiece.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lagu “Bongkar” Iwan Fals dari Speaker Amaq Kaka 0 583

Saya mendengar lagu Iwan Fals pertama kalinya dari Amaq Kaka (paman). Melalui sepasang speaker­-nya di muka pintu, Iwan Fals bagai hadir di tengah kegiatan kami: menyiram halaman, mencari kutu, memasak nasi untuk makan malam, hingga bermain sepak takraw.

Iwan Fals di mata kami adalah orang asing, tapi lagu-lagunya seperti melekat di hidup kami. Meski tak mengenal secara langsung, kami percaya Iwan Fals punya nasib yang sama seperti kami. Setidak-tidaknya, ia telah mewakili keresahan kami saat itu.

Sebelumnya kami sering melakukan protes karena Amaq Kaka selalu saja memutar lagu-lagu yang sama setiap sore. Meski pada akhirnya kami menikmatinya juga, bahkan meresapinya, menanamkannya sebagai semacam paradigma berpikir.

Saya lupa bagaimana waktu itu situasi sosial dan politik yang menimpa kami – yang menyebabkan lagu-lagu Iwan Fals begitu membekas. Yang sedikit masih saya ingat, setiap pukul 9 pagi hingga pukul 3 sore listrik dipadamkan. Setelah pukul 3 sore listrik kembali aktif, dan dipadamkan lagi selepas salat magrib – bahkan kadang sebelum magrib. Besar dugaan saya, ini dilakukan karena adanya pemusatan energi ke aktivitas operasional kapital di kota. Kami yang hidup di dusun tak mendapat penerangan penuh sampai beberapa tahun lamanya. Adapun yang lampunya menyala hanya kantor kepala desa dan masjid.

Nah, pada saat-saat aktifnya listrik itulah kami berkesempatan menyetel lagu-lagu Iwan Fals. Oleh karena itu, kami akan protes jika Amaq Kaka tidak memanfaatkan aktifnya listrik tersebut dengan baik.

Pada umur sekarang (22), saya semakin merasakan dampak yang begitu dalam dari kebiasaan Amaq Kaka. Ia menanamkan benih-benih kritis sejak kami belum boleh dipecut karena lupa sembahyang. Saya tak tahu pada tahun-tahun itu di mana atau kapan Iwan Fals membuat lagu-lagunya, tapi rasanya lagu-lagunya – wabil khusus Bongkar – memiliki konteks yang cenderung universal hingga dapat menyentuh kami.

Kalau cinta / sudah / dibuang / jangan harap / keadilan akan datang / kesedihan / hanya / tontonan / bagi mereka / yang diperkuda jabatan.

Pelan-pelan saya menghafalkan bait pertama dari lagu ini. Saya juga tak mau terburu-buru menghafalkannya kendati kami berlomba-lomba memamerkan siapa yang paling baik daya ingatnya, di samping kewajiban menghafal tiga puluh jus ayat suci yang rutin kami setorkan di surau setiap magrib.

Benar kata Iwan Fals: Kesedihan hanya tontonan. Bayangkan, kami punya televisi, tapi tak pernah menyala. Kami menonton televisi yang hanya memantulkan bayangan kami dari layar kacanya. Entah apa jadinya nasib hiburan kami kalau radio merek International itu tak bisa hidup tanpa baterai ABC. Tidak hanya itu, kami terkadang sampai malas berangkat mengaji kalau minyak di dalam obor habis dan orangtua kami belum bisa mengisikannya.

Sabar, sabar, sabar / dan tunggu / itu  jawaban / yang / kami terima / ternyata kita harus ke jalan / robohkan setan / yang berdiri mengangkang.

Kami memasang skeptis terhadap siapa yang dimaksud Iwan Fals dengan setan yang berdiri mengangkang sehingga mereka harus di-robohkan. Kalau yang dimaksudnya itu adalah industri atau gedung-gedung besar yang mengambil lahan rakyat, atau setan adalah politikus berperangai buruk di Senayan, maka jelas kami agak kesulitan memahaminya.

Kami tak punya bayangan tentang nuansa bengis modernitas semacam itu. Terkadang matinya televisi memang ada baiknya: kami tak diterpa ribuan teks hegemonis yang bisa saja mendikte kami sehingga tak berselera lagi pada lagu Iwan Fals – mengingat produk industri hiburan yang didistribusikan melalui TV kelewat aduh.

Kami hanya tahu, bahwa “sabar, sabar, sabar dan tunggu” adalah jawaban yang diutarakan Amaq Kaka ketika kami tak sabar menunggu Bongkar berputar, dan ketika seorang kepala desa tak kunjung menepati janjinya untuk memperbaiki kondisi bangunan pasar tradisional, tapi malah mempromosikan habis-habisian sebuah pasar modern, yang entah di mana, agar kami datang ke sana.

Penindasan / serta kesewenang-wenangan / banyak lagi / teramat banyak untuk disebutkan / hoi / hentikan, hentikan / jangan diteruskan / kami muak / dengan ketidak pastian / dan / keserakahan.

Kami memang tak pernah mengalami penindasan secara langsung (baca: kekerasan fisik). Tapi mungkin kami sedikit merasa kurang mendapat keadilan dari sejumlah sektor yang saya kira itu penting, pendidikan misalkan. Menurut saya, jelas penampakan dari buruknya fasilitas belajar di sekolah, sedikitnya gaji guru sehingga membuat mereka gampang lelah, bangunan sekolah yang membuat dada sesak, kurikulum yang sepertinya bertanggung jawab atas melencengnya kebenaran sejarah, jelas adalah penindasan (baca: kekerasan struktural).

Di jalanan / kami sandarkan / cita-cita / sebab di rumah / tak ada lagi / yang bisa dipercaya / orang tua / pandanglah kami / sebagai manusia / kami bertanya / tolong kau jawab / dengan cinta

Bait terakhir ini yang menurut saya paling terbuka tafsirannya. Pertama, karena saya tak tahu siapa orang tua atau pun jalanan yang dimaksud Iwan Fals. Dalam konteks apa kedua kata kunci dalam bait ini didiskusikan. Tapi bila orang tua yang dimaksud ialah orangtua yang menjadi pengurus rumah tangga (baca: bapak/ibu), maka dapat saya pastikan bahwa itu bukanlah orangtua kami.

Orangtua kami banyak mendengar radio, yang isinya kalau bukan dagelan ya lagu-lagu. Secara tidak langsung, kebiasaan ini pula yang membuat mereka lebih pandai mendengar ketimbang bicara. Kami, bocah-bocah, diposisikan sebagai subjek yang berhak didengarkan pendapatnya, berhak difasilitasi bakatnya.

Tapi besar kemungkinan orang tua yang dimaksud Iwan Fals berada dalam konteks pergerakan, situasi ketika mahasiswa yang usulnya selalu ditolak oleh orang yang dianggap tua di parlemen. Mereka itu, atau kesemuanya yang mempunyai jabatan politis, bertanggung jawab atas nasib kami. Banyak saudara dan teman saya yang terpaksa turun ke jalanan guna sandarkan cita-cita mereka.

Jalanan bagi kami adalah ruang yang membentang di luar rumah, jauh di luar rumah. Seperti Malaysia, Arab Saudi, Korea, pokoknya luar rumah (negeri). Kami sering berpikir untuk pergi ke negara-negara itu, untuk mencari kepastian ekonomi. Demi cita-cita orangtua naik haji, misalnya.

Iwan Fals adalah sebutan bagi musisi yang lahir dalam rentang seratus tahun sekali. Tapi bukan berarti Iwan Fals adalah satu-satunya gerilyawan yang bergerak melalui jalan bebunyian. Di waktu sekarang, kita bisa mendengar muatan wacana serupa dilagukan oleh sejumlah musisi lain dengan karakter yang lebih variatif, seperti Ary Juliyant, Navicula, Krowbar, Homicide. Masih ada Iwan Fals-Iwan Fals baru yang mungkin belum terjangkau oleh telinga kita.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Pesan Moral Film Tilik Buat Repotnya Hidup Kita 0 1273

Oleh: Novirene Tania*

Apresiasi setinggi-tingginya untuk industri per-film-an yang mampu membangkitkan kembali gairah masyarakat untuk tetap anteng selama di rumah aja. Hadirnya Film Tilik berdurasi 32 menit 34 detik yang bisa disaksikan lewat Yutup, mampu membangunkan kembali netijen beserta dengan perannya: berkomentar sana-sini.

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk teman-teman yang telah mendorong saya dengan gigih untuk menonton Film Tilik. Review ini adalah bentuk apresiasi saya untuk kalian!

Sebagai pembukaan untuk kalian yang mungkin sama seperti saya – telat menonton Film Tilik – saya akan berikan sedikit overview tentang gambaran garis besar film. Film Tilik merupakan film yang mengangkat narasi tentang “gibahan” sekelompok ibu-ibu di di truk dalam perjalanan menjenguk Bu Lurah. Menampilkan perdebatan antara sosok Bu Tejo yang super nyinyir dan Yu Ning yang juga tidak mau kalah, film ini berhasil menggambarkan dengan jelas sosok yang bahkan tidak ada di dalam truk yaitu Dian yang kabarnya tengah dekat dengan putra Bu Lurah. Untuk lebih lanjutnya, saksikan sendiri ya! Gak begitu gede kok MB nya wkwk.

Oke, sekarang kita berlanjut pada pembahasan, bagaimana respons masyarakat terhadap Film Tilik?

Persis sama seperti overview saya di awal, begitu pula pembahasan yang paling banyak disorot oleh netijen: sosok Bu Tejo. Netijen pun jadi merentetkan gelar Bu Tejo pada sejumlah orang dalam hidup mereka yang memiliki karakter sama seperti tokohnya, suka mengomentari banyak hal sampe ke ubun-ubun dalam-dalam. Sorotan netijen yang begitu luar biasa bahkan membuat Siti Fauziah Saekhoni sebagai pemeran asli Bu Tejo sempat menangis. Begitu kurang lebih pengakuannya di beberapa berita.

Film Tilik adalah film yang biasa-biasa saja. Ini menjadi respons kedua netijen yang pemberitaannya juga cukup banyak di media. Memang benar sih. Secara technical, masih lebih banyak film di luar sana yang bisa membuat penontonnya berdecak kagum. Mulai dari alasan efek yang keren, animasi yang warbyasah, atau adegan yang variatif dan memicu adrenalin. Berbeda dengan Film Tilik, kalau Bu Tejo dan gerombolannya tidak se-fasih itu untuk membawakan dialog yang hidup dan menguras emosi, mungkin Film Tilik tidak se-booming sekarang ini.

Memang bukan orang Indonesia namanya kalau tidak banyak perspektif. Ada juga segelintir orang yang menyoroti Film Tilik dari sisi kajian feminisme dan bahkan tentang “kebodohan” orang desa. Dan masih banyak lagi perspektif lain yang mungkin belum sempat tertangkap mata saya saat scroll pemberitaan tentang Film Tilik.

Nah, melihat berbagai respons di atas, apa yang sejatinya kita tangkap dari Film Tilik? Betulkah film itu hanya sekadar menyajikan bahwa kemenangan justru dirasakan oleh penyebar gosip tingkat ulung? Atau ada banyak pesan moral yang ternyata bisa diambil?

Mempertontonkan hampir keseluruhan adegan berupa ibu-ibu yang berada dalam Gotrek, Film Tilik nyatanya menjadi representasi atas hidup kita yang sama repotnya. Itu pesan pertama. Ibaratnya Gotrek itu adalah lingkungan masyarakat dan ibu-ibu di dalamnya adalah keanekaragaman orang-orang yang hidup di sekitar kita. Mulai dari yang selalu berkomentar seperti Bu Tejo, atau orang yang kontra dengan nyinyinyers seperti Yu Ning, dan tidak lupa juga ibu-ibu yang memilih pasif, “Wong hidupku sendiri dah repot. Diem aja wes.” Dan kita pribadi bisa saja memainkan peran salah satunya, dua diantaranya, atau bisa jadi ketiganya adalah pilihan opsi peran bagi kita tergantung pada siapa lawan bicara kita.

Kedua, belajar jadi “pendamai” dalam lingkungan yang memanas. Penggosip ulung seperti Bu Tejo juga perlu antek-antek. Jika kita bisa menahan diri untuk tidak meruncingkan gosip yang belum tentu kebenarannya, mereka juga pasti diam. Hal ini bisa ditangkap langsung dari seluruh scene bahwa omongan Bu Tejo semakin merepet bak kereta api tidak pernah kehabisan bahan bakar karena selalu ada saja yang menyahuti.

Ketiga, menempatkan posisi yang seimbang dalam pergaulan. Jangan terlalu condong kiri ataupun condong kanan. Saya yakin kita lumrah menemui orang-orang seperti ibu-ibu dalam Film Tilik. Gosip yang belum menjadi fakta gak bisa kita hindari. Bila sudah begitu kondisinya, sebaiknya jangan terlalu banyak angkat bicara jika itu malah memperkeruh suasana. Jangankan yang belum pasti kebenarannya, sesuatu yang kita tau itu benar pun – yang jika digelontorkan malah membuat percekcokan, apalagi sampai membawa-bawa nama baik orang lain –sebaiknya jangan dibahas. Ibu-ibu yang memilih diam selama berada di truk jadi teladan untuk kita.

Pesan terakhir, harus selalu siap dengan kemungkinan terburuk. Jika Bu Tejo dijadikan pusat perhatian seperti tidak ada nilai lebihnya, kali ini saya mau memberitahu bahwa Bu Tejo termasuk orang yang adaptif. Ketika ternyata usaha mereka untuk menjenguk Bu Lurah gagal, Bu Tejo dengan pemikiran visionernya mengajak Gotrek untuk mengantar mereka ke Pasar Beringharjo. Hal ini adalah sesuatu yang baik jika dilihat dari konteks efisiensi daya dan usaha ketika melakukan perjalanan. Mungkin ini satu pelajaran yang bisa kita ambil dari Bu Tejo: dadi wong ki sing solutip!

 

*)Mahasiswi rantau Yogyakarta asal Bekasi. Baru-baru ini hobi memperhatikan hal-hal kecil sejak pandemi. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @novirenetania.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks