Met Gala 2018 dan Kegilaan-kegilaannya 0 1944

Met Gala adalah salah satu acara tahunan yang paling dinanti-nantikan insan fesyen dunia. Bagaimana tidak? Acara yang yang sudah 70 tahun terakhir diselenggarakan ini bertabur bintang-bintang Hollywood yang mengenakan kostum super wow rancangan desainer kelas dunia.

Acara yang diinisiasi oleh Eleanor Lambert ini sebenarnya merupakan acara penggalangan dana untuk The Costume Institute dan pameran kostum di Metropolitan Museum of Art (Met), New York. Namun, tidak ada yang tahu pasti – selain tamu undangan pastinya – bagaimana suasana acara Met Gala sendiri dikarenakan acara ini tertutup bagi media dan para undangan juga tidak diperbolehkan mengunggah foto maupun video seputar acara Met Gala untuk menjaga ekslusifitasnya.

Di tahun 2018, Met Gala diselenggarakan pada Seni n (7/5) di New York Metropolitan Museum of Art. Met Gala kali ini merupakan pembuka pameran terbesar yang pernah dibuat The Costume Institute. Mengangkat tema Heavenly Bodies: Fashion and The Catholic Imagination, ekshibisi ini begitu menarik karena bekerjasama dengan keuskupan Vatikan untuk memamerkan benda-benda gereja Vatikan. Tak hanya itu, para desainer kenamaan seperti Jeanne Lanvin, Karl Lagerfeld, John Galliano, Jean Paul Gaultier, dan nama-nama besar lainnya turut serta memamerkan rancangan mereka yang terinspirasi dari simbol-simbol Katolik.

Penulis menilai Met Gala merupakan salah satu acara yang paling gila, terutama Met Gala 2018. Bagaimana tidak? Pertama, harga tiket acara ini adalah USD 30.000/tamu atau Rp 405.000.000 (dengan asumsi kurs Rp 13.500/USD). Itu untuk teko thok, gurung nek mesen mejo. Apabila ingin memesan satu meja, maka tamu tersebut harus membayar USD 275.000 hingga USD 500.000. Kalau dirupiahkan, sekitar Rp 3.712.500.000 hingga Rp 6.750.000.000—jumlah yang cukup untuk beli pisang naget dan ayam geprek seumur hidup!

Apabila Pembaca merasa punya uang segitu, jangan kepedean dulu bisa datang ke acara ini! Yang diundang hanyalah selebritis top Hollywood, donatur acara, para desainer tersohor dunia, super model kenamaan, dan perwakilan label busana atau aksesoris mewah yang bersedia menyumbang dana. Tak hanya itu, semua tamu undangan harus disetujui oleh Nyah Anna Wintour, pemimpin redaksi majalah Vogue dan juga ketua acara Met Gala. Kalau Pembaca masih seorang mahasiswa yang tinggal di kos-kosan yang hanya bisa ngadem dan numpang wifi di perpus kampus (gratisan), barangkali bisa tidur dulu untuk datang ke acara ini dalam mimpi.

Beauty is pain menjadi selogan bagi para undangan, terutama tamu undangan wanita. Lihat saja Blake Lively  dengan gaun Versace-nya yang super panjang , rawan keselimpet, nyeret-nyeret, dan mau nggak mau rela “mengepel” lantai museum bisa dibilang jadi cleaning service dadakan. Penulis juga sangat mengapresiasi kekuatan dan kekekaran punggung Katy Perry yang memikul sayap dengan ukuran buto. Belum lagi Rihanna yang mampu tetap tegak berdiri saat mengenakan dress, cape, dan topi ala paus yang penuh dengan borci-borci (kosakata ala emak-emak Pasar Atum untuk menyebut payet) rancangan Maison Margiela yang kalau ditotal  barangkali bisa sampai belasan kilogram. Tak kalah hebat, Sarah Jessica Parker mampu menahan beban dari pajangan rumah yang dijadikan bando oleh Dolce and Gabbana itu demi mengalihkan fokus agar tidak terpaku pada wajahnya yang botox-nya tidak merata itu. Penulis saja sudah ngomel-ngomel karena bahu suka salah urat kalau bawa laptop di tas. Luar biasa memang kekuatan para wanita di Met Gala 2018!

Kegilaan selanjutnya ialah keberanian Andrew Bolton, kurator The Costume Institute dan sesosok pencetus tema-tema Met Gala dalam beberapa tahun terakhir, dalam menentukan tema Met Gala tahun ini, yaitu Heavenly Bodies: Fashion and Catholic Imagination. Presiden Kebudayaan Vatikan, Gianfranco Ravasi sendiri bersyukur atas diangkatnya tema ini, sebab artinya simbol Katolik masih bisa menyentuh orang lain.

Tapi, akibat mencetuskan ide kontroversial ini, ia harus bolak-balik New York-Vatikan sebanyak 10 kali dalam satu tahun terakhir! Dikutip dari Tirto, Bolton menjalin relasi dengan lima orang pastur pejabat gereja dan menteri kebudayaan Vatikan untuk bisa meminjam busana pastur, mahkota yang dikenakan Paus, dan benda-benda gereja lainnya. Total ada lebih dari 40 benda yang biasa tersimpan di dalam tempat penyimpanan perlengkapan ekaristi (sakristi) di sebuah gereja di Vatikan. Berani buat ide gila, harus berani kerja gila!

Tak hanya membuat Bolton bolak-balik New York-Vatikan sampai mbulak, tema yang menyentuh ranah keagamaan ini juga menimbulkan kontroversi. Penulis paparkan terakhir karena merupakan klimaks dari kegilaan acara ini. Ide suangar nun gendeng ini  rupanya tidak disambut baik oleh beberapa selebritis, dan bahkan ingin memboikot Met Gala 2018. Dikutip dari Vogue, tema ini jadi kontroversi karena fesyen dinilai tak pantas disandingkan dengan hal-hal yang dianggap sakral atau suci. Tapi, menurut Bolton hal itu lumrah saja, “Ini menegaskan kesetiaan pada agama, eksistensi, dan perbedaan agama,” tukasnya.

Yang jelas, apabila ingin mengangkat tema keagamaan, harusnya pihak Met Gala tetap menjaga kesucian agama itu sendiri. Tak pantas rasanya apabila mengenakan pakaian bertema agamis, tapi dibuat seperti pakaian yang kekurangan kain dan bikin orang salah fokus. Entah bagaimana jadinya kalau acara semacam ini diselenggarakan di Indonesia. Gurung diselenggarakno wes dicekal disek. Hehehe….

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alasan Mengapa Penampilan Kim Kardashian di MET Gala 2021 Patut Diacungi Jempol 0 326

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

 

Sempat batal diselenggarakan setahun yang lalu karena pandemi, akhirnya acara fesyen paling eksklusif, MET Gala, kembali hadir tahun ini. Diselenggarakan pada 13 September di Metropolitan Museum of Arts, New York, MET Gala 2021 mengusung tema “American Independence“, sehingga tamu undangan bisa bebas berdandan apa saja pokoknya sesuai tema.

Seperti biasa, MET Gala selalu mengundang perhatian karena dihadiri oleh bintang-bintang internasional dan menjadi ajang bagi desainer papan atas untuk  pamer kreativitas. Bahkan saking hebohnya, sampai-sampai muncul kekhawatiran bahwa MET Gala akan overshade acara New York Fashion Week yang juga digelar berdekatan dengan acara yang diketuai Anna Wintour tersebut.

Salah satu selebritis yang mengundang perhatian publik adalah Kim Kardashian. Biasa tampil seksi, kini ia secara ekstrem berpenampilan tertutup. Literally.

Putri dari Kris Jenner ini mengenakan pakaian serba hitam berbahan kaus dari Balenciaga hingga menutupi semua kulitnya. Hanya rambut super panjangnya yang terlihat.

Penampilan nyeleneh Kim ini sontak menjadi bahan lelucon bagi publik. Banyak yang menyamakannya dengan Dementor yang ada di film Harry Potter. Selain itu, banyak orang juga membuat Kim Kardashian menjadi bahan meme di media sosial. Kasihan!

Meski banyak diejek, saya menilai penampilan Kim Kardashian patut diacungi jempol. Bahkan Bryan Boy, salah satu fashion influencer ternama juga menilai demikian. Bahkan, Diet Prada juga memasukkan kakak Kendall Jenner ini dalam dereran Best Dressed.

Jadi sebelum menghina Kim Kardashian, coba baca dulu penjelasan saya kenapa penampilan Kim yang bikin kita ikut selempeken ini keren abis.

  1. Menarik Perhatian

Tidak ada aturan kalau kamu harus tampil cantik dan stylish saat menghadiri MET Gala. Berbeda dari acara red carpet lainnya, para tamu diharapkan untuk tampil seunik mungkin, asalkan sesuai tema. Semakin nyentrik, semakin menarik perhatian, semakin jadi bahan perbincangan, semakin bagus!

Justru penampilan aneh macam Kim Kardashian inilah yang membuat kita selalu menunggu MET Gala setiap tahunnya. Publik menjadi penasaran dan menantikan outfit-outfit cetar nan mentereng dari para bintang yang tidak dapat ditemui di acara lain. Dengan menjadikan Kim dan Balenciaga sebagai buah bibir di media sosial, saya menilai kostum Dementor milik Kim MET Gala worthy banget!

 

  1. Sesuai Tema

Mengenakan gaun menyerupai T-shirt dengan tambahan “ekor”, Kim jelas mengikuti tema yang ada. T-shirt merupakan item fesyen yang ditemukan dan dipopulerkan oleh orang Amerika, sehingga bisa dibilang penampilan bintang “Keeping Up With The Kardashians” ini sudah Amerika banget!

Selain “Amerika” banget karena sejarahnya, outfit dari Kim juga sangat merefleksikan kebebasan.

T-Shirt alias kaus oblong pada awalnya merupakan pakaian dalam tentara Inggris dan Amerika pada abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Item fesyen ini mulai populer setelah dikenakan aktor legendaris Marlon Brando pada tahun 1947 ketika ia memerankan tokoh Stanley Kowalsky dalam pentas broadwayA Street Named Desire” di Amerika Serikat.  Sejak itu, T-shirt booming di kalangan anak muda. Meski dianggap tidak sopan bagi orang-orang tua, para pemuda Amerika Serikat menjadikannya simbol kebebasan dan juga bagian dari identitas mereka.

Baik Kim maupun Balenciaga secara kreatif menginterpretasi tema bahwa American Independence tidak melulu terinspirasi dari bendera dan juga patung Liberty saja.

 

  1. Contoh Baik Taat Prokes

Perlu diingat bahwa event tahunan ini diselanggarakan di tengah-tengah pandemi Covid-19. Kim Kardashian patut dipuji dengan mengenakan outfit yang sesuai dengan prokes: pakai masker, kurangi kontak langsung dengan kulit, dan pembatasan sosial. Sayangnya Kim tinggal di Amerika, andai saja ia tinggal di Indonesia, pasti sudah segera dilantik jadi Duta Prokes Cegah Covid-19 hehe…

Kim tahu benar bahwa masker tidak terlalu ampuh melindunginya dari paparan virus. Masker masih saja menyisakan celah, terutama di area hidung. Untuk itu, Kim menutupi keseluruhan wajahnya dengan masker berbahan mirip stocking berwarna hitam. Alhasil, dia tidak perlu repot-repot mengenakan masker dan face shield.

Tak hanya itu, Kim juga memikirkan kehigienisan dengan menutup seluruh kulit di area tangan dan kaki. Sehingga, saat tamu lain bersalaman atau tidak sengaja menyentuh Kim, mereka tidak bersentuhan secara langsung. Penularan Covid-19 pun dapat diminimalisasi.

Yang terakhir, outfit Kim ini menjaganya dan para tamu lainnya untuk melakukan pembatasan sosial. Outfit serba tertutup nan horor ini membuat orang jadi malas rumpik bersama Kim, sehingga orang akan secara otomatis menjaga jarak dengannya. Apalagi, acara ini diselenggarakan pada malam hari, alhasil banyak orang yang jangankan dekat-dekat, melihatnya saja tidak bisa. Menyatu dengan gelapnya malam.

 

  1. Inspirasi Tampil Cetar dengan Budget Seadanya

Last but not least, outfit Kim dapat menjadi inspirasi bagi Pembaca yang ingin tampil mentereng di pesta dengan budget minimalis. Balenciaga tidak perlu bermodal banyak untuk menjadikan Kim Kardashian sebagai pusat perhatian di MET Gala. Cukup dua bahan: kaus dan stocking!

Nah, Pembaca bisa tuh DIY (do it yourself) kaus yang ada. Tinggal beli kain kaus untuk ekor tambahan, lalu dibawa ke penjahit terdekat. Akan lebih bagus kalau Pembaca bisa menjahit sendiri.

Selain bahannya cukup bersahabat di kantong, Pembaca juga tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk menyewa jasa MUA (make-up artist). Banyak perempuan yang rela membayar jutaan rupiah demi menjadi pusat perhatian di pesta. Tetapi, dengan ide outfit dari Kim Kardashian ini, Pembaca tidak usah repot-repot merogoh kocek mendalam, bukan?

Semua Akan Korea Pada Waktunya, Tapi Gak Gini Juga 0 249

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

 

“Semua akan Korea pada waktunya”, begitulah kalimat yang dapat mewakili kondisi masyarakat negara +62.

Sempat menghina K-pop-ers dengan sebutan alay karena dianggap mengidolakan artis-artis negeri ginseng, kini wajah mulus tak bercela para artis Korea ramai kita jumpai di iklan-iklan merek lokal. Bisa dibilang para artis Korea tersebut dijadikan koentji dalam marketing produk dan jasa.

Kapan hari, internet diguncang berita aktris Felicya Angelista yang diwujudkan ngidamnya oleh sang suami untuk video call bersama pemeran Mas Mafia Vincenzo, Song Joong Ki (baca lagi: Wajah Ganteng Song Joong Ki dan Tabiat Penonton Drama Korea).

Usai viral karena dianggap fan yang beruntung, muncullah berita aktor “Space Sweepers” tersebut didapuk sebagai brand ambassador skinker milik Felicya, Scarlett Whitening. Hancik, cuma marketing ternyata. Hampir bersamaan, muncul lagi berita yang menyebutkan bahwa boy group TREASURE akan menjadi brand ambassador bimbingan belajar online “penguasa” stasiun televisi kita, Ruangguru.

Pemilihan artis Korea sebagai brand ambassador merek lokal bukanlah hal baru.  Tahun 2016 silam, aktor “The Heirs” Lee Min Ho didapuk jadi brand ambassador Luwak White Koffie. Kemudian, cara ini diikuti oleh Mie Sedap yang menjadikan Siwon “Super Junior” sebagai brand ambassador-nya untuk mempromosikan mie rasa ayam pedas korea. Lalu, disusul Tokopedia yang membuat kita ter-kamcagiya (kaget) dengan menggandeng boy group terpopuler segalaksi bima sakti dalam promosinya.

Memang menggandeng artis Korea bisa menjadi jalan ninja untuk mempopulerkan merek produk atau jasa. Merek tersebut akan seketika menjadi buah bibir para fans artis Korea, baik membicarakan artis idola mereka atau sangking tajir melintirnya perusahaan tersebut.

Buktinya, permen Kopiko selalu menjadi buah bibir dan viral setiap permen rasa kopi tersebut muncul di adegan-adegan drama Vincenzo dan Mine. Benar-benar tidak rugi setelah menggelontorkan miliyaran rupiah!

Selain menjadi populer, produk atau jasa dijamin akan laris manis setelah memilih artis Korea sebagai bintang iklan mereka. Itu karena kesetiaan para fans artis Korea untuk mendukung artis idola mereka yang tidak dapat diragukan lagi.

Masih ingat kan dengan kasus antre menu BTS Meal dari McDonald’s? Jangankan dijadikan bintang iklan, lha wong barang yang “nampil” di siaran langsung artis Korea saja bisa ludes dibeli para fans.

Mungkin Korean celebrity endorsement bisa menjadi marketing tool yang sangat efektif, tapi mbok ya artisnya disesuaikan dengan mereknya. Misalnya, pemilihan boy group TREASURE sebagai brand ambassador Ruangguru. Jujurly, menurut saya sangat aneh karena boy group ini tidak memiliki sangkut paut dengan dunia pendidikan.

Masih banyak artis yang terkenal memiliki prestasi akademik semasa sekolah seperti Cha Eun Woo “ASTRO” atau Giselle “aespa” yang lebih bisa merepresentasikan merek tersebut.

Dan anehnya lagi, produk dan jasa yang memakai artis Korea tersebut tidak merambah pasar Koerea Selatan. Saya bisa memaklumi Kopiko yang mengeluarkan uang miliyaran rupiah untuk menjadi sponsor beberapa drama korea, karena mereka memang memasarkan kopi tersebut ke sana.

Tapi, bagaimana dengan Scarlett Whitening? Apakah Anda yakin wajah putih mulus Song Joong Ki didapat dari memakai produk tersebut, lha wong produknya aja tidak ada di sana.

Meski menjadi marketing tool yang efektif, saya berharap Korean celebrity endorsement ini tidak dijadikan tren yang “wajib” diikuti. Masih banyak, kok artis Indonesia yang mampu merepresentasikan sebuah merek, apalagi untuk menjadikan iklan menjadi viral.

Contohnya  pemilihan komika Babe Cabita sebagai brand ambassador menjadikan iklan MS Glow menjadi viral. Meski banyak yang sewot karena Babe Cabita kurang ganteng, tapi menurut iklan tersebut sangat realistis dan relatable. Karena, wajah Babe Cabita yang lebih glowing seusai menggunakan produk MS Glow jauh lebih bisa dipercaya dari pada wajah mulus Song Joongki usai menggunakan skinker lokal, hehe.

 

 

Editor Picks