Beberapa Masalah Super Penting dalam Hidup Kita 1 991

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Kurang lebih sebulan lalu, kita ditimpa musibah berupa ledakan bom yang terjadi di Surabaya. Berjenis-jenis analisis termuntahkan di atasnya. Mulai dari kecurigaan terhadap agenda politik sampai saling menyalahkan antar kelompok beragama. Sadarkah kita, bahwa diskusi tersebut menjauhkan substansi dari kandungan peristiwa yang sebenar-benarnya adalah masalah besar tentang kemanusiaan. Bukan sekadar agenda politik atau kesempatan menampakkan citra melalui modus belasungkawa.

Tidak lama setelah itu, kita dihebohkan kembali karena seorang penyanyi dangdut perempuan mendapat perlakuan tidak sopan dari seorang pemain sepak bola klub nasional. Menurut berita yang beredar, atlet tersebut meminta doi agar datang ke tempat peristirahatannya dengan pakaian serba terbuka. Tidak terima dengan permintaan itu karena merasa direndahkan, si penyanyi dangdut pun membagikan pengalamannya di media sosial sebagai bentuk pembelajaran bagi siapapun agar kelak lebih bersikap sopan pada orang yang baru dikenalnya.

Tidak juga berhenti sampai di situ, masalah ini menimbulkan pro-kontra. Ada yang mendukung reaksi penyanyi dangdut tersebut sebagai bentuk perlawanan kaum perempuan, ada yang tidak menerima karena dianggap terlalu berlebihan dan memang sewajarnya penyanyi dangdut mendapat perlakuan begitu.

Selanjutnya, kita berdebat tentang ‘aplikasi goblok’ berisi video-video aneh dari netijen. Banyak yang mengatakan bahwa generasi yang menghidupi aplikasi ini sudah kehilangan akal mencari hiburan, tidak seperti generasi lama yang membuat tawa tidak perlu pakai aplikasi atau kuota internet. Apalagi mengorbankan akal sehat. Tolong, semangat perdebatan antara kedua kelompok ini tidak bisa dipertemukan. Selera dan kebahagiaan sama-sama tak terukur.

Pernahkah kelompok yang membenci ‘aplikasi goblok’ itu berpikir, bahwa, para anak-anak kecil, dan remaja, yang membuat video kreatif di dalamnya sedang berusaha mengasah kemampuan mereka, sedang berusaha berkarya dalam bidang yang mereka sukai. Video-video mereka nyaris selalu mengundang tawa, dan proses produksinya membutuhkan niat serta kreatifitas tinggi. Hanya karena perbedaan selera humor, kalian merasa mampu menguasai apa-apa yang benar? Apa-apa yang lucu dan apa-apa yang menyedihkan? Tahan sebentar.

Terakhir. Belum lama ini, ya, belum lama ini, hilangnya sebuah foto di Instagram menandingi diskusi hilangnya aktivis ‘98 maupun para korban ‘65. Adalah bapak reformasi kita, Amien Rais, yang tetiba mendadak girly setelah mengetahui bahwa unggahan fotonya yang memerlihatkan kebersamaan beliau dengan sahabat Prabowo dan Rizieq hilang tanpa musabab. Sempat ada rencana jika peristiwa penghilangan paksa oleh Instagram ini akan didudukkan ke Mahkamah Internasional. Luar biasa.

Kita patut menyanjung daya kritis yang dimiliki oleh bapak Amien dan kawan-kawannya. Kecurigaan beliau pada penguasa tidak butuh diuji lagi. Sudah terbukti, beliau berhasil menjadi bagian dari sejarah tumbangnya Orde Baru. Dan hingga saat ini, beliau terus memerjuangkan cita-cita reformasi yang telah dititipkan padanya duapuluh tahun lalu. Sekali lagi, kita tetap perlu memuji konsistensinya dalam hal mencurigai kekuasaan, betapapun ganjilnya itu. Suatu kemampuan yang sukar ditemukan pada waktu sekarang.

Kita sudah kenyang dengan isu-isu trivia, bahkan untuk lebaran kesekian kalinya, semestinya kita sudah paham harus berbuat bagaimana, apalagi menjelang pilpres yang mengakibatkan arus propaganda semakin meruncing. Kita juga sudah bosan dengan isu-isu berbalut agama. Sudah saatnya kita mengistirahatkan semuanya. Rebahkan sebentar sikap politik kita, tidak peduli golongan kecebong atau golongan kampret. Pokoknya semua harus menikmati ketupat dengan tentram.

Antara seluruh peristiwa yang mengurai di sekitar kita, manakah yang paling berpengaruh terhadap cara berpikir kita? Adakah peristiwa yang menentukan nasib baik dan buruk kita kedepannya? Atau sebenarnya kita sudah tidak mampu membedakan, mana peristiwa yang memang perlu disikapi dengan serius dan mana peristiwa tak penting yang hanya perlu direspon sekadarnya saja? Atau kita sudah terbiasa berdebat karena kondisi-kondisi di atas terus menghantam kesabaran kita untuk bersuara, sehingga secara naluriah saja setiap munculnya fenomena, kita langsung saja menempatkan diri sebagai kelompok Pro/Kontra? Mbohlah.

Previous ArticleNext Article

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengulang Pesan Boedi Oetomo untuk Gak Gampang Insekyur dengan Perbedaan 0 85

Oleh : Novirene Tania*

 

Tepat sudah 113 tahun kita terus mengulang momentum perayaan yang kita sebut “Hari Kebangkitan Nasional”. Buat kalian yang mungkin lupa mengapa hari kemarin penting, yuk mari merapat – kita ulang kembali ceramah guru sejarah kita dari SD sampai SMA!

Hari Kebangkitan Nasional menjadi salah satu hari penting buat bangsa ini, karena di sanalah awal mula perjuangan menghilangkan kubu. Di bawah inisiatif sekelompok pemuda STOVIA – mahasiswa kedokteran yang punya rasa peduli besar bagi sejarah nasional, semua perbedaan yang ada dihimpun dalam satu kesatuan.

Tanpa memandang perbedaan, tidak lagi peduli kamu dan aku darimana dan siapa kita. Jelas ini pesan yang perlu kembali digaungkan, saat dewasa ini isu perbedaan masih hangat jadi pemicu konflik antargolongan.

Gak hanya itu, kalo dipikir-pikir, 20 Mei juga membawa pesan yang tidak kalah penting: jangan gampang insekyur sama perbedaan.

Buat kita yang hidup pasca kemerdekaan dan terbiasa dengar kata “persatuan”, tentu bukan jadi barang asing. Sangat beda kondisinya saat Boedi Oetomo menggagas persatuan di tengah kelompok antarsuku masih dominan membawa semangat perjuangan masing-masing.

Andai saja saat itu dokumen sejarah bisa dengan detail menjelaskan berapa kali Boedi Oetomo rapat dan diskusi sampai sepakat bersatu di bawah bendera “persatuan nasional“, gak kebayang notulennya setebal apa.

Belum lagi dengan drama setuju tidak setuju yang pasti menimbulkan perdebatan alot. Ini tentu jelas beda dengan forum keluarga besar yang sekadar membahas liburan mau ke mana karena kemanapun opsinya asal ada waktu dan uang ya gas wae.

Kondisi ini bertolakbelakang dengan topik insekyur yang lagi rame banget dibahas. Lihat kiri kanan beda tujuan, beda strategi, bahkan beda hasil, langsung insekyur. Tambah insekyur lagi kalau merasa berjuangnya sama-sama, tapi hasilnya kok beda.

Bahkan tragisnya, jangankan berembug soal persatuan seperti Boedi Oetomo, kita-kita yang hobinya insekyur biasanya otomatis menjauhi lingkaran pertemanan. Peer pressure, istilahnya.

Daripada terus terbebani dengan kemajuan dia, mungkin baiknya memang buat circle sendiri aja,” ini jadi opsi terakhir para makhluk yang terjangkit insekyur.

Coba deh perhatikan dengan seksama, betulkah kita jadi tampak tidak terbiasa dengan perbedaan? Padahal kita bilangnya percaya banget kalo perbedaan itu indah pol no debat membuat kita kaya dan semakin kuat.

Semoga tulisan ini bisa jadi selingan refleksi kita selain posting ucapan selamat hari kebangkitan nasional dari organisasi kita masing-masing, mumpung momennya tepat.

 

*) Mahasiswi rantau Yogyakarta asal Bekasi. Baru-baru ini hobi memperhatikan hal-hal kecil sejak pandemi. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @novirenetania.

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi 0 115

Apakah hanya saya saja di sini yang sudah sulit percaya ulasan influencer Indonesia? Sudah bukan sekali dua kali saya kemakan omongan influencer Indonesia. Sumpah jujur, guys, beneran gak bohong, aku udah kapok cari rekomendasi dari influencer negeri +62.

Entah kenapa influencer Indonesia suka melebih-lebihkan fakta kalau mengulas suatu produk. Apa yang dikatakan mereka rupanya tak sesuai fakta dan kenyataan yang ada.

Belakangan ini saya tertarik mempelajari parfum-parfuman di internet. Lalu, saya mencari ulasan tentang eau de parfum yang agak terjangkau lewat video seorang youtuber. Bisa dibilang youtuber ini masih micro influencer. Menurut jurnal yang saya baca, micro influencer merupakan opinion leader yang baik untuk mempengaruhi keputusan pembelian. Apalagi, dalam mengulas produk tersebut, youtuber ini tidak dibayar, melainkan membeli dengan uangnya sendiri. Jadi, saya rasa, lambenya masih kredibel lah.

Saat ia mengulas sebuah parfum, tertariklah saya untuk membeli parfum tersebut. Youtuber tersebut dapat mendeskripsikan aroma dari notes parfum tersebut dengan cukup baik dan meyakinkan.

“Hmm yang ini ada vanilla-vanillanya. Lama-lama wanginya enak, soft, elegant gitu, katanya sambil mencium pergelangan tangannya yang sudah disemprot parfum.

Sebagai pecinta vanilla, gourmand, dan oriental notes, saya tertarik untuk membeli parfum tersebut seketika. Apalagi katanya wangi vanillanya kuat. Tanpa pikir panjang akhirnya saya membeli parfum yang katanya bau vanilla banget itu.

Setelah saya beli dan semprot ke tangan saya, saya endus-endus baunya, hmm…. Ini kan bau Adi Jasa (rumah duka terbesar di Surabaya). Dari top notes hingga base notes-nya membentuk aroma bunga sedap malam yang mulai kecoklatan alias sudah tidak segar. Alhasil, bau badan saya mirip karangan bunga ucapan duka cita yang sudah tiga hari bertengger di rumah duka. Bahkan meski sudah tersisa base notes, masih tidak tercium aroma vanilla sama sekali.

Ini bukan yang pertama. Sebelumnya ada youtuber yang mengulas eau de parfum lokal dengan berkata, “sungguan ini enak banget, wanginya mirip permen tapi yang mewah gitu, guys. Kalian pasti suka.” Setelah saya cium, baunya sangat identik dengan aroma permen Alpenlibe rasa susu dan stroberi. Ya sudah, mungkin Mbak Youtuber tersebut merasa permen yang ada di Indomaret ini sangat mewah.

Selanjutnya, saya pernah membeli masker wajah karena kena “racun” selebgram. Saya tertarik setelah melihat wajahnya jadi lebih cerah dan bersih.

Tuh, lihat muka aku jadi bersih banget, OMG!” Katanya sambil mendekatkan wajahnya ke kamera.

Setelah saya coba, memang wajah saya langsung seputih Song Hye Kyo. Namun, bukan karena sel-sel kulit mati yang terangkat, melainkan sisa-sisa masker clay tersebut tidak bisa hilang dari muka saya meski sudah dibilas berkali-kali.

Tapi setidaknya, saya masih mengapresiasi influencer yang menjerumuskan saya tadi. Setidaknya, ia bisa mendeskripsikan barang tersebut dengan “baik”.

Lain halnya dengan influencer G yang mendeskripsikan parfum seperti ini “kalau yang ini baunya kayak bau cewek-cewek kaya yang baru keluar dari toko baju mewah, ngerti kan, ya, lo maksud gue?” Ya gimana kita bisa ngerti kalau Anda menjelaskan seperti ini, Maemunah?!

Dari sini saya menarik kesimpulan bahwa banyak dari influencer Indonesia yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup sebagai influencer dalam bidang tersebut. Padahal dalam kelas public speaking, mempresentasikan topik di luar kemampuan kita adalah BIG NO. Akibatnya ya begini ini, jadi misleading dan menyesatkan audiens.

Selain kesal dengan ulasan yang tak sesuai fakta, saya juga heran kenapa gaya mengulas para influencer ini sama. Dengan mata mendelik, nada naik, dan penekanan di semua kata, seakan berusaha keras membuat audiens tertarik. Ditambah template, “ih beneran, guys ini enak banget,” “gak bohong kalian harus coba,” “sumpah gak bohong, kalian pasti suka“, dan semacamnya.

Joe Navarro, seorang ahli body language asal America Serikat mengatakan bahwa orang yang tidak jujur akan berusaha “keras” untuk membuat Anda percaya. Usaha seperti apa? Bisa dalam bentuk ekspresi yang berlebihan, mengulang kata, dan menambahkan bumbu penyedap pada kalimat.

Contohnya influencer kuliner yang bilang enak aja harus pake “sumpah sumpah, enak banget gak bohong, serius gue mau mati,” sambil melotot dan dengan penekatan di setiap huruf. Harusnya dijelaskan yang bikin enak apa, rasanya seperti apa, bumbunya apa saja. Kalau memang enak beneran, masa tidak bisa mendeskripsikan? Apalagi sudah menyandang title sebagai influencer yang harusnya punya pengetahuan lebih tentang kuliner dari orang awam.

Mungkin secuil ilmu dari Navarro ini bisa jadi guideline kita untuk memilah mana ulasan yang valid dan tidak dengan melihat cara influencer tersebut berbicara.

Selain itu, sebisa mungkin jangan hanya mengandalkan satu influencer, apalagi kalau influencer tersebut bekerja sama dalam paid partnership, endorsement, apalagi kalau sudah didapuk jadi brand ambassador. Biasanya ulasan sudah tidak objektif lagi.

Carilah video ulasan sebanyak-banyaknya dari influencer berbeda! Kalau bisa, influencer yang memang memiliki pengetahuan mumpuni dalam bidang tersebut.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks