Beberapa Masalah Super Penting dalam Hidup Kita 1 537

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Kurang lebih sebulan lalu, kita ditimpa musibah berupa ledakan bom yang terjadi di Surabaya. Berjenis-jenis analisis termuntahkan di atasnya. Mulai dari kecurigaan terhadap agenda politik sampai saling menyalahkan antar kelompok beragama. Sadarkah kita, bahwa diskusi tersebut menjauhkan substansi dari kandungan peristiwa yang sebenar-benarnya adalah masalah besar tentang kemanusiaan. Bukan sekadar agenda politik atau kesempatan menampakkan citra melalui modus belasungkawa.

Tidak lama setelah itu, kita dihebohkan kembali karena seorang penyanyi dangdut perempuan mendapat perlakuan tidak sopan dari seorang pemain sepak bola klub nasional. Menurut berita yang beredar, atlet tersebut meminta doi agar datang ke tempat peristirahatannya dengan pakaian serba terbuka. Tidak terima dengan permintaan itu karena merasa direndahkan, si penyanyi dangdut pun membagikan pengalamannya di media sosial sebagai bentuk pembelajaran bagi siapapun agar kelak lebih bersikap sopan pada orang yang baru dikenalnya.

Tidak juga berhenti sampai di situ, masalah ini menimbulkan pro-kontra. Ada yang mendukung reaksi penyanyi dangdut tersebut sebagai bentuk perlawanan kaum perempuan, ada yang tidak menerima karena dianggap terlalu berlebihan dan memang sewajarnya penyanyi dangdut mendapat perlakuan begitu.

Selanjutnya, kita berdebat tentang ‘aplikasi goblok’ berisi video-video aneh dari netijen. Banyak yang mengatakan bahwa generasi yang menghidupi aplikasi ini sudah kehilangan akal mencari hiburan, tidak seperti generasi lama yang membuat tawa tidak perlu pakai aplikasi atau kuota internet. Apalagi mengorbankan akal sehat. Tolong, semangat perdebatan antara kedua kelompok ini tidak bisa dipertemukan. Selera dan kebahagiaan sama-sama tak terukur.

Pernahkah kelompok yang membenci ‘aplikasi goblok’ itu berpikir, bahwa, para anak-anak kecil, dan remaja, yang membuat video kreatif di dalamnya sedang berusaha mengasah kemampuan mereka, sedang berusaha berkarya dalam bidang yang mereka sukai. Video-video mereka nyaris selalu mengundang tawa, dan proses produksinya membutuhkan niat serta kreatifitas tinggi. Hanya karena perbedaan selera humor, kalian merasa mampu menguasai apa-apa yang benar? Apa-apa yang lucu dan apa-apa yang menyedihkan? Tahan sebentar.

Terakhir. Belum lama ini, ya, belum lama ini, hilangnya sebuah foto di Instagram menandingi diskusi hilangnya aktivis ‘98 maupun para korban ‘65. Adalah bapak reformasi kita, Amien Rais, yang tetiba mendadak girly setelah mengetahui bahwa unggahan fotonya yang memerlihatkan kebersamaan beliau dengan sahabat Prabowo dan Rizieq hilang tanpa musabab. Sempat ada rencana jika peristiwa penghilangan paksa oleh Instagram ini akan didudukkan ke Mahkamah Internasional. Luar biasa.

Kita patut menyanjung daya kritis yang dimiliki oleh bapak Amien dan kawan-kawannya. Kecurigaan beliau pada penguasa tidak butuh diuji lagi. Sudah terbukti, beliau berhasil menjadi bagian dari sejarah tumbangnya Orde Baru. Dan hingga saat ini, beliau terus memerjuangkan cita-cita reformasi yang telah dititipkan padanya duapuluh tahun lalu. Sekali lagi, kita tetap perlu memuji konsistensinya dalam hal mencurigai kekuasaan, betapapun ganjilnya itu. Suatu kemampuan yang sukar ditemukan pada waktu sekarang.

Kita sudah kenyang dengan isu-isu trivia, bahkan untuk lebaran kesekian kalinya, semestinya kita sudah paham harus berbuat bagaimana, apalagi menjelang pilpres yang mengakibatkan arus propaganda semakin meruncing. Kita juga sudah bosan dengan isu-isu berbalut agama. Sudah saatnya kita mengistirahatkan semuanya. Rebahkan sebentar sikap politik kita, tidak peduli golongan kecebong atau golongan kampret. Pokoknya semua harus menikmati ketupat dengan tentram.

Antara seluruh peristiwa yang mengurai di sekitar kita, manakah yang paling berpengaruh terhadap cara berpikir kita? Adakah peristiwa yang menentukan nasib baik dan buruk kita kedepannya? Atau sebenarnya kita sudah tidak mampu membedakan, mana peristiwa yang memang perlu disikapi dengan serius dan mana peristiwa tak penting yang hanya perlu direspon sekadarnya saja? Atau kita sudah terbiasa berdebat karena kondisi-kondisi di atas terus menghantam kesabaran kita untuk bersuara, sehingga secara naluriah saja setiap munculnya fenomena, kita langsung saja menempatkan diri sebagai kelompok Pro/Kontra? Mbohlah.

Previous ArticleNext Article

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Solusi untuk Kekecewaan Netijen atas Debat Pilpres 2019 0 325

Tak perlulah menunggu 24 jam berlalu untuk menyimpulkan ketidakpuasan khalayak masyarakat Endonesa dengan jalannya Debat Capres-Cawapres 2019 seri pertama tempo hari. Wong belum dimulai saja netijen sudah berebut saling menuduh kok! (Persis seperti performa kedua paslon di panggung debat kemarin.)

Indikator ‘mboseni’ jadi tajuk utama pidato-pidato tertulis rakyat dunia maya di kanal media sosial masing-masing. Maka, tidak heran jika para moderator debat kini kudu banget menyapa mereka dengan sebutan ‘warganet’ secara spesifik. Sebab, nonton netijen tonjok-tonjokan via live chat bisa jadi lebih seru ketimbang debat berkisi-kisi kemarin.

Penulis mengamati lalu lintas online dan menemukan minimal tiga tipe penonton debat Endonesa. Satu, warganet fanatik. Tipe ini bersorak kapan saja paslon dukungannya berbicara. Tidak peduli omongan bodoh kekanakan atau tidak, mereka merayakan argumen paslon tersebut dan mendiskreditkan argumen paslon lawan, meskipun kadang-kadang sing diomong sakjane podho intine.

Dua, warganet semi-teredukasi. Ini adalah golongan unik yang punya kesantunan cukup dan kesadaran mumpuni bahwa sebenarnya kedua paslon pancene podho wae. Meski demikian, spesies satu ini umumya sudah menetapkan jagoan pribadinya dan hanya menonton debat untuk mengonfirmasi bahwa pilihannya sudah tepat. Kemampuan mereka untuk nyelimur  tidak diragukan di kala paslon jagoannya kelihatan nggak menguasai topik. Caranya, mencari cocokologi supaya bisa membela paslonnya di hadapan warganet kubu satunya.

Tiga, warganet super-teredukasi. Nama lain golongan ini adalah golongan plegmatis-utopis. Didominasi oleh mereka yang doyan banget nonton tontonan luar negeri, golongan ini gemar sekali memuja dan mengonsumsi apa-apa yang dari luar Indonesia—biasa, dengan merujuk negara-negara “maju” saja—dan memicingkan mata untuk persoalan-persoalan genting di negaranya sendiri. Boro-boro mencari tahu dan mengomparasi keabsahan data argumen para paslon, umumnya ketertarikan politik mereka berhenti seraya mengucap kalimat, “Tuh kan. Ya gini ini Indonesia, politiknya kotor. Capres nggak ada yang bener. Mending gue tinggal di negara XXX daripada disalahin karena golput.

Padahal, dengan mayoritas kaum milenial-belum-cukup-dewasa, tipe terakhir ini cukup banyak jumlahnya. Sumbangan suaranya tidak bisa dianggap kecil, apalagi sumbangan partisipasi politiknya di masa depan. Sungguh eman bahwa justru tipe inilah yang memiliki keberjarakan paling lebar dengan persoalan politik dan hukum Indonesia.

Tapi di sisi lain, mereka tidak bisa sepenuhnya disalahkan juga. Dari debat kemarin saja, kedua paslon terang-terangan kalah telak untuk mengelaborasi visi-misi mereka secara konseptual dan rinci seperti yang dilakukan Nurhadi-Aldo, hehe. Alhasil, performa kedua pasangan bukan hanya mengecewakan bagi mereka yang teredukasi secara politik, melainkan juga para pendukung, tim sukses, dan tim kampanye masing-masing.

Penulis juga paham, andaikata memang kedua paslon tampil all out dan argumennya “saling terkam”, bisa-bisa bacok-bacokan kedua kubu jadi lebih panas. Skak mat emang jadi capres-cawapres 2019 – yang senantiasa harus diingatkan lagi dan lagi untuk kampanye damai.

 

Ya Sudah Begini Saja

Di tahun 2016 lalu, penulis menemukan fenomena internet yang lucu bin ajaib, unik bin geli, sekaligus mampu jadi solusi mujarab. Ditemukan di sebuah dimensi yang biasa dieksplorasi warganet super-teredukasi, penulis menyimpulkan bahwa ini pastilah sesuatu yang bisa banget menarik hati (dan suara) para netijen plegmatis-utopis. Temuan ini berjudul “Anies x Sandi Fanfiction”, sebuah naskah bromance.

Sebagian pembaca mungkin sudah familiar dengan istilah ini, namun sebagian lain mungkin tidak. Bromance, atau yang merupakan singkatan dari brother dan romance, adalah sebuah genre kultur populer yang merayakan dan mengomersilkan kemesraan antara lelaki dengan lelaki lainnya.

Bukti-bukti nyata lain dari keberadaan fenomena ini adalah berkembangnya fanfiction atau fiksi fantasi di situs-situs online penggemar. Mulai dari tayangan televisi, anime, grup idola, hingga selebriti, para fans ini memasang-masangkan dua atau lebih tokoh laki-laki dalam satu cerita, umumnya dengan tema asmara. Skalanya sangat lebar, mulai dari cinta vanila hingga hardcore romance, yang tentunya demi kepuasan fantasi para penggemar semata.

Bukti selanjutnya adalah membludaknya video bromance moments yang mengompilasikan momen-momen kedekatan selebriti laki-laki K-Pop di Yutub. Mulai dari yang rangkul-rangkulan sampai yang—yah apa aja ada lah ya. Video-video tersebut ditonton ratusan ribu bahkan jutaan orang, dengan kolom komentar didominasi pujian dan ekspresi gemes. Berani taruhan, nyaris separuh dari total penonton itu adalah fans dari Indonesia, yang hobi cekikikan di atas kasur tengah malam menyaksikan para idolanya bertingkah mesra satu sama lain.

Mungkin di sinilah keunggulan Sandi-Prabowo dibanding Jokowi-Ma’ruf. Segelintir rakjat berhasil dibuat jerit-jerit dengan aksi mesra mereka kemarin, lengkap dengan setelan jas necis ala oppa-oppa kaya dari drama Korea. Sepertinya, salah satu alasan keberadaan sejumlah fiksi fan macam ‘Anies x Sandi’ adalah karena Sandiaga Uno memang orang yang boyfriend goal bingits. Lihat saja, dengan pasangan barunya—ehem—Sandi bahkan berani pijet-pijetan di depan umum! Apalagi setelah Prabowo mencuit kalau doi bisa tidur nyenyak setelahnya… Kyah! Mana bisa otak-otak fangirl tidak berfantasi?!

Begini lho maksudnya. Janganlah hal-hal seperti bromance ini lalu dilihat sebagai penistaan budaya bangsa, apalagi degradasi moral para milenial, sebagaimana kerap diujar para orang tua (dan polisi moral). Lihatlah ini sebagai sebuah ekspresi kedekatan antara satu pribadi dengan pribadi lain. Lihatlah ini sebagai sebuah cara baru saling mencintai dan mengapresiasi sesama manusia, yang sesuai dengan cita-cita bangsa untuk hidup rukun tanpa banyak masalah.

Bromance, sebagai ekspresi baru cinta dan kedamaian, juga bisa jadi jalan tengah bagi persoalan capres-cawapres 2019 saat ini. Tim kampanye yang buntu jalan bisa banget mengeksplorasi cara ini untuk mem-branding paslonnya. Siapa sih, yang nggak suka menyaksikan dua orang yang berkomitmen menggenggam negara selama bertahun-tahun bisa dekat dan mesra satu sama lain? Sama seperti sejoli yang cubit-cubitan, dorong-dorongan, rangkul-rangkulan, sambil memandang mata satu sama lain dengan senyum mengembang.

Minimal, bromance ini seenggaknya bisa lah menarik mata dan hati dan suara tipe warganet ketiga tadi. Lumayan kan untuk memerbaiki image paslon pasca-debat pertama dan mencairkan ketegangan hari-hari ini? Sudah menarik, kyuti, damai pula. Komplit!

Bocoran Soal KPU dalam Kesahihan Tata Hukum Debaters 0 227

Di era ini, banyak muncul pekerjaan baru seperti supir ojek online hingga influencer media sosial. Namun, tak sedikit pula pekerjaan lawas yang masih bertahan. Kita patut bersyukur masih bisa menemui loper koran dan teller bank, dua pekerjaan yang kayaknya terancam punah kalau kita terus-terusan semakin menghamba pada virtual.

Selain itu, ditengarai calo penyedia kunci jawaban soal ujian juga masih terus lestari. Selama ujian masih ada, eksistensi mereka tetap abadi!

Namun, juru pembocor soal ini gak laku di Debat Pilpres 17 Januari 2019 besok. Lah wong KPU sudah membocorkan pertanyaan debat pada masing-masing pasangan calon. Kerja panelis merumuskan pertanyaan sudah di ujung deadline. Semuanya demi Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi supaya bisa memelajari contekannya sambil latihan ngomong di depan cermin sebelum bertemu Ira Koesno dan Imam Priyono di panggung “panas” nanti.

Keputusan KPU ini lantas menuai pro-kontra. Mulai dari drama antar tim pemenangan yang menjemukan, hingga netizen yang selalu hobi sekadar mengingatkan. Simpulnya, KPU dinilai tidak bijak.  Peserta debat jadi tidak benar-benar teruji. Segala dalih KPU ngalor-ngidul yang katanya ingin ‘mengedepankan konten debat, bukan show’ dimentahkan sudah. ‘Ra mashok blas!

Sesungguhnya, kebijakan KPU ini lahir karena fenomena lebih melekatnya di benak kita ketokohan paslon ketimbang visi-misinya. Kita lebih tahu “Game of Thrones-nya Jokowi dan Prabowo ikut natalan ketimbang program kerja yang ditawarkan keduanya. Miris!

Namun, di luar itu, masyarakat kita memang naturnya punya tingkat kepedulian yang tinggi. Saking tingginya, segala macam benda baik yang hidup maupun mati jadi sasaran omelan. Jadi, tidak perlu heran jika bocoran soal KPU ini pun jadi bahan nyinyir. Lah wong warna celana dalam mbak-mbak ayu saja habis dimakan kok.

Padahal memberikan kisi-kisi soal pada peserta debat sangatlah lumrah. Dalam tata hukum debaters, sebut saja dalam dapur Asian Parliamentary, ada dua macam mosi debat yaitu prepared motion dan impromptu motion.

Prepared motion adalah mosi atau topik debat yang diberitahukan jauh sebelum perdebatan dilangsungkan. Kalau dalam lomba, biasanya separah-parahnya akan diberikan dua atau tiga hari sebelum. Jadi peserta dimungkinkan untuk riset dari berbagai literatur, fisik maupun internet.

Sedangkan impromptu motion maksudnya adalah topik debat spontan, diberikan beberapa menit sebelum memulai debat. Iya, udah macem pacar yang ngasih surprise birthday present, bikin deg-degan isinya. Kita tidak pernah tahu akan dapat topik debat yang seperti apa, walaupun tidak terlepas dari lingkup tema. Walau begitu, akan tetap ada waktu case building bagi peserta, alias mempersiapkan kerangka dan strategi bicara.

Wah berarti lebih gampang yang prepared motion dong ya daripada impromptu? Lah rumangsamu!

Keduanya punya level tantangan yang berbeda. Prepared motion tentu menuntut ketepatan data dan kedalaman analisa. Karena sudah diberi waktu yang lebih untuk mempersiapkan, nek pancet debate ora cetha yo nemen! Demikian pula impromptu motion memang menggoda seluas apa wawasan yang dimiliki peserta debat, serta kepandaian menyusun logika dan taktik “perang” dalam sempitnya waktu.

Kalau dalam debat, tipe mosi manakah yang paling sering dipakai? Jawabannya adalah dua-duanya. Seimbang. Sama seperti Tuhan ketika menjawab doamu, kadang dikabulkan, kadang bodo amat, hehe. Nah, jika penerapan dua tipe mosi ini berlaku di lomba-lomba debat anak sekolahan, memangnya nggak boleh KPU melakukan hal serupa? Makanya, kita ini jadi netizen jangan kayak doi kalau lagi marah, nggak mau denger penjelasan dulu.

Seperti biasa, debat terbuka capres-cawapres akan terbagi menjadi beberapa termin mulai dari visi-misi, menjawab pertanyaan panelis, debat antar paslon, hingga closing statement. Nah yang disodorkan adalah pertanyaan panelis sejumlah lima buah. Sedangkan pada sistem di hari H nanti, pasangan calon akan mengambil undian dan hanya mendapatkan salah satu pertanyaan. Mau nggak mau mereka harus mempersiapkan jawaban terbaik dari kelimanya, karena nggak tahu bakal dapat pertanyaan yang mana. Jadi, walaupun prepared motion juga gak segampang itu Fergusso!

Toh masih ada pula sesi saling bertanya antar paslon. Nah, ini termasuk tipe pertanyaan impromptu. Mosok ya mereka janjian pertanyaan dulu kalau sudah begitu.

Mbok jangan suudzon dulu! Jangan-jangan personil KPU tipenya humoris, suka ngasih prank. Dikasih kisi-kisi lima, taunya yang keluar soal nomor enam, yaaahh kena deh! Persis seperti kamu yang dulu merasa diplokothoi sama kisi-kisi soal UNAS.

Intinya, janganlah kita ini suka menyalahkan, apalagi menyalahkan KPU. Sakno lho, mumet ndas’e! Persoalan kardus suara pun sudah kamu jadikan bahan olok, sekarang ditambah lagi. Jahat memang kalian, hiks. 🙁

Pokoknya, apapun kata netizen, kami segenap debaters siap pasang badan untuk membela KPU! Dengan ini, kami telah menyatakan, sistem debat KPU ini sudah sesuai dengan tata hukum debaters yang berlaku.

Editor Picks