Beberapa Masalah Super Penting dalam Hidup Kita 1 357

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Kurang lebih sebulan lalu, kita ditimpa musibah berupa ledakan bom yang terjadi di Surabaya. Berjenis-jenis analisis termuntahkan di atasnya. Mulai dari kecurigaan terhadap agenda politik sampai saling menyalahkan antar kelompok beragama. Sadarkah kita, bahwa diskusi tersebut menjauhkan substansi dari kandungan peristiwa yang sebenar-benarnya adalah masalah besar tentang kemanusiaan. Bukan sekadar agenda politik atau kesempatan menampakkan citra melalui modus belasungkawa.

Tidak lama setelah itu, kita dihebohkan kembali karena seorang penyanyi dangdut perempuan mendapat perlakuan tidak sopan dari seorang pemain sepak bola klub nasional. Menurut berita yang beredar, atlet tersebut meminta doi agar datang ke tempat peristirahatannya dengan pakaian serba terbuka. Tidak terima dengan permintaan itu karena merasa direndahkan, si penyanyi dangdut pun membagikan pengalamannya di media sosial sebagai bentuk pembelajaran bagi siapapun agar kelak lebih bersikap sopan pada orang yang baru dikenalnya.

Tidak juga berhenti sampai di situ, masalah ini menimbulkan pro-kontra. Ada yang mendukung reaksi penyanyi dangdut tersebut sebagai bentuk perlawanan kaum perempuan, ada yang tidak menerima karena dianggap terlalu berlebihan dan memang sewajarnya penyanyi dangdut mendapat perlakuan begitu.

Selanjutnya, kita berdebat tentang ‘aplikasi goblok’ berisi video-video aneh dari netijen. Banyak yang mengatakan bahwa generasi yang menghidupi aplikasi ini sudah kehilangan akal mencari hiburan, tidak seperti generasi lama yang membuat tawa tidak perlu pakai aplikasi atau kuota internet. Apalagi mengorbankan akal sehat. Tolong, semangat perdebatan antara kedua kelompok ini tidak bisa dipertemukan. Selera dan kebahagiaan sama-sama tak terukur.

Pernahkah kelompok yang membenci ‘aplikasi goblok’ itu berpikir, bahwa, para anak-anak kecil, dan remaja, yang membuat video kreatif di dalamnya sedang berusaha mengasah kemampuan mereka, sedang berusaha berkarya dalam bidang yang mereka sukai. Video-video mereka nyaris selalu mengundang tawa, dan proses produksinya membutuhkan niat serta kreatifitas tinggi. Hanya karena perbedaan selera humor, kalian merasa mampu menguasai apa-apa yang benar? Apa-apa yang lucu dan apa-apa yang menyedihkan? Tahan sebentar.

Terakhir. Belum lama ini, ya, belum lama ini, hilangnya sebuah foto di Instagram menandingi diskusi hilangnya aktivis ‘98 maupun para korban ‘65. Adalah bapak reformasi kita, Amien Rais, yang tetiba mendadak girly setelah mengetahui bahwa unggahan fotonya yang memerlihatkan kebersamaan beliau dengan sahabat Prabowo dan Rizieq hilang tanpa musabab. Sempat ada rencana jika peristiwa penghilangan paksa oleh Instagram ini akan didudukkan ke Mahkamah Internasional. Luar biasa.

Kita patut menyanjung daya kritis yang dimiliki oleh bapak Amien dan kawan-kawannya. Kecurigaan beliau pada penguasa tidak butuh diuji lagi. Sudah terbukti, beliau berhasil menjadi bagian dari sejarah tumbangnya Orde Baru. Dan hingga saat ini, beliau terus memerjuangkan cita-cita reformasi yang telah dititipkan padanya duapuluh tahun lalu. Sekali lagi, kita tetap perlu memuji konsistensinya dalam hal mencurigai kekuasaan, betapapun ganjilnya itu. Suatu kemampuan yang sukar ditemukan pada waktu sekarang.

Kita sudah kenyang dengan isu-isu trivia, bahkan untuk lebaran kesekian kalinya, semestinya kita sudah paham harus berbuat bagaimana, apalagi menjelang pilpres yang mengakibatkan arus propaganda semakin meruncing. Kita juga sudah bosan dengan isu-isu berbalut agama. Sudah saatnya kita mengistirahatkan semuanya. Rebahkan sebentar sikap politik kita, tidak peduli golongan kecebong atau golongan kampret. Pokoknya semua harus menikmati ketupat dengan tentram.

Antara seluruh peristiwa yang mengurai di sekitar kita, manakah yang paling berpengaruh terhadap cara berpikir kita? Adakah peristiwa yang menentukan nasib baik dan buruk kita kedepannya? Atau sebenarnya kita sudah tidak mampu membedakan, mana peristiwa yang memang perlu disikapi dengan serius dan mana peristiwa tak penting yang hanya perlu direspon sekadarnya saja? Atau kita sudah terbiasa berdebat karena kondisi-kondisi di atas terus menghantam kesabaran kita untuk bersuara, sehingga secara naluriah saja setiap munculnya fenomena, kita langsung saja menempatkan diri sebagai kelompok Pro/Kontra? Mbohlah.

Previous ArticleNext Article

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lagu Mahasiswa: Buruh Tani, Demokrasi, dan Dinamika Semangat Zaman 0 783

Oleh: Aria Mahatamtama*

Sebelumnya, tulisan ini berusaha merefleksikan semangat zaman tentang isu buruh, masyarakat miskin, dan mahasiswa. Mengingat bulan Mei adalah bulan yang diawali dengan semangat revolusi, iya revolusi buruh, dengan merebut alat produksi, dan menyetarakan tiap lapisan masyarakat. Aliansi mahasiswa kerap berdekatan dengan isu-isu wong cilik (buruh, dan masyarakat yang mengalami penggusuran secara paksa dan masih banyak lagi) karena itu semangat ini harus dikaji secara serius. Mengapa kajian ini harus dilakukan?

Hal mendasar yang menjadi keresahan penulis adalah “Lagu Mahasiswa: Buruh Tani”. Lagu tersebut kerap dinyanyikan oleh mahasiswa, akan tetapi, celakanya semangat zaman yang ada melalui lirik-lirik tersebut yang harus dikaji lebih dalam, kalau perlu diadakan diskusi yang membedah secara serius dampak dari lirik tersebut untuk dikontekstualisasikan dengan semangat zaman masa kini. Sebelum itu, kata “semangat zaman” ini diartikan dengan zaman yang didalamnya memuat pergejolakan pendidikan/pengetahuan, sosial, ekonomi, politik dan budaya yang sedang terjadi. Fokus penulis hanya sampai pada dua baris lirik (lihat gambar).

Sekarang bila diperbolehkan, penulis mengajak pembaca untuk memproyeksikan lagu ini bila dinyanyikan mahasiswa dalam aksi, tetapi anda (pembaca) menjadi pendengar nyanyian tersebut dengan semangat zaman masa kini. Nanti akan terlihat perbedaan semangat zaman yang terjadi.

Pada lirik awal “Buruh tani, Mahasiswa, Rakyat Miskin kota” akan terlihat jelas bahwa anda akan melihat mereka (yang terlibat aksi dan sedang bernyanyi) memberikan gambaran identitas diri mereka. Hanya memberikan gambaran dalam lirik yang dituangkan menjadi nyanyian, bukan diri mereka seutuhnya! Tetapi hanya gambaran. Lalu dilanjutkan “bersatu padu rebut demokrasi”, pada lirik ini akan terlihat ideologi rezim yang berkembang pada semangat zaman lagu ini tercipta, dengan sistem yang otoriter. Otomatis perlakuan yang paling radikal adalah meruntuhkan otoritarian dengan merebut hak-hak kebebasan individu dalam pola demokrasi. Lirik ketiga dan keempat pada baris pertama mengikuti pola lirik pertama dan kedua.

Nah, pada lirik baris kedua akan terlihat sedikit kekacauan “hari-hari esok adalah milik kita”, jika ditilik secara serius “milik kita” ini hanya terjadi, tetapi besok-besok, bukan sekarang! Jadi sekarang masih usaha, belum memiliki, akan–memiliki itu besok-besok lho. Dan “terciptanya masyarakat sejahtera” otomatis pengartian lirik ini bila mengacu pada perihal “milik kita” akan nampak jelas bahwa “masyarakat sejahtera”  ini akan didapat setelah menjadi “milik kita”  yang terjadi pada hari-hari esok. Lalu lirik ketiga pada baris kedua “terbentuknya tatanan masyarakat” ini harus dilihat jika berkaitan pada masyarakat, maka makna “tatanan” ini berbicara mengenai struktur, yaitu struktur masyarakat. Jika berbicara struktur masyarakat, otomatis terdapat dinamika atau pergejolakan yang terjadi di masyarakat dimana terdapat si kaya dan si miskin. Maka–singkatnya tatanan yang dimuat di lirik tersebut malah melanggengkan otonomi kelas borjuis yang memang dia adalah si kaya. Lirik keempat pada baris kedua memperlihatkan keajegan bahwa “Indonesia baru tanpa Orba” syarat tersebut memberikan identitas baru bagi Indonesia. Yaitu perebutan demokrasi, dengan meninggalkan “Orde Baru”.

Akan tetapi pertanyaan nyaadalah ketika demokrasi dan hak-hak kebebasan sudah didapat, lalu apakah demokrasi tidak memiliki sifat tirani; atau gampangnya, apakah demokrasi itu bebas atau tidak? Ini yang harus dikaji lebih dalam. Sebelumnya penulis sudah mengijinkan anda (pembaca) untuk boleh tidak lagi memproyeksikan menjadi pendengar nyanyian aksi tersebut, tetapi berpikir ulang untuk mengoptimalkan semangat zaman masa kini. Yaitu dengan memikirkan ulang, apakah demokrasi itu bebas atau tetap kejam akan tetapi bentuk kekejamannya lebih halus sehalus pipi doi kalau dicubit.

Kebebasan berpendapat selalu terdengar cukup memuaskan bagi kita dalam pola masyarakat demokrasi dewasa ini, tetapi jika kebebasan berpendapat ini hadir, otomatis kebebasan mendengar pun juga masuk dalam sistem demokrasi, lebih-lebih kebebasan mengonsumsi juga menjadi acuan juga dong. Lah kok boleh banyak mengonsumsi… ya iya kan Indonesia sebagai negara Dunia Ketiga dalam pola kapitalisme global bergerak dalam pola demokrasi. Maka dari itu kenapa kita selalu resah dengan jalanan Ahmad Yani yang macet karena kepadatan kendaraan atau tulisan mengenai hipster lokal bahkan tulisan tandingannya. Ya karena pola demokrasi yang bebas ini, membolehkan banyak pemilik modal melakukan ekspansinya untuk meraup banyak keuntungan yang akhirnya kalian-kalian dan pembaca ini loh boleh banyak beraspirasi untuk mengonsumsi. Ya tho? Diem-diem wae, ngopi brow.

Inilah yang menjadi titik tekan, penulis tidak menyalahkan kehadiran lagu tersebut, sama sekali tidak menyalahkan. Penulis memiliki letak asumsi yang optimis (cie) bahwa subjek, atau masyarakat dengan semangat zaman masa kini harus lebih sadar, buruh dan budaya pop tentang musik dangdut dan kepentingan panggung politik praktis harus dipisahkan. Kalau perlu buruh harus disadarkan dulu! Karena yang menjadi gejolak era kontemporer adalah relung-relung ideologi yang menggerakan kita secara halus, relung-relung ideologi itu bekerja tanpa disadari, yang memusat pada pola kapitalisme.

Ilmu itu harus diberikan sebanyak-banyaknya agar kesadaran untuk perubahan dapat terjadi.

*Hormat penulis, yang sedang menunggu film produksinya sendiri rilis dan berdoa agar petani di Aceh tidak dibakar ladangnya secara cuma-cuma.

Ironi dari Pengguna Secreto Site 0 358

Oleh: Annisa Pinastika*

Tulisan ini sebenarnya lebih ke ungkapan kegelisahan penulis terhadap bagaimana website Secreto muncul melalui status whatsapp dan instastory kawan-kawan sejawat berikut fenomena penggunaannya yang aneh bin luar biasa. Tentu kita pernah terpapar pesan-pesan macam: “Hai, yang mau kepo-kepo tapi gaberani, boleh tanya aku di *insert link secreto here*”, “Ditunggu kritik, masukan, sarannya, ya klik aja link di bio aku *lagi-lagi link secreto*”.  Gosh, opo seh sakjane Secreto iki?

Secreto terkenal sebagai website teranyar (tapi gak anyar-anyar amat) yang mengadopsi pendahulunya, yakni Sarahah, Ask.fm, dan Formspring. Sudah merasa familiar? Yap, lagi-lagi website yang menyediakan wadah bagi user-nya untuk memberikan pertanyaan atau komentar di akun seseorang, dilengkapi dengan fitur full anonim alias si penanya tidak akan dimunculkan identitasnya. Berbeda dengan ask.fm di mana penanya dapat memilih untuk menjadi completely anonymous atau tidak, Secreto benar-benar menjadikan orang yang ingin meninggalkan komentar mereka di profil tersebut sebagai anonymous. Terlebih, mereka tidak perlu membuat akun Secreto, cukup dengan klik link menuju profil akun Secreto yang dituju, maka siapapun bisa bebas memberikan testimoni atau kritik saran (yang kemudian disebut dengan pesan) kepada si pemilik akun tanpa perlu menampilkan identitas mereka.

Uniknya lagi, Secreto hadir sebagai counter dari salah satu keunggulan internet, yaitu interaktivitas. Melalui Secreto, si pemilik akun tidak dapat memberikan klarifikasi terhadap pernyataan atau komentar yang muncul di profil mereka. Memang, di bawah pesan tersebut disertai fitur komentar, akan tetapi sekalipun pemilik akun berusaha merespon melalui kolom tersebut, identitas dari pemilik akun pun tidak akan ditampakkan. Jadi kita hanya bisa menduga-duga apakah komentar tersebut benar dari pemilik yang bersangkutan atau dari orang lain yang turut berkomentar dengan berpura-pura menjadi pemilik akun. Di situlah seni dari ber-Secreto-ria, di mana semua tampil sebagai anonim.

Keberadaan website-website berbasis Q&A pendahulu Secreto sempat menimbulkan kegelisahan, mengingat publikasi media massa cenderung menyalahkan website-website tersebut sebagai penyebab para penggunanya melakukan suicide. Website Q&A dengan fitur anonymous ini kerap disalahgunakan untuk ajang mencaci dan melakukan praktik cyberbullying terhadap pemilik akun. Bahkan meskipun Formspring mengalami kebangkrutan di akhir 2011, kenapa eksistensi website-website Q&A dengan keunggulan anonimitasnya ini masih dilanggengkan netizen di Indonesia?

Rupanya, hasil penelitian yang dilakukan oleh Kang et.al. (2013) tentang motif sesorang menggunakan anonymity di dunia maya,  92% dari subjek penelitian yang berasal dari negara timur mengatakan bahwa adanya fitur anonim dapat dijadikan suatu cara untuk mengontrol dan melindungi hubungan asli mereka dengan orang-orang di dunia nyata. Kang dan kawan-kawannya mengasumsikan bahwa adanya fitur anonim ini bermanfaat bagi penduduk dengan budaya ketimuran yang masih amat menjunjung kehidupan bermasyarakatan secara kolektif. Tentunya pernyataan yang dapat menimbulkan gesekan di kehidupan bermasyarakat dapat menyebabkan orang yang mengajukan pertanyaan tersebut berpotensi dikucilkan dari lingkup sosialnya. Pembaca juga merasakan itu, toh? Oleh karena itu, keberadaan website Secreto dan konco-konconya sebagai platform yang menyediakan anonimitas membuat kita merasa seolah-olah memiliki kendali untuk mengkritik (gak peduli sejahat atau sesadis apapun itu) si subjek tanpa perlu khawatir hubungan kita dengannya berantakan di dunia nyata. Yes! Asyik, kan? Toh pemilik akun ya dengan legowo-nya membagikan link profil Secreto dia dan menyatakan dengan sukarela menerima kritik dari kita.

Eh, tapi anehnya para pemilik akun Secreto ini gemar sekali meng-capture pertanyaan-pertanyaan dan kritik saran yang mereka terima. Kalau untuk konsumsi pribadi, sih ya terserah elo aja, tapi ini justru dipublish lewat platform lain seperti status Whatsapp dan Instastory. Sudah begitu, mereka bubuhkan respon, jawaban atau tanggapan mereka terhadap pernyataan-pernyataan tersebut melalui status dan story tersebut. Loh, kan dengan merespon komentar-komentar tersebut berarti menghilangkan esensi secret dari Secreto sendiri, ya tho? Yo terus gawe opo rek Secreto, koen pengen onok sing ngritik tapi ga terimo ngono trus mbok jawab-jawab dewe lewat Instastory? Padahal, sekalipun pemilik akun ini tidak berkenan atas pesan yang ia rasa dapat menjatuhkan citranya, ia bisa mengklik lambang X di pojok kanan pesan tersebut agar terhapus dan tidak muncul lagi di profilnya. Akan tetapi, bahkan pesan remeh-temeh tanpa nada bullying pun mereka capture, publish, dan balas melalui media sosial lainnya.

Saya jadi kasihan sama developer dari Secreto, sudah merancang sedemikian rupa agar Secreto memiliki keunggulan dan menjalankan fungsi anonimnya dengan pantas, netizen selalu punya cara untuk membuat fungsi-fungsi tersebut terlibas. Pun saya bertanya-tanya, apakah tindakan pemilik akun Secreto yang tidak menghapus pesan berisi kritik jahat dan menjawabnya via media sosial lain semata agar membuat ia terlihat eksis karena banyak haters? Hehe.

Kalau begitu jadi ironi memang, sebagaimana fungsi dari media sosial lain, Secreto yang mulanya tampil sebagai representasi pemilik akun dalam menciptakan identitas melalui komentar orang lain, dianggap benar-benar menampilkan identitas dan kepribadian sesungguhnya dari pemilik akun di kehidupan nyata.

Kalau sudah begitu, pemilik akun Secreto terjebak pada keadaan hyperreal, di mana sudah tidak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak nyata lagi di ranah cyberspace. Pemilik akun Secreto merasa bahwa dirinya, yang mana ditampakkan melalui komentar di ranah online merupakan sosok identitas dirinya yang sesungguhnya. Maka dengan semakin banyak kritik dan pesan yang ia terima menjadikan ia seolah-olah sebagai sosok yang penting bagi hidup banyak orang dan perlu ditanggapi secepatnya, demi menjaga agar identitas dirinya yang asli tidak tercemari oleh kritik-kritik di Secreto. Kalau enggak, ngapain pakai di-publish dan dikonfirmasi lewat sosial media lainnya? Hehe. Hanya pemilik Secreto yang tahu jawabnya. Kalau tidak terima sama tulisan ini, bisa buat artikel tandingan, kan ya editor?

*Penulis adalah mahasiswa biasa-biasa saja, memiliki nama kecil Ratu Mahabencana.

Editor Picks