Dilema Hidup Pembagi Brosur 0 1229

Petugas pembagi brosur di pinggir jalan barangkali lelah menghadapi warga seperti saya. Jika sudah di atas kendaraan, apalagi nyetir sendiri, bagai iklan sedot WC di tiang-tiang listrik, mas-mbak pembagi brosur iklan di pinggir jalan hanyalah angin lalu bagi saya.

Sembari mangkel, saya kerap mengutuki mereka. Secara sepihak menjatuhi vonis atas mereka sebagai penyebab kecelakaan di jalan – bayangkan saja mas’e kalau menyodorkan brosur bisa brutal sampai ke depan muka unyu saya, padahal motor sedang digeber kencang.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kita – sebagai sasaran empuk brosur jalanan – harus menerima dua sampai empat lembar sekaligus. Tujuannya agak mulia: agar brosur di tangan mas’e cepat habis dan bisa segera pulang membawa rupiah atas hasil kerjanya. Tapi yang ada di benak saya: lha ini saya disuruh ikut bagi-bagi brosur sekalian apa gimana?

Entah dengan briefing model seperti apa, pasti jauh dari nalar dan kesadaran mas-mbak’e, iklan cetak macam brosur – mulai dari jasa les-lesan, tukang kunci, pembesar alat vital, sampai promosi café baru yang menjunjung tinggi nilai ‘gak enak gak apa-apa, yang penting mahal’ – telah dihitung dengan rumus marketing secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagaimana brosur sebagai bagian dari advertising yang pengertiannya berbayar untuk ruang dan waktu yang telah digunakan. Artinya, brosur di jalanan itu tidak main-main. Tentu membutuhkan hitung-hitungan njelimet untuk menyesuaikan berapa lembar brosur yang hendak dicetak dengan jangkauan target market yang disasar. Ini semua juga ada hubungannya dengan pemilihan media kertas cetak, di mana ia dibagikan, dan citra produk seperti apa yang hendak diraih si pembuat iklan.

Dengan ini, praktik membagikan brosur sampai ndobel-ndobel tentu tidak bijak, tidak sesuai dengan hitung-hitungan marketing.

Tapi di luar omelan betapa muaknya kita tentang perilaku pembagian brosur ini, mbok ya kita ini juga sadar, betapa masam tantangan yang dihadapi para pembagi brosur ini.

Pertama, seperti cerita penulis di pembuka tulisan, pembagi brosur adalah pekerjaan menantang maut. Jika Dewi Fortuna tidak sedang memihak pada mas-mbak’e, minimal tangan ketenggor motor ndablek seperti saya yang tetap melaju kencang mengabaikan niat baik mereka.

Kedua, sudah bertaruh nyawa, imbalannya tak seberapa pula. Untuk setiap lembar brosur yang dibagikan, kira-kira tangan dan keringat mereka dijatah dua ratus perak. Jika dalam sehari para penyedia jasa penyebar brosur ini paling tidak membawa 200 lembar brosur, kira-kira 40 ribu rupiah di tangan, menafkahi hari itu.

Ah, tapi di era banjir informasi ini, para freelancer ini seharusnya tak perlu khawatir. Ada berbagai biro yang mampu menampung mas-mbak’e. Di kota besar seperti Surabaya misalnya, lowongan jasa sebar brosur menjamur di mana-mana, ketik saja di Google (barangkali pembaca sedang krisis ekonomi dan mau menggunakan tips ini).

Ketiga, di zaman yang serba digital ini, siapa sih yang masih mau membaca iklan cetak? Iklan online yang tiba-tiba muncul di gawai dan mengganggu aktivitas scrolling saja kita abaikan, apalagi brosur jalanan yang cara ngasihnya saja minim etika.

Kita mesti paham betul, bahwa selain dibayar dengan uang, mas-mbak’e sebenarnya juga butuh senyuman dari kita yang menerima brosur darinya. Apalagi di bulan nan suci ini, senyummu mbok ya jangan dihemat.

Paling tidak, mari kita sambut uluran brosurnya dengan hati bersih! Berikan senyum simpul saja, jangan lupa katakan terima kasih. Dua tiga langkah dari tempat mas-mbak’e membagikan tadi, baca dengan sungguh apa isi brosurnya. Tunjukkan betul ekspresi bahagia seakan informasi yang ada dalam brosur begitu penting menyangkut hajat hidup dan masa depan Anda. Pastikan terlebih dahulu bahwa aksi Anda ini masih dalam jangkauan mata pembagi brosur. Lakukan ini, paling tidak sebelum Anda membuangnya di tempat sampah (atau di sembarang tempat).

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Asmara Putra Presiden dan Kita yang Suka Kepo 0 232

Kaesang selingkuh??!!

Ini sih bukan cuma bahan omongan netijen di media sosial, tapi juga persoalan kita semua!

Persoalan ini menempati posisi teratas trending topic di linimasa media sosial. Bermula dari unggahan akun gosip junjungan kita semua, Lambe Turah, dan dikonfirmasi oleh beberapa postingan feed dan story akun melia_lau yang merupakan ibunda dari Felicia, pacarnya Mas Kaesang.

Pendek cerita, Kaesang dinyatakan menghilang tanpa kabar alias ghosting, lalu ketahuan jalan dengan perempuan lain. Naasnya, perempuan lain itu pegawainya sendiri. Bilang WOW gak nih?

Oh, betapa runyamnya persoalan ini bagi bangsa dan negara. Mendadak kita semua mengurusi persoalan asmara putra presiden. Setelah ini, wartawan infotainment yang brutal itu akan menyerbu istana, menghujani Jokowi dengan pertanyaaan personal seputar anak bungsunya.

Untuk sementara, istana hanya akan sibuk menjawabi persoalan ini, dan melupakan penanganan corona, atau urusan Moeldoko dan Demokrat.

Tapi, menurut hemat penulis, setidaknya ada sejumlah poin andai-andai yang bisa diserap dari peristiwa ini.

 

Kalau saja selingkuhnya di tempat yang tepat

Kata teman-teman saya sih, tempat terbaik di ibukota untuk selingkuh adalah Kuningan City. Konon, mal ini selalu sepi walau akhir pekan. Pun di dalamnya disewa oleh tenant ternama dengan harga diskon semua. Niscaya selingkuh aman dan hemat jika mbaké minta dibelikan baju baru.

Atau di Blok M misalnya. Pusat belanja yang hampir sekarat. Di mana penjualnya hanya fokus melariskan dagangan, tak peduli siapa yang sedang kencan, entah beneran pasangan atau simpanan.

Kalau di Surabaya, Anda bisa mengajak mbaké ke DTC. Bisa sekalian blusukan pelaku UMKM yang sesungguhnya. Siapa tahu mau studi banding.

Sayangnya, Mas Kaesang, kita ini memang hidup di zaman edan. Pacaran dengan pacar orang kurang afdol rasanya jika belum diposting ke media sosial, entah untuk apa tujuannya. Mungkin, untuk menunjukkan eksistensi dan mendapat pengakuan khalayak.

 

Kalau saja Kaesang bukan anak pleciden

Pasti kisah drama asmara ini akan biasa-biasa saja. Kaesang juga hanyalah mas-mas biasa usia 20-an yang suka main mobel lejen dan papji. Tapi status sebagai anak orang nomor satu di Indonesia ini menjadikan beban moral berat harus ditanggungnya.

Padahal, semua hubungan tentu punya masalah dan bisa saja menemui akhirnya. Semua dari kita pasti pernah mengalami ghosting, baik jadi korban atau pelakunya. Kaesang pun manusia adanya, yang bisa mengalami hal-hal tersebut. Bukan karena anak presiden, terus Kaesang jadi manusia paling sempurna dan idaman.

Kita semua ini kan pernah berdosa, cuma belum ketahuan boroknya aja. Tapi ya beginilah tabiat kita menjadi manusia. Menghakimi, menghujat, seakan-akan kita orang paling benar di dunia.

 

Kalau saja semua ini hanya prank

Siapa tahu kan, Kaesang butuh ide konten baru di akun Youtube-nya. Siapa tahu semua drama ini memang disiapkan untuk melamar Felicia di Desember 2021, seperti yang dijanjikannya pada keluarga.

Atta dan Aurel saja habis putus tiba-tiba mengumumkan pernikahan. Siapa tahu kan, yang satu ini juga bernasib demikian.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Terlanjur Mencinta pada Artis Korea 0 174

 

Pada awal Maret ini, ada yang mengejutkan di jagat Youtube. Ryeowook personil grup boyband kenamaan asal Korea Selatan, Super Junior, merilis video clip cover lagu dalam bahasa Indonesia: Terlanjur Mencinta.

Lagu ini sebenarnya sudah keluar setahun silam, dinyanyikan dengan 3 versi yang berbeda oleh penyanyi jebolan Indonesian Idol: Tiara Andini, Lyodra Ginting, dan Ziva Magnolya. Walaupun dengan 3 gaya berbeda, lirik lagu ciptaan Yovie Widianto ini dipersatukan dalam satu prinsip: kehandalannya dalam mengiris hati.

Cover lagu oleh idol Kpop yang satu ini lantas langsung melesat ke puncak perbincangan dunia maya dan nyata. Hingga tulisan ini sedang dibuat, video “Ryeowook #TerlanjurMencinta” menempati urutan ke-8 trending Youtube dan ditonton lebih dari 900 ribu kali.

Videonya juga langsung mendapat komen dari penyanyi pertamanya, Tiara, dan tentu saja ribuan komen fans berat Kpop dari Indonesia.

Dengan mengesampingkan berbagai nilai yang Anda percayai tentang  Kpop idol, mari kita mengapresiasi pelafalan dan artikulasi yang hampir sempurna dari Ryeowook dalam menyanyikan lagu berbahasa Indonesia. Yah, paling agak terpeleset di kata “bertemu”, apalagi “mencinta”. Wajar dan sangat bisa diampuni.

Pun teknik pengambilan gambar yang banyak meng-close-up wajah Ryeowook menunjukkan penghayatan yang sungguh-sungguh. Tandanya, si penyanyi tahu betul makna lirik dan tujuan utama lagu.

Cover Ryeowook juga menjadi pegangan bahwa lagu yang emang dari sananya enak ini, cocok dinyanyikan semua gender, termasuk (ehemm) laki-laki. Jujur saja, sebagai mantan penggemar Kpop, ini pertama kalinya saya mendengarkan teknik vokal yang ciamik dari salah satu personil boyband. Biasanya sih, saya salah fokus sama tarian dan pakaiannya (ups).

Belakangan, salah satu Youtuber keluarga favorit saya juga melakukan kolaborasi dengan idol Kpop. Kimbab Family, keluarga campuran Indonesia-Korea dengan 3 anak mereka yang biasanya menampilkan kehidupan sehari-hari sebagai keluarga multi-kultural, dan bahkan menerbitkan buku dengan sub-judul “bukan (drama) Korea”, akhirnya “jatuh” juga. Mereka bahkan membuat 2 video yang menampilkan si idol Kpop yang mereka temui, alias 2 personil Shinee. Ini belum termasuk story Instagram mereka ya.

Mundur ke belakang lagi, kita juga sempat dihebohkan dengan “keberhasilan” dara asli Indonesia, Dita Karang, menjadi anggota girlband Kpop Secret Number.

Jangan lupa juga Siwon Super Junior yang wajahnya nampak di mana-mana, memakan mie instan produk Indonesia dengan rasa ke-Korea-korea-an. Pun BTS dan Blackpink yang dipakai sebagai brand ambassador dari platform jual-beli digital Indonesia.

Jadi, sebenarnya ada apa dengan idol Kpop dan Indonesia?

Mungkin, ini berita bahagia bagi kalian para penggemar Kpop. Ini artinya, mereka, sang artis, idola, dan junjungan kalian semua, tertarik terhadap Indonesia, berikut orang-orang dan budayanya.

Tapi, sadar gak, sebenarnya manajemen para idol Kpop itu paham betul, betapa empuknya rakyat Indonesia Raya ini menjadi sasaran pasar. Kita adalah pasar yang sangat potensial bagi para penjaja hiburan, dan rela mengais kocek berapa saja asal bisa membeli tiket konser, album, merchandise, dan poster foto mereka untuk dipajang di kamar.

Dalam psikologis endek-endekan, perilaku ngefans berat ini tergolong dalam kelainan mental. Bukan saya yang ngomong ya, ini saya dapet di… website-website kesehatan.

Dalam bahasa kerennya, perilaku ini disebut celebrity worship syndrome, alias memuja berlebihan dan punya ikatan secara emosional dengan sang idola. Dengan bahasa yang lebih kekinian, sebut saja bucin.

Tahu sendiri kan, kalau terlalu mencintai seseorang, kita tidak akan rela jika sang idola sakit hati, atau dihina orang lain. Inilah alasan betapa militannya penggemar Kpop saat melakukan twit-war. Dalam versi yang lebih ekstrem karena halusinasi yang berlebihan, beberapa penggemar Kpop ada yang rela melakukan percobaan bunuh diri hanya karena idola memilih keluar dari grup boyband mereka.

Semakin sakit jiwanya kita membela sang idola, semakin banyak pula pundi-pundi uang yang dihasilkan manajemen artis di negeri jauh sana.

“Loh tapi Bund, saya cuma sekadar ngefans. Gak pernah beli album apalagi tiket konsernya mereka”

Betul. Mereka memang tidak sepenuhnya berhasil membuat kita jadi budak konsumtif produk-produk mereka. Tapi paling tidak, mereka berhasil menambah jumlah klik dan share, melumpuhkan algoritma media sosial, dan merajai trending topic.

Kita tahu kan betapa ributnya konten Korea memenuhi hashtag-hashtag trending yang sebenarnya tak ada hubungannya dengan substansi utama? Yang justru menjauhkan kita dari informasi sesungguhnya?

Jangan-jangan, Korea-koreaan ini tak hanya menutup mata dan hati kita pada idola lain, tapi juga menutup kesempatan dan kepercayaan kita, bahwa media digital mencerdaskan kita dengan berbagai alternatif wawasan.

Ya tapi mau gimana lagi. Tak ada yang bisa mengalahkan cinta fans kepada idolanya. Mereka betul-betul sudah terlanjur mencinta.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks