Dilema Hidup Pembagi Brosur 0 802

Petugas pembagi brosur di pinggir jalan barangkali lelah menghadapi warga seperti saya. Jika sudah di atas kendaraan, apalagi nyetir sendiri, bagai iklan sedot WC di tiang-tiang listrik, mas-mbak pembagi brosur iklan di pinggir jalan hanyalah angin lalu bagi saya.

Sembari mangkel, saya kerap mengutuki mereka. Secara sepihak menjatuhi vonis atas mereka sebagai penyebab kecelakaan di jalan – bayangkan saja mas’e kalau menyodorkan brosur bisa brutal sampai ke depan muka unyu saya, padahal motor sedang digeber kencang.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kita – sebagai sasaran empuk brosur jalanan – harus menerima dua sampai empat lembar sekaligus. Tujuannya agak mulia: agar brosur di tangan mas’e cepat habis dan bisa segera pulang membawa rupiah atas hasil kerjanya. Tapi yang ada di benak saya: lha ini saya disuruh ikut bagi-bagi brosur sekalian apa gimana?

Entah dengan briefing model seperti apa, pasti jauh dari nalar dan kesadaran mas-mbak’e, iklan cetak macam brosur – mulai dari jasa les-lesan, tukang kunci, pembesar alat vital, sampai promosi café baru yang menjunjung tinggi nilai ‘gak enak gak apa-apa, yang penting mahal’ – telah dihitung dengan rumus marketing secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagaimana brosur sebagai bagian dari advertising yang pengertiannya berbayar untuk ruang dan waktu yang telah digunakan. Artinya, brosur di jalanan itu tidak main-main. Tentu membutuhkan hitung-hitungan njelimet untuk menyesuaikan berapa lembar brosur yang hendak dicetak dengan jangkauan target market yang disasar. Ini semua juga ada hubungannya dengan pemilihan media kertas cetak, di mana ia dibagikan, dan citra produk seperti apa yang hendak diraih si pembuat iklan.

Dengan ini, praktik membagikan brosur sampai ndobel-ndobel tentu tidak bijak, tidak sesuai dengan hitung-hitungan marketing.

Tapi di luar omelan betapa muaknya kita tentang perilaku pembagian brosur ini, mbok ya kita ini juga sadar, betapa masam tantangan yang dihadapi para pembagi brosur ini.

Pertama, seperti cerita penulis di pembuka tulisan, pembagi brosur adalah pekerjaan menantang maut. Jika Dewi Fortuna tidak sedang memihak pada mas-mbak’e, minimal tangan ketenggor motor ndablek seperti saya yang tetap melaju kencang mengabaikan niat baik mereka.

Kedua, sudah bertaruh nyawa, imbalannya tak seberapa pula. Untuk setiap lembar brosur yang dibagikan, kira-kira tangan dan keringat mereka dijatah dua ratus perak. Jika dalam sehari para penyedia jasa penyebar brosur ini paling tidak membawa 200 lembar brosur, kira-kira 40 ribu rupiah di tangan, menafkahi hari itu.

Ah, tapi di era banjir informasi ini, para freelancer ini seharusnya tak perlu khawatir. Ada berbagai biro yang mampu menampung mas-mbak’e. Di kota besar seperti Surabaya misalnya, lowongan jasa sebar brosur menjamur di mana-mana, ketik saja di Google (barangkali pembaca sedang krisis ekonomi dan mau menggunakan tips ini).

Ketiga, di zaman yang serba digital ini, siapa sih yang masih mau membaca iklan cetak? Iklan online yang tiba-tiba muncul di gawai dan mengganggu aktivitas scrolling saja kita abaikan, apalagi brosur jalanan yang cara ngasihnya saja minim etika.

Kita mesti paham betul, bahwa selain dibayar dengan uang, mas-mbak’e sebenarnya juga butuh senyuman dari kita yang menerima brosur darinya. Apalagi di bulan nan suci ini, senyummu mbok ya jangan dihemat.

Paling tidak, mari kita sambut uluran brosurnya dengan hati bersih! Berikan senyum simpul saja, jangan lupa katakan terima kasih. Dua tiga langkah dari tempat mas-mbak’e membagikan tadi, baca dengan sungguh apa isi brosurnya. Tunjukkan betul ekspresi bahagia seakan informasi yang ada dalam brosur begitu penting menyangkut hajat hidup dan masa depan Anda. Pastikan terlebih dahulu bahwa aksi Anda ini masih dalam jangkauan mata pembagi brosur. Lakukan ini, paling tidak sebelum Anda membuangnya di tempat sampah (atau di sembarang tempat).

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagaimana Seharusnya Kita Tanggapi Pelantikan Menteri 0 294

Kita semua setuju 2 hal ini sebagai persoalan utama bangsa:
1. Mau keluar dari grup Whatsapp, tapi sungkan, akhirnya di-mute aja
2. Pilpres-pilpresan nan sangat melelahkan

Bagaimana tidak? Proses dari penentuan capres-cawapres, kampanye, pemilu, sampai finalisasi kabinet memakan waktu lebih dari 1 tahun, terlama sepanjang sejarah. Pemilu periode ini memang yang terbesar korbannya, yang harus dicatat dalam sejarah.

Pun harus dicatat pula bahwa kali ini, baik eksekutif maupun legislatif pilihan kalean semuah, diisi orang-orang dari partai sama di pucuk pimpinannya. Kecuali MPR, yang yaaah… ketuanya juga dari kubu koalisi.

Beli 01, gratis 02. Begitu katanya arek-arek di social media. Prabowo, capres 2 periode berturut-turut yang sangat macho dan mantap jadi oposisi selama ini, kini “ciut”, memilih “bertahan hidup”, naik satu “gerbong (MRT)” yang sama dengan lawannya, Jokowi, di Kabinet Indonesia Maju.

Keputusan petinggi Gerindra tersebut, yang jelas menyuratkan sikap politik partai ini, menghasilkan reaksi dari rakyat. Ada yang kecewa berat, ada pula yang kecewa sangat berat.

Yang kecewa-kecewa itu kebanyakan mengimpikan Prabowo, pahlawan junjungannya itu, tetap jadi oposisi saja. Tentu tetap dengan semangat mempertahankan check and balances agar tetap berjalan di pemerintahan. Eh, tapi ujung-ujungnya si doi luluh juga, merapat ke sisi istana.

Walau begitu, Prabowo dan kawan-kawan Gerindra-nya berjanji untuk tetap kritis walau mendukung pemerintahan. Sungguh sebuah semangat dan prinsip yang patriotik. Walau kita tak tahu, apa dan bagaimana definisi serta batasan “sikap kritis” itu.

Tak hanya Prabowo, sejumlah deretan menteri yang diumumkan 3 hari sesudah pelantikan Jokowi-Ma’ruf ini, membuat netijen kaget… dan nyinyir.

Nadiem Makarim, yang tak punya bekgron tersertifikasi di bidang pendidikan dan kebudayaan itu, justru jadi Mendikbud. Zainudin Amali, yang suka jalan pagi dan berenang itu, ditunjuk jadi Menpora. Bu Susi, putri laut kebanggaan rakjat itu, tak melaju lagi dan alih-alih kursinya diisi Edhy Prabowo, waketum Gerindra.

Hal paling memuakkan bagi saya bukanlah soal masih banyak deretan nama lain yang mengejutkan. Tapi, karena kita semua merasa tiba-tiba paling mahir menganalisa wawasan dan kapabilitas bapak-ibu menteri ini. Kita tiba-tiba menjadi paling ahli di antara yang ahli.

Seluruh warga dunia maya kini merasa punya kekuatan untuk mengemukakan pendapatnya. Nge-twit, bikin status, bikin video klarifikasi, membuat daftar nama ideal yang seharusnya dipilih Jokowi. Tak peduli itu masih bursa calon, atau bahkan setelah pelantikan sekalipun.

Kenapa kok yang ini gak dipertahankan dan malah didepak? Padahal bagus banget loh kerjanya.”

“Kenapa Jokowi tetep milih si ini sih?

Ocehan-ocehan kayak begini bahkan tak hanya muncul di linimasa media sosial, atau bertengger di grup Whatsapp yang kita sungkan buat keluarnya.

Masih mending kalau argumen yang disampaikan didasari analisis track record dan tantangan bidang yang bersangkutan dalam kondisi terkini. Lah wong kadang penilaiannya sangat subjektif. Bahkan terkesam memendam dendam kesumat pada sebagian orang yang sempat dikenal secara personal.

Seberapa jauh sih kalian kenal mereka dan pemetaan kursi menteri? Seberapa jauh pengamatan kalian pada latar belakang situasi kondisi, persoalan, dan tantangan bidang-bidang kementerian?

Mereka yang hari ini telah dilantik telah menunjukkan performa terbaiknya. Entah berhasil berprestasi di periode sebelumnya, hingga dipinang jadi menteri lagi. Entah karena telah bertekun dalam bidang profesinya. Atau karena pandai memanfaatkan resources dan lobi-lobian politik.

Satu-satunya cara untuk bisa menilai menteri sesungguhnya hanya dari hasil karyanya nanti. Pun reshuffle-reshuffle-an tak bisa jadi ukuran. Siapa yang pernah tahu kalau reshuffle bukan semata-mata karena “kemandulan” produktivitas menteri? Bisa jadi kan karena konsensus dan sikut-menyikut koalisi-oposisi parpol?

Lantas apa yang bisa kita lakukan sebagai bangsa? Apakah diam saja dan tak boleh proaktif mengawal pemerintah?

Demokratis boleh, sok tahu jangan. Ati-ati aja. Negara mana sih yang suka rakyatnya terlalu pinter? Apa-apa yang ‘terlalu’ itu gak baik bagi kesehatan.

Pada akhirnya, hidup bernegara ini memang harus dihadapi dengan santuy. Jangan terlalu banyak mikiri! Apa gak capek 1 tahun belakangan ini ngurusi Jokowi terooooos?

Mari kita senderkan punggung, nonton sertijab menteri-menteri ini dari layar kaca! Sembari menikmati buah salak yang dikupas Nia Ramadhani.

 

Foto: Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia (setneg.go.id)

Memilih Pekerjaan Pertama: Antara Idealisme dan Berpikir Realistis 0 271

Setelah sekian lama tidak menoreh sesuatu di Kalikata dan tidak ikut hura-hura aksi tolak RKUHP, sebenarnya penulis sungkan karena maunya langsung ngomel dan curcol. Penulis lain baru-baru ini membagi kegundahannya. Ternyata saya sadar, saya pun memiliki kegundahan yang hampir sama, tidak jauh-jauh dari pekerjaan pertama.

Sebagai generasi muda harapan bangsa, barang tentu kami bakal beroleh pertanyaan semacam: ‘Habis lulus, kerja di mana?’ Seolah berdosa, kami mentok menjawab setengah tertawa, ‘Lagi proses ngelamar,’ atau ‘Belum dulu deh, hehe,’ atau ‘Belum ada yang menerima.’

Syukur-syukur jika si penanya tadi hanya membalas dengan satu suku kata ‘Oh…’, meski kadang dengan nada yang bisa buat kami mati gaya. Kalau kurang bejo, bisa jadi kami bakal dicecar seperangkat pertanyaan yang hendak menganalisis: sakjane opo toh masalahe sampek awakmu iki gak ndang ketrimo kerjo?

Beruntungnya saya tidak sempat dibegitukan. Sebabnya, sebelum wisuda saya sudah dapat pekerjaan. Hanya saja, begitu orang sekitar tahu bahwa saya bekerja di perusahaan majalah cetak berbahasa Jawa (suer gak niat spoiler, tapi inisialnya ‘PS’), berkerutlah dahi mereka. Tak tanggung-tanggung, keluarga besar juga ikutan nyinyir. Semua serempak bertanya: ngapaiiiiiin toh milih kerja kok di perusahaan tua yang otw bangkrut? Emang majalahnya masih ada yang baca?

Oke. Saya paham, kebanyakan dari nyinyirers itu seyogyanya hanya merasa eman saja. Sebab mereka tahu, saya lulus dengan predikat cukup sangat memuaskan. Sehingga wajar jika terbangun ekspektasi: pemuda berpresta-shit macam saya sudah pasti diterima seandainya melamar ke perusahaan besar. Padahal yo gak mesthi… ‘Ente saha?’ tanya perusahaan.

 

Jawaban Pertama Saya

Kepada handai tolan yang meng-eman-kan pilihan saya, melalui tulisan ini dengan tegas saya sampaikan bahwa dengan bekerja di perusahaan majalah cetak ini, saya TIDAK membuang-buang waktu. Bahkan, mewakili siapapun di luar sana, yang kini tengah bekerja di bidang yang tidak disetujui oleh orang tua maupun tetangga-tetingginya, saya menyatakan bahwa TIDAK ADA waktu dan tenaga mereka yang terbuang, selama mereka mencintai pekerjaan mereka.

Percayalah sodara-sodara, tidak semua orang punya rasio kesuksesan seperti sebagian besar orang di dunia: uang… dan kekuasaan. Ada orang-orang yang dibanding berlari sekuat tenaga untuk jadi yang terbaik, ia justru membiarkan dirinya mengalir dalam arus yang dianggapnya tak mungkin bisa ia kuasai, dan malah bahagia berada di dalamnya. Selama pilihan hidup itu tak menenggelamkannya dan takmencekat napas orang lain, tentunya sah-sah saja bukan?

Justru dengan mendakwa mereka sebagai golongan yang tak layak berkompetisi, sesungguhnya kitalah yang gagal melihat sisi mengagumkan dalam diri mereka. Merasa berkecukupan itu tidak syaratnya tidak muluk-muluk kok, gengs. Merasalah cukup, beres.

Kemudian jika menggunakan standar umum itu untuk melihat milenial yang baru jadi sarjana atau diploma, mungkin kebanyakan orang lupa bahwa selalu ada opsi untuk menjadi optimis, dengan cara percaya bahwa hidup kami ini sakjane jek panjaaaang perjalanannya.

Tentu tak masalah jika di tahun-tahun pertama setelah kelulusan, kami mencicip lingkungan pekerjaan yang beraneka rupa; tidak mesti langsung nyemplung di perusahaan “bonafide”. Pengalaman-pengalaman unik, apapun itu, akan selalu jadi referensi berharga di masa mendatang. Tapi memang tak mungkin disangkal, dunia makin kompetitif. Selagi mampu dan tersedia, segera rebut semua kesempatan yang terbuka. Semakin muda, semakin bagus.

Lantas, jika kembali pada pilihan saya memilih pekerjaan pertama ini, saya ibaratkan fase ini sebagai masa belajar sekaligus masa refreshing. Menjadi—sombong syek—lulusan baru yang langganan terganjar prestasi akademik sejak SD, saya dituntut untuk selalu menjadi yang terbaik, meraih juara, tralala trilili… Sempat ketika dahulu saya mulai menunjukkan gelagat “lelah ambis” saat sekolah menengah, saya ingat betul salah satu guru mbelani bertanya ke ibu saya, “Anak ibu kenapa sekarang seperti terjun ke bawah meja?”

Jujur saja setelah itu, saya justru jadi lebih tertarik dan memutuskan menjajal dunia di luar akademik. Menjalani keputusan itu mempertemukan saya dengan berbagai hal yang membuat saya lebih mudah merasa bahagia. Semua tanpa perlu menjadi yang terbaik di dalamnya. Ternyata, kalau sudah bahagia, segala tugas sekolah hingga kuliah rasanya semakin mudah dijalani. Malahan, prestasi akademik jadinya tak pernah benar-benar lepas dari tangan saya, selalu saja didapat tanpa harus diekspektasikan.

Sama seperti pekerjaan, sesekali berada di lingkungan yang tidak terlalu kompetitif itu tak masalah. Bekerja di perusahaan dengan cuan tak seberapa, bahkan di perusahaan atau lembaga pengabdian nirlaba sekalipun, sama sekali bukan soal. Justru semakin untunglah mereka yang demikian. Sebab selagi memenuhi kepuasan batin, mereka juga sedang mengerem ambisi prestis-materialis, sembari menambah pengalaman dan koneksi.

Bekal-bekal ini bisa jadi berguna, sekiranya mereka ingin melanjutkan perjalananke lingkungan baru. Hati dan pikiran yang sudah fresh setelah cukup “berlibur” dari hentakan-hentakan kompetisi dan stabilnya roda rutinitas nantinya pasti mampu memberi inovasi-inovasi yang tak kalah segar.

Amin.

 

Jawaban Saya yang Kedua

Nantikan di tulisan saya selanjutnya.

 

Foto: Kaique Rocha (Pexels)

Editor Picks