Dilema Hidup Pembagi Brosur 0 1934

Petugas pembagi brosur di pinggir jalan barangkali lelah menghadapi warga seperti saya. Jika sudah di atas kendaraan, apalagi nyetir sendiri, bagai iklan sedot WC di tiang-tiang listrik, mas-mbak pembagi brosur iklan di pinggir jalan hanyalah angin lalu bagi saya.

Sembari mangkel, saya kerap mengutuki mereka. Secara sepihak menjatuhi vonis atas mereka sebagai penyebab kecelakaan di jalan – bayangkan saja mas’e kalau menyodorkan brosur bisa brutal sampai ke depan muka unyu saya, padahal motor sedang digeber kencang.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kita – sebagai sasaran empuk brosur jalanan – harus menerima dua sampai empat lembar sekaligus. Tujuannya agak mulia: agar brosur di tangan mas’e cepat habis dan bisa segera pulang membawa rupiah atas hasil kerjanya. Tapi yang ada di benak saya: lha ini saya disuruh ikut bagi-bagi brosur sekalian apa gimana?

Entah dengan briefing model seperti apa, pasti jauh dari nalar dan kesadaran mas-mbak’e, iklan cetak macam brosur – mulai dari jasa les-lesan, tukang kunci, pembesar alat vital, sampai promosi café baru yang menjunjung tinggi nilai ‘gak enak gak apa-apa, yang penting mahal’ – telah dihitung dengan rumus marketing secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagaimana brosur sebagai bagian dari advertising yang pengertiannya berbayar untuk ruang dan waktu yang telah digunakan. Artinya, brosur di jalanan itu tidak main-main. Tentu membutuhkan hitung-hitungan njelimet untuk menyesuaikan berapa lembar brosur yang hendak dicetak dengan jangkauan target market yang disasar. Ini semua juga ada hubungannya dengan pemilihan media kertas cetak, di mana ia dibagikan, dan citra produk seperti apa yang hendak diraih si pembuat iklan.

Dengan ini, praktik membagikan brosur sampai ndobel-ndobel tentu tidak bijak, tidak sesuai dengan hitung-hitungan marketing.

Tapi di luar omelan betapa muaknya kita tentang perilaku pembagian brosur ini, mbok ya kita ini juga sadar, betapa masam tantangan yang dihadapi para pembagi brosur ini.

Pertama, seperti cerita penulis di pembuka tulisan, pembagi brosur adalah pekerjaan menantang maut. Jika Dewi Fortuna tidak sedang memihak pada mas-mbak’e, minimal tangan ketenggor motor ndablek seperti saya yang tetap melaju kencang mengabaikan niat baik mereka.

Kedua, sudah bertaruh nyawa, imbalannya tak seberapa pula. Untuk setiap lembar brosur yang dibagikan, kira-kira tangan dan keringat mereka dijatah dua ratus perak. Jika dalam sehari para penyedia jasa penyebar brosur ini paling tidak membawa 200 lembar brosur, kira-kira 40 ribu rupiah di tangan, menafkahi hari itu.

Ah, tapi di era banjir informasi ini, para freelancer ini seharusnya tak perlu khawatir. Ada berbagai biro yang mampu menampung mas-mbak’e. Di kota besar seperti Surabaya misalnya, lowongan jasa sebar brosur menjamur di mana-mana, ketik saja di Google (barangkali pembaca sedang krisis ekonomi dan mau menggunakan tips ini).

Ketiga, di zaman yang serba digital ini, siapa sih yang masih mau membaca iklan cetak? Iklan online yang tiba-tiba muncul di gawai dan mengganggu aktivitas scrolling saja kita abaikan, apalagi brosur jalanan yang cara ngasihnya saja minim etika.

Kita mesti paham betul, bahwa selain dibayar dengan uang, mas-mbak’e sebenarnya juga butuh senyuman dari kita yang menerima brosur darinya. Apalagi di bulan nan suci ini, senyummu mbok ya jangan dihemat.

Paling tidak, mari kita sambut uluran brosurnya dengan hati bersih! Berikan senyum simpul saja, jangan lupa katakan terima kasih. Dua tiga langkah dari tempat mas-mbak’e membagikan tadi, baca dengan sungguh apa isi brosurnya. Tunjukkan betul ekspresi bahagia seakan informasi yang ada dalam brosur begitu penting menyangkut hajat hidup dan masa depan Anda. Pastikan terlebih dahulu bahwa aksi Anda ini masih dalam jangkauan mata pembagi brosur. Lakukan ini, paling tidak sebelum Anda membuangnya di tempat sampah (atau di sembarang tempat).

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alasan Mengapa Penampilan Kim Kardashian di MET Gala 2021 Patut Diacungi Jempol 0 326

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

 

Sempat batal diselenggarakan setahun yang lalu karena pandemi, akhirnya acara fesyen paling eksklusif, MET Gala, kembali hadir tahun ini. Diselenggarakan pada 13 September di Metropolitan Museum of Arts, New York, MET Gala 2021 mengusung tema “American Independence“, sehingga tamu undangan bisa bebas berdandan apa saja pokoknya sesuai tema.

Seperti biasa, MET Gala selalu mengundang perhatian karena dihadiri oleh bintang-bintang internasional dan menjadi ajang bagi desainer papan atas untuk  pamer kreativitas. Bahkan saking hebohnya, sampai-sampai muncul kekhawatiran bahwa MET Gala akan overshade acara New York Fashion Week yang juga digelar berdekatan dengan acara yang diketuai Anna Wintour tersebut.

Salah satu selebritis yang mengundang perhatian publik adalah Kim Kardashian. Biasa tampil seksi, kini ia secara ekstrem berpenampilan tertutup. Literally.

Putri dari Kris Jenner ini mengenakan pakaian serba hitam berbahan kaus dari Balenciaga hingga menutupi semua kulitnya. Hanya rambut super panjangnya yang terlihat.

Penampilan nyeleneh Kim ini sontak menjadi bahan lelucon bagi publik. Banyak yang menyamakannya dengan Dementor yang ada di film Harry Potter. Selain itu, banyak orang juga membuat Kim Kardashian menjadi bahan meme di media sosial. Kasihan!

Meski banyak diejek, saya menilai penampilan Kim Kardashian patut diacungi jempol. Bahkan Bryan Boy, salah satu fashion influencer ternama juga menilai demikian. Bahkan, Diet Prada juga memasukkan kakak Kendall Jenner ini dalam dereran Best Dressed.

Jadi sebelum menghina Kim Kardashian, coba baca dulu penjelasan saya kenapa penampilan Kim yang bikin kita ikut selempeken ini keren abis.

  1. Menarik Perhatian

Tidak ada aturan kalau kamu harus tampil cantik dan stylish saat menghadiri MET Gala. Berbeda dari acara red carpet lainnya, para tamu diharapkan untuk tampil seunik mungkin, asalkan sesuai tema. Semakin nyentrik, semakin menarik perhatian, semakin jadi bahan perbincangan, semakin bagus!

Justru penampilan aneh macam Kim Kardashian inilah yang membuat kita selalu menunggu MET Gala setiap tahunnya. Publik menjadi penasaran dan menantikan outfit-outfit cetar nan mentereng dari para bintang yang tidak dapat ditemui di acara lain. Dengan menjadikan Kim dan Balenciaga sebagai buah bibir di media sosial, saya menilai kostum Dementor milik Kim MET Gala worthy banget!

 

  1. Sesuai Tema

Mengenakan gaun menyerupai T-shirt dengan tambahan “ekor”, Kim jelas mengikuti tema yang ada. T-shirt merupakan item fesyen yang ditemukan dan dipopulerkan oleh orang Amerika, sehingga bisa dibilang penampilan bintang “Keeping Up With The Kardashians” ini sudah Amerika banget!

Selain “Amerika” banget karena sejarahnya, outfit dari Kim juga sangat merefleksikan kebebasan.

T-Shirt alias kaus oblong pada awalnya merupakan pakaian dalam tentara Inggris dan Amerika pada abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Item fesyen ini mulai populer setelah dikenakan aktor legendaris Marlon Brando pada tahun 1947 ketika ia memerankan tokoh Stanley Kowalsky dalam pentas broadwayA Street Named Desire” di Amerika Serikat.  Sejak itu, T-shirt booming di kalangan anak muda. Meski dianggap tidak sopan bagi orang-orang tua, para pemuda Amerika Serikat menjadikannya simbol kebebasan dan juga bagian dari identitas mereka.

Baik Kim maupun Balenciaga secara kreatif menginterpretasi tema bahwa American Independence tidak melulu terinspirasi dari bendera dan juga patung Liberty saja.

 

  1. Contoh Baik Taat Prokes

Perlu diingat bahwa event tahunan ini diselanggarakan di tengah-tengah pandemi Covid-19. Kim Kardashian patut dipuji dengan mengenakan outfit yang sesuai dengan prokes: pakai masker, kurangi kontak langsung dengan kulit, dan pembatasan sosial. Sayangnya Kim tinggal di Amerika, andai saja ia tinggal di Indonesia, pasti sudah segera dilantik jadi Duta Prokes Cegah Covid-19 hehe…

Kim tahu benar bahwa masker tidak terlalu ampuh melindunginya dari paparan virus. Masker masih saja menyisakan celah, terutama di area hidung. Untuk itu, Kim menutupi keseluruhan wajahnya dengan masker berbahan mirip stocking berwarna hitam. Alhasil, dia tidak perlu repot-repot mengenakan masker dan face shield.

Tak hanya itu, Kim juga memikirkan kehigienisan dengan menutup seluruh kulit di area tangan dan kaki. Sehingga, saat tamu lain bersalaman atau tidak sengaja menyentuh Kim, mereka tidak bersentuhan secara langsung. Penularan Covid-19 pun dapat diminimalisasi.

Yang terakhir, outfit Kim ini menjaganya dan para tamu lainnya untuk melakukan pembatasan sosial. Outfit serba tertutup nan horor ini membuat orang jadi malas rumpik bersama Kim, sehingga orang akan secara otomatis menjaga jarak dengannya. Apalagi, acara ini diselenggarakan pada malam hari, alhasil banyak orang yang jangankan dekat-dekat, melihatnya saja tidak bisa. Menyatu dengan gelapnya malam.

 

  1. Inspirasi Tampil Cetar dengan Budget Seadanya

Last but not least, outfit Kim dapat menjadi inspirasi bagi Pembaca yang ingin tampil mentereng di pesta dengan budget minimalis. Balenciaga tidak perlu bermodal banyak untuk menjadikan Kim Kardashian sebagai pusat perhatian di MET Gala. Cukup dua bahan: kaus dan stocking!

Nah, Pembaca bisa tuh DIY (do it yourself) kaus yang ada. Tinggal beli kain kaus untuk ekor tambahan, lalu dibawa ke penjahit terdekat. Akan lebih bagus kalau Pembaca bisa menjahit sendiri.

Selain bahannya cukup bersahabat di kantong, Pembaca juga tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk menyewa jasa MUA (make-up artist). Banyak perempuan yang rela membayar jutaan rupiah demi menjadi pusat perhatian di pesta. Tetapi, dengan ide outfit dari Kim Kardashian ini, Pembaca tidak usah repot-repot merogoh kocek mendalam, bukan?

Semua Akan Korea Pada Waktunya, Tapi Gak Gini Juga 0 249

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

 

“Semua akan Korea pada waktunya”, begitulah kalimat yang dapat mewakili kondisi masyarakat negara +62.

Sempat menghina K-pop-ers dengan sebutan alay karena dianggap mengidolakan artis-artis negeri ginseng, kini wajah mulus tak bercela para artis Korea ramai kita jumpai di iklan-iklan merek lokal. Bisa dibilang para artis Korea tersebut dijadikan koentji dalam marketing produk dan jasa.

Kapan hari, internet diguncang berita aktris Felicya Angelista yang diwujudkan ngidamnya oleh sang suami untuk video call bersama pemeran Mas Mafia Vincenzo, Song Joong Ki (baca lagi: Wajah Ganteng Song Joong Ki dan Tabiat Penonton Drama Korea).

Usai viral karena dianggap fan yang beruntung, muncullah berita aktor “Space Sweepers” tersebut didapuk sebagai brand ambassador skinker milik Felicya, Scarlett Whitening. Hancik, cuma marketing ternyata. Hampir bersamaan, muncul lagi berita yang menyebutkan bahwa boy group TREASURE akan menjadi brand ambassador bimbingan belajar online “penguasa” stasiun televisi kita, Ruangguru.

Pemilihan artis Korea sebagai brand ambassador merek lokal bukanlah hal baru.  Tahun 2016 silam, aktor “The Heirs” Lee Min Ho didapuk jadi brand ambassador Luwak White Koffie. Kemudian, cara ini diikuti oleh Mie Sedap yang menjadikan Siwon “Super Junior” sebagai brand ambassador-nya untuk mempromosikan mie rasa ayam pedas korea. Lalu, disusul Tokopedia yang membuat kita ter-kamcagiya (kaget) dengan menggandeng boy group terpopuler segalaksi bima sakti dalam promosinya.

Memang menggandeng artis Korea bisa menjadi jalan ninja untuk mempopulerkan merek produk atau jasa. Merek tersebut akan seketika menjadi buah bibir para fans artis Korea, baik membicarakan artis idola mereka atau sangking tajir melintirnya perusahaan tersebut.

Buktinya, permen Kopiko selalu menjadi buah bibir dan viral setiap permen rasa kopi tersebut muncul di adegan-adegan drama Vincenzo dan Mine. Benar-benar tidak rugi setelah menggelontorkan miliyaran rupiah!

Selain menjadi populer, produk atau jasa dijamin akan laris manis setelah memilih artis Korea sebagai bintang iklan mereka. Itu karena kesetiaan para fans artis Korea untuk mendukung artis idola mereka yang tidak dapat diragukan lagi.

Masih ingat kan dengan kasus antre menu BTS Meal dari McDonald’s? Jangankan dijadikan bintang iklan, lha wong barang yang “nampil” di siaran langsung artis Korea saja bisa ludes dibeli para fans.

Mungkin Korean celebrity endorsement bisa menjadi marketing tool yang sangat efektif, tapi mbok ya artisnya disesuaikan dengan mereknya. Misalnya, pemilihan boy group TREASURE sebagai brand ambassador Ruangguru. Jujurly, menurut saya sangat aneh karena boy group ini tidak memiliki sangkut paut dengan dunia pendidikan.

Masih banyak artis yang terkenal memiliki prestasi akademik semasa sekolah seperti Cha Eun Woo “ASTRO” atau Giselle “aespa” yang lebih bisa merepresentasikan merek tersebut.

Dan anehnya lagi, produk dan jasa yang memakai artis Korea tersebut tidak merambah pasar Koerea Selatan. Saya bisa memaklumi Kopiko yang mengeluarkan uang miliyaran rupiah untuk menjadi sponsor beberapa drama korea, karena mereka memang memasarkan kopi tersebut ke sana.

Tapi, bagaimana dengan Scarlett Whitening? Apakah Anda yakin wajah putih mulus Song Joong Ki didapat dari memakai produk tersebut, lha wong produknya aja tidak ada di sana.

Meski menjadi marketing tool yang efektif, saya berharap Korean celebrity endorsement ini tidak dijadikan tren yang “wajib” diikuti. Masih banyak, kok artis Indonesia yang mampu merepresentasikan sebuah merek, apalagi untuk menjadikan iklan menjadi viral.

Contohnya  pemilihan komika Babe Cabita sebagai brand ambassador menjadikan iklan MS Glow menjadi viral. Meski banyak yang sewot karena Babe Cabita kurang ganteng, tapi menurut iklan tersebut sangat realistis dan relatable. Karena, wajah Babe Cabita yang lebih glowing seusai menggunakan produk MS Glow jauh lebih bisa dipercaya dari pada wajah mulus Song Joongki usai menggunakan skinker lokal, hehe.

 

 

Editor Picks