Lidah Bahasa Lokal pada Pilgub Jatim 0 214

Pada 27 Juni, segala pertarungan di 171 daerah di Indonesia telah mengalami puncaknya. Segenap mesin partai hanya tinggal berdoa dan berjaga di tiap TPS, sementara si ‘tokoh utama’ (maksudnya para calon pemimpin daerah) justru siap menghadapi pertarungan selanjutnya – antara bersiap menduduki puncak pimpinan atau melawan rasa kekecewaan menerima kekalahan.

Penulis ingin sedikit kilas balik ke masa debat Pilgub Jatim digelar untuk terakhir kalinya 23 Juni silam. Dalam debat terbuka pamungkas tersebut, seperti biasa pasangan Khofifah-Emil dan Gus Ipul-Puti saling berseteru, khususnya mengulik habis tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik.

Pertarungan yang masih tetap seru seperti debat-debat sebelumnya lantas sempat membuat rakyat menghadapi dilema. Mau menjadi saksi debat calon pemimpinnya atau Belgia vs Tunisia yang berlaga dari lapangan rumput Moskow.

Jika pilihan pembaca jatuh pada tontonan engkel-engkelan pucuk teratas pasukan Wis Wayahe vs Kabeh Sedulur, pembaca tentu turut menyaksikan sesi terakhir debat menggunakan bahasa Jawa. Barangkali, Mbak Brigita Manohara, sang moderator, tak punya masalah dalam membacakan pertanyaan. Lidah doi tentu fasih, apalagi menurut pengakuannya yang pernah membawakan berita berbahasa Jawa Timur-an sebelumnya.

Yang jadi soal tentu bagi para peserta yang sedang berlaga. Bagi Mas ‘Ganteng’ Emil Elestianto Dardak dan Mbak Puti Guntur Soekarno yang tak bisa memungkiri takdir sebagai pendatang dari Jakarta, lebih baik memilih diam seribu bahasa. Percayakan saja kepada para calon gubernur, Khofifah yang asli Surabaya dan Saifullah Yusuf kelahiran Pasuruan. Tentu beliau berdua bagai mobil meluncur di jalan tol jika sudah bersentuhan dengan bahasa lokal Jawa Timur.

Namun, sayang disayang, ekspetasi muluk-muluk yang demikian harus dikurung rapat. Nyatanya Khofifah dan Gus Ipul nampak cukup kesulitan menjelentrehkan ide mereka dengan bahasa lokal yang baik dan benar. Bahasa Indonesia atau ‘gado-gado’ antara krama dan ngoko harus terselip di tengah-tengahnya.

Kita tentu tidak boleh suudzon dan terlalu dini menjatuhkan vonis negatif terhadap mereka. Tentu ada banyak faktor yang membuat pembaca harus mengapresiasi betul segala upaya yang dikeluarkan keduanya ketika menjawab pertanyaan. Banyak penyebab pula yang melatarbelakangi kebingungan keduanya dalam merangkai kata.

Pertama, sudah terlalu lama kemampuan berbahasa lokal disimpan rapat dalam peti harta karun keduanya. Khofifah sendiri sudah mengadu nasib di perpolitikan Jakarta sejak tahun 90an sebagai anggota DPR hingga menteri. Gus Ipul pun tak jauh berbeda. Sebelum menjalani dua periodenya mendampingi Pakde Karwo di JaTim, dirinya juga beradu di Senayan dan mendapuk jabatan menteri.

Selain itu, selalu berkecimpung di ranah formal, rapat kenegaraan, sambutan, pidato, hingga tampil di layar kaca nasional tidak pernah mengasah kembali kemampuan berbahasa lokal ini. Tak apalah jika lupa sedikit-sedikit!

Kedua, para calon gubernur ini barangkali bingung menentukan bahasa Jawa mana yang harus dipergunakan. Apakah dialek Arekan atau Kulonan. Apakah berbahasa yang berkiblat Madura, atau memihak Tengger, Kangean, Osing yang cukup minor penggunanya. Iya, bahasa Jawa Timur sendiri sudah beraneka ragamnya.

Lantas, bahasa mana yang harus digunakan dalam ajang ‘unjuk gigi’ untuk menarik hati 38 juta umat Jawa Timur? Dialek mana yang sekiranya sungguh merepresentasikan Jawa Timur banget dan tidak membuat penutur lainnya iri hati? Sekali salah pilih, netjien yang maha-tahu tentu habis-habisan menghujat. Aih, susah nian mau jadi gubernur!

Di luar itu, yang menjadi perhatian bagi kita semua adalah wacana membawa bahasa lokal dalam debat publik Pilkada. Penulis secara pribadi melihat sesi berbahasa lokal harus selalu dimasukkan sebagai salah satu sesi, seperti yang diawali Pilgub Jatim.

Bagaimana tidak, kemahiran berbahasa lokal juga turut membuktikan apakah benar calon pemimpin yang digadang adalah asli putra daerah. Ah, tapi trennya sekarang kan plotting calon pemimpin berdasarkan kapasitas dan sekenanya partai politik. Jadi, coba kita geser ke alasan berikutnya.

Kemampuan berbahasa lokal yang ditunjukkan dalam debat publik sesungguhnya juga mencerminkan hasil pendekatan calon pemimpin dengan yang akan dipimpinnya 5 tahun ke depan. Bahasa Indonesia formal, apalagi ditambah penjelasan data angka yang njelimet dalam debat barangkali hanya bisa dipahami masyarakat kota dan manusia-manusia berpendidikan. Lalu, pada siapa tanggung jawab harus dilemparkan untuk menjelaskan janji kampanye kepada rakyat kecil di pedesaan yang gak teteh berbahasa Indonesia? Apakah tim sukses kampanye? Apakah Ivan Lanin? Apakah superhero yang mati di Infinity War?

Hanya bahasa lokal lah yang dapat menjembatani apa maunya mbah-mbah di rumah reyot tak berlistrik pelosok desa sana dengan janji manis calon pemimpin daerah. Jika tak pakai bahasa lokal, dengan apakah para calon pemimpin ini mendekati rakyat? Apakah dengan kaos dan stiker? Apakah dengan Via Vallen dan Anang Hermansyah? Apakah dengan ‘uang kaget’ ketika fajar menyingsing?

Dalam hemat penulis, kemampuan bersilat lidah di panggung debat publik memang perlu. Apalagi kemampuan merangkai bunga bahasa dalam barisan visi misi, jangan sampai absen. Tambahkanlah kemampuan menguasai bahasa lokal sebagai bekal. Hati pakdhe dan bulik manakah yang tak berhasil dipanah jika para calon penguasa ini mampu ngopi bareng sambil bertutur bahasa sehari-hari mereka?

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagaimana Sebaiknya Kita Mengenang Minggu, 13 Mei 2018? 0 310

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Menentukan Bingkai Untuk Mencatat Sejarah

Hemat penulis, Minggu, 13 Mei 2018 kemungkinan besar akan melekat di ingatan warga Surabaya dan Indonesia. Mungkin juga kemudian akan diperingati dengan emosional dan mengharu-biru setiap tahunnya mulai dari sekarang. Mungkin pula dengan mengheningkan cipta, teatrikal atau entah akan seperti apa.

Mungkin saja.

Hanya kemudian, akan diingat dan diperingati sebagai apa dan bagaimana menjadi cukup penting untuk dijadikan bahan pikir. Apakah Minggu, 13 Mei 2018 akan diingat sebagai hari dimana Surabaya dan Indonesia diguncang bom teror tertubi-tubi, yang lantas membuat warganya takut dan terpecah belah?

Atau kemungkinan lain, dimana Minggu, 13 Mei 2018 akan diingat sebagai hari barisan kemanusiaan Surabaya dan Indonesia bersatu dan bangkit dalam semangat keberanian dan bersama mengecam kebiadaban terorisme?

Menurut penulis, ini adalah pilihan genting dan krusial untuk segera diambil. Mengapa? Karena penting untuk menentukan bagaimana cara kita mengingat Minggu 13 Mei 2018 oleh sebab, tentu ingatan itu akan berkorelasi langsung dengan sikap. Sikap yang nantinya akan menentukan seperti apa dan bagaimana kita ke depan. Sikap yang akan membentuk bagaimana sejarah tercatat.

Awal mulanya berakar dari ingatan yang kita bingkai hari ini. Kemudian, bagaimana sebaiknya kita membingkai ingatan itu?

Yang Terjadi Hari Itu

Menurut penulis ada beberapa hal yang bisa membantu kita menentukan pilihan itu, berangkat dari apa saja yang terjadi di Minggu pagi pukul 06.30 di Gereja Santa Maria Tak Bercela (SMTB), GKI Diponegoro, dan GPPS Sawahan. Tiga bom bunuh diri meledak di tiga gereja itu. Bersusul-susulan dalam jeda tiga puluh menit. Korban meninggal tercatat 13 orang dan puluhan lain luka-luka.

Rombongan Presiden Joko Widodo bersama Kapolri Tito Karnavian, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, Din Syamsuddin, Mahfud MD, dan Wiranto langsung terbang dari Jakarta dan meninjau gereja-gereja Surabaya yang diledakkan. Semuanya mengecam kebiadaban terorisme dan mengimbau agar masyarakat tidak takut. Didampingi pula Tri Rismaharini dan Soekarwo saat memberi pernyataan di RS Bhayangkara pada (13/5) sore.

Selang sehari, Kapolri Tito Karnavian memastikan ketiganya adalah lanjutan kasus kerusuhan di Mako Brimob, Jakarta yang selidik punya selidik berafiliasi pula dengan gerakan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Jamaah Ansharut Tauhid, pendukung utama ISIS di Indonesia.
Pelaku pengeboman adalah keluarga Dita Oepriarto dan Puji Kuswanti beserta empat orang anak mereka. Dita adalah ketua Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya. Ia baru pulang dari Suriah, dan diketahui bertempat tinggal di Wonorejo Asri Blok K/22, Rungkut, Surabaya.
Hingga malam turun pukul 21.30, sebuah bom teror lain meledak di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Esok harinya, Senin 14 Mei 2018, kembali terjadi peledakan bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya. Berselang beberapa saat, pecah baku tembak antara polisi dan komplotan teroris di kawasan Urang Agung dan Puri Maharani  Sidoarjo.

Soal kronologi yang lebih mendetail, pembaca tentulah sudah mahfum. Media apapun mengabari kita dengan breaking news yang terus-menerus. Penulis yakin, pembaca Kalikata pasti  mengikuti apa yang terjadi.

Lalu apa?

Soal Menentukan dan Membentuk Bingkai

Kembali pada tujuan tulisan ini, bagaimana kita membingkai segala rangkaian kejadian teror ini untuk kemudian kita ingat?

Tentu saja harus kembali dari apa yang terjadi pula di Minggu, 13 Mei 2018. Tidak hanya kekejian, tapi kemanusiaan pun tersaji begitu indah dan mengharukan kemarin. Membantu kita menentukan bingkai sejarah, dan membentuk ingatan yang harus dirawat.

Karena perlu kita ingat, selain para pelaku pengeboman, keberadaan pahlawan-pahlawan kemanusiaan yang juga gugur kemarin adalah antitesis, tandingan dari kebengisan teroris. Mereka tidak boleh sekalipun dilupakan. Aloysius Bayu dan Yesaya Bayang, dua sosok pahlawan kemanusiaan yang bisa membantu kita mengingat Minggu, 13 Mei 2018 dalam bingkai yang heroik dan kental nuansa humanisme. Keduanya wafat saat pasang badan menghadang pelaku pengeboman, lantas ikut meledak.

Mati syahid mereka adalah bukti, manusia dapat menjadi perisai -bahkan dalam artian harfiah- bagi sesamanya. Kemanusiaan tidak sirna. Kematian mereka pun bukan hanya berbuah kegagalan teroris meledakkan bom di dalam gedung gereja. Pun lebih dari keselamatan jemaat yang masih di dalam gereja saat itu. Heroisme Aloysius Bayu dan Yesaya Bayang, laksana bara semangat kemanusiaan yang membakar semua yang hidup dan terinspirasi oleh kisah mereka berdua. Menguatkan kita yang takut dan hampir paranoid.

Juga perlu disoroti solidaritas warga Surabaya yang atas inisiatif sendiri, berbondong-bondong mendatangi kantor PMI untuk donor darah. Dikabarkan antrean mengular panjang sejak pagi, sebanyak 600 lebih orang bersimpati segera setelah gereja-gereja meledak. Mereka datang tentu dengan satu harapan, agar darahnya bisa mengaliri nadi korban dan menyelamatkan sesama. Menyambung hidup mereka yang hampir dicerabut oleh bahan peledak dan jihad yang salah kaprah.

Tak lupa juga dukungan moril dan doa di sosial media, pun dengan tagar #SuroboyoWani, #Kamitidaktakut, dan #TerorisJancok yang digunakan untuk menciptakan konsolidasi rasa.

Kemarin, tidak seorang pun dibiarkan menghadapi kekacauan ini sendirian. Seluruh warga Surabaya dan Indonesia ada untuk saling menguatkan dan mendukung. Esensi kesatuan tercipta, pun keberanian bangkit untuk bersama melawan terorisme yang berani-beraninya menginjakkan kaki di Surabaya. Atmosfir kebersamaannya begitu terasa, bahkan cukup kuat untuk menenangkan hati yang ketar-ketir karena kabar bom yang terus ditemukan.

Simpati yang mengalir pun tidak henti-hentinya. Doa-doa dilantunkan, elemen-elemen masyarakat dan mahasiswa berkumpul dalam aksi solidaritas dan doa bersama di Tugu Pahlawan. Juga jauh-jauh dari Vatikan. Paus Fransiskus mengajak seluruh umat Katolik sedunia mendoakan dan bersimpati pada Surabaya. Dukungan dam doa datang bahkan dari yang jauh sekalipun. Begitulah kemanusiaan bekerja. Begitulah seharusnya ketika manusia menjadi manusia.

Lalu Akhirnya..

Sampai di sini, sudahkah Pembaca menentukan bingkai apa yang sebaiknya digunakan? Ingatan macam apa yang harus dirawat dan dijaga? Juga sikap apa yang harus ditumbuh-kembangkan pasca Minggu, 13 Mei 2018?

Pembaca, semoga kita selalu memilih kemanusiaan

*Selain pencerewet sosial, penulis adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Berminat pada isu-isu keperempuanan dan gender.

Terorisme dan Mabuk Konspirasi 0 368

Riuh bom di kota Surabaya (dan beberapa jam setelahnya, merembet ke Sidoarjo) mengagetkan siapapun, termasuk Kalikata. Tak pernah hadir dalam bayangan kami sebuah keganasan ideologis yang mewujud ke dalam kekerasan teror, yang secara ganjil dilakukan satu keluarga, bisa mengguncang Surabaya–sebuah kota yang diklaim relatif aman.Tapi cukup mengherankan juga bagaimana publik bisa demikian terbelah: antara yang bersimpati, juga yang antipati.

Terorisme sebagai magnet peristiwa telah membuat netijen-netijen hebat itu memuntahkan prediksi-prediksi: bahwa ini semua ada pengalihan isu, bahwa segalanya settingan, dan bahwa ini kesengajaan intelijen dalam membiarkan teror terjadi. Hebat bukan prediksi-prediksi itu?

Ditopang keleluasaan teknologi komunikasi yang terbuka bagi semua orang, maka lalu lintas prediksi tidak saja meruap banyak, melainkan juga liar. Apa yang menonjol dari itu semua adalah perlombaan prediksi atas suasana konspiratif yang melingkungi terorisme. Di media sosial internet, perlombaan ini makin terang dengan narasi konspirasi yang berbeda-beda. Prinsip utama narasi itu satu: bahwa terorisme tidak lebih rekaan dan manipulasi Negara yang sama sekali nisbi, palsu, dan penuh tipu daya. Bahwa korban dengan kondisi hancur dan tergeletak di jalan adalah buah dari settingan.

Karena kebanyakan nonton Avengers (yang spoiler-nya saja ditakuti melebihi ketakutan kepada spoiler Tuhan tentang neraka), sedangkah kita dimabuk teori-teori konspirasi?

 

Saat kepungan teknologi komunikasi telah diterima sebagai nasib, kita barangkali harus mulai terbiasa dengan semangat menggebu dari tiap orang untuk bercerita. Tapi prediksi atas konspirasi teror itu juga menunjukkan betapa kita tak punya modal sama sekali kecuali bondo cangkem. Tanpa memperdulikan akal sehat, lewat teknologi komunikasi, terorisme diciutkan dari kompleksitasnya sekaligus disederhanakan dengan kedunguan prediksi sok hebat.

Ada beberapa hal yang dapat ditarik sebagai soal lebih jauh. Pertama, di sisi lain mabuk teori konspirasi ini adalah pertanda paling jelas dari ketaktersediaan informasi yang relevan dan sepadan guna menjelaskan apa dan bagaimana peristiwa terorisme itu terjadi. Media televisi yang tampak bekerja keras lewat siaran-siaran live, terbukti kedodoran dalam hal kelengkapan informasi dan hanya mementingkan aspek visual. Lebih-lebih, sedikit sekali publikasi atau keterangan resmi dari pemerintah yang dapat diandalkan, sehingga memperlihatkan kelemahan dokumentasi Negara dan kecakapan komunikasi dalam situasi yang membutuhkan kecepatan pesan.

Kedua, publik secara psikis menuntut keterlibatan dalam memikirkan dan menganalisis sebuah peristiwa. Kecerewetan mereka membutuhkan pelarian untuk digubris. Netijen-netijen itu sebetulnya juga orang biasa saja, hanya berkelebihan dalam soal semangat.

Ketiga, bahwa ini menjadi pertanda betapa rentannya kita menjelang hajatan-hajatan penting: momen politik (pilkada 2018 dan pilpres 2019). Keterampilan intelijen mustinya bisa lebih baik dalam mengantisipasi.

Keempat, rupanya harus dicamkan betul-betul, bahwa dalam masyarakat kita sungguh hidup orang-orang dengan pikiran yang ganjil, yang hanya dihidupi oleh dan dari fanatisme. Orang macam begini tidak memedulikan lagi diskusi dan akal sehat, karena di depan matanya segalanya dapat menjadi demikian hitam dan putih.

 

Kewaspadaan bersama adalah kabar baik yang mengimbangi seliweran narasi-narasi konspirasi. Publik menyadari bahwa ia punya sumber daya informasi yang ditempatkan sebagai suplai utama untuk mengatasi kondisi nir-data. Bahaya terorisme, dan juga isu-isu kekerasan lainnya, direspons secara sadar dan serentak sebagai masalah bersama.

Kolektifitas ini dapat dihitung dengan kekompakan gerakan viral media sosial kita atas isu terorisme Surabaya yang mampu membetot perhatian dan simpati dunia internasional. Muncul himbauan untuk tidak menyebar foto-foto korban peristiwa teror di tiga gereja. Sebelumnya, foto-foto ini disebar dengan brutal–sesuatu yang justru diingini oleh teroris itu sendiri dalam mengondisikan situasi mencekam secara visual. Beberapa kelompok masyarakat juga menggelar aksi simpatik untuk mendesak negara turun tangan dan mengecam.

Meski lalu lintas isu konspirasi masih muncul di sana-sini, tetapi bentuk kreatif dari kebersamaan virtual ini harus dipuji bukan hanya sebagai bukti dari partisipasi Indonesia dalam gerakan anti-terorisme, tetapi juga sebagai pengukuhan atas keterlibatan kreatif-simpatik yang terus-terang dan mandiri, tanpa lagi harus mengandalkan Negara sebagai jembatan. Kemandirian ini poin penting yang harus diterima sebagai bagian vital pemulihan kesadaran bersama sebagai bangsa atas ancaman-ancaman yang muncul.

Lagipula, kita tak selalu perlu nuansa sentimentil dan sedramatis konspirasi guna menumbuhkan simpati.

Turut berduka untuk para korban. Semoga damai dan guyub berlimpah di Surabaya.

Editor Picks