Nasib Naas Jerman yang Dilibas KorSel 0 144

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Per 27 Juni, tepatnya sejak Panser Jerman keok dilibas Oppa Korea Selatan di Piala Dunia, ada beberapa perubahan besar dalam persepakbolaan – dan mungkin juga – sejarah dunia.

Bagaimana tidak? Jerman adalah petahana Piala Dunia 2014. Kualitas pemain teruji dan track record merumput di Piala Dunia tidak perlu diragukan lagi. Sang langganan semifinal sejak 1938. Setidak-tidaknya kita berharap tinggi musti lolos 16 besar. Boleh dibilang wonder team. Uber alles deh pokoknya. Sedang lawannya, Taeguk Warriors asal Korea Selatan sama sekali antitesis semua itu. No offense loh, Oppa 🙁

Akal sehat jelas memprediksi kemenangan mudah Die Mannschaft atas Taeguk Warriors. Lah ndalah, njeketek, eng ing eng… Kenyataannya Jerman keok, plonga-plongo dihabisi Korea Selatan. Skor telak, 2 – 0. Gak mashookkk!

Dari awal sebenarnya posisi Jerman terbaca. Tiket melaju ke babak lanjutan dipertaruhkan, maka mereka menyerang terus. Kemungkinan tipis untuk lolos perlu dikejar. Sedang Korsel oleh karena dua kekalahan sebelumnya kontra Swedia dan Meksiko, sudah pasti angkat kaki meski menang atau kalah lawan Jerman malam itu. Tapi toh Korsel tetap on-fire, sampai peluit panjang mereka solid bertahan terus. Dari sini, kita mudah membaca siapa yang ngoyo dan siapa yang got nothing to lose.

Sepanjang pertandingan, Jerman betul menyerang tapi meleset melulu. Entah tidak cocok dengan angin di Rusia apa bagaimana. Melelahkan melihat permainan Jerman, gol tidak kunjung dibuat. Peluang banyak terbuang.

Apa karena ekspektasi penonton yang terlalu tinggi? Apa karena Jerman terlalu percaya diri?? Atau apakah memang mitos kutukan petahana pildun itu nyata adanya? Apakah Jerman memang ditakdirkan bernasib sama seperti Italia, Belanda, dan Spanyol? Sukses angkat trofi juara dunia lalu gagal mempertahankannya gelarnya? Saking mengerikannya kutukan itu, petahana bisa tersepak bahkan saat masih fase penyisihan grup.

Salam saya untuk kiper Korea yang telah bolak-balik menyelamatkan gawang. Juga pada pemain Korea sekalian yang dengan ciamik menghalau bola masuk jaring. Sampai paruh pertama, telur belum juga pecah. Pertahanan Korea Selatan belum bisa dikoyak. Menit ke-60 sekian, keadaan makin genting. Jerman tidak kunjung membuat angka, tiket lanjut dan mempertahankan gelar jadi terasa jauh. (Sebentar, nasib buruk ini apakah karena Jerman bermain di tanah Rusia? Saat Perang Dunia Kedua mereka kan…. *mulai cocoklogi).

Ritme permainan semakin terasa berat dan mendebarkan saat memasuki waktu tambahan. Jerman sudah kepayahan dan putus asa, permainan makin kacau. Korea Selatan konsisten dan merebut momentum lalu berhasil memecah kebuntuan. Skor satu untuk Korea Selatan. Rekaman Video Assistant Referees (VAR) dipakai untuk memutuskan apa gol itu sah atau tidak, sebab awalnya dikira off-side oleh wasit. Selebrasi Korsel bikin Jerman makin kalang kabut. Padahal pemain bintangnya turun. Mueller, Gomez, Oezil, dan Khedira dikerahkan agar segera cetak skor.

Tembakan banyak yang meleset. Terasa moril Jerman sudah merosot. Sampai-sampai, kiper Jerman, Neuer, meninggalkan pos jaganya. Mungkin karena sumpek rekan satu timnya tidak kunjung mencetak skor. Dirinya ikut merumput sampai begitu dekat dengan gawang Korea Selatan. Waktu tambahan sisa satu menit. Korea Selatan kembali mengoyak gawang Jerman yang ditinggalkan tak dijaga itu. Gol kembali dibuat.

Remek dan nelangsa lah Jerman diinjak Korea Selatan. Sisa waktu tidak cukup untuk membuat keajaiban. Panser kita angkat kaki. Kutukan telah tuntas terlaksana. Taeguk Warriors kalah, tapi bakal pulang ke negeranya dan disambut bak pahlawan.

Oppa dan Hyung telah menindas habis bule-bule Eropa itu. Sejarah telah mencatat itu. Daebak! Kemenangan atas Jerman juga berarti telah terjadi kemajuan pada persepakbolaan Korea Selatan di kancah dunia. Mereka telah jadi simbol untuk persebakbolaan Asia. Kini, mereka tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Terbukti pertahanan Korea jelas rapi dan mampu mengimbangi Jerman yang terus menyerang. Tidak kalah kualitas dengan si Panser.

Saya sendiri pendukung Jerman, tapi jujur diam-diam menantikan Korea Selatan menjebol gawang Jerman. Mungkin karena saya merasa terwakili sebagai sesama Asia. Sebab kan selama ini sepak bola rasa-rasanya hanya milik Eropa dan Amerika Latin. Ya kan, tim-tim itu saja toh yang menang. Tim-tim itu lagi yang dijagokan.

Boleh jadi, ini pecut untuk Indonesia agar empat tahun lagi bisa lolos kualifikasi Piala Dunia, lalu mungkin mampu menang telak 2-0 atas Inggris atau Spanyol. Siapa tahu?

Tanpa muluk-muluk, mungkin uji coba dulu dengan sapu bersih kemenangan di Asian Games tahun ini?

*Penulis adalah mahasiswi salah satu Perguruan Tinggi Surabaya. Doyan nonton dan traktiran.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sembilan Dosa Bocah Milenial 2 372

Redaksi kali ini memuat hal menarik: panduan ringkas memahami karakteristik masyarakat milenial! Barangsiapa hendak mengikuti tren yang terjadi (juga mungkin keganjilan-keganjilannya), bolehlah disimak:

1. Raimu ketulung mobilmu

Begitulah kira-kira perumpamaan paling sahih untuk menggambarkan skala prioritas para milenial. Mereka menghidupi nilai di mana penampilan adalah segalanya. Sebetulnya tak cuma dandanan luar, tapi juga keseluruhan atribut yang dapat dilekatkan dan dapat meningkatkan status sosial. Pengeluaran per bulan untuk mendandani diri adalah prioritas nomor satu. Pomade, baju branded (preloved rapopo sing penting Zara), sepatu, lipstick (musti matte biar kalo mimik di gelas tanpa bekas), mobil (kredit dijabani pokoke pantes, minimal Agya Ayla) dan seterusnya.

2. Hape apel krowak sebagai sekte agama

Milenial melihat ponsel sebagai ritus baru beragama. Rutin dihayati dan disayang-sayang. Coba periksa di manapun mereka berada, ponsel tak pernah absen di pelukan. Mulai bobo cantik sampai menjelang cawik, hape tak lepas di genggaman. Merek didominasi apel krowak, tapi isi aplikasi paling melip hanya game, youtube atau instant messenger (karena memang mampunya mengoperasikan itu, mohon dimaklumi). Sesekali diisi fasilitas editing foto, biar aduhai kalau selfie diunggah ke media sosial.

3. Nongkrong sampe mbulak

Kapanpun harus disisakan waktu luang. Ini ciri yang sangat kentara, sebab milenial senantiasa mencari sekeras-kerasnya waktu luang, sekalipun di tengah kesibukan maha padat. Nongki-nongki sambil isep Vape biasanya menjadi pilihan. Sekedar di kafe kelas menengah, atau sampai kelas atas, yang menunya punya prinsip ra enak ra popo sing penting instagrammable. Kadang karena ingin dinilai memahami selera elite, pergilah mereka ke Setarbak—yang andai kopinya dituker dengan kapal api 2.500 rupiah pun milenial tak sadar beda rasanya. Pokoke nggaya!

 4. My trip my adventure, mak crit mak plekentur

Banyak milenial ababil yang tega menabung banyak untuk dihabiskan seluruhnya demi vakansi. Liburan ini konon adalah pelarian semi-intelektual: kembali pada alam, menghayati ciptaan Tuhan, menepi ke pantai, kontemplasi ke pegunungan, dan segudang alasan-alasan gombal mbelgedhes. Intine kepingin hura-hura kok harus repot mencari alasan filosofis. Tiket kereta api atau pesawat bisa di-booking jauh-jauh hari. Kalau perlu sampai ke luar negeri, biar kaffah liburannya, Havana o nana. Singapore gakpapalah, lumayan bisa poto-poto di depan singa muntah. Atau negeri-negeri eksotis lainnya, agar bisa wisata kuliner unik-unik, lalu bikin vlog, atau story. Tujuannya jelas: mari dipamerkan ke handai-taulan ngenes yang melas di media sosial.

5. Isolasi sosyel

Milenial acapkali mengisolasi dirinya atau kumpulan gengnya dari orang lain. Asyik-asyik sendiri, galo-galo sendiri dan kalau berkumpul, menu utama selalu ghibah. Jarang bertemu atau sulit membuka diri dari kelompok lain. Akibatnya, tak ada tradisi dalam diri mereka untuk merekat secara sosial, saling tegur sapa, memahami secara intens dunia sosialnya. Mungkin sudah terlalu lelah masturbasi dengan identitasnya sendiri.

6. Susah setia

Para millenial ini senang hidup tanpa pilihan, jadi nihilis ben filosofis. Tiada kuasa mereka bertahan lebih dari 2 jam hanya mengerjakan satu kegiatan. Bosenan. Sebentar buka Line, beberapa menit kemudian pindah ke instagram, lalu Twitter-an. Bentar-bentar buka pintu dapur, buka kulkas, gak ada apa-apa, dikit-dikit mie instan lagi. Ini dapat dipahami kerena mereka hanya menunggang tren yang amat sementara. Setelah tren gaya itu perlahan mereda, berpindahlah mereka ke wilayah lain. Milenial adalah orang-orang yang nomaden dalam bergaya.

7. Antologi quotes berjalan

Kutap-kutip kalimat indah antologi biar keliatan sentimentil. Kalau bisa jangan hanya jadi antologi berjalan; jadilah kamus, atau perpustakaan sekalian. Ini demi perbendaharaan kata-kata mutiara yang jitu untuk melengkapi caption foto Instagram, selfie di bawah pohon rindang yang korelasinya tentu bernilai nol. Atau jadi senjata mutakhir untuk merayu mbak’e, berjajarlah amunisi gombalan Dilan sampai Ditto, tinggal dipilih sesuai situasi. Tentu yang diutamakan bukan quotes berbau masalah politik-ekonomi-sosial, apalagi religi. Semua berputar pada ranah romansa, satu-satunya aspek kehidupan yang paling dikuasai millenials. Cinta-cintaan, menghindar dari mantan. Ncen kakehan gaya. Mbayar iuran kas kelas ae sek kredit.

8. Cenayang nirkabel

Hanya bermodalkan kuota internet, itu pun kadang numpang tethering, milenial bisa tahu aktivitas terbaru dari teman-temannya (baca: following dan follower). Milenial mengumpulkan pundi-pundi informasi itu dari story, postingan, tweet, dan seabrek fitur medsos lain. Jelas sekali, nuansa nongki cantik jadi tidak diwarnai dengan saling menanyakan kabar, tapi sekedar klarifikasi. Kondisi ini menuntut milenial untuk selalu up to date. Asu tenan.

9. Ra ngurus dapuranmu

“Situ sapah kok ngurusi hidup eike?” Begitulah filosofi hidup milenial. Maksudnya ingin tampil independen dan mandiri, tapi sering tersesat pada apatisme. Maksudnya berupaya mendobrak konservatisme nilai-nilai, tapi meleset ke kebodohan. Sangat sensitif pada privasi, dan menjadi paranoid agar hidupnya tak diinterupsi oleh orang lain. Sebaliknya, karena terlalu berkonsentrasi pada diri sendiri, individu milenial mengabaikan dunia lain. Orang lain adalah antah-berantah. Yang penting urusan diri sendiri beres, situ mau jumpalitan juga terserah. Sangat cuek dan masa bodoh.

Itu tadi sembilan ulasan dari kami. Jika ada bantahan atau tambahan, bolehlah dikirimkan pada kami. Siapa tau juru bicara milenial tersinggung. Hehehe.

Menteri Muhadjir dan Ujian UNBK Pengapes Bangsa 0 287

Oleh: Michelle Florencia*

Muhadjir Effendy, menteri kesayangan handai-taulan SMA yang cimut-cimut ini sudah menyakiti hati jutaan jiwa. Mulai dari hati seluruh siswa SMA, wali murid, guru-guru, para kepsek, pokoknya bisa sampai jutaan jiwa. Korbannya dipastikan jauh lebih banyak ketimbang korban sakit hati Raisa-Hamish. Bodohnya, malpraktik ini dilakukan di tahun politk. Hadeuh….

Sebagai mantan anak SMA, saya merasakan betul duka mereka. Bagaimana tidak? Selama ini mereka sekolah dari pagi sampai sore – full day school ini juga gara-gara beliau – belajar dengan cara lower order thinking skill (LOTS) yang sudah diwariskan dari tahun ke tahun. Di kelas 3, mereka secara intensif mengulang pelajaran dari kelas 1 hingga kelas 3. Apalagi, kisi-kisi yang diberi kemendikbud mengenai soal UNBK tidak terlalu spesifik. Alhasil, para siswa harus belajar lebih banyak. Itu berat, lho!

Entah bagaimana, tetiba (kurang dari 15%) soal disulap menjadi higher order thinking skill (HOTS). Sak enake dewe! Bukan main, yang diganti jadi HOTS soal matematika pula! Wah… cari gara-gara, nih! Menurut jurnal karya FJ King, Ludwika Goodson, dan Faranak Rohani, yang berjudul “Higher Order Thinking Skills”, HOTS merupakan perpaduan empat hal, yaitu kemampuan berpikir kritis dan kreatif, kemampuan argumen, serta kemampuan mengambil keputusan. HOTS bukanlah sekadar model soal, tapi juga mencakup model pengajaran. Jadi, seharusnya apabila ingin mengubah gaya belajar siswa, ya jangan soal UN-nya. Tapi sejak kelas 10 baik siswa maupun guru sudah diajarkan sistem pendidikan seperti ini.

Pak, mbok yo dilihat dulu hasil UN yang soal matematikanya masih pake model LOTS aja rata-ratanya tidak sampai 7, lha kok tiba-tiba diubah tanpa pemberitahuan apalagi simulasi. Iyes, menurut keterangan para korban, soal UN-nya beda banget sama soal yang ada di tryout.

Pak Menteri sendiri memiliki alasan untuk meningkatkan peringkat Indonesia di kancah interneisyenel. Selama ini, peringkat Indonesia dalam Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) selalu masuk 10 besar dari 70 negara. Sori, maksudnya 10 terbawah.

Bagaimana mungkin memperbaiki pendidikan hanya dengan mengganti soal UN? Tanpa kisi-kisi dan tryout HOTS pula. Tentu keputusan ini keputusan yang kesusu bin fatal. Saya yakin, yang ada peringkat PISA kita semakin merosot dengan jebloknya nilai UN matematika anak-anak SMA yang super apes ini. KPAI sendiri menilai UNBK kali ini merupakan malpraktik.

Sakit hati para siswa, wali murid, dan guru tidak sampai di situ saja. Jawaban Pak Menteri juga membuat orang yang mendengar atau membaca semakin sebal, nomor 3 bikin tepok jidat! Pak Menteri bilang, “Tetapi jumlahnya kurang dari 15 persen. Jadi mestinya soal yang punya tingkat kesulitan ringan dan sedang jauh lebih banyak.” Ancen wenak nek nggambas tok.

Parahnya, Pak Menteri memberikan statemen yang menggemparkan, “UNBK ini menyesuaikan dengan standar internasional . Kita harus belajar stres dulu, kalau tidak stres nanti belajarnya kurang semangat.” Siapa yang tak emosi bila keluhan kita dibalas dengan becandaan yang tidak lucu ini?! Korban UNBK mana yang bisa menahan diri untuk tidak memisuhi kalimat terakhir Pak Menteri?

Muhadjir Effendy sudah mengecewakan 3,7 juta pemilih pemula – rata-rata umur anak kelas 3 SMA 17 tahun – yang sakit hati dengan sistem pendidikan era sekarang! Pak Muhadjir sudah pasti gagal nyapres!

Jokowi harus memberi sikap tegas dengan memberi sanksi ke Muhadjir Effendy. Sudah malpraktik, merasa benar, dan malah membuat kesulitan siswa jadi becandaan pula. Ignasius Jonan saja kena reshuffle gara-gara keputusan kesusunya dalam menangani kasus angkutan konvensional dan online. Apalagi malpraktik yang telah merugikan 3,7 juta siswa?! Atau setidaknya memberi statemen untuk menenangkan para siswa yang nasibnya seperti di ujung tanduk.

Memang UN bukan penentu kelulusan, tapi bagaimana usaha belajar 3 tahun mereka yang sia-sia? Bagaimana perasaan mereka menyimpan ijazah dengan nilai matematika djisamsoe? Jangan sampai 3,7 juta anak ini terlanjur ilfil dengan pemerintahan Jokowi dan berimbas pada penurunan elektabilitasnya. Saya yakin, kejadian ini akan menjadi amunisi kampanye negatif dari lawan Pak Dhe Jokowi. As we know, kampanye negatif sebetulnya lebih berbahaya dan ampuh dari kampanye hitam karena berdasarkan fakta dan data.

Saran penulis, Muhadjir Effendy harus memberi itikad baik membonuskan soal-soal HOTS untuk menyelamatkan nyawa 3,7 juta anak dan suara Pak Dhe. Hehehe….

*Tumbuh dan besar di Lombok, penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya. Tak diketahui ihwal single-tidaknya. “Er Ha Es kak”, tukasnya.

Editor Picks