‘The Incredibles 2’ dan Kesetaraan Jender 0 821

Yak, akhirnya setelah sekian lama, The Incredibles 2 telah tayang di bioskop terdekat! Sudah pasti anak-anak generasi 90-an yang kini sudah bukan anak-anak lagi atau bahkan sudah punya anak bernostalgia massal. Pasalnya, akhirnya Disney merilis sekuel dari The Incredibles (14/6) setelah 14 tahun!

Film animasi tiga dimensi ini bercerita tentang Helen, yang awalnya bersikeras hidup normal setelah adanya larangan bagi superhero mendapat misi untuk melanjutkan pekerjaannya itu. Sementara, Bob  harus menggantikan peran Helen sebagai ibu rumah tangga. Keluarga super tersebut akhirnya “terpaksa” menanggalkan status masyarakat normal mereka ketika Helen berada dalam ancaman. Ya kira-kira seperti itulah isinya. Saya tidak mau banyak cerita, takut dibilang spoiler.

Dari sinopsis yang saya paparkan di atas, barangkali pembaca telah menemukan perbedaannya dengan The Incredibles? Ya! Helen atau Elastigirl lebih mendominasi. Selain itu, Disney memilih wanita sebagai musuh utama dari keluarga manusia super ini. Peran wanita begitu mendominasi. Disney rupanya menyuntikkan kampanye kesetaraan jender pada anak-anak zaman now dan zaman 90-an.

Kemampuan Elastigirl dalam caruk tak diragukan lagi, bahkan dikatakan bahwa ia lebih teliti dan lebih “bersih” ketimbang Mr. Incredible dan Frozone. Apabila kita bandingkan aksi Mr. Incredible di The Incredibles dan Elastigirl di The Incredibles 2, ibu dari tiga anak ini memang lebih smart dan lebih berhati-hati.

Berbeda dengan film superheroes seperti The Avengers, The Justice League, The Dark Knight Rises, dan lain-lain di mana peran superhero wanita tidak begitu signifikan. Superhero wanita juga banyak diekspose kecantikan dan keseksiannya – contohnya Wonder Woman yang selalu tukaran pakai rok mini atau Catwoman yang menyempatkan diri catokan dan gincuan padahal beberapa jam lagi bom atom bakal meledakkan Gotham.

Nggak salah sih, tapi itulah persepsi superhero yang tertanam oleh sineas Hollywood kebanyakan. Disney mendobrak pemikiran orang pada umumnya mengenai superhero wanita di film-film superheroes: cantik, bodi bohay, belum kawin, sekadar membantu, dan buat seger-segeran. The Incredibles 2 mengajak kita mengganti paradigma tersebut dan membuktikan bahwa wanita bisa berperan besar seperti pria.

Pun begitu dengan pemilihan villain wanita. Wanita yang dianggap sosok halus, penurut, dan lemah ternyata mampu menjadi sosok yang keras, ambisius, bahkan jahanam sekalipun kalau ia mau. Wanita adalah manusia seperti halnya laki-laki, ia bisa menjadi apapun yang ia inginkan bahkan kriminal kelas kakap sekalipun.

Lalu, diceritakan bagaimana Bob keteteran menjalani peran ibu. Mulai dari menyiapkan sarapan untuk Violet dan Dash, membuat bubur, nyuapin, ngudang, sampai membuat Jack Jack tidur – apalagi dia bukan bayi biasa – hingga berurusan dengan matematika dan persoalan percintaan Violet yang membuat putri satu-satunya tersebut nesu padanya. Bahkan, Bob tidak tidur ketika menjalankan peran gandanya itu.

Film ini ingin menyadarkan mereka yang suka memandang sebelah mata ibu-ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Mengurus anak seolah-olah dianggap sebagai kerjaan enteng. Ternyata, sangat susah. Yangg dilakukan Bob hanyalah seupil dari kompleksnya kerjaan ibu rumah tanga. Belum bersih-bersih rumah, merumuskan anggaran, beli barang-barang rumah tangga yang habis, melerai anak-anak yang bertengkar, dan sebagainya.

Selain itu, film ini juga mengingatkan bahwa mendidik dan mengurusi perkembangan anak bukan hanya tugas ibu. Sering kali pria mengira perannya  hanya bekerja, mengantar anak, dan mengajak bermain. Mengajari anak saat mengerjakan PR, menyiapkan sarapan, dan soal cinta-cintaan anak itu tugas ibu saja karena seharian di rumah. Padahal, ayah juga harus mengambil peran tersebut.

Saya menanti-nantikan kapan sineas Indonesia berani menggebrak film anak-anak yang hanya berisikan mimpi, persahabatan dan kekeluargaan belaka. Sesekali disisipi isu-isu sosial seperti kesetaraan jender.

Isu kesetaraan jender bukan hanya terjadi pada orang dewasa saja, namun semua kalangan. Saya ingat ketika SD selalu anak laki-laki yang menjadi ketua kelas. Lalu, saat SMP selalu kaum Adam yang menjadi ketua OSIS dan wanita sebagai wakilnya. Alasannya? Karena sudah jadi tradisi laki-laki pemimpinnya, perempuan jadi wakilnya. Bahkan, jawaban teman saya ketika saya menanyakan hal ini lebih biadab. Katanya kalau cewek jadi ketua terus cowok jadi wakilnya, nanti wakilnya nggak kerja. Makanya, cowok yang jadi ketua. Kalau gitu, dari awal pilih yang rajin, enak banget ya karena jendernya, malas dianggap wajar. Modyar akal sehatnya.

Nilai-nilai seperti ini harus kita rombak. Penting bagi anak tahu tentang kesetaraan jender, karena pada hakikatnya manusia diciptakan setara.  Penanaman akan hal ini kepada anak dari dini jauh lebih mudah ketimbang ketika mereka dewasa. Film animasi bisa menjadi pilihan tepat bagi Pembaca untuk mengajari anak-anak tentang kesetaraan jender karena semua anak pasti suka film animasi.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CCTV Setarbak dan Ekspektasi Kesetaraan Gender 0 262

Semua ini gara-gara mas-mas Setarbak. Karena keisengan mereka memperbesar layar monitor CCTV untuk melihat dan memuja-muja kemolekan tubuh pelanggan wanita yang sedang asyik menikmati kopi produk kapitalis dan penambal gengsi itu.  Setelah kejadian ini diketahui publik, perdebatan isu gender kembali mencuat ke permukaan, menjadi trending topic yang tak terelakkan. Netijen sibuk menguji materi dan menyebar twit mengenai siapa yang salah: yang ngintip atau yang pakai baju minim?

Kasus seperti ini bukan yang pertama kalinya. Sudah acap terjadi, bahkan membuat kita begah karena saking seringnya. Sudah capek rasanya diri ini mau membahas isu gender. Pembahasan gender seakan tak ada ujungnya, dan selalu memantik pertengkaran. Mereka yang setuju wanita harus menutup aurat versus mereka yang meminta laki-laki mengendalikan libidonya.

Misalkan kasus lain tentang istri yang membikinkan bekal untuk suaminya. Dalam kasus tersebut, banyak netijen berkomentar yang pada intinya berkata, bahwa thread viral “Bekal Buat Suami” telah menginjak-injak harga diri perempuan dan memposisikan perempuan sebatas babu rumah tangga. Dengan begitu tanggap, netijen segera membantu menghitung pendapatan yang mungkin bisa diterima sang istri jika bekerja, apabila tidak sibuk memasakkan makanan untuk suami.

Namun, tidak jarang perdebatan di kolom komentar tersebut justru menggeser cita-cita gerakan feminis sesungguhnya (baca: yang menginginkan kesetaraan gender). Kesan yang seringkali muncul – setidaknya bagi saya – dari perdebatan itu seakan-akan laki-laki harus dibasmi, hamil, mengurus anak, dan memasak di rumah adalah aktivitas yang haram dan ketinggalan zaman.

Walau demikian, kita memang tak boleh menyerah untuk mengedukasi pakdhe dan budhe kita, mengenai kesetaraan gender dan betapa muaknya kita dengan lelucon berbau seksis. Kita tetap harus optimis mengenai tatanan kehidupan baru (bukan new normal katanya pemerintah): di mana masyarakat kita sudah cukup memahami dan bisa berlaku adil dalam berhubungan intim, dan tentang betapa urgentnya meresmikan RUU PKS. Meski harapan ini rasanya masih terlalu jauh. Sebab kita harus ingat, bahwa kita sedang hidup di Indonesia dengan beragam konteks ruang dan waktunya saat ini. Kultur patriarki dan dominasi kepercayaan konservatif tentang perempuan harus menutup auratnya agar tak merangsang napsu pria masih terlalu kuat.

Kita harus sadar dan terbangun, bahwa kita masih berada di lingkungan yang akan menyalahkan pakaian korban perkosaan dan pelecehan seksual ketimbang menggali pikiran kotor pemerkosa itu. Tak jarang kita mendengar perempuan-perempuan yang hamil karena diperkosa, akhirnya dipaksa menikah demi menutupi aib keluarga.

Kamu semua boleh liberalis dan open minded, tapi jangan lupa bahwa kamu hidup di Indonesia yang yaaahh masih kayak gini. Butuh jalan yang puanjang untuk mengubah pola pikir ini, menghabiskan satu generasi terdahulu dan mendidik generasi Z dan seterusnya akan sex education yang baik dan benar. Ingat, penulis tak sedang berusaha bilang usaha ini tidak mungkin loh ya!

Kamu semua harus siap, jika berpendapat tentang isu kesetaraan gender, apapun bentuk dan konteks peristiwanya, akan mendapat nasihat “semoga kamu dapat hidayah”. Kamu juga harus siap, jika punya prinsip sex bebas dengan consent, akan dipandang rendah dan gagal jadi wanita. Pun kamu harus siaga jika tak bisa ikut tertawa di lelucon seksis teman-teman kantor, kamu akan dicap gak asik.

Kita hidup di negara yang hukum pelecehan dan kekerasan seksual masih belum dianggap penting dibawa pada prolegnas petinggi Senayan. Hukum yang lebih mudah menangkap pelaku pelecehan seksual jika sudah viral dan sudah ada aduan dari yang merasa dirugikan. Hukum yang cuma bisa menjerat pelaku yang ketahuan karena kontennya menyebar di media sosial: dengan UU ITE yang serba bisa dan maha benar itu.

Dan yang terpenting untuk kita sadari: kita bisa saja asyik berdebat di dunia maya, sementara petinggi-petinggi negeri ini tak menaruh peduli. Mereka sibuk mengejar kursi kepemimpinan dan menghitung keuntungan investasi asing. Mereka tidak menganggap suara-suara kita di medsos adalah wacana publik yang cukup signifikan dan layak diperhitungkan, untuk kemudian mengolah sistem pendidikan rakyat dan menjadikannya undang-undang.

Sementara ini, diskusi tentang gender dan segala cita-cita mulia lainnya masih menjadi sekadar algoritma yang berputar-putar di timeline media sosial bagai lingkaran setan.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art

Sinetron Absurd ala Indonesia dan Khasiat Mujarabnya 0 359

Menahun sudah segenap rakjat bertanya-tanya, sebagaimanapun kami juga (lihat tulisan: ‘Logika Hello Kitty Rebus vs Drama Korea’), kenapa sinetron Indonesia kok modelannya begitu-begitu terus? Bukannya semakin waktu semakin baik, malah semakin absurd. Adegan-adegannya super duper konyol out of the box. Mulai dari boneka Hello Kitty direbus sampai seorang wanita yang berteriak panik dikerubutin buaya CGI.

Tak mau kalah, latar tempat pun ikut jadi bahan humor tersendiri. Bagaimana ceritanya istana kahyangan seorang dewi kepercayaan Jawa berhiaskan patung-patung megah bergaya Yunani, lengkap dengan pose-pose melankolis seraya menutup sebagian anggota tubuh? Atau bagaimana bisa yang dikata para tokoh sebagai “diskotik top” adalah ruangan yang dindingnya cuma berbalut kain hitam dan lampu kerlap-kerlip macam hiasan pohon natal?

Sebelum kita melanjutkan protas-protes ria ini, mungkin ada baiknya kita hening sejenak dan berpikir ulang. Apa betul keadaaan sinetron Indonesia yang seperti ini nih sungguh-sungguh jelek dan mutlak pol negatifnya? Apa benar akar masalahnya hanya ada pada masalah kejar tayang dan keterbatasan proses produksinya, sehingga pilihan-pilihan adegan sedemikian “progresif nan alternatif” boleh langsung diambil gambar?

Memang, jika dilihat dari sisi lain, di zaman penuh kehausan akan aktualisasi brand dan bacok-bacokan antar-netijen, semakin aneh sebuah adegan berarti semakin tinggi kemungkinannya untuk bisa viral. Itu juga bisa jadi salah satu “reward” bagi tim produser yang mungkin harus senantiasa kalang-kabut di balik penayangan tiap episode.

Tapi toh kita kerap mendapati situasi di mana sebuah keluarga berkumpul dengan tatapan tanpa kedipan, melekat kuat di layar TV, menonton adegan-adegan “konyol” tersebut dengan mata berkaca-kaca atau bibir yang mewek-mewek.

Sebuah adegan yang bagi kita langsung bikin tepok jidat, ternyata sebegitu serius bagi mereka. Sebuah adegan yang bagi kita hanya pantas dlirik satu kali, untuk langsung divonis sebagai ‘tayangan tak bermutu’, ternyata sanggup membikin orang lain nangis kejer atau berok-berok sambil lempar piring karena saking gumush-nya sama si tokoh jahat. Lalu reaksi mereka itu membuat kita tertawa karena lucunya, atau bagi yang lebih keji lagi, karena gobloknya.

Kita sendiri bisa dengan sombong bangga mengumumkan pada jagad raya, “Sori, ya. Aku cuma mau pakai merk ini, ini, dan ini karena value perusahaannya sesuai sama value aku”. Atau, “Selera aku tuh yang begini, nih. Kalau yang kayak gitu, em… nggak sesuai lah sama karakter aku”.

Maka boleh juga dong kita mengakui bahwa sinetron Indonesia, sejungkirbalik apapun logika yang ada di dalamnya, amatlah nggathuk sama pasarnya. Jangan-jangan, nilai dalam sinetron lucu-lucu ini sungguh mencerminkan nilai yang sama dalam kehidupan penggemarnya sehari-hari?

Bolehlah kita bilang adegan jenazah yang sudah dipocong kemudian terlempar dalam mesin molen itu kejadian ajaib. Tapi jika kemudian kita lihat keseharian mereka, bukankah hal-hal tak kalah ajaib juga sering terjadi?

Diiming-imingi kerjaan “enak”, tanpa perlu syarat ijazah dan pengalaman kerja, menggiring mereka pada situasi banting-tulang, pagi sampai tengah malam 7 hari seminggu. Beberapa di antara mereka sampai bertaruh keamanan diri, ketika terpaksa harus melakukan tindakan ilegal atau melawan hukum demi menjalankan apa kata bos. Ketika digaji cuma dapat sekian repes, nominal upah yang saking super ajaibnya sampai tak masuk akal dan nurani. Bekerja tanpa kontrak resmi, dan ketika terjadi kecelakaan kerja atau bahkan sampai meninggal, tidak mendapat pertanggungjawaban yang pantas.

Belum lagi jika masih ditambah kasak-kusuk, “Salah sendiri, dia mau sih kerja nggak bener begitu”. Kalau sudah begini, bukankah bibir-bibir yang demikian berujar sama saja durjananya dengan molen yang menggiling si pocong nahas?

Sama halnya dengan persoalan plot. Dalam sinetron ‘serial istri tersakiti’ misalnya. Banyak yang jadi gatal gara-gara kisahnya selalu dan melulu tentang suami yang “direbut” perempuan lain. Apa tidak bisa menemukan alur cerita lain? Kita senantiasa berharap seri selanjutnya akan hadir dengan penyajian yang berbeda. Ternyata memang berbeda… pemainnya, busananya, dan setting lokasinya. Plotnya sama.

Demikian pula dengan kehidupan para penonton setianya. Dalam setiap hari, minggu, dan bulan, mereka bekerjakeras berusaha meningkatkan derajat hidup. Atau minimal, supaya bisa sedikit menabung. Senangnya bukan main jika dapat lebihan pendapatan harian. Tapi penyakit yang muncul karena kelelahan bekerja membuat cuan ekstra itu harus direlakan demi pengobatan. Atau kalau sekarang, anaknya tiba-tiba butuh dibelikan kuota bejibun buat sekolah online. Tabungan amblas. Hidup akhirnya segitu-segitu aja.

Oke. Ada yang bilang kalau kualitas plot yang stagnan dalam sinetron adalah buah dari episode yang mulur-mulur macam keju pizza masih anget. Bisa jadi benar. Namun bukankah kehidupan mereka rasanya juga seperti itu? Berpanjang-panjang dan tak menentu. Seiring datangnya hari, bukannya semakin besar harapan dalam hati mereka, hidup justru makin bikin angkat tangan.

Ya sudahlah… Terserah dunia ini mau seperti apa. Apapun yang terjadi besok ya dihadapi saja. Kalau bagus ya syukur. Kalau nggak ya sudah… pasrah saja.’

Maka, dalam perkara stagnansi opera sabun negara zamrud khatulistiwa ini, sesungguhnya siapa yang akhirnya menginspirasi siapa?

Apakah tim produser selalu bertolak dari kehidupan nyata para pemirsanya, yang secerdas mungkin ditangkap dan diterjemahkan dalam bahasa layar kaca dengan segala keterbatasan yang menghadang? Atau stagnansi ini akhirnya dibentuk terbentuk demi mengobati perih luka dalam hati pemirsanya?

Supaya kalau hidup mereka gitu-gitu aja, tak kunjung menemui solusi, sering dibuat kalah-kalahan, serta nampak seperti benang membundel yang rumit dan tak berujung… ya sudah, tidak masalah.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks