‘The Incredibles 2’ dan Kesetaraan Jender 0 386

Oleh: Michelle Florencia*

Yak, akhirnya setelah sekian lama, The Incredibles 2 telah tayang di bioskop terdekat! Sudah pasti anak-anak generasi 90-an yang kini sudah bukan anak-anak lagi atau bahkan sudah punya anak bernostalgia massal. Pasalnya, akhirnya Disney merilis sekuel dari The Incredibles (14/6) setelah 14 tahun!

Film animasi tiga dimensi ini bercerita tentang Helen, yang awalnya bersikeras hidup normal setelah adanya larangan bagi superhero mendapat misi untuk melanjutkan pekerjaannya itu. Sementara, Bob  harus menggantikan peran Helen sebagai ibu rumah tangga. Keluarga super tersebut akhirnya “terpaksa” menanggalkan status masyarakat normal mereka ketika Helen berada dalam ancaman. Ya kira-kira seperti itulah isinya. Saya tidak mau banyak cerita, takut dibilang spoiler.

Dari sinopsis yang saya paparkan di atas, barangkali pembaca telah menemukan perbedaannya dengan The Incredibles? Ya! Helen atau Elastigirl lebih mendominasi. Selain itu, Disney memilih wanita sebagai musuh utama dari keluarga manusia super ini. Peran wanita begitu mendominasi. Disney rupanya menyuntikkan kampanye kesetaraan jender pada anak-anak zaman now dan zaman 90-an.

Kemampuan Elastigirl dalam caruk tak diragukan lagi, bahkan dikatakan bahwa ia lebih teliti dan lebih “bersih” ketimbang Mr. Incredible dan Frozone. Apabila kita bandingkan aksi Mr. Incredible di The Incredibles dan Elastigirl di The Incredibles 2, ibu dari tiga anak ini memang lebih smart dan lebih berhati-hati.

Berbeda dengan film superheroes seperti The Avengers, The Justice League, The Dark Knight Rises, dan lain-lain di mana peran superhero wanita tidak begitu signifikan. Superhero wanita juga banyak diekspose kecantikan dan keseksiannya – contohnya Wonder Woman yang selalu tukaran pakai rok mini atau Catwoman yang menyempatkan diri catokan dan gincuan padahal beberapa jam lagi bom atom bakal meledakkan Gotham.

Nggak salah sih, tapi itulah persepsi superhero yang tertanam oleh sineas Hollywood kebanyakan. Disney mendobrak pemikiran orang pada umumnya mengenai superhero wanita di film-film superheroes: cantik, bodi bohay, belum kawin, sekadar membantu, dan buat seger-segeran. The Incredibles 2 mengajak kita mengganti paradigma tersebut dan membuktikan bahwa wanita bisa berperan besar seperti pria.

Pun begitu dengan pemilihan villain wanita. Wanita yang dianggap sosok halus, penurut, dan lemah ternyata mampu menjadi sosok yang keras, ambisius, bahkan jahanam sekalipun kalau ia mau. Wanita adalah manusia seperti halnya laki-laki, ia bisa menjadi apapun yang ia inginkan bahkan kriminal kelas kakap sekalipun.

Lalu, diceritakan bagaimana Bob keteteran menjalani peran ibu. Mulai dari menyiapkan sarapan untuk Violet dan Dash, membuat bubur, nyuapin, ngudang, sampai membuat Jack Jack tidur – apalagi dia bukan bayi biasa – hingga berurusan dengan matematika dan persoalan percintaan Violet yang membuat putri satu-satunya tersebut nesu padanya. Bahkan, Bob tidak tidur ketika menjalankan peran gandanya itu.

Film ini ingin menyadarkan mereka yang suka memandang sebelah mata ibu-ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Mengurus anak seolah-olah dianggap sebagai kerjaan enteng. Ternyata, sangat susah. Yangg dilakukan Bob hanyalah seupil dari kompleksnya kerjaan ibu rumah tanga. Belum bersih-bersih rumah, merumuskan anggaran, beli barang-barang rumah tangga yang habis, melerai anak-anak yang bertengkar, dan sebagainya.

Selain itu, film ini juga mengingatkan bahwa mendidik dan mengurusi perkembangan anak bukan hanya tugas ibu. Sering kali pria mengira perannya  hanya bekerja, mengantar anak, dan mengajak bermain. Mengajari anak saat mengerjakan PR, menyiapkan sarapan, dan soal cinta-cintaan anak itu tugas ibu saja karena seharian di rumah. Padahal, ayah juga harus mengambil peran tersebut.

Saya menanti-nantikan kapan sineas Indonesia berani menggebrak film anak-anak yang hanya berisikan mimpi, persahabatan dan kekeluargaan belaka. Sesekali disisipi isu-isu sosial seperti kesetaraan jender.

Isu kesetaraan jender bukan hanya terjadi pada orang dewasa saja, namun semua kalangan. Saya ingat ketika SD selalu anak laki-laki yang menjadi ketua kelas. Lalu, saat SMP selalu kaum Adam yang menjadi ketua OSIS dan wanita sebagai wakilnya. Alasannya? Karena sudah jadi tradisi laki-laki pemimpinnya, perempuan jadi wakilnya. Bahkan, jawaban teman saya ketika saya menanyakan hal ini lebih biadab. Katanya kalau cewek jadi ketua terus cowok jadi wakilnya, nanti wakilnya nggak kerja. Makanya, cowok yang jadi ketua. Kalau gitu, dari awal pilih yang rajin, enak banget ya karena jendernya, malas dianggap wajar. Modyar akal sehatnya.

Nilai-nilai seperti ini harus kita rombak. Penting bagi anak tahu tentang kesetaraan jender, karena pada hakikatnya manusia diciptakan setara.  Penanaman akan hal ini kepada anak dari dini jauh lebih mudah ketimbang ketika mereka dewasa. Film animasi bisa menjadi pilihan tepat bagi Pembaca untuk mengajari anak-anak tentang kesetaraan jender karena semua anak pasti suka film animasi.

*Tumbuh dan besar di Lombok, penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya. Tak diketahui ihwal single-tidaknya. “Er Ha Es kak”, tukasnya.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengapa ‘Bohemian Rhapsody’ Harus Berterimakasih pada Freddie Mercury 0 562

Kita perlu sangat berterimakasih pada Freddie Mercury. Peringatan ini diberikan penulis sedini mungkin, karena memang itulah hakikat hajat hidup tulisan ini dan jawaban atas hobimu yang kudu banget nontonin semua film hits di bioskop.

Sejak rilis 24 Oktober di kota kelahiran Queen dan 31 Oktober di Indonesia, Bohemian Rhapsody menjadi buah bibir tua-muda bahkan dipakai sebagai modus terkini ngajak areké nge-date. Jadi, semoga tulisan ini tidak menjadikan kawan-kawan pembaca urung menonton.

Teriring dalam tulisan ini, penulis ingin berbagi pengalaman menonton selama lebih kurang 130 menit. Penulis datang dengan ekspetasi tinggi akan dipuaskan betul oleh film ini. Setiap menitnya harus mencengangkan dan setiap adegannya harus mengagumkan. Ekspetasi ini tidak terlalu tinggi untuk biopik band sekelas Queen kan?

Namun, sayang seribu sayang, penulis harus rangkum Bohemian Rhapsody sebagai: remaja galau yang bingung mau bercerita tentang apa. Di awal, kental sekali keinginan pembuat film untuk mengangkat kisah bagaimana Queen terbentuk. Bermula dari band Smile di sebuah klub kecil yang sedang frustasi karena ditinggal vokalisnya. Lalu bergabunglah Farrokh Bulsara alias Freddie Mercury mengisi posisi vokalis utama, ditambah bassist John Deacon, lengkap dengan Brian May pada gitar dan Roger Taylor pada drum.

Perjalanan mereka dilanjutkan dengan penampilan dari panggung ke panggung, hingga kisah menjual van untuk rekaman lagu di studio yang singkat cerita membuat mereka meneken kontrak dengan EMI Records. Tapi, saudara-saudara sekalian perlu dicatat bahwa perjalanan sakral band kelas kakap ini akan sangat diganggu oleh fokus kisah pada Freddie.

Barangkali, Freddie sebagai vokalis utama memang layak untuk diberi porsi cerita lebih banyak daripada personil lainnya. Selain karena dirinya cerdas, perfeksionis, dan flamboyan setidaknya ada tiga unsur yang membuat kepribadian Freddie menjadi ramuan yang sangat seksi untuk diangkat menjadi premis utama.

Pertama, identitas Freddie yang adalah keturunan Persia penganut kepercayaan Zoroastian dan tinggal menetap di Inggris. Kedua, konflik interaksi keluarga bagaimana Freddie sebagai anak laki-laki yang tidak bisa memenuhi ekspetasi orang tuanya untuk tidak berkarir di musik melainkan bekerja ‘normal’. Ketiga, pencarian jati diri Freddie akan identitas gendernya.

Yang ketiga itu kontroversial dan jadi bahan ampuh untuk mengulik pergolakan batinnya. Memang digambarkan bagaimana Freddie awal mulanya menjalin kisah dengan Mary Austin, memenuhi ideologi dominan tentang hubungan heteroseksual.

Namun, perlahan pergeseran Freddie yang mulai menjalin kasih dengan kaum brewok dijelentrehkan secara simbolis, yang puncaknya pada pertengkarannya dengan Mary. Pada adegan itulah, klise layaknya formula film bergenre drama sekadar dipenuhi. Adegan dipercepat sampai perubahan penampilan Freddie untuk memotong rambut dan menumbuhkan kumis, simbol-simbol pengakuan diri sebagai homoseksual.

Jika saja adegan sebelumnya tidak loncat-loncat ke tur-tur Queen dan lebih berani menguliti konflik internal Freddie atas konstruksi identitasnya sebagai gay, tentu emosi penonton bisa lebih maksimal dibangkitkan. Adegan-adegan Freddie yang tenggelam dalam rasa kesepian di balik aksi panggungnya yang mampu menyihir penonton itu, sayangnya digambarkan terlalu singkat.

Baru saja penonton disuruh bersimpati pada sosok Freddie yang frustasi, eh adegan dilempar lagi pada penampilan Queen. Baru saja penonton diajak menikmati peluh Queen menggarap Bohemian Rhapsody, eh adegan berpetualang lagi kembali ke Freddie.

Jika benar film ini berniat menyajikan perjalanan karir Queen, rupanya penulis naskah tergoda imannya oleh pesona Freddie. Padahal, kalau boleh jujur, bahkan tidak butuh Queen atau embel-embel Bohemian Rhapsody untuk membuat film ini menjadi a great success. Tapi jika benar film ini adalah biopik Queen, mana kisah tentang pribadi personil-personil lainnya? Apa memang benar, ‘your majesty’dari Queen hanya Freddie seorang?

Kalau pun Freddie dituhankan di film ini, selayaknya ia dihantar sebagai otak utama di balik ke-gendheng-an Bohemian Rhapsody agar dapat menjawab judul film. Jika direnungkan, bukankah film yang judulnya Bohemian Rhapsody hendaknya menggali proses kreatif penulisan lagu. Atau paling tidak menjawab spekulasi nyinyir citizen (karena di tahun 1975 belum tercipta makhluk namanya netijen) mengenai makna misterius di balik Mamamia, Scaramouce, Fandango, Figaro, dan Bismillah dan nada serba opera.

Atau penceritaan yang komprehensif bagaimana 24 trek pita kaset aus karena berkali-kali merekam bagian lirik ‘Galileo’ agar mendapat pitch sempurna seperti yang dimau Freddie. Adegan ini hadir, tapi persentasenya dalam cerita menduduki kasta sudra.

Atau lanjutkan juga dengan bagaimana perjalanan lagu ini menolak habis-habisan status quo format komersil durasi 3 menit, lompatan nada yang easy listening, dan mengandung refren. Bagaimana perjalanan lagu ini lantas mampu mendobrak selera pasar dan menjadi karya magis yang lestari hingga puluhan tahun. Bohemian Rhapsody yang magis nyatanya tidak terlalu dielu-elukan sebagaimana ia dijadikan judul film.

Lagu edan berdurasi hampir 6 menit yang awalnya ditolak mentah-mentah dan kemudian berhasil bertahan di 10 besar tangga lagu Amerika rupanya lebih penting diceritakan sebagai prestasi Queen daripada misteri dan ritual yang terjadi di studio di Wales selama 70 jam pembuatan lagu tersebut.

Pada akhirnya, film ini tidak lebih dari kisah sukses sebuah band rock asal Inggris dan wahana karaoke para penggemar akut lagu-lagu Queen yang tidak-bisa-tidak sing along ‘Bohemian Rhapsody’, ‘Radio Gaga’, dan‘We are the Champion’ saat adegan Live Aid 1985. Gara-gara itulah, katanya film ini tetap layak ditonton. Bagi penulis, Anda tetap bisa nonton film ini supaya film garapan 20th Century Fox yang memakan drama selama 10 tahun produksi ini bisa balik modal.

Bagi penulis, satu-satunya yang menyelamatkan film ini adalah Freddie Mercury dengan segala pergolakan batin, keluarga, identitas, dan orientasi seksualnya. Kalau bukan karena Freddie, penulis kesulitan benar mengidentifikasi motivasi dan tingkat kepuasan terhadap film ini.

Penghormatan dan terima kasih harus diberikan sebesar-besarnya pada si jenius, Freddie Mercury. Kalau bukan karena beliau, Bohemian Rhapsody sebagai lagu maupun film adalah karya biasa-biasa saja yang mungkin tidak layak dikenang lintas generasi.

 

(Catatan tambahan: Penulis harus banget menghabiskan waktu 1×24 jam disertai doa dan puasa demi menyelesaikan tulisan ini saking mindernya dengan Queen beserta jajaran fansnya.)

Bertaruh pada Iqbaal: Kita Buktikan Nanti di Bioskop 0 541

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Disclaimer: iya, ini akan jadi taruhan yang sinis. Tapi toh masih dalam batasannya. Terutama calon penonton perempuan, jujur sajalah dengan niatmu datang-duduk di depan layar lebar.

Pembaca, mari kita buka tulisan ini dengan tiga taruhan. Kita buktikan nanti di bioskop. Oke, kita mulai.

Satu, Bumi Manusia nanti akan lebih banyak ditonton perempuan. Kenapa? Karena ada Dilan. Mampus kau diremuk rindu! Ah, panglima tempurku, dilanku. Hmm. Bahkan sudah muncul meme yang bertuliskan “Dialah Minkeku 1920”. Uh. Tolong poo, ya Gusti..

Dua, penonton nanti akan berduyun-duyun, berjamaah ke gedung bioskop untuk menunaikan ibadah Iqbaal. Kenapa? Karena doi udah pasti jaminan selera, baru lulus college di Amiriki, kemarin jadi Dilan dan sekarang Minke pula! Uh.. beruntungnya terlahir ganteng nan cerdas. Jangan lupa bersyukur, Bal.
Lumayan buat bahan cuci mata, kan? *Belum lagi kalau ada meet and greetnya juga. Beh, banjirlah bioskop itu dengan gelombang perempuan fanatik dan histeris ingin menjamah Dilan! Eh, Iqbaal..

Huh, bisa dibayangkan!
Tiga, penggemar Pramoedya yang membaca Bumi Manusia kemungkinan akan kecewa dengan usaha adaptasi ini. Kemungkinan. Sekali lagi, pembuktiannya hanya nanti ketika tayang.
Ada beberapa alasan. Terutama jelas soal eksekusinya, penyajian dan pendalaman karakternya, dialog-dialog dan penjiwaannya, penggambaran suasana dan latarnya, hubungan dan penonjolan karakter-karakternya, isu-isu kolonialisme dan feodalisme serta intrik-intrik cinta dan latar belakang karakter mereka hingga jadi seperti itu.

Semua hal itu yang begitu membuat Bumi Manusia hidup. Parahnya, jika justru penonton datang menonton semata-mata karena Iqbaal jadi Minke. Nah ini yang kacau, jangan sampai terjadi! Karena lantas bagaimana Nyai Ontosoroh alias Sanikem? Jean Marais? Robert Mellema dan Babah Ah Tjong? Darsam juga? Maiko? Bagaimana mereka ditampilkan? Penulis menantikan bagaimana Falcon Pictures dan Hanung, tak lupa Salman Aristo meramu semua karakter itu? Bukan hanya Minke sebagai pemeran utama, loh ya. Kan jelas kalau mereka-mereka itu bukan sekedar tokoh pendukung toh. Minke dibentuk menjadi Minke yang kita -pembaca Bumi Manusia- kenal oleh sebab perjumpaan dengan semua karakter-karakter itu.

Kekhawatiran penulis, Bumi Manusia ini nanti rawan sekali mengeksploitasi hanya hubungan Minke dan Annelies saja. Dua alasan. Satu, mengingat Falcon dan dua film terakhir keluaran mereka yang menawarkan kisah cinta-cintaan. Dua, karena hubungan Minke dan Annelies yang memang manis sekali. Itu yang jadi kekhawatiran.

Tidak penting ini film soal apa. Masa bodoh ini siapa penulisnya. Persetan juga dengan tetraloginya. Uh, satu serinya saja 500 halaman, siapa mau baca? Koran saja tidak disentuh, mana mungkin baca Pram?
Yang penting Iqbaal, Iqbaal, dan Iqbaal. Yang penting tembus enam juta penonton dalam seminggu. Yang penting viral. Yang penting untung.
*Yang penting tiketnya saya bayar sendiri, saya update, sukur-sukur meet&greet bisa foto bareng Iqbaal, saya senang. Masalah buat Anda? 

Jika sampai itu yang terjadi, Pram bisa jadi murka dari kuburnya. Yakin. Meskipun akhirnya memang diapresiasi dan digarap orang Indonesia sendiri. Mungkin juga mengutuki produser, sutradara, rumah produksi, penulis skenario semua kru sampai pemeran-pemerannya. Semua.
Semua itu terbayangkan jika pada  akhirnya, karyanya “didagangkan” saja, dipancing orang datang dengan pemeran yang menggoda iman. Apalagi cuma menang tampang. Kacau.

Begini, bukan maksud penulis menghakimi Iqbaal. Hei, soal kamu ganteng memang bener, Bal!
Kekhawatiran ini muncul karena melihat bagaimana Dilan 1990 dan Teman Tapi Menikah disajikan, cukup miris. Jelas itu strategi Falcon. Aktor-aktris jaminan selera pasar yang sanggup menggaet penonton digathuk-gathukno, promosi dibesar-besarkan dan padahal toh filmnya tidak sefantastis itu.
Mengadaptasi novel legendaris dari penulis yang legendaris pula tentu tidak mudah. Makanya, kekhawatiran wajar saja kalau muncul, kan?

Semoga karena pertaruhan yang besar dan beresiko ini, Hanung bisa mengarahkan dengan baik dan memuaskan. Semoga juga Salman Aristo menggarap skenarionya dengan benar. Semoga karena ini karya Pramoedya Ananta Toer kemudian penggarapannya tidak main-main!
Intinya, penulis hanya mewanti-wanti. Ini bukan film cinta-cintaan tok. Ada baiknya pembaca segera membaca novelnya dulu, Bumi Manusia, sebelum melihat filmnya. Jangan membaca setelah menonton, banyak bohongnya kalau itu. Agar dapat tahu dan bersama-sama merasakan, siapa Minke dan bagaimana dia sebenarnya dengan pertemuan langsung dengannya melalui Bumi Manusia. Agar pembaca dapat berkenalan dan mengenal siapa Annelies, Nyai Ontosoroh, Robert Mellema, Jean Marais, Magda Peters, Doktor Hartinet, dan cerita-cerita hidup mereka dan keadaan saat itu. Saat-saat akhir abad 19.

Sungguh, jangan hanya datang karena ada iming-iming Iqbaal Ramadhan. Sekali lagi jangan! Gak ridho..
Diimpeni Pram!

P.S. : Taruhannya buka bersama, tempat dan waktu janjian aja. Ehe. Tapi ya jumlah terbatas, karena modalnya juga terbatas.

*Penulis adalah mahasiswi salah satu Perguruan Tinggi Surabaya. Doyan nonton dan traktiran.

 

Editor Picks