Kegemesan Level Ultimate terhadap “Pegiat” Seni Budaya Indonesia 1 630

Berani taruhan, kira-kira sampai lima tahunan lalu, stigma negatif terpopuler generasi tua terhadap generasi muda Indonesia abad keduasatu adalah kalimat ‘Anak muda jaman sekarang nggak peduli sama budaya bangsa sendiri.

Yaa… nggak salah sih… Tapi nggak benar juga. Selagi para ortu sibuk menghakimi demikian, ada ratusan ribu anak muda yang tengah berjuang melestarikan warisan budaya bangsa tanpa terekspos. Banyak dari mereka berlatih tari sampai badan kemeng nggak karuan, nge-jam dengan alat-alat musik tradisional bersama kawan sepeminatan, atau sibuk memersiapkan karya ukir sampai tengah malam.

Sebaliknya, ada juga mereka yang memang ogah cawe-cawe dalam arus kesibukan pelestarian warisan seni Indonesia. Tapi itupun toh karena orang tua mereka juga males nggak giat-giat amat mengenalkan, apalagi membiasakan, anak-anak mereka dengan kesenian Endonesah.

Tapi kemudian, dikarenakan apa yang disebut para guru dan dosen sebagai ‘krisis identitas’ tersebut, taubatlah masyarakat Indonesia. Eciye… Seketika, sanggar-sanggar kesenian mulai kebanjiran murid-murid baru. Pelaku seni modern mulai memasukkan unsur-unsur budaya tradisional ke dalam karya mereka. Pemusik dan penari tradisional bingung mengatur jadwal karena kebanyakan job. Bebarengan dengan itu, batik menjadi semakin lumrah digunakan dalam berbagai macam acara.

Dalam beberapa tahun saja, warga Endonesah tiba-tiba nampak sebagai gerombolan besar pecinta budaya. Kesenian budaya tradisional akhirnya menjadi komoditas yang luar biasa besar.

 

Tapi Ada Jeleknya

Mari menilik pada apa yang terjadi di tahun 2013, ketika sebuah film berjudul Frozen menjadi populer sak ndonya. Kala itu, YouTube langsung dipenuhi video cover lagu Let It Go. Boneka-boneka berbentuk Elsa, dengan pinggul yang bisa bergoyang maupun tidak, berjajar di toko-toko mainan pinggir jalan. Tas anak grosiran sekalipun bergambarkan wajah Elsa dan Anna, beberapa dihiasi tulisan ‘Princes’ atau ‘Mising You’ yang jelas-jelas cacat grammar dan blas nggak nyambung sama filmnya.

Sama seperti itu, menginjak popularitas baru, aktivitas melestarikan kesenian budaya Indonesia pun jadi punya versi KW-nya, mulai dari KW Super sampai KW minus-minus. Tentu saja, namanya juga kesenian, pasti bisa dinikmati maupun diselewengkan diinterpretasikan dengan cara bermacam-macam. Hanya saja, permasalahan muncul ketika hal itu dilakukan dengan rasa minim hormat terhadap karya seni itu sendiri.

Begini deh contohnya. Di kota-kota besar kan suering pake banget nih yang namanya seminar, woksop, disnatalis, dibuka atau diisi dengan penampilan kesenian, paling sering tari. Tapi sayang sekali, pihak penyelenggara acara maupun para “penari”-nya sendiri kadang nggak paham sama filosofi tarian yang ditampilkan. Nggak jarang ada kejadian di mana tarian sakral khusus pernikahan ditampilkan di pembukaan seminar. Sebaliknya, tarian kreasi yang modern dan atraktif, yang sengaja dibuat untuk menyambut tamu luar daerah, malah dijadikan pembuka kirab manten.

Itu baru dari aspek filosofi. Pada aspek kostum juga tak jauh beda. Sering sekali penulis mendapati penampilan Tari Gandrung—kan Banyuwangi memang lagi ngetren banget nih—yang jarik atau sewek-nya bukan motif batik Banyuwangi, tapi Madura, atau lebih parah lagi motif Jawa Tengah. Bahkan Mila Rosinta, seorang penari ternama asal Jogja, pernah berkeluh bahwa salah satu tariannya, Srimpi Kawung, yang menceritakan filosofi motif Kawung, pernah ditampilkan ulang oleh penari-penari yang menggunakan batik bermotif Parang.

Yang jauh lebih fatal masih ada. Sebuah video di YouTube menampilkan dua penari yang membawakan tari Gelang Ro’om dengan interpretasi yang ngawur gyet. Ragam-ragam gerak Gelang Ro’om yang disusun untuk menceritakan kerja keras dan kecantikan wanita Madura diubah SELURUHNYA jadi gerak uler meliak-liuk. Sudah begitu, lagu iringannya dipotong di beberapa bagian dan video diunggah tanpa disclaimer apapun, tetapi dilengkapi tagline ajakan untuk melestarikan budaya. Huft… Mari berpikir positif saja. Siapa tahu mereka memang ingin membuat kreasi tari kontemporer *masukkan efek suara ngakak*.

Itu tadi contoh dari sisi penampil. Dari sisi penikmat? Ada juga. Di Surabaya saja, bersamaan dengan semakin rutinnya tontonan rakyat seperti ludruk, ketoprak, dan wayang orang ditampilkan sebagai pergelaran periodik, semakin banyak pula fotografer yang tergugah untuk mengabadikan momen pementasan. Terkadang, demi beroleh hasil jepretan yang bagus dan estetek, mereka rela mengabaikan hal yang lebih utama, yaitu pertunjukan itu sendiri.

Tak jarang kita dapati suara para aktor di panggung tertutup oleh percakapan antarfotografer di dekat kita yang bingung lensa mana yang bagusnya dipakai, seberapa ISO-nya, seberapa aperture-nya, bla bla bla… Lalu tiba-tiba kita dikagetkan flash yang menyentak pandangan, walaupun penggunaan flash sudah dilarang sejak awal pertunjukan.

Lebih parah lagi, para fotografer ini kadang nggak sungkan untuk senggal-senggol kanan-kiri—kalau pertunjukannya di ruang terbuka—demi sampai di baris paling depan. Maklum, mereka kan pengen dapat spot strategis. Nggak apa-apa lah, sekalipun harus menutupi pandangan kakek-kakek tua atau dedek-dedek kecil yang sudah susah payah datang demi nonton pertunjukan.

 

Sudahlah. Untuk apa terlalu banyak ngomel? Toh semua juga melakukan atas dasar cinta dengan budaya kan? Sayangnya, kadang cinta itu buta, termasuk buta terhadap filosofi keberadaan budaya itu sendiri.

Previous ArticleNext Article

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagi Mereka, Antirasisme Tak Lebih dari Sekadar Konten 0 157

George Floyd, pria berkulit hitam yang meninggal karena lehernya ditindih kaki petugas pulisi berkulit putih Minneapolis, AS menimbulkan gelombang protes. Bahkan ribuan warga AS teramasuk selebritis sudah bodo amat dengan korona dan ‘stay at home.

Mereka turun ke jalan untuk memprotes diskriminasi terhadap warga berkulit hitam dan menuntut  pemerintah agar pelaku pembunuhan segera diadili. Di media sosial juga ramai postingan penuh empati yang dibungkus amarah warga net mengenai kasus yang tak kunjung menemukan titik cerah itu.

Louis Vuitton sebagai merek legendaris pun terkena bola api amarah netizen karena marketing masif tas terbarunya ‘Pont 9’. Merek asal Paris ini membayar sejumlah artis dan fashion influencer di seluruh dunia untuk promosi di Instagram.

Namun, tak ada postingan yang menunjukkan empati mereka terhadap isu rasisme yang sedang panas itu. Alhasil, merek high-end ini pun dikecam netizen dan pesohor seperti Emily Ratajkowski karena dinilai tak peka dengan isu sosial. Tak hanya dikecam, pada 31 Mei lalu, butik Louis Vuitton di Oregon dijarah oleh massa.

Tak mau menjadi sasaran amukan massa, merek-merek lain akhirnya memposting foto prihatin terhadap kasus ini dan menyuarakan antirasisme. Diawali dari Versace, lalu dilanjut oleh Dior, Alexander McQueen, dan merek-merek beken lainnya.

Dari observasi kecil-kecilan saya, hingga saat ini, hanya Louis Vuitton yang masih bersih dari postingan antirasisme. Ya sudah, terserah dia.

Saya mengira masalah sudah beres. Ternyata, kasus Louis Vuitton hanyalah appetizer dari masalah empati dan antirasisme yang ada di dunia yang fana ini. Seperti yang tertulis di lirik lagu penyanyi indie terpopuler se-Indonesia, Kekeyi, “ucapanmu manis di bibir saja”, pun juga dengan kampanye antirasisme dari selebgram dan merek-merek kedagingan ini. Rupanya, postingan mereka sebatas wacana yang tidak dipraktikkan di dunia nyata.

Celine, merek asal Perancis ini memposting foto bahwa ia mengecam segala bentuk diskriminasi. Ia juga menuliskan di kepsyen “#BLACKLIVESMATTER” sebagai cherry on top.

Postingan ini diprotes oleh seorang fashion stylist, Jason Bolden. Hal ini dikarenakan Heidi Slimane, sang creative director, enggan mendandani seebritis berkulit hitam, kecuali stylist mereka berkulit putih.

Merek di bawah naungan LVMH ini selalu – semenjak kursi creative director diduduki oleh Heidi Slimane – memiliki jumlah model berkulit hitam di setiap shownya. Pada koleksi musim gugur 2020 misalnya, hanya ada 10 model berkulit hitam dari 111 model (9 persen). Sosok model berkulit hitam sangat jarang ditemui di feed Instagramnya.

Selanjutnya, ada kasus dari L’oréal . Merek mek-ap ini mengunggah foto di Instagram dan twit di Twitter yang intinya melawan segala bentuk diskriminasi warna kulit. Munroe Bergdorf, seorang model berkulit hitam, sontak memberikan tanggapan sinis kepada L’oréal. Rupanya, iapernah didapuk sebagai modelnya pada 2017. Sayangnya, ia dipecat usai menyuarakan protes terhadap white supremacy di Facebook.

Zimmermann, merek pakaian bergaya bohemian ini masuk ke dalam daftar pihak-pihak yang cari aman usai kasus Louis Vuitton. Sama dengan kasus-kasus di atas, merek asal Sydney ini mengatakan bahwa intinya ia berkomitmen untuk melawan praktik-praktik diskriminasi.

Namun, mereka-mereka yang pernah bekerja dan magang di sana angkat bicara. Mereka mengatakan bahwa pekerja kulit hitam kerap kali mendapat diskriminasi dan sering dipojokkan. Tak hanya itu, Zimmermann juga menerapkan beauty standard perempuan berkulit putih Eropa.

Lalu Kris Schitzel, selebgram Rusia yang berfoto di tengah pendemo sambil membawa tulisan “BLACK LIVES MATTER”.  Ia menerima hujatan usai video behind the scene “pemotretan” untuk foto tersebut beredar. Terlihat ia menata pose sedemikian rupa sambil membenarkan gaunnya.

Memang tak seniat video Brojabro dengan sayap Victoria’s Secret-nya saat aksi unjuk rasa mahasiswa di Surabaya silam, namun video tersebut sudah dapat membuat kita menyimpulkan bahwa ternyata gerakan yang ia lakukan tak lebih dari kebutuhan produksi konten di medsos.

Last but not least, kasus yang menyeret perempuan paling berpengaruh di dunia fashion saat ini, Anna Wintour. Vogue AS, majalah ternama yang dikepalai oleh Wintour ini di media sosialnya aktif  menyuarakan Black Lives Matter. Namun, pada Rabu (10/6) lalu, wanita yang mendapat julukan “Nuclear Wintour” ini meminta maaf atas minimnya kesempatan bekerja bagi orang berkulit hitam di kantornya.

Pernyataan tersebut membuat beberapa mantan pekerja berkulit hitam di Vogue angkat bicara di Twitter. Mereka mengungkapkan perlakuan tidak menyenangkan dari Wintour dan pekerja lain. Mulai dari di-bully, hingga gaji yang lebih sedikit harus mereka telan selama bekerja di majalah yang dijuluki fashion bible tersebut.

Miris sekali ya, ketika empati kita sangat dibutuhkan di masa ini, ternyata hanya dijadikan konten guna menaikkan citra mereka, biar seakan-akan peduli dengan isu rasisme. Tuntutan netijen yang begitu besar untuk menampilkan konten empati, malah membuat sejumlah pihak menganggapnya sebagai formalitas belaka.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Renungan Seonggok Pemuja Online Shop 0 74

Sudah hampir 3 bulan kita dihajar kampanye urban yang telah menjadi gaya hidup: #dirumahaja. Walau sebentar kita tak perlu merasa terkurung lagi, tatanan kehidupan yang baru hampir terbentuk dari babak hidup kemarin.

Semua aktivitas lantas dilakukan dari tempat ternyaman, entah sofa atau bahkan tempat tidur, termasuk belanja online.

Mau ke supermarket sebenarnya bisa sih. Toh supermarket dan pasar adalah salah satu ragam bisnis yang senantiasa terkecualikan dengan boleh tetap bernapas, demi mengisi logistik masyarakat.

Tapi sebagian dari kita yang tidak termakan teori konspirasi JRX percaya virus corona ada, menjadi was-was dan meminimalisir kegiatan keluar rumah, sekalipun sekadar untuk berbelanja.  Sebisa mungkin di rumah, menghindari kerumunan, memenuhi bujukan anjuran pemerintah. Beraktivitas di luar rumah menjadi suatu kegiatan yang bahkan mulai terasa asing.

Kita patut bersyukur, bahwa sebelum corona memutuskan untuk mengusik kehidupan kita, teknologi market place sudah berkembang sedemikian rupa. Peluangnya bahkan makin merambah di situasi seperti sekarang ini.

Semua-semua saja dibeli online. Mulai dari susu hingga pisau dapur, dari sayur-mayur hingga cairan pewangi pakaian, kaos kaki impor Cina atau HP hasil pasar gelap, semua dimungkinkan hanya dengan sentuhan jari di gawai.

Bahkan kata teman-teman saya, selama menikmati PSBB di rumah, membuka aplikasi online shop sudah jadi habitus baru yang tak terhindarkan. Ajaibnya, online shop kini berkembang fungsinya, sampai-sampai ikut jadi pereda kebosanan. Ia menjadi obat mujarab atas panas nan jenuhnya hati atau menghindarkan diri dari potensi termakan hoax di grup WhatsApp keluarga.

Namun, ada akibat fatal yang tak kuasa kita taklukkan. Kita tak bisa hanya sekadar “cuci mata” di aplikasi belanja online. Kita susah untuk menolak check out habis keranjang belanja virtual tanpa ampun. Kalau sudah begini, online shop berubah wajah. Justru ialah musuh bebuyutan dompet tipismu.

Pun online shop menghantar kita pada berbagai belahan dan jurang pengalaman. Kadang membeli barang yang mungkin gak terlalu berdayaguna, hanya karena promo dan kode voucher, yang setelah dibeli dan dibayar malah menyesal. Persis kayak habis putus, lalu pengen balikan karena mantan tiba-tiba jadi lebih cakep setelah putus.

Tren online shop sudah merasuk sejak beberapa tahun ke belakang, tapi popularitasnya melonjak dan bahkan menjadi adikuasa yang padanya kita makin menghamba.

Ia hanyalah substitusi emol-emol dan café dengan menu-menu dengan bahasa enggresan ndakik-ndakik. Menggeser rejeki dari mbak-mbak SPG dan mas-mas barista, ke para kurir dan mamang-mamang packaging paket. Merekalah yang memastikan belanjaan kita sampai persis di depan pintu rumah.

Online shop adalah pemain pengganti, dari perasaan tak sabar menunggu antrian kasir di toko, ke perasaan dag-dig-dug tak sabar menunggu teriakan “paket” di depan gerbang rumah.

Begitu pula dengan penggunaan e-wallet dan m-banking yang tersedia di platform e-commerce, yang membuat jasa penukar uang pinggiran jalan gigit jari, teknisi IT start-up digital pesta pora, serta mahasiswa informatika kini jadi kandidat calon mantu idaman, menggantikan dokter yang semakin gak bisa ketemu keluarganya di masa sekarang.

Mungkin ini yang dinamakan “new normal”, sebuah istilah yang sudah sangat lacur penggunaannya dalam konversesyen tiap harinya. Kebaruan yang dianggap normal. Namun juga kenormalan lama yang dibuatkan bentuk barunya. Kebiasaan baru rakjat untuk berbelanja, dan segala lika-liku di baliknya, jadi salah satu bab tak terelakkan di dalamnya.

Editor Picks