Kegemesan Level Ultimate terhadap “Pegiat” Seni Budaya Indonesia 1 937

Berani taruhan, kira-kira sampai lima tahunan lalu, stigma negatif terpopuler generasi tua terhadap generasi muda Indonesia abad keduasatu adalah kalimat ‘Anak muda jaman sekarang nggak peduli sama budaya bangsa sendiri.

Yaa… nggak salah sih… Tapi nggak benar juga. Selagi para ortu sibuk menghakimi demikian, ada ratusan ribu anak muda yang tengah berjuang melestarikan warisan budaya bangsa tanpa terekspos. Banyak dari mereka berlatih tari sampai badan kemeng nggak karuan, nge-jam dengan alat-alat musik tradisional bersama kawan sepeminatan, atau sibuk memersiapkan karya ukir sampai tengah malam.

Sebaliknya, ada juga mereka yang memang ogah cawe-cawe dalam arus kesibukan pelestarian warisan seni Indonesia. Tapi itupun toh karena orang tua mereka juga males nggak giat-giat amat mengenalkan, apalagi membiasakan, anak-anak mereka dengan kesenian Endonesah.

Tapi kemudian, dikarenakan apa yang disebut para guru dan dosen sebagai ‘krisis identitas’ tersebut, taubatlah masyarakat Indonesia. Eciye… Seketika, sanggar-sanggar kesenian mulai kebanjiran murid-murid baru. Pelaku seni modern mulai memasukkan unsur-unsur budaya tradisional ke dalam karya mereka. Pemusik dan penari tradisional bingung mengatur jadwal karena kebanyakan job. Bebarengan dengan itu, batik menjadi semakin lumrah digunakan dalam berbagai macam acara.

Dalam beberapa tahun saja, warga Endonesah tiba-tiba nampak sebagai gerombolan besar pecinta budaya. Kesenian budaya tradisional akhirnya menjadi komoditas yang luar biasa besar.

 

Tapi Ada Jeleknya

Mari menilik pada apa yang terjadi di tahun 2013, ketika sebuah film berjudul Frozen menjadi populer sak ndonya. Kala itu, YouTube langsung dipenuhi video cover lagu Let It Go. Boneka-boneka berbentuk Elsa, dengan pinggul yang bisa bergoyang maupun tidak, berjajar di toko-toko mainan pinggir jalan. Tas anak grosiran sekalipun bergambarkan wajah Elsa dan Anna, beberapa dihiasi tulisan ‘Princes’ atau ‘Mising You’ yang jelas-jelas cacat grammar dan blas nggak nyambung sama filmnya.

Sama seperti itu, menginjak popularitas baru, aktivitas melestarikan kesenian budaya Indonesia pun jadi punya versi KW-nya, mulai dari KW Super sampai KW minus-minus. Tentu saja, namanya juga kesenian, pasti bisa dinikmati maupun diselewengkan diinterpretasikan dengan cara bermacam-macam. Hanya saja, permasalahan muncul ketika hal itu dilakukan dengan rasa minim hormat terhadap karya seni itu sendiri.

Begini deh contohnya. Di kota-kota besar kan suering pake banget nih yang namanya seminar, woksop, disnatalis, dibuka atau diisi dengan penampilan kesenian, paling sering tari. Tapi sayang sekali, pihak penyelenggara acara maupun para “penari”-nya sendiri kadang nggak paham sama filosofi tarian yang ditampilkan. Nggak jarang ada kejadian di mana tarian sakral khusus pernikahan ditampilkan di pembukaan seminar. Sebaliknya, tarian kreasi yang modern dan atraktif, yang sengaja dibuat untuk menyambut tamu luar daerah, malah dijadikan pembuka kirab manten.

Itu baru dari aspek filosofi. Pada aspek kostum juga tak jauh beda. Sering sekali penulis mendapati penampilan Tari Gandrung—kan Banyuwangi memang lagi ngetren banget nih—yang jarik atau sewek-nya bukan motif batik Banyuwangi, tapi Madura, atau lebih parah lagi motif Jawa Tengah. Bahkan Mila Rosinta, seorang penari ternama asal Jogja, pernah berkeluh bahwa salah satu tariannya, Srimpi Kawung, yang menceritakan filosofi motif Kawung, pernah ditampilkan ulang oleh penari-penari yang menggunakan batik bermotif Parang.

Yang jauh lebih fatal masih ada. Sebuah video di YouTube menampilkan dua penari yang membawakan tari Gelang Ro’om dengan interpretasi yang ngawur gyet. Ragam-ragam gerak Gelang Ro’om yang disusun untuk menceritakan kerja keras dan kecantikan wanita Madura diubah SELURUHNYA jadi gerak uler meliak-liuk. Sudah begitu, lagu iringannya dipotong di beberapa bagian dan video diunggah tanpa disclaimer apapun, tetapi dilengkapi tagline ajakan untuk melestarikan budaya. Huft… Mari berpikir positif saja. Siapa tahu mereka memang ingin membuat kreasi tari kontemporer *masukkan efek suara ngakak*.

Itu tadi contoh dari sisi penampil. Dari sisi penikmat? Ada juga. Di Surabaya saja, bersamaan dengan semakin rutinnya tontonan rakyat seperti ludruk, ketoprak, dan wayang orang ditampilkan sebagai pergelaran periodik, semakin banyak pula fotografer yang tergugah untuk mengabadikan momen pementasan. Terkadang, demi beroleh hasil jepretan yang bagus dan estetek, mereka rela mengabaikan hal yang lebih utama, yaitu pertunjukan itu sendiri.

Tak jarang kita dapati suara para aktor di panggung tertutup oleh percakapan antarfotografer di dekat kita yang bingung lensa mana yang bagusnya dipakai, seberapa ISO-nya, seberapa aperture-nya, bla bla bla… Lalu tiba-tiba kita dikagetkan flash yang menyentak pandangan, walaupun penggunaan flash sudah dilarang sejak awal pertunjukan.

Lebih parah lagi, para fotografer ini kadang nggak sungkan untuk senggal-senggol kanan-kiri—kalau pertunjukannya di ruang terbuka—demi sampai di baris paling depan. Maklum, mereka kan pengen dapat spot strategis. Nggak apa-apa lah, sekalipun harus menutupi pandangan kakek-kakek tua atau dedek-dedek kecil yang sudah susah payah datang demi nonton pertunjukan.

 

Sudahlah. Untuk apa terlalu banyak ngomel? Toh semua juga melakukan atas dasar cinta dengan budaya kan? Sayangnya, kadang cinta itu buta, termasuk buta terhadap filosofi keberadaan budaya itu sendiri.

Previous ArticleNext Article

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alasan untuk Jangan Keburu Alergi terhadap Soal Hitungan di Tes Seleksi Kerja 0 123

Mengapa musti sulit belajar matematika dari TK sampai SMA? Sedang di kehidupan nyata cuma untuk menghitung uang kembalian, itupun sekarang sudah ada kalkulator? Telanjur capek-capek belajar dari bilangan eksponen, matriks, trigonometri, sampai geometri, gak bakalan dipakai buat bekal hidup!

Barangkali banyak dari Pembaca budiman yang beranggapan demikian. Apalagi kalau Pembaca bekerja atau berkuliah di luar jalur sains, pasti setuju kalau belajar matematika sampai muntah cecek ternyata tak berguna. Ada juga yang kesal dengan sistem seleksi calon karyawan yang menggunakan soal matematika (dalam TPA), sehingga kembali bertemu angka-angka brengsek itu.

Terlanjur move on dari matematika saat kuliah, banyak teman saya yang kaget harus kembali belajar matematika untuk kerja, sebal harus kembali berhadapan dengan musuhnya saat sekolah dulu. Dan itu termasuk saya. Namun, seorang pelanggan toko mengirim wahyu yang mengubah (dengan radikal dan revolusioner) pandangan-pandangan saya.

Suatu hari, seorang laki-laki tambun datang ke toko saya untuk membeli kaca untuk dekorasi kafenya. Ia minta dipotongkan kaca berbentuk segitiga sama kaki dengan alas 1 meter dan panjang kaki sebesar 20 cm. Sontak saya dan orang tua saya kaget dengan kompak.

“Mana bisa, Mas? Kan alasnya semeter, kalau sisinya 20 cm dong jadinya gini?” Jelas Mama saya sambil menunjukkan bentuk sisi segitiga yang tidak bisa menyatu. Ya, mirip pacaran berda agama.

Orang itupun nampak bingung.  “Berapa bisanya? Kalau 30 cm bisa gak?” Tanya orang tersebut.

“Ya gak bisa, Mas. Paling nggak sisi-sisinya semeter, nanti jadinya segitiga sama sisi,” jawab Papa saya.

Bukannya merasa tercerahkan, orang tersebut masih nampak bingung dengan urusan segitiganya. Padahal, selama sekolah, kita sudah mati-matian dihajar oleh segitiga. Dari yang paling sederhana, mencari keliling, hingga utak-atik sisi dan sudut menggunakan trigonometri. Kalaupun semisal mas-mas tersebut hanya lulusan SD, seharusnya ia sudah pernah belajar jenis-jenis segitiga, sifat-sifat segitiga, dan triple pythagoras.

Untuk mencari sisi yang pas untuk segitiga mas-mas tersebut sendiri cukup mudah. Yang paling gampang bisa menyamakan sisi kaki dengan sisi alasnya. Atau, kalau mas-mas tersebut kekeuh dengan bentuk segitiga sama kaki, bisa menggunakan angka triple pythagoras dan hasilnya adalah 130 cm.

Kejadian ini menunjukkan saya bahwa problem matematika di kehidupan sehari-hari tidak melulu soal uang. Selain masalah logika sederhana seperti tadi, pengetahuan matematis juga akan dijuji saat Anda mengerjakan tes IQ atau tes potensi akademik (TPA). Tes-tes itu, pembaca tahu, banyak diajukan dalam tes seleksi kerja atau CPNS.

“Lho, kan tidak semua orang dikaruniai kecerdasan numerikal?”

Yak, benar memang. Tes IQ sendiri juga banyak menuai kontra karena dianggap hanya melihat kecerdasan numerikal, linguistik, dan spasial. Tapi, bukan berarti Anda memilih untuk alergi apalagi fobia dengan urusan angka.

Saya sendiri menyarankan Anda untuk sesekali mengerjakan soal matematika sederhana seperti soal-soal TPA tatkala menganggur. Tenang, ini bukan rekomendasi abal-abal seperti inpluenser lokal (Baca: Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi). Tersebab, saya sudah melakukan riset kecil-kecilan mengenai kecerdasan.

Banyak teman saya yang lesu putus asa saat harus kembali belajar matematika untuk bisa mengerjakan TPA saat melamar pekerjaan. Sifat alergi itu datang lantaran pikiran mereka hanya dibayangi oleh bejibun angka-angka, tanpa tahu tujuan dari tes tersebut.

Secara sains, mengerjakan soal seperti ini terbukti meningkatkan IQ Anda. Dengan mengulas lagi pelajaran yang sudah usang, ikatan antar saraf otak Anda akan kembali terjalin dan menguat. Hubungan antar syaraf (sinapsis) pada otak inilah yang menentukan kecerdasan manusia.

Peningkatan IQ ini tidak hanya terkait kecerdasan numerikal saja. Setidaknya menurut pengalaman saya, mengerjakan soal TPA meningkatkan kemampuan menganalisis pola-pola dalam sebuah masalah, dan kemudian mencari solusinya. Mungkin, inilah mengapa banyak sekali perusahaan dan instansi yang menggunakan soal TPA untuk menyeleksi calon karyawan. Sekali lagi, bukan melihat kecerdasan numerikal namun identifikasi pola dalam masalah dan mencari solusinya.

Selain meningkatkan kecerdasan, belajar matematika juga melatih ketelitian. Saya rasa untuk poin ini, Anda sudah mengerti. Hal ini karena hasil yang benar tidak akan didapatkan apabila terdapat kesalahan dalam menghitung.

Di samping menguji ketelitian, mengerjakan soal matematika juga menguji kesabaran.  Tak jarang kita harus menghitung ulang saat tidak menemukan jawaban kita di pilihan jawaban…

Dan yang terakhir itu adalah manfaat tak terelakan, minimal meningkatkan kapasitas imej Anda di mata anak-anak kelak. Bayangkan bila suatu hari nanti anak-anak Anda meminta bantuan mengerjakan soal matematika sederhana, tetapi Anda tidak bisa mengerjakannya….

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

Dukun Abal-abal dan Fitnah pada Genderuwo Nakal 0 144

Oleh: Yogi Dwi Pradana*

 

Nasib tragis dialami seorang bocah perempuan berusia 7 tahun bernama Aisyah. Ia menjadi sebuah korban percobaan dukun abal-abal di Desa Bejen, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Aisyah meninggal dunia setelah disuruh memakan cabai dan bunga mahoni oleh dukun abal-abal tersebut, serta ia diminta menenggelamkan kepala di dalam air untuk mengetahui apakah benar Aisyah ini keturunan genderuwo atau bukan.

Kisah ini tragis, tapi juga aneh. Sebab, setahu saya dari cerita rakjat, genderuwo tidak seiseng itu untuk merasuki anak kecil dan membuatnya jadi nakal. Salah satunya adalah Mbah Wagini dari Alas Purwo. Ia diyakini sebagai seorang keturunan genderuwo dengan seluruh badannya ditumbuhi bulu lebat.

Walaupun terlihat menakutkan, Mbah Wagini di alam gaib adalah makhluk yang dipuja. Begitu kata Eyang Ratih, pengasuhnya sejak kecil. Dan dia tidak nakal ya, ingat. Gak semua genderuwo seperti kata dukun abal-abal itu.

Poin lain yang mengherankan bagi saya dari peristiwa ini adalah, motivasi sang orang tua membawa Aisyah ke dukun. Tentu, setelah bertahun-tahun mengasuhnya, mereka sampai pada titik lelah, sehingga tak sanggup lagi mengatasi kenakalan si anak dengan kekuatannya sendiri.

Padahal, bukankah 7 tahun adalah usia normal anak bersikap aktif dan banyak tingkah misalnya, jika demikian yang dikategorikan nakal oleh kebanyakan orang. Di usia ini, anak sudah siap masuk ke jenjang sekolah dasar dan siap beradaptasi dengan hal-hal yang baru ia temui. Justru peranan orang tua dalam mendidik anak di usia ini sangat penting.

Menurut saya yang belum punya anak ini, masih ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mendidik anak nakal usia 7 tahun. Misalnya, mengedepankan komunikasi dengan anak. Aktif berbincang untuk mengetahui apa yang dipikirkan dan diinginkan si anak. Selanjutnya, ajak anak untuk terbiasa mengatasi masalah secara bersama-sama. Orang tua tugasnya kan membimbing, bukan cuma ngasih makan.

Beberapa poin yang saya sebut tadi, ujungnya adalah agar orang tua bisa mengenali sisi emosi anak. Kalau orang tua kesusahan, “anak nakal” seharusnya bisa diatasi oleh ahlinya. Konsultasi ke psikolog misalnya.

Anak yang nakal seharusnya mendapat edukasi dari orang tua, bukan malah dibawa ke dukun untuk dirukiyah. Kan kita semua tahu, sudah banyak kejadian-kejadian yang tidak diinginkan terjadi ketika menyelesaikan masalah dengan dukun.

Salah satu kisah soal ini datang Nanang (bukan nama sebenarnya) dari Tasikmalaya, Jawa Barat yang mengaku sebagai dukun. Alih-alih mengobati pasien, Nanang meminta pasien-pasien yang datang padanya untuk melayani hasrat seksualnya.

Eits, tapi tidak semua dukun itu abal-abal dan nol keahlian ya. Nyuwun pangapunten Mbah Dukun! Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk melarang pembaca datang ke dukun (semua kembali ke kepercayaan masing-masing).

Tapi dari pengalaman ini kita belajar, untuk mengatasi persoalan dengan hati dan wawasan yang luas. Jika sudah mentok dengan usaha sendiri, baiknya memang datang ke pakar dengan ilmu yang pasti-pasti aja.

 

*)Seorang mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Aktif di organisasi Susastra KMSI UNY, bergiat di komunitas sastra Lampu Tidurmu, dan menjadi penulis artikel di UNY Community.

*) Ilustrasi oleh Brigitha Aidha Jannah

Editor Picks