Mengapa ‘Bohemian Rhapsody’ Harus Berterimakasih pada Freddie Mercury 0 1706

Kita perlu sangat berterimakasih pada Freddie Mercury. Peringatan ini diberikan penulis sedini mungkin, karena memang itulah hakikat hajat hidup tulisan ini dan jawaban atas hobimu yang kudu banget nontonin semua film hits di bioskop.

Sejak rilis 24 Oktober di kota kelahiran Queen dan 31 Oktober di Indonesia, Bohemian Rhapsody menjadi buah bibir tua-muda bahkan dipakai sebagai modus terkini ngajak areké nge-date. Jadi, semoga tulisan ini tidak menjadikan kawan-kawan pembaca urung menonton.

Teriring dalam tulisan ini, penulis ingin berbagi pengalaman menonton selama lebih kurang 130 menit. Penulis datang dengan ekspetasi tinggi akan dipuaskan betul oleh film ini. Setiap menitnya harus mencengangkan dan setiap adegannya harus mengagumkan. Ekspetasi ini tidak terlalu tinggi untuk biopik band sekelas Queen kan?

Namun, sayang seribu sayang, penulis harus rangkum Bohemian Rhapsody sebagai: remaja galau yang bingung mau bercerita tentang apa. Di awal, kental sekali keinginan pembuat film untuk mengangkat kisah bagaimana Queen terbentuk. Bermula dari band Smile di sebuah klub kecil yang sedang frustasi karena ditinggal vokalisnya. Lalu bergabunglah Farrokh Bulsara alias Freddie Mercury mengisi posisi vokalis utama, ditambah bassist John Deacon, lengkap dengan Brian May pada gitar dan Roger Taylor pada drum.

Perjalanan mereka dilanjutkan dengan penampilan dari panggung ke panggung, hingga kisah menjual van untuk rekaman lagu di studio yang singkat cerita membuat mereka meneken kontrak dengan EMI Records. Tapi, saudara-saudara sekalian perlu dicatat bahwa perjalanan sakral band kelas kakap ini akan sangat diganggu oleh fokus kisah pada Freddie.

Barangkali, Freddie sebagai vokalis utama memang layak untuk diberi porsi cerita lebih banyak daripada personil lainnya. Selain karena dirinya cerdas, perfeksionis, dan flamboyan setidaknya ada tiga unsur yang membuat kepribadian Freddie menjadi ramuan yang sangat seksi untuk diangkat menjadi premis utama.

Pertama, identitas Freddie yang adalah keturunan Persia penganut kepercayaan Zoroastian dan tinggal menetap di Inggris. Kedua, konflik interaksi keluarga bagaimana Freddie sebagai anak laki-laki yang tidak bisa memenuhi ekspetasi orang tuanya untuk tidak berkarir di musik melainkan bekerja ‘normal’. Ketiga, pencarian jati diri Freddie akan identitas gendernya.

Yang ketiga itu kontroversial dan jadi bahan ampuh untuk mengulik pergolakan batinnya. Memang digambarkan bagaimana Freddie awal mulanya menjalin kisah dengan Mary Austin, memenuhi ideologi dominan tentang hubungan heteroseksual.

Namun, perlahan pergeseran Freddie yang mulai menjalin kasih dengan kaum brewok dijelentrehkan secara simbolis, yang puncaknya pada pertengkarannya dengan Mary. Pada adegan itulah, klise layaknya formula film bergenre drama sekadar dipenuhi. Adegan dipercepat sampai perubahan penampilan Freddie untuk memotong rambut dan menumbuhkan kumis, simbol-simbol pengakuan diri sebagai homoseksual.

Jika saja adegan sebelumnya tidak loncat-loncat ke tur-tur Queen dan lebih berani menguliti konflik internal Freddie atas konstruksi identitasnya sebagai gay, tentu emosi penonton bisa lebih maksimal dibangkitkan. Adegan-adegan Freddie yang tenggelam dalam rasa kesepian di balik aksi panggungnya yang mampu menyihir penonton itu, sayangnya digambarkan terlalu singkat.

Baru saja penonton disuruh bersimpati pada sosok Freddie yang frustasi, eh adegan dilempar lagi pada penampilan Queen. Baru saja penonton diajak menikmati peluh Queen menggarap Bohemian Rhapsody, eh adegan berpetualang lagi kembali ke Freddie.

Jika benar film ini berniat menyajikan perjalanan karir Queen, rupanya penulis naskah tergoda imannya oleh pesona Freddie. Padahal, kalau boleh jujur, bahkan tidak butuh Queen atau embel-embel Bohemian Rhapsody untuk membuat film ini menjadi a great success. Tapi jika benar film ini adalah biopik Queen, mana kisah tentang pribadi personil-personil lainnya? Apa memang benar, ‘your majesty’dari Queen hanya Freddie seorang?

Kalau pun Freddie dituhankan di film ini, selayaknya ia dihantar sebagai otak utama di balik ke-gendheng-an Bohemian Rhapsody agar dapat menjawab judul film. Jika direnungkan, bukankah film yang judulnya Bohemian Rhapsody hendaknya menggali proses kreatif penulisan lagu. Atau paling tidak menjawab spekulasi nyinyir citizen (karena di tahun 1975 belum tercipta makhluk namanya netijen) mengenai makna misterius di balik Mamamia, Scaramouce, Fandango, Figaro, dan Bismillah dan nada serba opera.

Atau penceritaan yang komprehensif bagaimana 24 trek pita kaset aus karena berkali-kali merekam bagian lirik ‘Galileo’ agar mendapat pitch sempurna seperti yang dimau Freddie. Adegan ini hadir, tapi persentasenya dalam cerita menduduki kasta sudra.

Atau lanjutkan juga dengan bagaimana perjalanan lagu ini menolak habis-habisan status quo format komersil durasi 3 menit, lompatan nada yang easy listening, dan mengandung refren. Bagaimana perjalanan lagu ini lantas mampu mendobrak selera pasar dan menjadi karya magis yang lestari hingga puluhan tahun. Bohemian Rhapsody yang magis nyatanya tidak terlalu dielu-elukan sebagaimana ia dijadikan judul film.

Lagu edan berdurasi hampir 6 menit yang awalnya ditolak mentah-mentah dan kemudian berhasil bertahan di 10 besar tangga lagu Amerika rupanya lebih penting diceritakan sebagai prestasi Queen daripada misteri dan ritual yang terjadi di studio di Wales selama 70 jam pembuatan lagu tersebut.

Pada akhirnya, film ini tidak lebih dari kisah sukses sebuah band rock asal Inggris dan wahana karaoke para penggemar akut lagu-lagu Queen yang tidak-bisa-tidak sing along ‘Bohemian Rhapsody’, ‘Radio Gaga’, dan‘We are the Champion’ saat adegan Live Aid 1985. Gara-gara itulah, katanya film ini tetap layak ditonton. Bagi penulis, Anda tetap bisa nonton film ini supaya film garapan 20th Century Fox yang memakan drama selama 10 tahun produksi ini bisa balik modal.

Bagi penulis, satu-satunya yang menyelamatkan film ini adalah Freddie Mercury dengan segala pergolakan batin, keluarga, identitas, dan orientasi seksualnya. Kalau bukan karena Freddie, penulis kesulitan benar mengidentifikasi motivasi dan tingkat kepuasan terhadap film ini.

Penghormatan dan terima kasih harus diberikan sebesar-besarnya pada si jenius, Freddie Mercury. Kalau bukan karena beliau, Bohemian Rhapsody sebagai lagu maupun film adalah karya biasa-biasa saja yang mungkin tidak layak dikenang lintas generasi.

 

(Catatan tambahan: Penulis harus banget menghabiskan waktu 1×24 jam disertai doa dan puasa demi menyelesaikan tulisan ini saking mindernya dengan Queen beserta jajaran fansnya.)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wajah Ganteng Song Joong Ki dan Tabiat Penonton Drama Korea 0 595

Vincenzo, drama Korea yang tayang pada setiap hari Sabtu di TVN dan Netflix ini, menyajikan alur yang menarik untuk ditonton. Dibintangi oleh Song Joong Ki, Jeon Yeo Bin, dan Taecyeon, drama ini seolah mengolok-olok kebobrokan penegakan hukum di Korea Selatan.

Penegakan hukum yang lemah di Korea Selatan sudah menjadi rahasia umum. Tak jauh berbeda dengan Indonesia, keadilan sosial hanya milik mereka yang memiliki harta, tahta, dan koneksi ordal (orang dalam). Misalnya kabar kencan Jennie Blackpink dan G-Dragon Bigbang yang diunggah Dispatch disinyalir dijadikan pengalihan isu politik.

Lalu, yang paling menggegerkan, Seungri eks Bigbang bisa lepas dari semua tuduhan atas skandal Burning Sun. Padahal, salah satu saluran televisi Korea Selatan telah melakukan investigasi (dan disertai bukti) bahwa Seungri telah melakukan penganiayaan, pelecehan seksual, prostitusi, dan lima tuduhan lainnya. Namun, hukum menyatakan Seungri tidak terbukti bersalah. Kzl!

Kembali ke Vincenzo, drama dengan 20 episode ini menceritakan tentang Vincenzo Cassano (Song Joong Ki), seorang pengacara mafia di Milan yang kembali ke negara asalnya, Korea Selatan.

Kembalinya Vincenzo ke negeri ginseng itu didasari atas keinginannya untuk mengambil emas milik seorang pengusaha besar asal Tiongkok yang telah meninggal. Tanpa disangka, Vincenzo harus berurusan dengan Babel Group, sebuah perusahaan korup yang juga dibantu firma hukum beken, Wusang.

Sementara itu, Hong Cha Young (Jeon Yeo Bin) juga ingin membalas dendamnya atas kematian ayahnya yang didalangi oleh Babel Group dan Wusang, mantan firma hukum tempatnya bekerja. Akhirnya, Vincenzo dan Hong Cha Young merencanakan balas dendam yang “tidak biasa” kepada Babel Group dan Wusang dengan cara-cara mafia.

Dikemas dalam genre kriminal dan dark comedy, drama ini tak hanya membuat kita penasaran, namun juga tertawa terbahak-bahak, dan penasaran (tak jarang juga sampai jadi overthinking). Banyak sindiran kepada penegakan hukum Korea Selatan yang disampaikan lewat alur, dialog, serta karakter-karakter dalam dramanya.

Sindiran ini menjadi lebih lucu karena tanpa disengaja juga ikut menyindir penegakan hukum di Indonesia. Misalnya, bagaimana hukum, aparat polisi, serta media dengan mudah “dibeli” oleh pengusaha yang sangat berkuasa untuk melindunginya.

Meski sudah jelas bahwa pabrik farmasi Babel akan memproduksi obat analgesik (pereda nyeri) dengan narkoba dosis tinggi, Babel Group tetap dapat mengantongi izin produksi. Sedangkan, mereka yang memperjuangkan keadilan dan kebenaran pasti akan meregang nyawa di tangan Babel Group dan Wusang.

Selain itu, terdapat dialog-dialog sarkastik yang sangat mewakili keadaan Korea Selatan dan Indonesia. Misalnya, Hong Cha Young pernah mengatakan bahwa penjahat di Korea Selatan bukan hanya mafia, namun semua pihak merupakan mafia dan melakukan kartel.

Lalu, Vincenzo juga pernah mengatakan bahwa manusia tidak akan pernah bisa melawan monster. Hanya monster yang bisa melawan monster. Selain itu, Vincenzo juga berkata, keadilan hanya terjadi bila dijalankan secara sempurna. Atau dengan kata lain, menegakkan keadilan dan melawan penguasa dengan jalur halal hanyalah mimpi di siang bolong.

Meski drama ini membawa wacana yang menarik didiskusikan, penulis belum menemukan adanya diskusi berbobot mengenai pesan utama drama ini. Pembicaraan di internet mengenai drama ini hanyalah sebatas membahas ketampanan wajah Song Joong Ki belaka. Bahkan, sampai menyelip-nyelipkan status duda sang aktor.

Kalau pembaca mantengin di Instagram, obrolan tentang karamnya bahtera rumah tangga aktor 35 tahun ini dengan Song Hye Kyo lebih banyak dari pada yang membahas alur ceritanya.

Kalaupun tidak membahas kehidupan pribadi Song Joong Ki, diskusi yang ada hanyalah sebatas kisah cinta samar-samar antara Vincenzo dan Hong Cha Young. “Ih gemes banget sentil-sentilan,” “mau dong peluk Vincenzo juga,” “inilah keuwuwan badass couple.” Lho, bukannya tipis-tipisnya kisah romansa mereka ini menjadi kode bahwa kisah cinta mereka bukanlah poin utama dari ceritanya?

Padahal masih banyak yang bisa dibahas. Misal,  ironi yang ditampilkan lewat dark humour drama Vincenzo, krisis kepercayaan masyarakat Korea Selatan kepada hukum yang diwakili drama ini, atau sarkasme drama Vincenzo apakah harus ada orang-orang “gila” seperti Vincenzo dan Hong Cha Young agar orang miskin dan tidak berdaya bisa mengecap keadilan? Ceileh….

Tidak heran bila masih banyak yang memandang drama Korea sebagai drama menye-menye yang feminin. Apapun genrenya dan seberat apapun ceritanya, ujung-ujungnya juga mbahas penampilan aktor-aktris dan kisah cinta antara tokoh utama. Paling mentok bahas teori-teori untuk menebak episode berikutnya.

Sayang sekali, padahal pembuat drama sudah sangat matang dalam menggodok dan mengeksekusi drama. Capek-capek bikin drama bagus, yaelah yang diliat mukanya Song Joong Ki doang. Namaste.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Rayu Sang Raya pada Asia Tenggara 0 444

(Diingatkan kepada pembaca sekalian untuk berhati-hati, karena tulisan ini tentu mengandung spoiler)

 

Disney kembali muncul tanpa premis klasik kisah percintaan putri dan pangeran. Sejak Brave dengan latar Skotlandia bertemakan cinta ibu-anak dan Frozen dari Denmark yang menceritakan cinta terhadap saudara perempuan. Kali ini, “Raya and The Last Dragon” hadir dengan sesuatu yang lebih kompleks: mencintai persatuan dalam perbedaan.

Kisah dimulai dari negeri fiktif bernama Kumandra. Semua hidup damai bersama para naga, sampai negara api menyerang, eh, sampai makhluk jahat bernama Druun menyerang, mengubah semua orang dan naga menjadi batu. Kemudian para naga terakhir membuat batu permata sihir dan menyerahkannya pada Sisu, sang naga air, untuk menyelamatkan manusia.

Alih-alih menjadi damai, Kumandra malah terpecah menjadi 5 negara: Fang, Heart, Spine,Talon, dan Tail, untuk saling memperebutkan batu permata itu. Raya dari negara Heart berusaha mencari naga terakhir untuk menyatukan perbedaan 5 negara dan mengembalikan Kumandra.

Tidak semudah itu ya memperoleh kepercayaan dan persatuan di dunia yang fana ini. Kedua nilai ini tentu terlalu klise dan harus ditambahkan sentuhan tantangan dong.

Tantangan pertama ditunjukkan dengan sikap dan pendirian Raya yang tak mudah percaya dengan orang lain. Pengalaman yang mengajarinya, ketika Namaari, kawan masa kecilnya malah menusuknya dari belakang.

Nilai dan kondisi cerita ini sangat relevan bukan untuk hidup kita sekarang. Era post-truth, di mana dengan media sosial, semua punya kebenaran dengan masing-masing perspektif, sampai kita tak tahu lagi mana yang harus dipercaya.

Era ini juga adalah era di mana teman makan teman, atau teman menyelengkat mantan. Banyak problematikanya jika soal percaya. Apalagi sejak kejadian Mbak Felicia, ah laki-laki semua sama saja.

Kedua, kebencian diajarkan dan dipupuk turun-menurun. Ini ditunjukkan di bagian awal cerita, bagaimana Raya kecil menceritakan kejamnya 4 negara lain. Tidak ada hal positif yang diceritakannya. Untuk anak sekecil itu yang polos, kebencian dan keinginan melindungi negaranya sendiri adalah nilai yang diajarkan leluhurnya berabad-abad lamanya. Kebencian yang tertanam di diri anak-anak ditunjukkan juga oleh Namaari, tokoh antagonis kawan Raya yang nampak diberi mandat oleh ibunya untuk mempertahankan tahta negeri Taring atau Fang.

Konflik cerita yang berupa kepercayaan versus kecurigaan dan persatuan lawan kebencian, berakhir sangat klise: Namaari sebagai survivor akhir dari Druun yang menyerang manusia tiba-tiba memiliki rasa kepercayaan dan menyatukan batu permata sihir negara. Setelah itu, batu permata menunjukkan kekuatannya dan mengusir pergi Druun dari dunia. Semua keadaan kembali normal, semua naga hidup dan kelima negara tiba-tiba saja bersatu kembali. Padahal sebelum menjadi batu, mereka kan saling berperang.

Apakah ini karena semata-mata rasa saling percaya? Apa yang membuat mereka tiba-tiba saling percaya?

Disney merepresentasikan Asia Tenggara sebagai negara-negara berkembang yang percaya kekuatan The Almighty atau supranatural. Ya, Kumandra percaya bahwa hanya naga yang bisa menyatukan mereka.  Raya saja bela-belain mencari Sisu, sang naga terakhir selama 6 tahun ke setiap ujung sungai penjuru negeri. Selain itu, banyak ritual kepercayaan yang dijalankan, menghormati naga ketika bertemu, hingga berdoa dengan sesajian.

Cerita ini juga ingin menegaskan, bahwa dunia Asia Tenggara dalam konteks ini, bersatu kembali bukan semata-mata karena memahami indahnya nilai persatuan dalam perbedaan, tapi karena kesamaan kepercayaan mereka akan makhluk mitologi.

Mereka juga tiba-tiba berdamai satu sama lain, karena telah menerima cobaan dari Druun. Sekali lagi, perlu kekuatan metafisika untuk memberi pelajaran. Sama persis dengan sinetron azab di tipi.

Pesan moral indah yang dibangun susah payah sejak awal cerita, dipatahkan dengan nilai bahwa kita ini adalah bangsa-bangsa yang menggantungkan hidup pada kekuatan di luar diri kita.

Menurut banyak pendapat sih, nilai supranatural yang dianut kebanyakan masyarakat Asia Tenggara memang menjadi wacana yang seksi bagi orang Barat, mereka para kreator film ini. Mungkin, hanya spiritualitas lah, nilai unggul yang membedakan kita dari bangsa mereka.

Pun, people of color, semua princess selain kulit putih: Pocahontas, Mulan, Moana, hingga yang terakhir Raya, adalah perempuan yang harus berjuang keras sampai lusuh hingga menunjukkan prestasi sebagai pembuktian agar bisa dipercaya oleh dunia.

Tapi secara garis besar, film ini sangat menghibur. Tidak terlalu kompleks untuk dipahami anak-anak 13 tahun ke atas (ya gimana lagi, film kartun yang satu ini cuma lulus sensor Indonesia di umur segitu).

Dari segi scoring atau musik pengiring sepanjang film memang banyak mengangkat unsur entik Asia Tenggara dan membawa suasana cerita. Gambar animasi Disney juga tak perlu diragukan, semakin dewasa kian harinya, dengan semakin bertambah canggihnya peralatan untuk membuat film kartun. Semakin menakjubkan dengan menambahkan fakta bahwa semua pengerjaan film ini dilakukan 400 orang kru secara work from home.

Beberapa item seperti jenis bela diri, senjata, bahasa, bahkan pemilihan nama “Raya” yang berarti besar atau pemimpin dalam beberapa bahasa, menunjukkan budaya YANG TERINSPIRASI dari Asia Tenggara. Ingat ya, film ini hanya terinspirasi dari Asia Tenggara, bukan murni mengadaptasi folklore atau fairy tale sama seperti Sleeping Beauty atau Snow White and The Seven Dwarfs.

Namun, nyatanya banyak orang-orang Asia Tenggara menyambut baik film ini. Hal ini nampak dari komentar mereka di berbagai platform media sosial. Kebangaan ini wajar sebagai reaksi atas aksi Disney yang akhirnya mengklaim diri terinspirasi dari Asia Tenggara setelah 90 tahun berkarya.

Iya, negara-negara berkembang kayak kita ini, memang harus menunggu selama itu sampai akhirnya dunia melirik tempat tinggal kita yang kumuh dan miskin ini. Karena toh, kita tak punya rumah produksi yang bisa mendunia menandingi Disney.

Atau, setelah 9 dekade lamanya, akhirnya dunia mulai melihat bahwa kita ini adalah potensi pasar yang empuk. Negara dengan penduduk terbanyak dunia yang konsumtif. Mereka merayu kita untuk membeli tiket bioskop, berlangganan Disney+, membeli lagu OST di akun musik, serta merchandise lainnya.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Editor Picks