Omelan-omelan Baru Berkat ‘Aquaman’ 0 973

Kemarin akhirnya penulis menaati sihir-sihir netizen untuk segera menonton film terbaik sepanjang sejarah DC Comics, Aquaman. Nyatanya, dalam 143 menit kita disajikan paduan gambar serba apik garapan Warner Bross Pictures di tangan sutradara yang tepat, James Wan. Petualangan bersama manusia amfibi nan gondrong ini tidak langsung dihadirkan lewat adegan berantem pake ototnya, yang serba bikin hati mbak-mbak gemes dagdigdug gak karuan. Bahkan jauh sebelum itu, cerita dimulai dari Arthur Curry, si tokoh utama, dalam tahapan belum sama sekali terencana di benak kedua orang tuanya.

Kali ini, penulis tidak punya cukup amunisi untuk ngomeli film ini. Pertama, karena penulis takut dihajar fans berat DC Extended Universe. Kedua, karena nyatanya film ini menghibur banget, walaupun mudah dilupakan sepulang keluar dari pintu Exit gedung bioskop lantaran formulasi film hero yang ya-gitu-itu (loh kok sidone ngomel?).

Penulis cukup memberikan satu alasan besar mengapa kamu harus nonton film ini. Tidak lain tidak bukan, adalah supaya cukup menampar kamu dengan kebiasaan yang acuh tak acuh dengan kondisi bumi dan lingkungan. Hehe.

Alkisah Arthur Curry adalah putra sulung Atlanna, Ratu Atlantis, hasil dari perkawinan silang dengan manusia biasa akibat kabur dari perjodohan. Tapi pada akhirnya laut tetap menjemput dan pernikahan yang semestinya tetap terjadi. Lahirlah putra kedua, Orm, yang pada masa mendatang berambisi menjadi penguasa lautan, menyatukan berbagai kerajaan untuk melawan manusia daratan. Alasannya satu, karena bangsa manusia yang terus-terusan mencemari laut. Hmm kon. Ya opo gak kesindir awakmu?

Untuk menyegarkan ingatan kita bersama, Indonesia sebagai negara mayoritas lautan digadang-gadang sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Cina. Bahkan Indonesia sudah dapat berbagai macam sempritan kecaman dari mana-mana.

Sebuah penelitian oleh Indonesia, Amerika Serikat, Australia, dan Kanada menunjukkan 26 bagian per 100 meter persegi terumbu karang Indonesia tercemar limbah plastik. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat sampah plastik yang dihasilkan rakjat mencapai 24.500 ton per hari.Sampeyan semua tahu kan, kalau sampah plastik butuh lebih dari 20 tahun untuk akhirnya benar-benar terurai? 79% dari jumlah itu hanya berakhir di TPA. 80% ikan terkontaminasi sekitar 8-9 biji kecil-kecil plastik. Plastik-plastik itu kemudian turut memercepat kematian penyu sebesar 50%.

Pertanyaannya, kok bisa sampai separah ini kondisi persampahan di laut Indonesia?

Jawabnya sederhana, karena konsumsi produk berkemasan plastik, terutama dari food and beverage–karena orang kita suka makan kali ya–yang terlalu buanyak di daratan ini. Kedua, karena ya begonya kita aja suka buang sampah di kali, pantai, atau laut.

Segala usaha sebenarnya sudah dilakukan pemerintah kita. Pernah ingat kan di awal 2016 ketika keramahan mbak-mbak minimarket berubah menjengkelkan dengan pertanyaan plus-plus ‘Pakai kantong kresek bayar 200 rupiah ya kak?’, selain ‘Nambah pulsanya sekalian?’ atau ‘Kuenya lagi promo beli dua gratis satu’. Peraturan dari KLHK itu bertahan tidak lebih lama dari hubunganmu dengan arek’e, sekitar tiga bulan saja. Pun sama tragisnya dengan pelajaran lingkungan hidup di sekolah, yang membuat sekolah rela beli tiga macam tong sampah supaya siswanya belajar memilah sampah. Ketika sampai di TPA, ya semua nyampur jadi satu.

Sampai akhirnya, muncullah solusi baru, yaitu peniadaan sedotan plastik di berbagai resto fast food. Peluang ini dilihat betul dengan menghadirkan mahakarya stainless steel straw, yang penggunaannya kerap kali dipamerkan arek-arek di story Instagram mereka biar kelihatan kayak aktivis lingkungan. Sedotan logam yang harganya bervariasi mulai dari belasan hingga puluhan ribu rupiah itu katanya tidak mengandung BisphenoIA (BPA) yang biasa terkandung di sedotan plastik, sehingga mengurangi resiko kegagalan reproduksi, diabetes, dan serangan jantung.

Selain menawarkan kesehatan dan reuseable-ness, sedotan logam ini akhirnya mulai mewabah, menjelma jadi tren kekinian. Jika pembaca adalah penggemar berat sedotan ini lantaran cinta pada Fishermen, Trench, Brine, dan kawan-kawannya, penulis hargai betul. Yang patut dicurigai adalah yang punya motif-motif lain. Misalnya, karena rasa terpaksa akibat setarbak dan mekdi mengeluarkan produk gelas langsung cucup. Ya sudah kan, akhirnya berpasrah lagi kita pada produk-produk kapitalis ini.Penulis juga makin curiga, film Aquaman ini pada akhirnya bisa dimanfaatkan untuk soft selling buat stainless straw, meningkatkan awareness dan menyasar conviction konsumen. Sayangnya, kita terjebak dengan perasaan seakan-akan telah turut berpartisipasi dalam kampanye ‘say no to plastic’ di balik gelas-gelas teh cantik dan kopi manja dengan paduan elemen stainless straw dan sedikit effort untuk menjadikannya Instagramable. Ya, penulis berdoa semoga tidak.

Anyway, film Aquaman ini menurut hemat penulis setidaknya turut melanggengkan plot favorit perfilman yang kudu banget pakai formula konflik cinta terlarang. Film ini turut menghidupkan imajinasi jombloers di luar sana, berharap bujang lapuk yang kesepian di tepian ombak tiba-tiba dapet rejeki wanita cantik yang terdampar. Doa baik penulis untukmu, semoga scene serupa terjadi atas kita semua, dan tidak ada lagi diksi ‘cinta terlarang’, baik di dunia manusia darat maupun perairan, hiks.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wajah Ganteng Song Joong Ki dan Tabiat Penonton Drama Korea 0 595

Vincenzo, drama Korea yang tayang pada setiap hari Sabtu di TVN dan Netflix ini, menyajikan alur yang menarik untuk ditonton. Dibintangi oleh Song Joong Ki, Jeon Yeo Bin, dan Taecyeon, drama ini seolah mengolok-olok kebobrokan penegakan hukum di Korea Selatan.

Penegakan hukum yang lemah di Korea Selatan sudah menjadi rahasia umum. Tak jauh berbeda dengan Indonesia, keadilan sosial hanya milik mereka yang memiliki harta, tahta, dan koneksi ordal (orang dalam). Misalnya kabar kencan Jennie Blackpink dan G-Dragon Bigbang yang diunggah Dispatch disinyalir dijadikan pengalihan isu politik.

Lalu, yang paling menggegerkan, Seungri eks Bigbang bisa lepas dari semua tuduhan atas skandal Burning Sun. Padahal, salah satu saluran televisi Korea Selatan telah melakukan investigasi (dan disertai bukti) bahwa Seungri telah melakukan penganiayaan, pelecehan seksual, prostitusi, dan lima tuduhan lainnya. Namun, hukum menyatakan Seungri tidak terbukti bersalah. Kzl!

Kembali ke Vincenzo, drama dengan 20 episode ini menceritakan tentang Vincenzo Cassano (Song Joong Ki), seorang pengacara mafia di Milan yang kembali ke negara asalnya, Korea Selatan.

Kembalinya Vincenzo ke negeri ginseng itu didasari atas keinginannya untuk mengambil emas milik seorang pengusaha besar asal Tiongkok yang telah meninggal. Tanpa disangka, Vincenzo harus berurusan dengan Babel Group, sebuah perusahaan korup yang juga dibantu firma hukum beken, Wusang.

Sementara itu, Hong Cha Young (Jeon Yeo Bin) juga ingin membalas dendamnya atas kematian ayahnya yang didalangi oleh Babel Group dan Wusang, mantan firma hukum tempatnya bekerja. Akhirnya, Vincenzo dan Hong Cha Young merencanakan balas dendam yang “tidak biasa” kepada Babel Group dan Wusang dengan cara-cara mafia.

Dikemas dalam genre kriminal dan dark comedy, drama ini tak hanya membuat kita penasaran, namun juga tertawa terbahak-bahak, dan penasaran (tak jarang juga sampai jadi overthinking). Banyak sindiran kepada penegakan hukum Korea Selatan yang disampaikan lewat alur, dialog, serta karakter-karakter dalam dramanya.

Sindiran ini menjadi lebih lucu karena tanpa disengaja juga ikut menyindir penegakan hukum di Indonesia. Misalnya, bagaimana hukum, aparat polisi, serta media dengan mudah “dibeli” oleh pengusaha yang sangat berkuasa untuk melindunginya.

Meski sudah jelas bahwa pabrik farmasi Babel akan memproduksi obat analgesik (pereda nyeri) dengan narkoba dosis tinggi, Babel Group tetap dapat mengantongi izin produksi. Sedangkan, mereka yang memperjuangkan keadilan dan kebenaran pasti akan meregang nyawa di tangan Babel Group dan Wusang.

Selain itu, terdapat dialog-dialog sarkastik yang sangat mewakili keadaan Korea Selatan dan Indonesia. Misalnya, Hong Cha Young pernah mengatakan bahwa penjahat di Korea Selatan bukan hanya mafia, namun semua pihak merupakan mafia dan melakukan kartel.

Lalu, Vincenzo juga pernah mengatakan bahwa manusia tidak akan pernah bisa melawan monster. Hanya monster yang bisa melawan monster. Selain itu, Vincenzo juga berkata, keadilan hanya terjadi bila dijalankan secara sempurna. Atau dengan kata lain, menegakkan keadilan dan melawan penguasa dengan jalur halal hanyalah mimpi di siang bolong.

Meski drama ini membawa wacana yang menarik didiskusikan, penulis belum menemukan adanya diskusi berbobot mengenai pesan utama drama ini. Pembicaraan di internet mengenai drama ini hanyalah sebatas membahas ketampanan wajah Song Joong Ki belaka. Bahkan, sampai menyelip-nyelipkan status duda sang aktor.

Kalau pembaca mantengin di Instagram, obrolan tentang karamnya bahtera rumah tangga aktor 35 tahun ini dengan Song Hye Kyo lebih banyak dari pada yang membahas alur ceritanya.

Kalaupun tidak membahas kehidupan pribadi Song Joong Ki, diskusi yang ada hanyalah sebatas kisah cinta samar-samar antara Vincenzo dan Hong Cha Young. “Ih gemes banget sentil-sentilan,” “mau dong peluk Vincenzo juga,” “inilah keuwuwan badass couple.” Lho, bukannya tipis-tipisnya kisah romansa mereka ini menjadi kode bahwa kisah cinta mereka bukanlah poin utama dari ceritanya?

Padahal masih banyak yang bisa dibahas. Misal,  ironi yang ditampilkan lewat dark humour drama Vincenzo, krisis kepercayaan masyarakat Korea Selatan kepada hukum yang diwakili drama ini, atau sarkasme drama Vincenzo apakah harus ada orang-orang “gila” seperti Vincenzo dan Hong Cha Young agar orang miskin dan tidak berdaya bisa mengecap keadilan? Ceileh….

Tidak heran bila masih banyak yang memandang drama Korea sebagai drama menye-menye yang feminin. Apapun genrenya dan seberat apapun ceritanya, ujung-ujungnya juga mbahas penampilan aktor-aktris dan kisah cinta antara tokoh utama. Paling mentok bahas teori-teori untuk menebak episode berikutnya.

Sayang sekali, padahal pembuat drama sudah sangat matang dalam menggodok dan mengeksekusi drama. Capek-capek bikin drama bagus, yaelah yang diliat mukanya Song Joong Ki doang. Namaste.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Rayu Sang Raya pada Asia Tenggara 0 444

(Diingatkan kepada pembaca sekalian untuk berhati-hati, karena tulisan ini tentu mengandung spoiler)

 

Disney kembali muncul tanpa premis klasik kisah percintaan putri dan pangeran. Sejak Brave dengan latar Skotlandia bertemakan cinta ibu-anak dan Frozen dari Denmark yang menceritakan cinta terhadap saudara perempuan. Kali ini, “Raya and The Last Dragon” hadir dengan sesuatu yang lebih kompleks: mencintai persatuan dalam perbedaan.

Kisah dimulai dari negeri fiktif bernama Kumandra. Semua hidup damai bersama para naga, sampai negara api menyerang, eh, sampai makhluk jahat bernama Druun menyerang, mengubah semua orang dan naga menjadi batu. Kemudian para naga terakhir membuat batu permata sihir dan menyerahkannya pada Sisu, sang naga air, untuk menyelamatkan manusia.

Alih-alih menjadi damai, Kumandra malah terpecah menjadi 5 negara: Fang, Heart, Spine,Talon, dan Tail, untuk saling memperebutkan batu permata itu. Raya dari negara Heart berusaha mencari naga terakhir untuk menyatukan perbedaan 5 negara dan mengembalikan Kumandra.

Tidak semudah itu ya memperoleh kepercayaan dan persatuan di dunia yang fana ini. Kedua nilai ini tentu terlalu klise dan harus ditambahkan sentuhan tantangan dong.

Tantangan pertama ditunjukkan dengan sikap dan pendirian Raya yang tak mudah percaya dengan orang lain. Pengalaman yang mengajarinya, ketika Namaari, kawan masa kecilnya malah menusuknya dari belakang.

Nilai dan kondisi cerita ini sangat relevan bukan untuk hidup kita sekarang. Era post-truth, di mana dengan media sosial, semua punya kebenaran dengan masing-masing perspektif, sampai kita tak tahu lagi mana yang harus dipercaya.

Era ini juga adalah era di mana teman makan teman, atau teman menyelengkat mantan. Banyak problematikanya jika soal percaya. Apalagi sejak kejadian Mbak Felicia, ah laki-laki semua sama saja.

Kedua, kebencian diajarkan dan dipupuk turun-menurun. Ini ditunjukkan di bagian awal cerita, bagaimana Raya kecil menceritakan kejamnya 4 negara lain. Tidak ada hal positif yang diceritakannya. Untuk anak sekecil itu yang polos, kebencian dan keinginan melindungi negaranya sendiri adalah nilai yang diajarkan leluhurnya berabad-abad lamanya. Kebencian yang tertanam di diri anak-anak ditunjukkan juga oleh Namaari, tokoh antagonis kawan Raya yang nampak diberi mandat oleh ibunya untuk mempertahankan tahta negeri Taring atau Fang.

Konflik cerita yang berupa kepercayaan versus kecurigaan dan persatuan lawan kebencian, berakhir sangat klise: Namaari sebagai survivor akhir dari Druun yang menyerang manusia tiba-tiba memiliki rasa kepercayaan dan menyatukan batu permata sihir negara. Setelah itu, batu permata menunjukkan kekuatannya dan mengusir pergi Druun dari dunia. Semua keadaan kembali normal, semua naga hidup dan kelima negara tiba-tiba saja bersatu kembali. Padahal sebelum menjadi batu, mereka kan saling berperang.

Apakah ini karena semata-mata rasa saling percaya? Apa yang membuat mereka tiba-tiba saling percaya?

Disney merepresentasikan Asia Tenggara sebagai negara-negara berkembang yang percaya kekuatan The Almighty atau supranatural. Ya, Kumandra percaya bahwa hanya naga yang bisa menyatukan mereka.  Raya saja bela-belain mencari Sisu, sang naga terakhir selama 6 tahun ke setiap ujung sungai penjuru negeri. Selain itu, banyak ritual kepercayaan yang dijalankan, menghormati naga ketika bertemu, hingga berdoa dengan sesajian.

Cerita ini juga ingin menegaskan, bahwa dunia Asia Tenggara dalam konteks ini, bersatu kembali bukan semata-mata karena memahami indahnya nilai persatuan dalam perbedaan, tapi karena kesamaan kepercayaan mereka akan makhluk mitologi.

Mereka juga tiba-tiba berdamai satu sama lain, karena telah menerima cobaan dari Druun. Sekali lagi, perlu kekuatan metafisika untuk memberi pelajaran. Sama persis dengan sinetron azab di tipi.

Pesan moral indah yang dibangun susah payah sejak awal cerita, dipatahkan dengan nilai bahwa kita ini adalah bangsa-bangsa yang menggantungkan hidup pada kekuatan di luar diri kita.

Menurut banyak pendapat sih, nilai supranatural yang dianut kebanyakan masyarakat Asia Tenggara memang menjadi wacana yang seksi bagi orang Barat, mereka para kreator film ini. Mungkin, hanya spiritualitas lah, nilai unggul yang membedakan kita dari bangsa mereka.

Pun, people of color, semua princess selain kulit putih: Pocahontas, Mulan, Moana, hingga yang terakhir Raya, adalah perempuan yang harus berjuang keras sampai lusuh hingga menunjukkan prestasi sebagai pembuktian agar bisa dipercaya oleh dunia.

Tapi secara garis besar, film ini sangat menghibur. Tidak terlalu kompleks untuk dipahami anak-anak 13 tahun ke atas (ya gimana lagi, film kartun yang satu ini cuma lulus sensor Indonesia di umur segitu).

Dari segi scoring atau musik pengiring sepanjang film memang banyak mengangkat unsur entik Asia Tenggara dan membawa suasana cerita. Gambar animasi Disney juga tak perlu diragukan, semakin dewasa kian harinya, dengan semakin bertambah canggihnya peralatan untuk membuat film kartun. Semakin menakjubkan dengan menambahkan fakta bahwa semua pengerjaan film ini dilakukan 400 orang kru secara work from home.

Beberapa item seperti jenis bela diri, senjata, bahasa, bahkan pemilihan nama “Raya” yang berarti besar atau pemimpin dalam beberapa bahasa, menunjukkan budaya YANG TERINSPIRASI dari Asia Tenggara. Ingat ya, film ini hanya terinspirasi dari Asia Tenggara, bukan murni mengadaptasi folklore atau fairy tale sama seperti Sleeping Beauty atau Snow White and The Seven Dwarfs.

Namun, nyatanya banyak orang-orang Asia Tenggara menyambut baik film ini. Hal ini nampak dari komentar mereka di berbagai platform media sosial. Kebangaan ini wajar sebagai reaksi atas aksi Disney yang akhirnya mengklaim diri terinspirasi dari Asia Tenggara setelah 90 tahun berkarya.

Iya, negara-negara berkembang kayak kita ini, memang harus menunggu selama itu sampai akhirnya dunia melirik tempat tinggal kita yang kumuh dan miskin ini. Karena toh, kita tak punya rumah produksi yang bisa mendunia menandingi Disney.

Atau, setelah 9 dekade lamanya, akhirnya dunia mulai melihat bahwa kita ini adalah potensi pasar yang empuk. Negara dengan penduduk terbanyak dunia yang konsumtif. Mereka merayu kita untuk membeli tiket bioskop, berlangganan Disney+, membeli lagu OST di akun musik, serta merchandise lainnya.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Editor Picks