Solusi untuk Kekecewaan Netijen atas Debat Pilpres 2019 0 944

Tak perlulah menunggu 24 jam berlalu untuk menyimpulkan ketidakpuasan khalayak masyarakat Endonesa dengan jalannya Debat Capres-Cawapres 2019 seri pertama tempo hari. Wong belum dimulai saja netijen sudah berebut saling menuduh kok! (Persis seperti performa kedua paslon di panggung debat kemarin.)

Indikator ‘mboseni’ jadi tajuk utama pidato-pidato tertulis rakyat dunia maya di kanal media sosial masing-masing. Maka, tidak heran jika para moderator debat kini kudu banget menyapa mereka dengan sebutan ‘warganet’ secara spesifik. Sebab, nonton netijen tonjok-tonjokan via live chat bisa jadi lebih seru ketimbang debat berkisi-kisi kemarin.

Penulis mengamati lalu lintas online dan menemukan minimal tiga tipe penonton debat Endonesa. Satu, warganet fanatik. Tipe ini bersorak kapan saja paslon dukungannya berbicara. Tidak peduli omongan bodoh kekanakan atau tidak, mereka merayakan argumen paslon tersebut dan mendiskreditkan argumen paslon lawan, meskipun kadang-kadang sing diomong sakjane podho intine.

Dua, warganet semi-teredukasi. Ini adalah golongan unik yang punya kesantunan cukup dan kesadaran mumpuni bahwa sebenarnya kedua paslon pancene podho wae. Meski demikian, spesies satu ini umumya sudah menetapkan jagoan pribadinya dan hanya menonton debat untuk mengonfirmasi bahwa pilihannya sudah tepat. Kemampuan mereka untuk nyelimur  tidak diragukan di kala paslon jagoannya kelihatan nggak menguasai topik. Caranya, mencari cocokologi supaya bisa membela paslonnya di hadapan warganet kubu satunya.

Tiga, warganet super-teredukasi. Nama lain golongan ini adalah golongan plegmatis-utopis. Didominasi oleh mereka yang doyan banget nonton tontonan luar negeri, golongan ini gemar sekali memuja dan mengonsumsi apa-apa yang dari luar Indonesia—biasa, dengan merujuk negara-negara “maju” saja—dan memicingkan mata untuk persoalan-persoalan genting di negaranya sendiri. Boro-boro mencari tahu dan mengomparasi keabsahan data argumen para paslon, umumnya ketertarikan politik mereka berhenti seraya mengucap kalimat, “Tuh kan. Ya gini ini Indonesia, politiknya kotor. Capres nggak ada yang bener. Mending gue tinggal di negara XXX daripada disalahin karena golput.

Padahal, dengan mayoritas kaum milenial-belum-cukup-dewasa, tipe terakhir ini cukup banyak jumlahnya. Sumbangan suaranya tidak bisa dianggap kecil, apalagi sumbangan partisipasi politiknya di masa depan. Sungguh eman bahwa justru tipe inilah yang memiliki keberjarakan paling lebar dengan persoalan politik dan hukum Indonesia.

Tapi di sisi lain, mereka tidak bisa sepenuhnya disalahkan juga. Dari debat kemarin saja, kedua paslon terang-terangan kalah telak untuk mengelaborasi visi-misi mereka secara konseptual dan rinci seperti yang dilakukan Nurhadi-Aldo, hehe. Alhasil, performa kedua pasangan bukan hanya mengecewakan bagi mereka yang teredukasi secara politik, melainkan juga para pendukung, tim sukses, dan tim kampanye masing-masing.

Penulis juga paham, andaikata memang kedua paslon tampil all out dan argumennya “saling terkam”, bisa-bisa bacok-bacokan kedua kubu jadi lebih panas. Skak mat emang jadi capres-cawapres 2019 – yang senantiasa harus diingatkan lagi dan lagi untuk kampanye damai.

 

Ya Sudah Begini Saja

Di tahun 2016 lalu, penulis menemukan fenomena internet yang lucu bin ajaib, unik bin geli, sekaligus mampu jadi solusi mujarab. Ditemukan di sebuah dimensi yang biasa dieksplorasi warganet super-teredukasi, penulis menyimpulkan bahwa ini pastilah sesuatu yang bisa banget menarik hati (dan suara) para netijen plegmatis-utopis. Temuan ini berjudul “Anies x Sandi Fanfiction”, sebuah naskah bromance.

Sebagian pembaca mungkin sudah familiar dengan istilah ini, namun sebagian lain mungkin tidak. Bromance, atau yang merupakan singkatan dari brother dan romance, adalah sebuah genre kultur populer yang merayakan dan mengomersilkan kemesraan antara lelaki dengan lelaki lainnya.

Bukti-bukti nyata lain dari keberadaan fenomena ini adalah berkembangnya fanfiction atau fiksi fantasi di situs-situs online penggemar. Mulai dari tayangan televisi, anime, grup idola, hingga selebriti, para fans ini memasang-masangkan dua atau lebih tokoh laki-laki dalam satu cerita, umumnya dengan tema asmara. Skalanya sangat lebar, mulai dari cinta vanila hingga hardcore romance, yang tentunya demi kepuasan fantasi para penggemar semata.

Bukti selanjutnya adalah membludaknya video bromance moments yang mengompilasikan momen-momen kedekatan selebriti laki-laki K-Pop di Yutub. Mulai dari yang rangkul-rangkulan sampai yang—yah apa aja ada lah ya. Video-video tersebut ditonton ratusan ribu bahkan jutaan orang, dengan kolom komentar didominasi pujian dan ekspresi gemes. Berani taruhan, nyaris separuh dari total penonton itu adalah fans dari Indonesia, yang hobi cekikikan di atas kasur tengah malam menyaksikan para idolanya bertingkah mesra satu sama lain.

Mungkin di sinilah keunggulan Sandi-Prabowo dibanding Jokowi-Ma’ruf. Segelintir rakjat berhasil dibuat jerit-jerit dengan aksi mesra mereka kemarin, lengkap dengan setelan jas necis ala oppa-oppa kaya dari drama Korea. Sepertinya, salah satu alasan keberadaan sejumlah fiksi fan macam ‘Anies x Sandi’ adalah karena Sandiaga Uno memang orang yang boyfriend goal bingits. Lihat saja, dengan pasangan barunya—ehem—Sandi bahkan berani pijet-pijetan di depan umum! Apalagi setelah Prabowo mencuit kalau doi bisa tidur nyenyak setelahnya… Kyah! Mana bisa otak-otak fangirl tidak berfantasi?!

Begini lho maksudnya. Janganlah hal-hal seperti bromance ini lalu dilihat sebagai penistaan budaya bangsa, apalagi degradasi moral para milenial, sebagaimana kerap diujar para orang tua (dan polisi moral). Lihatlah ini sebagai sebuah ekspresi kedekatan antara satu pribadi dengan pribadi lain. Lihatlah ini sebagai sebuah cara baru saling mencintai dan mengapresiasi sesama manusia, yang sesuai dengan cita-cita bangsa untuk hidup rukun tanpa banyak masalah.

Bromance, sebagai ekspresi baru cinta dan kedamaian, juga bisa jadi jalan tengah bagi persoalan capres-cawapres 2019 saat ini. Tim kampanye yang buntu jalan bisa banget mengeksplorasi cara ini untuk mem-branding paslonnya. Siapa sih, yang nggak suka menyaksikan dua orang yang berkomitmen menggenggam negara selama bertahun-tahun bisa dekat dan mesra satu sama lain? Sama seperti sejoli yang cubit-cubitan, dorong-dorongan, rangkul-rangkulan, sambil memandang mata satu sama lain dengan senyum mengembang.

Minimal, bromance ini seenggaknya bisa lah menarik mata dan hati dan suara tipe warganet ketiga tadi. Lumayan kan untuk memerbaiki image paslon pasca-debat pertama dan mencairkan ketegangan hari-hari ini? Sudah menarik, kyuti, damai pula. Komplit!

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ruwetnya Kerja dengan Orang Jawa 0 419

Jika pembaca sedang melamar pekerjaan dan mengetahui bos Anda adalah orang Jawa, atau Anda sebagai atasan dan seorang pelamar kerja imut-imut bau kencur yang akan jadi bawahan adalah orang Jawa, sebaiknya mengambil ancang-ancang 10 ribu kali. Jika perlu, berpuasalah 3 siang-malam untuk mendapat ilham cara bertahan hidup ke depannya.

Bekerjasama dengan orang Jawa itu ruwet. Ini adalah keniscayaan.

Sebab, (kami) orang Jawa adalah suatu suku di muka bumi ini yang diberi kelebihan oleh Sang Kuasa sebagai orang-orang perasa.

Kami sarankan kepada para bos, mohon kalau bicara atau memberi perintah jangan sambil berteriak. Usahakan volume suara Anda tetap dalam tataran normal ke sedang, tidak terlalu pelan untuk bisa didengar, namun juga tidak terlalu kencang sampai membuat jantung copot. Sebab mendengar suara bos membentak-bentak membuat hati kami ciut, terlepas dari karakter vokal dan kebiasaan sehari-hari sang pemilik suara.

Selain berteriak, bos-bos yang hobi bicara lembut tapi nyelekit juga suatu tantangan bagi kami. Walau mungkin konteks pembicaraan adalah dalam lingkup profesionalitas kerja, tanpa menyinggung persona, kami akan menyimpannya dalam hati dan kepikiran sampai berhari-hari. Secuil kesalahan kami yang dikoreksi atasan dengan kritikan pedas, rasanya seperti telah memporak-porandakan seluruh imej dan karir.

Kami peringatkan juga untuk para bos agar cukup tegar hatinya. Karena kami, para pegawai kelas menengah akan kerap ngrasani di belakang. Kami tak punya cukup nyali untuk berargumen di depan bos. Alasannya, tentu karena kami sangat menjunjung tinggi unggah-ungguh bersikap dengan atasan. Sebaliknya, kami terbiasa mbendol mburi. Cacat-cela – sekecil apapun – akan menjadi bahan rasan-rasan kami ketika ngopi bareng.

Sesungguhnya, selain dengan bos, keruwetan itu juga terjadi dalam hubungan yang sederajat. Dalam berbagai proyek, kami dituduh klemar-klemer. Kalian perlu tahu, wahai fellow buruh bayaran, ini bukan karena kami tak tangkas bekerja, tapi karena mengutamakan kehati-hatian. Kami berpikir sebelum bicara, bukannya gamang. Penuh perhitungan sebelum bertindak, bukan bimbang.

Persoalan pelik lain dengan sesama karyawan, tentu saja perihal penggunaan bahasa. Padahal komunikasi yang baik adalah koentji kekompakan dalam lingkungan kerja. Namun, tak jarang kami kesulitan menerjemahkan maksud kami ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa gaul lain yang bisa dipahami secara nasional.

Terkadang yang ada di otak maunya melontarkan satu kalimat utuh atau pendeskripsian situasi dalam bahasa Jawa, tapi sadar betul bahwa lawan bicara kemungkinan besar tak akan mengerti. Butuh setidaknya 5 detik supaya otak dapat meng-google-translate­-kannya. Jangan heran bila dalam percakapan sehari-hari, ada jeda waktu yang tercipta dari antara jawaban-ke-jawaban yang keluar dari mulut kami. Tentu, proses internal kami memakan waktu dan tenaga yang tak sedikit.

Lha wong buat ngobrol biasa saja kami ngos-ngosan beradaptasi, apalagi mau bercanda.

Beberapa permasalahan yang telah dijabarkan di atas, belum termasuk fakta-fakta di lapangan bagi kami yang bekerja di ibu kota. Mendengar logat kami yang khas, dengan penekanan huruf mati yang muanteb (baca: medhok), sesama karyawan biasanya akan bertanya “Asalnya dari mana? Dari Jawa ya?”

Entah apa maksud pertanyaan ini, benar ingin tahu atau menertawakan logat kami yang unik. Pun pertanyaan ini sungguh lucu dan menampik kenyataan bahwa ia, yang bertanya, dan tempat kami berdiri ini, juga namanya Pulau Jawa.

Tapi tak mengapa. Pengalaman yang terakhir itu wajar adanya. Sama seperti gaya bicara ke-Jakarta-jakarta-an yang terdengar di tongkrongan tempat asal saya, yang terdengar asing dan menggemaskan.

Oh iya, di Pulau Jawa yang maha-sempit namun sok-sokan menjadi pusat dunia ini, ada beragam variasi orang Jawa dengan segala kelakuannya di tempat kerja. Barangkali, yang tertulis di sini adalah kisah satu jenis orang Jawa saja.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 204

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks