Strategi Mengusir Komunis Anjir 0 214

Komunis di Indonesia diposisikan sebagai ajaran haram yang patut dijauhi. Tidak boleh dibaca, apalagi diimani. Selama tahun 1966-1998, orang-orang yang dianggap sebagai simpatisan komunis mendapat perlakuan tidak adil, baik secara sosial dan politik. Kebanyakan dari mereka minggat ke luar negeri untuk melanjutkan kehidupan, dan sebagian besarnya lagi dilempar ke Pulau Buru tanpa alasan yang jelas. Mirip-mirip kisah anak kecil yang disiksa ibu tirinya-lah.

Pasca reformasi, ketika Soeharto tidak lagi memimpin, keran demokrasi diperlebar. Namun gunjingan yang mengibliskan citra komunis tidak menipis. Bahkan istilah “komunis” sejajar dengan umpatan yang merujuk pada perilaku buruk seseorang. Semisal, tidak rajin beribadah adalah komunis. Tidak taat kepada orangtua adalah komunis. Mempertanyakan eksistensi Tuhan adalah komunis. Protes kepada guru di sekolah adalah komunis. Pokoknya kata komunis selalu sejajar dengan nuansa kriminalitas. Kalau “anjir” itu kotor, komunis lebih kotor lagi. Begitu kira-kira.

Mengapa?

Orde Baru mempunyai program ideologi yang disebut sebagai Anti-Komunisme. Di mana orang-orang yang memiliki kedekatan hingga dukungan politik terhadap komunisme, harus disingkirkan dengan dalih menjaga stabilitas negara. Ketika itu, Orde Baru tidak hanya memperkerjakan aparatus negara, tapi juga melibatkan masyarakat setempat. Masyarakat dihimbau untuk melaporkan kepada pihak berwajib jika menemukan tanda-tanda keberadaan PKI. Lha, ndilalah, cara ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang punya akses melapor tersebut demi kepentingan pribadi.

Banyak dari masyarakat kita yang saling tuduh-menuduh komunis karena masalah personal semata. Misalnya, Nurhadi punya masalah dengan Aldo karena Aldo dianggap sok ganteng. Nurhadi yang memiliki akses kepada pemerintah akhirnya melaporkan Aldo dengan tuduhan bahwa Aldo adalah simpatisan PKI. Alhasil, keesokan harinya Aldo menghilang (karena dihantam Dilan akibat mengganggu Milea), dan Nurhadi menjadi satu-satunya orang terganteng yang tersisa.

Dua puluh tahun lebih reformasi berlalu, tapi gejala-gejala seperti ini masih terjadi. Buku bermuatan kiri dibakar, disita, dan dijauhkan dari rak toko-toko buku. Dulu pernah – pasca reformasi – buku karya mbah Franz Magnis-Suseno yang berjudul Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, dibakar oleh sekelompok orang yang menyebut diri mereka Aliansi Anti Komunis (AAK).

Mereka beranggapan, jika buku-buku yang memuat unsur-unsur komunisme, baik judul, cover, maupun isi, harus dibakar sampai jadi debu. Padahal buku mbah Magnis-Suseno itu adalah buku yang menghajar habis pemikiran Karl Marx. Artinya, orang-orang ini tidak peduli tentang kandungan buku yang mereka bakar. Atau mereka terlalu sibuk hingga tidak sempat memahami isi buku, atau lebih jauh lagi, mereka terlalu “batu” untuk memahami buku-buku itu.

Contoh yang lebih segar, tidak lama ini di Padang Kediri juga dilakukan aksi penyitaan terhadap buku-buku yang dinilai memiliki kandungan komunis, marxis, manis, lamis, amis, sembarangkalir-lah. Kalau begini terus, kapan mau terwujudnya cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa jika cara pandang kita terhadap ilmu pengetahuan semakin dipersempit dan akses untuk mendapat buku-buku berkualitas tidak dibuka.

Fyi, memahami komunis itu bagian dari penggalian ilmu pengetahuan, lho. Jangan dikira komunis itu tidak memiliki kandungan hikmah. Ibarat seharam-haramnya babi, dia tetap memberikan pelajaran bagi manusia supaya tidak menjadi pribadi yang rakus, jorok, dan malas.

Kalau pun buku-buku komunis itu haram, mari, sama-sama kita buktikan! Kita berjumpa dalam forum diskusi, kita berdebat sampai menemukan kesepatakan intelektual kalau komunis tidak berhak memperlihatkan batang hidungnya di bumi Indonesia. Atau minimal hentikan kebiasaan membubar-bubarkan diskusi tentang sejarah-sejarah yang berasal dari perspektif korban genosida Orde Baru. Saya Yaqueen, tanpa diberi tindakan represif, atau disita buku-bukunya, komunis akan pergi dengan sendirinya dari negara ini. Hanya saja, tindakan aparat mempercepat kepergian komunis, akan menjadi ancaman bagi keselamatan berpikir rakjat.

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menulis Kondisi Penulis dan Membaca Kondisi Pembaca 0 276

Banyak penulis—kita sebut saja begitu—terpangkas semangat menulisnya akibat kesulitan membagi porsi antara kapan harus bekerja untuk yang abadi dan kapan harus bekerja untuk yang fana. Menulis dalam definisi puitisnya, adalah bekerja untuk keabadian (selebihnya akan kita temukan sendiri). Jenis-jenis penulis pun tidak sedikit. Penulis puisi, penulis cerpen, penulis berita, penulis maya, penulis skripsi, penulis miskin, penulis kaya, dan sebagainya.

Dalam diskusi di forum-forum literasi, sering disebutkan bahwa minat membaca buku semakin menurun, sejak minat membaca visual dianggap lebih dominan. Anggapan yang tidak hanya mematahkan semangat para penulis dalam proses produktifnya ini, juga mematahkan semangat penerbit buku dalam mencari tulisan-tulisan yang berkualitas.

Gejolak di atas memang pernah terasa nyata ketika toko-toko buku ternama memamerkan buku-buku yang berasal dari penulis dengan kualitas karya yang kurang serius. Contoh kasus, seorang penulis dituntut oleh penerbitnya agar menghasilkan minimal dua buku dalam waktu singkat. Padahal hal ini bisa berdampak pada tenaga penulis tersebut saat melakukan proses kreatif dan berdampak pula pada tulisan yang dihasilkannya. Atau penulis yang melahirkan buku dengan tema-tema ala kadarnya, semata-mata untuk memuaskan selera pasar hiburan.

Akan tetapi, tidak lama ini, dunia literasi kita menemukan angin segar. Dengan munculannya penerbit-penerbit independen yang berdiri di luar arus pasar hiburan mainstream. Tidak sedikit dari mereka memasarkan produknya hanya melalui internet atau media sosial. Keberadaan mereka membuka ruang yang lebih lebar bagi para penulis baru dengan tema yang kemungkinan lebih inovatif. Artinya, selain memberi ruang yang lebih lebar bagi para penulis, penerbit independen juga berpotensi memberi kesempatan bagi buku-buku marxis kiri yang mana peredarannya diawasi oleh negara ormas. Hehehe…

Namun, dilemanya adalah: bolehkah kita menyebut gerakan kiri atau ide-ide progresif yang dimanifestasikan ke dalam sebuah karya literasi sebagai bentuk komodifikasi. Ketika banyak buku bernuansa kiri mempunyai harga yang fantastis. Harga-harga yang bahkan sulit dijangkau oleh pelaku revolusioner itu sendiri. Tidak hanya melalui buku, kaos, topi, tas kecil, dan berbagai jenis atribut lainnya, mengandung semacam upaya pembentukan identitas yang berlebihan. Sedang di sisi lain, banyak rakjat kecil dengan terpaksa mengenakan kaos pemberian partai demi keberlangsungan hidup mereka yang mulai kehilangan esensi.

Fenomena ini kemudian direspon oleh media-media alternatif yang menyebar di internet. Media yang menghadirkan tulisan-tulisan dengan biaya cetak dan ongkos akses Rp 0 bagi siapa saja. Termasuk media alternatif yang sedang anda baca sekarang ini.

Media yang coba menjadi jawaban lain atas, ketidaksembarangan orang dapat berkarya, karya dapat diterbitkan, dan harga dapat dibayar. Dengan demikian, kita pun tidak boleh menyalahkan keadaan ketika masyarakat lebih tertarik mengkonsumsi media online ketimbang media cetak.

Sekarang, penulis dan pembaca perlu saling memberi pengertian satu sama lain. Bahwa, visi kedua pekerjaan ini bukan sekadar memenuhi kebutuhan hidup atau memenuhi gaya hidup. Kedua pekerjaan ini adalah usaha merawat kesadaran yang perlahan mulai tergerus oleh hal-hal trivial yang sedang mendominasi isi pikiran kita. Pertanyaan selanjutnya: kesadaran seperti apa yang perlu kita bela sebagai penulis atau pembaca? Tentu saja adalah kesadaran bahwa di dunia ini kita hidup bukan untuk diri sendiri.

Jadi ini salahnya siapa? Salahnya remaja yang memperlakukan Marxis sebagai budaya populer, bukan budaya kritis.

Kegemesan Level Ultimate terhadap “Pegiat” Seni Budaya Indonesia 1 335

Berani taruhan, kira-kira sampai lima tahunan lalu, stigma negatif terpopuler generasi tua terhadap generasi muda Indonesia abad keduasatu adalah kalimat ‘Anak muda jaman sekarang nggak peduli sama budaya bangsa sendiri.

Yaa… nggak salah sih… Tapi nggak benar juga. Selagi para ortu sibuk menghakimi demikian, ada ratusan ribu anak muda yang tengah berjuang melestarikan warisan budaya bangsa tanpa terekspos. Banyak dari mereka berlatih tari sampai badan kemeng nggak karuan, nge-jam dengan alat-alat musik tradisional bersama kawan sepeminatan, atau sibuk memersiapkan karya ukir sampai tengah malam.

Sebaliknya, ada juga mereka yang memang ogah cawe-cawe dalam arus kesibukan pelestarian warisan seni Indonesia. Tapi itupun toh karena orang tua mereka juga males nggak giat-giat amat mengenalkan, apalagi membiasakan, anak-anak mereka dengan kesenian Endonesah.

Tapi kemudian, dikarenakan apa yang disebut para guru dan dosen sebagai ‘krisis identitas’ tersebut, taubatlah masyarakat Indonesia. Eciye… Seketika, sanggar-sanggar kesenian mulai kebanjiran murid-murid baru. Pelaku seni modern mulai memasukkan unsur-unsur budaya tradisional ke dalam karya mereka. Pemusik dan penari tradisional bingung mengatur jadwal karena kebanyakan job. Bebarengan dengan itu, batik menjadi semakin lumrah digunakan dalam berbagai macam acara.

Dalam beberapa tahun saja, warga Endonesah tiba-tiba nampak sebagai gerombolan besar pecinta budaya. Kesenian budaya tradisional akhirnya menjadi komoditas yang luar biasa besar.

 

Tapi Ada Jeleknya

Mari menilik pada apa yang terjadi di tahun 2013, ketika sebuah film berjudul Frozen menjadi populer sak ndonya. Kala itu, YouTube langsung dipenuhi video cover lagu Let It Go. Boneka-boneka berbentuk Elsa, dengan pinggul yang bisa bergoyang maupun tidak, berjajar di toko-toko mainan pinggir jalan. Tas anak grosiran sekalipun bergambarkan wajah Elsa dan Anna, beberapa dihiasi tulisan ‘Princes’ atau ‘Mising You’ yang jelas-jelas cacat grammar dan blas nggak nyambung sama filmnya.

Sama seperti itu, menginjak popularitas baru, aktivitas melestarikan kesenian budaya Indonesia pun jadi punya versi KW-nya, mulai dari KW Super sampai KW minus-minus. Tentu saja, namanya juga kesenian, pasti bisa dinikmati maupun diselewengkan diinterpretasikan dengan cara bermacam-macam. Hanya saja, permasalahan muncul ketika hal itu dilakukan dengan rasa minim hormat terhadap karya seni itu sendiri.

Begini deh contohnya. Di kota-kota besar kan suering pake banget nih yang namanya seminar, woksop, disnatalis, dibuka atau diisi dengan penampilan kesenian, paling sering tari. Tapi sayang sekali, pihak penyelenggara acara maupun para “penari”-nya sendiri kadang nggak paham sama filosofi tarian yang ditampilkan. Nggak jarang ada kejadian di mana tarian sakral khusus pernikahan ditampilkan di pembukaan seminar. Sebaliknya, tarian kreasi yang modern dan atraktif, yang sengaja dibuat untuk menyambut tamu luar daerah, malah dijadikan pembuka kirab manten.

Itu baru dari aspek filosofi. Pada aspek kostum juga tak jauh beda. Sering sekali penulis mendapati penampilan Tari Gandrung—kan Banyuwangi memang lagi ngetren banget nih—yang jarik atau sewek-nya bukan motif batik Banyuwangi, tapi Madura, atau lebih parah lagi motif Jawa Tengah. Bahkan Mila Rosinta, seorang penari ternama asal Jogja, pernah berkeluh bahwa salah satu tariannya, Srimpi Kawung, yang menceritakan filosofi motif Kawung, pernah ditampilkan ulang oleh penari-penari yang menggunakan batik bermotif Parang.

Yang jauh lebih fatal masih ada. Sebuah video di YouTube menampilkan dua penari yang membawakan tari Gelang Ro’om dengan interpretasi yang ngawur gyet. Ragam-ragam gerak Gelang Ro’om yang disusun untuk menceritakan kerja keras dan kecantikan wanita Madura diubah SELURUHNYA jadi gerak uler meliak-liuk. Sudah begitu, lagu iringannya dipotong di beberapa bagian dan video diunggah tanpa disclaimer apapun, tetapi dilengkapi tagline ajakan untuk melestarikan budaya. Huft… Mari berpikir positif saja. Siapa tahu mereka memang ingin membuat kreasi tari kontemporer *masukkan efek suara ngakak*.

Itu tadi contoh dari sisi penampil. Dari sisi penikmat? Ada juga. Di Surabaya saja, bersamaan dengan semakin rutinnya tontonan rakyat seperti ludruk, ketoprak, dan wayang orang ditampilkan sebagai pergelaran periodik, semakin banyak pula fotografer yang tergugah untuk mengabadikan momen pementasan. Terkadang, demi beroleh hasil jepretan yang bagus dan estetek, mereka rela mengabaikan hal yang lebih utama, yaitu pertunjukan itu sendiri.

Tak jarang kita dapati suara para aktor di panggung tertutup oleh percakapan antarfotografer di dekat kita yang bingung lensa mana yang bagusnya dipakai, seberapa ISO-nya, seberapa aperture-nya, bla bla bla… Lalu tiba-tiba kita dikagetkan flash yang menyentak pandangan, walaupun penggunaan flash sudah dilarang sejak awal pertunjukan.

Lebih parah lagi, para fotografer ini kadang nggak sungkan untuk senggal-senggol kanan-kiri—kalau pertunjukannya di ruang terbuka—demi sampai di baris paling depan. Maklum, mereka kan pengen dapat spot strategis. Nggak apa-apa lah, sekalipun harus menutupi pandangan kakek-kakek tua atau dedek-dedek kecil yang sudah susah payah datang demi nonton pertunjukan.

 

Sudahlah. Untuk apa terlalu banyak ngomel? Toh semua juga melakukan atas dasar cinta dengan budaya kan? Sayangnya, kadang cinta itu buta, termasuk buta terhadap filosofi keberadaan budaya itu sendiri.

Editor Picks