Alasan Mengapa Dilan dan Milea Memang Harus Putus 0 226

PERINGATAN: Analisis quasi-baper ini sedikit-banyak memuat sepoiler!

Baru hari pertama rilis, film Dilan 1991 sudah diserbu 800 ribu penonton. Dari pengamatan penulis, rasio penggemar Dilan ini merata di semua kalangan. Mulai dari pasangan kasmaran yang ingin madakno rupo, siswi-siswi gemes berseragam pramuka, segerombol pria dewasa yang diduga ingin berguru gombalan cinta dari Dilan, hingga mahasiswa proletar yang cari promo diskonan tiket bioskop seperti saya.

Eits, di tulisan kali ini, tenang aja, penulis tidak akan menghujat film seperti yang lalu (Baca: Jangan Nonton Dilan, Berat!). Toh sebenarnya kami sebagai tim redaksi Kalikata ini suangat suayang sama Dilan. Kami kagum betul dengan frasa “rindu itu berat” ala pemimpin geng motor itu, menjadikannya panutan dan referensi di kala buntu mau nulis kalimat apa lagi hehe.

Sesungguhnya, film Dilan 1991 ini sepintas memang terlihat remeh-temeh, menceritakan kisah cinta anak remaja yang tidak peduli berapa banyak uang rakyat yang dimakan Mbah Harto maupun pemberontakan Somalia yang tengah membara. Maklum, anak milenial seperti kita begini mana ngerti masa pacaran via telepon. Namun, jika kita mau, film ini sesungguhnya bisa jadi bahan diskusi yang menarik.

Selepas menonton, penulis mencoba membuka diskusi dengan pertanyaan: Jadi siapa yang bener, Milea atau Dilan? Ada yang menjawab Milea, tapi belum ada yang jadi #teamDilan. Berikut ini jabarannya.

Film ini bermula dengan kondisi seusai Dilan memproklamasikan hari jadiannya dengan Milea, sebagaimana diceritakan pada pilem pertama dengan latar tempat warung Bi E’em. Adegan-adegan boncengan motor hujan-hujanan tanpa helm, bincang malu-malu lewat sambungan telepon, hingga kejadian penuh pertengkaran dan cucuran air mata semua ada. Lengkap bin komplit.

Bandelnya Dilan dengan geng motornya juga masih tidak beranjak dari tubuhnya. Hal inilah yang kemudian menimbulkan konflik antara dua sejoli ini.

Kita pasti setuju Milea berlaku benar rasional dengan tindakannya melarang Dilan terlibat dalam geng motor. Sebab tidak hanya nongkrong di pinggir jalan dengan mogenya, geng Dilan ini termasuk yang aktif melakukan balas dendam dan suka perkelahian layaknya netizen di linimasa. Sebagai pacar yang baik dan lembut hatinya, sudah barang pasti melindungi keselamatan jiwa sang kekasih. Apalagi Dilan sampai dua kali tertangkap polisi, dan seorang teman gengnya bahkan meninggal dunia karena dikeyorok.

Namun, Dilan juga dalam posisi yang menang ketika ia memilih tidak lagi menjalin kasih dengan Milea karena merasa dikekang. Geng motor adalah passion, hobi sehidup semati yang harus dan tetap melekat dengan Dilan, baik dengan atau tanpa Milea. Pacar mana yang mau dijauhkan dari hal-hal yang disukainya?

Lantas, siapa yang patut dipersalahkan di antara mereka berdua?

Menurut hemat penulis, Dilan dan Milea memang sebaiknya putus saja. Apa yang terjadi di film Dilan 1991 ini seharusnya jadi teladan bagi kita semua. Milea memang sebaiknya memilih laki-laki seperti Mas Herdin: pria gagah, pekerja kantoran dengan gaji yang menjanjikan, berpenampilan rapi, sopan santun dan beretika, serta bukan anggota geng motor yang terancam hilang dan tertembak secara misterius. Sementara Dilan memang tidak pantas mendapatkan Milea yang tidak bisa diajak beradu gombal atau melempar kalimat lucu-lucu ketika suasana per-geng-motor-an sedang genting.

Kita adalah Milea ketika tidak mau dengar pendapat orang sekitar tentang pacar kita. Dilan itu cowok terbaik di dunia, cerdas walau cadas, setia walau jahil adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kita adalah Dilan ketika kita lebih sibuk jatuh cinta dengan fisik dan mudah mengumbar puisi janji ketimbang menguji keyakinan diri terhadap pasangan.

Dilan dan Milea adalah kita semua. Kadang kita jatuh cinta setengah mati hingga tidak bisa menyebutkan alasan mengapa kita mencintai pasangan. Kadang kita terlalu kesemsem dengan kondisi yang sudah serba nyaman. Kita lengah hanya gara-gara kondisi latar belakang keluarga yang sama agama, suku, budaya, dan ekonominya. Padahal, yang tidak kalah penting adalah keserasian pemikiran dan visi-misi di antara berdua yang menjalani hubungan. Kesamaan frame of reference dan field of experience hendaknya jadi pertimbangan utama.

Jadi, alasan mengapa Dilan dan Milea harus putus adalah karena mereka tidak saling cocok. Hendaknya kita semua berhenti meminta mereka berdua rujuk, apalagi mengajukan kampanye #saveDilanMilea.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

The Incredibles 2 dan Kesetaraan Jender 0 311

Oleh: Michelle Florencia*

Yak, akhirnya setelah sekian lama, The Incredibles 2 telah tayang di bioskop terdekat! Sudah pasti anak-anak generasi 90-an yang kini sudah bukan anak-anak lagi atau bahkan sudah punya anak bernostalgia massal. Pasalnya, akhirnya Disney merilis sekuel dari The Incredibles (14/6) setelah 14 tahun!

Film animasi tiga dimensi ini bercerita tentang Helen, yang awalnya bersikeras hidup normal setelah adanya larangan bagi superhero mendapat misi untuk melanjutkan pekerjaannya itu. Sementara, Bob  harus menggantikan peran Helen sebagai ibu rumah tangga. Keluarga super tersebut akhirnya “terpaksa” menanggalkan status masyarakat normal mereka ketika Helen berada dalam ancaman. Ya kira-kira seperti itulah isinya. Saya tidak mau banyak cerita, takut dibilang spoiler.

Dari sinopsis yang saya paparkan di atas, barangkali pembaca telah menemukan perbedaannya dengan The Incredibles? Ya! Helen atau Elastigirl lebih mendominasi. Selain itu, Disney memilih wanita sebagai musuh utama dari keluarga manusia super ini. Peran wanita begitu mendominasi. Disney rupanya menyuntikkan kampanye kesetaraan jender pada anak-anak zaman now dan zaman 90-an.

Kemampuan Elastigirl dalam caruk tak diragukan lagi, bahkan dikatakan bahwa ia lebih teliti dan lebih “bersih” ketimbang Mr. Incredible dan Frozone. Apabila kita bandingkan aksi Mr. Incredible di The Incredibles dan Elastigirl di The Incredibles 2, ibu dari tiga anak ini memang lebih smart dan lebih berhati-hati.

Berbeda dengan film superheroes seperti The Avengers, The Justice League, The Dark Knight Rises, dan lain-lain di mana peran superhero wanita tidak begitu signifikan. Superhero wanita juga banyak diekspose kecantikan dan keseksiannya – contohnya Wonder Woman yang selalu tukaran pakai rok mini atau Catwoman yang menyempatkan diri catokan dan gincuan padahal beberapa jam lagi bom atom bakal meledakkan Gotham.

Nggak salah sih, tapi itulah persepsi superhero yang tertanam oleh sineas Hollywood kebanyakan. Disney mendobrak pemikiran orang pada umumnya mengenai superhero wanita di film-film superheroes: cantik, bodi bohay, belum kawin, sekadar membantu, dan buat seger-segeran. The Incredibles 2 mengajak kita mengganti paradigma tersebut dan membuktikan bahwa wanita bisa berperan besar seperti pria.

Pun begitu dengan pemilihan villain wanita. Wanita yang dianggap sosok halus, penurut, dan lemah ternyata mampu menjadi sosok yang keras, ambisius, bahkan jahanam sekalipun kalau ia mau. Wanita adalah manusia seperti halnya laki-laki, ia bisa menjadi apapun yang ia inginkan bahkan kriminal kelas kakap sekalipun.

Lalu, diceritakan bagaimana Bob keteteran menjalani peran ibu. Mulai dari menyiapkan sarapan untuk Violet dan Dash, membuat bubur, nyuapin, ngudang, sampai membuat Jack Jack tidur – apalagi dia bukan bayi biasa – hingga berurusan dengan matematika dan persoalan percintaan Violet yang membuat putri satu-satunya tersebut nesu padanya. Bahkan, Bob tidak tidur ketika menjalankan peran gandanya itu.

Film ini ingin menyadarkan mereka yang suka memandang sebelah mata ibu-ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Mengurus anak seolah-olah dianggap sebagai kerjaan enteng. Ternyata, sangat susah. Yangg dilakukan Bob hanyalah seupil dari kompleksnya kerjaan ibu rumah tanga. Belum bersih-bersih rumah, merumuskan anggaran, beli barang-barang rumah tangga yang habis, melerai anak-anak yang bertengkar, dan sebagainya.

Selain itu, film ini juga mengingatkan bahwa mendidik dan mengurusi perkembangan anak bukan hanya tugas ibu. Sering kali pria mengira perannya  hanya bekerja, mengantar anak, dan mengajak bermain. Mengajari anak saat mengerjakan PR, menyiapkan sarapan, dan soal cinta-cintaan anak itu tugas ibu saja karena seharian di rumah. Padahal, ayah juga harus mengambil peran tersebut.

Saya menanti-nantikan kapan sineas Indonesia berani menggebrak film anak-anak yang hanya berisikan mimpi, persahabatan dan kekeluargaan belaka. Sesekali disisipi isu-isu sosial seperti kesetaraan jender.

Isu kesetaraan jender bukan hanya terjadi pada orang dewasa saja, namun semua kalangan. Saya ingat ketika SD selalu anak laki-laki yang menjadi ketua kelas. Lalu, saat SMP selalu kaum Adam yang menjadi ketua OSIS dan wanita sebagai wakilnya. Alasannya? Karena sudah jadi tradisi laki-laki pemimpinnya, perempuan jadi wakilnya. Bahkan, jawaban teman saya ketika saya menanyakan hal ini lebih biadab. Katanya kalau cewek jadi ketua terus cowok jadi wakilnya, nanti wakilnya nggak kerja. Makanya, cowok yang jadi ketua. Kalau gitu, dari awal pilih yang rajin, enak banget ya karena jendernya, malas dianggap wajar. Modyar akal sehatnya.

Nilai-nilai seperti ini harus kita rombak. Penting bagi anak tahu tentang kesetaraan jender, karena pada hakikatnya manusia diciptakan setara.  Penanaman akan hal ini kepada anak dari dini jauh lebih mudah ketimbang ketika mereka dewasa. Film animasi bisa menjadi pilihan tepat bagi Pembaca untuk mengajari anak-anak tentang kesetaraan jender karena semua anak pasti suka film animasi.

*Tumbuh dan besar di Lombok, penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya. Tak diketahui ihwal single-tidaknya. “Er Ha Es kak”, tukasnya.

Bertaruh pada Iqbaal: Kita Buktikan Nanti di Bioskop 0 466

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Disclaimer: iya, ini akan jadi taruhan yang sinis. Tapi toh masih dalam batasannya. Terutama calon penonton perempuan, jujur sajalah dengan niatmu datang-duduk di depan layar lebar.

Pembaca, mari kita buka tulisan ini dengan tiga taruhan. Kita buktikan nanti di bioskop. Oke, kita mulai.

Satu, Bumi Manusia nanti akan lebih banyak ditonton perempuan. Kenapa? Karena ada Dilan. Mampus kau diremuk rindu! Ah, panglima tempurku, dilanku. Hmm. Bahkan sudah muncul meme yang bertuliskan “Dialah Minkeku 1920”. Uh. Tolong poo, ya Gusti..

Dua, penonton nanti akan berduyun-duyun, berjamaah ke gedung bioskop untuk menunaikan ibadah Iqbaal. Kenapa? Karena doi udah pasti jaminan selera, baru lulus college di Amiriki, kemarin jadi Dilan dan sekarang Minke pula! Uh.. beruntungnya terlahir ganteng nan cerdas. Jangan lupa bersyukur, Bal.
Lumayan buat bahan cuci mata, kan? *Belum lagi kalau ada meet and greetnya juga. Beh, banjirlah bioskop itu dengan gelombang perempuan fanatik dan histeris ingin menjamah Dilan! Eh, Iqbaal..

Huh, bisa dibayangkan!
Tiga, penggemar Pramoedya yang membaca Bumi Manusia kemungkinan akan kecewa dengan usaha adaptasi ini. Kemungkinan. Sekali lagi, pembuktiannya hanya nanti ketika tayang.
Ada beberapa alasan. Terutama jelas soal eksekusinya, penyajian dan pendalaman karakternya, dialog-dialog dan penjiwaannya, penggambaran suasana dan latarnya, hubungan dan penonjolan karakter-karakternya, isu-isu kolonialisme dan feodalisme serta intrik-intrik cinta dan latar belakang karakter mereka hingga jadi seperti itu.

Semua hal itu yang begitu membuat Bumi Manusia hidup. Parahnya, jika justru penonton datang menonton semata-mata karena Iqbaal jadi Minke. Nah ini yang kacau, jangan sampai terjadi! Karena lantas bagaimana Nyai Ontosoroh alias Sanikem? Jean Marais? Robert Mellema dan Babah Ah Tjong? Darsam juga? Maiko? Bagaimana mereka ditampilkan? Penulis menantikan bagaimana Falcon Pictures dan Hanung, tak lupa Salman Aristo meramu semua karakter itu? Bukan hanya Minke sebagai pemeran utama, loh ya. Kan jelas kalau mereka-mereka itu bukan sekedar tokoh pendukung toh. Minke dibentuk menjadi Minke yang kita -pembaca Bumi Manusia- kenal oleh sebab perjumpaan dengan semua karakter-karakter itu.

Kekhawatiran penulis, Bumi Manusia ini nanti rawan sekali mengeksploitasi hanya hubungan Minke dan Annelies saja. Dua alasan. Satu, mengingat Falcon dan dua film terakhir keluaran mereka yang menawarkan kisah cinta-cintaan. Dua, karena hubungan Minke dan Annelies yang memang manis sekali. Itu yang jadi kekhawatiran.

Tidak penting ini film soal apa. Masa bodoh ini siapa penulisnya. Persetan juga dengan tetraloginya. Uh, satu serinya saja 500 halaman, siapa mau baca? Koran saja tidak disentuh, mana mungkin baca Pram?
Yang penting Iqbaal, Iqbaal, dan Iqbaal. Yang penting tembus enam juta penonton dalam seminggu. Yang penting viral. Yang penting untung.
*Yang penting tiketnya saya bayar sendiri, saya update, sukur-sukur meet&greet bisa foto bareng Iqbaal, saya senang. Masalah buat Anda? 

Jika sampai itu yang terjadi, Pram bisa jadi murka dari kuburnya. Yakin. Meskipun akhirnya memang diapresiasi dan digarap orang Indonesia sendiri. Mungkin juga mengutuki produser, sutradara, rumah produksi, penulis skenario semua kru sampai pemeran-pemerannya. Semua.
Semua itu terbayangkan jika pada  akhirnya, karyanya “didagangkan” saja, dipancing orang datang dengan pemeran yang menggoda iman. Apalagi cuma menang tampang. Kacau.

Begini, bukan maksud penulis menghakimi Iqbaal. Hei, soal kamu ganteng memang bener, Bal!
Kekhawatiran ini muncul karena melihat bagaimana Dilan 1990 dan Teman Tapi Menikah disajikan, cukup miris. Jelas itu strategi Falcon. Aktor-aktris jaminan selera pasar yang sanggup menggaet penonton digathuk-gathukno, promosi dibesar-besarkan dan padahal toh filmnya tidak sefantastis itu.
Mengadaptasi novel legendaris dari penulis yang legendaris pula tentu tidak mudah. Makanya, kekhawatiran wajar saja kalau muncul, kan?

Semoga karena pertaruhan yang besar dan beresiko ini, Hanung bisa mengarahkan dengan baik dan memuaskan. Semoga juga Salman Aristo menggarap skenarionya dengan benar. Semoga karena ini karya Pramoedya Ananta Toer kemudian penggarapannya tidak main-main!
Intinya, penulis hanya mewanti-wanti. Ini bukan film cinta-cintaan tok. Ada baiknya pembaca segera membaca novelnya dulu, Bumi Manusia, sebelum melihat filmnya. Jangan membaca setelah menonton, banyak bohongnya kalau itu. Agar dapat tahu dan bersama-sama merasakan, siapa Minke dan bagaimana dia sebenarnya dengan pertemuan langsung dengannya melalui Bumi Manusia. Agar pembaca dapat berkenalan dan mengenal siapa Annelies, Nyai Ontosoroh, Robert Mellema, Jean Marais, Magda Peters, Doktor Hartinet, dan cerita-cerita hidup mereka dan keadaan saat itu. Saat-saat akhir abad 19.

Sungguh, jangan hanya datang karena ada iming-iming Iqbaal Ramadhan. Sekali lagi jangan! Gak ridho..
Diimpeni Pram!

P.S. : Taruhannya buka bersama, tempat dan waktu janjian aja. Ehe. Tapi ya jumlah terbatas, karena modalnya juga terbatas.

*Penulis adalah mahasiswi salah satu Perguruan Tinggi Surabaya. Doyan nonton dan traktiran.

 

Editor Picks