Alasan Mengapa Dilan dan Milea Memang Harus Putus 0 2280

PERINGATAN: Analisis quasi-baper ini sedikit-banyak memuat sepoiler!

Baru hari pertama rilis, film Dilan 1991 sudah diserbu 800 ribu penonton. Dari pengamatan penulis, rasio penggemar Dilan ini merata di semua kalangan. Mulai dari pasangan kasmaran yang ingin madakno rupo, siswi-siswi gemes berseragam pramuka, segerombol pria dewasa yang diduga ingin berguru gombalan cinta dari Dilan, hingga mahasiswa proletar yang cari promo diskonan tiket bioskop seperti saya.

Eits, di tulisan kali ini, tenang aja, penulis tidak akan menghujat film seperti yang lalu (Baca: Jangan Nonton Dilan, Berat!). Toh sebenarnya kami sebagai tim redaksi Kalikata ini suangat suayang sama Dilan. Kami kagum betul dengan frasa “rindu itu berat” ala pemimpin geng motor itu, menjadikannya panutan dan referensi di kala buntu mau nulis kalimat apa lagi hehe.

Sesungguhnya, film Dilan 1991 ini sepintas memang terlihat remeh-temeh, menceritakan kisah cinta anak remaja yang tidak peduli berapa banyak uang rakyat yang dimakan Mbah Harto maupun pemberontakan Somalia yang tengah membara. Maklum, anak milenial seperti kita begini mana ngerti masa pacaran via telepon. Namun, jika kita mau, film ini sesungguhnya bisa jadi bahan diskusi yang menarik.

Selepas menonton, penulis mencoba membuka diskusi dengan pertanyaan: Jadi siapa yang bener, Milea atau Dilan? Ada yang menjawab Milea, tapi belum ada yang jadi #teamDilan. Berikut ini jabarannya.

Film ini bermula dengan kondisi seusai Dilan memproklamasikan hari jadiannya dengan Milea, sebagaimana diceritakan pada pilem pertama dengan latar tempat warung Bi E’em. Adegan-adegan boncengan motor hujan-hujanan tanpa helm, bincang malu-malu lewat sambungan telepon, hingga kejadian penuh pertengkaran dan cucuran air mata semua ada. Lengkap bin komplit.

Bandelnya Dilan dengan geng motornya juga masih tidak beranjak dari tubuhnya. Hal inilah yang kemudian menimbulkan konflik antara dua sejoli ini.

Kita pasti setuju Milea berlaku benar rasional dengan tindakannya melarang Dilan terlibat dalam geng motor. Sebab tidak hanya nongkrong di pinggir jalan dengan mogenya, geng Dilan ini termasuk yang aktif melakukan balas dendam dan suka perkelahian layaknya netizen di linimasa. Sebagai pacar yang baik dan lembut hatinya, sudah barang pasti melindungi keselamatan jiwa sang kekasih. Apalagi Dilan sampai dua kali tertangkap polisi, dan seorang teman gengnya bahkan meninggal dunia karena dikeyorok.

Namun, Dilan juga dalam posisi yang menang ketika ia memilih tidak lagi menjalin kasih dengan Milea karena merasa dikekang. Geng motor adalah passion, hobi sehidup semati yang harus dan tetap melekat dengan Dilan, baik dengan atau tanpa Milea. Pacar mana yang mau dijauhkan dari hal-hal yang disukainya?

Lantas, siapa yang patut dipersalahkan di antara mereka berdua?

Menurut hemat penulis, Dilan dan Milea memang sebaiknya putus saja. Apa yang terjadi di film Dilan 1991 ini seharusnya jadi teladan bagi kita semua. Milea memang sebaiknya memilih laki-laki seperti Mas Herdin: pria gagah, pekerja kantoran dengan gaji yang menjanjikan, berpenampilan rapi, sopan santun dan beretika, serta bukan anggota geng motor yang terancam hilang dan tertembak secara misterius. Sementara Dilan memang tidak pantas mendapatkan Milea yang tidak bisa diajak beradu gombal atau melempar kalimat lucu-lucu ketika suasana per-geng-motor-an sedang genting.

Kita adalah Milea ketika tidak mau dengar pendapat orang sekitar tentang pacar kita. Dilan itu cowok terbaik di dunia, cerdas walau cadas, setia walau jahil adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kita adalah Dilan ketika kita lebih sibuk jatuh cinta dengan fisik dan mudah mengumbar puisi janji ketimbang menguji keyakinan diri terhadap pasangan.

Dilan dan Milea adalah kita semua. Kadang kita jatuh cinta setengah mati hingga tidak bisa menyebutkan alasan mengapa kita mencintai pasangan. Kadang kita terlalu kesemsem dengan kondisi yang sudah serba nyaman. Kita lengah hanya gara-gara kondisi latar belakang keluarga yang sama agama, suku, budaya, dan ekonominya. Padahal, yang tidak kalah penting adalah keserasian pemikiran dan visi-misi di antara berdua yang menjalani hubungan. Kesamaan frame of reference dan field of experience hendaknya jadi pertimbangan utama.

Jadi, alasan mengapa Dilan dan Milea harus putus adalah karena mereka tidak saling cocok. Hendaknya kita semua berhenti meminta mereka berdua rujuk, apalagi mengajukan kampanye #saveDilanMilea.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Indonesia dan Rangkulan Canggungnya dengan ‘Toleransi’ 0 275

(Disclaimer: tulisan ini memang agak sedikit bijak, mohon ambil ancang-ancang!)

Siapa yang menyangka, sebutan “monyet”, yang kelihatannya sederhana itu, sesungguhnya tidak pernah sederhana. Ujaran dua suku kata itu membuka luka lama, menjadi bom atom yang terlanjur meledak.

Tunggu, ini bukan sebutan “monyet” yang ikonik dari Herman Mellema kepada Minke, atau dari Minke kepada tentara Belanda saat membawa Annelies. Kita mengacu pada peristiwa julukan “monyet” yang disematkan pada kawan-kawan kita, mahasiswa asal Papua yang menimba ilmu di Pulau Jawa.

Entah sudah dianggap biasa, atau bahkan terlalu berlebihan, jika ejekan binatang itu berimbas emosi yang meledak di timur Indonesia. Yang jelas, peristiwa ini jadi pengingat, bahwa intoleransi masih bercokol dan belum mau pergi dari bangsa kita. Bahkan, seakan dibiarkan tumbuh dan dipanen oleh rakyat.

Apa obat atas intoleransi di negeri ini? Tidak ada yang menemukannya, setidaknya (dan mudah-mudahan) untuk saat ini. Asal muasalnya perilaku resisten terhadap perbedaan juga hampir tidak diketahui. Kompleks.

Menurut sejarawan, barangkali jawaban yang paling pas untuk menyalahkan hulu intoleransi adalah penjajahan ke bumi pertiwi. Belanda-lah yang awalnya mengotak-ngotakkan inlander, bangsawan, pendatang seperti cina dan arab, indo, hingga belanda totok itu sendiri. Stratifikasi ini kemudian membentuk dasar tatanan sosial di dunia jajahan, termasuk Indonesia.

Walau sudah merdeka pun, tak bisa semudah itu melepas pola pikir bahwa kedudukan dalam “rantai makanan” manusia ditentukan dari warna kulit. Akademisi hobi menyebutnya ‘ideologi dominan’. Penjelasan lanjutnya, bahwa telah terpatri di pikiran kita, bangsa kulit putih dan warga ras Kaukasian lebih beradab dari orang-orang yang lahir dengan kulit gelap.

Tapi, apakah benar intoleransi di Indonesia semata-mata hanya karena sejarah masa lalu? Apa kita hanya bisa menyalahkan penjajah, bangsa barat, yang membuat kita kenal soal kotak-mengotak di antara masyarakat itu? Apakah benar, kita sungguh-sungguh tidak turut “berkarya” melestarikan budaya intoleransi ini?

Tanpa kita sadari, barangkali sejak masih menyusu dan belajar berjalan, kita sudah ditanami oleh keluarga, bahwa diri kita sendiri inilah yang paling baik dari golongan lainnya. Bahwa ras kita, suku kita, dan agama yang kita anut, entah di lingkungan kawan sebaya hingga di mimbar agama, senantiasa didengungkan menjadi yang paling unggul.

Sementara hal-hal yang di luar kepercayaan kita adalah kesalahan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Rakyat kita, entah dengan atau tanpa penjajahan, terbiasa menanamkan satu sudut pandang kebenaran. Tidak terima dengan alternatif kebenaran lain.

Celakanya, media kita turut membantu budaya intoleransi ini untuk semakin tumbuh subur. Diberi pupuk, dirawat, dan disirami serta dipanen.

Soal Papua misalnya. Tidak hanya memberitakan peristiwa kemarahan warga Papua, tetapi media-media mulai berlomba menampilkan kebaikan Papua. Sama seperti obrolan pelayat di rumah duka. Orang yang meninggal tentu diunggulkan kenangan baik atasnya, walau semasa hidupnya penuh cacat cela dan tak kunjung bayar kasbon warteg.

Tajuk-tajuk seperti “Papua juga bisa”, atau “Papua juga mampu”, “Papua juga Indonesia” laris manis jadi topik utama yang diajukan di meja redaksi. Prestasi-prestasi anak Papua disoroti secara berlebihan dan hanya pada satu masa itu saja. Tujuannya satu: meredam suasana di Papua yang sudah terlanjut panas (dan mungkin dengan tujuan lain: membuat Papua masih merasa dihargai oleh Indonesia).  Mungkin, tiga minggu lagi, berita tentang Papua akan dilupakan lagi

Pertanyaannya, jika Papua dikata “juga bisa” dan “juga mampu”, memangnya selama ini mereka tidak bisa dan tidak mampu? Ke mana saja media selama ini? Apakah sibuk menyoroti rapat-rapat di Senayan hingga tidak sadar bahwa warga Papua memang sudah, sedang, dan akan selalu berprestasi setiap harinya?

Sama seperti kelakuan media saat mengulas intoleransi antar agama. Berita peristiwa perpecahan antaragama, akan diredam dengan contoh masyarakat yang saling menghargai antar agama. Antar tokoh agama bertemu dan berbincang, atau antar umat saling menjaga rumah ibadah saat hari raya besar agama.

Seakan-akan perbedaan suku dan agama ini harus melulu disorot. Seakan toleransi adalah prestasi. Padahal, bukankah bangsa kita sudah hidup dalam perbedaan sejak dulu?

Perbedaan adalah kebiasaan. Toleransi adalah kodrat, implikasi atas perbedaan itu. Toleransi bukan sunnah, yang ketika dilakukan harus diliput media dan digembar-gemborkan.

Barangkali, obat yang benar atas intoleransi adalah menghentikan perilaku media dan masyarakat kita, yang terlalu kagum dengan toleransi. Toleransi harusnya ibarat napas manusia, dilakukan setiap hari, tanpa harus diperlakukan terlalu mulia seakan seperti mutiara yang hilang.

Karena penulis percaya, toleransi adalah karunia yang otomatis ada dalam darah bangsa Indonesia. Ciye.

Panduan Nonton ‘Mantan Manten’ 0 416

Sebagai film Indonesia yang lagi-lagi bercerita tentang perempuan, Mantan Manten karya Visinema Pictures menjadi salah satu yang ditunggu-tunggu umat feminis. Apalagi, film ini bakal mengangkat adat Jawa, yang walaupun sudah mendominasi media kita, tapi tetap menarik jika ada produser film yang mau mengupasnya lebih dalam.

Untuk itu, penulis yang baik hati ini tidak akan membocorkan alur cerita apalagi endingnya kepada pembaca yang berniat menonton (toh trailer sudah mengambil bagian ini hehe). Alih-alih, penulis justru bakal membagi panduan menonton bagi pembaca sekalian.

 

  1. Gak usah sedia tisu

Karena bercerita tentang mantan yang manten, tidak membuat film ini lantas membuat kita teraduk-aduk emosinya, air mata mengucur deras tak henti. Siapa sih yang gak pernah ditinggal nikah sama mantannya? Ini adalah kasus yang paling jamak didapati dalam kisah romansa remaja bangsa yang labil ini :(.

Tapi, barang sebentar kita mau mengarungi gejolak perasaan Mbak Yasnina—yang diperankan Atiqah Hasiholan—ditinggal tunangannya menikah dengan orang lain, adegan nangis-nangisan malah cepat sekali berganti ke adegan lainnya. Baru saja ingin menyelami perasaan serba bingung dan gak enaknya Surya antara memilih Yasnina atau keputusan bapaknya, kita dihadapkan pada sikap kekanakannya dan cenderung menyebalkan.

Penulis juga kesulitan betul menghargai peran Budhe Marjanti yang dihormati sebagai dukun manten itu. Kesakralan hidupnya menjalani puasa dan semedi tidak sempat dihadirkan, diburu dengan durasi film 1 jam 42 menit itu. Pun film ini absen menampilkan adegan pertengkaran batin bapaknya Surya, Iskandar, yang akhirnya menelan pil pahit karena gengsi meminta Yasnina jadi dukun manten buat anaknya.

Emosi dilempar ke sana kemari. Diakhiri tanpa permisi. Diminta ganti ketika kita sedang menikmati. Padahal sudah tersedia 1 pak tisu di tas penulis, berjaga-jaga siapa tahu scene-scene tertentu menguras air mata. Baru mau nangis, eh sudah ganti scene lagi. Haduuuh!

 

  1. Gak usah berharap tinggi-tinggi

Ingat sodara-sodara, tidak semua film bertujuan mendidik! Gak usah berekspektasi tinggi pula bahwa paes dan adat nikah mantenan ala Jawa bakal dikupas tuntas di film ini. Malahan, posisinya menjadi trivial.

Sungguh hebat, Yasnina yang hidup tanpa latar belakang tradisi yang jelas di panti asuhan, bisa belajar paes Jawa dan bahkan jadi dukun manten keluarga keraton Solo dalam kurun waktu 3 bulan. Lebih hebat lagi, Yasnina berani merias istri mantannya, padahal emosinya masih belum stabil untuk menerima fakta pahit itu. Dikisahkan ia juga masih emosi meledak-ledak ketika tahu mantannya akan menikah dengan orang lain. Lah kok njelalah, Nina tiba-tiba berubah jadi sosok yang tenang waktu membetulkan beskap Surya yang kekecilan itu. Kapan berubahnya, cah ayu?

Jangan-jangan, Mbak Nina—panggilan sayang Yasnina—ini lagi pansos. Kisah hidup dan cinta dia kalau diunggah netijen tamu undangan mantenan Surya ke media sosial dengan hestek #JusticeForNina pasti laku keras, menuai simpati di mana-mana. Tiba-tiba Nina terkenal, jadi influencer dan motivator dadakan, serta mendapat banyak orderan endorse online shop abal-abal.

Oh ya, Iskandar, si bapaknya Surya, ceritanya memegang teguh adat Jawa. Dia hanya percaya Budhe Marjanti sebagai dukun manten maha-sakti sak Indonesia raya. Saking taatnya pada tradisi, dia rela lo menerima Nina sebagai orang yang diwarisi tugas paes manten anaknya, walaupun awalnya menyimpan dendam kesumat padanya, entah karena apa. Tapi kalau-kalau dia pemegang teguh adat dan memiliki spiritualitas yang baik, kok sampai hati betul Iskandar demi bisnis mengkhianati calon mantunya sendiri? Apakah berkhianat termasuk jihad? Sungguh janggal.

 

  1. Gak perlu nonton sampai habis

Bukankah judul sudah menceritakan semuanya? Pokoknya ini cerita tentang mantan yang manten. Namanya juga mantan, berarti dia mantennya bukan dengan si pemeran utama. Dari scene pertama, ketika Surya melamar Nina, kita sudah tahu bahwa di akhir nanti mereka gak akan bersama. Bodo amat dengan nasibnya yang kelak akan ditipu calon mertua sendiri.

Pun kalau dia adalah wanita karir hebat, bisa-bisanya harta habis tanpa sedikit pun bersisa. Katanya lulusan amerika, bangun karir dari nol, dapat banyak penghargaan (sebagaimana dikisahkan di dinding panti asuhan), bisa-bisanya teledor dan tidak punya aset sama sekali, kalaupun punya belum balik nama lagi. Masak iya sih, manajer investasi terkenal tidak punya tim pengacara pribadi dan tidak tahu cara investasi bagi dirinya sendiri?

Nina boleh deal dengan banyak  klien perusahaan raksasa, tapi kalah dengan ibu-ibu dukun manten di pegunungan Temanggung. Kalah pula dengan akal-akalan bapak tua yang menipu karir dan jalan cintanya. Di mana Nina yang pintar lobi-lobian itu ketika berhadapan dengan budhe dan Pak Iskandar? Mangkane to Mbak, keseimbangan IQ, EQ, dan SQ itu penting!

 

Demikian panduan nonton ini telah dibuat. Semoga bermanfaat bagi kawan-kawan pembaca sekalian karena film Mantan Manten masih bisa ditemui di bioskop-bioskop kesayangan Anda!

 

Salam hangat, penggemar arwah suami Budhe Marjanti; bapak tua yang dibayar cuma buat senyum dan manggut-manggut sepanjang filem.

Editor Picks