Perlunya Studi Banding dengan Oppa Seungri 0 274

Oleh: Michelle Florencia*

Sebelumnya, tulisan ini bukan untuk membela Seungri ‘BIGBANG’. #sekadarmengingatkan.

Sekitar tiga atau dua bulan terakhir ini, K-Popers generasi dua (sing wis rodok tuek) pasti sedang sibuk menonton the real-life Korean drama yang sungguh membikin syok sekaligus miris. Apalagi kalau bukan drama skandal salah satu personel boygroup ‘BIGBANG’, Seungri?

Member termuda ini terlibat dalam skandal suap, peredaran narkoba di dalam klub malam Burning Sun, kekerasan, pelecehan seksual, lobi investor dengan jasa escorts, hingga kabarnya ia juga nyambih jadi germo.

Pada awalnya, masih banyak fans yang memberi dukungan pada Seungri untuk tetap kuat kala menghadapi masalah ini (termasuk saya). Apalagi, Seungri berjanji akan kooperatif menjalani pemeriksaan. Namun, semakin dikupas, semakin terlihat boroknya. Rupanya kasus ini tak sesepele yang saya kira.

Kalau pembaca yang budiman membaca isi grup chat Seungri dan kawan-kawan di Kakao Talk, sungguh biadab apa yang mereka lakukan kepada para perempuan muda yang dijadikan alat pemuas hasrat seksual mereka. Tak heran bila saat ini, Seungri menjadi manusia paling dibenci di Korea Selatan dan di-bully habis-habisan oleh netijen, terutama netijen Korea yang terkenal jahanamnya.

Seperti sewajarnya manusia normal yang terkena masalah–apalagi menjadi pemberitaan di seantero bumi–Seungri tampil di publik dengan wajah pucat dan terlihat ketakutan. Seungri yang biasanya cerewet, kini hanya berbicara seadanya. Saat pria yang dijuluki ‘Panda’ ini berada di kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan, ia meminta maaf atas keributan yang ia buat. Meski secara implisit ia membela dirinya tak bersalah, ia mengatakan akan kooperatif untuk membantu polisi menyelesaikan kasus ini.

Terlepas tulus tidaknya, setidaknya Seungri masih tahu diri. Sesuai dengan judul yang diharapkan click-bait ini, mari kita bandingkan Seungri dengan para manusia kulit tebal berrompi oranye, alias tersangka KPK.

Janganlah ngarep mereka mengatakan mau kooperatif dalam penyidikan, malu saja tidak! Eh, malah cengengesan dan ngaku-ngaku dizolimi. Yang paling ekstrem, ada yang sampai produksi drama nabrak tiang listrik dengan benjol segede bakpao Chik-Yen (iku benjol opo tumor?). Saya rasa tak usah disebut namanya, toh para pembaca pasti otomatis tahu yang saya maksud ini Setya Novanto.

Kalau Seungri, beberapa minggu setelah kemunculannya di kantor polisi, dikeluarkannyalah sebuah berita yang mengguncang cakrawala dunia maya. Lewat akun Instagram pribadinya, ia mengumumkan mundur dari industri hiburan. Alasannya pensiun dari dunia yang membesarkan namanya itu tak lain, tak bukan, dan memang benar karena mega-skandalnya. Bahkan, rumor yang beredar, ia bukan secara sukarelawan keluar dari dunia hiburan, namun dikeluarkan oleh agensinya, YG Entertainment. Terlepas sukarela atau dipecat, setidaknya Seungri menampilkan dirinya di depan publik sebagai sosok yang tahu diri.

Sungguh mahaironis dengan yang terjadi di negara kita yang masih ber-flower alias berkembang ini. Apabila Seungri cabut dari karirnya sebagai artis lantaran sadar bahwa dosanya tak terampuni, eh lah kok mantan napi korupsi Endonesah malah dengan pedenya nyaleg? Ditandatangani pula oleh ketua partai.

Bahkan, meskipun ICW (Indonesia Corruption Watch) sudah mengumumkan daftar nama para mantan napi, dan netijen juga sudah bereaksi—perlu diingat, netijen Indonesia hampir sama jahanamnya dengan netijen Korea—tak satupun dari mereka ada yang malu dan mundur nyaleg! Alemong!

Memang KPU tidak membuat peraturan yang melarang mantan napi nyaleg, tapi ini masalah malu dan tahu diri, coy! Kalau Prabowo and the gang teriaknya Indonesia krisis keuangan, sesungguhnya, yang lebih darurat kita hadapi ini krisis malu dan tahu diri!

Bayangkan, bagaimana bisa mereka tahu tugas sebagai anggota legislatif kalau diri saja tidak tahu? Apa ‘malu’ dan ‘tahu diri’ sudah digadaikan untuk mencari modal politik? Mohon presiden berikutnya mengimpor malu, jika berkenan, karena realitanya pejabat kita masih banyak yang kekurangan stok malu.

Asu-dahlah, saya akhiri saja ke-julid-an ini. Sebab kalau dilanjutkan, eyke takut tercyduq polisi dengan bekal tuduhan UU ITE. Gitu, shay

*Tumbuh dan besar di Lombok, penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya. Tak diketahui ihwal single-tidaknya. “Er Ha Es kak”, tukasnya.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Maudy, Dilema Kita Semua 1 246

Harkat dan martabat hidup manusia berkebangsaan Indonesia adalah memiliki sifat peduli. Sifat peduli itu lambat laun berevolusi; kadarnya jadi terlalu banyak kini. Saking banyaknya, masih ada waktu yang tersedia bagi masyarakat negara ini untuk memikirkan perkara pelik orang lain, padahal masalah diri sendiri belum usai. Termasuk persoalan hidup si mbak kesayangan kita semua, Maudy Ayunda.

Jagat media sosial berhasil dibuat gempar gara-gara dua postingan cah ayu ini beberapa hari lalu, lantaran ia mengunggah kabar bahwa dirinya diterima di dua universitas kenamaan dunia, Harvard dan Stanford. Maudy lantas ditimpuk dilema. Untuk mempercantik CV-nya yang sudah bertuliskan lulusan Oxford, manakah yang harus dipilih?

Dilema itu tentu tak hanya melanda artis serba bisa ini. Se-Indonesia raya dibuatnya repot betul. Dilema ini kemudian merambah naik jadi trending topic di linimasa, dihiasi kegelisahan receh masyarakat kelas menengah. Oleh netijen Nusantara, dilema Maudy kemudian dibandingkan dengan dilema diri sendiri. Jadilah sejumlah lelucon gaya baru.

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Belajar buat UN vs SBM

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Indomi kuah soto vs Indomi kuah kari

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Mau kerja revisi skripsi sekarang vs nonton oppa di drama korea

Fenomena ini jadi pengingat bahwa kita memang tidak pernah mampu melepas unsur subjektif pada persoalan orang lain. Padahal, kita bisa melihat dilema Maudy apa adanya saja, tanpa dikaitkan dengan persoalan pribadi. Padahal, kita bisa saja berhenti pada apresiasi murni dan tulus, tanpa merasa “apalah aku yang hanya butiran jasjus ini”.

Masyarakat kita memang terbiasa bersimpati. Kadang, sampai tidak sadar bahwa ada hal-hal yang sebetulnya gak terlalu penting untuk disimpatikan. Simpati seakan-akan menjadi pilihan terakhir selagi objek tidak bisa dibuat nyinyir. Karena Maudy tak punya celah untuk diolok, lantas cara lain dicari.

Adalah persoalan di sisi lain bahwa masyarakat kita juga tidak terbiasa memuji. Apalagi bersyukur dan mengakui kemampuan diri, sungguh masih jadi rancangan kurikulum hidup yang belum terwujud.

Kita hanya fokus melihat hasil yang diraih Maudy, tanpa pernah tahu bagaimana proses belajar dan kerja keras yang dilaluinya. Kita hanya tahu kesuksesan seorang Maudy, tanpa tahu derai air mata dan marah-marahnya ketika sakit atau kecewa di tengah jalan. Pada akhirnya, Maudy hanyalah manusia yang seperti kita.

Pun jika dilema kita hanya soal apakah mandi sekarang atau lima menit lagi, lantas mengapa? Jika dilema kita adalah tentang memilih doi yang sekarang atau mantan terindah, lantas mengapa? Memangnya dilema-dilema di dunia ini punya kasta dan tingkat prestisius?

Jangan-jangan, selagi kita mengagumi dan membandingkan diri dengan Mbak Maudy, tanpa sadar kita sedang membuang waktu untuk mengapresiasi dan memotivasi diri sendiri. Jangan-jangan, selagi mengamati jalur hidup orang lain, kita sedang membuang kesempatan untuk bertumbuh dan naik level di kehidupan sendiri. Bisa jadi, waktu yang kita habiskan untuk mikiri kampus pilihan Maudy, setara dengan waktu untuk mengerjakan revisi skripsi, wisuda, memulai usaha warkop kecil-kecilan, dan membangun rumah tangga yang sakinah.

Pada masanya, kita akan menghadapi dilema kita sendiri yang tidak kalah peliknya dengan punya Maudy. Jadi tidak perlu membandingkan. Karena jangan-jangan, sekali lagi, membandingkan adalah pintu dari iri hati tanda tak sampai.

We never step in their shoes. Tapi nek aku dadi de’e, yo jelas dilema seh.

Perempuan Endonesa di Tengah Jalangnya Panggung Politik 0 169

Perempuan memang harusnya masak di dapur ajah! Gak usah politik-politikan!”

Pernyataan di atas bisa jadi sasaran bahan bully yang empuk di era ini, utamanya karena populasi kaum penganut feminis akut kian meningkat (apalagi yang kelewat pede, merasa lebih unggul dari laki-laki). Keterbukaan pada media sosial membuat kesadaran gender jadi makanan sehari-hari, baik untuk ditenggak maupun di-lepeh lagi.

Namun, nyatanya di kancah perpolitikan, kalimat tersebut ternyata masih pantas-pantas saja dilambungkan. Oke, kini makin banyak politisi perempuan yang muncul ke permukaan. Makin banyak perempuan yang menjadi pimpinan dalam posisi strategis. Catat saja Jawa Timur sudah dikuasai 10 emak-emak sebagai kepala daerah. Tapi masalahnya, apakah kenyataan ini mampu mengobati kekhawatiran kita akan ketimpangan peran perempuan di pertarungan hidup politik yang sengit ini?

Penulis meragukan betul jawabannya. Pasalnya, kemarin, selepas menonton talkshow yang digelar idola, masih belum ada juga stigma negatif terhadap politisi perempuan yang berusaha diubah. Justru, dua wanita dari partai biru-biru, yang saat itu hadir sebagai bintang tamu, yang nyatanya masih mempertahankan pola pikir lama tentang perempuan.

Wanita dari partai biru A menyebut berkali-kali dengan bangga bahwa dirinya adalah politisi perempuan. Sudah, sampai situ saja. Tidak jauh berbeda dengannya adalah politisi dari partai biru B. Menekankan identitasnya sebagai perempuan, ia merasa mengungguli suara di timur Jawa dari ibu-ibu dan anak generasi milenial.

Kemudian hal ini menyisakan pertanyaan dalam benak kita semua, “Terus nek awakmu wedhok, aku kudu lapo?”

Iya. Saudara-saudara, bukankah kita sebagai perempuan memimpikan women empowerment dalam program kerja dan perwujudan hukum di Indonesia dari politisi perempuan juga?

Sayangnya, para mbak-mbak, politisi perempuan di negera kita ini masih dihantui dengan kecenderungan untuk dilemahkan. Benar memang 30% kursi DPR harus diisi oleh mereka yang di KTP-nya tertulis ‘perempuan’. Tapi, bagaimana jika angka tersebut digunakan sebagai syarat formalitas belaka? Sayembara digelar, perempuan dilibatkan, hanya cuma agar supaya angka terpenuhi dan partai politik lolos verifikasi memasukkan benderanya di surat suara.

Sebuah jurnal yang meneliti kinerja DPRD Surabaya menyebut politisi perempuan saat berpendapat di rapat paripurna cenderung tidak dianggap dan bahkan direndahkan dengan kalimat verbal. Demikian pula jurnal ini menyebut pendidikan politik di akar rumput hanya mementingkan pemenuhan syarat keterwakilan perempuan, bukan memilah isu-isu yang seharusnya pas dipegang politisi perempuan. Tidak heran jika istri, anak, dan sanak saudara yang berjenis kelamin perempuan dari para pimpinan parpol ujug-ujug muncul wajahnya di spanduk kampanye pinggir jalan. Nyaleg.

Sebuah tesis berjudul “Gambaran Politisi Perempuan dalam Arena Politik Indonesia di Media Massa” juga menyebut, pemberitaan di media tentang politisi perempuan masih hobi nyerempet ke isu domestik. Identitas sebagai politisi dilengkapi dengan sentuhan “tuntutan” untuk tetap menjadi tukang masak, tukang nyapu-ngepel, dan guru les anak dalam berbagai pemberitaan. Dalam media pun, politisi perempuan cenderung digambarkan ndompleng ke nama besar laki-laki yang menjadi “promotornya”.

Nyatanya, perempuan kalau jadi politisi memang banyak tantangannya. Ranah dapur yang lekat dalam image perempuan didobrak paksa habis-habisan ketika ia memilih ranah publik dengan menjadi politisi. Belum lagi ketika perempuan berhasil merebut jabatan-jabatan vital di tingkat nasional maupun daerah. Segala hukum agama, dan kalau bisa hukum rimba, digunakan untuk menjegal mereka. Hal ini tidak mengherankan mengingat kita hidup dengan catatan sejarah panjang dan konteks budaya yang lekat dengan pandangan patriarki. Kita masih terjebak bahwa politik adalah pekerjaan maskulin.

Lah terus piye? Apakah dengan begitu para pemimpin dan politisi perempuan yang tengah menjabat kini kurang mumpuni? Tidak juga. Tri Rismaharini, yang dikenal suka marah-marah itu, selalu dihujani penghargaan kelas internasional dan tetap teguh menutup jurang Gubeng dalam lima hari. Khofifah Indar Parawansa bisa dikata berhasil memenangkan kontestasi Jatim 1 akibat jaringan massa yang kuat dan prestasi sebelumnya yang bergerak di ranah sosial, bidang yang “cewek banget”.

Tapi ya balik lagi, artinya politisi perempuan memang harus menunjukkan rapot terlebih dahulu baru beroleh penghormatan yang sepadan. Jika tidak kuat menerjang gelombang maut permainan politik yang sarat kecurangan dan dendam, politisi perempuan yang selalu jadi sasaran korban ini tidak akan dipandang.

Sedih ya? Susah amat jadi politisi perempuan!

Editor Picks