Perlunya Studi Banding dengan Oppa Seungri 0 344

Sebelumnya, tulisan ini bukan untuk membela Seungri ‘BIGBANG’. #sekadarmengingatkan.

Sekitar tiga atau dua bulan terakhir ini, K-Popers generasi dua (sing wis rodok tuek) pasti sedang sibuk menonton the real-life Korean drama yang sungguh membikin syok sekaligus miris. Apalagi kalau bukan drama skandal salah satu personel boygroup ‘BIGBANG’, Seungri?

Member termuda ini terlibat dalam skandal suap, peredaran narkoba di dalam klub malam Burning Sun, kekerasan, pelecehan seksual, lobi investor dengan jasa escorts, hingga kabarnya ia juga nyambih jadi germo.

Pada awalnya, masih banyak fans yang memberi dukungan pada Seungri untuk tetap kuat kala menghadapi masalah ini (termasuk saya). Apalagi, Seungri berjanji akan kooperatif menjalani pemeriksaan. Namun, semakin dikupas, semakin terlihat boroknya. Rupanya kasus ini tak sesepele yang saya kira.

Kalau pembaca yang budiman membaca isi grup chat Seungri dan kawan-kawan di Kakao Talk, sungguh biadab apa yang mereka lakukan kepada para perempuan muda yang dijadikan alat pemuas hasrat seksual mereka. Tak heran bila saat ini, Seungri menjadi manusia paling dibenci di Korea Selatan dan di-bully habis-habisan oleh netijen, terutama netijen Korea yang terkenal jahanamnya.

Seperti sewajarnya manusia normal yang terkena masalah–apalagi menjadi pemberitaan di seantero bumi–Seungri tampil di publik dengan wajah pucat dan terlihat ketakutan. Seungri yang biasanya cerewet, kini hanya berbicara seadanya. Saat pria yang dijuluki ‘Panda’ ini berada di kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan, ia meminta maaf atas keributan yang ia buat. Meski secara implisit ia membela dirinya tak bersalah, ia mengatakan akan kooperatif untuk membantu polisi menyelesaikan kasus ini.

Terlepas tulus tidaknya, setidaknya Seungri masih tahu diri. Sesuai dengan judul yang diharapkan click-bait ini, mari kita bandingkan Seungri dengan para manusia kulit tebal berrompi oranye, alias tersangka KPK.

Janganlah ngarep mereka mengatakan mau kooperatif dalam penyidikan, malu saja tidak! Eh, malah cengengesan dan ngaku-ngaku dizolimi. Yang paling ekstrem, ada yang sampai produksi drama nabrak tiang listrik dengan benjol segede bakpao Chik-Yen (iku benjol opo tumor?). Saya rasa tak usah disebut namanya, toh para pembaca pasti otomatis tahu yang saya maksud ini Setya Novanto.

Kalau Seungri, beberapa minggu setelah kemunculannya di kantor polisi, dikeluarkannyalah sebuah berita yang mengguncang cakrawala dunia maya. Lewat akun Instagram pribadinya, ia mengumumkan mundur dari industri hiburan. Alasannya pensiun dari dunia yang membesarkan namanya itu tak lain, tak bukan, dan memang benar karena mega-skandalnya. Bahkan, rumor yang beredar, ia bukan secara sukarelawan keluar dari dunia hiburan, namun dikeluarkan oleh agensinya, YG Entertainment. Terlepas sukarela atau dipecat, setidaknya Seungri menampilkan dirinya di depan publik sebagai sosok yang tahu diri.

Sungguh mahaironis dengan yang terjadi di negara kita yang masih ber-flower alias berkembang ini. Apabila Seungri cabut dari karirnya sebagai artis lantaran sadar bahwa dosanya tak terampuni, eh lah kok mantan napi korupsi Endonesah malah dengan pedenya nyaleg? Ditandatangani pula oleh ketua partai.

Bahkan, meskipun ICW (Indonesia Corruption Watch) sudah mengumumkan daftar nama para mantan napi, dan netijen juga sudah bereaksi—perlu diingat, netijen Indonesia hampir sama jahanamnya dengan netijen Korea—tak satupun dari mereka ada yang malu dan mundur nyaleg! Alemong!

Memang KPU tidak membuat peraturan yang melarang mantan napi nyaleg, tapi ini masalah malu dan tahu diri, coy! Kalau Prabowo and the gang teriaknya Indonesia krisis keuangan, sesungguhnya, yang lebih darurat kita hadapi ini krisis malu dan tahu diri!

Bayangkan, bagaimana bisa mereka tahu tugas sebagai anggota legislatif kalau diri saja tidak tahu? Apa ‘malu’ dan ‘tahu diri’ sudah digadaikan untuk mencari modal politik? Mohon presiden berikutnya mengimpor malu, jika berkenan, karena realitanya pejabat kita masih banyak yang kekurangan stok malu.

Asu-dahlah, saya akhiri saja ke-julid-an ini. Sebab kalau dilanjutkan, eyke takut tercyduq polisi dengan bekal tuduhan UU ITE. Gitu, shay

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Polemik Hubungan Asmara KPK 1 103

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memasuki usia 17 tahun. Sebuah batas usia yang sesuatu kalau buat manusia. Ketika seluruh organ reproduksi sudah memasuki masa subur. Ketika seseorang sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi membeli minuman keras dan rokok di supermarket. Ketika seseorang juga sudah sah mengendarai kendaraan menembus jalanan.

Di samping itu, usia dewasa menjadikan seseorang juga dianggap bisa menentukan arah hidup sendiri. Seseorang sudah dipercaya memiliki kesadaran penuh bahwa seluruh tindak-tanduknya memiliki risiko tersendiri.

Tapi tidak dengan KPK. Justru, di tengah kesuksesannya yang makin hari makin dipercaya rakyat, ia malah dikuliti dan dilemahkan atas dasar wacana revisi Undang-undang KPK. Yang diberi dewan pengawas lah, yang dibatasi penyadapannya lah. Ada saja caranya agar DPR ke depan tidak banyak yang kena OTT lagi.

Pembahasan revisi UU ini sengaja dimunculkan bersandingan dengan agenda pemilihan calon pimpinan baru, menggantikan jabatan Agus Rahardjo dan kawan-kawan. Sejumlah nama kemudian disepakati 13 September lalu sebagai pucuk pimpinan tertinggi KPK, setelah melalui formalitas fit and proper test.

Rentetan musibah yang menimpa lembaga independen pembasmi rasuah ini begitu panjang. Sungguh dukacita mendalam bagi mereka para pegiat anti-korupsi garis keras.

Entah layak disandingkan ataupun tidak, penulis hendak menguatkan hati pembaca sekalian. Bahwa penderitaan KPK sama-sama bertubi-tubinya dengan penderitaan atas nama cinta milik qlean semua!

Berikut ini daftarnya:

Kadaluarsa kepercayaan

Wacana pembentukan dewan pengawas bagi KPK menuai kritik sana-sini. Tapi, dalih penjagaan KPK agar sesuai fungsi utamanya selalu diusahakan anggota dewan. Bahkan, hampir seluruh capim mempertegas dukungannya terhadap kehadiran dewan pengawas. Jika lembaga pers yang independen pula saja punya dewan pers, seharusnya KPK juga punya, begitu tukas mereka.

Padahal, menurut Lembaga Survei Indonesia, KPK adalah lembaga teratas yang mendapat kepercayaan publik. Polisi, pengadilan, apalagi partai politik dan DPR jauh tertinggal di bawah. Mulai dari 2016-2018, tingkat kepuasan rakyat akan kinerja KPK dalam memberantas korupsi sangat tinggi, di angka 70%.

Jika rakyat sudah percaya, mulut dan tangan KPK mana lagi yang kau dustakan? Kenapa masih butuh dewan pengawas seakan-akan ke depan KPK akan melanggar hakikatnya?

Sama seperti kamu-kamu semua, yang sudah sangat percaya dengan sang pacar. Jika mas/mbak pacar dipercaya setia denganmu seorang, kan gak mungkin to kamu repot-repot stalking, pasang penyadap, atau bahkan menyewa mata-mata untuk mengawasinya?

Eh tapi, kepercayaan pada manusia itu kan sifatnya dinamis ya? Yang di awal pacaran setia, bisa saja besok lusa selingkuh loh! Hehe.

Ndablek

Sudah sekian juta orang menasehatimu untuk tidak memacari doi. Mereka bilang, reputasi doi  buruk dan akan membahayakan masa depanmu kalau masih terus dipaksakan. Tapi kamu tetap ndablek, tetap membuka hati dan mengobral kasih sayang.

Seperti itu mungkin sikap DPR ketika memutuskan untuk memenangkan Firli Bahuri secara mutlak: 56 suara, meninggalkan 9 calon lainnya. Padahal, hari kemarinnya, petinggi KPK sudah mengultimatum bahwa polisi mantan Deputi Penindakan KPK itu sudah melakukan pelanggaran etik berat.

Eh tapi, kan doi berprestasi banget! Melalangbuana jadi kapolres, kapolda, ajudan presiden, dan kenal sejumlah kepala daerah pula! Deretan CV-nya yang luar biasa itulah yang membuat kita harus sayang! Memberi kesempatan kedua, berharap ia akan berubah menjadi lebih baik. Yang penting dijalani dulu aja, ya!

Ngambek

Masih berhubungan dengan poin kedua, Saut Situmorang menyatakan mundur dari pimpinan KPK terhitung 16 September ini. Ia menyesal dengan keputusan para petinggi Senayan yang malah memenangkan Firli. Wes dikandani, sek ndablek ae!

Saut Situmorang adalah kita-kita yang sudah lelah memperjuangkan segalanya demi doi. Memang, menyerah adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan diri sendiri. Situ mau ngapain, terserah!

Dari sekian daftar yang telah dirinci di atas, adakah pembaca yang hendak tambahkan?

Korupsi, KPK, dan pemerintah punya hubungan asmara yang memang serba rumit. Seperti kisah cintamu yang gak tahu kapan berlabuhnya, demikian pula dengan polemik korupsi di negeri +62 ini.

Surat Terbuka untuk Livi Zheng 0 340

Nama Livi Zheng kini ramai “dibakar” di media. Banyak yang mencemooh Livi di tengah perjuangannya berkarya. Sebagai insan pecinta film, saya hendak mengajukan pembelaan terhadap yang bersangkutan.

Perlu diingat oleh warga alam semesta dari mana Livi menuntut ilmu. Tidak main-main, S1 ia tempuh di Washington dan S2 secara khusus mengambil jurusan Cinematic Arts di Southern California. Ia sudah memulai karir di dunia perfilman sejak usia belia, 25 tahun! Ya, di saat kamu-kamu semua di usia yang sama, kehidupan dan pekerjaannya masih gitu-gitu aja.

Di usia ke-30, ia sudah berhasil menelorkan dua karya yang katanya dia sendiri hebat luar biasa, Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise. Jelas ini prestasi yang perlu diakui.

Memangnya ada berapa anak bangsa yang bisa sekolah di luar negeri, di kampus yang bergengsi pula? Berapa banyak sih sutradara Indonesia yang betulan niat belajar film sampai ke negeri tetangga? Apalagi, tempat Livi mencari ilmu, Amerika Serikat, merupakan pusat perfilman dunia!

Berapa banyak juga sutradara yang sudah berdomisili di luar negeri, masih mau kembali ke Indonesia dan menggarap film dengan tema yang mengangkat kekayaan budaya bangsa? Bicara karya, berapa banyak juga sih sutradara Indonesia yang filmnya bisa tembus ke layar lebar Ameriki? Livi lah salah satunya yang bisa. Fakta tersebut harus kauterima, wahai Netijen!

Berbagai media kini berlomba-lomba mengorek latar belakang Livi Zheng. Bahkan sampai bisa mengurutkan silsilah keluarga berikut gurita bisnisnya. Detektif betul kerjaan jurnalis ini.

Namun, jika memang demikian adanya, bahwa Livi dilahirkan di keluarga beruntung yang bermodal besar, lantas kenapa? Ia punya ketertarikan di film, memanfaatkan kekayaan keluarga untuk membuat dan mempromosikan sendiri filmnya. Apa yang salah dari hal itu? Salahkah jadi horang kayah?

Pun bagaimana taipan Gunawan Witjaksono dan Lilik Juliati, orang tua Livi, menyokongnya soal gurita relasi. Hal ini dikritik tajam oleh media dan teman sutradara Indonesia lainnya.

Sekali lagi, saya merenung, apa yang salah dari punya relasi banyak? Orang top-top di Indonesia pula, mulai dari wakil presiden Jusuf Kalla, lord segala menteri Luhut Binsar Panjaitan, hingga Kapolri Tito Karnavian. Bukankah bagus berkawan baik dengan pemangku jabatan di negeri ini? Bukankah ini menandakan kelihaian Livi sekeluarga membangun relasi?

Jika seorang Livi Zheng berhasil meminta pejabat tinggi negara mempromosikan filmnya, berarti ia tidak cuma asal bisa berkarya dan hanya tahu dapur persyutingan, tapi juga cara mempromosikan karyanya sendiri. Gimana karya bisa berhasil jika tidak dipromosikan? Gak usah sok idealis lah kamu!

Tipe manusia itu berbeda-beda. Orang yang berkarya dan membiarkan karyanya sendiri yang berbicara, tidak mutlak lebih baik daripada orang yang koar-koar supaya karyanya dikenal orang. Asal Joko Anwar tahu, memanfaatkan profil diri dan relasi adalah strategi cerdas Livi Zheng membuat karyanya dikenal orang.

Pun di sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, alih-alih ingin menjernihkan perspektif masyarakat yang sudah terlanjur teracuni imej jelek Livi, malah ia semakin disudutkan. Tetapi, mau tidak mau Livi harus menaati formatan duduk dan arah talkshow yang bertujuan menghakiminya.

Bayangkan! Satu orang Livi, dihakimi 6 orang sutradara, produser, jurnalis, dan kritikus film. Kasihan, tahu! Mbok nek meh debat siji-siji, ojok tawuran!

Apa gak cukup kalian semua merendahkan martabat Livi Zheng sebagai sineas muda berbakat di media sosial? Gimana Indonesia mau maju, kalau setiap anak bangsa yang berkarya direndahkan begini, bukannya didukung?

Pokoknya untuk Kak Livi Zheng, kudu semangat terus! Film-film yang mengangkat budaya Indonesia darimu akan selalu kutunggu! (sembari menebak-nebak pejabat siapa lagi yang testimoninya akan diikutsertakan)

 

Editor Picks