Surat Terbuka untuk Kamuh yang Anti Incess Syahrini 0 177

Sebagai tim pembela Syahrini yang fanatik, akhirnya saya toh harus angkat bicara. Saya tak punya kalimat pembuka yang paling kuat selain manifesto ini: kamuh-kamuh yang dibeking Luna Maya itu sudah melakukan penistaan kelas berat kepada Princess kami!

Bagaimana mungkin cinta Princess diatur-atur? Bukankah Aa Reino Barack sudah memberi komitmennya kepada Incess kami dan bukan Luna Maya[k]?

Sini, kuberitahu pelajaran berharga dan prinsip nomor satu: manusia tak punya kekuatan barang sedikitpun untuk menyetir cinta sesamanya. Tak pernah ada agama yang berani memasang badan untuk sebuah keyakinan atas Tuhan yang melepaskan diri dari tanggung jawab atas perasaan dan hati umatnya. Bahkan Habibana Rizieq saja, di masa belio masih sehat dan bebas (ehem), tak pernah menggugat soal ini.

Oh ya, lupa, tapi ini dengan asumsi bahwa ikatan Syahrini-Reino sungguh karena cinta loh yaa. Dan tentu saja saya harus yakin bahwa cinta mereka sungguhlah ada dan bukan sekadar rupiah belaka. BUKAN SEKADAR.

Sudahlah, mending situ kembali ke habitat nggak mutu dan ekosistem receh yang sudah situ hidupi bertahun-tahun. Dari orang-orang macam ini, yang hidupnya Senin-Kemis itu, apa kapasitasnya mengomentari—apalagi menista—junjungan kami Fatimah Syahrini Jaelani yang termasyhur? Hidupnya berantakan kok berani-berani menakar kadar cinta idola? Apakah mereka tak pernah menghayati lagu “Sesuatuuuuu” yang sungguh populer di kalangan [k]anak muda itu?

Telah terpampang nyata dalam khatulistiwa perasaan seluruh umat Indonesia bahwa Incess adalah salah seorang yang amat berpengaruh. Dan pengaruh itu merentang sampai pada bagaimana kita menyibukkan diri dalam menolak atau membelanya. Merepotkan diri dalam nyinyir dan puja-puji. Seperti surat terbuka ini…

(Surat ini dibuka dengan gairah menyala tapi ditutup dengan loyo… Sudahlah, namanya juga hidup: antara pesona dan derita kadang beda tipis bingit).

 

Salam hangat,

dari pemuja Syahrini di suatu sore yang murungnya mewakili hati Luna Maya. (Bingung yo ben.)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anti Ramos dan Aksi Damai Bela Mo Salah 0 271

Sergio Ramos ncen asu kok.

Kami yang di sini sungguh tak terima padamu Mos. Dirimu adalah biang kerok dari menclek-nya bahu Mohamed Salah—pemain pujaan kami-kami yang telah dimabuk dahaga juara dari klub kebanggaan Liverpool.

Syahdan, Liverpool sudah telanjur kalah. Karius telanjur depresi. Dan Iqbaal telanjur memerankan Minke. Mos, tanggung jawab kamoh!

Tak ada jalan lain kecuali menggelar demonstrasi besar-besaran, aksi simpatik untuk Mohamed Salah sekaligus aksi protes di depan Kedutaan Spanyol. Ramos, bagaimanapun musti tahu betapa ini perkara super serius. Ramos harus tahu bahwa kita di sini mulai terlatih dalam mengumpulkan massa dalam demonstrasi, tak peduli dibayar nasi bungkus atau nasi kotakan. Jagad persepakbolaan internasional harus paham bahwa ada kekuatan super di sini, yang meski di bulan suci ini, tetap bisa istiqomah dalam berdemonstrasi.

Jangan lagi bertanya ihwal apa motivasi besar yang mendorong kita-kita bergerak seperti aktifis reformasi (atau aktifis gerakan 212, sebelas dua belas-lah). Kesamaan Salah dan kami sudah jelas: kami dipertautkan oleh agama suci yang harus dibela tandas sampai ke tulang, eh, bahu!

Ramos yang kafir itu harus tahu bahwa agama adalah soal hidup yang sangat prinsipil. Menyakiti satu muslim berarti menyakiti kami secara keseluruhan. Maka ribuan manusia sakit hati akan turun ke jalan. Tenang saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami hanya akan menghadirkan diri kami untuk menyampaikan uneg-uneg, beban berat, dan kegelisahan yang tak tertanggung lagi.

Mungkin memang ada dari kami yang kalah judi, turu pasar bantalan gobis. Tapi poinnya bukan itu. Esensi gerakan sakral ini adalah bahwa atas nama agama, tidak boleh ada yang tersakiti dan terkhianati. Mo Salah tak boleh ditinggalkan sendirian. Ia harus didampingi dan sebagai sesama muslim, menjadi mutlak bagi kita untuk saling bergandengan tangan.

Kami juga akan menggalang kekuatan lebih luas lagi, pada kawan-kawan seiman, tak peduli kalah judi atau tidak. Tunggu saja ente Mos!

 

Tentang Minke dan Nyinyir Kepada Iqbaal Ramadhan 0 738

Hoi, antum-antum yang sok nyinyir, kenapa pula kau cela Iqbaal?

Ini berita biasa. Sangat sehari-hari. Kenapa seolah di kepalamu dunyo kiamat begitu mendengar Iqbaal terpilih dalam casting film Bumi Manusia?

Bahwa Iqbaal dipilih oleh sutradara Hanung Bramantyo untuk memerankan tokoh Minke—intelektual pribumi yang konon adalah RM Tirto Adhi Soerjo dalam roman Pramoedya Ananta Toer, adalah kewenangan Hanung. Film ini industri bung! Siapa yang mau tekor dari bisnis dengan fulus jumbo seperti ini? Bukankah menjadi wajar memilih aktor jaminan mutu yang kini sedang disayang-sayang pasar, seperti tampak pada Iqbaal?

Film Dilan, mau dicaci sejorok apapun, adalah tonggak penting dari eskalasi radikal dari industri film nasional. Beberapa rekor pencapaian telah dipecahkan. Penonton membludak dan menjadi perbincangan, juga bahan gombalan murah para muda-mudi. Dilan, singkatnya, berjasa besar bukan saja pada makin bergairahnya nafas industri film dalam negeri, melainkan juga memberi relaksasi pada banyak hadirin tentang pemeran atau aktor alternatif yang tak monoton. Bukan lagi Vino Bastian yang suaranya serak-serak soak, atau Reza Rahadian yang serakah pada semua macam peran.

Tapi bagaimana dengan mutu aktingnya?

Gaya, nontonmu masih mentok di Avenger-avengeran wae kok nggaya ngurusi akting. Referensi filmmu Air Terjun Pengantin sama Hantu Jeruk Purut aja kok masih rewel menghina akting orang? Lebih parah lagi, tak pernah nonton film tapi turut merasa wajib untuk membagi kenyinyiran? Apalagi tak pernah menamatkan buku aslinya, Bumi Manusia.

Gombal. Dosa besar mencela di bulan yang suci ini kang.

Mari didukung, siapa tahu saja Iqbaal mematangkan aktingnya di sini. Siapa sangka nanti bahwa Bumi Manusia adalah fase penting yang akan mendisiplinkan watak dan karakter dari seorang Iqbaal. Barangkali pula ini akan menjadi salah satu cara jitu untuk memperkenalkan novel legendaris Pram pada generasi milenial, netijen macam kamu-kamu yang alay, untuk sabar dan mencerna dengan baik sentimen jaman revolusi sebagaimana termaktub dalam karya-karya Pram.

Beri kesempatan dululah, baru dihabisi sama-sama. Eh..

Editor Picks