Caleg dan Spion Bundarnya 0 325

Pemasangan spion bundar di pojokan jalan itu nampaknya makin menambah geram warga. Berkali-kali anggota PKK tak mau membayar iuran hanya karena tidak mendapat transparansi siapa yang memasang cermin itu. Pengajian saban Kamis malam yang biasanya ramai, kini tidak terlihat barang separuh saja jamaahnya yang masih setia. Pula, Minggu pagi yang seharusnya jadi ajang adu kejantanan pria dalam membersihkan selokan, mengecat ulang tiang listrik—yang belakangan memudar karena banyak ditempeli brosur tak jelas—atau bahkan memeriksa megafon surau yang dipakai untuk azan pun putus-putus.

Adalah Karmidi, bapaknya Kamila, perempuan paruh baya yang sekarang gemar ngartis daripada mengurusi anak, yang mengawali serangkaian aksi boikot itu. Pada tiap bubaran sholat berjamaah, ia berbisik pada kanan-kiri shaf, agar memaksa Pak RT (yang juga imam surau) buka suara terkait spion itu. Itu terjadi sekitar dua bulan lalu, ketika Karmidi, istrinya Solikah, yang sedang lanjut S3 di Jogja, mendapati ada dua kaca besar yang menggantung di pojokan gang. Satu buah menghadap timur, memantulkan susur gang yang bisa ditengok melalui jalanan di sebelah selatan atau sebaliknya. Di ujung timur, ada juga satu biji spion yang dipasang pas di atas pagar Warno, yang muskil tak menjemur celana jins di paving teras rumah (kenapa ya?).

Belakangan, warga jadi maklum atas hadirnya dua cermin bulat di kampung itu. Sebab apa boleh kata, Sutarji, yang menikah lagi tiga tahun lalu, adalah kader desa salah satu partai yang tak bisa disebut namanya (kenapa ya selalu begini?). Dulu, ketika dia mengumumkan maju caleg pada sebuah pengajian, orang bertanya-tanya tentang penghasilannya.

“Sekarang, coba kalian pikir, asalnya duit dari langit mana itu? Sampai dua istrinya bisa akur, punya tiga mobil, dan dalam dua tahun saja, rumahnya jadi tiga lantai!” sinis Masrukhin, istri Warno.

Namun, bukannya senang karena dapat bantuan dari calon pejabat itu, Karmidi merasa masih ada yang tak kena di hati. Ia menganggap kaca-kaca itu sebagai spionase, mata-mata bagi kampung, agar kelak tidak lagi ada warga menggunjing di depan teras rumah mereka. “Meminimalisasi gibah kita atas Cak Tarji,” sahut Burhan, remaja tamatan pondok pesantren modern—setidaknya menurut sekolah itu sendiri.

Tolakan juga tak hanya datang dari situ. Warno, yang rumahnya jadi tempat pemasangan spion, juga merasa terganggu berkat lalainya izin dari Cak Tarji. Ia bahkan berani mengadu ke Pak Lurah bila Sutarji tidak juga mengaku salah. Sampai hati ia melangkahi si empu rumah untuk memasang barang yang bukan haknya.

Atas komplain dari warga, Pak RT bukanlah tipe orang yang asal ngeles. Dengan sabar, ia dengarkan keluh kesah dari Karmidi, Warno, Burhan serta Masrukhin dan ibu-ibu pengajian lainnya. Sambil meminum teh bekas pagi tadi—sampai warnanya tak lagi pekat—ia meminta mereka tidak perlu risau, sebab semua sudah dia perhitungkan. Tetapi soal pemasangan di depan rumah Warno, itu adalah kekhilafan.

“Besok akan saya minta Minto untuk membongkar spion di depan rumah bapak. Saya akan geser ke titik yang lebih menguntungkan kita semua.”

Bahkan sepuluh hari menjelang pencoblosan pun, spion itu masih menggantung, masih setia memberi waspada bagi tiap orang yang hendak berbelok, masih di sudut yang sama persis, dengan lanskap yang terkesiap di cermin sebagai berikut: gapura gang berwarna kuning kehijauan, ornamen lampion melintang atap rumah, paving jalanan tidak lagi pudar, serta umbul-umbul bertuliskan, “Bersama Cak Tarji, Pemimpin Masa Depan Umat”.

Tidak. Warga tidak protes ke Pak RT atas rayuan politik itu. Mereka masih hidup bertetangga, saling bersahut nama. Tetap datang ke pengajian yang sama, membayar iuran PKK yang sama, sampai bersama-sama memperbaiki surau. Mungkin yang membedakan adalah ini: baik Karmidi, Warno, Burhan serta Masrukhin tidak terdengar lagi kabarnya di sana. (Kenapa ya? Saya juga tidak tahu.)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagi Mereka, Antirasisme Tak Lebih dari Sekadar Konten 0 157

George Floyd, pria berkulit hitam yang meninggal karena lehernya ditindih kaki petugas pulisi berkulit putih Minneapolis, AS menimbulkan gelombang protes. Bahkan ribuan warga AS teramasuk selebritis sudah bodo amat dengan korona dan ‘stay at home.

Mereka turun ke jalan untuk memprotes diskriminasi terhadap warga berkulit hitam dan menuntut  pemerintah agar pelaku pembunuhan segera diadili. Di media sosial juga ramai postingan penuh empati yang dibungkus amarah warga net mengenai kasus yang tak kunjung menemukan titik cerah itu.

Louis Vuitton sebagai merek legendaris pun terkena bola api amarah netizen karena marketing masif tas terbarunya ‘Pont 9’. Merek asal Paris ini membayar sejumlah artis dan fashion influencer di seluruh dunia untuk promosi di Instagram.

Namun, tak ada postingan yang menunjukkan empati mereka terhadap isu rasisme yang sedang panas itu. Alhasil, merek high-end ini pun dikecam netizen dan pesohor seperti Emily Ratajkowski karena dinilai tak peka dengan isu sosial. Tak hanya dikecam, pada 31 Mei lalu, butik Louis Vuitton di Oregon dijarah oleh massa.

Tak mau menjadi sasaran amukan massa, merek-merek lain akhirnya memposting foto prihatin terhadap kasus ini dan menyuarakan antirasisme. Diawali dari Versace, lalu dilanjut oleh Dior, Alexander McQueen, dan merek-merek beken lainnya.

Dari observasi kecil-kecilan saya, hingga saat ini, hanya Louis Vuitton yang masih bersih dari postingan antirasisme. Ya sudah, terserah dia.

Saya mengira masalah sudah beres. Ternyata, kasus Louis Vuitton hanyalah appetizer dari masalah empati dan antirasisme yang ada di dunia yang fana ini. Seperti yang tertulis di lirik lagu penyanyi indie terpopuler se-Indonesia, Kekeyi, “ucapanmu manis di bibir saja”, pun juga dengan kampanye antirasisme dari selebgram dan merek-merek kedagingan ini. Rupanya, postingan mereka sebatas wacana yang tidak dipraktikkan di dunia nyata.

Celine, merek asal Perancis ini memposting foto bahwa ia mengecam segala bentuk diskriminasi. Ia juga menuliskan di kepsyen “#BLACKLIVESMATTER” sebagai cherry on top.

Postingan ini diprotes oleh seorang fashion stylist, Jason Bolden. Hal ini dikarenakan Heidi Slimane, sang creative director, enggan mendandani seebritis berkulit hitam, kecuali stylist mereka berkulit putih.

Merek di bawah naungan LVMH ini selalu – semenjak kursi creative director diduduki oleh Heidi Slimane – memiliki jumlah model berkulit hitam di setiap shownya. Pada koleksi musim gugur 2020 misalnya, hanya ada 10 model berkulit hitam dari 111 model (9 persen). Sosok model berkulit hitam sangat jarang ditemui di feed Instagramnya.

Selanjutnya, ada kasus dari L’oréal . Merek mek-ap ini mengunggah foto di Instagram dan twit di Twitter yang intinya melawan segala bentuk diskriminasi warna kulit. Munroe Bergdorf, seorang model berkulit hitam, sontak memberikan tanggapan sinis kepada L’oréal. Rupanya, iapernah didapuk sebagai modelnya pada 2017. Sayangnya, ia dipecat usai menyuarakan protes terhadap white supremacy di Facebook.

Zimmermann, merek pakaian bergaya bohemian ini masuk ke dalam daftar pihak-pihak yang cari aman usai kasus Louis Vuitton. Sama dengan kasus-kasus di atas, merek asal Sydney ini mengatakan bahwa intinya ia berkomitmen untuk melawan praktik-praktik diskriminasi.

Namun, mereka-mereka yang pernah bekerja dan magang di sana angkat bicara. Mereka mengatakan bahwa pekerja kulit hitam kerap kali mendapat diskriminasi dan sering dipojokkan. Tak hanya itu, Zimmermann juga menerapkan beauty standard perempuan berkulit putih Eropa.

Lalu Kris Schitzel, selebgram Rusia yang berfoto di tengah pendemo sambil membawa tulisan “BLACK LIVES MATTER”.  Ia menerima hujatan usai video behind the scene “pemotretan” untuk foto tersebut beredar. Terlihat ia menata pose sedemikian rupa sambil membenarkan gaunnya.

Memang tak seniat video Brojabro dengan sayap Victoria’s Secret-nya saat aksi unjuk rasa mahasiswa di Surabaya silam, namun video tersebut sudah dapat membuat kita menyimpulkan bahwa ternyata gerakan yang ia lakukan tak lebih dari kebutuhan produksi konten di medsos.

Last but not least, kasus yang menyeret perempuan paling berpengaruh di dunia fashion saat ini, Anna Wintour. Vogue AS, majalah ternama yang dikepalai oleh Wintour ini di media sosialnya aktif  menyuarakan Black Lives Matter. Namun, pada Rabu (10/6) lalu, wanita yang mendapat julukan “Nuclear Wintour” ini meminta maaf atas minimnya kesempatan bekerja bagi orang berkulit hitam di kantornya.

Pernyataan tersebut membuat beberapa mantan pekerja berkulit hitam di Vogue angkat bicara di Twitter. Mereka mengungkapkan perlakuan tidak menyenangkan dari Wintour dan pekerja lain. Mulai dari di-bully, hingga gaji yang lebih sedikit harus mereka telan selama bekerja di majalah yang dijuluki fashion bible tersebut.

Miris sekali ya, ketika empati kita sangat dibutuhkan di masa ini, ternyata hanya dijadikan konten guna menaikkan citra mereka, biar seakan-akan peduli dengan isu rasisme. Tuntutan netijen yang begitu besar untuk menampilkan konten empati, malah membuat sejumlah pihak menganggapnya sebagai formalitas belaka.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Renungan Seonggok Pemuja Online Shop 0 74

Sudah hampir 3 bulan kita dihajar kampanye urban yang telah menjadi gaya hidup: #dirumahaja. Walau sebentar kita tak perlu merasa terkurung lagi, tatanan kehidupan yang baru hampir terbentuk dari babak hidup kemarin.

Semua aktivitas lantas dilakukan dari tempat ternyaman, entah sofa atau bahkan tempat tidur, termasuk belanja online.

Mau ke supermarket sebenarnya bisa sih. Toh supermarket dan pasar adalah salah satu ragam bisnis yang senantiasa terkecualikan dengan boleh tetap bernapas, demi mengisi logistik masyarakat.

Tapi sebagian dari kita yang tidak termakan teori konspirasi JRX percaya virus corona ada, menjadi was-was dan meminimalisir kegiatan keluar rumah, sekalipun sekadar untuk berbelanja.  Sebisa mungkin di rumah, menghindari kerumunan, memenuhi bujukan anjuran pemerintah. Beraktivitas di luar rumah menjadi suatu kegiatan yang bahkan mulai terasa asing.

Kita patut bersyukur, bahwa sebelum corona memutuskan untuk mengusik kehidupan kita, teknologi market place sudah berkembang sedemikian rupa. Peluangnya bahkan makin merambah di situasi seperti sekarang ini.

Semua-semua saja dibeli online. Mulai dari susu hingga pisau dapur, dari sayur-mayur hingga cairan pewangi pakaian, kaos kaki impor Cina atau HP hasil pasar gelap, semua dimungkinkan hanya dengan sentuhan jari di gawai.

Bahkan kata teman-teman saya, selama menikmati PSBB di rumah, membuka aplikasi online shop sudah jadi habitus baru yang tak terhindarkan. Ajaibnya, online shop kini berkembang fungsinya, sampai-sampai ikut jadi pereda kebosanan. Ia menjadi obat mujarab atas panas nan jenuhnya hati atau menghindarkan diri dari potensi termakan hoax di grup WhatsApp keluarga.

Namun, ada akibat fatal yang tak kuasa kita taklukkan. Kita tak bisa hanya sekadar “cuci mata” di aplikasi belanja online. Kita susah untuk menolak check out habis keranjang belanja virtual tanpa ampun. Kalau sudah begini, online shop berubah wajah. Justru ialah musuh bebuyutan dompet tipismu.

Pun online shop menghantar kita pada berbagai belahan dan jurang pengalaman. Kadang membeli barang yang mungkin gak terlalu berdayaguna, hanya karena promo dan kode voucher, yang setelah dibeli dan dibayar malah menyesal. Persis kayak habis putus, lalu pengen balikan karena mantan tiba-tiba jadi lebih cakep setelah putus.

Tren online shop sudah merasuk sejak beberapa tahun ke belakang, tapi popularitasnya melonjak dan bahkan menjadi adikuasa yang padanya kita makin menghamba.

Ia hanyalah substitusi emol-emol dan café dengan menu-menu dengan bahasa enggresan ndakik-ndakik. Menggeser rejeki dari mbak-mbak SPG dan mas-mas barista, ke para kurir dan mamang-mamang packaging paket. Merekalah yang memastikan belanjaan kita sampai persis di depan pintu rumah.

Online shop adalah pemain pengganti, dari perasaan tak sabar menunggu antrian kasir di toko, ke perasaan dag-dig-dug tak sabar menunggu teriakan “paket” di depan gerbang rumah.

Begitu pula dengan penggunaan e-wallet dan m-banking yang tersedia di platform e-commerce, yang membuat jasa penukar uang pinggiran jalan gigit jari, teknisi IT start-up digital pesta pora, serta mahasiswa informatika kini jadi kandidat calon mantu idaman, menggantikan dokter yang semakin gak bisa ketemu keluarganya di masa sekarang.

Mungkin ini yang dinamakan “new normal”, sebuah istilah yang sudah sangat lacur penggunaannya dalam konversesyen tiap harinya. Kebaruan yang dianggap normal. Namun juga kenormalan lama yang dibuatkan bentuk barunya. Kebiasaan baru rakjat untuk berbelanja, dan segala lika-liku di baliknya, jadi salah satu bab tak terelakkan di dalamnya.

Editor Picks