“Hepi Ending” Drama Pilpres 2019 1 956

Akhirnya, drama panjang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 nan panas—tidak, tidak sepanas hawa Surabaya—dan menguras emosi serta energi ini sudah memasuki babak akhir. Akhirnya saat-saat yang begitu dinanti datang juga. Pada tanggal 17 April 2019, rakyat Indonesia Raya akhirnya menyumbangkan partisipasi dan suaranya di TPS.

Sedikit trobek, kisah drama “Jokowi vs. Prabowo Jilid 2” ini memiliki konflik yang rumit. Permusuhan diwarnai dengan saling adu kritik, manuver para aktor politik, saling lempar hoaks, dan hingga para pendukung kedua paslon, Cebong dan Kampret ikutan ribut di sosial media. Belum lagi media milik politisi terus-terusan mengompori situasi ini. Tak heran, kisah panjang ini membuat segelintir orang begitu penat, lebih penat daripada menonton kisah dua sejoli fenomenal Fitri dan Farrel.

Bak kisah drama lainnya, Pilpres 2019 ini berakhir dengan bahagia. Bagaimana tidak? Kedua paslon yang berseteru itu menang! Luar biasa sekali, barangkali hanya Indonesia yang bisa punya dua pemenang untuk kursi nomor satu di pemerintahannya

Tidak sia-sia keduanya melakukan effort yang luar biasa. Keliling Indonesia Raya, meninggalkan jabatan (Ma’ruf Amin meninggalkan jabatan ketua MUI dan Sandiaga Uno meninggalkan jabatan Wagub DKI Jekardah) untuk PDKT ke partai sana-sini, belusukan ke pasar-pasar sambil wawancara emak-emak, hingga yang terberat: abang ganteng Sandiaga Uno mengikhlaskan rekeningnya terkuras hingga puluhan miliar demi amanah rakyat. Alhamdulillah. Sungguh terbayar usaha Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandi.

Jokowi-Ma’ruf Amin dinyatakan menang dalam perhitungan cepat dari enam lembaga survei di Indonesia, yaitu Litbang Kompas, Indo Barometer, LSI Denny JA, CSIS-Cyrus, Charta Pollitika, dan Konsepindo. Dari survei-survei ini, banyak yang menanggap Jokowi-Ma’ruf Amin menjadi pemenang tunggal dalam kontestasi ini. Media interneisyenel seperti CNN sudah memberitakan bahwa Jokowi-Ma’ruf akan menjabat sebagai Presiden dan Wakil Presiden selanjutnya.

Haduh, sungguh kasihan mereka hanya mengetahui kebenaran setengah-setengah. Padahal, pemenangnya kan ada dua!

Prabowo-Sandi juga mendeklarasikan kemenangannya dalam Pemilu tahun ini. Tak main-main, deklarasi itu dilakukan sebanyak tiga kali! Mohon maaf, Cebong jangan sok mencibir presiden kita! Beliau menang berdasarkan REAL COUNT yang dilakukan oleh tim internal Badan Pemenangan Nasional. Sekali lagi, REAL COUNT! Jokowi mah apa atuh, cuma menang berdasarkan quick count.

Dari real count dari BPN yang disebut Mbah Amien Rais sebagai “survey diam-diam itu”, Prabowo-Sandi mendapat suara sebesar 62%. Mungkin kita tahunya real count itu hanya dilakukan oleh KPU, ya? Yasudahlah, presiden mah bebas! Tapi sayang sekali, belum satupun pemimpin negara lain yang menelpon Pak Prabowo untuk mengucapkan selamat meski sudah tiga kali mendeklarasikan kemenangannya. Mungkin PR Prabowo-Sandi sekarang adalah menjadi lebih gercep mengabarkan kemenangan ini kepada media luar.

Karena ada dua pemenang, mari kita beri saran bagaimana baiknya mereka harus memimpin. Kedua kubu kelompok baiknya bergantian shift seperti penjaga toko di mol. Jokowi-Ma’ruf Amin shift pagi, Prabowo-Sandi shift malam. Biar adil. Selain itu, Jokowi-Ma’ruf Amin baiknya mengurusi perihal infrastruktur, agama, dan revolusi mental, sementara Prabowo-Sandi akan mengurusi perekonomian, pertahanan, dan pertambangan. (Ini mimpin negara kenapa kayak kerja kelompok, sih?!)

Bayangkan bila hal di atas terjadi beneran! Seperti slogan kita, yakni gotong royong, ini Jokowi bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan mudah dengan bantuan Prabowo. Pokoknya tetap harus menjaga ketertiban, perdamaian, dan tak terpancing provokasi! Okurrr!

Previous ArticleNext Article

1 Comment

  1. Good post. I learn something new and challenging on sites I stumbleupon every day.
    It will always be exciting to read through articles from other writers and practice a little something from their sites.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klasifikasi Netizen Pasca JRX Menjadi Tersangka 0 187

Oleh: Rio Abadi*

 

Beberapa waktu kebelakang, nama Jerinx/JRX kerap menjadi sorotan netizen karena unggahan media sosialnya di berbagai platform. Ya, JRX memang secara gamblang mengunggah teori konspirasi terkait Covid-19 meskipun kerap dikecam dan banyak yang tak sependapat. Tapi tak bisa ditampik bahwa ada juga yang sepaham dan mengamini apa yang disampaikan JRX. 

Segmentasi netizen yang mengisi kolom komentar setiap unggahan Instagram @jrxsid cenderung lebih mendukung setiap apa yang diumbar oleh JRX. Sedangkan di Twitter, netizen yang merespon cuitan @JRXSID_Official kerap kali memberi antitesis terhadap teori konspirasi yang dilontarkannya. Akun media sosial milik JRX di kedua platform tadi-pun, beberapa kali sempat di-suspend akibat dinamika bermedia sosial. 

Namun pada 7 Agustus lalu, JRX resmi menyandang status hukum sebagai tersangka yang ditetapkan oleh Polda Bali atas kasus dugaan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian. Dengan delik aduan, I Gede Ari Astina dilaporkan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) provinsi Bali, atas unggahan Instagram JRX dengan caption “Gara-gara bangga jadi kacung WHO, IDI dan rumah sakit dengan seenaknya mewajibkan semua orang yang akan melahirkan tes Covid-19”. 

Pasca ditetapkan sebagai tersangka, beragam reaksi netizen pun bermunculan. Di media sosial seperti Twitter, netizen terbagi menjadi tiga golongan: 

 

Die Hard JRX

Ini adalah golongan pembela JRX. Mereka mendukung teori konspirasi terkait Covid-19 yang sering diumbar JRX sejak virus Corona merambah ke Indonesia Mereka seolah mengamini bahwa Covid-19 adalah senjata biologis yang dirancang oleh para elit global seperti Bill Gates, atau dengan kata lain,  mereka mengimani bahwa Covid-19 tak lebih dari sekedar rekayasa dan alat propaganda. Mungkin hampir semua dari mereka adalah outsider. Bisa jadi juga mereka bukan penikmat musik SID, namun memiliki kekaguman terhadap teori konspirasi yang digembar-gemborkan oleh JRX.

Meski proses hukum tetap berjalan, ditetapkanya JRX sebagai tersangka mungkin menjadi suatu malapetaka bagi mereka. Bayangkan, salah satu orang yang berani menyuarakan konspirasi di tengah pandemi, berani memiliki sudut pandang yang berbeda dengan orang kebanyakan harus diborgol dengan kabel ties, diboyong ke markas polisi, dan dijebloskan ke rumah tahanan.

 

Anti JRX

Kalau golongan ini, adalah netizen yang kontra dengan segala pernyataan JRX terkait konspirasi Covid-19. Sebelum JRX berurusan dengan hukum, golongan ini menghujat seolah dia adalah orang yang paling hina seantero dunia. Mereka menganggap teori konspirasi yang dilontarkan JRX selama ini adalah sesuatu yang dapat menyesatkan masyarakat. 

Bagi golongan ini, ditangkapnya JRX diharapkan dapat menjadi peringatan bagi siapapun yang berani menebarkan teori konspirasi, walaupun JRX dijerat dengan pasal tersakti se-Indonesia Raya: Pasal 28 Ayat 2 UU ITE, dugaan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian. Akibatnya, JRX terancam hukuman paling lama 6 tahun penjara dan denda maksimal 1 miliar rupiah. Hayo, kapokmu kapan?

 

Half JRX

Netizen yang berada dalam golongan ini adalah mereka yang tidak sepakat dengan teori konspirasi Covid-19, namun menentang penetapan JRX sebagai tersangka. Mereka tidak percaya teori konspirasi. Mereka meyakini eksistensi Covid-19 sebagai bencana non-alam. Mereka percaya meminimalisir kontak fisik antar individu dan menerapkan protokol kesehatan adalah cara untuk mencegah penyebaran Covid-19, sembari menunggu vaksin ditemukan oleh para ilmuwan. 

Tapi mereka tak setuju dengan “cara” menjerat JRX. Mereka menganggap UU ITE berisi pasal-pasal karet yang multitafsir nan mandraguna.

Tak sedikit pula yang membandingkan foto ketika JRX dengan tersangka kasus korupsi, ketika masuk ke tahanan. Bahkan sehari setelah JRX menjadi tersangka, muncul petisi dengan #BebaskanJrxSID. 

Entah siapa yang menginisiasi petisi tersebut, karena bisa jadi berasal dari golongan ini, tapi mungkin juga berasal dari mereka yang masuk dalam golongan pertama.

 

*) Seorang hamba Allah. Profil diri penulis yang lebih rinci sengaja dirahasiakan.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Panduan Nyinyir Berhadiah ala Fahri Hamzah 0 198

Pertama-tama, saya ingin memberi selamat kepada Fahri Hamzah atas prestasi yang ditorehkan  baru-baru ini (13/8). Politikus Partai Gelora ini baru saja menerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera Naraya 2020 dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) . Tentu ini merupakan sebuah prestasi yang luar biasa, bahkan politikus – yang kini menjadi komisaris Pertamina –  yang tegas melawan korupsi seperti Basuki Tjahaja Purnama pun belum pernah mendapat award super bergengsi ini.

Penghargaan ini sendiri diberikan kepada Fahri Hamzah lantaran keaktivannya dalam “mengkritik” pemerintahan Jokowi. Menurut Fahri, penghargaan yang ia terima dapat dijadikan pelajaran bagi semua orang dalam pemerintahan supaya menghormati kritik. Selain itu, ia menilai bahwa penghargaan ini merupakan bukti bahwa pemerintah tetap menghargai kritik.

Tumben lihat Fahri Hamzah memuji pemerintah? Iya, saya juga baru kali ini baca komentar positif tentang pemerintah dari Fahri Hamzah.

Selama ini, anggota DPR RI yang satu ini dikenal sebagai politikus yang nyinyir, doyan mengkritik apapun yang dilakukan pemerintah. Bahkan, warga net menjulukinya sebagai Lord Fahri karena hanya dialah yang serba benar di negeri +62 ini.

Akan tetapi, pandangan warga net tersebut berbeda di mata Jokowi. Bagi Jokowi, ke-nyinyir-an Lord Fahri merupakan kekritisan yang sangat dibutuhkan pemerintah. Setiap butir dari kesewotan yang dilontarkan Lord Fahri bisa menjadi feedback negatif dan juga input bagi kebijakan-kebijakannya.

Berita Lord Fahri yang meraih penghargaan ini tak pelak menjadi trending di media sosial. Banyak yang kaget kenapa teman “duet” nyinyir Fadli Zon ini bisa mendapat penghargaan dari Jokowi. Banyak yang berasumsi ini adalah akal-akalan rezim pemerintah untuk membuat Fahri Hamzah “sungkan” mengkritiknya.

Dilansir dari Tempo.co, ia menampik dugaan netizen tersebut. Ia mengatakan bahwa dengan dipilihnya ia sebagai penerima penghargaan tidak akan menghentikannya menjadi nyinyir kritis. Ia menambahkan bahwa ia akan terus mengkritik karena presidennya menghargai kritik.

Seharusnya kita dapat melihat hal ini dalam sisi positif. Award yang diraih Lord Fahri ini membukakan mata kita bahwa nyinyir tak selamanya buruk. Tahu tempe kah kamu? Untuk menjalankan sistem agar tetap on the track, sistem tersebut butuh sekali feedback negatif. Maka dari itu, pemerintah (baca: Jokowi) memberi penghargaan sebagai ucapan terima kasih karena membantu sistem pemerintahannya tidak keluar jalur.

Setelah tahu nyinyir rupanya tidak selalu negatif, apakah kita juga boleh nyinyir juga seperti Lord Fahri?

Tentu boleh, tapi coba tanyakan dulu dirimu. Apakah Pembaca yang budiman ini konglomerat penyumbang pajak terbanyak? Petinggi Partai? Anggota DPR? Atau punya pengaruh terhadap kelanggengan kekuasaan rezim pemerintah?

Kalau status Anda tidak memenuhi yang saya sebut di atas, mohon maaf Anda belum bisa “nyinyir yang baik” seperti Lord Fahri. Sekadar mengingatkan, kalau tidak punya posisi atau pengaruh, masih ada UU ITE serta pasal penghinaan presiden yang mengawasi jari dan bibir nyinyir Anda. Hehehe…

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks