Panduan Nonton ‘Mantan Manten’ 0 417

Sebagai film Indonesia yang lagi-lagi bercerita tentang perempuan, Mantan Manten karya Visinema Pictures menjadi salah satu yang ditunggu-tunggu umat feminis. Apalagi, film ini bakal mengangkat adat Jawa, yang walaupun sudah mendominasi media kita, tapi tetap menarik jika ada produser film yang mau mengupasnya lebih dalam.

Untuk itu, penulis yang baik hati ini tidak akan membocorkan alur cerita apalagi endingnya kepada pembaca yang berniat menonton (toh trailer sudah mengambil bagian ini hehe). Alih-alih, penulis justru bakal membagi panduan menonton bagi pembaca sekalian.

 

  1. Gak usah sedia tisu

Karena bercerita tentang mantan yang manten, tidak membuat film ini lantas membuat kita teraduk-aduk emosinya, air mata mengucur deras tak henti. Siapa sih yang gak pernah ditinggal nikah sama mantannya? Ini adalah kasus yang paling jamak didapati dalam kisah romansa remaja bangsa yang labil ini :(.

Tapi, barang sebentar kita mau mengarungi gejolak perasaan Mbak Yasnina—yang diperankan Atiqah Hasiholan—ditinggal tunangannya menikah dengan orang lain, adegan nangis-nangisan malah cepat sekali berganti ke adegan lainnya. Baru saja ingin menyelami perasaan serba bingung dan gak enaknya Surya antara memilih Yasnina atau keputusan bapaknya, kita dihadapkan pada sikap kekanakannya dan cenderung menyebalkan.

Penulis juga kesulitan betul menghargai peran Budhe Marjanti yang dihormati sebagai dukun manten itu. Kesakralan hidupnya menjalani puasa dan semedi tidak sempat dihadirkan, diburu dengan durasi film 1 jam 42 menit itu. Pun film ini absen menampilkan adegan pertengkaran batin bapaknya Surya, Iskandar, yang akhirnya menelan pil pahit karena gengsi meminta Yasnina jadi dukun manten buat anaknya.

Emosi dilempar ke sana kemari. Diakhiri tanpa permisi. Diminta ganti ketika kita sedang menikmati. Padahal sudah tersedia 1 pak tisu di tas penulis, berjaga-jaga siapa tahu scene-scene tertentu menguras air mata. Baru mau nangis, eh sudah ganti scene lagi. Haduuuh!

 

  1. Gak usah berharap tinggi-tinggi

Ingat sodara-sodara, tidak semua film bertujuan mendidik! Gak usah berekspektasi tinggi pula bahwa paes dan adat nikah mantenan ala Jawa bakal dikupas tuntas di film ini. Malahan, posisinya menjadi trivial.

Sungguh hebat, Yasnina yang hidup tanpa latar belakang tradisi yang jelas di panti asuhan, bisa belajar paes Jawa dan bahkan jadi dukun manten keluarga keraton Solo dalam kurun waktu 3 bulan. Lebih hebat lagi, Yasnina berani merias istri mantannya, padahal emosinya masih belum stabil untuk menerima fakta pahit itu. Dikisahkan ia juga masih emosi meledak-ledak ketika tahu mantannya akan menikah dengan orang lain. Lah kok njelalah, Nina tiba-tiba berubah jadi sosok yang tenang waktu membetulkan beskap Surya yang kekecilan itu. Kapan berubahnya, cah ayu?

Jangan-jangan, Mbak Nina—panggilan sayang Yasnina—ini lagi pansos. Kisah hidup dan cinta dia kalau diunggah netijen tamu undangan mantenan Surya ke media sosial dengan hestek #JusticeForNina pasti laku keras, menuai simpati di mana-mana. Tiba-tiba Nina terkenal, jadi influencer dan motivator dadakan, serta mendapat banyak orderan endorse online shop abal-abal.

Oh ya, Iskandar, si bapaknya Surya, ceritanya memegang teguh adat Jawa. Dia hanya percaya Budhe Marjanti sebagai dukun manten maha-sakti sak Indonesia raya. Saking taatnya pada tradisi, dia rela lo menerima Nina sebagai orang yang diwarisi tugas paes manten anaknya, walaupun awalnya menyimpan dendam kesumat padanya, entah karena apa. Tapi kalau-kalau dia pemegang teguh adat dan memiliki spiritualitas yang baik, kok sampai hati betul Iskandar demi bisnis mengkhianati calon mantunya sendiri? Apakah berkhianat termasuk jihad? Sungguh janggal.

 

  1. Gak perlu nonton sampai habis

Bukankah judul sudah menceritakan semuanya? Pokoknya ini cerita tentang mantan yang manten. Namanya juga mantan, berarti dia mantennya bukan dengan si pemeran utama. Dari scene pertama, ketika Surya melamar Nina, kita sudah tahu bahwa di akhir nanti mereka gak akan bersama. Bodo amat dengan nasibnya yang kelak akan ditipu calon mertua sendiri.

Pun kalau dia adalah wanita karir hebat, bisa-bisanya harta habis tanpa sedikit pun bersisa. Katanya lulusan amerika, bangun karir dari nol, dapat banyak penghargaan (sebagaimana dikisahkan di dinding panti asuhan), bisa-bisanya teledor dan tidak punya aset sama sekali, kalaupun punya belum balik nama lagi. Masak iya sih, manajer investasi terkenal tidak punya tim pengacara pribadi dan tidak tahu cara investasi bagi dirinya sendiri?

Nina boleh deal dengan banyak  klien perusahaan raksasa, tapi kalah dengan ibu-ibu dukun manten di pegunungan Temanggung. Kalah pula dengan akal-akalan bapak tua yang menipu karir dan jalan cintanya. Di mana Nina yang pintar lobi-lobian itu ketika berhadapan dengan budhe dan Pak Iskandar? Mangkane to Mbak, keseimbangan IQ, EQ, dan SQ itu penting!

 

Demikian panduan nonton ini telah dibuat. Semoga bermanfaat bagi kawan-kawan pembaca sekalian karena film Mantan Manten masih bisa ditemui di bioskop-bioskop kesayangan Anda!

 

Salam hangat, penggemar arwah suami Budhe Marjanti; bapak tua yang dibayar cuma buat senyum dan manggut-manggut sepanjang filem.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Polemik Hubungan Asmara KPK 1 341

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memasuki usia 17 tahun. Sebuah batas usia yang sesuatu kalau buat manusia. Ketika seluruh organ reproduksi sudah memasuki masa subur. Ketika seseorang sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi membeli minuman keras dan rokok di supermarket. Ketika seseorang juga sudah sah mengendarai kendaraan menembus jalanan.

Di samping itu, usia dewasa menjadikan seseorang juga dianggap bisa menentukan arah hidup sendiri. Seseorang sudah dipercaya memiliki kesadaran penuh bahwa seluruh tindak-tanduknya memiliki risiko tersendiri.

Tapi tidak dengan KPK. Justru, di tengah kesuksesannya yang makin hari makin dipercaya rakyat, ia malah dikuliti dan dilemahkan atas dasar wacana revisi Undang-undang KPK. Yang diberi dewan pengawas lah, yang dibatasi penyadapannya lah. Ada saja caranya agar DPR ke depan tidak banyak yang kena OTT lagi.

Pembahasan revisi UU ini sengaja dimunculkan bersandingan dengan agenda pemilihan calon pimpinan baru, menggantikan jabatan Agus Rahardjo dan kawan-kawan. Sejumlah nama kemudian disepakati 13 September lalu sebagai pucuk pimpinan tertinggi KPK, setelah melalui formalitas fit and proper test.

Rentetan musibah yang menimpa lembaga independen pembasmi rasuah ini begitu panjang. Sungguh dukacita mendalam bagi mereka para pegiat anti-korupsi garis keras.

Entah layak disandingkan ataupun tidak, penulis hendak menguatkan hati pembaca sekalian. Bahwa penderitaan KPK sama-sama bertubi-tubinya dengan penderitaan atas nama cinta milik qlean semua!

Berikut ini daftarnya:

Kadaluarsa kepercayaan

Wacana pembentukan dewan pengawas bagi KPK menuai kritik sana-sini. Tapi, dalih penjagaan KPK agar sesuai fungsi utamanya selalu diusahakan anggota dewan. Bahkan, hampir seluruh capim mempertegas dukungannya terhadap kehadiran dewan pengawas. Jika lembaga pers yang independen pula saja punya dewan pers, seharusnya KPK juga punya, begitu tukas mereka.

Padahal, menurut Lembaga Survei Indonesia, KPK adalah lembaga teratas yang mendapat kepercayaan publik. Polisi, pengadilan, apalagi partai politik dan DPR jauh tertinggal di bawah. Mulai dari 2016-2018, tingkat kepuasan rakyat akan kinerja KPK dalam memberantas korupsi sangat tinggi, di angka 70%.

Jika rakyat sudah percaya, mulut dan tangan KPK mana lagi yang kau dustakan? Kenapa masih butuh dewan pengawas seakan-akan ke depan KPK akan melanggar hakikatnya?

Sama seperti kamu-kamu semua, yang sudah sangat percaya dengan sang pacar. Jika mas/mbak pacar dipercaya setia denganmu seorang, kan gak mungkin to kamu repot-repot stalking, pasang penyadap, atau bahkan menyewa mata-mata untuk mengawasinya?

Eh tapi, kepercayaan pada manusia itu kan sifatnya dinamis ya? Yang di awal pacaran setia, bisa saja besok lusa selingkuh loh! Hehe.

Ndablek

Sudah sekian juta orang menasehatimu untuk tidak memacari doi. Mereka bilang, reputasi doi  buruk dan akan membahayakan masa depanmu kalau masih terus dipaksakan. Tapi kamu tetap ndablek, tetap membuka hati dan mengobral kasih sayang.

Seperti itu mungkin sikap DPR ketika memutuskan untuk memenangkan Firli Bahuri secara mutlak: 56 suara, meninggalkan 9 calon lainnya. Padahal, hari kemarinnya, petinggi KPK sudah mengultimatum bahwa polisi mantan Deputi Penindakan KPK itu sudah melakukan pelanggaran etik berat.

Eh tapi, kan doi berprestasi banget! Melalangbuana jadi kapolres, kapolda, ajudan presiden, dan kenal sejumlah kepala daerah pula! Deretan CV-nya yang luar biasa itulah yang membuat kita harus sayang! Memberi kesempatan kedua, berharap ia akan berubah menjadi lebih baik. Yang penting dijalani dulu aja, ya!

Ngambek

Masih berhubungan dengan poin kedua, Saut Situmorang menyatakan mundur dari pimpinan KPK terhitung 16 September ini. Ia menyesal dengan keputusan para petinggi Senayan yang malah memenangkan Firli. Wes dikandani, sek ndablek ae!

Saut Situmorang adalah kita-kita yang sudah lelah memperjuangkan segalanya demi doi. Memang, menyerah adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan diri sendiri. Situ mau ngapain, terserah!

Dari sekian daftar yang telah dirinci di atas, adakah pembaca yang hendak tambahkan?

Korupsi, KPK, dan pemerintah punya hubungan asmara yang memang serba rumit. Seperti kisah cintamu yang gak tahu kapan berlabuhnya, demikian pula dengan polemik korupsi di negeri +62 ini.

Surat Terbuka untuk Livi Zheng 0 570

Nama Livi Zheng kini ramai “dibakar” di media. Banyak yang mencemooh Livi di tengah perjuangannya berkarya. Sebagai insan pecinta film, saya hendak mengajukan pembelaan terhadap yang bersangkutan.

Perlu diingat oleh warga alam semesta dari mana Livi menuntut ilmu. Tidak main-main, S1 ia tempuh di Washington dan S2 secara khusus mengambil jurusan Cinematic Arts di Southern California. Ia sudah memulai karir di dunia perfilman sejak usia belia, 25 tahun! Ya, di saat kamu-kamu semua di usia yang sama, kehidupan dan pekerjaannya masih gitu-gitu aja.

Di usia ke-30, ia sudah berhasil menelorkan dua karya yang katanya dia sendiri hebat luar biasa, Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise. Jelas ini prestasi yang perlu diakui.

Memangnya ada berapa anak bangsa yang bisa sekolah di luar negeri, di kampus yang bergengsi pula? Berapa banyak sih sutradara Indonesia yang betulan niat belajar film sampai ke negeri tetangga? Apalagi, tempat Livi mencari ilmu, Amerika Serikat, merupakan pusat perfilman dunia!

Berapa banyak juga sutradara yang sudah berdomisili di luar negeri, masih mau kembali ke Indonesia dan menggarap film dengan tema yang mengangkat kekayaan budaya bangsa? Bicara karya, berapa banyak juga sih sutradara Indonesia yang filmnya bisa tembus ke layar lebar Ameriki? Livi lah salah satunya yang bisa. Fakta tersebut harus kauterima, wahai Netijen!

Berbagai media kini berlomba-lomba mengorek latar belakang Livi Zheng. Bahkan sampai bisa mengurutkan silsilah keluarga berikut gurita bisnisnya. Detektif betul kerjaan jurnalis ini.

Namun, jika memang demikian adanya, bahwa Livi dilahirkan di keluarga beruntung yang bermodal besar, lantas kenapa? Ia punya ketertarikan di film, memanfaatkan kekayaan keluarga untuk membuat dan mempromosikan sendiri filmnya. Apa yang salah dari hal itu? Salahkah jadi horang kayah?

Pun bagaimana taipan Gunawan Witjaksono dan Lilik Juliati, orang tua Livi, menyokongnya soal gurita relasi. Hal ini dikritik tajam oleh media dan teman sutradara Indonesia lainnya.

Sekali lagi, saya merenung, apa yang salah dari punya relasi banyak? Orang top-top di Indonesia pula, mulai dari wakil presiden Jusuf Kalla, lord segala menteri Luhut Binsar Panjaitan, hingga Kapolri Tito Karnavian. Bukankah bagus berkawan baik dengan pemangku jabatan di negeri ini? Bukankah ini menandakan kelihaian Livi sekeluarga membangun relasi?

Jika seorang Livi Zheng berhasil meminta pejabat tinggi negara mempromosikan filmnya, berarti ia tidak cuma asal bisa berkarya dan hanya tahu dapur persyutingan, tapi juga cara mempromosikan karyanya sendiri. Gimana karya bisa berhasil jika tidak dipromosikan? Gak usah sok idealis lah kamu!

Tipe manusia itu berbeda-beda. Orang yang berkarya dan membiarkan karyanya sendiri yang berbicara, tidak mutlak lebih baik daripada orang yang koar-koar supaya karyanya dikenal orang. Asal Joko Anwar tahu, memanfaatkan profil diri dan relasi adalah strategi cerdas Livi Zheng membuat karyanya dikenal orang.

Pun di sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, alih-alih ingin menjernihkan perspektif masyarakat yang sudah terlanjur teracuni imej jelek Livi, malah ia semakin disudutkan. Tetapi, mau tidak mau Livi harus menaati formatan duduk dan arah talkshow yang bertujuan menghakiminya.

Bayangkan! Satu orang Livi, dihakimi 6 orang sutradara, produser, jurnalis, dan kritikus film. Kasihan, tahu! Mbok nek meh debat siji-siji, ojok tawuran!

Apa gak cukup kalian semua merendahkan martabat Livi Zheng sebagai sineas muda berbakat di media sosial? Gimana Indonesia mau maju, kalau setiap anak bangsa yang berkarya direndahkan begini, bukannya didukung?

Pokoknya untuk Kak Livi Zheng, kudu semangat terus! Film-film yang mengangkat budaya Indonesia darimu akan selalu kutunggu! (sembari menebak-nebak pejabat siapa lagi yang testimoninya akan diikutsertakan)

 

Editor Picks