Panduan Nonton ‘Mantan Manten’ 0 504

Sebagai film Indonesia yang lagi-lagi bercerita tentang perempuan, Mantan Manten karya Visinema Pictures menjadi salah satu yang ditunggu-tunggu umat feminis. Apalagi, film ini bakal mengangkat adat Jawa, yang walaupun sudah mendominasi media kita, tapi tetap menarik jika ada produser film yang mau mengupasnya lebih dalam.

Untuk itu, penulis yang baik hati ini tidak akan membocorkan alur cerita apalagi endingnya kepada pembaca yang berniat menonton (toh trailer sudah mengambil bagian ini hehe). Alih-alih, penulis justru bakal membagi panduan menonton bagi pembaca sekalian.

 

  1. Gak usah sedia tisu

Karena bercerita tentang mantan yang manten, tidak membuat film ini lantas membuat kita teraduk-aduk emosinya, air mata mengucur deras tak henti. Siapa sih yang gak pernah ditinggal nikah sama mantannya? Ini adalah kasus yang paling jamak didapati dalam kisah romansa remaja bangsa yang labil ini :(.

Tapi, barang sebentar kita mau mengarungi gejolak perasaan Mbak Yasnina—yang diperankan Atiqah Hasiholan—ditinggal tunangannya menikah dengan orang lain, adegan nangis-nangisan malah cepat sekali berganti ke adegan lainnya. Baru saja ingin menyelami perasaan serba bingung dan gak enaknya Surya antara memilih Yasnina atau keputusan bapaknya, kita dihadapkan pada sikap kekanakannya dan cenderung menyebalkan.

Penulis juga kesulitan betul menghargai peran Budhe Marjanti yang dihormati sebagai dukun manten itu. Kesakralan hidupnya menjalani puasa dan semedi tidak sempat dihadirkan, diburu dengan durasi film 1 jam 42 menit itu. Pun film ini absen menampilkan adegan pertengkaran batin bapaknya Surya, Iskandar, yang akhirnya menelan pil pahit karena gengsi meminta Yasnina jadi dukun manten buat anaknya.

Emosi dilempar ke sana kemari. Diakhiri tanpa permisi. Diminta ganti ketika kita sedang menikmati. Padahal sudah tersedia 1 pak tisu di tas penulis, berjaga-jaga siapa tahu scene-scene tertentu menguras air mata. Baru mau nangis, eh sudah ganti scene lagi. Haduuuh!

 

  1. Gak usah berharap tinggi-tinggi

Ingat sodara-sodara, tidak semua film bertujuan mendidik! Gak usah berekspektasi tinggi pula bahwa paes dan adat nikah mantenan ala Jawa bakal dikupas tuntas di film ini. Malahan, posisinya menjadi trivial.

Sungguh hebat, Yasnina yang hidup tanpa latar belakang tradisi yang jelas di panti asuhan, bisa belajar paes Jawa dan bahkan jadi dukun manten keluarga keraton Solo dalam kurun waktu 3 bulan. Lebih hebat lagi, Yasnina berani merias istri mantannya, padahal emosinya masih belum stabil untuk menerima fakta pahit itu. Dikisahkan ia juga masih emosi meledak-ledak ketika tahu mantannya akan menikah dengan orang lain. Lah kok njelalah, Nina tiba-tiba berubah jadi sosok yang tenang waktu membetulkan beskap Surya yang kekecilan itu. Kapan berubahnya, cah ayu?

Jangan-jangan, Mbak Nina—panggilan sayang Yasnina—ini lagi pansos. Kisah hidup dan cinta dia kalau diunggah netijen tamu undangan mantenan Surya ke media sosial dengan hestek #JusticeForNina pasti laku keras, menuai simpati di mana-mana. Tiba-tiba Nina terkenal, jadi influencer dan motivator dadakan, serta mendapat banyak orderan endorse online shop abal-abal.

Oh ya, Iskandar, si bapaknya Surya, ceritanya memegang teguh adat Jawa. Dia hanya percaya Budhe Marjanti sebagai dukun manten maha-sakti sak Indonesia raya. Saking taatnya pada tradisi, dia rela lo menerima Nina sebagai orang yang diwarisi tugas paes manten anaknya, walaupun awalnya menyimpan dendam kesumat padanya, entah karena apa. Tapi kalau-kalau dia pemegang teguh adat dan memiliki spiritualitas yang baik, kok sampai hati betul Iskandar demi bisnis mengkhianati calon mantunya sendiri? Apakah berkhianat termasuk jihad? Sungguh janggal.

 

  1. Gak perlu nonton sampai habis

Bukankah judul sudah menceritakan semuanya? Pokoknya ini cerita tentang mantan yang manten. Namanya juga mantan, berarti dia mantennya bukan dengan si pemeran utama. Dari scene pertama, ketika Surya melamar Nina, kita sudah tahu bahwa di akhir nanti mereka gak akan bersama. Bodo amat dengan nasibnya yang kelak akan ditipu calon mertua sendiri.

Pun kalau dia adalah wanita karir hebat, bisa-bisanya harta habis tanpa sedikit pun bersisa. Katanya lulusan amerika, bangun karir dari nol, dapat banyak penghargaan (sebagaimana dikisahkan di dinding panti asuhan), bisa-bisanya teledor dan tidak punya aset sama sekali, kalaupun punya belum balik nama lagi. Masak iya sih, manajer investasi terkenal tidak punya tim pengacara pribadi dan tidak tahu cara investasi bagi dirinya sendiri?

Nina boleh deal dengan banyak  klien perusahaan raksasa, tapi kalah dengan ibu-ibu dukun manten di pegunungan Temanggung. Kalah pula dengan akal-akalan bapak tua yang menipu karir dan jalan cintanya. Di mana Nina yang pintar lobi-lobian itu ketika berhadapan dengan budhe dan Pak Iskandar? Mangkane to Mbak, keseimbangan IQ, EQ, dan SQ itu penting!

 

Demikian panduan nonton ini telah dibuat. Semoga bermanfaat bagi kawan-kawan pembaca sekalian karena film Mantan Manten masih bisa ditemui di bioskop-bioskop kesayangan Anda!

 

Salam hangat, penggemar arwah suami Budhe Marjanti; bapak tua yang dibayar cuma buat senyum dan manggut-manggut sepanjang filem.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sinetron Absurd ala Indonesia dan Khasiat Mujarabnya 0 229

Menahun sudah segenap rakjat bertanya-tanya, sebagaimanapun kami juga (lihat tulisan: ‘Logika Hello Kitty Rebus vs Drama Korea’), kenapa sinetron Indonesia kok modelannya begitu-begitu terus? Bukannya semakin waktu semakin baik, malah semakin absurd. Adegan-adegannya super duper konyol out of the box. Mulai dari boneka Hello Kitty direbus sampai seorang wanita yang berteriak panik dikerubutin buaya CGI.

Tak mau kalah, latar tempat pun ikut jadi bahan humor tersendiri. Bagaimana ceritanya istana kahyangan seorang dewi kepercayaan Jawa berhiaskan patung-patung megah bergaya Yunani, lengkap dengan pose-pose melankolis seraya menutup sebagian anggota tubuh? Atau bagaimana bisa yang dikata para tokoh sebagai “diskotik top” adalah ruangan yang dindingnya cuma berbalut kain hitam dan lampu kerlap-kerlip macam hiasan pohon natal?

Sebelum kita melanjutkan protas-protes ria ini, mungkin ada baiknya kita hening sejenak dan berpikir ulang. Apa betul keadaaan sinetron Indonesia yang seperti ini nih sungguh-sungguh jelek dan mutlak pol negatifnya? Apa benar akar masalahnya hanya ada pada masalah kejar tayang dan keterbatasan proses produksinya, sehingga pilihan-pilihan adegan sedemikian “progresif nan alternatif” boleh langsung diambil gambar?

Memang, jika dilihat dari sisi lain, di zaman penuh kehausan akan aktualisasi brand dan bacok-bacokan antar-netijen, semakin aneh sebuah adegan berarti semakin tinggi kemungkinannya untuk bisa viral. Itu juga bisa jadi salah satu “reward” bagi tim produser yang mungkin harus senantiasa kalang-kabut di balik penayangan tiap episode.

Tapi toh kita kerap mendapati situasi di mana sebuah keluarga berkumpul dengan tatapan tanpa kedipan, melekat kuat di layar TV, menonton adegan-adegan “konyol” tersebut dengan mata berkaca-kaca atau bibir yang mewek-mewek.

Sebuah adegan yang bagi kita langsung bikin tepok jidat, ternyata sebegitu serius bagi mereka. Sebuah adegan yang bagi kita hanya pantas dlirik satu kali, untuk langsung divonis sebagai ‘tayangan tak bermutu’, ternyata sanggup membikin orang lain nangis kejer atau berok-berok sambil lempar piring karena saking gumush-nya sama si tokoh jahat. Lalu reaksi mereka itu membuat kita tertawa karena lucunya, atau bagi yang lebih keji lagi, karena gobloknya.

Kita sendiri bisa dengan sombong bangga mengumumkan pada jagad raya, “Sori, ya. Aku cuma mau pakai merk ini, ini, dan ini karena value perusahaannya sesuai sama value aku”. Atau, “Selera aku tuh yang begini, nih. Kalau yang kayak gitu, em… nggak sesuai lah sama karakter aku”.

Maka boleh juga dong kita mengakui bahwa sinetron Indonesia, sejungkirbalik apapun logika yang ada di dalamnya, amatlah nggathuk sama pasarnya. Jangan-jangan, nilai dalam sinetron lucu-lucu ini sungguh mencerminkan nilai yang sama dalam kehidupan penggemarnya sehari-hari?

Bolehlah kita bilang adegan jenazah yang sudah dipocong kemudian terlempar dalam mesin molen itu kejadian ajaib. Tapi jika kemudian kita lihat keseharian mereka, bukankah hal-hal tak kalah ajaib juga sering terjadi?

Diiming-imingi kerjaan “enak”, tanpa perlu syarat ijazah dan pengalaman kerja, menggiring mereka pada situasi banting-tulang, pagi sampai tengah malam 7 hari seminggu. Beberapa di antara mereka sampai bertaruh keamanan diri, ketika terpaksa harus melakukan tindakan ilegal atau melawan hukum demi menjalankan apa kata bos. Ketika digaji cuma dapat sekian repes, nominal upah yang saking super ajaibnya sampai tak masuk akal dan nurani. Bekerja tanpa kontrak resmi, dan ketika terjadi kecelakaan kerja atau bahkan sampai meninggal, tidak mendapat pertanggungjawaban yang pantas.

Belum lagi jika masih ditambah kasak-kusuk, “Salah sendiri, dia mau sih kerja nggak bener begitu”. Kalau sudah begini, bukankah bibir-bibir yang demikian berujar sama saja durjananya dengan molen yang menggiling si pocong nahas?

Sama halnya dengan persoalan plot. Dalam sinetron ‘serial istri tersakiti’ misalnya. Banyak yang jadi gatal gara-gara kisahnya selalu dan melulu tentang suami yang “direbut” perempuan lain. Apa tidak bisa menemukan alur cerita lain? Kita senantiasa berharap seri selanjutnya akan hadir dengan penyajian yang berbeda. Ternyata memang berbeda… pemainnya, busananya, dan setting lokasinya. Plotnya sama.

Demikian pula dengan kehidupan para penonton setianya. Dalam setiap hari, minggu, dan bulan, mereka bekerjakeras berusaha meningkatkan derajat hidup. Atau minimal, supaya bisa sedikit menabung. Senangnya bukan main jika dapat lebihan pendapatan harian. Tapi penyakit yang muncul karena kelelahan bekerja membuat cuan ekstra itu harus direlakan demi pengobatan. Atau kalau sekarang, anaknya tiba-tiba butuh dibelikan kuota bejibun buat sekolah online. Tabungan amblas. Hidup akhirnya segitu-segitu aja.

Oke. Ada yang bilang kalau kualitas plot yang stagnan dalam sinetron adalah buah dari episode yang mulur-mulur macam keju pizza masih anget. Bisa jadi benar. Namun bukankah kehidupan mereka rasanya juga seperti itu? Berpanjang-panjang dan tak menentu. Seiring datangnya hari, bukannya semakin besar harapan dalam hati mereka, hidup justru makin bikin angkat tangan.

Ya sudahlah… Terserah dunia ini mau seperti apa. Apapun yang terjadi besok ya dihadapi saja. Kalau bagus ya syukur. Kalau nggak ya sudah… pasrah saja.’

Maka, dalam perkara stagnansi opera sabun negara zamrud khatulistiwa ini, sesungguhnya siapa yang akhirnya menginspirasi siapa?

Apakah tim produser selalu bertolak dari kehidupan nyata para pemirsanya, yang secerdas mungkin ditangkap dan diterjemahkan dalam bahasa layar kaca dengan segala keterbatasan yang menghadang? Atau stagnansi ini akhirnya dibentuk terbentuk demi mengobati perih luka dalam hati pemirsanya?

Supaya kalau hidup mereka gitu-gitu aja, tak kunjung menemui solusi, sering dibuat kalah-kalahan, serta nampak seperti benang membundel yang rumit dan tak berujung… ya sudah, tidak masalah.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

JOKER: Film Biasa Saja yang Menerima Apresiasi Berlebihan 0 721

Seminggu yang lalu, saya datang ke bioskop, menerima ajakan seseorang untuk menonton Joker. Kata banyak teman sebelum kami memasuki gedung bioskop, film ini uwapik. Tak ada duanya bila dikompetisikan ke Oscar. Saya pun menjadi agak skeptis, apa benar memang begitu nantinya. Dan seseorang yang bersama saya turut merasakan hal yang sama.

Saya mempertaruhkan malam itu dengan dua tiket seharga sembilan puluh ribu. Angka yang cukup tinggi bagi saya yang hobinya ngopa-ngopi tiap hari di warkop pinggir kali rendahan. Tapi toh tak ada salahnya untuk melihat sebuah aksi dari seorang Joaquin Phoenix, pikir saya. Meski saya tak berharap banyak pada sutradaranya.

Film dibuka dengan memperlihatkan biografi tubuh Arthur, yang kelak menjadi Joker. Arthur punya tubuh yang kurus. Penonton akan sangat mudah melihat bagaimana tulang-tulang yang berada di balik lapis kulitnya menjadi mencolok ketika Arthur sedang bergerak. Atau ketika dirinya berjalan dengan agak membungkukkan punggung atau saat sedang menari.

Arthur adalah seorang lelaki yang dibesarkan oleh janda miskin, Penny. Kondisi atas kemiskinan ini kemudian membuat Penny mengirim surat kepada mantan kekasihnya yang sukses menjadi tokoh terpandang di Gotham, Thomas Wayne, untuk memberi perhatian padanya dan dapat memudahkan hidup Penny dan Arthur melalui bantuan ekonomi. Walau Penny sudah sekarat, Thomas Wayne tak kunjung menemui Penny karena menurut cerita, Penny hanyalah orang yang memiliki riwayat gangguan jiwa dan kisah-kisahnya dengan Thomas Wayne adalah rekayasa belaka.

Hingga akhirnya Arthur membuka surat itu diam-diam ketika ibunya tak sengaja meninggalkannya di atas meja. Semestinya ini bisa saja dilakukan oleh Arthur jauh-jauh hari, mengingat sudah tak terhitung jumlah surat yang dikirim ibunya melalui Arthur, dan mengingat mereka tinggal berdua sudah cukup lama. Terlebih ketika membuka surat itu, wajah Arthur tak menampilkan ketegangan sama sekali. Selain seperti anak kecil yang kebetulan menemukan cokelat di lantai rumahnya. Artinya, Arthur memang sejak semula tak memiliki kekhawatiran apa pun tentang isi surat. Dengan demikian Arthur bisa membacanya kapan saja.

Adegan dibukanya isi surat tersebut oleh Arthur, sama mudahnya saat menebak ketika Arthur mengejar segerombolan anak kecil yang mencuri papan badutnya. Lalu pada saat pengejaran tersebut Arthur menyeberang jalan dan karena tak berhati-hati dirinya pun harus ditabrak oleh kendaraan yang sedang melintas. Klise. Semata-mata untuk membuka nuansa getir ke dalam film.

Dan yang lebih aneh lagi, tentang proses transisi ketika Arthur menjadi Joker. Apa hanya karena dia memiliki pistol, dan menyadari tak ada lagi yang ia punya maka tak ada lagi yang menyakitinya, lantas membuat dirinya harus menjadi seorang kriminal? Bahkan dialog yang begitu lama terbayang di benak para penonton itu (orang jahat adalah orang baik yang dikelilingi oligarki disakiti, red.), tak ada korelasinya sama sekali dengan keputusannya menjadi seorang kriminal.

Di samping karena film ini minim dialog-dialog mantab bila dibandingkan dengan pendahulunya, trilogi The Dark Night, tidak ada dialog substansial yang memberi kesan bahwa Joker adalah orang paling menderita (atau paling bernas) di kotanya. Kalaupun Joker dianggap sedang merepresentasikan karakter manusia yang mengalami depresi, gangguan jiwa, atau apapun lah itu, maka nyaris sepenuhnya Joker telah gagal.

Joker mengamuk karena dimarahi oleh bosnya, bersedih ketika ibunya sakit, membunuh orang lain ketika terancam, dan melakukan perbuatan praktis lain yang umum dilakukan manusia “normal”. Daftar perilaku itu justru tak mencerminkan apa pun yang berada di wilayah lian dari gangguan kejiwaan, selain memang Joker adalah lelaki miskin yang berasal dari keluarga kelas bawah, dan sedang mengalami ketakutan karena menembak sejumlah orang kelas atas di kotanya.

Kemudian, bagian mana yang perlu didengarkan dari film Joker, ketika kebanyakan penonton yang mengeuforiakan film ini berkata: orang-orang seperti Joker hanya butuh didengar? Dan, bukankah terlalu cepat juga kita mengambil kesimpulan tentang Joker adalah orang baik yang tersakiti, hanya karena film ini menyodorkan pesan-pesan moral yang memabukkan? Atau jangan-jangan, apa yang kita bicarakan sekarang ini menjadi topik diskusi yang sudah matang dipersiapkan oleh tim pemasaran dari tangan-tangan DC supaya film Joker terus mengundang penasaran?

Akan tetapi, terlepas dari semua itu, kalaupun film ini boleh dikatakan berhasil, dan dirinya benar telah mewakili orang-orang asing yang butuh pengakuan di penghujung keterpurukan hidupnya, maka kita adalah orang-orang jahat yang terlambat menyadari itu. Kita adalah orang-orang yang sibuk memikirkan diri sendiri ketimbang memerhatikan orang-orang seperti Arthur yang selama ini berada di sekitar kita.

Kita terlalu sibuk mengobati kesedihan sendiri, sehingga lupa untuk berbagi kebahagiaan pada orang lain yang juga membutuhkan itu. Kita berkompetisi untuk terlihat baik saat bekerja di depan pemilik modal, namun kita lupa, Arthur harus membeli obat untuk ibunya yang sedang sakit di rumah.

Bukan Joker atau Arthur yang sedang mengalami gangguan kejiwaan, melainkan kita: yang sudah terlalu lama hanyut dalan arus individualitas dan jauh dari kepedulian sosial. Kita lah orang-orang yang sepantasnya masuk ke dalam kulkas sambil menertawakan diri sendiri. Karena kita adalah orang jahat yang berpura-pura tersakiti.

 

Foto: variety.com

Editor Picks