Penobatan untuk Jentelmen Pemilu 2019 0 436

Pemilu sudah lewat hampir seminggu. Hasil hitung resmi dari KPU masih ditunggu. Tapi hasil hitung cepat yang muncul dan dibahas secara berlebihan di tipi-tipi sudah bisa bikin sebagian bersorak atau sebagian lain menangis tergugu.

Kontestasi boleh selesai, tapi kadang rakyat kita susah lepas dari polarisasi. Di tengah pertengkaran dan tuduh-tuduhan, kita tidak boleh lupa bahwa di balik Pemilu 2019, terdapat sosok-sosok keren yang patut kita beri penghargaan. Berikut ini adalah daftar nominasi penobatan gelar “gentleman” pada Pemilu 2019

 

Sandiaga “Ganteng” Salahuddin Uno

Bagaimana tidak? Sebanyak 1.550 titik kampanye di Indonesia sudah ia kunjungi. Publik harus mencatat effort menyapa dan menjadi idola emak-emak ini pencapaian luar biasa. Ia juga telah menjual saham dan merugi banyak demi membiayai kampanye. Bahkan di puncak akhir perjuangannya, ia terkena serangan cegukan persis setelah hasil survei hitung cepat menunjukkan dirinya dan Prabski kalah.

Walau demikian, ia adalah orang paling kuat se-Indonesia. Dari sekian banyak penderitaan yang menimpanya, dia tetap saja ganteng, kaya, beristri cantik, dan terkenal. Dia adalah inspirasi para proletar agar senantiasa pantang menyerah dalam berjuang. Atau barangkali kemujurannya adalah takdir dari Sang Kuasa.

 

Agus Harimurti Yudhoyono alias AHaYe

Penerus trah eSBeYe ini citranya sempat hancur di Pilkada DKI 2017. Namun ini semata-mata karena ibu-bapake sing melok ae. Idenya untuk bikin rumah apung masih jadi catatan visi paling terkenang sepanjang sejarah Pilkada. Tapi harus diakui, usahanya untuk bangkit dan membangun kembali serpihan citra dirinya yang tercecer itu harus diacungi jempol.

Kini, ia mulai merintis dan membangun citra baik sebagai sosok yang berwibawa, dan ini yang paling penting: ganteng. Jawaban-jawabannya bijak dan santun saat dihadapkan pada fakta lembaga survei, yang (katanya) menyatakan koalisinya kalah berperang. Pengalaman militer dan beberapa tahun kejeblos di politik menjadi guru yang berharga buatnya.

Selain dinobatkan sebagai “gentleman” Pemilu 2019, mari kita nobatkan dia sebagai lawan paling menyeramkan di 2024 kelak. Kita tunggu performamu Mas!

 

Nicholas Saputra

Sosok ini adalah yang paling unggul dari pria-pria lainnya. Elektabilitasnya di 17 April melebihi lembaga-lembaga survei quick count manapun. Walau terkenal sebagai pebinor sejak “AADC” hingga “Adu Rayu”, gak ngurus, yang penting dia tetep ganteng lagi tepat janji.

Dia menghapus foto selfie pertama sepanjang hidupnya di Instagram dalam waktu 1×24 jam. Janji itu ia tepati sesuai caption foto yang ia tuliskan sendiri.

Tapi yang pasti, momen itu jadi 24 jam terindah dan susah dilupakan dalam hidup wanita-wanita bangsa ini. Maka jadilah hari itu dikenang sebagai hari “gerakan screenshoot foto Nicholas” tingkat nasional.

 

Demikianlah deretan laki-laki pengisi nominasi penobatan “gentleman” Pemilu 2019. Pengumuman pemenang telah dilakukan dan berlaku sampai selama-lamanya. Adapun jika pembaca memiliki deretan pria ganteng dan gagah lainnya, bisa ditambahkan melalui kolom komentar.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Klasifikasi Netizen Pasca JRX Menjadi Tersangka 0 187

Oleh: Rio Abadi*

 

Beberapa waktu kebelakang, nama Jerinx/JRX kerap menjadi sorotan netizen karena unggahan media sosialnya di berbagai platform. Ya, JRX memang secara gamblang mengunggah teori konspirasi terkait Covid-19 meskipun kerap dikecam dan banyak yang tak sependapat. Tapi tak bisa ditampik bahwa ada juga yang sepaham dan mengamini apa yang disampaikan JRX. 

Segmentasi netizen yang mengisi kolom komentar setiap unggahan Instagram @jrxsid cenderung lebih mendukung setiap apa yang diumbar oleh JRX. Sedangkan di Twitter, netizen yang merespon cuitan @JRXSID_Official kerap kali memberi antitesis terhadap teori konspirasi yang dilontarkannya. Akun media sosial milik JRX di kedua platform tadi-pun, beberapa kali sempat di-suspend akibat dinamika bermedia sosial. 

Namun pada 7 Agustus lalu, JRX resmi menyandang status hukum sebagai tersangka yang ditetapkan oleh Polda Bali atas kasus dugaan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian. Dengan delik aduan, I Gede Ari Astina dilaporkan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) provinsi Bali, atas unggahan Instagram JRX dengan caption “Gara-gara bangga jadi kacung WHO, IDI dan rumah sakit dengan seenaknya mewajibkan semua orang yang akan melahirkan tes Covid-19”. 

Pasca ditetapkan sebagai tersangka, beragam reaksi netizen pun bermunculan. Di media sosial seperti Twitter, netizen terbagi menjadi tiga golongan: 

 

Die Hard JRX

Ini adalah golongan pembela JRX. Mereka mendukung teori konspirasi terkait Covid-19 yang sering diumbar JRX sejak virus Corona merambah ke Indonesia Mereka seolah mengamini bahwa Covid-19 adalah senjata biologis yang dirancang oleh para elit global seperti Bill Gates, atau dengan kata lain,  mereka mengimani bahwa Covid-19 tak lebih dari sekedar rekayasa dan alat propaganda. Mungkin hampir semua dari mereka adalah outsider. Bisa jadi juga mereka bukan penikmat musik SID, namun memiliki kekaguman terhadap teori konspirasi yang digembar-gemborkan oleh JRX.

Meski proses hukum tetap berjalan, ditetapkanya JRX sebagai tersangka mungkin menjadi suatu malapetaka bagi mereka. Bayangkan, salah satu orang yang berani menyuarakan konspirasi di tengah pandemi, berani memiliki sudut pandang yang berbeda dengan orang kebanyakan harus diborgol dengan kabel ties, diboyong ke markas polisi, dan dijebloskan ke rumah tahanan.

 

Anti JRX

Kalau golongan ini, adalah netizen yang kontra dengan segala pernyataan JRX terkait konspirasi Covid-19. Sebelum JRX berurusan dengan hukum, golongan ini menghujat seolah dia adalah orang yang paling hina seantero dunia. Mereka menganggap teori konspirasi yang dilontarkan JRX selama ini adalah sesuatu yang dapat menyesatkan masyarakat. 

Bagi golongan ini, ditangkapnya JRX diharapkan dapat menjadi peringatan bagi siapapun yang berani menebarkan teori konspirasi, walaupun JRX dijerat dengan pasal tersakti se-Indonesia Raya: Pasal 28 Ayat 2 UU ITE, dugaan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian. Akibatnya, JRX terancam hukuman paling lama 6 tahun penjara dan denda maksimal 1 miliar rupiah. Hayo, kapokmu kapan?

 

Half JRX

Netizen yang berada dalam golongan ini adalah mereka yang tidak sepakat dengan teori konspirasi Covid-19, namun menentang penetapan JRX sebagai tersangka. Mereka tidak percaya teori konspirasi. Mereka meyakini eksistensi Covid-19 sebagai bencana non-alam. Mereka percaya meminimalisir kontak fisik antar individu dan menerapkan protokol kesehatan adalah cara untuk mencegah penyebaran Covid-19, sembari menunggu vaksin ditemukan oleh para ilmuwan. 

Tapi mereka tak setuju dengan “cara” menjerat JRX. Mereka menganggap UU ITE berisi pasal-pasal karet yang multitafsir nan mandraguna.

Tak sedikit pula yang membandingkan foto ketika JRX dengan tersangka kasus korupsi, ketika masuk ke tahanan. Bahkan sehari setelah JRX menjadi tersangka, muncul petisi dengan #BebaskanJrxSID. 

Entah siapa yang menginisiasi petisi tersebut, karena bisa jadi berasal dari golongan ini, tapi mungkin juga berasal dari mereka yang masuk dalam golongan pertama.

 

*) Seorang hamba Allah. Profil diri penulis yang lebih rinci sengaja dirahasiakan.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Panduan Nyinyir Berhadiah ala Fahri Hamzah 0 198

Pertama-tama, saya ingin memberi selamat kepada Fahri Hamzah atas prestasi yang ditorehkan  baru-baru ini (13/8). Politikus Partai Gelora ini baru saja menerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera Naraya 2020 dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) . Tentu ini merupakan sebuah prestasi yang luar biasa, bahkan politikus – yang kini menjadi komisaris Pertamina –  yang tegas melawan korupsi seperti Basuki Tjahaja Purnama pun belum pernah mendapat award super bergengsi ini.

Penghargaan ini sendiri diberikan kepada Fahri Hamzah lantaran keaktivannya dalam “mengkritik” pemerintahan Jokowi. Menurut Fahri, penghargaan yang ia terima dapat dijadikan pelajaran bagi semua orang dalam pemerintahan supaya menghormati kritik. Selain itu, ia menilai bahwa penghargaan ini merupakan bukti bahwa pemerintah tetap menghargai kritik.

Tumben lihat Fahri Hamzah memuji pemerintah? Iya, saya juga baru kali ini baca komentar positif tentang pemerintah dari Fahri Hamzah.

Selama ini, anggota DPR RI yang satu ini dikenal sebagai politikus yang nyinyir, doyan mengkritik apapun yang dilakukan pemerintah. Bahkan, warga net menjulukinya sebagai Lord Fahri karena hanya dialah yang serba benar di negeri +62 ini.

Akan tetapi, pandangan warga net tersebut berbeda di mata Jokowi. Bagi Jokowi, ke-nyinyir-an Lord Fahri merupakan kekritisan yang sangat dibutuhkan pemerintah. Setiap butir dari kesewotan yang dilontarkan Lord Fahri bisa menjadi feedback negatif dan juga input bagi kebijakan-kebijakannya.

Berita Lord Fahri yang meraih penghargaan ini tak pelak menjadi trending di media sosial. Banyak yang kaget kenapa teman “duet” nyinyir Fadli Zon ini bisa mendapat penghargaan dari Jokowi. Banyak yang berasumsi ini adalah akal-akalan rezim pemerintah untuk membuat Fahri Hamzah “sungkan” mengkritiknya.

Dilansir dari Tempo.co, ia menampik dugaan netizen tersebut. Ia mengatakan bahwa dengan dipilihnya ia sebagai penerima penghargaan tidak akan menghentikannya menjadi nyinyir kritis. Ia menambahkan bahwa ia akan terus mengkritik karena presidennya menghargai kritik.

Seharusnya kita dapat melihat hal ini dalam sisi positif. Award yang diraih Lord Fahri ini membukakan mata kita bahwa nyinyir tak selamanya buruk. Tahu tempe kah kamu? Untuk menjalankan sistem agar tetap on the track, sistem tersebut butuh sekali feedback negatif. Maka dari itu, pemerintah (baca: Jokowi) memberi penghargaan sebagai ucapan terima kasih karena membantu sistem pemerintahannya tidak keluar jalur.

Setelah tahu nyinyir rupanya tidak selalu negatif, apakah kita juga boleh nyinyir juga seperti Lord Fahri?

Tentu boleh, tapi coba tanyakan dulu dirimu. Apakah Pembaca yang budiman ini konglomerat penyumbang pajak terbanyak? Petinggi Partai? Anggota DPR? Atau punya pengaruh terhadap kelanggengan kekuasaan rezim pemerintah?

Kalau status Anda tidak memenuhi yang saya sebut di atas, mohon maaf Anda belum bisa “nyinyir yang baik” seperti Lord Fahri. Sekadar mengingatkan, kalau tidak punya posisi atau pengaruh, masih ada UU ITE serta pasal penghinaan presiden yang mengawasi jari dan bibir nyinyir Anda. Hehehe…

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks