Bagaimana Seharusnya Kita Sikapi RKUHP 1 509

 

Saya tahu, masih banyak yang dirundung duka atas wafatnya KPK (lihat tulisan sebelumnya: ‘Polemik Hubungan Asmara KPK‘). Tapi, karena hidup ini terus berjalan, mari kita move on… menuju kesedihan berikutnya!

Perlu diingat, 24 September besok, rencananya petinggi senayan akan membawa RKUHP ke rapat paripurna. Satu set produk hukum bawaan kolonial itu akan diperbarui.

Yang perlu menjadi poin keprihatinan bukanlah karena banyaknya pasal bermasalah. Namun ada yang jauh lebih penting: riuh redamnya media kita atas perdebatan pro-kontra pengesahan RKUHP ini.

Dari sisi pemerintah yang mengajukan undang-undang, tiada pernah ada penjelasan gamblang yang mudah diakses oleh masyarakat. Mengapa pasal ini dan itu ditambahkan, dipaksa ada, dikurangi, dan atau dihilangkan. Mengapa begitu genting dan terburu-buru sekali revisi di masa akhir jabatan DPR periode ini. Minim sekali layar untuk menjelaskan ini.

Sementara itu, koalisi masyarakat yang mengkritik keras aksi DPR ini, berusaha mencari celah untuk bicara. Mulai dari long march dan orasi besar-besaran yang mengundang peliputan di depan gedung DPR, sampai yang kecil-kecilan di CFD ibukota.

Pun, kelompok ini mencoba menyuarakan pendapatnya secara lebih luas. Satu-satunya akses yang mudah dan cepat adalah media sosial. Ketika media massa punya limit dan filter ketat untuk menyeleksi pendapat mana yang bisa masuk.

Fungsi edukasi hukum pada masyarakat, justru diambil oleh kelompok-kelompok kecil ini. Kita tidak pernah tahu apa itu RKUHP dan beberapa jumlah pengubahan pasalnya, kalau jurnalis dan netijen tidak koar-koar di media online. Hal ini tentu berimplikasi baik dalam meningkatkan kesadaran publik tentang isu RKUHP.

Tapi di sisi lain, penjelasan tentang pasal-pasal yang dianggap bermasalah itu tidak menyeluruh. Siapapun yang punya akun dan pengikut di media sosial mengungkap pendapatnya, disukai dan dibagikan. Begitu seterusnya, sehingga tidak tahu harus percaya yang mana, karena kredibilitas dan tingkat akurasi yang semu di dunia digital ini. Duh Gusti, aku ngelu.

Pasal-pasal yang dianggap bermasalah, dibahas sebagian dengan cara masing-masing orang. Semua berlomba-lomba membenarkan pendapatnya di media sosial. Sebagian digital content creator mungkin berhasil secara jeli mengupas dari segi ilmu hukum dan implikasinya bagi masyarakat. Tapi sekali lagi, sudahkah pendapat netijen itu juga didasari riset literatur dan wawasan atas histori keputusan hukum di Indonesia?

Suara mereka mengatakan, sejumlah pasal akan mengkriminalisasi perzinaan, pornografi, LGBT, gelandangan, hingga penyebaran ajaran marxisme-komunisme. Mereka menyebut pasal-pasal RKUHP akan menghalangi kebebasan berpendapat dan merampas privasi bangsa. Lebih-lebih, mereka mengklaim RKUHP adalah bentuk kemunduran dan bahkan matinya demokrasi.

Opini telah tergiring ke satu sudut pandang. Kita dibuat bersedih hati karena percaya RKUHP yang disahkan akan membuat satu Indonesia runtuh. Kita diminta percaya oleh media sosial hari ini, bahwa RKUHP gak ada bagus-bagusnya. Benarkah?

Penulis yakin, seburuk-buruknya DPR, paling tidak mereka sekolah tinggi dan sadar hukum, mahir analisa dan berpolitik. Tentu RKUHP hadir bukan tanpa alasan. Entah karena demi kebaikan dan penyesuaian hukum dengan perubahan zaman. Atau hanya sekadar politik lobi-lobian dan semata para penguasa yang lagi hajatan.

Pokoknya, penulis ‘percaya’ RKUHP bukan proyek iseng dan tiba-tiba muncul lah. Pasti ada pasal-pasal yang menunjukkan kemajuan demokrasi negeri ini! Eh, ya gak sih? Kuamini saja, deh. Karena Tuhan bersabda: “Berbahagialah orang yang tidak melihat, namun percaya”. Hehe.

Rakyat bagian demonstrasi ini berteriak menuduh DPR punya kepentingan untuk mempermudah koruptor, baik di RKUHP maupun UU Permasyarakatan yang baru disahkan (walau kenyataannya jelas ae iyo lah). Tapi, bukankah kelompok yang menolak ini juga punya kepentingan?

Secara alamiah, kebebasan yang dibatasi itu tentu membuat tidak nyaman. Waktu sekolah dulu, kita tentu gelisah karena harus berseragam rapi, lengkap dengan dasi dan sabuk.

Barangkali, mereka yang menolak adalah yang merasa tidak bisa lagi ena-ena dengan bebas, tidak bisa bikin meme-meme lucu tentang presiden, tidak bisa lagi asik nongkrong baca Daskapital di warung kopi sambil bersabda “agama itu candu, mending jadi agnostik”.

Kita tiba-tiba membandingkan hukuman bagi koruptor yang diberi pembebasan bersyarat, sementara pemilik dan penyebar pornografi dihukum 10 tahun. Menurut kita, ini tidak adil.

Sujiwo Tejo pernah bersua “tiap ada pejabat korup yang di-OTT, tiba-tiba kita mencibir dan merasa paling suci, hanya karena bentuk dosa yang kita lakukan berbeda dari mereka”. Kira-kira demikian kita-kita ini. Sok memaki DPR sebagai tukang bohong, padahal hingga dini hari mereka masih berjuang arisan di ruang rapat. Sementara itu, kita lupa kalau kegiatan memaki, juga tidak kalah berdosanya.

Yang jelas, masyarakat kita ini pelupa. Seperti lupa kalau dulu batu akik pernah berjaya, demikian pula akan alpa bahwa DPR di hari-hari akhirnya dengan sangat sakti mengesahkan sejumlah undang-undang yang katanya bakal merobohkan Indonesia. Ketika ibukota nanti sudah di Kalimantan, masyarakat bakal lupa kalau pernah mengolok Jokowi atas ide gilanya.

Mungkin besok-besok, masyarakat kita akan banyak-banyak bersyukur, bahwa kebijakan hari-hari terakhir ini pernah dibuat.

Previous ArticleNext Article

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cetak Pemimpin Jalur Indie ala Ketua Kelas 0 99

Oleh: Edeliya Relanika*

 

Pernahkah salah seorang teman kuliahmu nyeletuk seperti ini:

”Eh kamu ngapain aja sih selama ini? Enggak gabut apa enggak ikut kepanitiaan atau organisasi di kampus?”

Kalau iya, selamat! Berarti kita masih berada dalam satu lingkaran konspirasi, hehe.

Rupanya berorganisasi di lingkup internal kampus tidak selamanya menjadi passion membara bagi sebagian mahasiswa. Ada yang fokus di organisasi masyarakat luar kampus dan ada juga yang mengembangkan kemampuan survival—dari kerasnya persaingan jadi budak kapital pasca lulus kuliah.

Jujur, saya ingin memberikan opini jalur alternatif terkait glorifikasi organisasi mahasiswa internal atau eksternal kampus sebagai sarana paling tepat memunculkan sari-sari kepemimpinan yang valid, no debat! Sebenarnya, ada banyak cara untuk menyemai jiwa kepemimpinan di lingkungan kampus. Salah satunya dengan menjadi ketua atau koordinator kelas secara sukarela.

Asal kalian pahami hikmahnya, menjadi ketua atau koordinator kelas itu adalah salah satu ajang penempa mental kepemimpinan dengan studi kasus yang tidak mengada-ada. Sini saya coba jelaskan dengan lebih terstruktur, sistematis, dan holistik:

 

Hadapi Berbagai Macam Karakter Dosen dengan Diplomatis

Brace yourself untuk menghadapi berbagai macam karakter dosen yang mengejutkan (seperti mainan Kinderj*y yang gak sebanding dengan mahalnya). Karena sebagai ketua atau koordinator kelas, kalian harus mampu menjembatani arahan dari dosen dengan aspirasi teman-teman sekelas.

Siapkan juga armor sekokoh milik Iron Man dan hati sekuat Superman di pilem Man of Steel. Seriusan deh, agar kalian tidak tumbang saat diberi amanah yang ngadi-ngadi atau terkena teguran hingga membuat klean PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) saat jadi ketua atau koordinator kelas.

 

Belajar Skill Manajemen Krisis Lebih Dini

Biasanya ini terjadi ketika ada dosenmu memberikan tugas — yang membuat anak satu kelas wasted dalam satu malam. Mau tidak mau, kalian harus mengumumkannya ke teman sekelas.

Seremnya nih, siap-siap kalian diprotes dan diumpat teman sekelasmu (akibat tidak terima dan sanggup dengan penugasan amsyong tersebut).

Agar terhindar dari dampratan bertubi-tubi, kalian harus menyusun strategi tertentu dalam mengumumkan tugas dari dosen. Kayak gimana contohnya? Ya cari sendiri dumz! Calon peminpin harus kreatif dalam mencari solusi!

 

Cari Tipe Jiwa Kepemimpinan yang Cocok Untukmu

Mengacu pada teori karakter personal dalam mempersuasi khalayak (dari seorang profesor di bidang Komunikasi asal Amerika serikat bernama Richard M. Perloff), kita bisa mengetahui ada tiga jenis karakter khalayak. Yaitu mereka yang suka dengan pendekatan kognitif tinggi (kritis banget), mereka yang pandai menyesuaikan diri pada situasi apa pun (seorang yang easy-going), dan mereka yang suka dengan ungkapan bersifat dogmatis (saklek/kolot gitu).

Agar setiap ucapan kalian minimal didengar dengan seksama, sesuaikan pesan yang akan disampaikan dengan karakter rata-rata anak di kelas. Walaupun ini agak ndakik, tapi semoga berguna ya ilmunya hehe.

 

Latihan Kerja Keras Bagai Quda

Terakhir nich, kalau lihat anak organisasi sering pulang larut (kadang sampai pagi lagi) karena ada acara kepanitiaan, ketua kelas juga akan mengalami hal serupa (walaupun gak terlalu ekstrem). Misalnya datang paling pagi kalau ada kelas pagi, terus pulang paling malam kalau ada kelas malam. Ya, mau gimana lagi, ketua kelas kan jadi ajudannya dosen hehehe.

 

Keuntungan lain menjadi ketua atau koordinator kelas adalah bisa jadi suatu saat kalian ditawari kerja proyek penelitian bareng dosen. Tentu dengan syarat bahwa kinerja kalian sangat memuaskan di mata dosen tersebut. Menang banyak bukhaan?

 

*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya. Tinggal di Gresik, dan menghasilkan karya dari hobi menulis, salah satunya “Antroposen” di Gramedia Writing Project (Instagram: @edeliyarerelala).

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Mengulang Pesan Boedi Oetomo untuk Gak Gampang Insekyur dengan Perbedaan 0 100

Oleh : Novirene Tania*

 

Tepat sudah 113 tahun kita terus mengulang momentum perayaan yang kita sebut “Hari Kebangkitan Nasional”. Buat kalian yang mungkin lupa mengapa hari kemarin penting, yuk mari merapat – kita ulang kembali ceramah guru sejarah kita dari SD sampai SMA!

Hari Kebangkitan Nasional menjadi salah satu hari penting buat bangsa ini, karena di sanalah awal mula perjuangan menghilangkan kubu. Di bawah inisiatif sekelompok pemuda STOVIA – mahasiswa kedokteran yang punya rasa peduli besar bagi sejarah nasional, semua perbedaan yang ada dihimpun dalam satu kesatuan.

Tanpa memandang perbedaan, tidak lagi peduli kamu dan aku darimana dan siapa kita. Jelas ini pesan yang perlu kembali digaungkan, saat dewasa ini isu perbedaan masih hangat jadi pemicu konflik antargolongan.

Gak hanya itu, kalo dipikir-pikir, 20 Mei juga membawa pesan yang tidak kalah penting: jangan gampang insekyur sama perbedaan.

Buat kita yang hidup pasca kemerdekaan dan terbiasa dengar kata “persatuan”, tentu bukan jadi barang asing. Sangat beda kondisinya saat Boedi Oetomo menggagas persatuan di tengah kelompok antarsuku masih dominan membawa semangat perjuangan masing-masing.

Andai saja saat itu dokumen sejarah bisa dengan detail menjelaskan berapa kali Boedi Oetomo rapat dan diskusi sampai sepakat bersatu di bawah bendera “persatuan nasional“, gak kebayang notulennya setebal apa.

Belum lagi dengan drama setuju tidak setuju yang pasti menimbulkan perdebatan alot. Ini tentu jelas beda dengan forum keluarga besar yang sekadar membahas liburan mau ke mana karena kemanapun opsinya asal ada waktu dan uang ya gas wae.

Kondisi ini bertolakbelakang dengan topik insekyur yang lagi rame banget dibahas. Lihat kiri kanan beda tujuan, beda strategi, bahkan beda hasil, langsung insekyur. Tambah insekyur lagi kalau merasa berjuangnya sama-sama, tapi hasilnya kok beda.

Bahkan tragisnya, jangankan berembug soal persatuan seperti Boedi Oetomo, kita-kita yang hobinya insekyur biasanya otomatis menjauhi lingkaran pertemanan. Peer pressure, istilahnya.

Daripada terus terbebani dengan kemajuan dia, mungkin baiknya memang buat circle sendiri aja,” ini jadi opsi terakhir para makhluk yang terjangkit insekyur.

Coba deh perhatikan dengan seksama, betulkah kita jadi tampak tidak terbiasa dengan perbedaan? Padahal kita bilangnya percaya banget kalo perbedaan itu indah pol no debat membuat kita kaya dan semakin kuat.

Semoga tulisan ini bisa jadi selingan refleksi kita selain posting ucapan selamat hari kebangkitan nasional dari organisasi kita masing-masing, mumpung momennya tepat.

 

*) Mahasiswi rantau Yogyakarta asal Bekasi. Baru-baru ini hobi memperhatikan hal-hal kecil sejak pandemi. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @novirenetania.

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Editor Picks