Geger Disertasi Seksualitas vs Agama 0 496

Oleh: Luky Maulana*

Nama Abdul Aziz, mahasiswa Doktoral UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, jadi melambung beberapa waktu belakangan akibat disertasinya yang menuai kontroversi. Karya ilmiah dengan judul “Konsep Milk Al-Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Nonmarital” dengan segera mengalami penolakan dari pelbagai pihak, mulai dari lembaga agama quasi-negara seperti MUI, hingga Wakil Ketua Komisi Agama DPR RI Sodik Mudjahid.

Dalih penolakan tersebut berada pada asumsi efek buruk dari karya intelektual yang justru akan mendukung praktik seks bebas di luar pernikahan, yang tentu tidak sesuai dengan tuntuan ajaran agama dan norma kesusilaan di Indonesia. Kendati begitu, disertasi tersebut lolos dengan nilai sangat memuaskan dan bukan tanpa kritik dalam proses pengujian, baik kritik yang bermuatan teologis, maupun konsekuensi sosial-politik apabila diberlakukan di Indonesia.

Tulisan ini tidak akan membahas bagaimana muatan disertasi tersebut. Saya kira ini adalah porsi dari proses persidangan.

Alih-alih, saya melihat bahwa dosen IAIN Surakarta  ini memiliki motivasi aksiologis dari kegelisahannya mengenai kriminalisasi hubungan intim-nonmaritalitas dengan dasar saling suka yang diatur dalam Pasal 417 Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP). Intinya berhubungan seks di luar pernikahan berpotensi dicap termasuk dalam hukum pidana. Penelitiannya berusaha untuk melindungi esensi hubungan seksual sebagai hak asasi manusia, berangkat dari sudut pandang salah satu aliran tafsir Islam.

Abdul Aziz seketika menjambak perhatian saya. Semangat intelektualnya berangkat dari sebuah kontradiksi antara agama dan seksualitas, persoalan sensitif negeri ini.

Pasalnya, agama yang seringkali menjadi sumber pengetahuan utama bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Tafsir-tafsir teologis mengenai seksualitas – yang mana melarang praktik seks bebas – dianggap bersifat saklek dan final.

Hal ini persis seperti yang dikatakan  Haryatmoko (2016) bahwa agama merupakan lembaga produksi kekuasaan-pengetahuan yang paling dahsyat terutama di Indonesia. Sehingga menurut saya, mengembangkan wacana seksualitas dari sudut pandang agama menjadi hal yang problematis.

Foucault, pencetus teorema kekuasaan-pengetahuan, menganggap pengetahuan tentang seks selalu diatur dalam kehidupan modern. Agama sebagai aktus kekuasaan yang dipercaya oleh negara, tampil sebagai pengatur individu untuk mengontrol tindak-tanduk seks dalam masyarakat. Namun, Foucault juga melihat bahwa seksualitas telah mengalami perubahan yang signifikan, dari pengetahuan menjadi wacana.

Mengutip Haryatmoko (2016), wacana tentang seks ini semakin masif dan berkembang, akibat minat ilmiah dan keingintahuan yang tinggi, justru kerap kali datang dari kekuasaan. Mekanisme ini ditempuh oleh Abdul Aziz yang berusaha untuk membahas seksualitas dari sudut pandang agama secara teologis. Dalam perumpamaan Foucault (1978), seseorang seperti Abdul Aziz lah yang akan bertahan di luar jangkauan bahasa kekuasaan – yang akan mengecewakan hukum dan mengantisipasi datangnya kebebasan.

Oleh karena itu, saya beranggapan bahwa kita butuh lebih banyak orang seperti Abdul Aziz. Wacana seks perlu dikembangkan dalam kerja intelektual.Saya kira kita patut meniru motivasi aksiologis Abdul Aziz untuk mengembangkan wacana seksualitas yang menghasilkan pengetahuan ilmiah.

Kalau perlu, wacana tersebut dikembangkan dari posisi kekuasaan-pengetahuan yang berseberangan sekalipun yaitu agama. Dapat diulik bahwa agama dapat memainkan peran di ruang publik dalam menembus batas-batas teologis yang dianggap sudah final dalam persoalan seksualitas.

Upaya-upaya lewat jalur ilmiah ini diharapkan dapat mempercepat terwujudnya Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) yang berikhtiar untuk melindungi dan menegakkan keadilan hukum bagi perempuan korban kekerasan seksual.

 

*Penulis adalah Marhaen kelahiran Surabaya yang menjadikan kopi hitam dan buku jadi asupan sehari-hari untuk memenuhi gizi jiwa intelektualnya.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 195

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 219

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks