Indonesia dan Rangkulan Canggungnya dengan ‘Toleransi’ 0 546

(Disclaimer: tulisan ini memang agak sedikit bijak, mohon ambil ancang-ancang!)

Siapa yang menyangka, sebutan “monyet”, yang kelihatannya sederhana itu, sesungguhnya tidak pernah sederhana. Ujaran dua suku kata itu membuka luka lama, menjadi bom atom yang terlanjur meledak.

Tunggu, ini bukan sebutan “monyet” yang ikonik dari Herman Mellema kepada Minke, atau dari Minke kepada tentara Belanda saat membawa Annelies. Kita mengacu pada peristiwa julukan “monyet” yang disematkan pada kawan-kawan kita, mahasiswa asal Papua yang menimba ilmu di Pulau Jawa.

Entah sudah dianggap biasa, atau bahkan terlalu berlebihan, jika ejekan binatang itu berimbas emosi yang meledak di timur Indonesia. Yang jelas, peristiwa ini jadi pengingat, bahwa intoleransi masih bercokol dan belum mau pergi dari bangsa kita. Bahkan, seakan dibiarkan tumbuh dan dipanen oleh rakyat.

Apa obat atas intoleransi di negeri ini? Tidak ada yang menemukannya, setidaknya (dan mudah-mudahan) untuk saat ini. Asal muasalnya perilaku resisten terhadap perbedaan juga hampir tidak diketahui. Kompleks.

Menurut sejarawan, barangkali jawaban yang paling pas untuk menyalahkan hulu intoleransi adalah penjajahan ke bumi pertiwi. Belanda-lah yang awalnya mengotak-ngotakkan inlander, bangsawan, pendatang seperti cina dan arab, indo, hingga belanda totok itu sendiri. Stratifikasi ini kemudian membentuk dasar tatanan sosial di dunia jajahan, termasuk Indonesia.

Walau sudah merdeka pun, tak bisa semudah itu melepas pola pikir bahwa kedudukan dalam “rantai makanan” manusia ditentukan dari warna kulit. Akademisi hobi menyebutnya ‘ideologi dominan’. Penjelasan lanjutnya, bahwa telah terpatri di pikiran kita, bangsa kulit putih dan warga ras Kaukasian lebih beradab dari orang-orang yang lahir dengan kulit gelap.

Tapi, apakah benar intoleransi di Indonesia semata-mata hanya karena sejarah masa lalu? Apa kita hanya bisa menyalahkan penjajah, bangsa barat, yang membuat kita kenal soal kotak-mengotak di antara masyarakat itu? Apakah benar, kita sungguh-sungguh tidak turut “berkarya” melestarikan budaya intoleransi ini?

Tanpa kita sadari, barangkali sejak masih menyusu dan belajar berjalan, kita sudah ditanami oleh keluarga, bahwa diri kita sendiri inilah yang paling baik dari golongan lainnya. Bahwa ras kita, suku kita, dan agama yang kita anut, entah di lingkungan kawan sebaya hingga di mimbar agama, senantiasa didengungkan menjadi yang paling unggul.

Sementara hal-hal yang di luar kepercayaan kita adalah kesalahan mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Rakyat kita, entah dengan atau tanpa penjajahan, terbiasa menanamkan satu sudut pandang kebenaran. Tidak terima dengan alternatif kebenaran lain.

Celakanya, media kita turut membantu budaya intoleransi ini untuk semakin tumbuh subur. Diberi pupuk, dirawat, dan disirami serta dipanen.

Soal Papua misalnya. Tidak hanya memberitakan peristiwa kemarahan warga Papua, tetapi media-media mulai berlomba menampilkan kebaikan Papua. Sama seperti obrolan pelayat di rumah duka. Orang yang meninggal tentu diunggulkan kenangan baik atasnya, walau semasa hidupnya penuh cacat cela dan tak kunjung bayar kasbon warteg.

Tajuk-tajuk seperti “Papua juga bisa”, atau “Papua juga mampu”, “Papua juga Indonesia” laris manis jadi topik utama yang diajukan di meja redaksi. Prestasi-prestasi anak Papua disoroti secara berlebihan dan hanya pada satu masa itu saja. Tujuannya satu: meredam suasana di Papua yang sudah terlanjut panas (dan mungkin dengan tujuan lain: membuat Papua masih merasa dihargai oleh Indonesia).  Mungkin, tiga minggu lagi, berita tentang Papua akan dilupakan lagi

Pertanyaannya, jika Papua dikata “juga bisa” dan “juga mampu”, memangnya selama ini mereka tidak bisa dan tidak mampu? Ke mana saja media selama ini? Apakah sibuk menyoroti rapat-rapat di Senayan hingga tidak sadar bahwa warga Papua memang sudah, sedang, dan akan selalu berprestasi setiap harinya?

Sama seperti kelakuan media saat mengulas intoleransi antar agama. Berita peristiwa perpecahan antaragama, akan diredam dengan contoh masyarakat yang saling menghargai antar agama. Antar tokoh agama bertemu dan berbincang, atau antar umat saling menjaga rumah ibadah saat hari raya besar agama.

Seakan-akan perbedaan suku dan agama ini harus melulu disorot. Seakan toleransi adalah prestasi. Padahal, bukankah bangsa kita sudah hidup dalam perbedaan sejak dulu?

Perbedaan adalah kebiasaan. Toleransi adalah kodrat, implikasi atas perbedaan itu. Toleransi bukan sunnah, yang ketika dilakukan harus diliput media dan digembar-gemborkan.

Barangkali, obat yang benar atas intoleransi adalah menghentikan perilaku media dan masyarakat kita, yang terlalu kagum dengan toleransi. Toleransi harusnya ibarat napas manusia, dilakukan setiap hari, tanpa harus diperlakukan terlalu mulia seakan seperti mutiara yang hilang.

Karena penulis percaya, toleransi adalah karunia yang otomatis ada dalam darah bangsa Indonesia. Ciye.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang Banjir, Kita Belajar dari Mbak Judi Bari 0 192

Oleh: Julian Sadam*

Seorang sarjana kehutanan njeplak bahwa curah hujan tinggi adalah penyebab utama banjir yang menerjang Kalimantan Selatan diawal tahun 2021. Padahal, ada faktor lain yang lebih krusial selain cuma menyoal curah hujan tinggi: kerusakan lingkungan di hulu akibat lubang galian tambang dan alih fungsi lahan untuk perkebunan sawit. Dua hal ini, sulitnya, mendapat legitimasi izin oleh pemerintah.

Seorang penganggur yang awam mulai berpikir, bagaimana tidak banjir jika daerah serapan air makin berkurang karena alih fungsi lahan yang begitu masif tanpa mempertimbangkan keseimbangan alam. Banjir yang menenggelamkan 10 kabupaten dan kota, misalnya, adalah efek langsung dari ekploitasi lahan.

Penganggur itu sepintas teringat seikat merch yang baru ia beli, yang memberikan bonus bacaan menarik berjudul Ekologi Revolusioner karya Judi Bari. Seikat merch itu dijual demi mengumpulkan dana untuk sebuah kolektif tani di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah yang sedang menggarap lahan demi mengelola ketersediaan pangan secara otonom.

Judi bari adalah seorang aktivis ekologi Amerika Serikat yang semasa hidupnya giat melakukan berbagai macam aksi bersama organisasi Earth First! menentang pengrusakan alam oleh korporasi besar dan pemerintah. Orang yang pada masanya barangkali dianggap terlalu berbahaya hingga seseorang harus menaruh bom di mobilnya pada 1989.

Dalam Ekologi Revolusioner, mbak Judi Bari menabrak habis kekakuan yang membatasi ruang gerak ekologi melalui pendekatan deep ecology atau biosentrisme; sebuah kearifan lokal sejak zaman purba yang termaktub dalam pepatah “Bumi bukan milik kita. Kita adalah bagian dari bumi.” Justru manusia adalah bagian dari alam, sepotong spesies di antara banyak spesies lainnya.

Penganggur itu menenggak vodka dingin dan mulai menangkap bahwa biosentrisme adalah hukum alam yang hadir secara independen, tak peduli manusia menerimanya atau tidak. Namun dalam konteks masyarakat industri masa kini, biosentrisme benar-benar sangat revolusioner. Ia menentang sistem hingga ke dasar-dasarnya.

Gagasan mbak Judi Bari menyoroti kontradiksi biosentrisme dengan kapitalisme. Nilai lebih (seperti profit) tak hanya dicuri dari para pekerja, tetapi juga dicuri dari bumi. Penggundulan hutan adalah contoh sempurna dari pemerasan nilai lebih bumi. Bahkan, perusahaan-perusahaan global saat ini melampaui pemerintah atau negara.

Justru, negara melayani perusahaan dengan produk undang-undang yang berlabel neoliberalisme untuk melegitimasi kapitalisme, dengan bantuan sepasukan infrastruktur dan aparat. Mbak Judi Bari menegaskan tak ada yang namanya kapitalisme hijau, tak ada perjuangan abu-abu, dan bahwa orang-orang yang berkecimpung di bidang ekologi haruslah revolusioner.

Biner kanan-kiri yang diamini oleh kebanyakan orang dengan menawarkan Marxisme sebagai implementasi untuk menggantikan kapitalisme nyatanya belum memberikan jawaban. Mbak Judi mengkritik ideologi-ideologi kiri hanya berbicara tentang bagaimana cara mendistribusikan ulang barang rampasan dari hasil memerkosa bumi secara lebih merata di antara kelas-kelas manusia. Walau ketidakseimbangan alam dibawah sosialisme tidak separah dibawah kapitalisme, namun itu tak pernah menjawab kontradiksi masyarakat industri dan bumi, selain kontradiksi modal dan tenaga kerja.

Kesamaan masyarakat hari ini dalam memperlakukan perempuan dan alam (seperti ungkapan-ungkapan “hutan perawan” atau “ibu bumi”) menjadi premis untuk menjabarkan biosentrisme yang juga bertentangan dengan patriarki. Mbak Judi menggugat inti keyakinan terhadap sistem ilmu pengetahuan yang maskulin. Dimana “sifat-sifat maskulin” sebagai penaklukan dan dominasi digambarkan dalam ilmu pengetahuan oleh penemunya sebagai sistem yang mensyaratkan pemisahan manusia dari alam dengan gagasan “reduksionalisme ilmiah”; yang berarti menerapkan dominasi kita atas alam.

Metode ilmiah yang maskulin ini muncul pada periode yang sama dengan masa-masa penindasan yang sangat kejam terhadap pengetahuan perempuan tentang bumi yang diturunkan dari generasi ke generasi, cara-cara herbal, dan lain sebagainya yang dengan gampang saja disebut sebagai “takhayul”.

Oleh karena itu, menganut biosentrisme berarti menentang sistem pengetahuan maskulin yang mendasari kerusakan bumi dan yang mendasari justifikasi atas struktur masyarakat kita. Alih-alih mencari cara untuk mendominasi pria seperti wanita didominasi di bawah patriarki, maskulin dan feminin harus ada dalam keseimbangan. Tanpa keseimbangan antara keduanya, rasanya sulit membuat perubahan yang kita butuhkan untuk kembali kepada keseimbangan dengan alam.

Kita tidak bisa dengan serius mengatasi masalah banjir yang menenggelamkan sepuluh kabupaten dan kota tanpa membahas dan mengatasi masalah masyarakat yang menghancurkannya, menjadi fakta bahwa boisentrisme adalah sebuah filsafat revolusioner. Sebuah gerakan ekologi revolusioner juga harus terorganisasi di kalangan pekerja dan orang miskin.

Bagaimana mungkin kita memiliki gerakan yang berfokus pada pembuangan limbah beracun, misalnya, tetapi kita tidak memiliki gerakan pekerja untuk menghentikan produksi racun? Hanya ketika karyawan penebangan menolak untuk menebang pohon-pohon tua, menggunduli hutan, atau membakarnya, baru kita bisa berharap untuk perubahan nyata dan bertahan lama. Satu-satunya cara yang dapat Mbak Judi bayangkan untuk menghentikannya adalah dengan ketidakpatuhan yang dilakukan secara besar-besaran.

Tak terasa sudah tenggakan kelima bagi si penganggur, sementara sarjana kehutanan masih membual tentang curah hujan tinggi. Mungkin sesekali mereka perlu nongkrong berdua melahap gagasan Judi Bari di satu meja sembari mahasiswa-mahasiswa progresif menggugat instansi pendidikan berlabel neoliberal agar tak ada lagi sarjana kehutanan macam itu.

 

*) Akrab dipanggil Adam. Lahir di Karanganyar pada malam Selasa menjelang lailatul qadar. Aktif mengisi konten di berbagai laman dan baru saja menerbitkan buku pertamanya berjudul “Satu Kosong; Satu untuk Tuhan”.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Kita Hanyalah Penonton di Reshuffle Menteri 0 242

Semua mata tertuju pada Pak Jokowi dan Kyai Ma’ruf, yang melangkah dengan heroik ke hadapan media di beranda Istana. Sore itu konferensi pers berjalan diiringi harap cemas 200 juta lebih rakyat Indonesia. Semua karena berbagai peristiwa naas yang menimpa negara akhir-akhir ini.

Mulai dari Corona yang tak kunjung selesai, sampai 2 menteri korup dalam waktu bersamaan. Untuk itu, semua sedang menantikan langkah tegas Pak Presiden melengkapi tubuh kabinetnya.

6 nama baru kemudian diumumkan, mengisi dan/atau menggantikan nama-nama lama, menjabat menteri di era kedua Joko Widodo ini. Seperti biasa, kabar baru seperti penunjukan menteri ini menimbulkan beragam percakapan menarik di kalangan kita, rakyat jelata.

Pertama, di grup whatsapp saya menemukan sebuah meme yang bunyinya begini: “coblos Jokowi-Ma’ruf, bonus Prabowo-Sandi”. Kalimat dalam meme ini memang tidak asing. Dulu pernah keluar sejak aksi Jokowi dan Prabowo yang dengan mesranya naik satu gerbong MRT, hingga penunjukan Prabowo sebagai menteri pertahanan. Meme ini hangat dan relevan dimunculkan kembali, setelah nama Mas ganteng Sandiaga Salahuddin Uno yang ditunjuk sebagai Menparekraf, menggantikan Wishnutama.

Ini mungkin menjadi sejarah penting bagi perjalanan demokrasi Indonesia, di mana rival capres-cawapres yang menimbulkan berbagai drama india selama paling tidak 10 tahun terakhir ini, malah masuk dan merasuk menjadi satu kabinet. Sungguh dunia ini maha terbolak-balik, lawan jadi kawan, dan begitu pula sebaliknya.

Komentar yang muncul atas meme ini juga beragam, dan ada satu yang menarik perhatian saya: “semua akan cebong pada waktunya”. Ini suatu ironi. Kita sendiri yang sering mengeluh betapa melelahkannya perdebatan cebong vs kampret yang tak pernah berhenti. Tapi tanpa sadar, kita sendirilah yang mempopulerkannya, terus-terusan menggaungkannya, membicarakannya, mengomentarinya, dan menjadikannya wacana yang mencuat di ruang media sosial.

Situ tahu kan, kalau suatu trending topic di dunia maya, akan dijadikan agenda setting media mainstream juga. Jadi ya jangan heran, jika persaingan dua kubu akan tetap abadi. Lah wong kita sendiri yang terus menyebarkan meme-meme semacam ini. Sementara elit politik kita sibuk bernegosiasi dan ketawa hahahihi.

Kedua, seperti biasa reshuffle menteri menjadikan kita pakarnya pakar dan ahlinya ahli. Kita menganalisis dengan seksama rekam jejak, imej, dan prospek keenam nama menteri baru Jokowi ini. Kita mendadak jadi paling tahu alasan mengapa Wishnutama digantikan Sandi, sang pelopor giat UMKM Oke-oce. Kita mendadak menilai betapa tak punya pengalaman si Budi Gunadi di bidang kesehatan, tapi justru menggantikan menkes kesayangan Mbak Najwa Shihab, Terawan Agus Putranto, yang katanya kerja dalam diam di balik layar (mbuh layar tancep RT piro).

Kita juga tiba-tiba memuji-muji keputusan Jokowi dalam memilih Tri Rismaharini menjadi mensos, sang walikota kondang yang sukses mengijo-royo-royo-kan Surabaya. Kita mendadak sok tahu, berpikir sosok Risma paling pas untuk memberantas korupsi miris yang baru saja dilakukan pejabat sebelumnya, Juliari Batubara, hanya karena track record-nya yang tegas marah-marah ketika tamannya dirusak. Ingat ya, JIKA TAMANNYA DIRUSAK! (mbuh perkoro liyane)

Sementara itu kita mengenyampingkan bahwa fakta bahwa kursi menteri adalah bagi-bagi jatah partai politik. Mensos adalah jatahnya anak buah Megawati Soekarnoputri. Dan lantas kita jadi dibutakan imej tokoh politik yang selama ini sudah dipotret baik oleh media.

Ketiga, pidato penuh makna Mendag yang baru. Posisi menteri perdagangan diisi Muhammad Lutfi, seorang berpengalaman yang sering langganan menduduki kursi kabinet, dengan jabatan yang sama di masa silam.

Saya perhatikan betul pidatonya yang ternyata semakin mendekati akhir, malah semakin menyakiti hati saya sebagai rakyat biasa-biasa aja ini. Dengan gagah ia sampaikan rasa tanggung jawab besar membawa perekonomian nasional di tengah masa sulit pandemi. Pidato dilengkapi analogi bak pujangga melamar kekasih. Katanya, Mendag adalah wasit pertandingan tinju, pembeli dan penjual adalah petinjunya, dan rakyat adalah penontonnya. Ingat ya, RAKYAT ADALAH PENONTON!

Pak Mendag yang terhormat, bagaimana bisa negara demokrasi di mana rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi – setidaknya ini yang saya tahu dari pelajaran PPKN waktu SMP dulu – mosok cuma jadi penonton? Bagaimana sang promotor pertandingan tinju berhak menggelar acaranya di mana dan kapan saja, menentukan siapa wasitnya, petinju gontok-gontokan bertaruh nyawa, dan kita yang hanya penonton ini pasif dan tak berdaya, selain daripada memendam emosi melihat pertikaian, menaruh judi karena taruhan, atau ujung-ujungnya chaos antar pendukung.

Omongan Pak Mendag Lutfi ini memang problematis, tapi banyak benarnya. Bahwa kita, rakyat sebagai tingkatan terendah dalam rantai makanan perpolitikan Indonesia ini, hanya asyik menonton. Paling banter ya hanya bikin status WA atau story Instagram “hayo siapa yang kemarin bertengkar sampai putus kongsi gara-gara beda pilihan 01 dan 02?” sambil saling menertawakan satu sama lain. Tak lebih dan tak kurang.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Editor Picks