Kapan Kita Bisa Sembuh dari Hoax? 0 51

Oleh: Trisca Suci Pamungkas Sari*

Di era digital saat ini, masyarakat mendapat beragam informasi dengan mudahnya. Tanpa harus membeli koran tiap pagi, menyalakan televisi dan mengganti channel, ataupun menghidupkan radio dan mendengarkan berita yang tidak ada siaran ulangnya. Kini kita sudah bisa mendapatkan informasi hanya di dalam genggaman.

Meski begitu, berbagai kemudahan ini pasti ada banyak sisi buruknya. Salah satunya, dan yang berdampak besar kata pemerintah adalah penyebaran hoax.

Karena mudahnya mengakses jaringan internet, banyak oknum memanfaatkannya dengan cara yang salah. Sumber dari lagi-lagi website Kominfo, sudah ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar informasi palsu atau hoax.

Sedihnya, situs-situs itu diyakini masyarakat sebagai fakta, kemudian dibagikan ke teman media sosialnya. Utamanya, media sosial kecintaan kita semua, Facebook dan Whatsapp menempati urutan teratas tempat hoax bertebaran. Betapa cepatnya berita hoax itu tersebar jika masyarakat kurang meneliti terlebih dahulu berita yang didapat.

Padahal, manusia punya reaksi alamiah, yaitu akan merasa gelisah karena berita yang diterima itu belum terjamin kebenarannya. Menurut riset Masyarakat Telematika Indonesia dari Daily Social pada awal tahun 2017, sekitar 84,5% dari 1.116 responden menganggap terganggu dengan adanya hoax.

Persoalannya, masyarakat kita sering terjebak rasa empati dan merasa sebuah berita patut disebarkan ke orang-orang terdekat. Hampir 75% responden dari riset Daily Social menganggap membedakan hoax dan tidaknya itu sulit dan perlu waktu cukup lama. Penyebar hoax juga sulit dilacak karena banyak yang menggunakan akun anonim.

Padahal banyak hoax terjadi di ladang Whataspp, di mana platform tersebut mendaftarnya dengan nomor telepon. Kan pemerintah sudah mendaftar nomor telepon sekaligus pemilik dengan nomor KTPnya, apa yang susah sih untuk melacak siapa pelakunya? Huft.

Di Indonesia juga sudah ada KUHP tentang fitnah dan hasut serta UU ITE Pasal 28 tentang penyebar berita bohong yang menyesatkan. Tapi sayangnya, hoax juga belum bisa diatasi dengan maksimal.

Jalan keluar terbaik memang harus dimulai dari masyarakat itu sendiri. Masyarakat harus diedukasi agar tidak memakan berita mentah-mentah. Perlu membudayakan membaca untuk hal ini, agar wawasannya luas. Dengan begitu, masyarakat tidak mudah dibodohi, bisa memilah berita yang benar dan yang tidak.

Alternatif lain, masyarakat bisa ikut serta menjadi citizen journalist yang kolomnya banyak disediakan media. Artinya, masyarakat lah yang jadi sumber primer sebuah berita berasal, melakukan kerja jurnalistik. Masyarakat yang turun ke lapangan, mengikuti peristiwa, kemudian menuliskannya. Nantinya, kebijakan redaksi perusahaan media akan memfilter sehingga berita dari masyarakat itu sudah teruji kebenarannya, layak dikonsumsi publik.

Dari situ, masyarakat bisa melihat situasi kondisi yang terjadi saat ini dan meninggikan nilai kejujuran dari berita yang dibuat. Barangkali, setidaknya kita bisa mengurangi kebahagian oknum penyebar hoax yang berkeliaran di luar sana.

Eh tapi, masyarakat negeri +62 ini kan gak mau repot. Masih mau gak ya, susah-susah cari kebenaran di balik suatu informasi? Hmmm, kapan sembuhnya kita dari hoax?

 

*Penulis mengaku sebagai mahasiswi Unversitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Renungan Jelang Lepas Kampus 0 163

Setidaknya selama empat tahun lebih sedikit saya sudah menghabiskan waktu di kampus. Melewati banyak cerita-cerita romantik nan dramatik. Kesemuanya itu dikemas dalam tema-tema yang beragam; mulai dari modus politik, organisasi, diskusi intelektual, dan sebagainya-dan sebagainya.

Kalau digelar kembali peta kenangan itu, mungkin sudah membentang ke sejauh mata memandang. Tak ada yang belum saya lakukan untuk rampung disebut mahasiswa. Demonstarsi, aduh, dari senang sampai jenuh. Merasakan dapat nilai rendah dalam mata kuliah statistika, tentu saja pernah. Merantau jauh dari keluarga. Betapa beruntungnya saya sebab pernah mengalami ini juga. Setidaknya kesepian akan menempamu menjadi dewasa, begitu orang-orang bilang.

Dalam hitungan akademik, saya boleh dikata terlambat dalam menyelesaikan studi. Banyak faktor yang menyebabkan ini dapat terjadi, dan kalian pasti bisa menebak-nebak salah-duanya. Misal tentang kesibukan berorgansisasi atau niat yang belum tersusun rapi.

Kemudian saya melihat kawan-kawan saya yang lulus “tepat waktu”. Sebagian besar di antara mereka sudah dapat kerja, sisanya masih nyaman dalam kondisi ketenangan yang tiadatara. Kondisi yang tak mengharuskan mereka untuk memikirkan apakah teori-teori marxis kelak akan menjadi kenyataan. Atau cukupkah sudah gaji UMR untuk membayar prasmanan saat nikahan nanti.

Pada suatu malam, yah selalu malam, saya ketemu dengan kawan lama. Walaupun belum lama-lama amat, tapi kami perlu menyebut ini “lama” karena dia datang menggunakan tampilan baru namun dengan sifat yang lapuk. Saya menjadi sangsi ketika dia berbicara ala mahasiswa tapi gayanya bah pegawai bank: santun dan ekonomis.

Di awal perbincangan kami, semua terasa mudah. Seperti yang pernah-pernah. Kami saling bertukar kabar, berbagi cerita tentang pasangan masing-masing. Aduh memuakkannya. Namun selalu saja ini membikin penasaran. Kawan saya bercerita, isinya sama seperti yang pernah-pernah, tapi cara dia menuturkan dan penuhnya bumbu-bumbu heroisme membuat saya geli.

Dia menceritakan kelakuan pacarnya yang terus minta ditemani makan malam. Dia selalu menyalip manakala pacarnya itu mulai berjalan ke arah kasir sambil berkata, “sudah, aku saja yang bayar.” Kalimat ini disampaikannya dengan tegas, lugas. Begitu kira-kira ia memberikan bayangan pada saya.

Setelah purna bercerita, kawan ini balik bertanya pada saya yang sejak tadi terlalu khidmat mendengarkan sampai sesekali menguap: “skripsimu masih jauh?”. Saya diam sebentar. Saya sudah paham mau menjawab apa. Tapi saya kuwatir, perkataan saya selanjutnya akan membuatnya tersinggung.

Saya membenarkan posisi duduk. Laiknya sedang bersiap mengatakan hal yang terkesan serius, “begini” kata saya, “skripsiku sudah nyaris rampung. Tak lama lagi. Butuh barang satu atau dua minggu bagiku. Tapi aku belum yakin…”

Belum selesai saya bicara kawan ini langsung memotong: “belum yakin apa, bung?” Kawan ini menyesap kopinya dengan singkat lalu berkata lanjut, “lapangan kerja sudah benaran lapang buat kamu, aku taulah jaringanmu itu. Pacarmu sudah tunggu pula. Kamu harus segera cari uang. Pikirkan nasibmu sendiri. Butuh apa lagi?”

Saya membatin: “perilaku yang seperti inilah, bung. Yang seperti kau alami sekarang. Membuatku ngeri bertemu dunia luar.”

Saya tak sampai menjawab begitu memang. Namun saya menjelaskan saja sebagaimana wajarnya. Semata-mata untuk merawat suasana supaya tetap akrab.

Saya ingat betul, dulu, sekitar empat tahun yang lalu. Saya dan kawan ini bareng-bareng pergi ke perpus, sekadar melihat-lihat judul buku-buku filsafat yang bikin diri senang. Pengin sekali baca itu semua tapi naas otak tak sampai. Akhirnya kami hanya foto-foto saja. Jadikan wallpaper hape semata-mata supaya merasa “sudah selesai”.

Pernah juga kami berada dalam satu barisan pada sebuah demonstrasi besar. Ketika itu kami saling mempererat gandengan, untuk membentuk pagar bagi para pembawa tuntutan. Agar tuntutan mereka tidak terserang provokator dari luar massa hingga sampai di meja penguasa.

Yah, kisah-kisah itu cuma pleidoi lama yang tak perlu disayangkan atau disesalkan. Berakhir jadi kenangan di setiap mata memandang pun sudahlah cukup.

Menjelang dini hari, dia undur diri. Kawan saya ini. Dia minta maaf kerna harus pulang lebih cepat. “Ada agenda yang perlu diselesaikan besok pagi di kantor,” katanya.

Tubuh kawan saya tenggelam dalam mobil yang disetirnya sendiri. Saat menancapkan gas, ia memencet klakson seolah-olah memberi tanda bahwa kita bisa berjumpa lagi nanti. Dengan cara yang sama. Cerita yang sama. Namun nasib yang lain. Kelak, ketika kami tak lagi dipisahkan oleh jurang yang lebar. Dalam. Sehingga dasarnya tak terlihat akibat terlalu pekat.

Surat untuk Bu Pemred dan Semua Anak Jakarte 0 106

Jokowi yang baru-baru saja melempar isu ibukota baru harus bertanggung jawab pada banyak hal. Mula-mula, ehm, ya tentang tuduhan bahwa “Jakarta baru” di Borneo sana adalah semacam pembelokan isu. Tapi tuduhan macam ini biasanya diselesaikan oleh buzzer-buzzer aktip kreatip, jadi kita skip untuk sementara.

Soal serius dari ini: siapa yang mengobati sakit hati Bu Demes yang sudah telanjur tinggal di Jakarta, dan ketika lagi sayang-sayangnya malah ditinggal minggat status ke-ibukota-annya? Berlaku pula teruntuk pesohor-pesohor yang menjadi besar nyali artisnya lantaran status ibukota.

Saya pernah suatu ketika menyimak obrolan superior mahasiswa “lo-gue” yang di telinga bikin geli tapi menarik. Mereka membahas mengapa hidup di Jakarta “ngangenin”, kendati macetnya sungguh luar bioskop, belum lagi polutan-polutan yang biadab. Kata salah satu tokoh dalam obrolan itu (tampaknya ia salah satu selebgram, dilihat dari alis mata dan warna semir rambutnya yang, ehm, keluar lintasan): “..yaa gimana2 jakarta tuh pusat. Lo mo ngomong macet kek, tapi semua-mua dari sana”.

Asoi betul logikanya. Dan dalam beberapa hal betul.

Tapi apa yang ditawarkan Jokowi dari perpindahan Ibukota? Atau sebetulnya tak perlu resep penawar apa-apa bagi mereka yang sudah telanjur sayang? Bagi mereka yang sudah kepalang mengadu nasib di Jakarta? Atau, yang paling gaswat, jangan-jangan tak perlu solusi apapun tentang ini karena perpindahan itu ada atau tiadanya tak punya dampak apapun?

Apa mau syahrini pindah ke Kaltim dan menjadi artis bau tambang? Atau sinetron-sinetron menjadi belepotan dan pada akhirnya membuat semacam reality show “apa dan bagaimana hidup di tengah tambang”?

Jika pada akhirnya perpindahan ibukota Cuma soal pindah status, yaa lalu yang berpindah apanya. Apakah tak ada cara lain yang lebih elegan untuk bakar duit?

Skian dan terima gadis.

 

Joni Locke

Belajar filsahwat, merantau ke negeri jauh.

Editor Picks