Poster-poster Lucu yang Nggak Lucu-lucu Amat 0 1087

Kata seorang dosen Unair yang menjadi staf ahli di salah satu kementerian, demonstrasi adalah ajang rekreasi, diversi, maupun hiburan bersama teman-teman baik satu kampus maupun dari kampus lain. Ia menganalogikan demo dengan permainan bagi anak-anak seusia mahasiswa. Benar, per-ma-i-nan.

Pernyataan ini boleh jadi refleksi atas pengalaman masa muda beliau. Ketika mahasiswa lain sibuk berorasi, mengepalkan tangan ke udara, berteriak, bahkan mawas diri bila tiba-tiba aparat bertindak represif, beliau mungkin sedang berdiri di bawah rindangnya pohon mangga pinggir jalan sambil jajan cilok atau es degan—obat manjur waktu demo. Ini hanya misal, jangan tersinggung.

Saya hanya baca pernyataan ini dengan tersenyum-senyum. Beginikah instruksi pemerintah pada seluruh pamong aparaturnya, yaitu untuk mengerdilkan semangat demonstrasi yang dibangun oleh lebih dari puluhan ribu mahasiswa dari berbagai kota di Indonesia? Melalui reduksi makna demonstrasi sebagai kritik, apakah pemerintah berharap masyarakat tak mengacuhkannya?

Tidak, asumsi itu sangat salah dari berbagai perspektif. Alih-alih buang muka pada demo seperti demo di depan Bawaslu, seluruh elemen masyarakat malah terlibat aktif. Ada yang berdonasi untuk logistik, membagi makanan dan minuman gratis di sekitar area aksi, bahkan berada di baris terdepan seperti yang dilakukan serikat buruh dan tani.

Kemegahan aksi di mayoritas daerah terbukti tak hanya milik mahasiswa semata. Aspirasi rakyat ‘dititipkan’ pada pundak mereka, sehingga otomatis, aksi di pertengahan September ini murni berasal dari gundahnya rakyat atas potensi masalah yang bisa timbul di masa depan bilamana sederet undang-undang yang ngawur bikinnya itu diberlakukan. Tapi apa iya, kegelisahan itu mengacu pada satu titik yang sama?

Dari antara sekian tuntutan aksi itu, ada tuntutan untuk segera mengesahkan UU P-KS (Penghapusan Kekerasan Seksual). UU ini digadang-gadang mampu melindungi perempuan sebagai pihak yang rentan terhadap kekerasan/pelecehan seksual. Sebab, realita hukum di Indonesia dinilai getir: korban kekerasan seksual hampir dipastikan tak punya kekuatan hukum apapun.

Tuntutan ini mungkin yang paling banyak dilupakan oleh para peserta aksi, atau setidaknya dituliskan dalam poster-poster mereka. Seolah, yang ada di kepala mereka pokoknya DPR juancuk, guoblok, turu thok kerjone, dan tulisan seperti ini hampir ada di setiap mata memandang. Dari sekian pasal RUU-KUHP, yang selalu disinggung oleh demonstran adalah ra iso kenthu (tidak bisa bersetubuh alias ‘seks bebas’), ‘DPR ngapain ngurusin selangkangan’, dan lain sebagainya. Bahkan, ada poster oleh para perempuan dari salah satu universitas Islam di Surabaya, bertuliskan—luar biasa bodohnya, “Timbang ngurus RUU mending kenthu” juga “Susuku gede gak masuk RUU”.

(Twitter)

Duh, GustiSaya ndak habis pikir.

Saya curiga mereka inilah ‘penumpang gelap’ yang sebenarnya: orang-orang yang tidak tahu substansi aksi, tuntutan macam apa yang dibawa ke hadapan pemerintah, bahkan mungkin lupa fungsi poster. Kata Pram—sebetulnya males pakai kutipan ini, tapi yoweslah, seorang terpelajar harus berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Kalau dalam kepala saja sudah tidak ada konsep itu, bagaimana bisa kita membayangkan penghapusan kekerasan seksual di tingkat praktik?

Menurut seorang dosen UGM yang dulu pernah ikut menurunkan rezim Orde Baru, generasi demonstran 2019 memiliki strategi berbeda dengan 1998. Jika dulu generasi mahasiswa 1998 memiliki poster-poster bernada serius dan cenderung puitis, generasi 2019 identik dengan kerecehannya. Poster-poster ‘lucu’ dihadirkan bukan tanpa sebab, bahkan bisa jadi tak mempunyai muatan kritik yang kuat. Mungkin kita harus mengingat-ingat lagi fungsi media sosial ya toh? Ajang pamer nggak, sih?

Malfungsi media sosial menjadi etalase seni (yeek, males) dan pertunjukan membuat mahasiswa unyu-unyu nan gemash juga harus memroduksi konten poster yang jenius. Biar tak kalah dengan demonstrasi di berbagai daerah yang lain. Alih-alih menyadari bahwa mahasiswa punya daya gempur yang masif bagi pemerintahan, kelompok mahasiswa seperti ini malah bikin demonstasi jadi studio foto bagi para “produsen konten Instagram”.

Selamat, bapak dosen. Anda mungkin benar bahwa demonstrasi hanya sekelas wisata ke Songgoriti.

 

Foto: Wanti Anugrah

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Panduan Nyinyir Berhadiah ala Fahri Hamzah 0 198

Pertama-tama, saya ingin memberi selamat kepada Fahri Hamzah atas prestasi yang ditorehkan  baru-baru ini (13/8). Politikus Partai Gelora ini baru saja menerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera Naraya 2020 dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) . Tentu ini merupakan sebuah prestasi yang luar biasa, bahkan politikus – yang kini menjadi komisaris Pertamina –  yang tegas melawan korupsi seperti Basuki Tjahaja Purnama pun belum pernah mendapat award super bergengsi ini.

Penghargaan ini sendiri diberikan kepada Fahri Hamzah lantaran keaktivannya dalam “mengkritik” pemerintahan Jokowi. Menurut Fahri, penghargaan yang ia terima dapat dijadikan pelajaran bagi semua orang dalam pemerintahan supaya menghormati kritik. Selain itu, ia menilai bahwa penghargaan ini merupakan bukti bahwa pemerintah tetap menghargai kritik.

Tumben lihat Fahri Hamzah memuji pemerintah? Iya, saya juga baru kali ini baca komentar positif tentang pemerintah dari Fahri Hamzah.

Selama ini, anggota DPR RI yang satu ini dikenal sebagai politikus yang nyinyir, doyan mengkritik apapun yang dilakukan pemerintah. Bahkan, warga net menjulukinya sebagai Lord Fahri karena hanya dialah yang serba benar di negeri +62 ini.

Akan tetapi, pandangan warga net tersebut berbeda di mata Jokowi. Bagi Jokowi, ke-nyinyir-an Lord Fahri merupakan kekritisan yang sangat dibutuhkan pemerintah. Setiap butir dari kesewotan yang dilontarkan Lord Fahri bisa menjadi feedback negatif dan juga input bagi kebijakan-kebijakannya.

Berita Lord Fahri yang meraih penghargaan ini tak pelak menjadi trending di media sosial. Banyak yang kaget kenapa teman “duet” nyinyir Fadli Zon ini bisa mendapat penghargaan dari Jokowi. Banyak yang berasumsi ini adalah akal-akalan rezim pemerintah untuk membuat Fahri Hamzah “sungkan” mengkritiknya.

Dilansir dari Tempo.co, ia menampik dugaan netizen tersebut. Ia mengatakan bahwa dengan dipilihnya ia sebagai penerima penghargaan tidak akan menghentikannya menjadi nyinyir kritis. Ia menambahkan bahwa ia akan terus mengkritik karena presidennya menghargai kritik.

Seharusnya kita dapat melihat hal ini dalam sisi positif. Award yang diraih Lord Fahri ini membukakan mata kita bahwa nyinyir tak selamanya buruk. Tahu tempe kah kamu? Untuk menjalankan sistem agar tetap on the track, sistem tersebut butuh sekali feedback negatif. Maka dari itu, pemerintah (baca: Jokowi) memberi penghargaan sebagai ucapan terima kasih karena membantu sistem pemerintahannya tidak keluar jalur.

Setelah tahu nyinyir rupanya tidak selalu negatif, apakah kita juga boleh nyinyir juga seperti Lord Fahri?

Tentu boleh, tapi coba tanyakan dulu dirimu. Apakah Pembaca yang budiman ini konglomerat penyumbang pajak terbanyak? Petinggi Partai? Anggota DPR? Atau punya pengaruh terhadap kelanggengan kekuasaan rezim pemerintah?

Kalau status Anda tidak memenuhi yang saya sebut di atas, mohon maaf Anda belum bisa “nyinyir yang baik” seperti Lord Fahri. Sekadar mengingatkan, kalau tidak punya posisi atau pengaruh, masih ada UU ITE serta pasal penghinaan presiden yang mengawasi jari dan bibir nyinyir Anda. Hehehe…

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Tragedi Webinar Mr. Blukutuk dan Para Pemuja Sertifikat Online 0 258

Mr. Blukutuk menghela napas panjang. Jari telunjuknya meluncur di atas trackpad, menutup jendela browser di hadapannya. Layar laptopnya kembali menampilkan desktop­­­-nya ceria nan meriah, warna-warni kotoran kucing virtual berjuluk Nyan Cat. Wallpaper ini ampuh membuatnya tersenyum geli sesaat walaupun sedang galau betul.

Ia baru saja meninggalkan sebuah online workshop. Bukan sebagai host alias pembawa acara, melainkan sebagai pengajar fasilitator.

Dengan usia yang sudah hampir kepala lima, ia sering dipuja karena dianggap gaul, nggak gaptek, cepat sekali apdet dengan aplikasi ponsel baru yang populer di kalangan anak muda, termasuk ber-Zum-dan-Gugelmit-ria, yang mendadak beken di tengah pandemi.

Sebagai ilustrator cukup ternama, Mr. Blukutuk merasa dirinya beruntung. Di masa pandemi, harus diakui pendapatannya telah jauh berkurang. Sejumlah universitas, tempat ia mengajar sebagai dosen luar biasa, meniadakan sama sekali kelas ilustrasi dengan tatap muka, berubah bentuk menjadi daring. Demikian pula tempat-tempat kursus yang menyewa jasanya untuk mengajar, berhenti beroperasi sementara.

Ia maklum. Kelas ilustrasi yang efektif memang mengutamakan interaksi aktif antara pengajar dan muridnya, karena ada proses koreksi, penggambaran sudut ruang dan objek, demonstrasi ekspresi, de-el-el.

Mr. Blukutuk agak menyesal tidak giat menjaga hubungan baik dengan stakeholder pontensial selain di bidang pengajaran ilustrasi. Seperti portal berita online, perintis bisnis start-up, dan terutama lagi ruang kolaborasi online yang entah kenapa selalu punya nama-nama beken semi-puitis. Merekalah yang kini gencar membuat konten online variatif, terutama di media sosial.

Tapi Mr. Blukutuk sendiri, sebagai dirinya yang idealis dan sadar usia, agak wegah juga kalau sampai harus bekerja dengan tiga bidang itu. Dia merasa emoh aja gitu sama apa-apa yang kelihatan cuma bisa ngebut dalam satu sampai pol-pol-an tiga tahun, lalu hilang tak berbau. Beberapa orang memuji prinsipnya itu, sisanya menyebut dia kolot.

Nggak apa-apa. Toh, masih banyak ilustrator muda yang keren, lebih edgy, dan mampu mengikuti tingginya kecepatan kerja masa kini. Mr. Blukutuk sendiri lebih suka kerja dengan jam produksi yang manusiawi jelas.

Sesekali ia menerima orderan ilustrasi untuk iklan media, hanya jika proses kerjanya tidak mengganggu jam tidurnya. Mr. Blukutuk nggak akan kuat melekan semalaman demi menuruti revisi klien DUA JAM sebelum deadline. Kabarnya sih, sekarang makin banyak model klien seperti itu.

Kalau permintaan revisi ditolak, si klien akan merayu-rayu. Bahkan, dengan pasif-agresif: “Ayolah, kami ini brand tenar, lho. Kalau memuaskan, kami bisa rekomendasikan Anda pada brand-brand lain. Masa untuk satu revisi saja Anda mempertaruhkan masa depan karir?”

Biasanya, Mr. Blukutuk jadi salting jika kena pertanyaan seperti itu. Makanya sebaiknya menghindar saja, walau bisa jadi cuan-nya gedhe. Alhasil, karirnya justru menanjak sebagai mentor atau guru ilustrasi. Baginya, lebih menyenangkan seperti ini.

Untungnya, di masa pandemi, usaha-usaha rumah tangga tumbuh pating mbrubul bagai jamur. Mr. Blukutuk hampir tidak berhenti menggarap logo merek-merek kecil, label untuk packaging, juga brosur. Kebanyakan untuk bisnis makanan atau snack online. Jadi desainnya sederhana saja, tidak harus estetik dan bergaya vintage atau retro. Lumayan, kadang dapat icip-icip gratis.

Kembali soal Zoominar, seminggu yang lalu, Mr. Blukutuk ditawari jadi fasilitator oleh seorang anak muda, yang memperkenalkan diri sebagai founder komunitas bernama ‘Generasi Cita Indonesia’. Pemuda ini dengan penuh kebanggaan menceritakan visi komunitasnya, yaitu menciptakan generasi muda Indonesia yang kreatif, produktif, dan berdaya-saing tinggi; dengan mengembangkan soft skill, salah satunya dengan belajar menggambar.

Mr. Blukutuk sempat agak curiga dengan nama dan visi komunitas yang agak absurd. Tapi, ia merasa tenang setelah melihat komunitas ini punya lebih dari 4.000 followers di Instagram. Feeds-nya juga penuh dengan poster dan dokumentasi acara lain yang nampak seperti kelas-kelas edukasi.

Maka, segala hal menyangkut materi dan teknis workshop pun disepakati hari itu juga. Mr. Blukutuk sempat agak kehilangan mood ketika diberitahu bahwa komunitas ini ternyata tidak menyiapkan budget untuk honornya mengajar, dengan dalih workshop ini gratis buat para pesertanya. Katanya, kalau ada honor pengajar, otomatis workshop akan berbayar, dan nanti nggak ada yang mau ikut.

Hampir saja Mr. Blukutuk mengurungkan kesediaannya. Tapi ia lalu menenangkan diri dan berusaha menyampaikan secara baik-baik, bahwa meski ilmu adalah hak semua orang, ia juga butuh makan dan bayar listrik. Komunitas tersebut akhirnya setuju. Walau menurut Mr. Blukutuk, bila membandingkan dengan level materi yang diajarkan, nominal yang disepakati lumayan tidak berakhlak. Workshop tetap gratis.

Hari H pun tiba. Acara molor setengah jam karena peserta tidak kunjung bergabung. Padahal formulir pendaftaran yang dibatasi untuk 50 orang sudah terisi penuh. Akhirnya acara dimulai dengan peserta seadanya.

Dari seluruh peserta, tidak sampai 10 yang mengaktifkan kamera video. Padahal sudah ditulis di poster publikasi, bahwa Mr. Blukutuk akan secara aktif memperhatikan proses peserta saat menggambar dan memberi tanggapan. Host acara pun telah berulang kali mengingatkan. Namun kotak-kotak hitam tetap mendominasi layar.

Sampai akhir acara, total hanya 28 peserta bergabung. Entah ke mana sisanya. Acara jadi super garing karena yang aktif memberi pertanyaan cuma host. Lainnya diam tak bersuara. Yah, setidaknya Mr. Blukutuk cukup puas melihat 10 peserta yang menunjukkan hasil gambar mereka di akhir. Acara ditutup dengan screenshot layar foto bersama.

Tak lama kemudian, ponsel pintar Mr. Blukutuk tiba-tiba berbunyi beberapa kali, notifikasi chat baru dari grup WA workshop barusan. Grup ini awalnya dibuat oleh komunitas penyelenggara untuk mem-broadcast alat dan bahan apa saja yang harus disiapkan peserta sehari sebelum workshop.

Kekesalannya memuncak kala melihat isi-isi pesan yang dikirimkan para peserta.

“Acara ini ada sertifnya kan, Kak? Sertifikatnya kapan dibagikan ya?”

“Makasiiih Pak Blukutuk masterrrr!!! Miiin, sertifnya dikirim lewat apaa nantii???”

Sial! Setelah sebegitu besar effort-nya menjabarkan teori, mencoret kertas dengan badan menekuk-nekuk demi tidak menghalangi kamera, serta menjelaskan teknik tiap guratan tinta, ternyata yang paling ditunggu adalah sertifikat elektronik!

Mengapa, anak-anak muda ini tidak bersemangat memanfaatkan acara ini sebagai kesempatan mengembangkan diri? Atau ada yang salah dengan caranya membawakan materi? Mungkinkah wawasan dan jejak karya yang dimilikinya sudah tidak relevan lagi?

Ia teringat teman-temannya, para dosen dan pekerja profesional, yang sudah duluan jadi narasumber untuk beragam topik webinar. Kesemuanya pernah bertanya-tanya tentang acara mereka yang sepi antusiasme. Sebelumnya ia selalu membalas asal dengan mengatakan ‘Ah, mungkin cuma kebetulan,’ atau ‘Sabar, mungkin banyak peserta yang koneksinya nggak lancar’. Tapi, ia pun akhirnya merasakan dan mengalaminya sendiri. Miris!

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks