Privasi Siapa yang Dibela di RKUHP? 1 398

Saya jurnalis (profesional untuk 2 bulan terakhir). Saya terlibat di dalam peliputan aksi mahasiswa yang berakhir rusuh di hari pertama rapat paripurna, 24 September. Saya saksi mata ketika mereka mulai merapat di gerbang DPR, orasi, bakar ban, sampai akhirnya water canon plus gas air mata menyerang, dan saya sebagai anak pupuk bawang tentu lari menyelamatkan diri.

Selain UU KPK yang sudah disahkan itu, saya mendengar dan membaca semua demonstran menggarisbawahi RKUHP (yang telah saya bahas di tulisan lalu: ‘Bagaimana Seharusnya Kita Sikapi RKUHP‘). Banyak pasal yang dianggap bermasalah (kita harus akui ini). Terutama teriakan privasi kita yang (katanya) semakin dirampas negara.

Di sisi lain, suatu kali saya juga untuk kedua kalinya mewawancarai artis (walau definisi ‘artis’ bagi saya masih sangat debatable). Saya sih sebenarnya males. Kalau gak karena permintaan kantor, kapabilitas ‘orang yang sering nongol di tv’ untuk menjawab angle berita masih jadi pertanyaan besar bagi saya.

Saya berusaha memancing diskusi dengan mbak artis. Melempar pertanyaan reflektif serta menghindari pertanyaan dangkal dan tak bermutu. Berharap jawaban bisa mendalam dan melontarkan ide-ide cemerlang bagi para fans yang nanti menonton hasil wawancara ini.

Ternyata realita tidak seindah ekspetasi, kawan-kawan! Doi menjawab semua pertanyaan umum saya dengan mengasosiakannya pada dirinya seorang. Demikian pula wartawan lain justru menyiram air garam pada luka, nyamber dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggali urusan pribadi dan keluarga mbak artis.

Ketimbang menjawab pertanyaan saya tentang tren berlibur saat ini, destinasi wisata yang ciamik di Indonesia, dan sebagainya; si artis lebih suka menjawab rencana liburannya bersama suami dan anak, preferensinya dalam menggunakan layanan aplikasi penyedia perjalanan, dan kawan-kawan pertanyaan lainnya.

Saya gak tahu, di sini siapa yang salah. Pasalnya, wartawan membutuhkan jawaban bersifat pribadi itu untuk membuat tulisan yang mengundang klik di website medianya. Sebaliknya, jawaban-jawaban yang melulu soal diri dan pribadi si artis mungkin sudah jadi template wajib dalam ekosistem infotainment. Barangkali, justru memang saya yang salah nyemplung ke dunia wawancara dengan orang-orang jenis ini. Salah yang gagal paham dan gagal menaruh harapan.

Demikian pula dengan kelakuan rakyat yang suka sekali mengonsumsi berita-berita macam ini. Tentu lebih ringan ketimbang ikut repot memutar otak tentang persoalan bangsa ini.

Dari sini, mari kita merenungkan lagi. Apakah benar privasi kita terancam karena RKUHP? Apakah kita lupa, bahwa privasi bangsa ini sudah ternodai sejak dulu kala? Sejak kehidupan pribadi bintang layar kaca jadi konsumsi publik. Bahkan, hal ini juga berlaku pada tokoh-tokoh politik kita.

Masyarakat kan lebih ingat kisah cinta dan kehidupan keluarga sejahtera Almarhum B.J. Habibie ketimbang karya N-250 dan perjuangannya merintis BPPT. Kita lebih ingat tato menteri dan menteri loncat pagar. Kita lebih paham sneaker, jaket, sepeda, moge, dan cucu Jokowi.

Gak usah jauh-jauh juga. Ketika nongkrong bersama teman, teman lain yang tidak kelihatan batang hitungnya jadi bahan gosip, kan? Saat bepergian, belanja, minum kopi di kedai dengan nama lucu-lucu, gatal juga tanganmu uptade di Insta Story. Jangan lupa bubuhkan lokasi, biar disangka anak gaul. Lha kok saiki guayamu sak langit, sok memperjuangkan privasi?

Kan tentu ironis, memperjuangkan privasi, orientasi seksual, dunia malam, urusan seks dan percintaan, tapi abai kalau selama ini juga tak punya batasan dalam menjaga rahasia diri ke dunia maya. Jadi privasi siapa yang kalian bela?

Previous ArticleNext Article

1 Comment

  1. Ya setuju sekali sama pemikiran penulis. Ya walaupun tidak cuma sampai soal privasi saja.

    Salah nggk sih klo saya berpikir sprt ini,
    Jaman dlu demo krn dikekang , tidak mendapatkan wadah, dan keresahan sudah masif dirasakan hingga meluaplah emosi ke jalanan,

    Lalu sekarang kan kita bisa mengajukan protes ke MK, tggl aliansi bergabung bersama LSM atau Ikatan Advokat Indonesia utk meminta bantuan mengajukan gugatan ke MK, toh lebih etis dan pastinya pagarnya nggk mungkn ditutup, dri pada demo yg sdh jelas2 pintu pagar pasti ditutup dan susah paya harus merobohkan, fan ujung2nya saat diundang ke istana malah menolak. Menurut saya kita juga harus memikirkan citra bangsa dimata dunia selain memperjuangkan hak kita sebagai warga negara. Sudah tidak etis lagi dengan cara berdemo yang subtansinya tidak jelas. Dan sarat akan pengaruh2 negativ dari kelompok2 tertentu.

    Salam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kursi Kosong Najwa Shihab dan Kita yang Sibuk Menghakimi 0 325

Lagi-lagi Najwa Shihab menggemparkan dunia persilatan!

Sebagai jurnalis terbaik di Indonesia saat ini, ia merupakan bukti bagaimana membuat karya tak hanya menyuarakan kepentingan publik dan mengkritisi penguasa, tapi juga bisa diterima khalayak dan berdampak.

Dampak yang penulis maksud ini, gak selalu harus positif lho, ya!

Wawancaranya dengan kursi kosong beberapa hari lalu lantas menuai pro dan kontra. Kursi kosong itu seharusnya diisi oleh Menteri Kesehatan era Kabinet Indonesia Maju, Terawan Agus Putranto. Namun, menurut keterangan Mbak Nana (selanjutnya saya akan menyebutnya demikian biar kelihatan akrab) di video berdurasi tak sampai 5 menit ini, tim Mata Najwa – talk show bergenre politik besutan Najwa Shihab – telah mengundang yang bersangkutan berulang kali, tapi berulang kali itu pula ia menunjukkan batang hidungnya.

Sebagian yang pro memuji dan memuja karya Nana. Baru hitungan 24 jam diunggah ke Youtube, sudah ada lebih dari 1 juta penonton, belum ditambah jumlah penonton di akun medsos pribadi, Narasi, dan jutaan komentar yang timbul karenanya.

Mereka yang pro ini, setuju dan menggantungkan kepercayaannya pada jurnalis kawakan sekelas Nana. Tentu saja mengajukan pertanyaan di hadapan kursi kosong ini sudah berdasarkan riset dan mewakili keresahan hati umat. Hal ini juga dikonfirmasi kemudian di caption Instagram Najwa Shihab.

Pun, teknik ini juga sudah banyak dilakukan di luar negeri, demikian pula Nana menyebutnya. Di Inggris misalnya, wawancara Kay Burley di Sky News kepada Ketua Partai Konservatif Inggris, James Cleverly. Atau yang dilakukan Andrew Neil kepada Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson sebelum pemilu.

Selain itu, satire menjadi sastra yang berhak pula dimasukkan ke dalam karya jurnalistik, demi kian sebagian orang menilai karya #MataNajwaMenantiTerawanini.

Tapi, yang kontra tak kalah banyaknya. Ada yang kaku sekali soal prinsip jurnalisme. Pada tahapan seorang Nana yang belasan tahun menjadi jurnalis, seharusnya ia tahu betul bahwa karya jurnalistik harus mengutamakan asas keberimbangan. Setiap orang yang menjadi narasumber dari berbagai sisi dan kubu harus mendapat porsi menjawab yang sama. Dalam hal ini, ia dinilai sengaja mencecar Terawan dengan sejumlah pertanyaan tanpa berusaha menghadirkan pembelaan darinya.

Ada pula yang berkomentar Nana hanya mencari sensasi. Sebagai fans gak terlalu garis keras, menurut saya, Nana sudah selesai dengan apa yang dinamakan popularitas.  Ia sudah memilikinya sejak reportase fenomenalnya, menangis di tsunami Aceh, apalagi  latar belakangnya sebagai anak cendekiawan dan mantan Menteri Agama di era Soeharto, Quraish Shihab.

Ia pun dituding melakukan bullying. Padahal, karya ini bisa jadi bukan hanya menggugah hati menkes seorang. Ini adalah kritik terhadap keseluruhan sistem kementerian, dan bahkan kabinet berkuasa yang memilih bungkam pada keadaan super genting.

Nana ingin mengingatkan kita, rakyat yang berleha-leha di rumah sembari bikin TikTok ini, soal peran besar Menteri Terawan, yang seharusnya paling bertanggung jawab selama tujuh bulan pandemi ini. Ironisnya, yang selama ini kita kenal dari sang menteri hanyalah jargon “nanti juga sembuh sendiri”.

Sedangkan presiden sibuk membuat beragam komite. Nama Doni Monardo selaku ketua Satgas Covid, Airlangga Hartarto sebagai ketua Komite Corona dan Pemulihan Ekonomi Nasional, dan tentu saja Lord Luhut Binsar, menteri segala urusan, kini lebih populer.

Pertanyaan “kemana Menteri Terawan?” seharusnya memang diajukan kembali kepada Pak Presiden Jokowi tercinta. Pertanyaan genit macam “Terawan disuruh diam biar gak blunder terus ya?” seharusnya sangat sah kita ajukan bersama di negara demokras iini.

Di luar ini semua, Nana memang pantas digelari jurnalis terbaik negeri ini. Inget ya, penulis gak di-endorse!

Ia tahu betul siapa segmentasi audiensnya. Ia selama ini telah rajin membangun brand image melalui gaya fesyen misalnya. Nana tak hanya dikenal sebagai jurnalis perempuan yang powerful dan duta baca nasional, tapi akhir-akhir ini juga duta sepatu sneakers. Terlihat dari postingannya semenjak menjadi bos Narasi, tak pernah lepas dari sepatu-sepatu kekinian yang harganya bikin melongo kaum proletar.

Gaya  kekinian dan serba muda yang terus dianut Nana adalah tanda kesadarannya, bahwa acaranya Mata Najwa, dan konten Narasi-nya banyak ditonton remaja dan kaum muda. Pada poin ini, ia juga berhasil mendekatkan topik politik pada adek-adek gemes. Kita, kaum muda ini lantas dibuat terpikat, tertambat, dan setia mengapresiasinya.

Proses panjang menjadikan audiensnya loyal dan mendukung karya jurnalistiknya, semakin terwujud nyata dari aksinya mewawancarai kursi kosong ini. Ia tahu bahwa konten ini akan menjadi ramai diperbincangkan. Entah menjadi meme dan menjajaki trending topic, atau yang kelewat serius karena tersinggung. Ia tahu betul bahwa kursi kosong itu akan membuat petinggi kebakaran jenggot, sementara kita, netijen yang selama ini tertidur dan mengeluh bosan karena PSBB, menjadi geram dibuatnya.

Jadi, sudah patutkah wawancara kursi kosong ini dari segi etika? Siapalah saya dan Anda ini yang berhak mengadili? Selagi kita berdebat menjawabi pertanyaan ini dengan sok-sokan membawa teori dan harga diri, Nana sedang menikmati buaian kemenangan algoritma media sosial yang membuatnya semakin populer.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Ruwetnya Kerja dengan Orang Jawa 0 388

Jika pembaca sedang melamar pekerjaan dan mengetahui bos Anda adalah orang Jawa, atau Anda sebagai atasan dan seorang pelamar kerja imut-imut bau kencur yang akan jadi bawahan adalah orang Jawa, sebaiknya mengambil ancang-ancang 10 ribu kali. Jika perlu, berpuasalah 3 siang-malam untuk mendapat ilham cara bertahan hidup ke depannya.

Bekerjasama dengan orang Jawa itu ruwet. Ini adalah keniscayaan.

Sebab, (kami) orang Jawa adalah suatu suku di muka bumi ini yang diberi kelebihan oleh Sang Kuasa sebagai orang-orang perasa.

Kami sarankan kepada para bos, mohon kalau bicara atau memberi perintah jangan sambil berteriak. Usahakan volume suara Anda tetap dalam tataran normal ke sedang, tidak terlalu pelan untuk bisa didengar, namun juga tidak terlalu kencang sampai membuat jantung copot. Sebab mendengar suara bos membentak-bentak membuat hati kami ciut, terlepas dari karakter vokal dan kebiasaan sehari-hari sang pemilik suara.

Selain berteriak, bos-bos yang hobi bicara lembut tapi nyelekit juga suatu tantangan bagi kami. Walau mungkin konteks pembicaraan adalah dalam lingkup profesionalitas kerja, tanpa menyinggung persona, kami akan menyimpannya dalam hati dan kepikiran sampai berhari-hari. Secuil kesalahan kami yang dikoreksi atasan dengan kritikan pedas, rasanya seperti telah memporak-porandakan seluruh imej dan karir.

Kami peringatkan juga untuk para bos agar cukup tegar hatinya. Karena kami, para pegawai kelas menengah akan kerap ngrasani di belakang. Kami tak punya cukup nyali untuk berargumen di depan bos. Alasannya, tentu karena kami sangat menjunjung tinggi unggah-ungguh bersikap dengan atasan. Sebaliknya, kami terbiasa mbendol mburi. Cacat-cela – sekecil apapun – akan menjadi bahan rasan-rasan kami ketika ngopi bareng.

Sesungguhnya, selain dengan bos, keruwetan itu juga terjadi dalam hubungan yang sederajat. Dalam berbagai proyek, kami dituduh klemar-klemer. Kalian perlu tahu, wahai fellow buruh bayaran, ini bukan karena kami tak tangkas bekerja, tapi karena mengutamakan kehati-hatian. Kami berpikir sebelum bicara, bukannya gamang. Penuh perhitungan sebelum bertindak, bukan bimbang.

Persoalan pelik lain dengan sesama karyawan, tentu saja perihal penggunaan bahasa. Padahal komunikasi yang baik adalah koentji kekompakan dalam lingkungan kerja. Namun, tak jarang kami kesulitan menerjemahkan maksud kami ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa gaul lain yang bisa dipahami secara nasional.

Terkadang yang ada di otak maunya melontarkan satu kalimat utuh atau pendeskripsian situasi dalam bahasa Jawa, tapi sadar betul bahwa lawan bicara kemungkinan besar tak akan mengerti. Butuh setidaknya 5 detik supaya otak dapat meng-google-translate­-kannya. Jangan heran bila dalam percakapan sehari-hari, ada jeda waktu yang tercipta dari antara jawaban-ke-jawaban yang keluar dari mulut kami. Tentu, proses internal kami memakan waktu dan tenaga yang tak sedikit.

Lha wong buat ngobrol biasa saja kami ngos-ngosan beradaptasi, apalagi mau bercanda.

Beberapa permasalahan yang telah dijabarkan di atas, belum termasuk fakta-fakta di lapangan bagi kami yang bekerja di ibu kota. Mendengar logat kami yang khas, dengan penekanan huruf mati yang muanteb (baca: medhok), sesama karyawan biasanya akan bertanya “Asalnya dari mana? Dari Jawa ya?”

Entah apa maksud pertanyaan ini, benar ingin tahu atau menertawakan logat kami yang unik. Pun pertanyaan ini sungguh lucu dan menampik kenyataan bahwa ia, yang bertanya, dan tempat kami berdiri ini, juga namanya Pulau Jawa.

Tapi tak mengapa. Pengalaman yang terakhir itu wajar adanya. Sama seperti gaya bicara ke-Jakarta-jakarta-an yang terdengar di tongkrongan tempat asal saya, yang terdengar asing dan menggemaskan.

Oh iya, di Pulau Jawa yang maha-sempit namun sok-sokan menjadi pusat dunia ini, ada beragam variasi orang Jawa dengan segala kelakuannya di tempat kerja. Barangkali, yang tertulis di sini adalah kisah satu jenis orang Jawa saja.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks