Surat Terbuka untuk Livi Zheng 0 1008

Nama Livi Zheng kini ramai “dibakar” di media. Banyak yang mencemooh Livi di tengah perjuangannya berkarya. Sebagai insan pecinta film, saya hendak mengajukan pembelaan terhadap yang bersangkutan.

Perlu diingat oleh warga alam semesta dari mana Livi menuntut ilmu. Tidak main-main, S1 ia tempuh di Washington dan S2 secara khusus mengambil jurusan Cinematic Arts di Southern California. Ia sudah memulai karir di dunia perfilman sejak usia belia, 25 tahun! Ya, di saat kamu-kamu semua di usia yang sama, kehidupan dan pekerjaannya masih gitu-gitu aja.

Di usia ke-30, ia sudah berhasil menelorkan dua karya yang katanya dia sendiri hebat luar biasa, Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise. Jelas ini prestasi yang perlu diakui.

Memangnya ada berapa anak bangsa yang bisa sekolah di luar negeri, di kampus yang bergengsi pula? Berapa banyak sih sutradara Indonesia yang betulan niat belajar film sampai ke negeri tetangga? Apalagi, tempat Livi mencari ilmu, Amerika Serikat, merupakan pusat perfilman dunia!

Berapa banyak juga sutradara yang sudah berdomisili di luar negeri, masih mau kembali ke Indonesia dan menggarap film dengan tema yang mengangkat kekayaan budaya bangsa? Bicara karya, berapa banyak juga sih sutradara Indonesia yang filmnya bisa tembus ke layar lebar Ameriki? Livi lah salah satunya yang bisa. Fakta tersebut harus kauterima, wahai Netijen!

Berbagai media kini berlomba-lomba mengorek latar belakang Livi Zheng. Bahkan sampai bisa mengurutkan silsilah keluarga berikut gurita bisnisnya. Detektif betul kerjaan jurnalis ini.

Namun, jika memang demikian adanya, bahwa Livi dilahirkan di keluarga beruntung yang bermodal besar, lantas kenapa? Ia punya ketertarikan di film, memanfaatkan kekayaan keluarga untuk membuat dan mempromosikan sendiri filmnya. Apa yang salah dari hal itu? Salahkah jadi horang kayah?

Pun bagaimana taipan Gunawan Witjaksono dan Lilik Juliati, orang tua Livi, menyokongnya soal gurita relasi. Hal ini dikritik tajam oleh media dan teman sutradara Indonesia lainnya.

Sekali lagi, saya merenung, apa yang salah dari punya relasi banyak? Orang top-top di Indonesia pula, mulai dari wakil presiden Jusuf Kalla, lord segala menteri Luhut Binsar Panjaitan, hingga Kapolri Tito Karnavian. Bukankah bagus berkawan baik dengan pemangku jabatan di negeri ini? Bukankah ini menandakan kelihaian Livi sekeluarga membangun relasi?

Jika seorang Livi Zheng berhasil meminta pejabat tinggi negara mempromosikan filmnya, berarti ia tidak cuma asal bisa berkarya dan hanya tahu dapur persyutingan, tapi juga cara mempromosikan karyanya sendiri. Gimana karya bisa berhasil jika tidak dipromosikan? Gak usah sok idealis lah kamu!

Tipe manusia itu berbeda-beda. Orang yang berkarya dan membiarkan karyanya sendiri yang berbicara, tidak mutlak lebih baik daripada orang yang koar-koar supaya karyanya dikenal orang. Asal Joko Anwar tahu, memanfaatkan profil diri dan relasi adalah strategi cerdas Livi Zheng membuat karyanya dikenal orang.

Pun di sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, alih-alih ingin menjernihkan perspektif masyarakat yang sudah terlanjur teracuni imej jelek Livi, malah ia semakin disudutkan. Tetapi, mau tidak mau Livi harus menaati formatan duduk dan arah talkshow yang bertujuan menghakiminya.

Bayangkan! Satu orang Livi, dihakimi 6 orang sutradara, produser, jurnalis, dan kritikus film. Kasihan, tahu! Mbok nek meh debat siji-siji, ojok tawuran!

Apa gak cukup kalian semua merendahkan martabat Livi Zheng sebagai sineas muda berbakat di media sosial? Gimana Indonesia mau maju, kalau setiap anak bangsa yang berkarya direndahkan begini, bukannya didukung?

Pokoknya untuk Kak Livi Zheng, kudu semangat terus! Film-film yang mengangkat budaya Indonesia darimu akan selalu kutunggu! (sembari menebak-nebak pejabat siapa lagi yang testimoninya akan diikutsertakan)

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sejumlah Alasan Mengapa Aldi Taher Adalah Artis Paling Berprestasi Abad Ini 0 257

Sebelumnya, Penulis menahan diri dan mencoba melihat fenomena ketenaran Aldi Taher lebih jauh. Agar yang dituliskan nantinya (dan yang kalian baca saat ini) adalah kata-kata terbijak yang Penulis mampu tuliskan.

Rahmat Aldiansyah atau dikenal dengan Aldi Taher adalah selebritis generasi lama. Sejak 2000-an ia sudah familiar dengan dunia entertainment. Anda-Anda yang seumuran saya pasti sering melihat ia dulu mondar-mandir di sinetron dan ftv layar kaca, ataupun film horror layar lebar.

Tapi, ini semua berubah sejak Aldi Taher rekam posting baca al-Quran di Instagram. Belum ditambah beragam gimmick tag-tag akun Instagram seluruh artis terkenal dan media, mengaku ingin jadi wakil gubernur DKI Jakarta, hingga berambisi melaju di Pilpres Amerika Serikat.

Kita memang menganggap Aldi Taher kini mungkin aneh. Kita bertanya-tanya apa yang mendasarinya berperilaku tak masuk akal. Tapi, justru di situlah nilai jualnya.

Dalam kaidah berita, keunikan adalah salah satu unsur penting berita. Suatu peristiwa tidak akan diliput dan ditayangkan dalam berita jika tidak unik atau berbeda. Ini teori dasar jurnalistik ya, yang dipelajari anak-anak komunikasi di kampus-kampus beken, hingga kami terapkan dalam pekerjaan sehari-hari.

Aldi Taher adalah perwujudan sempurna dari unsur keunikan ini. Ia bangun dari hibernasinya di dunia hiburan dengan suatu persona yang berbeda, stand out from the rest. Ia menjadi ustadz dadakan yang pandai mengaji. Atau sebagai pencipta lagu serba bisa.

Usahanya berhasil bukan? Buktinya, kita semua membicarakannya, dan bahkan tulisan ini lahir menjawab betapa sering namanya menduduki trending topic.

Barangkali, sebagian besar netijen menganggap Aldi Taher adalah artis tukang cari sensasi. Kita beranggapan bahwa artis yang ingin terkenal harus berkarya dan mencetak prestasi. Lagipula, sejak kapan ada pakem seperti ini?

Bukankah apa yang diciptakan Aldi kini adalah karya seni juga? Rekam posting itu sebuah konten dan perlu diakui sebagai karya dalam konteks kebebasan berekspresi. Demikian pula dengan lagi “NISSA SABYAAANN~ I LOVE YOUUU SO MUCH” yang ia ciptakan. Apalagi, liriknya bisa diganti-ganti sesuai dengan kebutuhan dan rikues khalayak. Sungguh inovatif, bukan?

Keseluruhan usaha membuat sensasi ini justru membuat Aldi Taher mencetak prestasi: membuat namanya menjadi top of mind kita. Lirik dan nada lagunya sangat menempel di benak kita, dan diam-diam kita senandungkan ketika sedang masak mie instan, atau sedang menunggu bis datang di halte. Dan lagi, paling tidak ketika ditanya “siapa artis paling aneh di dunia” kita akan menyebut nama Aldi Taher bukan?

Perlu juga diakui, bahwa Aldi Taher cerdas membaca situasi. Ia tahu cara bertahan di industri hiburan hari ini. Bisnis media kita kan memang demikian, siapa yang viral dan sensasional, dialah yang akan bertahan lama.

Dari seorang Aldi Taher yang mencetak prestasi dengan kemampuan modelling, akting, dan menyanyinya yang sungguh-sungguh di masa silam. Kini ia bertransformasi menjadi Aldi Taher yang absurd. Nyatanya, ia kini berhasil jadi rebutan bintang tamu televisi dan Youtube.

Tentu, soal substansi konten dan gagasan pribadi yang sering ia lontarkan tentang beramal, poligami, hingga maksiat tak perlu kita bahas. Sebab penulis tentu tak punya kapasitas di bidang itu.

Yang jelas, prestasi Aldi Taher adalah mampu menciptakan sensasi atas dirinya sendiri, dan mampu beradaptasi di kerasnya situasi era ini. Kitalah yang seharusnya banyak belajar darinya.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

Nasib Pegawai KPK Kritis dan Doa untuk Mereka 0 159

Kemarin 1.271 pegawai KPK yang lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) akhirnya sudah dilantik. Kini mereka resmi jadi abdi negara, meninggalkan 75 yang tak lolos.

Tim dokumenter dengan jejaring sangar macam Watchdoc dan kesayangan kita semua, Najwa Shihab, sudah mewawancarai mereka, mengungkap kejanggalan TWK. Pertanyaan-pertanyaan aneh macam urusan rumah tangga, perceraian, gaya pacaran, hingga aliran agama muncul selama sesi tes seleksi wawancara.

Masalahnya, 75 orang yang tidak lolos ini bukan sembarangan personil. Dari antara 75 orang itu, 13 di antaranya adalah penyidik yang berperan penting sebagai lokomotif penggerak berjalannya KPK selama ini. Sebut saja Novel Baswedan, yang kita semua tahu telah berhasil mengungkap kasus besar macam korupsi e-KTP dengan dalang Setya Novanto. Ada pula Rizka Anungnata, penyidik kasus benih lobster yang menyeret mantan Menteri KKP, Edhy Prabowo. Sampai Ronal Paul, yang tengah menangani kasus buron yang ghosting satu negeri ini, Harun Masiku.

Orang-orang ini kini tak bisa melanjutkan kasusnya, dinonaktifkan karena tak lolos tes, bahkan terancam termasuk dari 51 orang yang katanya tak lagi bisa dibina. Dalam kata lain yang lebih mudah namun kasar, sama saja dengan orang bebal.

Orang-orang berprestasi ini mungkin cerminan dari orang kritis. Di satu sisi, Indonesia ini sangat butuh orang-orang kritis agar bisa maju memperbaiki sistem dan mentalitas yang terlanjur bobrok. Tapi atas nama kestabilan, orang-orang macam inilah yang dianggap sebagai penghancur dan pembangkang. Termasuk dalam logika bisnis korporasi, pegawai yang ndablek atau berani melawan pemimpinnya pasti ditendang.

Susah dong ya jadi orang kritis di negara ini? Ya memang bakal susah kalau kamu terlalu radikal, berani bicara dan melawan yang salah. Lantas apa yang harus dilakukan?

Kalau kata pepatah, diam adalah emas. Itu mungkin akan sangat berlaku buat kalian-lalian yang punya pemikiran revolusioner. Jangan keburu emosi dulu! Diam memang tak selamanya baik, dan malah berujung malapetaka karena mendiamkan sesuatu yang salah. Kalau kata mantan komisioner KPK dan pengurus PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas: “membiarkan kejahatan itu sama artinya dengan melakukan kejahatan”.

Saya jadi teringat suatu kisah penyebaran dan perjalanan agama Kristen di Jepang. Alkisah, agama Katolik disebarkan pertama kali oleh misionaris Jesuit dari Portugal tahun 1560-an. Lambat laun, jumlah penganut Kristen bertambah banyak dan pesat. Penguasa politik Jepang merasa terancam dan memutuskan untuk menumpas mereka.

Larangan beribadah ditetapkan. Bahkan memerintahkan semua umat Kristiani menginjak fumie, lempengan tembaga bergambar Yesus disalib pada papan kayu. Tujuannya jelas, untuk mematahkan kepercayaan mereka. Sejarah mengatakan ada sekitar 2 ribu orang meninggal menjadi martirkarena menolak menginjak fumie, tetap setia pada imannya.  Which is (cielah gaya bahasa jaksel), keren.

Tapi, tak sedikit pula yang memilih ingkar, mereka injak fumie, dan tetap hidup. Mereka berpura-pura meninggalkan agamanya, tapi tetap beribadah secara diam-diam. Mereka lah yang membuat penganut Kristiani masih ada di Jepang sampai sekarang. Coba bayangin kalau semua memilih jadi “pahlawan” dan rela mati, mungkin agama Katolik akan benar-benar punah.

Kisah ini saya lihat hampir sama dengan yang terjadi di KPK hari ini. Harapannya, ada beberapa dari 1200 yang lolos TWK itu, adalah orang-orang yang diam-diam “nurut”, menjawab dengan cara aman tes-tes wawancara yang diajukan asesor. Mereka menyembunyikan jati diri kritis, demi bertahan hidup, tetap berada dalam sistem lembaga pemberantas korupsi, dan membawa integritas ke depan. Jika benar demikian, kita tak perlu khawatir KPK akan ambruk.

Lalu bagaimana dengan 51 pegawai yang tak lagi bisa dibina itu? Perjuangan di luar KPK untuk memberantas korupsi masih panjang. Bisa melalui organisasi, lembaga bantuan hukum, dan bertindak sebagai pengamat atau penasehat. Sebab, berlian tetap bisa bersinar di mana saja walaupun ditempa sedemikian rupa. Semoga.

 

*)Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Editor Picks