Surat Terbuka untuk Livi Zheng 0 1197

Nama Livi Zheng kini ramai “dibakar” di media. Banyak yang mencemooh Livi di tengah perjuangannya berkarya. Sebagai insan pecinta film, saya hendak mengajukan pembelaan terhadap yang bersangkutan.

Perlu diingat oleh warga alam semesta dari mana Livi menuntut ilmu. Tidak main-main, S1 ia tempuh di Washington dan S2 secara khusus mengambil jurusan Cinematic Arts di Southern California. Ia sudah memulai karir di dunia perfilman sejak usia belia, 25 tahun! Ya, di saat kamu-kamu semua di usia yang sama, kehidupan dan pekerjaannya masih gitu-gitu aja.

Di usia ke-30, ia sudah berhasil menelorkan dua karya yang katanya dia sendiri hebat luar biasa, Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise. Jelas ini prestasi yang perlu diakui.

Memangnya ada berapa anak bangsa yang bisa sekolah di luar negeri, di kampus yang bergengsi pula? Berapa banyak sih sutradara Indonesia yang betulan niat belajar film sampai ke negeri tetangga? Apalagi, tempat Livi mencari ilmu, Amerika Serikat, merupakan pusat perfilman dunia!

Berapa banyak juga sutradara yang sudah berdomisili di luar negeri, masih mau kembali ke Indonesia dan menggarap film dengan tema yang mengangkat kekayaan budaya bangsa? Bicara karya, berapa banyak juga sih sutradara Indonesia yang filmnya bisa tembus ke layar lebar Ameriki? Livi lah salah satunya yang bisa. Fakta tersebut harus kauterima, wahai Netijen!

Berbagai media kini berlomba-lomba mengorek latar belakang Livi Zheng. Bahkan sampai bisa mengurutkan silsilah keluarga berikut gurita bisnisnya. Detektif betul kerjaan jurnalis ini.

Namun, jika memang demikian adanya, bahwa Livi dilahirkan di keluarga beruntung yang bermodal besar, lantas kenapa? Ia punya ketertarikan di film, memanfaatkan kekayaan keluarga untuk membuat dan mempromosikan sendiri filmnya. Apa yang salah dari hal itu? Salahkah jadi horang kayah?

Pun bagaimana taipan Gunawan Witjaksono dan Lilik Juliati, orang tua Livi, menyokongnya soal gurita relasi. Hal ini dikritik tajam oleh media dan teman sutradara Indonesia lainnya.

Sekali lagi, saya merenung, apa yang salah dari punya relasi banyak? Orang top-top di Indonesia pula, mulai dari wakil presiden Jusuf Kalla, lord segala menteri Luhut Binsar Panjaitan, hingga Kapolri Tito Karnavian. Bukankah bagus berkawan baik dengan pemangku jabatan di negeri ini? Bukankah ini menandakan kelihaian Livi sekeluarga membangun relasi?

Jika seorang Livi Zheng berhasil meminta pejabat tinggi negara mempromosikan filmnya, berarti ia tidak cuma asal bisa berkarya dan hanya tahu dapur persyutingan, tapi juga cara mempromosikan karyanya sendiri. Gimana karya bisa berhasil jika tidak dipromosikan? Gak usah sok idealis lah kamu!

Tipe manusia itu berbeda-beda. Orang yang berkarya dan membiarkan karyanya sendiri yang berbicara, tidak mutlak lebih baik daripada orang yang koar-koar supaya karyanya dikenal orang. Asal Joko Anwar tahu, memanfaatkan profil diri dan relasi adalah strategi cerdas Livi Zheng membuat karyanya dikenal orang.

Pun di sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, alih-alih ingin menjernihkan perspektif masyarakat yang sudah terlanjur teracuni imej jelek Livi, malah ia semakin disudutkan. Tetapi, mau tidak mau Livi harus menaati formatan duduk dan arah talkshow yang bertujuan menghakiminya.

Bayangkan! Satu orang Livi, dihakimi 6 orang sutradara, produser, jurnalis, dan kritikus film. Kasihan, tahu! Mbok nek meh debat siji-siji, ojok tawuran!

Apa gak cukup kalian semua merendahkan martabat Livi Zheng sebagai sineas muda berbakat di media sosial? Gimana Indonesia mau maju, kalau setiap anak bangsa yang berkarya direndahkan begini, bukannya didukung?

Pokoknya untuk Kak Livi Zheng, kudu semangat terus! Film-film yang mengangkat budaya Indonesia darimu akan selalu kutunggu! (sembari menebak-nebak pejabat siapa lagi yang testimoninya akan diikutsertakan)

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alasan Mengapa Penampilan Kim Kardashian di MET Gala 2021 Patut Diacungi Jempol 0 326

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

 

Sempat batal diselenggarakan setahun yang lalu karena pandemi, akhirnya acara fesyen paling eksklusif, MET Gala, kembali hadir tahun ini. Diselenggarakan pada 13 September di Metropolitan Museum of Arts, New York, MET Gala 2021 mengusung tema “American Independence“, sehingga tamu undangan bisa bebas berdandan apa saja pokoknya sesuai tema.

Seperti biasa, MET Gala selalu mengundang perhatian karena dihadiri oleh bintang-bintang internasional dan menjadi ajang bagi desainer papan atas untuk  pamer kreativitas. Bahkan saking hebohnya, sampai-sampai muncul kekhawatiran bahwa MET Gala akan overshade acara New York Fashion Week yang juga digelar berdekatan dengan acara yang diketuai Anna Wintour tersebut.

Salah satu selebritis yang mengundang perhatian publik adalah Kim Kardashian. Biasa tampil seksi, kini ia secara ekstrem berpenampilan tertutup. Literally.

Putri dari Kris Jenner ini mengenakan pakaian serba hitam berbahan kaus dari Balenciaga hingga menutupi semua kulitnya. Hanya rambut super panjangnya yang terlihat.

Penampilan nyeleneh Kim ini sontak menjadi bahan lelucon bagi publik. Banyak yang menyamakannya dengan Dementor yang ada di film Harry Potter. Selain itu, banyak orang juga membuat Kim Kardashian menjadi bahan meme di media sosial. Kasihan!

Meski banyak diejek, saya menilai penampilan Kim Kardashian patut diacungi jempol. Bahkan Bryan Boy, salah satu fashion influencer ternama juga menilai demikian. Bahkan, Diet Prada juga memasukkan kakak Kendall Jenner ini dalam dereran Best Dressed.

Jadi sebelum menghina Kim Kardashian, coba baca dulu penjelasan saya kenapa penampilan Kim yang bikin kita ikut selempeken ini keren abis.

  1. Menarik Perhatian

Tidak ada aturan kalau kamu harus tampil cantik dan stylish saat menghadiri MET Gala. Berbeda dari acara red carpet lainnya, para tamu diharapkan untuk tampil seunik mungkin, asalkan sesuai tema. Semakin nyentrik, semakin menarik perhatian, semakin jadi bahan perbincangan, semakin bagus!

Justru penampilan aneh macam Kim Kardashian inilah yang membuat kita selalu menunggu MET Gala setiap tahunnya. Publik menjadi penasaran dan menantikan outfit-outfit cetar nan mentereng dari para bintang yang tidak dapat ditemui di acara lain. Dengan menjadikan Kim dan Balenciaga sebagai buah bibir di media sosial, saya menilai kostum Dementor milik Kim MET Gala worthy banget!

 

  1. Sesuai Tema

Mengenakan gaun menyerupai T-shirt dengan tambahan “ekor”, Kim jelas mengikuti tema yang ada. T-shirt merupakan item fesyen yang ditemukan dan dipopulerkan oleh orang Amerika, sehingga bisa dibilang penampilan bintang “Keeping Up With The Kardashians” ini sudah Amerika banget!

Selain “Amerika” banget karena sejarahnya, outfit dari Kim juga sangat merefleksikan kebebasan.

T-Shirt alias kaus oblong pada awalnya merupakan pakaian dalam tentara Inggris dan Amerika pada abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Item fesyen ini mulai populer setelah dikenakan aktor legendaris Marlon Brando pada tahun 1947 ketika ia memerankan tokoh Stanley Kowalsky dalam pentas broadwayA Street Named Desire” di Amerika Serikat.  Sejak itu, T-shirt booming di kalangan anak muda. Meski dianggap tidak sopan bagi orang-orang tua, para pemuda Amerika Serikat menjadikannya simbol kebebasan dan juga bagian dari identitas mereka.

Baik Kim maupun Balenciaga secara kreatif menginterpretasi tema bahwa American Independence tidak melulu terinspirasi dari bendera dan juga patung Liberty saja.

 

  1. Contoh Baik Taat Prokes

Perlu diingat bahwa event tahunan ini diselanggarakan di tengah-tengah pandemi Covid-19. Kim Kardashian patut dipuji dengan mengenakan outfit yang sesuai dengan prokes: pakai masker, kurangi kontak langsung dengan kulit, dan pembatasan sosial. Sayangnya Kim tinggal di Amerika, andai saja ia tinggal di Indonesia, pasti sudah segera dilantik jadi Duta Prokes Cegah Covid-19 hehe…

Kim tahu benar bahwa masker tidak terlalu ampuh melindunginya dari paparan virus. Masker masih saja menyisakan celah, terutama di area hidung. Untuk itu, Kim menutupi keseluruhan wajahnya dengan masker berbahan mirip stocking berwarna hitam. Alhasil, dia tidak perlu repot-repot mengenakan masker dan face shield.

Tak hanya itu, Kim juga memikirkan kehigienisan dengan menutup seluruh kulit di area tangan dan kaki. Sehingga, saat tamu lain bersalaman atau tidak sengaja menyentuh Kim, mereka tidak bersentuhan secara langsung. Penularan Covid-19 pun dapat diminimalisasi.

Yang terakhir, outfit Kim ini menjaganya dan para tamu lainnya untuk melakukan pembatasan sosial. Outfit serba tertutup nan horor ini membuat orang jadi malas rumpik bersama Kim, sehingga orang akan secara otomatis menjaga jarak dengannya. Apalagi, acara ini diselenggarakan pada malam hari, alhasil banyak orang yang jangankan dekat-dekat, melihatnya saja tidak bisa. Menyatu dengan gelapnya malam.

 

  1. Inspirasi Tampil Cetar dengan Budget Seadanya

Last but not least, outfit Kim dapat menjadi inspirasi bagi Pembaca yang ingin tampil mentereng di pesta dengan budget minimalis. Balenciaga tidak perlu bermodal banyak untuk menjadikan Kim Kardashian sebagai pusat perhatian di MET Gala. Cukup dua bahan: kaus dan stocking!

Nah, Pembaca bisa tuh DIY (do it yourself) kaus yang ada. Tinggal beli kain kaus untuk ekor tambahan, lalu dibawa ke penjahit terdekat. Akan lebih bagus kalau Pembaca bisa menjahit sendiri.

Selain bahannya cukup bersahabat di kantong, Pembaca juga tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk menyewa jasa MUA (make-up artist). Banyak perempuan yang rela membayar jutaan rupiah demi menjadi pusat perhatian di pesta. Tetapi, dengan ide outfit dari Kim Kardashian ini, Pembaca tidak usah repot-repot merogoh kocek mendalam, bukan?

Semua Akan Korea Pada Waktunya, Tapi Gak Gini Juga 0 249

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

 

“Semua akan Korea pada waktunya”, begitulah kalimat yang dapat mewakili kondisi masyarakat negara +62.

Sempat menghina K-pop-ers dengan sebutan alay karena dianggap mengidolakan artis-artis negeri ginseng, kini wajah mulus tak bercela para artis Korea ramai kita jumpai di iklan-iklan merek lokal. Bisa dibilang para artis Korea tersebut dijadikan koentji dalam marketing produk dan jasa.

Kapan hari, internet diguncang berita aktris Felicya Angelista yang diwujudkan ngidamnya oleh sang suami untuk video call bersama pemeran Mas Mafia Vincenzo, Song Joong Ki (baca lagi: Wajah Ganteng Song Joong Ki dan Tabiat Penonton Drama Korea).

Usai viral karena dianggap fan yang beruntung, muncullah berita aktor “Space Sweepers” tersebut didapuk sebagai brand ambassador skinker milik Felicya, Scarlett Whitening. Hancik, cuma marketing ternyata. Hampir bersamaan, muncul lagi berita yang menyebutkan bahwa boy group TREASURE akan menjadi brand ambassador bimbingan belajar online “penguasa” stasiun televisi kita, Ruangguru.

Pemilihan artis Korea sebagai brand ambassador merek lokal bukanlah hal baru.  Tahun 2016 silam, aktor “The Heirs” Lee Min Ho didapuk jadi brand ambassador Luwak White Koffie. Kemudian, cara ini diikuti oleh Mie Sedap yang menjadikan Siwon “Super Junior” sebagai brand ambassador-nya untuk mempromosikan mie rasa ayam pedas korea. Lalu, disusul Tokopedia yang membuat kita ter-kamcagiya (kaget) dengan menggandeng boy group terpopuler segalaksi bima sakti dalam promosinya.

Memang menggandeng artis Korea bisa menjadi jalan ninja untuk mempopulerkan merek produk atau jasa. Merek tersebut akan seketika menjadi buah bibir para fans artis Korea, baik membicarakan artis idola mereka atau sangking tajir melintirnya perusahaan tersebut.

Buktinya, permen Kopiko selalu menjadi buah bibir dan viral setiap permen rasa kopi tersebut muncul di adegan-adegan drama Vincenzo dan Mine. Benar-benar tidak rugi setelah menggelontorkan miliyaran rupiah!

Selain menjadi populer, produk atau jasa dijamin akan laris manis setelah memilih artis Korea sebagai bintang iklan mereka. Itu karena kesetiaan para fans artis Korea untuk mendukung artis idola mereka yang tidak dapat diragukan lagi.

Masih ingat kan dengan kasus antre menu BTS Meal dari McDonald’s? Jangankan dijadikan bintang iklan, lha wong barang yang “nampil” di siaran langsung artis Korea saja bisa ludes dibeli para fans.

Mungkin Korean celebrity endorsement bisa menjadi marketing tool yang sangat efektif, tapi mbok ya artisnya disesuaikan dengan mereknya. Misalnya, pemilihan boy group TREASURE sebagai brand ambassador Ruangguru. Jujurly, menurut saya sangat aneh karena boy group ini tidak memiliki sangkut paut dengan dunia pendidikan.

Masih banyak artis yang terkenal memiliki prestasi akademik semasa sekolah seperti Cha Eun Woo “ASTRO” atau Giselle “aespa” yang lebih bisa merepresentasikan merek tersebut.

Dan anehnya lagi, produk dan jasa yang memakai artis Korea tersebut tidak merambah pasar Koerea Selatan. Saya bisa memaklumi Kopiko yang mengeluarkan uang miliyaran rupiah untuk menjadi sponsor beberapa drama korea, karena mereka memang memasarkan kopi tersebut ke sana.

Tapi, bagaimana dengan Scarlett Whitening? Apakah Anda yakin wajah putih mulus Song Joong Ki didapat dari memakai produk tersebut, lha wong produknya aja tidak ada di sana.

Meski menjadi marketing tool yang efektif, saya berharap Korean celebrity endorsement ini tidak dijadikan tren yang “wajib” diikuti. Masih banyak, kok artis Indonesia yang mampu merepresentasikan sebuah merek, apalagi untuk menjadikan iklan menjadi viral.

Contohnya  pemilihan komika Babe Cabita sebagai brand ambassador menjadikan iklan MS Glow menjadi viral. Meski banyak yang sewot karena Babe Cabita kurang ganteng, tapi menurut iklan tersebut sangat realistis dan relatable. Karena, wajah Babe Cabita yang lebih glowing seusai menggunakan produk MS Glow jauh lebih bisa dipercaya dari pada wajah mulus Song Joongki usai menggunakan skinker lokal, hehe.

 

 

Editor Picks