Belajar Cari Panggung dari Awkarin 0 479

Akhir-akhir ini, entah apa yang merasukiku (plis jangan nyanyi), jari-jari ini memilih berselancar menduduki profil Karin Novilda. Awkarin—entah nama dari mana—lagi gemar-gemarnya muncul ke permukaan linimasa. Foto-fotonya yang membagi konsumsi pada massa aksi, ikut memadamkan api di lokasi karhutla, sampai memberi donasi pada driver ojek online yang kena tipu, mengalahkan seluruh algoritma nan rumit di media sosial, menjajaki trending topic.

Namanya yang melejit lagi akibat aksi sosial yang ia lakukan lantas memicu cap-cap dari warga dunia maya. “Aji mumpung”, “pencitraan”, “cari muka”, atau apapun istilahnya, disematkan pada mbak yang satu ini. Bagi masyarakat kita, cap-cap ini memang berkonotasi negatif. Diksi itu ditujukan untuk orang-orang yang terkenal akibat sensasi dan minim prestasi.

Sesungguhnya, letak kesalahan, menurut penulis, bukanlah pada Awkarin dan segala aksi amalnya. Justru, yang perlu diuji kembali adalah stigma-stigma yang keburu dipandang negatif itu.

Seburuk-buruknya moral Awkarin menurut penilaian ente sekalian (karena dia bertato dan suka berpakaian minim), setidaknya ia mahir mencari kesempatan. Ia sadar betul sudah sejauh apa ketenarannya, memanfaatkannya untuk menimbun pundi-pundi uang, lewat “karya” dan segala endorse yang bisa diusahakan. Dari sana ia berpijak, kemudian berangkat lagi “mencari panggung”, menunjukkan kepedulian dan rasa kemanusiaannya pada situasi bangsa. Ia memanfaatkan pengikutnya, menggerakkannya untuk berbuat kebaikan.

Bukan berarti Awkarin tidak punya kemampuan. Ia seorang gadis belia yang cerdas, dalam pembawaannya ketika diajak berdiskusi topik-topik menyangkut hajat hidup publik. Caranya bicara pun runtut dan sistematis, nampak dari video-video buatannya. Ia bisa saja memanfaatkan nama besarnya untuk membahas perpolitikan dan kebijakan teranyar DPR, layaknya content creator lain.

Nyatanya, Awkarin punya caranya sendiri. Awkarin dengan eksposurnya sadar betul, ia tidak perlu mencoba sok tahu dan berpendapat soal RUU KPK maupun RKUHP, menjadikannya konten di media sosialnya demi adsense. Ia tahu bidang apa saja yang tidak perlu disentuhnya hanya demi mengejar likes dan comment.

Dari Awkarin-lah kita belajar cara mencari dan memanfaatkan peluang. Mengerjakan sesuatu sesuai kapasitas, konsistensi membangun persona, dan berbahagia atasnya.

 

Foto oleh: Karin Novilda (Instagram @awkarin)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kebiasaan Aneh Peserta Webinar (dan Berikut Panitianya) 0 179

Di suatu akhir pekan, pagi hari, saya mengikuti sebuah webinar karena tuntutan pekerjaan. Saya diwajibkan meliput berdasarkan suatu topik yang masih ada hubungannya dengan Covid-19, yang mana pekerjaan ini tentu sudah menjadi sangat jamak di masa pandemi ini.

Dari satu ruang ke ruang lain, dari satu bahasan ke bahasan lain, ada sejumlah kebiasaan peserta onlen yang saya perhatikan selalu bisa ditemui di seluruh webinar. Walau tak seperti pertemuan seminar tatap muka, kolom live chat yang disajikan di platform online sangat memungkinkan peserta saling berinteraksi  dan mengajukan pernyataan kepada admin pembuat pertemuan. Nah, di sanalah, lahir beberapa pola aktivitas yang setidaknya ingin digambarkan penulis sebagai berikut.

Pertama, dalam webinar dalam skala partisipan yang luas, tingkat nasional misalnya, akan banyak sekali peserta yang bergabung. Mereka biasanya dengan sukarela melakukan absen tanpa diminta panitia. Biasanya formatnya akan berupa: nama lengkap – kalau bisa diikuti dengan serenteng gelar dan jabatan, nama instansi yang dicantumkan dengan penuh rasa bangga, lalu diakhiri dengan kata “hadir” atau “izin menyimak”.

Penulis habis pikir sebenarnya apa maksud dan tujuan absensi ini. Mungkin secara teknis, panitia acara butuh melakukan pengukuran terhadap segmentasi peserta yang hadir, demi urusan administrasi dan cairnya uang negara – jika webinar adalah acara pemerintahan dengan anggaran negara yang harus dipertanggungjawabkan. Tapi, ada beberapa webinar yang sesungguhnya tak mengharuskan partisipan melakukan absensi.

Mungkin, Mbah Abraham Maslow benar soal teorinya hierarchy of needs. Dalam dua kebutuhan manusia yang terakhir, setelah kebutuhan pokoknya terpenuhi, adalah pentingnya pengakuan dari orang lain. Menunjukkan eksistensi, dengan kebanggaan jabatan dan nama besar instansi yang diwakili, mungkin digunakan untuk membayar gengsi dan harga diri di kolom live chat.

Mungkin hal ini tak bisa dipenuhi oleh mereka yang suka “pamer” di seminar tatap muka. Mereka yang punya kebiasaan bertanya, berpendapat di muka umum, mencari muka di depan narasumber, tak dapat melakukannya lagi di kala pandemi menghalangi pertemuan-pertemuan. Kolom live chat inilah yang barangkali memenuhi kehausan mereka ini.

Harapannya sih, kebutuhan mendapat pengakuan ini tak hanya berhenti di sini. Ada baiknya, penyebutan nama dan gelar serta nama lembaga itu menjadi awal mula diskusi sehat di kolom chat. Inilah kebutuhan tertinggi manusia menurut Maslow: aktualisasi diri. Ia bukan sekadar menunjukkan diri, tapi berusaha mengembangkan potensi, sehingga nantinya mencapai pemenuhan karakter, kepekaan terhadap kebenaran, keindahan, keadilan, dan sebagainya secara paripurna.

Kedua, yang tak kalah mengherankannya adalah jika gelar dan jabatan dalam instansi tempat bekerja tak bisa jadi kebangaan, paling tidak peserta biasanya menyebut “salam dari…” diikuti kota asal. Nah, yang satu ini juga tak tahu apa juntrungannya. Apa mungkin ini adalah buah dari etnosentrisme yang ada dalam habitus bangsa ini? Yang walaupun disatukan oleh Pancasila dan Sumpah Pemuda, tapi tetap ada suatu kebanggaan berlebih akan daerah asal atau kota kelahiran. Muaranya, tak jarang adalah “reuni” himpunan-himpunan perantau secara virtual.

Atau bisa jadi absensi nama dan kota asal ini justru memberi makan harga diri panitia penggelar webinar. Seakan-akan webinar dan berikut manfaat dari materi yang dibawakannya, telah didengar seluruh perwakilan dari Sabang sampai Merauke. Padahal, pun satu-dua orang yang mengaku berasal dari daerah tertentu, belum tentu bisa menjadi perwakilan karakteristik dan suara daerah yang bersangkutan.

Ketiga, jarang sekali ada komentar mengapresiasi konten atau penggelar acara yang sudah bersusah-payah memungkinkan webinar terjadi di dunia maya. Kalaupun ada, biasanya paling banter ya mek “Alhamdulillah, materinya keren sekali. Terima kasih pemateri dan panitia!”

Padahal, webinar seharusnya sama marwahnya seperti seminar tatap muka. Peserta seharusnya tak sekadar hadir, tapi terlibat dalam diskusi aktif agar materi yang disampaikan bukan hanya deklarasi yang cukup di telinga saja. Materi dalam webinar adalah wacana yang masih bisa diperdebatkan.

Namun, karena keterbatasan durasi dan sempitnya ruang diskusi yang disediakan para penggelar webinar, atau mungkin hanya formalitas “pokoknya ada acara buat ngabisin anggaran 2020”, kolom chat adalah tempat yang kering ilmu dan dinamika.

Katanya, teknologi komunikasi kita, media sosial kita ini, adalah wadah member kesempatan mereka yang selama ini tak punya akses bicara. Nyatanya, webinar tak ubahnya seminar dan media mainstream kita. Hanya mereka yang punya nama, jabatan, keahlian, dan modal, yang bisa bicara sebagai narasumber. Sisanya, kita-kita para netijen budiman cuma bisa numpang “absen” di kolom live chat.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

 

Ruwetnya Kerja dengan Orang Jawa 0 386

Jika pembaca sedang melamar pekerjaan dan mengetahui bos Anda adalah orang Jawa, atau Anda sebagai atasan dan seorang pelamar kerja imut-imut bau kencur yang akan jadi bawahan adalah orang Jawa, sebaiknya mengambil ancang-ancang 10 ribu kali. Jika perlu, berpuasalah 3 siang-malam untuk mendapat ilham cara bertahan hidup ke depannya.

Bekerjasama dengan orang Jawa itu ruwet. Ini adalah keniscayaan.

Sebab, (kami) orang Jawa adalah suatu suku di muka bumi ini yang diberi kelebihan oleh Sang Kuasa sebagai orang-orang perasa.

Kami sarankan kepada para bos, mohon kalau bicara atau memberi perintah jangan sambil berteriak. Usahakan volume suara Anda tetap dalam tataran normal ke sedang, tidak terlalu pelan untuk bisa didengar, namun juga tidak terlalu kencang sampai membuat jantung copot. Sebab mendengar suara bos membentak-bentak membuat hati kami ciut, terlepas dari karakter vokal dan kebiasaan sehari-hari sang pemilik suara.

Selain berteriak, bos-bos yang hobi bicara lembut tapi nyelekit juga suatu tantangan bagi kami. Walau mungkin konteks pembicaraan adalah dalam lingkup profesionalitas kerja, tanpa menyinggung persona, kami akan menyimpannya dalam hati dan kepikiran sampai berhari-hari. Secuil kesalahan kami yang dikoreksi atasan dengan kritikan pedas, rasanya seperti telah memporak-porandakan seluruh imej dan karir.

Kami peringatkan juga untuk para bos agar cukup tegar hatinya. Karena kami, para pegawai kelas menengah akan kerap ngrasani di belakang. Kami tak punya cukup nyali untuk berargumen di depan bos. Alasannya, tentu karena kami sangat menjunjung tinggi unggah-ungguh bersikap dengan atasan. Sebaliknya, kami terbiasa mbendol mburi. Cacat-cela – sekecil apapun – akan menjadi bahan rasan-rasan kami ketika ngopi bareng.

Sesungguhnya, selain dengan bos, keruwetan itu juga terjadi dalam hubungan yang sederajat. Dalam berbagai proyek, kami dituduh klemar-klemer. Kalian perlu tahu, wahai fellow buruh bayaran, ini bukan karena kami tak tangkas bekerja, tapi karena mengutamakan kehati-hatian. Kami berpikir sebelum bicara, bukannya gamang. Penuh perhitungan sebelum bertindak, bukan bimbang.

Persoalan pelik lain dengan sesama karyawan, tentu saja perihal penggunaan bahasa. Padahal komunikasi yang baik adalah koentji kekompakan dalam lingkungan kerja. Namun, tak jarang kami kesulitan menerjemahkan maksud kami ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa gaul lain yang bisa dipahami secara nasional.

Terkadang yang ada di otak maunya melontarkan satu kalimat utuh atau pendeskripsian situasi dalam bahasa Jawa, tapi sadar betul bahwa lawan bicara kemungkinan besar tak akan mengerti. Butuh setidaknya 5 detik supaya otak dapat meng-google-translate­-kannya. Jangan heran bila dalam percakapan sehari-hari, ada jeda waktu yang tercipta dari antara jawaban-ke-jawaban yang keluar dari mulut kami. Tentu, proses internal kami memakan waktu dan tenaga yang tak sedikit.

Lha wong buat ngobrol biasa saja kami ngos-ngosan beradaptasi, apalagi mau bercanda.

Beberapa permasalahan yang telah dijabarkan di atas, belum termasuk fakta-fakta di lapangan bagi kami yang bekerja di ibu kota. Mendengar logat kami yang khas, dengan penekanan huruf mati yang muanteb (baca: medhok), sesama karyawan biasanya akan bertanya “Asalnya dari mana? Dari Jawa ya?”

Entah apa maksud pertanyaan ini, benar ingin tahu atau menertawakan logat kami yang unik. Pun pertanyaan ini sungguh lucu dan menampik kenyataan bahwa ia, yang bertanya, dan tempat kami berdiri ini, juga namanya Pulau Jawa.

Tapi tak mengapa. Pengalaman yang terakhir itu wajar adanya. Sama seperti gaya bicara ke-Jakarta-jakarta-an yang terdengar di tongkrongan tempat asal saya, yang terdengar asing dan menggemaskan.

Oh iya, di Pulau Jawa yang maha-sempit namun sok-sokan menjadi pusat dunia ini, ada beragam variasi orang Jawa dengan segala kelakuannya di tempat kerja. Barangkali, yang tertulis di sini adalah kisah satu jenis orang Jawa saja.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks