Belajar Cari Panggung dari Awkarin 0 842

Akhir-akhir ini, entah apa yang merasukiku (plis jangan nyanyi), jari-jari ini memilih berselancar menduduki profil Karin Novilda. Awkarin—entah nama dari mana—lagi gemar-gemarnya muncul ke permukaan linimasa. Foto-fotonya yang membagi konsumsi pada massa aksi, ikut memadamkan api di lokasi karhutla, sampai memberi donasi pada driver ojek online yang kena tipu, mengalahkan seluruh algoritma nan rumit di media sosial, menjajaki trending topic.

Namanya yang melejit lagi akibat aksi sosial yang ia lakukan lantas memicu cap-cap dari warga dunia maya. “Aji mumpung”, “pencitraan”, “cari muka”, atau apapun istilahnya, disematkan pada mbak yang satu ini. Bagi masyarakat kita, cap-cap ini memang berkonotasi negatif. Diksi itu ditujukan untuk orang-orang yang terkenal akibat sensasi dan minim prestasi.

Sesungguhnya, letak kesalahan, menurut penulis, bukanlah pada Awkarin dan segala aksi amalnya. Justru, yang perlu diuji kembali adalah stigma-stigma yang keburu dipandang negatif itu.

Seburuk-buruknya moral Awkarin menurut penilaian ente sekalian (karena dia bertato dan suka berpakaian minim), setidaknya ia mahir mencari kesempatan. Ia sadar betul sudah sejauh apa ketenarannya, memanfaatkannya untuk menimbun pundi-pundi uang, lewat “karya” dan segala endorse yang bisa diusahakan. Dari sana ia berpijak, kemudian berangkat lagi “mencari panggung”, menunjukkan kepedulian dan rasa kemanusiaannya pada situasi bangsa. Ia memanfaatkan pengikutnya, menggerakkannya untuk berbuat kebaikan.

Bukan berarti Awkarin tidak punya kemampuan. Ia seorang gadis belia yang cerdas, dalam pembawaannya ketika diajak berdiskusi topik-topik menyangkut hajat hidup publik. Caranya bicara pun runtut dan sistematis, nampak dari video-video buatannya. Ia bisa saja memanfaatkan nama besarnya untuk membahas perpolitikan dan kebijakan teranyar DPR, layaknya content creator lain.

Nyatanya, Awkarin punya caranya sendiri. Awkarin dengan eksposurnya sadar betul, ia tidak perlu mencoba sok tahu dan berpendapat soal RUU KPK maupun RKUHP, menjadikannya konten di media sosialnya demi adsense. Ia tahu bidang apa saja yang tidak perlu disentuhnya hanya demi mengejar likes dan comment.

Dari Awkarin-lah kita belajar cara mencari dan memanfaatkan peluang. Mengerjakan sesuatu sesuai kapasitas, konsistensi membangun persona, dan berbahagia atasnya.

 

Foto oleh: Karin Novilda (Instagram @awkarin)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nilai yang Telah Lama Hilang Itu Bernama ‘Kesopanan’ 0 254

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

 

Rachel Vennya, Buna kita semua, terbukti bersalah karena kabur dari karantina dan menyuap petugas satgas dan kroni-kroninya. Meski cukup fatal, kita semua tahu, Rachel mendapat hukuman  hanya penjara 4 bulan, sesuai vonis hakim tanggal 10 Desember lalu.

Hukuman ini memang sudah hasil potongan diskon seperti layaknya department store saat akhir tahun. Kata hakim, karena Rachel, pacarnya, dan manajernya sebagai terdakwa bersikap kooperatif, tidak berbelit-belit, dan SOPAN.

Banyak yang kemudian menghujat, menganggap hukuman ini terlalu ringan untuk orang yang dengan seenaknya melanggar peraturan dan merasa bisa membeli hukum dengan uang.

Di satu sisi, fans garis keras inpluenser ini bersyukur, sebab idolanya tak perlu menanggung kesusahan yang terlalu berat. Buna berhak bahagia, katanya.

Sementara pihak lain yang netral-netral aja, gak ngefans ataupun gak benci-benci banget, lebih suka menyebar meme “Rachel sopan ke Hakim”, yang dikaitkan dengan nama “Hakim” mantan suami Rachel. Meme ini memang lucu, tapi sekaligus bisa kita simpulkeun menjadi kritik pedas netijen mahabenar di dunia maya. Sebab hukum di Indonesia ini, apapun bentuk dan latar belakang kasusnya, memang lucu dan selalu meme-able.

Tapi, yang perlu kita perhatikan di sini adalah soal SOPAN. Bagaimana bisa aspek itu begitu penting, dan disebut-sebut hakim dalam persidangan Buna, hingga meringankan hukuman?

Hukum itu adil. Ada hal yang bisa memberatkan, tapi ada juga yang bisa meringankan. Berdasarkan penelusuran penulis ke Mbah Gugel, ada beberapa poin yang bisa meringankan hukuman pidana seperti kasus Mbak Rachel ini. Di antaranya ada terdakwa belum pernah dihukum, merupakan tulang punggung keluarga, sudah berusia lanjut dan sakit-sakitan, mengakui dan menyesali perbuatan, dan BERSIKAP SOPAN.

Kita yang awam soal hukum ini, sebaiknya tak perlu menentang peraturan dan pertimbangan mengapa kesopanan termasuk dalam kriteria peringanan hukuman. Kita juga tidak mungkin dong, menanyakan, “Memang cara menilai kesopanan terdakwa tuh gimana?”. Karena kita bukan jaksa, pengacara, apalagi hakim.

Tapi, kita masih punya celah untuk merenungkan: jika sopan dianggap sikap yang penting dan dipertimbangkan, ke mana memangnya ia selama ini?

Kata bule-bule yang melancong ke negara ini, rakjat Indonesia ini adalah yang paling ramah dan sopan. Bahkan kesopanan sudah jadi brand image, stigma yang melekat pada kita di mata dunia. Lantas mengapa kesopanan kini malah menjadi aspek yang diapresiasi tinggi, hingga dalam meja hijau persidangan? Bukankah semua orang memang harus sopan pada siapapun dan dalam kondisi apapun?

Gak usah jauh-jauh dan ndakik-ndakik. Kita ambil contoh kasus yang paling dekat. Kalau kamu namu ke rumah camer, kalau kamu sopan, sudah pasti mampu meluluhlantakkan tembok pertama. Waktu doi dan orang tuanya lagi ngobrol internal keluarga dia pasti akan bilang, “Anaknya baik kok, sopan”.

Kita kini berada pada titik takjub ketika ada orang lain yang sopan. Seakan “sopan” adalah barang langka.

Saya pun jadi ingat masa-masa kuliah. Di kampus, ada banner besar yang dipasang di jalanan masuk kelas. Isinya adalah imbauan, “Etika Berkomunikasi dengan Dosen via Whatsapp”. Kalau di jaman serba online seperti sekarang, mungkin imbauan ini ditransfer ke dalam bentuk video tutorial di Youtube. Etika berbicara, yang sudah kita latih dan lakukan sejak bayi, bahkan harus selalu diajarkan dan diingatkan. Kesopanan kita dengan seseorang bahkan kini menjadi softskill, nilai plus yang dipertimbangkan bos saat merekrut karyawan di perusahaannya.

Kemanakah fungsi keluarga sebagai pendidik utama dan pertama ini? Bukankah dari proses sosial dalam keluarga, kesopanan itu jadi aspek yang otomatis terbentuk, dan lantas dibawa ke mana pun manusia ini hidup di bumi?

Apakah memang benar, masyarakat seperti kita ini, memang mudah lupa? Termasuk lupa ajaran dan caranya sopan?

Selama kesopanan dalam konteks formal maupun informal masih jadi barang yang diapresiasi lebih, maka selama itu pula menjadi pembuktian bahwa kita telah lama kehilangan kesopanan itu.

Semua Akan Korea Pada Waktunya, Tapi Gak Gini Juga 0 249

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

 

“Semua akan Korea pada waktunya”, begitulah kalimat yang dapat mewakili kondisi masyarakat negara +62.

Sempat menghina K-pop-ers dengan sebutan alay karena dianggap mengidolakan artis-artis negeri ginseng, kini wajah mulus tak bercela para artis Korea ramai kita jumpai di iklan-iklan merek lokal. Bisa dibilang para artis Korea tersebut dijadikan koentji dalam marketing produk dan jasa.

Kapan hari, internet diguncang berita aktris Felicya Angelista yang diwujudkan ngidamnya oleh sang suami untuk video call bersama pemeran Mas Mafia Vincenzo, Song Joong Ki (baca lagi: Wajah Ganteng Song Joong Ki dan Tabiat Penonton Drama Korea).

Usai viral karena dianggap fan yang beruntung, muncullah berita aktor “Space Sweepers” tersebut didapuk sebagai brand ambassador skinker milik Felicya, Scarlett Whitening. Hancik, cuma marketing ternyata. Hampir bersamaan, muncul lagi berita yang menyebutkan bahwa boy group TREASURE akan menjadi brand ambassador bimbingan belajar online “penguasa” stasiun televisi kita, Ruangguru.

Pemilihan artis Korea sebagai brand ambassador merek lokal bukanlah hal baru.  Tahun 2016 silam, aktor “The Heirs” Lee Min Ho didapuk jadi brand ambassador Luwak White Koffie. Kemudian, cara ini diikuti oleh Mie Sedap yang menjadikan Siwon “Super Junior” sebagai brand ambassador-nya untuk mempromosikan mie rasa ayam pedas korea. Lalu, disusul Tokopedia yang membuat kita ter-kamcagiya (kaget) dengan menggandeng boy group terpopuler segalaksi bima sakti dalam promosinya.

Memang menggandeng artis Korea bisa menjadi jalan ninja untuk mempopulerkan merek produk atau jasa. Merek tersebut akan seketika menjadi buah bibir para fans artis Korea, baik membicarakan artis idola mereka atau sangking tajir melintirnya perusahaan tersebut.

Buktinya, permen Kopiko selalu menjadi buah bibir dan viral setiap permen rasa kopi tersebut muncul di adegan-adegan drama Vincenzo dan Mine. Benar-benar tidak rugi setelah menggelontorkan miliyaran rupiah!

Selain menjadi populer, produk atau jasa dijamin akan laris manis setelah memilih artis Korea sebagai bintang iklan mereka. Itu karena kesetiaan para fans artis Korea untuk mendukung artis idola mereka yang tidak dapat diragukan lagi.

Masih ingat kan dengan kasus antre menu BTS Meal dari McDonald’s? Jangankan dijadikan bintang iklan, lha wong barang yang “nampil” di siaran langsung artis Korea saja bisa ludes dibeli para fans.

Mungkin Korean celebrity endorsement bisa menjadi marketing tool yang sangat efektif, tapi mbok ya artisnya disesuaikan dengan mereknya. Misalnya, pemilihan boy group TREASURE sebagai brand ambassador Ruangguru. Jujurly, menurut saya sangat aneh karena boy group ini tidak memiliki sangkut paut dengan dunia pendidikan.

Masih banyak artis yang terkenal memiliki prestasi akademik semasa sekolah seperti Cha Eun Woo “ASTRO” atau Giselle “aespa” yang lebih bisa merepresentasikan merek tersebut.

Dan anehnya lagi, produk dan jasa yang memakai artis Korea tersebut tidak merambah pasar Koerea Selatan. Saya bisa memaklumi Kopiko yang mengeluarkan uang miliyaran rupiah untuk menjadi sponsor beberapa drama korea, karena mereka memang memasarkan kopi tersebut ke sana.

Tapi, bagaimana dengan Scarlett Whitening? Apakah Anda yakin wajah putih mulus Song Joong Ki didapat dari memakai produk tersebut, lha wong produknya aja tidak ada di sana.

Meski menjadi marketing tool yang efektif, saya berharap Korean celebrity endorsement ini tidak dijadikan tren yang “wajib” diikuti. Masih banyak, kok artis Indonesia yang mampu merepresentasikan sebuah merek, apalagi untuk menjadikan iklan menjadi viral.

Contohnya  pemilihan komika Babe Cabita sebagai brand ambassador menjadikan iklan MS Glow menjadi viral. Meski banyak yang sewot karena Babe Cabita kurang ganteng, tapi menurut iklan tersebut sangat realistis dan relatable. Karena, wajah Babe Cabita yang lebih glowing seusai menggunakan produk MS Glow jauh lebih bisa dipercaya dari pada wajah mulus Song Joongki usai menggunakan skinker lokal, hehe.

 

 

Editor Picks