Habis Aksi Terbitlah Sanksi 0 253

Suhu politik kembali memanas akhir-akhir ini. Bukan, bukan karena friksi di antara elit politiknya, namun antara yang katanya wakil rakyat dengan rakyatnya ihwal sejumlah RUU. Bagaimana tidak? Isi RUU yang dibuat DPR tercinta kita (mohon baca sendiri isinya apa saja biar lebih greget) sangat-sangat tidak masuk akal.

Dalam rangka menolaknya, banyak mahasiswa turun ke jalan untuk berdemonstrasi di sejumlah kota seperti Jakarta , Medan, Surabaya, dan kota-kota lainnya. Mereka menuntut untuk merevisi RKUHP, UU KPK, RUU Ketenagakerjaan, RUU Pertahanan; segera mengesahkan RUU PKS; stop kriminalisasi aktivis; serta mengusut dan mengadili elite-elite yang bertanggung jawab atas sejumlah kerusakan lingkungan, terutama pembakaran hutan di Riau belakangan ini.

Hal ini sesuai dengan peran mahasiswa sebagai agent of change, social control, penyampai aspirasi rakyat, penyambung lidah pemerintah, dan kontrol politik. Sejumlah universitas tak melarang dan mendukung aksi mahasiswanya. Bahkan, beberapa dosen juga memberi tugas yang mengharuskan mahasiswanya untuk ikut aksi. Swangar!

Namun, Menteri  Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir mengancam akan memberi sanksi kepada rektor-rektor yang mendukung mahasiswanya ikut aksi, “Rektornya ya, kami akan beri sanksi. Dosennya nanti rektor kan. Kalau dia (dosen) tidak menindak, ya rektornya akan kami tindak,”  tukasnya di kompleks Istana Negara pada Kamis (226/9).

Ia berpendapat bahwa tak ada bedanya mahasiswa yang sejatinya berpendidikan dengan mereka yang tak berpendidikan apabila menyuarakan pendapatnya lewat demo.  Entah apa yang merasukinya (dilarang baca sambil nyanyi).

Ada sejumlah alasan mengapa saya tak setuju dengan pemberian sanksi tersebut. Pertama, demonstrasi bukan tindakan yang ilegal selama mengikuti prosedur yang ada. Demonstrasi adalah salah satu cara kita menyampaikan pendapat dan aspirasi. Hak untuk menyuarakan pendapat dilindungi oleh negara sebagaimana tercantum dalam UUD 1945 Pasal 28E ayat 3 dan UU No. 9 1998 tentang menyuarakan pendapat di muka umum.

Kalau  tak ada aksi demonstrasi besar-besaran di depan gedung DPR dan DPRD, saya tak yakin adanya forum yang mempertemukan perwakilan mahasiswa dengan Wakil Ketua DPR tercinta kita Fahri Hamzah di Mata Najwa dan Indonesia Lawyers Club, bahkan akhirnya Presiden RI Joko Widodo.

Selama tak ricuh dan substansinya jelas, demonstrasi sah-sah saja, bukan? Toh kericuhan yang terjadi kebanyakan ulah penyusup dan oknum-oknum provokator yang sebenarnya tak ada di agenda aksi demo mahasiswa. Saya menilai sanksi ini salah alamat. Harusnya sanksi diberikan kepada mereka yang bertindak anarkis. Kalau sekadar menyuarakan aspirasi dan kritik, kenapa diberi sanksi?!

“Saya anjurkan mahasiswa kembali ke kampus untuk kuliah yang baik. Supaya kita bisa menjadi lulusan yang baik yang bisa berkualitas, memiliki daya saing. Negara lain sudah bersaing untuk era digital yang baik, kita masih turun di jalan. Nah ini yang penting.”  Dari pernyataan Menristekdikti, saya menilai beliau lupa bahwa mahasiswa punya peran sebagai agent of change, social control, penyampai aspirasi rakyat, penyambung lidah pemerintah, dan kontrol politik. Jadi bukan sekadar cari ijazah untuk melamar kerja! Percuma ya khan kalau IPK 4,57 tapi gak peka kalau ada sesuatu yang salah di pemerintahan kita.

Selanjutnya, menyuruh mahasiswa tak ikut campur dengan politik negeri membawa kita kembali ke Orde Baru (Orba) 2.0. Pemerintah lewat Menristekdikti kembali mencoba membungkam sikap kritis mahasiswa. Kalau sanksi diberikan kepada rektor bila mendukung aksi, bukan tak mungkin lama-lama semua universitas di negeri ini mengharamkan mahasiswanya untuk berdemonstrasi. Perlu diingat, demonstrasi dari mahasiswalah yang melepaskan Indonesia dari kurungan Orba.

Dan penting untuk dicatat! Justru bila kita bungkam saat membaca RUU yang akan disahkan, UU KPK yang sudah disahkan, kriminalisasi aktivis, pengesahan RUU PKS dan kebakaran hutan yang tak jelas kelanjutannya, berarti kesehatan otak kita sudah terganggu.

Saya harap, para rektor yang pernah menjadi mahasiswa  tidak berhenti untuk terus mendukung mahasiswa menjalankan perannya selain absen-lulus-cari kerja.

 

Foto oleh: Mohamad Nasir (Instagram @mohamad.nasir27)

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tak Ada Kejutan di Comeback Tonight Show 0 215

“Tonight’s mania??? Mantap!!”

Slogan begini sudah bisa ditemui lagi di layar kaca, ya? Bukannya kemarin sedih-sedihan setelah 7 tahun beracara dan malah berpamitan?

1 Juni kemarin acara Tonight Show di stasiun televisi yang mengklaim dirinya sebagai “masa kini” sudah bisa kembali dinikmati pemirsa. Memenuhi keinginan penonton garis kerasnya yang minta ditayangkan lagi barangkali menjadi salah satu alasan.

Sebelum wajah barunya yang sekarang, Tonight Show versi Indonesia – kita semua tahu kan, ada Tonight Show with Jimmy Fallon versi NBC – ini sudah berkali-kali ganti formasi. Sempat dibawakan oleh Arie Untung, juga diisi Aurellie sebagai co-host. Hingga akhirnya formasi yang empat orang sekarang ini – Vincent, Desta, Heti, Enzy – menjadi yang katanya paling difavoritkan penonton.

Perlu diakui memang, kemistri di antara mereka seakan nampak nyata di depan kamera. Kata netijen “ketawanya nular”. Tipikal host rame-an yang banyak melempar joke internal, namun mampu dipahami se-Indonesia raya.

Saat mengaku pamit 25 April lalu, mereka sebetulnya tidak benar-benar hilang dari peredaran dunia hiburan. Mereka membangun platform online, menghelat channel Youtube, yang belum ada kontennya saja sudah meraup 500 ribu lebih subscribers. Beda jauh kan sama kalian yang sudah tahunan juga subscribernya segitu-segitu aja. Thanks to nama besar dan popularitas.

Selama bulan puasa kemarin, mereka rajin menggelar live streaming dengan maksud menyapa para fans yang terkenal militan. Fans-nya bukanlah sebuah fandom biasa. Mereka bukan hanya yang setia menonton dan menunggu live Youtube, tapi bahkan telah berkumpul, saling bertemu, dan menggelar aksi penggalangan dana dalam rangka penanggulangan dampak pandemi.

Keempat figur publik ini sadar, bahwa televisi bukanlah satu-satunya yang bisa diandalkan di hari-hari ini. Bahwa semua saja harus mulai merayu pengguna dunia maya, memperkenalkan diri, membangun kerajaan bisnis di dalamnya.

Jika dulu “waktu” adalah musuh paling kuat di dunia, kini ia disubstitusi oleh “netijen”. Sebab netijen lah yang punya kemerdekaan menentukan jenis tayangan apa yang hendak ditonton, kapan dan di mana akan menyaksikannya. Konsekuensinya tentu pula menentukan nasib hajat hidup pekerja dunia hiburan.

Hal ini pun sudah disadari perusahaan media televisi. Pemilihan jam tayang di pukul 7 malam alias prime time, mengadu domba penonton sinetron dan acara dengan penonton bayaran di channel sebelah, bukan tanpa alasan. Mereka sadar betul, segmentasi penonton mereka adalah masyarakat urban penggemar on demand, TV kabel atau Youtube.

Tenang. Mereka tahu betul strategi apa yang harus diambil dalam perang ini. Bintang tamu dipilih dengan seksama.  Nassar saat tayangan edisi lebaran dan Rina Nose di pembukaan Juni. Merekalah yang punya daya tarik, yang mampu menggoda penonton untuk mengambil remot TV, yang membuat penonton mengganti channel demi seorang idola.

Selamat datang Iis Dahlia, Soimah, Raffi Ahmad, Ruben Onsu, dan Vicky Prasetyo! Bukan tidak mungkin kan, mereka adalah alternatif bintang tamu selanjutnya?

Dalam peperangan ini, musuh program-program televisi adalah mereka yang jatuh dalam dunia streaming dan anti-FTA (free to air). Sesungguhnya segala ragam games atau pertaruhan menggelar gimmick akan sia-sia belaka di hadapan kuasa netijen.

Musuh media mainstream kini adalah media online, sang adikuasa yang tak masuk hitungan rating and share Nielsen. Pilihannya ada dua: adaptasi atau mati.

Pada akhirnya, Tonight Show adalah satu lagi catatan tentang media kita yang berdilema antara bisnis dan idealis. Tidak ada yang baru bukan? Tak ada yang mengejutkan.

Mengapa Kita Perlu Belajar Desain dari Warung Penyetan 0 525

Oleh: Rafif Taufani*

 

Salah satu hal yang lumrah dilakukan mahasiswa tingkat akhir tentu saja magang. Saya lantas mencari lowongan magang sebagai desainer di beberapa platform web. Lewat berbagai situs dan aplikasi, saya berselancar melihat berbagai lowongan dengan syarat-syarat yang cukup mengintimidasi.

Saya melihat bahwa kebutuhan industri kreatif kini bukan hanya soal bisa Adobe Photoshop/Illustrator. Tetapi juga perihal branding, dan membuat perencanaan desain dari hulu ke hilir atas permintaan klien.

Seringkali kalau melihat website perusahaan kece ini, saya disuguhkan dengan portofolio brand atau produk yang mereka layani. Sungguh beragam dan dengan capaian yang luar biasa. Salah satu creative agency malah terang-terangan memperlihatkan berapa banyak engagement dan ketertarikan konsumen digital setelah mereka lakukan branding pada produk milik klien.  Seluruh prestasi ini tentu patut diajungi jempol.

Di tengah membuka seluruh profil perusahaan ini, justru pertanyaan tersempil ke benak saya mengenai desain grafis secara keseluruhan dan efek sosialnya. Signifikansi industri kreatif semakin menampakkan taringnya di era digital. Semua orang berbondong-bondong menjajakan produknya di platform digital. Bahkan, warung-warung giras sudah menerima pesanan via online berkat jasa seorang Nadiem Makarim.

Maka di tengah zaman yang serba modern ini, branding bukan hanya jadi urusan platform saja, melainkan harus dipikirkan pemilik warung penyetan sekalipun. Namun optimasi produk dan pemasaran yang tepat nampaknya diabaikan pemilik warung penyetan dan giras.

Tapi, mari bayangkan skenario di mana justru sentuhan ‘modernisasi’ ini mungkin tidak seberapa diperlukan. Toh kalau diperhatikan, penyetan dan giras tetap tidak pernah sepi. Mereka siap sedia menyediakan suguhan makanan yang bisa dikonsumsi dengan harga murah dan ada di mana-mana.

Semua itu terjadi secara natural tanpa harus desain bagus, atau branding, atau laporan riset target. Mereka hanya perlu mencari lokasi strategis dan pelanggan akan dengan mudah datang dan menghampiri.

Kita boleh saja bicara banyak soal branding dan desain grafis. Tetapi bagaimana kalau klien yang datang ke agensi digital bukan merk ternama? Melainkan adalah seorang pedagang warung penyetan yang minta di-branding lagi untuk target pasar masyarakat luas? Mungkin pendekatan kita yang terlampau ‘modern’ ini bisa bisa tidak cocok untuk mereka.

Desain grafis dan dunia agensi selalu digambarkan sebagai pekerja yang dinamis, gaul, dan jauh dari aspek komunal. Padahal desain dan branding selalu ada di setiap lini kehidupan. Usaha warung penyetan dalam mendesain spanduknya adalah contoh yang baik.

Soal branding warung giras dan penyetan, penjual cukup menjadi ramah pada pelanggannya, menyajikan tempat duduk yang pokoknya bisa buat makan berlima saja, sudah bikin orang nyaman. Lalu soal target market, mereka tidak perlu cari-cari lagi. Cukup membuka usaha mereka dekat jalan besar, dan voila, mereka dapat pelanggan dengan demografi cukup luas.

‘Agensi’ desain warung giras dan penyetan adalah contoh nyata yang tidak bisa diremehkan agensi-agensi di Indonesia. Mereka mengembalikan fitrah sebuah produk/jasa pada satuan yang sederhana, yaitu membuat pelanggan nyaman dan kenyang. Mereka tidak menyediakan dekorasi yang wow karna ekspektasi pelangannya juga tidak mengharapkan demikian.

Warung giras dan penyetan juga punya jasa besar untuk menghancurkan dinding pemisah antara pemilik usaha dan pelanggannya. Bila kamu merasa kopimu kemanisan di warung giras, kamu tidak perlu menulis review jelek secara online. Tinggal bilang saja ke penjaga warung dan kemungkinan besar kamu akan dibuatkan kopi lagi atau minimal orangnya minta maaf.

Justru di warung giras dan penyetan lah, kita dapat melihat banyak pelanggan merasa didengar, suatu usaha yang agensi digital perlu waktu berbulan-bulan untuk melakukannya.

Sama halnya dengan desain. Lukisan warung penyetan itu selain iconic juga contoh copy writing yang bagus. Tanpa perlu bertele-tele dengan slogan dan penjelasan keunggulan. Cukup dengan tulisan ‘penyetan’ dan gambar menu saja sudah cukup.

Siapa pula yang tidak kenal lukisan ilustrasi ikan lele, ayam, dan bebek pada warung penyetan? Desain iconic itu sederhana, namun lekat di benak kita.

Untuk promosi? Pelanggan mereka semua adalah brand ambassador gratis yang akan mempromosikan produk secara sukarela. Selain merekomendasikan pada temannya, mereka juga bisa bisa mengajak makan teman dan keluarga mereka ke warung.

Ini sekaligus mengingatkan kita bahwa branding adalah hal yang sudah dilakukan sejak lama. Usaha untuk branding adalah urusan grass root. Kenyataan selalu ada dari unit terkecil dari sebuah produk, yaitu pelanggannya, so listen to them!

 

*Penulis tinggal di Surabaya dan banyak melakukan eksperimentasi terkait seni kolase

 

Foto: Letter warung (letterwarung.blogspot.com)

Editor Picks