JOKER: Film Biasa Saja yang Menerima Apresiasi Berlebihan 0 595

Seminggu yang lalu, saya datang ke bioskop, menerima ajakan seseorang untuk menonton Joker. Kata banyak teman sebelum kami memasuki gedung bioskop, film ini uwapik. Tak ada duanya bila dikompetisikan ke Oscar. Saya pun menjadi agak skeptis, apa benar memang begitu nantinya. Dan seseorang yang bersama saya turut merasakan hal yang sama.

Saya mempertaruhkan malam itu dengan dua tiket seharga sembilan puluh ribu. Angka yang cukup tinggi bagi saya yang hobinya ngopa-ngopi tiap hari di warkop pinggir kali rendahan. Tapi toh tak ada salahnya untuk melihat sebuah aksi dari seorang Joaquin Phoenix, pikir saya. Meski saya tak berharap banyak pada sutradaranya.

Film dibuka dengan memperlihatkan biografi tubuh Arthur, yang kelak menjadi Joker. Arthur punya tubuh yang kurus. Penonton akan sangat mudah melihat bagaimana tulang-tulang yang berada di balik lapis kulitnya menjadi mencolok ketika Arthur sedang bergerak. Atau ketika dirinya berjalan dengan agak membungkukkan punggung atau saat sedang menari.

Arthur adalah seorang lelaki yang dibesarkan oleh janda miskin, Penny. Kondisi atas kemiskinan ini kemudian membuat Penny mengirim surat kepada mantan kekasihnya yang sukses menjadi tokoh terpandang di Gotham, Thomas Wayne, untuk memberi perhatian padanya dan dapat memudahkan hidup Penny dan Arthur melalui bantuan ekonomi. Walau Penny sudah sekarat, Thomas Wayne tak kunjung menemui Penny karena menurut cerita, Penny hanyalah orang yang memiliki riwayat gangguan jiwa dan kisah-kisahnya dengan Thomas Wayne adalah rekayasa belaka.

Hingga akhirnya Arthur membuka surat itu diam-diam ketika ibunya tak sengaja meninggalkannya di atas meja. Semestinya ini bisa saja dilakukan oleh Arthur jauh-jauh hari, mengingat sudah tak terhitung jumlah surat yang dikirim ibunya melalui Arthur, dan mengingat mereka tinggal berdua sudah cukup lama. Terlebih ketika membuka surat itu, wajah Arthur tak menampilkan ketegangan sama sekali. Selain seperti anak kecil yang kebetulan menemukan cokelat di lantai rumahnya. Artinya, Arthur memang sejak semula tak memiliki kekhawatiran apa pun tentang isi surat. Dengan demikian Arthur bisa membacanya kapan saja.

Adegan dibukanya isi surat tersebut oleh Arthur, sama mudahnya saat menebak ketika Arthur mengejar segerombolan anak kecil yang mencuri papan badutnya. Lalu pada saat pengejaran tersebut Arthur menyeberang jalan dan karena tak berhati-hati dirinya pun harus ditabrak oleh kendaraan yang sedang melintas. Klise. Semata-mata untuk membuka nuansa getir ke dalam film.

Dan yang lebih aneh lagi, tentang proses transisi ketika Arthur menjadi Joker. Apa hanya karena dia memiliki pistol, dan menyadari tak ada lagi yang ia punya maka tak ada lagi yang menyakitinya, lantas membuat dirinya harus menjadi seorang kriminal? Bahkan dialog yang begitu lama terbayang di benak para penonton itu (orang jahat adalah orang baik yang dikelilingi oligarki disakiti, red.), tak ada korelasinya sama sekali dengan keputusannya menjadi seorang kriminal.

Di samping karena film ini minim dialog-dialog mantab bila dibandingkan dengan pendahulunya, trilogi The Dark Night, tidak ada dialog substansial yang memberi kesan bahwa Joker adalah orang paling menderita (atau paling bernas) di kotanya. Kalaupun Joker dianggap sedang merepresentasikan karakter manusia yang mengalami depresi, gangguan jiwa, atau apapun lah itu, maka nyaris sepenuhnya Joker telah gagal.

Joker mengamuk karena dimarahi oleh bosnya, bersedih ketika ibunya sakit, membunuh orang lain ketika terancam, dan melakukan perbuatan praktis lain yang umum dilakukan manusia “normal”. Daftar perilaku itu justru tak mencerminkan apa pun yang berada di wilayah lian dari gangguan kejiwaan, selain memang Joker adalah lelaki miskin yang berasal dari keluarga kelas bawah, dan sedang mengalami ketakutan karena menembak sejumlah orang kelas atas di kotanya.

Kemudian, bagian mana yang perlu didengarkan dari film Joker, ketika kebanyakan penonton yang mengeuforiakan film ini berkata: orang-orang seperti Joker hanya butuh didengar? Dan, bukankah terlalu cepat juga kita mengambil kesimpulan tentang Joker adalah orang baik yang tersakiti, hanya karena film ini menyodorkan pesan-pesan moral yang memabukkan? Atau jangan-jangan, apa yang kita bicarakan sekarang ini menjadi topik diskusi yang sudah matang dipersiapkan oleh tim pemasaran dari tangan-tangan DC supaya film Joker terus mengundang penasaran?

Akan tetapi, terlepas dari semua itu, kalaupun film ini boleh dikatakan berhasil, dan dirinya benar telah mewakili orang-orang asing yang butuh pengakuan di penghujung keterpurukan hidupnya, maka kita adalah orang-orang jahat yang terlambat menyadari itu. Kita adalah orang-orang yang sibuk memikirkan diri sendiri ketimbang memerhatikan orang-orang seperti Arthur yang selama ini berada di sekitar kita.

Kita terlalu sibuk mengobati kesedihan sendiri, sehingga lupa untuk berbagi kebahagiaan pada orang lain yang juga membutuhkan itu. Kita berkompetisi untuk terlihat baik saat bekerja di depan pemilik modal, namun kita lupa, Arthur harus membeli obat untuk ibunya yang sedang sakit di rumah.

Bukan Joker atau Arthur yang sedang mengalami gangguan kejiwaan, melainkan kita: yang sudah terlalu lama hanyut dalan arus individualitas dan jauh dari kepedulian sosial. Kita lah orang-orang yang sepantasnya masuk ke dalam kulkas sambil menertawakan diri sendiri. Karena kita adalah orang jahat yang berpura-pura tersakiti.

 

Foto: variety.com

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

‘Yowis Ben 2’: Film Band-band-an yang Yowislah 0 855

Setamat Bayu dan kawan-kawan menempuh masa sekolah, tibalah mereka pada tantangan hidup berikutnya: lanjut kuliah atau kerja.

Belum sempat daftar kuliah bersama gadis kecintaan, boneka Susan, Bayu keburu disalip Roy yang—dengan mudahnya—mengajak Susan melanjutkan pendidikan di Jerman. Tak cukup dibuat jatuh oleh kandasnya hubungan, ia terancam masa kontrak rumah yang hampir habis. Bayu dibuat pusing. Satu-satunya jalan keluar ialah dengan membesarkan band-nya, Yowis Ben.

Jika ingin jujur berbicara film tentang band di Indonesia, apalagi yang berformat komedi, bisa dikatakan ada dua hal yang tidak mampu dilepaskan: persoalan wanita dan pertarungan idealisme. Plot pertama, tokoh utama berusaha mengejar gadis idaman lalu tanpa sengaja melupakan band; sedang di lain sisi, ada personil lain yang ketimpa masalah sehingga harus meninggalkan band. Atau plot kedua, band butuh panggung untuk berkembang, sedangkan realitanya, tak semua band mampu membawa semangat idealisnya, hingga harus berkongsi dengan pasar; personil lain ada yang setuju ada pula yang tidak.

Film Yowis Ben 2 tetap terjebak pola semacam itu. Melanjutkan kesuksesan dari film pertama, Fajar Nugros dan Bayu Skak mendamba lebih. Maka jadilah mereka merekrut nama-nama besar macam Anya Geraldine, Andovi dan Jovial da Lopez, serta sederet artis lain. Demi pasar yang lebih luas, mereka pun memaksakan memadukan bahasa Jawa dan Sunda, meski tak paham juga mengapa sebenarnya mereka harus ke Bandung (sekalian aja ke Jakarta, cuk).

Dua puluh menit pertama menonton, film ini masih terasa masuk akal. Beragam problem muncul, dari masalah galau remaja hingga persoalan finansial, juga ketidakbecusan Cak Jon mengurus Yowis Ben. Sampailah mereka bertemu Cak Jim, seorang manajer artis profesional yang mengaku sudah mengorbitkan banyak band dan berniat membesarkan Yowis Ben.

Bagaimana caranya? Dengan mengirim mereka ke Bandung! Alasannya, karena dari sana—dan seolah-olah hanya dari sana saja—banyak band bisa terkenal. Sementara Jawa Timur, latar belakang yang awalnya mengangkat betapa idealisnya film ini, iklimnya ternyata nggak bagus buat ngartis.

Memasuki setengah film, kacau. Banyak logika cerita yang tumpang tindih. Bagaimana mungkin para orang tua personil band ini bisa percaya lulusan SMA bisa bertahan hidup di kota orang—mek bondho percoyo ke Cak Jim yang bahkan belum pernah mereka temui?

Bagaimana juga Mia, istri Yayan, bisa menyusul ke Bandung tanpa sepengetahuan si suami? Sedangkan di awal film, Yayan mengaku kesulitan secara finansial karena pendapatan dari band tak sebesar yang diharapkan. Oh… mungkin karena Mia—ternyata si suami cukup bodoh sampai nggak tahu—adalah anak tentara yang asli Bandung. (Cuuk, serius?)

Ke-mbulet-an ditambah lagi dengan kehadiran Stevie di Bandung, yang juga tak memerbaiki masalah apapun, selain demi kontrak Devina Aurel yang belum habis di film ini. Apa cuma biar bisa pegang-pegangan sama Nando?

Kalaupun ingin menunjukkan sisi Islam yang syar’i melalui pernikahan muda Mia-Yayan, justru penggambaran dalam film ini bisa jadi bumerang. Baik Mia maupun Yayan masing-masing tak mampu menjalani kedewasaan, selain dengan memarahi Yowis Ben karena nggak bangun shubuhan. Atau, saat Mia memilih tidur berdua dengan suami ketimbang dengan Stevie, sehingga tak tersisa lagi kamar buat Bayu dkk.

Karakter kekanak-kanakan ini diperparah dengan kondisi Yayan yang belum mapan secara finansial namun nekat menikah. Bisa jadi, pernikahan muda, yang selama ini sering digaungkan berpotensi rapuh oleh karena manten yang belum matang secara usia, memang benar berbahaya.

Kemunculan Asih juga jadi pertanyaan besar. Bagi orang-orang selevel pengusaha Markobar martabak yang ramai dan laris manis, Asih harusnya tak perlu lagi kuliah jauh di Malang, apalagi mendaftar di IKIP yang notabene nggak nyambung dengan usahanya. Bahkan bagi perempuan se-geulis dan setajir dia, lelaki macam Bayu normalnya cuma seliweran depan mata. Tapi toh film ini punya Bayu sehingga, mau tak mau, Anya harus bersedia mesra-mesraan sama anak band yang nggak jelas juntrungannya (jiancuk tenan).

Bayu pun, yang awalnya digambarkan megap-megap lantaran kondisi ibunya yang jualan pecel, dihimpit hutang kontrakan selama tiga tahun, biaya kuliah, dan masalah finansial sampai bikin nekat ke Bandung, ternyata masih sempat kencan dengan pengusaha martabak! Ada baiknya, bapaknya Asih menambah jam workout supaya akal sehatnya makin segar. Maksudnya, biar nggak langsung menerima orang asing yang datang di waktu-waktu tak wajar. Apa coba yang pembaca lakukan jika melihat seorang lelaki main ke rumah malam-malam, melompati tembok, ngaku ingin beli martabak, namun ternyata cuma modus biar bisa colek-colekan tepung sama Anya Geraldine?

Selain beragam logika cerita yang aneh, kemunculan figur wanita kurang lebih hanya dimanfaatkan sebagai gimmick semata. Seolah-olah benar kata Stevie, “Arek band-band-an iku lak mesti wedhokan ae”. Kalau di film pertama dengan cewek yang ini, di film kedua pasti cewek ini pergi dan diganti cewek lain. Siklus yang sama bakal terjadi pula di film ketiga.

The Tarix Jabrix (2008, 2009, 2011) dengan band The Changcuters, sama-sama menggunakan formula tersebut. Hanya saja, Yowis Ben menambah perbendaharaan bahasa lokal sebagai fondasi cerita maupun aksentuasi guyonan. Tanpa bahasa Jawa, film ini bagaikan Real Madrid tanpa Zidane soto tanpa kunyit; jadinya akan lain cerita.

Di luar kesia-siaan itu, rasanya sinema Indonesia masih dan tetap perlu diperkaya dengan tontonan dengan yang memadukan penggunaan bahasa lokal—yang tentunya tanpa dibumbui stereotip aneh. Biar filem kita isinya tak melulu lu gua lu gua lu gua lu gua lu gua…

Ciuuukk, ajur tenan.

Alasan Mengapa Dilan dan Milea Memang Harus Putus 0 2267

PERINGATAN: Analisis quasi-baper ini sedikit-banyak memuat sepoiler!

Baru hari pertama rilis, film Dilan 1991 sudah diserbu 800 ribu penonton. Dari pengamatan penulis, rasio penggemar Dilan ini merata di semua kalangan. Mulai dari pasangan kasmaran yang ingin madakno rupo, siswi-siswi gemes berseragam pramuka, segerombol pria dewasa yang diduga ingin berguru gombalan cinta dari Dilan, hingga mahasiswa proletar yang cari promo diskonan tiket bioskop seperti saya.

Eits, di tulisan kali ini, tenang aja, penulis tidak akan menghujat film seperti yang lalu (Baca: Jangan Nonton Dilan, Berat!). Toh sebenarnya kami sebagai tim redaksi Kalikata ini suangat suayang sama Dilan. Kami kagum betul dengan frasa “rindu itu berat” ala pemimpin geng motor itu, menjadikannya panutan dan referensi di kala buntu mau nulis kalimat apa lagi hehe.

Sesungguhnya, film Dilan 1991 ini sepintas memang terlihat remeh-temeh, menceritakan kisah cinta anak remaja yang tidak peduli berapa banyak uang rakyat yang dimakan Mbah Harto maupun pemberontakan Somalia yang tengah membara. Maklum, anak milenial seperti kita begini mana ngerti masa pacaran via telepon. Namun, jika kita mau, film ini sesungguhnya bisa jadi bahan diskusi yang menarik.

Selepas menonton, penulis mencoba membuka diskusi dengan pertanyaan: Jadi siapa yang bener, Milea atau Dilan? Ada yang menjawab Milea, tapi belum ada yang jadi #teamDilan. Berikut ini jabarannya.

Film ini bermula dengan kondisi seusai Dilan memproklamasikan hari jadiannya dengan Milea, sebagaimana diceritakan pada pilem pertama dengan latar tempat warung Bi E’em. Adegan-adegan boncengan motor hujan-hujanan tanpa helm, bincang malu-malu lewat sambungan telepon, hingga kejadian penuh pertengkaran dan cucuran air mata semua ada. Lengkap bin komplit.

Bandelnya Dilan dengan geng motornya juga masih tidak beranjak dari tubuhnya. Hal inilah yang kemudian menimbulkan konflik antara dua sejoli ini.

Kita pasti setuju Milea berlaku benar rasional dengan tindakannya melarang Dilan terlibat dalam geng motor. Sebab tidak hanya nongkrong di pinggir jalan dengan mogenya, geng Dilan ini termasuk yang aktif melakukan balas dendam dan suka perkelahian layaknya netizen di linimasa. Sebagai pacar yang baik dan lembut hatinya, sudah barang pasti melindungi keselamatan jiwa sang kekasih. Apalagi Dilan sampai dua kali tertangkap polisi, dan seorang teman gengnya bahkan meninggal dunia karena dikeyorok.

Namun, Dilan juga dalam posisi yang menang ketika ia memilih tidak lagi menjalin kasih dengan Milea karena merasa dikekang. Geng motor adalah passion, hobi sehidup semati yang harus dan tetap melekat dengan Dilan, baik dengan atau tanpa Milea. Pacar mana yang mau dijauhkan dari hal-hal yang disukainya?

Lantas, siapa yang patut dipersalahkan di antara mereka berdua?

Menurut hemat penulis, Dilan dan Milea memang sebaiknya putus saja. Apa yang terjadi di film Dilan 1991 ini seharusnya jadi teladan bagi kita semua. Milea memang sebaiknya memilih laki-laki seperti Mas Herdin: pria gagah, pekerja kantoran dengan gaji yang menjanjikan, berpenampilan rapi, sopan santun dan beretika, serta bukan anggota geng motor yang terancam hilang dan tertembak secara misterius. Sementara Dilan memang tidak pantas mendapatkan Milea yang tidak bisa diajak beradu gombal atau melempar kalimat lucu-lucu ketika suasana per-geng-motor-an sedang genting.

Kita adalah Milea ketika tidak mau dengar pendapat orang sekitar tentang pacar kita. Dilan itu cowok terbaik di dunia, cerdas walau cadas, setia walau jahil adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kita adalah Dilan ketika kita lebih sibuk jatuh cinta dengan fisik dan mudah mengumbar puisi janji ketimbang menguji keyakinan diri terhadap pasangan.

Dilan dan Milea adalah kita semua. Kadang kita jatuh cinta setengah mati hingga tidak bisa menyebutkan alasan mengapa kita mencintai pasangan. Kadang kita terlalu kesemsem dengan kondisi yang sudah serba nyaman. Kita lengah hanya gara-gara kondisi latar belakang keluarga yang sama agama, suku, budaya, dan ekonominya. Padahal, yang tidak kalah penting adalah keserasian pemikiran dan visi-misi di antara berdua yang menjalani hubungan. Kesamaan frame of reference dan field of experience hendaknya jadi pertimbangan utama.

Jadi, alasan mengapa Dilan dan Milea harus putus adalah karena mereka tidak saling cocok. Hendaknya kita semua berhenti meminta mereka berdua rujuk, apalagi mengajukan kampanye #saveDilanMilea.

Editor Picks