(Masih) Perlunya Demonstrasi di Saat Demokrasi Dikebiri 0 222

Oleh: Nabiilah Ulinnuha*

Tulisan ini dibuat teruntuk kalian yang hampir menyerah pada Indonesia, menolak percaya pada pemerintah, dan berharap bisa mengurus pindah kewarganegaraan dengan mudah.

Bukan lagi fenomena baru bahwa hadirnya media sosial memindahkan kanal informasi. Di zaman sekarang, mahasiswa dan pelajar tak perlu menyisihkan uang jajan buat beli koran atau bawa tape kemana-mana agar tak ketinggalan berita baru. Bermodalkan smartphone di genggaman tangan, dua media konvensional itu tentu bukan tandingan.

Bangun tidur, ritualnya adalah buka feed Instagram dan Twitter untuk cek kabar terbaru. Yang lebih nggenah, mungkin membuka kanal berita online gratisan, atau yang harga langganannya masih lebih murah dari paket data. Apa-apa serba mudah, kan? Berkat mbah gugel, kita tak perlu lagi kepo berita pagi ini dengan bertanya kesana-kemari. Tinggal buka layar ponsel saja, dan buka Kalikata ketik di mesin pencarian, voila!Tercerahkan”-lah kita.

Sama hal dengan informasi yang berpindah kanal utamanya, demokrasi pun mulai muncul dalam ruang baru bernama ‘media sosial’. Melalui ratusan tweets viral yang mengeluhkan keadaan, tergambar wajah sebuah kebebasan. Mulai dari kondisi terbaru yang terjadi di gedung KPK hingga gerakan tak setuju pada RUU PKS. Belum lagi situasi genting pada Kebakaran Hutan Liar, serta ketidakadilan bagi masyarakat di timur Indonesia.

Beragam postingan di Instagram tentang kondisi Indonesia terkini seolah saling tak mau kalah. Sebab siapapun bisa berbagi informasi. Demokrasi tumpah ruah di ruang-ruang tanpa sekat.

Masyarakat mulai menyukai hal-hal mudah. Demokrasi tak selalu harus turun ke jalanan. Mahasiswa zaman sekarang lebih suka memilih jalur lebih damai lewat diplomasi, atau menulis pada kolom opini. Yang lebih mudah lagi, tentunya menulis tweet dan membagikan foto kondisi terbaru lewat Instagram.

Rasa-rasanya masyarakat sudah seharusnya mulai bosan dengan pola ini. Sudah berteriak pada berbagai platform media, tapi kok rasanya wakil rakyat seolah bisu dan tuli?

Seharusnya apresiasi tinggi patut diberikan pada ratusan mahasiswa yang mengerumuni gedung pemerintah untuk menagih janji. Di saat-saat genting ini, dan di tengah gempuran alternatif cara “menyuarakan” tuntutan, mereka jadi pahlawan garda terdepan yang berjuang bagi demokrasi dengan langkah-langkah tradisional namun efektif bikin pemerintah rodhok panik.

Mari kita buka kenangan setahun lalu, saat Ketua BEM UI berikan Jokowi kartu kuning. Pembicaraan tentang pro dan kontra sempat bergulir di media sosial. Begitu banyak yang ngedumel. Memalukan, katanya. Mahasiswa kok tidak paham etika. Para netizen yang mahabenar, tidakkah kalian sadar, dulu dan kini, masih juga suka mencaci habis mahasiswa saat turun ke jalanan? Bikin macet, kata kalian. Terlalu anarkis dan mengganggu stabilitas Negara, kata kalian juga.

Barangkali, kita harus mengingat kembali pesan founding fathers bangsa ini. Bung Karno pernah menggaungkan “jasmerah”: jangan sekali-kali melupakan sejarah. Nampaknya pesan ini sungguh selalu relevan pada setiap zaman.

Kali ini penulis mengajak untuk mengingat kembali peristiwa 1998. Tanpa pengorbanan mahasiswa, Orde Baru tak akan mungkin digulingkan. Mereka, para aktivis, termasuk mahasiswa yang tumpah ruah ke jalanan, rela hilang tanpa dikenang namanya. Aksi mereka yang heroik adalah bukti bahwa masyarakat Indonesia masih berani berjuang walau tak memiliki senjata di tangan. Dan rupanya bentuk aksi ini masih turun dari zaman ke zaman.

Persetan dengan kemacetan dan keamanan! Hari ini, kebebasan dikebiri habis-habisan. Tikus-tikus berdasi di gedung parlemen negara melanggengkan kekuasaannya terang-terangan. Berbagai diskusi sudah menemui jalan buntu. Apakah kemudian gaungan emosi dari gawaimu itu benar dapat merubah nasib bangsa ini?

Mereka yang sekarang sedang berjuang di jalanan nyaris belum mendapat titik terang. Jangankan memberi solusi dan menenangkan massa, menemui mereka pun pemerintah masih enggan. Justru di hari-hari inilah, demokrasi butuh lebih banyak lagi demonstrasi. Sudah selayaknya kita belajar dari sejarah, bahwa yang menang adalah yang tak pernah berhenti berjuang. Sebab pemimpin kita saat ini sungguh masa bodo bila sejatinya telah berubah jiwa jadi pecundang. Asal kekuasaan masih mereka pegang, sepertinya tak ada yang mereka takuti.

 

*Penulis adalah mahasiswa yang suka kopi, sajak, tapi kurang lengkap bila tak ditemani ‘kamu’ yang sekarang hilang. Berzodiak Gemini, oleh sebab itu orangnya ruwet.

Foto: Wanti Anugrah

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagi Mereka, Antirasisme Tak Lebih dari Sekadar Konten 0 157

George Floyd, pria berkulit hitam yang meninggal karena lehernya ditindih kaki petugas pulisi berkulit putih Minneapolis, AS menimbulkan gelombang protes. Bahkan ribuan warga AS teramasuk selebritis sudah bodo amat dengan korona dan ‘stay at home.

Mereka turun ke jalan untuk memprotes diskriminasi terhadap warga berkulit hitam dan menuntut  pemerintah agar pelaku pembunuhan segera diadili. Di media sosial juga ramai postingan penuh empati yang dibungkus amarah warga net mengenai kasus yang tak kunjung menemukan titik cerah itu.

Louis Vuitton sebagai merek legendaris pun terkena bola api amarah netizen karena marketing masif tas terbarunya ‘Pont 9’. Merek asal Paris ini membayar sejumlah artis dan fashion influencer di seluruh dunia untuk promosi di Instagram.

Namun, tak ada postingan yang menunjukkan empati mereka terhadap isu rasisme yang sedang panas itu. Alhasil, merek high-end ini pun dikecam netizen dan pesohor seperti Emily Ratajkowski karena dinilai tak peka dengan isu sosial. Tak hanya dikecam, pada 31 Mei lalu, butik Louis Vuitton di Oregon dijarah oleh massa.

Tak mau menjadi sasaran amukan massa, merek-merek lain akhirnya memposting foto prihatin terhadap kasus ini dan menyuarakan antirasisme. Diawali dari Versace, lalu dilanjut oleh Dior, Alexander McQueen, dan merek-merek beken lainnya.

Dari observasi kecil-kecilan saya, hingga saat ini, hanya Louis Vuitton yang masih bersih dari postingan antirasisme. Ya sudah, terserah dia.

Saya mengira masalah sudah beres. Ternyata, kasus Louis Vuitton hanyalah appetizer dari masalah empati dan antirasisme yang ada di dunia yang fana ini. Seperti yang tertulis di lirik lagu penyanyi indie terpopuler se-Indonesia, Kekeyi, “ucapanmu manis di bibir saja”, pun juga dengan kampanye antirasisme dari selebgram dan merek-merek kedagingan ini. Rupanya, postingan mereka sebatas wacana yang tidak dipraktikkan di dunia nyata.

Celine, merek asal Perancis ini memposting foto bahwa ia mengecam segala bentuk diskriminasi. Ia juga menuliskan di kepsyen “#BLACKLIVESMATTER” sebagai cherry on top.

Postingan ini diprotes oleh seorang fashion stylist, Jason Bolden. Hal ini dikarenakan Heidi Slimane, sang creative director, enggan mendandani seebritis berkulit hitam, kecuali stylist mereka berkulit putih.

Merek di bawah naungan LVMH ini selalu – semenjak kursi creative director diduduki oleh Heidi Slimane – memiliki jumlah model berkulit hitam di setiap shownya. Pada koleksi musim gugur 2020 misalnya, hanya ada 10 model berkulit hitam dari 111 model (9 persen). Sosok model berkulit hitam sangat jarang ditemui di feed Instagramnya.

Selanjutnya, ada kasus dari L’oréal . Merek mek-ap ini mengunggah foto di Instagram dan twit di Twitter yang intinya melawan segala bentuk diskriminasi warna kulit. Munroe Bergdorf, seorang model berkulit hitam, sontak memberikan tanggapan sinis kepada L’oréal. Rupanya, iapernah didapuk sebagai modelnya pada 2017. Sayangnya, ia dipecat usai menyuarakan protes terhadap white supremacy di Facebook.

Zimmermann, merek pakaian bergaya bohemian ini masuk ke dalam daftar pihak-pihak yang cari aman usai kasus Louis Vuitton. Sama dengan kasus-kasus di atas, merek asal Sydney ini mengatakan bahwa intinya ia berkomitmen untuk melawan praktik-praktik diskriminasi.

Namun, mereka-mereka yang pernah bekerja dan magang di sana angkat bicara. Mereka mengatakan bahwa pekerja kulit hitam kerap kali mendapat diskriminasi dan sering dipojokkan. Tak hanya itu, Zimmermann juga menerapkan beauty standard perempuan berkulit putih Eropa.

Lalu Kris Schitzel, selebgram Rusia yang berfoto di tengah pendemo sambil membawa tulisan “BLACK LIVES MATTER”.  Ia menerima hujatan usai video behind the scene “pemotretan” untuk foto tersebut beredar. Terlihat ia menata pose sedemikian rupa sambil membenarkan gaunnya.

Memang tak seniat video Brojabro dengan sayap Victoria’s Secret-nya saat aksi unjuk rasa mahasiswa di Surabaya silam, namun video tersebut sudah dapat membuat kita menyimpulkan bahwa ternyata gerakan yang ia lakukan tak lebih dari kebutuhan produksi konten di medsos.

Last but not least, kasus yang menyeret perempuan paling berpengaruh di dunia fashion saat ini, Anna Wintour. Vogue AS, majalah ternama yang dikepalai oleh Wintour ini di media sosialnya aktif  menyuarakan Black Lives Matter. Namun, pada Rabu (10/6) lalu, wanita yang mendapat julukan “Nuclear Wintour” ini meminta maaf atas minimnya kesempatan bekerja bagi orang berkulit hitam di kantornya.

Pernyataan tersebut membuat beberapa mantan pekerja berkulit hitam di Vogue angkat bicara di Twitter. Mereka mengungkapkan perlakuan tidak menyenangkan dari Wintour dan pekerja lain. Mulai dari di-bully, hingga gaji yang lebih sedikit harus mereka telan selama bekerja di majalah yang dijuluki fashion bible tersebut.

Miris sekali ya, ketika empati kita sangat dibutuhkan di masa ini, ternyata hanya dijadikan konten guna menaikkan citra mereka, biar seakan-akan peduli dengan isu rasisme. Tuntutan netijen yang begitu besar untuk menampilkan konten empati, malah membuat sejumlah pihak menganggapnya sebagai formalitas belaka.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Renungan Seonggok Pemuja Online Shop 0 73

Sudah hampir 3 bulan kita dihajar kampanye urban yang telah menjadi gaya hidup: #dirumahaja. Walau sebentar kita tak perlu merasa terkurung lagi, tatanan kehidupan yang baru hampir terbentuk dari babak hidup kemarin.

Semua aktivitas lantas dilakukan dari tempat ternyaman, entah sofa atau bahkan tempat tidur, termasuk belanja online.

Mau ke supermarket sebenarnya bisa sih. Toh supermarket dan pasar adalah salah satu ragam bisnis yang senantiasa terkecualikan dengan boleh tetap bernapas, demi mengisi logistik masyarakat.

Tapi sebagian dari kita yang tidak termakan teori konspirasi JRX percaya virus corona ada, menjadi was-was dan meminimalisir kegiatan keluar rumah, sekalipun sekadar untuk berbelanja.  Sebisa mungkin di rumah, menghindari kerumunan, memenuhi bujukan anjuran pemerintah. Beraktivitas di luar rumah menjadi suatu kegiatan yang bahkan mulai terasa asing.

Kita patut bersyukur, bahwa sebelum corona memutuskan untuk mengusik kehidupan kita, teknologi market place sudah berkembang sedemikian rupa. Peluangnya bahkan makin merambah di situasi seperti sekarang ini.

Semua-semua saja dibeli online. Mulai dari susu hingga pisau dapur, dari sayur-mayur hingga cairan pewangi pakaian, kaos kaki impor Cina atau HP hasil pasar gelap, semua dimungkinkan hanya dengan sentuhan jari di gawai.

Bahkan kata teman-teman saya, selama menikmati PSBB di rumah, membuka aplikasi online shop sudah jadi habitus baru yang tak terhindarkan. Ajaibnya, online shop kini berkembang fungsinya, sampai-sampai ikut jadi pereda kebosanan. Ia menjadi obat mujarab atas panas nan jenuhnya hati atau menghindarkan diri dari potensi termakan hoax di grup WhatsApp keluarga.

Namun, ada akibat fatal yang tak kuasa kita taklukkan. Kita tak bisa hanya sekadar “cuci mata” di aplikasi belanja online. Kita susah untuk menolak check out habis keranjang belanja virtual tanpa ampun. Kalau sudah begini, online shop berubah wajah. Justru ialah musuh bebuyutan dompet tipismu.

Pun online shop menghantar kita pada berbagai belahan dan jurang pengalaman. Kadang membeli barang yang mungkin gak terlalu berdayaguna, hanya karena promo dan kode voucher, yang setelah dibeli dan dibayar malah menyesal. Persis kayak habis putus, lalu pengen balikan karena mantan tiba-tiba jadi lebih cakep setelah putus.

Tren online shop sudah merasuk sejak beberapa tahun ke belakang, tapi popularitasnya melonjak dan bahkan menjadi adikuasa yang padanya kita makin menghamba.

Ia hanyalah substitusi emol-emol dan café dengan menu-menu dengan bahasa enggresan ndakik-ndakik. Menggeser rejeki dari mbak-mbak SPG dan mas-mas barista, ke para kurir dan mamang-mamang packaging paket. Merekalah yang memastikan belanjaan kita sampai persis di depan pintu rumah.

Online shop adalah pemain pengganti, dari perasaan tak sabar menunggu antrian kasir di toko, ke perasaan dag-dig-dug tak sabar menunggu teriakan “paket” di depan gerbang rumah.

Begitu pula dengan penggunaan e-wallet dan m-banking yang tersedia di platform e-commerce, yang membuat jasa penukar uang pinggiran jalan gigit jari, teknisi IT start-up digital pesta pora, serta mahasiswa informatika kini jadi kandidat calon mantu idaman, menggantikan dokter yang semakin gak bisa ketemu keluarganya di masa sekarang.

Mungkin ini yang dinamakan “new normal”, sebuah istilah yang sudah sangat lacur penggunaannya dalam konversesyen tiap harinya. Kebaruan yang dianggap normal. Namun juga kenormalan lama yang dibuatkan bentuk barunya. Kebiasaan baru rakjat untuk berbelanja, dan segala lika-liku di baliknya, jadi salah satu bab tak terelakkan di dalamnya.

Editor Picks