Mengapa Kita Perlu Belajar Desain dari Warung Penyetan 0 805

Oleh: Rafif Taufani*

 

Salah satu hal yang lumrah dilakukan mahasiswa tingkat akhir tentu saja magang. Saya lantas mencari lowongan magang sebagai desainer di beberapa platform web. Lewat berbagai situs dan aplikasi, saya berselancar melihat berbagai lowongan dengan syarat-syarat yang cukup mengintimidasi.

Saya melihat bahwa kebutuhan industri kreatif kini bukan hanya soal bisa Adobe Photoshop/Illustrator. Tetapi juga perihal branding, dan membuat perencanaan desain dari hulu ke hilir atas permintaan klien.

Seringkali kalau melihat website perusahaan kece ini, saya disuguhkan dengan portofolio brand atau produk yang mereka layani. Sungguh beragam dan dengan capaian yang luar biasa. Salah satu creative agency malah terang-terangan memperlihatkan berapa banyak engagement dan ketertarikan konsumen digital setelah mereka lakukan branding pada produk milik klien.  Seluruh prestasi ini tentu patut diajungi jempol.

Di tengah membuka seluruh profil perusahaan ini, justru pertanyaan tersempil ke benak saya mengenai desain grafis secara keseluruhan dan efek sosialnya. Signifikansi industri kreatif semakin menampakkan taringnya di era digital. Semua orang berbondong-bondong menjajakan produknya di platform digital. Bahkan, warung-warung giras sudah menerima pesanan via online berkat jasa seorang Nadiem Makarim.

Maka di tengah zaman yang serba modern ini, branding bukan hanya jadi urusan platform saja, melainkan harus dipikirkan pemilik warung penyetan sekalipun. Namun optimasi produk dan pemasaran yang tepat nampaknya diabaikan pemilik warung penyetan dan giras.

Tapi, mari bayangkan skenario di mana justru sentuhan ‘modernisasi’ ini mungkin tidak seberapa diperlukan. Toh kalau diperhatikan, penyetan dan giras tetap tidak pernah sepi. Mereka siap sedia menyediakan suguhan makanan yang bisa dikonsumsi dengan harga murah dan ada di mana-mana.

Semua itu terjadi secara natural tanpa harus desain bagus, atau branding, atau laporan riset target. Mereka hanya perlu mencari lokasi strategis dan pelanggan akan dengan mudah datang dan menghampiri.

Kita boleh saja bicara banyak soal branding dan desain grafis. Tetapi bagaimana kalau klien yang datang ke agensi digital bukan merk ternama? Melainkan adalah seorang pedagang warung penyetan yang minta di-branding lagi untuk target pasar masyarakat luas? Mungkin pendekatan kita yang terlampau ‘modern’ ini bisa bisa tidak cocok untuk mereka.

Desain grafis dan dunia agensi selalu digambarkan sebagai pekerja yang dinamis, gaul, dan jauh dari aspek komunal. Padahal desain dan branding selalu ada di setiap lini kehidupan. Usaha warung penyetan dalam mendesain spanduknya adalah contoh yang baik.

Soal branding warung giras dan penyetan, penjual cukup menjadi ramah pada pelanggannya, menyajikan tempat duduk yang pokoknya bisa buat makan berlima saja, sudah bikin orang nyaman. Lalu soal target market, mereka tidak perlu cari-cari lagi. Cukup membuka usaha mereka dekat jalan besar, dan voila, mereka dapat pelanggan dengan demografi cukup luas.

‘Agensi’ desain warung giras dan penyetan adalah contoh nyata yang tidak bisa diremehkan agensi-agensi di Indonesia. Mereka mengembalikan fitrah sebuah produk/jasa pada satuan yang sederhana, yaitu membuat pelanggan nyaman dan kenyang. Mereka tidak menyediakan dekorasi yang wow karna ekspektasi pelangannya juga tidak mengharapkan demikian.

Warung giras dan penyetan juga punya jasa besar untuk menghancurkan dinding pemisah antara pemilik usaha dan pelanggannya. Bila kamu merasa kopimu kemanisan di warung giras, kamu tidak perlu menulis review jelek secara online. Tinggal bilang saja ke penjaga warung dan kemungkinan besar kamu akan dibuatkan kopi lagi atau minimal orangnya minta maaf.

Justru di warung giras dan penyetan lah, kita dapat melihat banyak pelanggan merasa didengar, suatu usaha yang agensi digital perlu waktu berbulan-bulan untuk melakukannya.

Sama halnya dengan desain. Lukisan warung penyetan itu selain iconic juga contoh copy writing yang bagus. Tanpa perlu bertele-tele dengan slogan dan penjelasan keunggulan. Cukup dengan tulisan ‘penyetan’ dan gambar menu saja sudah cukup.

Siapa pula yang tidak kenal lukisan ilustrasi ikan lele, ayam, dan bebek pada warung penyetan? Desain iconic itu sederhana, namun lekat di benak kita.

Untuk promosi? Pelanggan mereka semua adalah brand ambassador gratis yang akan mempromosikan produk secara sukarela. Selain merekomendasikan pada temannya, mereka juga bisa bisa mengajak makan teman dan keluarga mereka ke warung.

Ini sekaligus mengingatkan kita bahwa branding adalah hal yang sudah dilakukan sejak lama. Usaha untuk branding adalah urusan grass root. Kenyataan selalu ada dari unit terkecil dari sebuah produk, yaitu pelanggannya, so listen to them!

 

*Penulis tinggal di Surabaya dan banyak melakukan eksperimentasi terkait seni kolase

 

Foto: Letter warung (letterwarung.blogspot.com)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 154

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 176

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks