Apakah Kekeyi Pernah Menggoreskan Luka pada Kita? 0 570

Saya tak tahu apa yang membuat Kekeyi (dengan nama panjang Rahmawati Kekeyi Putri Cantika) banyak dibicarakan—dan sebagian besarnya dihina—di media.

Tentu saja orang bisa dengan sangat mudah melempar tai kucing ke media sosial, menyumpahserapahi dengan bebas tanpa khawatir diciduk, bersembunyi dalam nama samar. Tapi saya tak bisa memahami mengapa orang demikian bernafsu untuk mencibiri apa saja yang ada pada Kekeyi.

Berdomisili di Nganjuk dan dikenal karena mula-mula memanfaatkan perangkat make-up sederhana untuk memoles wajah, popularitas Kekeyi melesat ke mana-mana.

Ia bukan saja terlibat dalam kisah cinta yang pilu (dan dituding settingan tapi menguras emosi dan air mata), tapi juga bicara ngawur dalam banyak acara, dilukiskan sebagai perempuan rakus dalam tayangan-tayangan review kuliner, dan sejenisnya.

Tapi lalu justru di sini kita baru tiba pada soal sesungguhnya: mengapa kita punya energi untuk memasak kalimat-kalimat pahit untuk disemburkan padanya?

Jika pun tak ada faedah yang didapat dari apapun yang ia lakukan, sedangkah ia pernah menggores luka dan sakit hati yang demikian dalam pada kita? Hingga yang tersisa adalah makian tak berbatas, hingga pada suatu wawancara, ia katakan sendiri betapa pedihnya hidupnya meratapi kepungan makian?

Dan beberapa hari lalu, dengan suara yang pas-pasan (tak terlalu buruk disandingkan dengan mutu pengisi suara konser amal para pejabat tempo hari), video musik Kekeyi mengguncang jagad Youtube. Ia torehkan namanya sebagai yang teratas, sebagai yang paling banyak ditonton. Ia singkirkan pesohor lain.

Dan justru sebab itulah, angin cibiran berlipat-lipat. Bahkan videonya sempat dihapus oleh Youtube, menyoal duit yang berbalut hak cipta, sampai akhirnya dikembalikan lagi.

Saya menduga kuat, bahwa kita memang tak pernah mau menerima sebuah kenyataan bahwa siapapun orang yang kita sangka gagal, pada akhirnya sangat mungkin membuktikan sebaliknya. Kita tak bisa menerima fakta bahwa mengapa ‘yang begitu saja’ dapat melesat.

Ada sejurus dengki yang menuntut kompensasi bahwa kesuksesan dan keterkenalan yang tak pantas, harus diganjar dengan sebuah hukuman lain: digempur serapah dan hina-dina.

Dan gejala semacam ini adalah gejala yang mengendap dalam batin kita semua yang memang tak pernah bisa keluar dari kebuntuan nasib hidup. Kita merengek dan diam-diam protes keras pada mereka yang kita kira tak pernah pantas dibanding mutu kita sendiri.

Bukankah ini pertanda betapa kita sendiri adalah kumpulan orang-orang yang telah begitu lama kalah? Begitu lama haus pada kemenangan, hingga tak sanggup merelakan sebuah citra kemenangan itu diraih oleh orang yang ‘jauh lebih kalah’ ketimbang kita.

Mungkin itu pula sebabnya mengapa kita hobi sekali memandang-mandangi Youtuber membeli sebuah mobil miliaran seperti memborong kerupuk kalengan di warkop. Sangat tergila-gila pada acara kunjungan ke rumah-rumah mewah selebriti.

Kita suka dan memuja itu semua semata-mata karena ‘mereka lebih pantas dari kita’. Tidak peduli sebermutu apa nasihat dan obrolan di sana.

Tapi kita tak pernah bisa menerima kepantasan itu disematkan pada Kekeyi, yang demikian anomali, begitu berbeda, begitu kampung.

Mungkin di sanalah peluang satu-satunya Kekeyi: bahwa daya jual utamanya adalah kelemahan-kelemahannya—sebuah resep dahulu kala yang pernah sukses dipakai oleh politisi kita. Dengan jargon ‘dia adalah kita’, dan kini menjadi ‘dia adalah segala-galanya yang harus dibela’.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (Instagram: @petiteanette)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagaimana Kita dan Media Membungkus Gilang 0 349

Cerita murung bermula dari cuitan akun Twitter @m_fikris yang menceritakan kronologi bagaimana seorang laki-laki muda, dari suatu kampus kondang di Surabaya, melakukan pelecehan seksual secara verbal melalui pesan elektronik. Kisah pahit itu dijuduli dengan judul bombastis, macam portal berita onlen: “Predator Fetish Kain Jarik Berkedok Riset dari Mahasiswa PTN di SBY”. Lantas, satu negara ini sejenak melupakan corona, berpindah gandrung pada ‘Gilang’, nama yang disebut-sebut menjadi pelaku pelecehan.

Cerita bertopik seks semacam ini, pembaca tahu, dengan cepat sambung-menyambung, berbalas, dan dibagikan secara meluas di linimasa. Tak hanya ramai di media sosial, yang bahkan sempat menduduki tingkatan teratas trending topic, ia ramai menjadi buah bibir tetangga, hingga agenda pemberitaan media massa.

Selain soal menumbuhkan kewaspadaan bersama, tapi lalu mengapa media, dan juga kita, sangat berambisi pada cerita-cerita semacam ini? Ada beberapa hal yang penulis ajukan di sini.

Pertama, media kita memang mudah sekali terangsang mengangkat berita-berita berbau seks. Apalagi ada anomali yang baru, fetish atau dorongan seksual dalam konteks kasus Gilang ini unik: napsu melihat orang yang dibungkus seperti pocong dengan kain jarik. Sayangnya, pembawaan berita berputar-putar pada fenomena, bahkan mengungkap sejarah Gilang yang sudah sering melakukan tindakan asusila.

Tapi, kemalasan media membuatnya lupa memberi pendalaman perspektif psikologis atasnya. Apakah benar memang fetish? Atau justru gangguan kejiwaan lainnya yang tak berhubungan dengan seksualitas?

Ah, jangan heran, media kita kan memang dari dulu begitu. Sejak zaman Orde Baru, kita sudah di-ninabobo-kan dengan berita konflik pertumpahan darah dan SEKS, supaya pemerintah tidak perlu repot-repot menjawabi pemberitaan yang mengkritisi kinerjanya.

Kedua, kita sepakat – jika memang ini adalah kasus pelecehan seksual – selalu bak gunung es. Korban-korban Gilang lainnya, yang telah menjadi target operasi bertahun-tahun silam, baru terungkap semuanya, ketika ada satu orang yang berani bicara. Kita memang patut berterima kasih (jika memang baik budi niatnya) pada si pembuat thread pada mulanya.

Demikian pula dengan kasus pelecehan seksual yang sudah-sudah. Entah itu pedofilia, pelecehan dalam keluarga, bahkan dalam konteks pria-wanita, selalu membuat sang korban tak berani bicara. Sebaliknya, korban lebih banyak dirundung, dituduh menggoda dengan pakaian terbuka.

Karena memang, belum ada hukum di negeri ini yang mampu melindungi korban pelecehan seksual. Kalaupun ada kasus yang terungkap ke permukaan dan diproses hukum, ia haruslah viral terlebih dahulu di media sosial (dengan mempermalukan korban 2 kali lipat), agar bisa ditindak pakai ‘Sang Maha-benar’ UU ITE, yang tak pernah benar-benar menggasak betapa brengseknya tindakan pelecehan itu sendiri. Benar apa kata sjw-sjw feminis: RUU PKS harus segera disahkan!

Ketiga, persoalan Gilang ini tak bisa hanya dilihat soal orientasi seksual yang melenceng. Kita sepakat bahwa hal tersebut adalah kemerdekaan hak setiap orang. Yang jadi persoalan, cara Gilang – jika, sekali lagi, memang benar fetish – dalam mengajak si korban memuaskan birahinya.

Gilang menggunakan kata-kata yang manipulatif, membohongi anak-anak yang lebih muda darinya agar mau membantunya mengerjakan ‘tugas kuliah’. Ia juga mendekati orang-orang yang tak ia kenal sebelumnya, dengan bahasa perkenalan yang cenderung superior, dominan, sekaligus minim etika. Unggah-ungguh berkenalan, ngobrol, dan meminta tolong pada orang yang baru dikenal seharusnya milik kita semua, terlepas dari apapun pilihan jalan hidup dan orientasi seksualnya.

Keempat, pendapat netijen yang bermunculan akhir-akhir ini justru bernada mengolok karena menganggap Gilang pantas mendapatkannya. Ejekan itu berkedok guyonan, bahkan nama-nama besar seperti Babe Cabita – yang kemudian banyak dihujat netijen juga – ikut-ikutan menertawakan tindakan Gilang. Selain itu, kamu dan saya, mulut kita semua sudah sibuk ngrasani bersama teman-teman tentang betapa tak warasnya Gilang.

Kita tidak sadar, bahwa diri sendiri ini juga sami mawon: menjauhi dan mencibir entah korban entah pelaku, entah juga orang-orang macam Gilang; tapi lupa bersimpati, mendekati, mencari akar masalah, dan menyelesaikannya bersama-sama. Memang benar, gotong-royong yang diajarkan founding fathers kita hanya tinggal klise sekarang (lihat tulisan: ‘Menghidupkan Kembali Klise Kesadaran Kolektif’).

Pada akhirnya, soal bungkus-membungkus ini memang bukan milik Gilang dan rektorat kampusnya yang sibuk memberi pernyataan sikap semata. Ini juga masalah kita semua, yang sudah lama dibungkus rasa egois dan gengsi, menutup mata dan telinga pada persoalan sosial di sekitar kita.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Sejumlah Latar Belakang Maraknya Jari-jari Tega 0 119

Oleh: Evelyn Tania*

Pernahkah Anda membaca hate comment saat menjelajahi internet? Pernahkah melihat seseorang menyerang orang lain atas perkataan atau komentar yang dibuat di internet? Saya yang belakangan ini baru saja mulai menyukai seleb K-pop sering melihat hal tersebut, dan saya merasa sangat sedih nan kecewa setiap kali melihat hal seperti ini terjadi.

Seringkali saat browsing video di YouTube, saya melihat komentar yang secara langsung menyerang orang-orang yang ada dalam video. Jangankan di YouTube, banyak orang meninggalkan hate comment pada kampanye Black Lives Matter yang maksudnya hanya ingin menyetarakan derajat sesama manusia. Padahal sudah beberapa kali terjadi peristiwa di mana hate comment mendorong si target kebencian menuju depresi dan bahkan bunuh diri.

Saya jadi berpikir, kenapa sih ada orang yang kurang kerjaan hingga membenci orang-orang yang tidak mereka kenal? Apa salah orang-orang di internet ini sampai memicu kebencian mereka? Tidak pernahkah mereka yang meninggalkan hate comment berpikir bagaimana komentar mereka akan mempengaruhi kepercayaan diri dan mental dari orang yang dituju? Atau jangan-jangan memang itu tujuannya?

Menurut saya pribadi, terdapat dua alasan utama yang menyebabkan orang-orang ini tega meninggalkan hate comment pada orang lain, yang seringnya kok ya lebih terkenal daripada mereka sendiri. Keduanya adalah kecemburuan terhadap mereka yang disukai banyak orang dan ketakutan atas perubahan yang dibawa orang-orang tersebut. Bagaimana kedua alasan tersebut memicu kebencian dalam diri, terutama terhadap mereka yang mungkin tidak akan ditemui langsung oleh hate commenters ini sepanjang hidup?

Kecemburuan, dari beberapa literatur yang pernah saya baca dan film populernya Mas Brad Pitt, adalah salah satu dari The Seven Deadly Sins, tujuh dosa utama yang sering dirasakan manusia. Bahasa sabrangnya “envy”.

Kita semua tahu bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki banyak keinginan. Saat satu keinginan telah terkabulkan, maka akan muncul keinginan yang baru. Begitu seterusnya. Saat kita melihat orang lain memiliki sesuatu yang tidak kita miliki atau sesuatu yang kita inginkan, maka perasaan yang dinamakan kecemburuan ini akan muncul. Kita jadi menginginkan hal tersebut dari orang lain.

Menurut saya, para pemilik jari tega meninggalkan hate comment karena mereka melihat sosok yang disukai banyak orang dan cemburu karena mereka sendiri juga ingin populer. Rasa cemburu ini terkadang berubah menjadi kebencian, karena mereka tidak dapat mencapai keinginan tersebut, lalu ingin melampiaskannya kepada orang yang menimbulkan perasaan tersebut. Bisa juga malah terjadi karena cemburu oleh keberadaan seleb lain yang lebih terkenal dibandingkan seleb favorit mereka.

Di sisi lain, ketakutan juga dapat menimbulkan perasaan benci. ‘Humans fear the unknown’ adalah pepatah yang sering muncul dalam berbagai literatur terkait ketakutan manusia akan hal-hal yang tidak mereka ketahui.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memiliki standar ‘normal’ yang dicetuskan masyarakat dan diikuti dengan ketat. Bila terdapat perkembangan atau perubahan terhadap kenormalan tersebut, maka—tergantung dari perubahan yang terjadi—manusia dapat memiliki reaksi ekstrem.

Pemisalan yang dapat dilihat terkait reaksi manusia adalah dalam isu Black Lives Matter akhir-akhir ini. Selama ini, mayoritas dari orang Amerika berkulit putih berpegang pada kenormalan di mana mereka memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan orang berkulit hitam dan seluruh dunia. Meskipun mungkin ada yang tidak setuju atau tidak menerima kondisi tersebut sebagai sesuatu yang normal.

Dengan berkembangnya pengetahuan dan kesadaran sosial masyarakat, semakin banyak masyarakat dunia sudah tidak dapat menerima diskriminasi yang dialami oleh mereka yang berkulit hitam di Amerika. Mulailah bermunculan berbagai organisasi sosial dengan tujuan menyamakan derajat semua orang di Amerika.

Hal ini mengganggu kenormalan yang selama ini dipegang mayoritas warga Amerika. Mereka merasa takut terhadap kemungkinan bahwa kenormalan mereka akan mengalami perubahan. Sehingga muncul perasaan benci terhadap segala upaya yang dilakukan organisasi-organisasi sosial tersebut.

Perasaan benci yang telah timbul terkadang mereka rasa perlu diekspresikan, untuk membuat diri sendiri merasa lebih baik. Bentuk ekspresi ini paling sering muncul dalam bentuk hate comment, karena adanya perlindungan anonimitas di sana. Selain itu, juga karena meninggalkan hate comment adalah sesuatu yang sangat mudah dilakukan. Sampai-sampai anak berusia 7 tahun juga dapat melakukannya (saya pernah melihatnya sendiri). Kedua hal tersebut memberikan kebebasan bagi manusia untuk melampiaskan kebencian mereka kepada orang-orang yang tidak bersalah, tanpa mempedulikan konsekuensi terhadap diri sendiri maupun si target.

Perasaan benci merupakan sesuatu yang telah menyebabkan banyak konflik dalam sejarah dunia. Kita perlu menyadari bahwa membiarkan perasaan benci menguasai hidup kita hanya akan membawa penderitaan bagi kita sendiri. Mungkin kita akan merasakan kesenangan sesaat saat melakukan tindakan yang didorong kebencian. Namun sesuai dengan hukum karma, kita akan menerima apa yang kita berikan kepada orang lain.

Setidaknya dalam konteks yang telah saya sampaikan dalam tulisan ini, beberapa hal yang harus disadari oleh kita adalah bahwa jika kita menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain, kita seharusnya berjuang untuk memperoleh hal tersebut. Bukan malah membenci orang lain dan jadi terlewat untuk secara nyata memperjuangkan keinginan tersebut.

Hal lain yang dapat membantu adalah dengan membuka pemikiran kita terhadap segala sesuatu dan tidak memaksakan pemikiran kita dalam batas yang kaku. Dunia ini selalu berkembang dan berubah, dunia tidak akan berhenti apabila kita tidak dapat menerima perubahan. Dunia justru akan meninggalkan kita. Gitu, ghes

 

*) Seorang mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Bercita-cita sederhana: tak ada lagi kebencian di bumi ini.

*)Tulisan ini juga dimuat di e-Book “Eka-citta Writing Workshop Kamadhis UGM 2020” dan diedit seperlunya oleh tim redaksi.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Editor Picks