“Gak Sengaja”, Hukum Indonesia, dan Pelakor di Drama Koriyah 0 222

Mau ngumpulin orang-orang yang kecewa dengan hukuman satu tahun para terdakwa penyiram air keras Novel Baswedan, sambil memperingatkan bahwa tulisan ini mengandung sedikit sepoiler drama.

(Penulis masih nggak tahu apa faedah ngumpulin orang-orang secara virtual begini. Nggak tahu lagi ada Corona apa?!)

Beberapa hari lalu, jaksa penuntut umum mengajukan hukuman kurungan 12 bulan bagi Rahmat Kadir Mahulette dan Rony Bugis. Mereka disebut melakukan penganiayaan berat dengan menyiram cairan asam sulfat kepada penyidik senior KPK, Novel Baswedan, sepulang sholat subuh 3 tahun silam. Kita tentu tidak bisa lupa, bahwa kejadian itu menyebabkan Novel kehilangan sebagian indra penglihatannya.

Dari pengajuan hukuman jaksa itu, banyak warga negeri ini yang meradang. Caci maki terhadap hukum Indonesia diajukan melalui laman media sosial, satu-satunya media yang dapat digunakan untuk nyampah aktualisasi diri. Kita semua lantas kecewa dengan sistem hukum Indonesia yang sudah sejak lama memihak pada sang empunya jabatan dan materi.

Tak lupa kita bernostalgia, mengenang betapa heroiknya KPK sebagai lembaga antirasuah, penghapus noda korupsi membandel negeri ini. Kita bersimpatik sungguh pada Novel, seorang yang bahkan ketemu apalagi nraktir semangkuk bakso buat kita aja gak pernah.

Pernyataan “ketidaksengajaan” yang muncul di persidangan dan akhirnya diduga kuat meringankan tuntutan hukum terdakwa itu, dijadikan konten oleh yang mengaku influencer. Betapa kata “gak sengaja” kini ramai dijual, menduduki trending topic. Kita menertawai kata tersebut. Hukum negara ini kita anggap jenaka.

Peristiwa ini memang menjadi pertanda bahwa masyarakat kita, walau nampak di taraf hanya peduli bikin TikTok dan challenge-challenge sembarang kalir di medsos, rupanya juga menaruh perhatian pada persoalan hukum dan politik negeri. Tentu ini kemajuan di satu sisi.

Kemudahan informasi dan akses yang diberikan teknologi membuat kita bisa membaca, menelaah, dan menganalisa kronologi perjalanan kasus Novel. Semua mendadak menjadi pengamat politik dan sarjana hukum jalur Twitter dengan diktat hukumonline.com.

Kita merasa menjadi makhluk paling suci jika ada yang mengusik kehidupan serdadu utama pemberantas korupsi. Kita merasa menjadi kaum yang paling berhak menentukan bahwa 1 tahun saja tak cukup. Kita ingin terdakwa dan otak di balik rencana jahat ini hidup menderita, berharap hakim memvonis hukuman seumur hidup.

Sama seperti kelakuan kita pada tokoh fiksi Yeo Da Kyung, karakter pelakor di drama Korea terlaris tahun ini: The World of Married. Penonton Indonesia ingin sang pelakor hidup menderita atas segala dosa yang diperbuat. Segenap mereka tidak terima melihat ending cerita Da Kyung yang tetap baik-baik saja, hidup dalam gelimang harta.

Kalau bisa, tak hanya meneror akun Instagram sang aktris, netijen gemas ingin menyurati sutradara, agar dibuatkan satu saja scene memuat adegan penyiraman air keras pada sang pelakor. Mungkin dengan berakhirnya wajah Da Kyung yang rusak, baru penonton bisa benar-benar puas (lha kok jadi kayak plot sinetron Endonesah?!).

Yang penonton lupa, Yeo Da Kyung, seorang gadis usia 20-an yang hamil di luar nikah dengan suami orang, telah menghabiskan masa mudanya, tak sempat mengejar cita-citanya, hanya karena nuruti mangan cinta dan janji manis bojone wong liyo.

Dari drama ini, kita lupa belajar tentang kehidupan. Hanya terfokus untuk belajar mengawasi suami ketika keluar rumah agar ia tak selingkuh. Kita lupa belajar bahwa apapun keputusan yang kita buat, telah menemui konsekuensinya masing-masing. Tak ada yang paling berhak menilai apakah ganjaran perbuatan sudah cukup memberatkan atau tidak.

Demikianlah kacamata kita yang sempit. Gak sengaja menertawai kebodohan orang lain, tanpa sadar bahwa perlakuan kita pun tak jauh lebih baik. Kita sengaja memilih satu-dua fakta kesalahan orang lain. Tapi juga sengaja mengabaikan nilai-nilai yang sebaiknya kita petik dan pelajari, agar kesalahan yang sama tak terulang pada hidup kita.

Lha wong menilai drama yang fiktif saja kita sengaja memilih poin yang hanya mau kita dengar, apalagi dalam kehidupan nyata. Hehe.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sejumlah Latar Belakang Maraknya Jari-jari Tega 0 119

Oleh: Evelyn Tania*

Pernahkah Anda membaca hate comment saat menjelajahi internet? Pernahkah melihat seseorang menyerang orang lain atas perkataan atau komentar yang dibuat di internet? Saya yang belakangan ini baru saja mulai menyukai seleb K-pop sering melihat hal tersebut, dan saya merasa sangat sedih nan kecewa setiap kali melihat hal seperti ini terjadi.

Seringkali saat browsing video di YouTube, saya melihat komentar yang secara langsung menyerang orang-orang yang ada dalam video. Jangankan di YouTube, banyak orang meninggalkan hate comment pada kampanye Black Lives Matter yang maksudnya hanya ingin menyetarakan derajat sesama manusia. Padahal sudah beberapa kali terjadi peristiwa di mana hate comment mendorong si target kebencian menuju depresi dan bahkan bunuh diri.

Saya jadi berpikir, kenapa sih ada orang yang kurang kerjaan hingga membenci orang-orang yang tidak mereka kenal? Apa salah orang-orang di internet ini sampai memicu kebencian mereka? Tidak pernahkah mereka yang meninggalkan hate comment berpikir bagaimana komentar mereka akan mempengaruhi kepercayaan diri dan mental dari orang yang dituju? Atau jangan-jangan memang itu tujuannya?

Menurut saya pribadi, terdapat dua alasan utama yang menyebabkan orang-orang ini tega meninggalkan hate comment pada orang lain, yang seringnya kok ya lebih terkenal daripada mereka sendiri. Keduanya adalah kecemburuan terhadap mereka yang disukai banyak orang dan ketakutan atas perubahan yang dibawa orang-orang tersebut. Bagaimana kedua alasan tersebut memicu kebencian dalam diri, terutama terhadap mereka yang mungkin tidak akan ditemui langsung oleh hate commenters ini sepanjang hidup?

Kecemburuan, dari beberapa literatur yang pernah saya baca dan film populernya Mas Brad Pitt, adalah salah satu dari The Seven Deadly Sins, tujuh dosa utama yang sering dirasakan manusia. Bahasa sabrangnya “envy”.

Kita semua tahu bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki banyak keinginan. Saat satu keinginan telah terkabulkan, maka akan muncul keinginan yang baru. Begitu seterusnya. Saat kita melihat orang lain memiliki sesuatu yang tidak kita miliki atau sesuatu yang kita inginkan, maka perasaan yang dinamakan kecemburuan ini akan muncul. Kita jadi menginginkan hal tersebut dari orang lain.

Menurut saya, para pemilik jari tega meninggalkan hate comment karena mereka melihat sosok yang disukai banyak orang dan cemburu karena mereka sendiri juga ingin populer. Rasa cemburu ini terkadang berubah menjadi kebencian, karena mereka tidak dapat mencapai keinginan tersebut, lalu ingin melampiaskannya kepada orang yang menimbulkan perasaan tersebut. Bisa juga malah terjadi karena cemburu oleh keberadaan seleb lain yang lebih terkenal dibandingkan seleb favorit mereka.

Di sisi lain, ketakutan juga dapat menimbulkan perasaan benci. ‘Humans fear the unknown’ adalah pepatah yang sering muncul dalam berbagai literatur terkait ketakutan manusia akan hal-hal yang tidak mereka ketahui.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memiliki standar ‘normal’ yang dicetuskan masyarakat dan diikuti dengan ketat. Bila terdapat perkembangan atau perubahan terhadap kenormalan tersebut, maka—tergantung dari perubahan yang terjadi—manusia dapat memiliki reaksi ekstrem.

Pemisalan yang dapat dilihat terkait reaksi manusia adalah dalam isu Black Lives Matter akhir-akhir ini. Selama ini, mayoritas dari orang Amerika berkulit putih berpegang pada kenormalan di mana mereka memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan orang berkulit hitam dan seluruh dunia. Meskipun mungkin ada yang tidak setuju atau tidak menerima kondisi tersebut sebagai sesuatu yang normal.

Dengan berkembangnya pengetahuan dan kesadaran sosial masyarakat, semakin banyak masyarakat dunia sudah tidak dapat menerima diskriminasi yang dialami oleh mereka yang berkulit hitam di Amerika. Mulailah bermunculan berbagai organisasi sosial dengan tujuan menyamakan derajat semua orang di Amerika.

Hal ini mengganggu kenormalan yang selama ini dipegang mayoritas warga Amerika. Mereka merasa takut terhadap kemungkinan bahwa kenormalan mereka akan mengalami perubahan. Sehingga muncul perasaan benci terhadap segala upaya yang dilakukan organisasi-organisasi sosial tersebut.

Perasaan benci yang telah timbul terkadang mereka rasa perlu diekspresikan, untuk membuat diri sendiri merasa lebih baik. Bentuk ekspresi ini paling sering muncul dalam bentuk hate comment, karena adanya perlindungan anonimitas di sana. Selain itu, juga karena meninggalkan hate comment adalah sesuatu yang sangat mudah dilakukan. Sampai-sampai anak berusia 7 tahun juga dapat melakukannya (saya pernah melihatnya sendiri). Kedua hal tersebut memberikan kebebasan bagi manusia untuk melampiaskan kebencian mereka kepada orang-orang yang tidak bersalah, tanpa mempedulikan konsekuensi terhadap diri sendiri maupun si target.

Perasaan benci merupakan sesuatu yang telah menyebabkan banyak konflik dalam sejarah dunia. Kita perlu menyadari bahwa membiarkan perasaan benci menguasai hidup kita hanya akan membawa penderitaan bagi kita sendiri. Mungkin kita akan merasakan kesenangan sesaat saat melakukan tindakan yang didorong kebencian. Namun sesuai dengan hukum karma, kita akan menerima apa yang kita berikan kepada orang lain.

Setidaknya dalam konteks yang telah saya sampaikan dalam tulisan ini, beberapa hal yang harus disadari oleh kita adalah bahwa jika kita menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain, kita seharusnya berjuang untuk memperoleh hal tersebut. Bukan malah membenci orang lain dan jadi terlewat untuk secara nyata memperjuangkan keinginan tersebut.

Hal lain yang dapat membantu adalah dengan membuka pemikiran kita terhadap segala sesuatu dan tidak memaksakan pemikiran kita dalam batas yang kaku. Dunia ini selalu berkembang dan berubah, dunia tidak akan berhenti apabila kita tidak dapat menerima perubahan. Dunia justru akan meninggalkan kita. Gitu, ghes

 

*) Seorang mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada. Bercita-cita sederhana: tak ada lagi kebencian di bumi ini.

*)Tulisan ini juga dimuat di e-Book “Eka-citta Writing Workshop Kamadhis UGM 2020” dan diedit seperlunya oleh tim redaksi.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Menangisi Gagalnya Nobar di Bioskop 0 207

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Cucu Ahmad Kurnia, sudah fix menunda pembukaan bioskop yang seharusnya terjadwal 29 Juli ini, sampai waktu yang belum ditentukan. Tentu saja niatnya baik: demi memutus mata rantai penularan COVID-19, yang makin hari angkanya makin naik gak karu-karuan.

Di kolom ini tentu saja kita tidak perlu membahas efektivitas kebijakan menahan pembukaan sejumlah tempat hiburan malam dan bioskop, namun membiarkan tempat wisata lain (yang lebih banyak digunakan untuk pesepeda dadakan) tetap beroperasi.

Yang jelas, sebagian dari kita tentu mengeluh dalam hati. Rasanya bak diberi harapan tapi diputus tiba-tiba. Setelah lebih dari seribu bioskop di 52 kota di Indonesia tutup sejak 26 Maret 2020, mengurung jiwa-jiwa hedon kita. Berbulan-bulan loh gak nonton bioskop! Rasanya mau mati, kalau katanya influencer review makanan. Se-introvert-introvert-nya saya (maaf ngaku-ngaku), saya pun sama dengan kalian: rindu nonton bioskop.

Saya paham betul anyep-nya ketawa sendirian sepanjang nonton film genre komedi, dan sepinya menangis sendiri saat nonton adegan yang mengharukan. Saya sadar betul betapa gak mbois-nya nonton film di layar kecil HP, atau paling banter di layar laptop 14 inci. Saya juga gak bisa merasakan sensasi spiker D*lby all around you, apalagi layar Imax yang segede lapangan futsal itu.

Kita tentu rindu rasa-rasa ketika baru masuk gedung bioskop, mendengar teriakan mas-mas penjual popcorn supaya kita tertarik beli dagangannya, berasa artis yang disoraki fans. Kita tentu kangen sekali perjuangan mencari promo tiket melalui platform daring. Kita mungkin rindu rasa balap-balapan pre-order booking kursi untuk penayangan premiere film kesayangan yang sudah kita tunggu-tunggu serialnya.

Sudah lama juga ya rasanya gak makan popcorn, yang gara-gara saking asyiknya sampai habis duluan sebelum filmnya mulai. Sampai lupa rasanya pamer foto tiket nobar bioskop film yang sedang hype di Instagram Story—yang kalau teman-teman kita kebetulan sudah nonton duluan, kita wajib ancam mereka dengan segenap kekuatan jiwa-raga supaya mereka tidak spoiler.

Tentu jadi kerinduan bersama pula buat pegangan tangan dengan kekasih sepanjang film berlangsung—apalagi kalau filmnya horor (wes ngakuo ae, aku yo eruh modusmu!)—untuk saling menyalurkan rasa hangat tubuh, meminimalisir begitu br*ngs*knya dinginnya AC gedung teater. Hal sesederhana tertawa bersama penonton lain di adegan-adegan konyol, atau berteriak bersama ketika ada jumpscare, semua itu bikin kangen.

Kita semua memang bersedih dan tak kunjung kelar mengeluh dengan tertundanya pembukaan bioskop ini. Mengutuki dalam hati: koronah gatheeeel! Walau sebenarnya sudah ada Netflix yang sudah dibuka blokirnya oleh Indihome, atau aplikasi lain (dan website streaming ilegal yang belum diblokir pemerintah) yang bisa diakses, menambal kerinduan-kerinduan kita akan nobar di bioskop.

Tapi mungkin gara-gara kita sibuk berduka, kita sampai lupa ada yang nasibnya lebih terkatung-katung.

Ketua Umum Asosisasi Produser Film Indonesia menyebut, ada sekitar 15 proyek film yang gagal produksi tahun ini. Hal ini tentu berdampak pula bagi para sutradara dan kisah produksi mereka. Mulai dari Joko Anwar sampai Livi Zheng, semua gigit jari.

Para aktor dan aktris, walau setenar Reza Rahadian dan Tara Basro sekalipun, di masa begini, pupus sudah seluruh jadwal syuting yang telah tersusun rapi sepanjang tahun 2020. Jangan lupa keseluruhan kru film, yang dalam sekali pembuatan film, bisa ada 80-100 orang bahkan lebih. Bisa jadi, side job supir G*jek sempat melintas di benak mereka (atau bahkan ada yang sudah merealisasikannya) demi menyambung hidup.

“Loh kan filmnya bisa tayang secara onlen”. Mulut gampang bicara. Tapi bagaimana menggaji kru film dan biaya produksi yang bermiliar-miliar hanya dengan online streaming? Bagaimana caranya menutup kekurangan biaya 80-90 persen yang selama ini didapatnya dari bioskop?

Juga mereka, para reviewer atau kritikus film, tak lagi punya bahan untuk dikomentari. Tak lagi mereka mengirim tulisan untuk media, di mana juga berarti hilangnya sebagian besar penghasilan (dan passion) mereka.

Mbak-mbak penyobek tiket nontonmu, mereka yang membersihkan sampah bekas popcorn yang kamu tinggalkan begitu saja di kursi, tukang pel kamar mandi eks-eks-wan, mereka semua juga ingin kembali ke bioskop. Mereka yang harus dirumahkan, kena pengurangan gaji, atau bahkan PHK, semua sama kangennya dengan bioskop seperti kita, gaes!

Tapi, berbeda dengan kamu semua yang rindu mencari hiburan di tengah kebosanan, mereka ingin kembali ke bioskop karena rindu kembali bekerja.

Kata Kakak Anji: “Corona gak semengerikan itu kok”. Mungkin benar bagi sebagian orang, tapi tidak bagi mereka, para pejuang seni garda terdepan dan pekerja kreatif, yang sama sekali kehilangan pekerjaannya gara-gara Corona.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks