Logika Hello Kitty Rebus vs Drama Korea 1 1017

Beberapa waktu yang lalu, saya tak henti tertawa terbahak-bahak menonton cuplikan sinetron SCTV di mana satu keluarga terbelalak menyaksikan boneka Kekeyi Hello Kitty yang direbus di panci. Sungguh tak terduga, bukan?

Berawal dari seorang ibu-ibu berhijab pergi ke dapur, terkaget-kaget melihat sebuah boneka Hello Kitty yang dengan tabahnya berada di panci penuh air mendidih. “Astagfirullah!!!” kata ibu tersebut lalu dimatikanlah kompornya. Mendengar keributan tersebut, satu-persatu anggota rumah menghampiri ibu itu untuk melihat apa yang terjadi. Sama dengan ibu itu, mereka juga terkaget-kaget.

Tak hanya ihwal Hello Kitty yang direbus, ada adegan lain yang tak masuk akal. Pertama, saat masih di kamar, terlihat bahwa anak perempuan sang pemilik boneka nahas tersebut memiliki boneka Hello Kitty YANG SAMA dengan boneka yang direbus.

Kedua, anak tersebut kaget dan menangis padahal panci tersebut lebih tinggi dari dia, jadi seharusnya anak itu tidak dapat melihat isi dari panci tersebut.

Ketiga, masalah interior, furnitur, wardrobe, dan aspek-aspek artistik lainnya yang tidak cocok dengan latar belakang keluarga tersebut yang ceritanya horang kaya. Terlalu norak dan cheap-looking untuk orang kaya yang tinggal di perkotaan.

Tanpa berlama-lama, saya menutup video tersebut karena takut kantong ketawa saya rusak. Ironisnya, saya baru saja kembali menonton drama The World of The Married, drama Korea (drakor) dengan rating tertinggi yang pernah ditayangkan TV kabel,yakni sekitar 28 persen. Mulai dari plot, akting pemain, unsur artistik, dan sinematografi,semua begitu mengagumkan. Bahkan mereka memasukkan unsur psikologis agar karakter tokoh begitu kuat dan emosi penonton diaduk-aduk sampai mampus.

Seperti biasa, adegan nyeleneh semacam ini dengan cepat menjadi viral terutama di Twitter. Banyak netijen yang mengritik dan menertawai adegan ini. Alhasil, sang penulis skenario angkat bicara melalui “sebuah utasan” di Twitter.

Aya Swords (@ayaswords) menuliskan bahwa sudah tidak penting lagi adegan tersebut bisa dinilai akal sehat atau tidak. Yang terpenting adalah adegan tersebut lulus sensor dan selesai tepat waktu. Saat merumuskan adegan kontroversial tersebut, Aya Swods mengaku benar-benar ditekan deadline.

Penulis naskah tidak henti-hentinya menyusun skenario selama proses produksi berjalan, sedangkan produksi sinetron akan terus berlanjut selama rating masih tinggi. Pun juga deadline yang tak kunjung usai. Saya rasa kalau begini terus, tak hanya penonton yang kesehatan mentalnya terganggu karena sinetron yang tak kunjung tamat,tapi krunya juga!

Aya Swords juga menambahkan tak masalah bila netiken menilai adegan tersebut tak logis, toh ratingnya masih tinggi. Lagi pula, kita-kita memang bukan segmentasi sinetron tersebut, tapi ibu-ibu kampung.

Tentu beda sekali dengan sistem kerja drakor. Beda halnya dengan sinetron yang akhir ceritanya bergantung pada rating pemirsa, ending dari drakor sudah ditentukan sejak awal. Jadi, setelah skrip selesai, diajukan ke produser, dan barulah proses produksi dimulai. Entah ratingnya mau 5 persen atau bahkan 48 persen, kalau dari awal 16 episode, ya sampai akhir 16 episode.

Dengan begini, penulis bisa membuat skenario yang kualitasnya stabil serta logis. Mereka masih berkesempatan untuk menulis naskah berdasarkan riset.

Sayang sekali memang, apabila sinetron hanya mengejar rating dengan memperpanjang episode. Tak hanya kualitasnya yang menurun dan membuat kita mual, tapi lama-lama para pekerja di dalamnya semakin tak optimal kerjanya, seperti yang dipaparkan Aya Swords tadi.

Padahal, drama yang berkualitas sudah otomatis membuat rating jadi tinggi. Kalau sudah waktunya tamat, ya buat lagi yang baru. Dengan begitu, tidak membuat penonton bosan.

Bahkan, apabila sinetron memiliki cerita yang lebih bisa masuk akal sehat, mungkin segmentasi akan meluas. Drakor misalnya yang dulu hanya diminati ciwi-ciwi penggila drakor. Kini mereka yang berikhtiar tidak akan menonton drakor (khususnya laki-laki), pada akhirnya nonton juga.

Sekarang siapa coba yang tidak tahu si ganteng Kapten Ri atau si pelakor Da Kyung? Dengan begini, sudah pasti iklan dan sponsor juga makin bertambah.

Drakor yang memiliki banyak penggemar pada akhirnya punya pengaruh yang luar biasa. Saya pribadi, tahu ada negara bernama Korea Selatan gara-gara drakor Full House yang dibintangi Song Hye Kyo dan Rain.

Drakor bahkan juga punya peranan penting dari mendunianya budaya Korea Selatan, mulai dari makanan,  fashion, hingga bahasa (gara-gara drakor, kalau kaget kita bukan bilang  “astaga” lagi, melainkan “aigoo”).

Selain mempengaruhi penonton akan budaya Korea, barang-barang yang dipakai karakter drakor juga menjadi incaran. Pada tahun 2014, kaus bergambar Bambi keluaran Givenchy serta lipstick warna pink nyentrong ludes di Korea Selatan karena dipakai Cheon Song Yi di drama My Love From The Star.

Meski bukan endorsement, tapi ini membuktikan bahwa drama punya potensi untuk menjadi media promosi yang ampuh. Ternyata tak hanya commercial break, tapi drama itu sendiri juga bisa jadi lapak untuk cari uang.

Entah bisa atau tidak terjadi, tapi saya sangat berharap adanya pembenahan sinetron di Indonesia. Dari drama negeri ginseng kita belajar, bahwa sistem produksi yang lebih “sehat” serta cerita yang gak ngawur, malah membuat drama tersebut lebih menghasilkan duit ketimbang mengulur-ngulur episode.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (Instagram: @petiteanette)

Previous ArticleNext Article

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alasan Mengapa Penampilan Kim Kardashian di MET Gala 2021 Patut Diacungi Jempol 0 326

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

 

Sempat batal diselenggarakan setahun yang lalu karena pandemi, akhirnya acara fesyen paling eksklusif, MET Gala, kembali hadir tahun ini. Diselenggarakan pada 13 September di Metropolitan Museum of Arts, New York, MET Gala 2021 mengusung tema “American Independence“, sehingga tamu undangan bisa bebas berdandan apa saja pokoknya sesuai tema.

Seperti biasa, MET Gala selalu mengundang perhatian karena dihadiri oleh bintang-bintang internasional dan menjadi ajang bagi desainer papan atas untuk  pamer kreativitas. Bahkan saking hebohnya, sampai-sampai muncul kekhawatiran bahwa MET Gala akan overshade acara New York Fashion Week yang juga digelar berdekatan dengan acara yang diketuai Anna Wintour tersebut.

Salah satu selebritis yang mengundang perhatian publik adalah Kim Kardashian. Biasa tampil seksi, kini ia secara ekstrem berpenampilan tertutup. Literally.

Putri dari Kris Jenner ini mengenakan pakaian serba hitam berbahan kaus dari Balenciaga hingga menutupi semua kulitnya. Hanya rambut super panjangnya yang terlihat.

Penampilan nyeleneh Kim ini sontak menjadi bahan lelucon bagi publik. Banyak yang menyamakannya dengan Dementor yang ada di film Harry Potter. Selain itu, banyak orang juga membuat Kim Kardashian menjadi bahan meme di media sosial. Kasihan!

Meski banyak diejek, saya menilai penampilan Kim Kardashian patut diacungi jempol. Bahkan Bryan Boy, salah satu fashion influencer ternama juga menilai demikian. Bahkan, Diet Prada juga memasukkan kakak Kendall Jenner ini dalam dereran Best Dressed.

Jadi sebelum menghina Kim Kardashian, coba baca dulu penjelasan saya kenapa penampilan Kim yang bikin kita ikut selempeken ini keren abis.

  1. Menarik Perhatian

Tidak ada aturan kalau kamu harus tampil cantik dan stylish saat menghadiri MET Gala. Berbeda dari acara red carpet lainnya, para tamu diharapkan untuk tampil seunik mungkin, asalkan sesuai tema. Semakin nyentrik, semakin menarik perhatian, semakin jadi bahan perbincangan, semakin bagus!

Justru penampilan aneh macam Kim Kardashian inilah yang membuat kita selalu menunggu MET Gala setiap tahunnya. Publik menjadi penasaran dan menantikan outfit-outfit cetar nan mentereng dari para bintang yang tidak dapat ditemui di acara lain. Dengan menjadikan Kim dan Balenciaga sebagai buah bibir di media sosial, saya menilai kostum Dementor milik Kim MET Gala worthy banget!

 

  1. Sesuai Tema

Mengenakan gaun menyerupai T-shirt dengan tambahan “ekor”, Kim jelas mengikuti tema yang ada. T-shirt merupakan item fesyen yang ditemukan dan dipopulerkan oleh orang Amerika, sehingga bisa dibilang penampilan bintang “Keeping Up With The Kardashians” ini sudah Amerika banget!

Selain “Amerika” banget karena sejarahnya, outfit dari Kim juga sangat merefleksikan kebebasan.

T-Shirt alias kaus oblong pada awalnya merupakan pakaian dalam tentara Inggris dan Amerika pada abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Item fesyen ini mulai populer setelah dikenakan aktor legendaris Marlon Brando pada tahun 1947 ketika ia memerankan tokoh Stanley Kowalsky dalam pentas broadwayA Street Named Desire” di Amerika Serikat.  Sejak itu, T-shirt booming di kalangan anak muda. Meski dianggap tidak sopan bagi orang-orang tua, para pemuda Amerika Serikat menjadikannya simbol kebebasan dan juga bagian dari identitas mereka.

Baik Kim maupun Balenciaga secara kreatif menginterpretasi tema bahwa American Independence tidak melulu terinspirasi dari bendera dan juga patung Liberty saja.

 

  1. Contoh Baik Taat Prokes

Perlu diingat bahwa event tahunan ini diselanggarakan di tengah-tengah pandemi Covid-19. Kim Kardashian patut dipuji dengan mengenakan outfit yang sesuai dengan prokes: pakai masker, kurangi kontak langsung dengan kulit, dan pembatasan sosial. Sayangnya Kim tinggal di Amerika, andai saja ia tinggal di Indonesia, pasti sudah segera dilantik jadi Duta Prokes Cegah Covid-19 hehe…

Kim tahu benar bahwa masker tidak terlalu ampuh melindunginya dari paparan virus. Masker masih saja menyisakan celah, terutama di area hidung. Untuk itu, Kim menutupi keseluruhan wajahnya dengan masker berbahan mirip stocking berwarna hitam. Alhasil, dia tidak perlu repot-repot mengenakan masker dan face shield.

Tak hanya itu, Kim juga memikirkan kehigienisan dengan menutup seluruh kulit di area tangan dan kaki. Sehingga, saat tamu lain bersalaman atau tidak sengaja menyentuh Kim, mereka tidak bersentuhan secara langsung. Penularan Covid-19 pun dapat diminimalisasi.

Yang terakhir, outfit Kim ini menjaganya dan para tamu lainnya untuk melakukan pembatasan sosial. Outfit serba tertutup nan horor ini membuat orang jadi malas rumpik bersama Kim, sehingga orang akan secara otomatis menjaga jarak dengannya. Apalagi, acara ini diselenggarakan pada malam hari, alhasil banyak orang yang jangankan dekat-dekat, melihatnya saja tidak bisa. Menyatu dengan gelapnya malam.

 

  1. Inspirasi Tampil Cetar dengan Budget Seadanya

Last but not least, outfit Kim dapat menjadi inspirasi bagi Pembaca yang ingin tampil mentereng di pesta dengan budget minimalis. Balenciaga tidak perlu bermodal banyak untuk menjadikan Kim Kardashian sebagai pusat perhatian di MET Gala. Cukup dua bahan: kaus dan stocking!

Nah, Pembaca bisa tuh DIY (do it yourself) kaus yang ada. Tinggal beli kain kaus untuk ekor tambahan, lalu dibawa ke penjahit terdekat. Akan lebih bagus kalau Pembaca bisa menjahit sendiri.

Selain bahannya cukup bersahabat di kantong, Pembaca juga tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk menyewa jasa MUA (make-up artist). Banyak perempuan yang rela membayar jutaan rupiah demi menjadi pusat perhatian di pesta. Tetapi, dengan ide outfit dari Kim Kardashian ini, Pembaca tidak usah repot-repot merogoh kocek mendalam, bukan?

Semua Akan Korea Pada Waktunya, Tapi Gak Gini Juga 0 249

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

 

“Semua akan Korea pada waktunya”, begitulah kalimat yang dapat mewakili kondisi masyarakat negara +62.

Sempat menghina K-pop-ers dengan sebutan alay karena dianggap mengidolakan artis-artis negeri ginseng, kini wajah mulus tak bercela para artis Korea ramai kita jumpai di iklan-iklan merek lokal. Bisa dibilang para artis Korea tersebut dijadikan koentji dalam marketing produk dan jasa.

Kapan hari, internet diguncang berita aktris Felicya Angelista yang diwujudkan ngidamnya oleh sang suami untuk video call bersama pemeran Mas Mafia Vincenzo, Song Joong Ki (baca lagi: Wajah Ganteng Song Joong Ki dan Tabiat Penonton Drama Korea).

Usai viral karena dianggap fan yang beruntung, muncullah berita aktor “Space Sweepers” tersebut didapuk sebagai brand ambassador skinker milik Felicya, Scarlett Whitening. Hancik, cuma marketing ternyata. Hampir bersamaan, muncul lagi berita yang menyebutkan bahwa boy group TREASURE akan menjadi brand ambassador bimbingan belajar online “penguasa” stasiun televisi kita, Ruangguru.

Pemilihan artis Korea sebagai brand ambassador merek lokal bukanlah hal baru.  Tahun 2016 silam, aktor “The Heirs” Lee Min Ho didapuk jadi brand ambassador Luwak White Koffie. Kemudian, cara ini diikuti oleh Mie Sedap yang menjadikan Siwon “Super Junior” sebagai brand ambassador-nya untuk mempromosikan mie rasa ayam pedas korea. Lalu, disusul Tokopedia yang membuat kita ter-kamcagiya (kaget) dengan menggandeng boy group terpopuler segalaksi bima sakti dalam promosinya.

Memang menggandeng artis Korea bisa menjadi jalan ninja untuk mempopulerkan merek produk atau jasa. Merek tersebut akan seketika menjadi buah bibir para fans artis Korea, baik membicarakan artis idola mereka atau sangking tajir melintirnya perusahaan tersebut.

Buktinya, permen Kopiko selalu menjadi buah bibir dan viral setiap permen rasa kopi tersebut muncul di adegan-adegan drama Vincenzo dan Mine. Benar-benar tidak rugi setelah menggelontorkan miliyaran rupiah!

Selain menjadi populer, produk atau jasa dijamin akan laris manis setelah memilih artis Korea sebagai bintang iklan mereka. Itu karena kesetiaan para fans artis Korea untuk mendukung artis idola mereka yang tidak dapat diragukan lagi.

Masih ingat kan dengan kasus antre menu BTS Meal dari McDonald’s? Jangankan dijadikan bintang iklan, lha wong barang yang “nampil” di siaran langsung artis Korea saja bisa ludes dibeli para fans.

Mungkin Korean celebrity endorsement bisa menjadi marketing tool yang sangat efektif, tapi mbok ya artisnya disesuaikan dengan mereknya. Misalnya, pemilihan boy group TREASURE sebagai brand ambassador Ruangguru. Jujurly, menurut saya sangat aneh karena boy group ini tidak memiliki sangkut paut dengan dunia pendidikan.

Masih banyak artis yang terkenal memiliki prestasi akademik semasa sekolah seperti Cha Eun Woo “ASTRO” atau Giselle “aespa” yang lebih bisa merepresentasikan merek tersebut.

Dan anehnya lagi, produk dan jasa yang memakai artis Korea tersebut tidak merambah pasar Koerea Selatan. Saya bisa memaklumi Kopiko yang mengeluarkan uang miliyaran rupiah untuk menjadi sponsor beberapa drama korea, karena mereka memang memasarkan kopi tersebut ke sana.

Tapi, bagaimana dengan Scarlett Whitening? Apakah Anda yakin wajah putih mulus Song Joong Ki didapat dari memakai produk tersebut, lha wong produknya aja tidak ada di sana.

Meski menjadi marketing tool yang efektif, saya berharap Korean celebrity endorsement ini tidak dijadikan tren yang “wajib” diikuti. Masih banyak, kok artis Indonesia yang mampu merepresentasikan sebuah merek, apalagi untuk menjadikan iklan menjadi viral.

Contohnya  pemilihan komika Babe Cabita sebagai brand ambassador menjadikan iklan MS Glow menjadi viral. Meski banyak yang sewot karena Babe Cabita kurang ganteng, tapi menurut iklan tersebut sangat realistis dan relatable. Karena, wajah Babe Cabita yang lebih glowing seusai menggunakan produk MS Glow jauh lebih bisa dipercaya dari pada wajah mulus Song Joongki usai menggunakan skinker lokal, hehe.

 

 

Editor Picks