Logika Hello Kitty Rebus vs Drama Korea 1 647

Beberapa waktu yang lalu, saya tak henti tertawa terbahak-bahak menonton cuplikan sinetron SCTV di mana satu keluarga terbelalak menyaksikan boneka Kekeyi Hello Kitty yang direbus di panci. Sungguh tak terduga, bukan?

Berawal dari seorang ibu-ibu berhijab pergi ke dapur, terkaget-kaget melihat sebuah boneka Hello Kitty yang dengan tabahnya berada di panci penuh air mendidih. “Astagfirullah!!!” kata ibu tersebut lalu dimatikanlah kompornya. Mendengar keributan tersebut, satu-persatu anggota rumah menghampiri ibu itu untuk melihat apa yang terjadi. Sama dengan ibu itu, mereka juga terkaget-kaget.

Tak hanya ihwal Hello Kitty yang direbus, ada adegan lain yang tak masuk akal. Pertama, saat masih di kamar, terlihat bahwa anak perempuan sang pemilik boneka nahas tersebut memiliki boneka Hello Kitty YANG SAMA dengan boneka yang direbus.

Kedua, anak tersebut kaget dan menangis padahal panci tersebut lebih tinggi dari dia, jadi seharusnya anak itu tidak dapat melihat isi dari panci tersebut.

Ketiga, masalah interior, furnitur, wardrobe, dan aspek-aspek artistik lainnya yang tidak cocok dengan latar belakang keluarga tersebut yang ceritanya horang kaya. Terlalu norak dan cheap-looking untuk orang kaya yang tinggal di perkotaan.

Tanpa berlama-lama, saya menutup video tersebut karena takut kantong ketawa saya rusak. Ironisnya, saya baru saja kembali menonton drama The World of The Married, drama Korea (drakor) dengan rating tertinggi yang pernah ditayangkan TV kabel,yakni sekitar 28 persen. Mulai dari plot, akting pemain, unsur artistik, dan sinematografi,semua begitu mengagumkan. Bahkan mereka memasukkan unsur psikologis agar karakter tokoh begitu kuat dan emosi penonton diaduk-aduk sampai mampus.

Seperti biasa, adegan nyeleneh semacam ini dengan cepat menjadi viral terutama di Twitter. Banyak netijen yang mengritik dan menertawai adegan ini. Alhasil, sang penulis skenario angkat bicara melalui “sebuah utasan” di Twitter.

Aya Swords (@ayaswords) menuliskan bahwa sudah tidak penting lagi adegan tersebut bisa dinilai akal sehat atau tidak. Yang terpenting adalah adegan tersebut lulus sensor dan selesai tepat waktu. Saat merumuskan adegan kontroversial tersebut, Aya Swods mengaku benar-benar ditekan deadline.

Penulis naskah tidak henti-hentinya menyusun skenario selama proses produksi berjalan, sedangkan produksi sinetron akan terus berlanjut selama rating masih tinggi. Pun juga deadline yang tak kunjung usai. Saya rasa kalau begini terus, tak hanya penonton yang kesehatan mentalnya terganggu karena sinetron yang tak kunjung tamat,tapi krunya juga!

Aya Swords juga menambahkan tak masalah bila netiken menilai adegan tersebut tak logis, toh ratingnya masih tinggi. Lagi pula, kita-kita memang bukan segmentasi sinetron tersebut, tapi ibu-ibu kampung.

Tentu beda sekali dengan sistem kerja drakor. Beda halnya dengan sinetron yang akhir ceritanya bergantung pada rating pemirsa, ending dari drakor sudah ditentukan sejak awal. Jadi, setelah skrip selesai, diajukan ke produser, dan barulah proses produksi dimulai. Entah ratingnya mau 5 persen atau bahkan 48 persen, kalau dari awal 16 episode, ya sampai akhir 16 episode.

Dengan begini, penulis bisa membuat skenario yang kualitasnya stabil serta logis. Mereka masih berkesempatan untuk menulis naskah berdasarkan riset.

Sayang sekali memang, apabila sinetron hanya mengejar rating dengan memperpanjang episode. Tak hanya kualitasnya yang menurun dan membuat kita mual, tapi lama-lama para pekerja di dalamnya semakin tak optimal kerjanya, seperti yang dipaparkan Aya Swords tadi.

Padahal, drama yang berkualitas sudah otomatis membuat rating jadi tinggi. Kalau sudah waktunya tamat, ya buat lagi yang baru. Dengan begitu, tidak membuat penonton bosan.

Bahkan, apabila sinetron memiliki cerita yang lebih bisa masuk akal sehat, mungkin segmentasi akan meluas. Drakor misalnya yang dulu hanya diminati ciwi-ciwi penggila drakor. Kini mereka yang berikhtiar tidak akan menonton drakor (khususnya laki-laki), pada akhirnya nonton juga.

Sekarang siapa coba yang tidak tahu si ganteng Kapten Ri atau si pelakor Da Kyung? Dengan begini, sudah pasti iklan dan sponsor juga makin bertambah.

Drakor yang memiliki banyak penggemar pada akhirnya punya pengaruh yang luar biasa. Saya pribadi, tahu ada negara bernama Korea Selatan gara-gara drakor Full House yang dibintangi Song Hye Kyo dan Rain.

Drakor bahkan juga punya peranan penting dari mendunianya budaya Korea Selatan, mulai dari makanan,  fashion, hingga bahasa (gara-gara drakor, kalau kaget kita bukan bilang  “astaga” lagi, melainkan “aigoo”).

Selain mempengaruhi penonton akan budaya Korea, barang-barang yang dipakai karakter drakor juga menjadi incaran. Pada tahun 2014, kaus bergambar Bambi keluaran Givenchy serta lipstick warna pink nyentrong ludes di Korea Selatan karena dipakai Cheon Song Yi di drama My Love From The Star.

Meski bukan endorsement, tapi ini membuktikan bahwa drama punya potensi untuk menjadi media promosi yang ampuh. Ternyata tak hanya commercial break, tapi drama itu sendiri juga bisa jadi lapak untuk cari uang.

Entah bisa atau tidak terjadi, tapi saya sangat berharap adanya pembenahan sinetron di Indonesia. Dari drama negeri ginseng kita belajar, bahwa sistem produksi yang lebih “sehat” serta cerita yang gak ngawur, malah membuat drama tersebut lebih menghasilkan duit ketimbang mengulur-ngulur episode.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (Instagram: @petiteanette)

Previous ArticleNext Article

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ajakan Ustadz Abdul Somad Beli Kapal Selam Adalah Inovasi Cemerlang 0 144

Akhir April lalu Ustadz Abdul Somad melalui akun Instagram-nya (@ustadzabdulsomad_official) mengumumkan ajakan kepada umat untuk membantu negara membeli kapal selam baru dalam sebuah gerakan yang bertajuk “Patungan Rakyat Indonesia Membeli Kapal Selam”.

Gerakan ini bukan respons seremonial atau berita bombastis semata. Melalui gerakan ini, UAS benar-benar secara serius ingin turut mendukung TNI, mengingat betapa berat tugas yang mereka pikul. “Mari kita seluruh rakyat Indonesia, bahu-membahu mengulurkan tangan dan sumbangsih membangun kekuatan armada laut kita agar kembali berjaya,” kata UAS dalam postingannya.

Rasa-rasanya, lama kita tidak mendengar gerakan terbuka yang progresif dilakukan oleh tokoh Islam nasional. Maka sudah sepatutnya apa yang dilakukan UAS mendapatkan dukungan yang maksimal.

Namun tentu saja, eman kalau andaikata gerakan tersebut hanya berhenti sebatas membeli kapal selam saja. Dengan memanfaatkan pengaruhnya, UAS mestinya bisa melakukan lebih daripada itu.

Jika boleh memberi saran, banyak hal yang insyaAllah juga dapat diatasi bila UAS syukur-syukur mau melanjutkan gerakannya sampai ke pengadaan-pengadaan fasilitas negara lainnya. Kita mulai dari yang terdekat, membantu negara mengembangkan formula untuk menangkis serangan virus Covid-19.

Dari apa yang dilakukan UAS, bisa kita asumsikan bahwa Indonesia dihuni oleh mayoritas masyarakat borjuis, dengan kemungkinan besar orang miskin di Indonesia sudah masuk kategori minoritas sejak proklamasi. Artinya, bukan menjadi soal berat bagi masyarakat bila dimintai urunan membeli vaksin paling top di dunia, misalnya.

Selanjutnya, mumpung bulan Ramadhan, yang insyaAllah segala amalan kita dapat membawa berkah, maka perlu rasanya UAS membantu saudara-saudara dari agama minoritas untuk membangun rumah ibadah.

Dari banyak catatan sejarah, agama minoritas selalu kesulitan mendapatkan dukungan membangun fasilitas ibadah. Hal inilah yang kemudian memancing banyak sekali konflik SARA. Bahkan tidak jarang yang berakhir dengan peperangan fisik antara kelompok beragama, alhasil beban aparat yang senantiasa bertugas menangani konflik pun bertambah.

Nah, bayangkan, bila saja kelompok-kelompok agama minoritas mendapatkan dukungan berupa pembangunan fasilitas ibadah, maka kecil kemungkinan konflik SARA akan terjadi. Sebab, keadilan untuk beragama sudah diberikan. Dampak-dampak seperti peperangan yang dapat merepotkan tugas aparat pun bisa diatasi.

Sekarang kita masuk ke ranah pendidikan. Tak perlu riset berkepanjangan untuk mengetahui betapa kurangnya kualitas pendidikan di negara kita dikarenakan berbagai faktor. Yang biasanya paling sering disebut adalah fasilitas belajar-mengajar.

Pastinya UAS sudah mengetahui betapa agama mengharuskan kita untuk menuntut ilmu sebagai bekal di dunia dan akhirat. Mengajak masyarakat agar mau ikut urunan demi pendidikan yang berkualitas sama halnya seperti ibadah. Baik UAS dan negara, insyaAllah akan mendapatkan barokah bila melakukan jihad yang satu ini.

Kalau pun sekarang kegiatan sekolah di-online-kan, ya urunannya perlu menyesuaikan dengan itu. Contoh, belikan semua pelajar Indonesia yang membutuhkan sambungan internet atau handphone canggih supaya tidak ketinggalan pelajaran karena alasan keterbatasan fasilitas.

Terakhir – ya, meskipun masih banyak lagi – kita mungkin wajib tepuk tangan karena gerakan yang dilakukan UAS ini dimulai dengan strategi yang sangat visioner. Siapa yang mengira, lumbung bantuan dari hasil urunan ini akan berpusat di salah satu masjid yang terletak di Yogyakarta, daerah dengan gaji buruh terendah berdasarkan UMP se-Indonesia.

Mengingat masyarakat Indonesia mayoritas borjuis, pastinya gerakan urunan ini akan menghasilkan total uang yang banyak pula. Minimal lebih dari harga dua kapal selam yang katanya bisa sampai menyentuh angka – bila dirupiahkan – 16 triliun .

Kelebihan hasil urunan inilah yang – lagi-lagi – pastinya sudah dipikirkan UAS untuk dibagikan juga pada minoritas buruh-buruh di Jogja yang perekonomiannya terdampak pandemi. Sudah visioner, progresif, merakyat pula. UAS emang panutanque.

Kebetulan di masa pandemi ini, uang saya makin melimpah, walaupun pelanggan kafe sepi dan berbagai agenda proyek batal. InsyaAllah saya akan mendukung UAS apapun bentuk ajakan sosialnya.

Kalau nanti gerakan urunan ini beres di Indonesia, dan UAS berencana melakukan gerakan serupa sampai ke negara lain seperti Malaysia atau Afghanistan, maka saya akan tetap berada dalam sikap dan barisan yang sama. Barisan cemerlang dengan penawaran yang amat visioner.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Wajah Ganteng Song Joong Ki dan Tabiat Penonton Drama Korea 0 249

Vincenzo, drama Korea yang tayang pada setiap hari Sabtu di TVN dan Netflix ini, menyajikan alur yang menarik untuk ditonton. Dibintangi oleh Song Joong Ki, Jeon Yeo Bin, dan Taecyeon, drama ini seolah mengolok-olok kebobrokan penegakan hukum di Korea Selatan.

Penegakan hukum yang lemah di Korea Selatan sudah menjadi rahasia umum. Tak jauh berbeda dengan Indonesia, keadilan sosial hanya milik mereka yang memiliki harta, tahta, dan koneksi ordal (orang dalam). Misalnya kabar kencan Jennie Blackpink dan G-Dragon Bigbang yang diunggah Dispatch disinyalir dijadikan pengalihan isu politik.

Lalu, yang paling menggegerkan, Seungri eks Bigbang bisa lepas dari semua tuduhan atas skandal Burning Sun. Padahal, salah satu saluran televisi Korea Selatan telah melakukan investigasi (dan disertai bukti) bahwa Seungri telah melakukan penganiayaan, pelecehan seksual, prostitusi, dan lima tuduhan lainnya. Namun, hukum menyatakan Seungri tidak terbukti bersalah. Kzl!

Kembali ke Vincenzo, drama dengan 20 episode ini menceritakan tentang Vincenzo Cassano (Song Joong Ki), seorang pengacara mafia di Milan yang kembali ke negara asalnya, Korea Selatan.

Kembalinya Vincenzo ke negeri ginseng itu didasari atas keinginannya untuk mengambil emas milik seorang pengusaha besar asal Tiongkok yang telah meninggal. Tanpa disangka, Vincenzo harus berurusan dengan Babel Group, sebuah perusahaan korup yang juga dibantu firma hukum beken, Wusang.

Sementara itu, Hong Cha Young (Jeon Yeo Bin) juga ingin membalas dendamnya atas kematian ayahnya yang didalangi oleh Babel Group dan Wusang, mantan firma hukum tempatnya bekerja. Akhirnya, Vincenzo dan Hong Cha Young merencanakan balas dendam yang “tidak biasa” kepada Babel Group dan Wusang dengan cara-cara mafia.

Dikemas dalam genre kriminal dan dark comedy, drama ini tak hanya membuat kita penasaran, namun juga tertawa terbahak-bahak, dan penasaran (tak jarang juga sampai jadi overthinking). Banyak sindiran kepada penegakan hukum Korea Selatan yang disampaikan lewat alur, dialog, serta karakter-karakter dalam dramanya.

Sindiran ini menjadi lebih lucu karena tanpa disengaja juga ikut menyindir penegakan hukum di Indonesia. Misalnya, bagaimana hukum, aparat polisi, serta media dengan mudah “dibeli” oleh pengusaha yang sangat berkuasa untuk melindunginya.

Meski sudah jelas bahwa pabrik farmasi Babel akan memproduksi obat analgesik (pereda nyeri) dengan narkoba dosis tinggi, Babel Group tetap dapat mengantongi izin produksi. Sedangkan, mereka yang memperjuangkan keadilan dan kebenaran pasti akan meregang nyawa di tangan Babel Group dan Wusang.

Selain itu, terdapat dialog-dialog sarkastik yang sangat mewakili keadaan Korea Selatan dan Indonesia. Misalnya, Hong Cha Young pernah mengatakan bahwa penjahat di Korea Selatan bukan hanya mafia, namun semua pihak merupakan mafia dan melakukan kartel.

Lalu, Vincenzo juga pernah mengatakan bahwa manusia tidak akan pernah bisa melawan monster. Hanya monster yang bisa melawan monster. Selain itu, Vincenzo juga berkata, keadilan hanya terjadi bila dijalankan secara sempurna. Atau dengan kata lain, menegakkan keadilan dan melawan penguasa dengan jalur halal hanyalah mimpi di siang bolong.

Meski drama ini membawa wacana yang menarik didiskusikan, penulis belum menemukan adanya diskusi berbobot mengenai pesan utama drama ini. Pembicaraan di internet mengenai drama ini hanyalah sebatas membahas ketampanan wajah Song Joong Ki belaka. Bahkan, sampai menyelip-nyelipkan status duda sang aktor.

Kalau pembaca mantengin di Instagram, obrolan tentang karamnya bahtera rumah tangga aktor 35 tahun ini dengan Song Hye Kyo lebih banyak dari pada yang membahas alur ceritanya.

Kalaupun tidak membahas kehidupan pribadi Song Joong Ki, diskusi yang ada hanyalah sebatas kisah cinta samar-samar antara Vincenzo dan Hong Cha Young. “Ih gemes banget sentil-sentilan,” “mau dong peluk Vincenzo juga,” “inilah keuwuwan badass couple.” Lho, bukannya tipis-tipisnya kisah romansa mereka ini menjadi kode bahwa kisah cinta mereka bukanlah poin utama dari ceritanya?

Padahal masih banyak yang bisa dibahas. Misal,  ironi yang ditampilkan lewat dark humour drama Vincenzo, krisis kepercayaan masyarakat Korea Selatan kepada hukum yang diwakili drama ini, atau sarkasme drama Vincenzo apakah harus ada orang-orang “gila” seperti Vincenzo dan Hong Cha Young agar orang miskin dan tidak berdaya bisa mengecap keadilan? Ceileh….

Tidak heran bila masih banyak yang memandang drama Korea sebagai drama menye-menye yang feminin. Apapun genrenya dan seberat apapun ceritanya, ujung-ujungnya juga mbahas penampilan aktor-aktris dan kisah cinta antara tokoh utama. Paling mentok bahas teori-teori untuk menebak episode berikutnya.

Sayang sekali, padahal pembuat drama sudah sangat matang dalam menggodok dan mengeksekusi drama. Capek-capek bikin drama bagus, yaelah yang diliat mukanya Song Joong Ki doang. Namaste.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks