Logika Hello Kitty Rebus vs Drama Korea 1 107

Beberapa waktu yang lalu, saya tak henti tertawa terbahak-bahak menonton cuplikan sinetron SCTV di mana satu keluarga terbelalak menyaksikan boneka Kekeyi Hello Kitty yang direbus di panci. Sungguh tak terduga, bukan?

Berawal dari seorang ibu-ibu berhijab pergi ke dapur, terkaget-kaget melihat sebuah boneka Hello Kitty yang dengan tabahnya berada di panci penuh air mendidih. “Astagfirullah!!!” kata ibu tersebut lalu dimatikanlah kompornya. Mendengar keributan tersebut, satu-persatu anggota rumah menghampiri ibu itu untuk melihat apa yang terjadi. Sama dengan ibu itu, mereka juga terkaget-kaget.

Tak hanya ihwal Hello Kitty yang direbus, ada adegan lain yang tak masuk akal. Pertama, saat masih di kamar, terlihat bahwa anak perempuan sang pemilik boneka nahas tersebut memiliki boneka Hello Kitty YANG SAMA dengan boneka yang direbus.

Kedua, anak tersebut kaget dan menangis padahal panci tersebut lebih tinggi dari dia, jadi seharusnya anak itu tidak dapat melihat isi dari panci tersebut.

Ketiga, masalah interior, furnitur, wardrobe, dan aspek-aspek artistik lainnya yang tidak cocok dengan latar belakang keluarga tersebut yang ceritanya horang kaya. Terlalu norak dan cheap-looking untuk orang kaya yang tinggal di perkotaan.

Tanpa berlama-lama, saya menutup video tersebut karena takut kantong ketawa saya rusak. Ironisnya, saya baru saja kembali menonton drama The World of The Married, drama Korea (drakor) dengan rating tertinggi yang pernah ditayangkan TV kabel,yakni sekitar 28 persen. Mulai dari plot, akting pemain, unsur artistik, dan sinematografi,semua begitu mengagumkan. Bahkan mereka memasukkan unsur psikologis agar karakter tokoh begitu kuat dan emosi penonton diaduk-aduk sampai mampus.

Seperti biasa, adegan nyeleneh semacam ini dengan cepat menjadi viral terutama di Twitter. Banyak netijen yang mengritik dan menertawai adegan ini. Alhasil, sang penulis skenario angkat bicara melalui “sebuah utasan” di Twitter.

Aya Swords (@ayaswords) menuliskan bahwa sudah tidak penting lagi adegan tersebut bisa dinilai akal sehat atau tidak. Yang terpenting adalah adegan tersebut lulus sensor dan selesai tepat waktu. Saat merumuskan adegan kontroversial tersebut, Aya Swods mengaku benar-benar ditekan deadline.

Penulis naskah tidak henti-hentinya menyusun skenario selama proses produksi berjalan, sedangkan produksi sinetron akan terus berlanjut selama rating masih tinggi. Pun juga deadline yang tak kunjung usai. Saya rasa kalau begini terus, tak hanya penonton yang kesehatan mentalnya terganggu karena sinetron yang tak kunjung tamat,tapi krunya juga!

Aya Swords juga menambahkan tak masalah bila netiken menilai adegan tersebut tak logis, toh ratingnya masih tinggi. Lagi pula, kita-kita memang bukan segmentasi sinetron tersebut, tapi ibu-ibu kampung.

Tentu beda sekali dengan sistem kerja drakor. Beda halnya dengan sinetron yang akhir ceritanya bergantung pada rating pemirsa, ending dari drakor sudah ditentukan sejak awal. Jadi, setelah skrip selesai, diajukan ke produser, dan barulah proses produksi dimulai. Entah ratingnya mau 5 persen atau bahkan 48 persen, kalau dari awal 16 episode, ya sampai akhir 16 episode.

Dengan begini, penulis bisa membuat skenario yang kualitasnya stabil serta logis. Mereka masih berkesempatan untuk menulis naskah berdasarkan riset.

Sayang sekali memang, apabila sinetron hanya mengejar rating dengan memperpanjang episode. Tak hanya kualitasnya yang menurun dan membuat kita mual, tapi lama-lama para pekerja di dalamnya semakin tak optimal kerjanya, seperti yang dipaparkan Aya Swords tadi.

Padahal, drama yang berkualitas sudah otomatis membuat rating jadi tinggi. Kalau sudah waktunya tamat, ya buat lagi yang baru. Dengan begitu, tidak membuat penonton bosan.

Bahkan, apabila sinetron memiliki cerita yang lebih bisa masuk akal sehat, mungkin segmentasi akan meluas. Drakor misalnya yang dulu hanya diminati ciwi-ciwi penggila drakor. Kini mereka yang berikhtiar tidak akan menonton drakor (khususnya laki-laki), pada akhirnya nonton juga.

Sekarang siapa coba yang tidak tahu si ganteng Kapten Ri atau si pelakor Da Kyung? Dengan begini, sudah pasti iklan dan sponsor juga makin bertambah.

Drakor yang memiliki banyak penggemar pada akhirnya punya pengaruh yang luar biasa. Saya pribadi, tahu ada negara bernama Korea Selatan gara-gara drakor Full House yang dibintangi Song Hye Kyo dan Rain.

Drakor bahkan juga punya peranan penting dari mendunianya budaya Korea Selatan, mulai dari makanan,  fashion, hingga bahasa (gara-gara drakor, kalau kaget kita bukan bilang  “astaga” lagi, melainkan “aigoo”).

Selain mempengaruhi penonton akan budaya Korea, barang-barang yang dipakai karakter drakor juga menjadi incaran. Pada tahun 2014, kaus bergambar Bambi keluaran Givenchy serta lipstick warna pink nyentrong ludes di Korea Selatan karena dipakai Cheon Song Yi di drama My Love From The Star.

Meski bukan endorsement, tapi ini membuktikan bahwa drama punya potensi untuk menjadi media promosi yang ampuh. Ternyata tak hanya commercial break, tapi drama itu sendiri juga bisa jadi lapak untuk cari uang.

Entah bisa atau tidak terjadi, tapi saya sangat berharap adanya pembenahan sinetron di Indonesia. Dari drama negeri ginseng kita belajar, bahwa sistem produksi yang lebih “sehat” serta cerita yang gak ngawur, malah membuat drama tersebut lebih menghasilkan duit ketimbang mengulur-ngulur episode.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (Instagram: @petiteanette)

Previous ArticleNext Article

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sinetron Absurd ala Indonesia dan Khasiat Mujarabnya 0 102

Menahun sudah segenap rakjat bertanya-tanya, sebagaimanapun kami juga (lihat tulisan: ‘Logika Hello Kitty Rebus vs Drama Korea’), kenapa sinetron Indonesia kok modelannya begitu-begitu terus? Bukannya semakin waktu semakin baik, malah semakin absurd. Adegan-adegannya super duper konyol out of the box. Mulai dari boneka Hello Kitty direbus sampai seorang wanita yang berteriak panik dikerubutin buaya CGI.

Tak mau kalah, latar tempat pun ikut jadi bahan humor tersendiri. Bagaimana ceritanya istana kahyangan seorang dewi kepercayaan Jawa berhiaskan patung-patung megah bergaya Yunani, lengkap dengan pose-pose melankolis seraya menutup sebagian anggota tubuh? Atau bagaimana bisa yang dikata para tokoh sebagai “diskotik top” adalah ruangan yang dindingnya cuma berbalut kain hitam dan lampu kerlap-kerlip macam hiasan pohon natal?

Sebelum kita melanjutkan protas-protes ria ini, mungkin ada baiknya kita hening sejenak dan berpikir ulang. Apa betul keadaaan sinetron Indonesia yang seperti ini nih sungguh-sungguh jelek dan mutlak pol negatifnya? Apa benar akar masalahnya hanya ada pada masalah kejar tayang dan keterbatasan proses produksinya, sehingga pilihan-pilihan adegan sedemikian “progresif nan alternatif” boleh langsung diambil gambar?

Memang, jika dilihat dari sisi lain, di zaman penuh kehausan akan aktualisasi brand dan bacok-bacokan antar-netijen, semakin aneh sebuah adegan berarti semakin tinggi kemungkinannya untuk bisa viral. Itu juga bisa jadi salah satu “reward” bagi tim produser yang mungkin harus senantiasa kalang-kabut di balik penayangan tiap episode.

Tapi toh kita kerap mendapati situasi di mana sebuah keluarga berkumpul dengan tatapan tanpa kedipan, melekat kuat di layar TV, menonton adegan-adegan “konyol” tersebut dengan mata berkaca-kaca atau bibir yang mewek-mewek.

Sebuah adegan yang bagi kita langsung bikin tepok jidat, ternyata sebegitu serius bagi mereka. Sebuah adegan yang bagi kita hanya pantas dlirik satu kali, untuk langsung divonis sebagai ‘tayangan tak bermutu’, ternyata sanggup membikin orang lain nangis kejer atau berok-berok sambil lempar piring karena saking gumush-nya sama si tokoh jahat. Lalu reaksi mereka itu membuat kita tertawa karena lucunya, atau bagi yang lebih keji lagi, karena gobloknya.

Kita sendiri bisa dengan sombong bangga mengumumkan pada jagad raya, “Sori, ya. Aku cuma mau pakai merk ini, ini, dan ini karena value perusahaannya sesuai sama value aku”. Atau, “Selera aku tuh yang begini, nih. Kalau yang kayak gitu, em… nggak sesuai lah sama karakter aku”.

Maka boleh juga dong kita mengakui bahwa sinetron Indonesia, sejungkirbalik apapun logika yang ada di dalamnya, amatlah nggathuk sama pasarnya. Jangan-jangan, nilai dalam sinetron lucu-lucu ini sungguh mencerminkan nilai yang sama dalam kehidupan penggemarnya sehari-hari?

Bolehlah kita bilang adegan jenazah yang sudah dipocong kemudian terlempar dalam mesin molen itu kejadian ajaib. Tapi jika kemudian kita lihat keseharian mereka, bukankah hal-hal tak kalah ajaib juga sering terjadi?

Diiming-imingi kerjaan “enak”, tanpa perlu syarat ijazah dan pengalaman kerja, menggiring mereka pada situasi banting-tulang, pagi sampai tengah malam 7 hari seminggu. Beberapa di antara mereka sampai bertaruh keamanan diri, ketika terpaksa harus melakukan tindakan ilegal atau melawan hukum demi menjalankan apa kata bos. Ketika digaji cuma dapat sekian repes, nominal upah yang saking super ajaibnya sampai tak masuk akal dan nurani. Bekerja tanpa kontrak resmi, dan ketika terjadi kecelakaan kerja atau bahkan sampai meninggal, tidak mendapat pertanggungjawaban yang pantas.

Belum lagi jika masih ditambah kasak-kusuk, “Salah sendiri, dia mau sih kerja nggak bener begitu”. Kalau sudah begini, bukankah bibir-bibir yang demikian berujar sama saja durjananya dengan molen yang menggiling si pocong nahas?

Sama halnya dengan persoalan plot. Dalam sinetron ‘serial istri tersakiti’ misalnya. Banyak yang jadi gatal gara-gara kisahnya selalu dan melulu tentang suami yang “direbut” perempuan lain. Apa tidak bisa menemukan alur cerita lain? Kita senantiasa berharap seri selanjutnya akan hadir dengan penyajian yang berbeda. Ternyata memang berbeda… pemainnya, busananya, dan setting lokasinya. Plotnya sama.

Demikian pula dengan kehidupan para penonton setianya. Dalam setiap hari, minggu, dan bulan, mereka bekerjakeras berusaha meningkatkan derajat hidup. Atau minimal, supaya bisa sedikit menabung. Senangnya bukan main jika dapat lebihan pendapatan harian. Tapi penyakit yang muncul karena kelelahan bekerja membuat cuan ekstra itu harus direlakan demi pengobatan. Atau kalau sekarang, anaknya tiba-tiba butuh dibelikan kuota bejibun buat sekolah online. Tabungan amblas. Hidup akhirnya segitu-segitu aja.

Oke. Ada yang bilang kalau kualitas plot yang stagnan dalam sinetron adalah buah dari episode yang mulur-mulur macam keju pizza masih anget. Bisa jadi benar. Namun bukankah kehidupan mereka rasanya juga seperti itu? Berpanjang-panjang dan tak menentu. Seiring datangnya hari, bukannya semakin besar harapan dalam hati mereka, hidup justru makin bikin angkat tangan.

Ya sudahlah… Terserah dunia ini mau seperti apa. Apapun yang terjadi besok ya dihadapi saja. Kalau bagus ya syukur. Kalau nggak ya sudah… pasrah saja.’

Maka, dalam perkara stagnansi opera sabun negara zamrud khatulistiwa ini, sesungguhnya siapa yang akhirnya menginspirasi siapa?

Apakah tim produser selalu bertolak dari kehidupan nyata para pemirsanya, yang secerdas mungkin ditangkap dan diterjemahkan dalam bahasa layar kaca dengan segala keterbatasan yang menghadang? Atau stagnansi ini akhirnya dibentuk terbentuk demi mengobati perih luka dalam hati pemirsanya?

Supaya kalau hidup mereka gitu-gitu aja, tak kunjung menemui solusi, sering dibuat kalah-kalahan, serta nampak seperti benang membundel yang rumit dan tak berujung… ya sudah, tidak masalah.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

“Gak Sengaja”, Hukum Indonesia, dan Pelakor di Drama Koriyah 0 147

Mau ngumpulin orang-orang yang kecewa dengan hukuman satu tahun para terdakwa penyiram air keras Novel Baswedan, sambil memperingatkan bahwa tulisan ini mengandung sedikit sepoiler drama.

(Penulis masih nggak tahu apa faedah ngumpulin orang-orang secara virtual begini. Nggak tahu lagi ada Corona apa?!)

Beberapa hari lalu, jaksa penuntut umum mengajukan hukuman kurungan 12 bulan bagi Rahmat Kadir Mahulette dan Rony Bugis. Mereka disebut melakukan penganiayaan berat dengan menyiram cairan asam sulfat kepada penyidik senior KPK, Novel Baswedan, sepulang sholat subuh 3 tahun silam. Kita tentu tidak bisa lupa, bahwa kejadian itu menyebabkan Novel kehilangan sebagian indra penglihatannya.

Dari pengajuan hukuman jaksa itu, banyak warga negeri ini yang meradang. Caci maki terhadap hukum Indonesia diajukan melalui laman media sosial, satu-satunya media yang dapat digunakan untuk nyampah aktualisasi diri. Kita semua lantas kecewa dengan sistem hukum Indonesia yang sudah sejak lama memihak pada sang empunya jabatan dan materi.

Tak lupa kita bernostalgia, mengenang betapa heroiknya KPK sebagai lembaga antirasuah, penghapus noda korupsi membandel negeri ini. Kita bersimpatik sungguh pada Novel, seorang yang bahkan ketemu apalagi nraktir semangkuk bakso buat kita aja gak pernah.

Pernyataan “ketidaksengajaan” yang muncul di persidangan dan akhirnya diduga kuat meringankan tuntutan hukum terdakwa itu, dijadikan konten oleh yang mengaku influencer. Betapa kata “gak sengaja” kini ramai dijual, menduduki trending topic. Kita menertawai kata tersebut. Hukum negara ini kita anggap jenaka.

Peristiwa ini memang menjadi pertanda bahwa masyarakat kita, walau nampak di taraf hanya peduli bikin TikTok dan challenge-challenge sembarang kalir di medsos, rupanya juga menaruh perhatian pada persoalan hukum dan politik negeri. Tentu ini kemajuan di satu sisi.

Kemudahan informasi dan akses yang diberikan teknologi membuat kita bisa membaca, menelaah, dan menganalisa kronologi perjalanan kasus Novel. Semua mendadak menjadi pengamat politik dan sarjana hukum jalur Twitter dengan diktat hukumonline.com.

Kita merasa menjadi makhluk paling suci jika ada yang mengusik kehidupan serdadu utama pemberantas korupsi. Kita merasa menjadi kaum yang paling berhak menentukan bahwa 1 tahun saja tak cukup. Kita ingin terdakwa dan otak di balik rencana jahat ini hidup menderita, berharap hakim memvonis hukuman seumur hidup.

Sama seperti kelakuan kita pada tokoh fiksi Yeo Da Kyung, karakter pelakor di drama Korea terlaris tahun ini: The World of Married. Penonton Indonesia ingin sang pelakor hidup menderita atas segala dosa yang diperbuat. Segenap mereka tidak terima melihat ending cerita Da Kyung yang tetap baik-baik saja, hidup dalam gelimang harta.

Kalau bisa, tak hanya meneror akun Instagram sang aktris, netijen gemas ingin menyurati sutradara, agar dibuatkan satu saja scene memuat adegan penyiraman air keras pada sang pelakor. Mungkin dengan berakhirnya wajah Da Kyung yang rusak, baru penonton bisa benar-benar puas (lha kok jadi kayak plot sinetron Endonesah?!).

Yang penonton lupa, Yeo Da Kyung, seorang gadis usia 20-an yang hamil di luar nikah dengan suami orang, telah menghabiskan masa mudanya, tak sempat mengejar cita-citanya, hanya karena nuruti mangan cinta dan janji manis bojone wong liyo.

Dari drama ini, kita lupa belajar tentang kehidupan. Hanya terfokus untuk belajar mengawasi suami ketika keluar rumah agar ia tak selingkuh. Kita lupa belajar bahwa apapun keputusan yang kita buat, telah menemui konsekuensinya masing-masing. Tak ada yang paling berhak menilai apakah ganjaran perbuatan sudah cukup memberatkan atau tidak.

Demikianlah kacamata kita yang sempit. Gak sengaja menertawai kebodohan orang lain, tanpa sadar bahwa perlakuan kita pun tak jauh lebih baik. Kita sengaja memilih satu-dua fakta kesalahan orang lain. Tapi juga sengaja mengabaikan nilai-nilai yang sebaiknya kita petik dan pelajari, agar kesalahan yang sama tak terulang pada hidup kita.

Lha wong menilai drama yang fiktif saja kita sengaja memilih poin yang hanya mau kita dengar, apalagi dalam kehidupan nyata. Hehe.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks