Logika Hello Kitty Rebus vs Drama Korea 1 419

Beberapa waktu yang lalu, saya tak henti tertawa terbahak-bahak menonton cuplikan sinetron SCTV di mana satu keluarga terbelalak menyaksikan boneka Kekeyi Hello Kitty yang direbus di panci. Sungguh tak terduga, bukan?

Berawal dari seorang ibu-ibu berhijab pergi ke dapur, terkaget-kaget melihat sebuah boneka Hello Kitty yang dengan tabahnya berada di panci penuh air mendidih. “Astagfirullah!!!” kata ibu tersebut lalu dimatikanlah kompornya. Mendengar keributan tersebut, satu-persatu anggota rumah menghampiri ibu itu untuk melihat apa yang terjadi. Sama dengan ibu itu, mereka juga terkaget-kaget.

Tak hanya ihwal Hello Kitty yang direbus, ada adegan lain yang tak masuk akal. Pertama, saat masih di kamar, terlihat bahwa anak perempuan sang pemilik boneka nahas tersebut memiliki boneka Hello Kitty YANG SAMA dengan boneka yang direbus.

Kedua, anak tersebut kaget dan menangis padahal panci tersebut lebih tinggi dari dia, jadi seharusnya anak itu tidak dapat melihat isi dari panci tersebut.

Ketiga, masalah interior, furnitur, wardrobe, dan aspek-aspek artistik lainnya yang tidak cocok dengan latar belakang keluarga tersebut yang ceritanya horang kaya. Terlalu norak dan cheap-looking untuk orang kaya yang tinggal di perkotaan.

Tanpa berlama-lama, saya menutup video tersebut karena takut kantong ketawa saya rusak. Ironisnya, saya baru saja kembali menonton drama The World of The Married, drama Korea (drakor) dengan rating tertinggi yang pernah ditayangkan TV kabel,yakni sekitar 28 persen. Mulai dari plot, akting pemain, unsur artistik, dan sinematografi,semua begitu mengagumkan. Bahkan mereka memasukkan unsur psikologis agar karakter tokoh begitu kuat dan emosi penonton diaduk-aduk sampai mampus.

Seperti biasa, adegan nyeleneh semacam ini dengan cepat menjadi viral terutama di Twitter. Banyak netijen yang mengritik dan menertawai adegan ini. Alhasil, sang penulis skenario angkat bicara melalui “sebuah utasan” di Twitter.

Aya Swords (@ayaswords) menuliskan bahwa sudah tidak penting lagi adegan tersebut bisa dinilai akal sehat atau tidak. Yang terpenting adalah adegan tersebut lulus sensor dan selesai tepat waktu. Saat merumuskan adegan kontroversial tersebut, Aya Swods mengaku benar-benar ditekan deadline.

Penulis naskah tidak henti-hentinya menyusun skenario selama proses produksi berjalan, sedangkan produksi sinetron akan terus berlanjut selama rating masih tinggi. Pun juga deadline yang tak kunjung usai. Saya rasa kalau begini terus, tak hanya penonton yang kesehatan mentalnya terganggu karena sinetron yang tak kunjung tamat,tapi krunya juga!

Aya Swords juga menambahkan tak masalah bila netiken menilai adegan tersebut tak logis, toh ratingnya masih tinggi. Lagi pula, kita-kita memang bukan segmentasi sinetron tersebut, tapi ibu-ibu kampung.

Tentu beda sekali dengan sistem kerja drakor. Beda halnya dengan sinetron yang akhir ceritanya bergantung pada rating pemirsa, ending dari drakor sudah ditentukan sejak awal. Jadi, setelah skrip selesai, diajukan ke produser, dan barulah proses produksi dimulai. Entah ratingnya mau 5 persen atau bahkan 48 persen, kalau dari awal 16 episode, ya sampai akhir 16 episode.

Dengan begini, penulis bisa membuat skenario yang kualitasnya stabil serta logis. Mereka masih berkesempatan untuk menulis naskah berdasarkan riset.

Sayang sekali memang, apabila sinetron hanya mengejar rating dengan memperpanjang episode. Tak hanya kualitasnya yang menurun dan membuat kita mual, tapi lama-lama para pekerja di dalamnya semakin tak optimal kerjanya, seperti yang dipaparkan Aya Swords tadi.

Padahal, drama yang berkualitas sudah otomatis membuat rating jadi tinggi. Kalau sudah waktunya tamat, ya buat lagi yang baru. Dengan begitu, tidak membuat penonton bosan.

Bahkan, apabila sinetron memiliki cerita yang lebih bisa masuk akal sehat, mungkin segmentasi akan meluas. Drakor misalnya yang dulu hanya diminati ciwi-ciwi penggila drakor. Kini mereka yang berikhtiar tidak akan menonton drakor (khususnya laki-laki), pada akhirnya nonton juga.

Sekarang siapa coba yang tidak tahu si ganteng Kapten Ri atau si pelakor Da Kyung? Dengan begini, sudah pasti iklan dan sponsor juga makin bertambah.

Drakor yang memiliki banyak penggemar pada akhirnya punya pengaruh yang luar biasa. Saya pribadi, tahu ada negara bernama Korea Selatan gara-gara drakor Full House yang dibintangi Song Hye Kyo dan Rain.

Drakor bahkan juga punya peranan penting dari mendunianya budaya Korea Selatan, mulai dari makanan,  fashion, hingga bahasa (gara-gara drakor, kalau kaget kita bukan bilang  “astaga” lagi, melainkan “aigoo”).

Selain mempengaruhi penonton akan budaya Korea, barang-barang yang dipakai karakter drakor juga menjadi incaran. Pada tahun 2014, kaus bergambar Bambi keluaran Givenchy serta lipstick warna pink nyentrong ludes di Korea Selatan karena dipakai Cheon Song Yi di drama My Love From The Star.

Meski bukan endorsement, tapi ini membuktikan bahwa drama punya potensi untuk menjadi media promosi yang ampuh. Ternyata tak hanya commercial break, tapi drama itu sendiri juga bisa jadi lapak untuk cari uang.

Entah bisa atau tidak terjadi, tapi saya sangat berharap adanya pembenahan sinetron di Indonesia. Dari drama negeri ginseng kita belajar, bahwa sistem produksi yang lebih “sehat” serta cerita yang gak ngawur, malah membuat drama tersebut lebih menghasilkan duit ketimbang mengulur-ngulur episode.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (Instagram: @petiteanette)

Previous ArticleNext Article

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Panduan Nyinyir Berhadiah ala Fahri Hamzah 0 247

Pertama-tama, saya ingin memberi selamat kepada Fahri Hamzah atas prestasi yang ditorehkan  baru-baru ini (13/8). Politikus Partai Gelora ini baru saja menerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera Naraya 2020 dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) . Tentu ini merupakan sebuah prestasi yang luar biasa, bahkan politikus – yang kini menjadi komisaris Pertamina –  yang tegas melawan korupsi seperti Basuki Tjahaja Purnama pun belum pernah mendapat award super bergengsi ini.

Penghargaan ini sendiri diberikan kepada Fahri Hamzah lantaran keaktivannya dalam “mengkritik” pemerintahan Jokowi. Menurut Fahri, penghargaan yang ia terima dapat dijadikan pelajaran bagi semua orang dalam pemerintahan supaya menghormati kritik. Selain itu, ia menilai bahwa penghargaan ini merupakan bukti bahwa pemerintah tetap menghargai kritik.

Tumben lihat Fahri Hamzah memuji pemerintah? Iya, saya juga baru kali ini baca komentar positif tentang pemerintah dari Fahri Hamzah.

Selama ini, anggota DPR RI yang satu ini dikenal sebagai politikus yang nyinyir, doyan mengkritik apapun yang dilakukan pemerintah. Bahkan, warga net menjulukinya sebagai Lord Fahri karena hanya dialah yang serba benar di negeri +62 ini.

Akan tetapi, pandangan warga net tersebut berbeda di mata Jokowi. Bagi Jokowi, ke-nyinyir-an Lord Fahri merupakan kekritisan yang sangat dibutuhkan pemerintah. Setiap butir dari kesewotan yang dilontarkan Lord Fahri bisa menjadi feedback negatif dan juga input bagi kebijakan-kebijakannya.

Berita Lord Fahri yang meraih penghargaan ini tak pelak menjadi trending di media sosial. Banyak yang kaget kenapa teman “duet” nyinyir Fadli Zon ini bisa mendapat penghargaan dari Jokowi. Banyak yang berasumsi ini adalah akal-akalan rezim pemerintah untuk membuat Fahri Hamzah “sungkan” mengkritiknya.

Dilansir dari Tempo.co, ia menampik dugaan netizen tersebut. Ia mengatakan bahwa dengan dipilihnya ia sebagai penerima penghargaan tidak akan menghentikannya menjadi nyinyir kritis. Ia menambahkan bahwa ia akan terus mengkritik karena presidennya menghargai kritik.

Seharusnya kita dapat melihat hal ini dalam sisi positif. Award yang diraih Lord Fahri ini membukakan mata kita bahwa nyinyir tak selamanya buruk. Tahu tempe kah kamu? Untuk menjalankan sistem agar tetap on the track, sistem tersebut butuh sekali feedback negatif. Maka dari itu, pemerintah (baca: Jokowi) memberi penghargaan sebagai ucapan terima kasih karena membantu sistem pemerintahannya tidak keluar jalur.

Setelah tahu nyinyir rupanya tidak selalu negatif, apakah kita juga boleh nyinyir juga seperti Lord Fahri?

Tentu boleh, tapi coba tanyakan dulu dirimu. Apakah Pembaca yang budiman ini konglomerat penyumbang pajak terbanyak? Petinggi Partai? Anggota DPR? Atau punya pengaruh terhadap kelanggengan kekuasaan rezim pemerintah?

Kalau status Anda tidak memenuhi yang saya sebut di atas, mohon maaf Anda belum bisa “nyinyir yang baik” seperti Lord Fahri. Sekadar mengingatkan, kalau tidak punya posisi atau pengaruh, masih ada UU ITE serta pasal penghinaan presiden yang mengawasi jari dan bibir nyinyir Anda. Hehehe…

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Bagaimana Kita dan Media Membungkus Gilang 0 569

Cerita murung bermula dari cuitan akun Twitter @m_fikris yang menceritakan kronologi bagaimana seorang laki-laki muda, dari suatu kampus kondang di Surabaya, melakukan pelecehan seksual secara verbal melalui pesan elektronik. Kisah pahit itu dijuduli dengan judul bombastis, macam portal berita onlen: “Predator Fetish Kain Jarik Berkedok Riset dari Mahasiswa PTN di SBY”. Lantas, satu negara ini sejenak melupakan corona, berpindah gandrung pada ‘Gilang’, nama yang disebut-sebut menjadi pelaku pelecehan.

Cerita bertopik seks semacam ini, pembaca tahu, dengan cepat sambung-menyambung, berbalas, dan dibagikan secara meluas di linimasa. Tak hanya ramai di media sosial, yang bahkan sempat menduduki tingkatan teratas trending topic, ia ramai menjadi buah bibir tetangga, hingga agenda pemberitaan media massa.

Selain soal menumbuhkan kewaspadaan bersama, tapi lalu mengapa media, dan juga kita, sangat berambisi pada cerita-cerita semacam ini? Ada beberapa hal yang penulis ajukan di sini.

Pertama, media kita memang mudah sekali terangsang mengangkat berita-berita berbau seks. Apalagi ada anomali yang baru, fetish atau dorongan seksual dalam konteks kasus Gilang ini unik: napsu melihat orang yang dibungkus seperti pocong dengan kain jarik. Sayangnya, pembawaan berita berputar-putar pada fenomena, bahkan mengungkap sejarah Gilang yang sudah sering melakukan tindakan asusila.

Tapi, kemalasan media membuatnya lupa memberi pendalaman perspektif psikologis atasnya. Apakah benar memang fetish? Atau justru gangguan kejiwaan lainnya yang tak berhubungan dengan seksualitas?

Ah, jangan heran, media kita kan memang dari dulu begitu. Sejak zaman Orde Baru, kita sudah di-ninabobo-kan dengan berita konflik pertumpahan darah dan SEKS, supaya pemerintah tidak perlu repot-repot menjawabi pemberitaan yang mengkritisi kinerjanya.

Kedua, kita sepakat – jika memang ini adalah kasus pelecehan seksual – selalu bak gunung es. Korban-korban Gilang lainnya, yang telah menjadi target operasi bertahun-tahun silam, baru terungkap semuanya, ketika ada satu orang yang berani bicara. Kita memang patut berterima kasih (jika memang baik budi niatnya) pada si pembuat thread pada mulanya.

Demikian pula dengan kasus pelecehan seksual yang sudah-sudah. Entah itu pedofilia, pelecehan dalam keluarga, bahkan dalam konteks pria-wanita, selalu membuat sang korban tak berani bicara. Sebaliknya, korban lebih banyak dirundung, dituduh menggoda dengan pakaian terbuka.

Karena memang, belum ada hukum di negeri ini yang mampu melindungi korban pelecehan seksual. Kalaupun ada kasus yang terungkap ke permukaan dan diproses hukum, ia haruslah viral terlebih dahulu di media sosial (dengan mempermalukan korban 2 kali lipat), agar bisa ditindak pakai ‘Sang Maha-benar’ UU ITE, yang tak pernah benar-benar menggasak betapa brengseknya tindakan pelecehan itu sendiri. Benar apa kata sjw-sjw feminis: RUU PKS harus segera disahkan!

Ketiga, persoalan Gilang ini tak bisa hanya dilihat soal orientasi seksual yang melenceng. Kita sepakat bahwa hal tersebut adalah kemerdekaan hak setiap orang. Yang jadi persoalan, cara Gilang – jika, sekali lagi, memang benar fetish – dalam mengajak si korban memuaskan birahinya.

Gilang menggunakan kata-kata yang manipulatif, membohongi anak-anak yang lebih muda darinya agar mau membantunya mengerjakan ‘tugas kuliah’. Ia juga mendekati orang-orang yang tak ia kenal sebelumnya, dengan bahasa perkenalan yang cenderung superior, dominan, sekaligus minim etika. Unggah-ungguh berkenalan, ngobrol, dan meminta tolong pada orang yang baru dikenal seharusnya milik kita semua, terlepas dari apapun pilihan jalan hidup dan orientasi seksualnya.

Keempat, pendapat netijen yang bermunculan akhir-akhir ini justru bernada mengolok karena menganggap Gilang pantas mendapatkannya. Ejekan itu berkedok guyonan, bahkan nama-nama besar seperti Babe Cabita – yang kemudian banyak dihujat netijen juga – ikut-ikutan menertawakan tindakan Gilang. Selain itu, kamu dan saya, mulut kita semua sudah sibuk ngrasani bersama teman-teman tentang betapa tak warasnya Gilang.

Kita tidak sadar, bahwa diri sendiri ini juga sami mawon: menjauhi dan mencibir entah korban entah pelaku, entah juga orang-orang macam Gilang; tapi lupa bersimpati, mendekati, mencari akar masalah, dan menyelesaikannya bersama-sama. Memang benar, gotong-royong yang diajarkan founding fathers kita hanya tinggal klise sekarang (lihat tulisan: ‘Menghidupkan Kembali Klise Kesadaran Kolektif’).

Pada akhirnya, soal bungkus-membungkus ini memang bukan milik Gilang dan rektorat kampusnya yang sibuk memberi pernyataan sikap semata. Ini juga masalah kita semua, yang sudah lama dibungkus rasa egois dan gengsi, menutup mata dan telinga pada persoalan sosial di sekitar kita.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks