Matrimoni dan Kewarasan Baru

Kemarin, saya mendapat kiriman pesan di WA. Isinya berupa sejumlah ketentuan protokol kesehatan acara pernikahan yang ditandatangani oleh berbagai asosiasi profesi yang erat berkaitan dengan wedding ceremony. Karena kepingin nikah di tahun 2020 penasaran, isenglah saya membaca setiap detil aturan yang lumayan njelimet itu.
Rupanya, cukup banyak perihal yang musti dikompromikan menjelang masa kewarasan baru nanti (beberapa mengartikan normal sebagai waras?). Gelaran matrimoni sebelum adanya koronah saja sudah se-memusingkan itu. Belum lagi soal mulut tetangga dan sanak saudara yang tak kalah pedas sama Mak Yeye.

Pertama dan yang paling pasti, adalah jumlah undangan. Semua orang tahu, sekarang dan nanti sampai Bill Gates terbukti sesat vaksin ditemukan, konsep pembatasan fisik kudu terus didengungkan. Ini berlaku pula bagi acara pernikahan.

Anggaplah anda seorang karyawan BUMN (sudahlah, berandai-andai saja) di tingkat setara eselon III. Jika biasanya anda kuatir pesta akan berlangsung sepi, kemudian anda menjamu 4.765 kepala ke dalam Bumimoro dengan durasi 3 jam—kalo tepat waktu, lalu anda menghabiskan 347.758.250 rupiah untuk dekorasi, catering, band, MC, foto, souvenir, sampai tukang mi ayam di depan gedung.

Di masa waras yang baru ini, Anda tak perlu sesak napas mengatur pritnhilan tersebut. Kapasitas maksimal yang diperbolehkan adalah 50%, tidak lebih, supaya mudah membuat jarak aman antar manusia. Meskipun mengatur jarak aman saat bergosip di tengah gempuran suara dari sound system terbilang cukup susah sih.

Kedua, catering. Rasanya ganjil bila melihat gairah makan orang Indonesia yang luar biasa harus dialihkan dari prasmanan. Beberapa waktu ke depan, kita mungkin akan susah memungut diam-diam kambing guling, koloke, sup merah, atau es manado ke kotak tupperware yang telah usilnya disiapkan dari rumah.

Semua serba dilayani oleh waiter yang akan menjumputkan makanan pada piring Anda, tak peduli seberapa lapar anda sebab seharian tak nyemil sedikitpun. Bila tak memungkinkan prasmanan, makanan akan diantar ke meja-meja yang disiapkan, serupa acara ILC hanya tanpa Doraemon Bang Karni Ilyas.

Ketiga, yang paling aneh, dekorasi diatur meluas dan berundak agar dapat diisi oleh cukup banyak orang dengan menjaga jarak aman. Proses salaman, yang biasanya dibarengi dengan mengambil ribuan video boomerang, ditiadakan—maaf ya, i n f l u e n c e r.

Pun, ini yang menurut saya agak konyol, adalah mengambil foto dengan memberi jarak aman antar manusia. Bukankah ini mirip foto Kabinet Ngerjain Kerja saban hari yang ramai dengan analisis semiotik gombal nan genit itu?

Bisa-bisa, ada seorang jahil yang nyeletuk gemas, “itu kenapa posisi Pakdhe Purwo ada di kanan bawah undakan dan mengapa ia tak tersenyum? Apakah ia lagi kesal dengan bininya? Atau ia sedang menahan amarah lantas pemerintah tak kunjung menyalakan tanda darurat—halo, kita ini belum sepenuhnya waras, Pak!”

Catatan untuk para muda-mudi yang terkesima dengan matrimoni halaman belakang yang sederhana: kalo ada yang tanya kenapa pestanya biasa aja, jawab aja, “ada koronah budhe!”