Merenungkan Kembali Esensi Ujian Take-Home 0 445

Pada pekan UAS, seperti halnya mahasiswa lainnya, kopi dan ibuprofen menjadi sahabat saya. Apalagi di jurusan saya semua UAS-nya merupakan take-home dan kebanyakan menulis essay dan mini riset.

Ujian semacam ini lebih menantang kemampuan analisis dan menulis kita. Wah, kalau pekan UAS ini rasanya lobus frontal (bagian otak untuk berpikir) saya mengalami dehidrasi hebat.

Tak hanya itu, jari-jari saya rasanya keram. Hal ini dikarenakan adanya ketentuan minimal kata dan lembar halaman. Alhasil, dalam mengerjakan soal, ada tiga yang kita pikirkan: apa jawaban yang tepat, apa yang harus ditulis sampai (misalnya) 3.000 kata, dan bagaimana menulis 3.000 kata secara tepat waktu.

Akan tetapi, mahasiswa (termasuk saya), sering kali fokus kepada poin kedua dan ketiga. Harus nggambas kayak gimana lagi biar sesuai dengan jumlah minimal kata, dan gimana cara selesai sebelum deadline? Ketentuan ini lebih mengintimidasi daripada pertanyaan soal itu sendiri.

Jujur saja, sebagai orang yang to the point dan menulis dengan singkat-padat-jelas, saya sangat kesulitan mengembangkan tulisan saya hingga sesuai dengan jumlah ketentuan kata. Kadang saya berpikir, selain adonan roti, andai ragi juga bisa mengembangkan tulisan saya.

Ada banyak cara yang dilakukan mahasiswa untuk mengatasi masalah klasik hamba take-home seperti ini. Salah duanya adalah memperbanyak sitasi dan juga nggambas. Saya pribadi lebih suka memperbanyak sitasi karena membuat tulisan saya seakan-akan memiliki dasar yang kuat.

Namun, saya merenungkan kembali. Tidak seharusnya kita merasa terintimidasi sedemikian rupa oleh ketentuan minimal kata atau halaman yang diberikan dosen. Kenapa? Karena itu cara dosen memberikan kita ruang lebih untuk mengembangkan kemampuan analisa kita.

Sayangnya, kita sudah terlanjur terintimidasi oleh jumlah minimal kata dan halaman. Terlalu fokus dengan ketentuan jumlah kata dan halaman ini akhirnya kita lupa dengan esensi ujian itu sendiri: MENJAWAB PERTANYAAN.

Dibandingkan memikirkan apa jawabannya dan bagaimana menyusun argumen secara sistematik dan mudah dipahami, kita terlalu fokus pada bagaimana caranya biar jawabannya panjang. Akhirnya, kita lupa dan tak sadar bahwa tulisan kita belum menjawab pertanyaan soal tersebut.

Saat saya baca-baca ulang tugas di semester awal, sontak saya tertawa membaca kebodohan saya. Tugas saya bagaikan S**i Roti yang terlihat mengembang, tapi kalau di-press jadi imut-imut.

Karena takut tak memenuhi syarat, akhirnya saya asal kutip sana kutip sini. Kalau dilihat lagi, saya lebih banyak membahas tentang definisi ketimbang argumen saya pribadi. Belum lagi soal pemborosan kata dan kutipan-kutipan yang sebenarnya tidak berguna.

Alhasil, tulisan saya tak lebih dari tulisan orang yang ngomong ngalor-ngidul. Tentu ini kesalahan yang fatal sekaligus konyol. Apabila kita mengerjakan tugas seperti ini, tugas kita barangkali jadi bahan ketawaan para dosen yang menilai.

Maka dari itu, perlu bagi kita untuk mengetahui esensi dari sesuatu yang kita lakukan agar kerja kita tidak asal-asalan. Kalau ngerjain soal, ya jawab dulu pertanyaannya. Kalau jumlah katanya masih kurang, nanti bisa ditambahi. Kalau kita bekerja asal-asalan, bukan hanya kualitas diri kita yang rendah, tetapi juga merepotkan orang lain yang bekerja dengan kita.

Tapi, beda lagi kalau soalnya memang pengen ngerjain mahasiswa. Kalau soalnya aneh-aneh dan kesannya ngerjain mahasiswa, udahlah gak usah mikir substansi… pokoknya jadi! Hehehe….

 

*) Ilustrasi: Celine Anjanette (Instagram: @petiteanette)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 199

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 222

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks