Sinetron Absurd ala Indonesia dan Khasiat Mujarabnya 0 686

Menahun sudah segenap rakjat bertanya-tanya, sebagaimanapun kami juga (lihat tulisan: ‘Logika Hello Kitty Rebus vs Drama Korea’), kenapa sinetron Indonesia kok modelannya begitu-begitu terus? Bukannya semakin waktu semakin baik, malah semakin absurd. Adegan-adegannya super duper konyol out of the box. Mulai dari boneka Hello Kitty direbus sampai seorang wanita yang berteriak panik dikerubutin buaya CGI.

Tak mau kalah, latar tempat pun ikut jadi bahan humor tersendiri. Bagaimana ceritanya istana kahyangan seorang dewi kepercayaan Jawa berhiaskan patung-patung megah bergaya Yunani, lengkap dengan pose-pose melankolis seraya menutup sebagian anggota tubuh? Atau bagaimana bisa yang dikata para tokoh sebagai “diskotik top” adalah ruangan yang dindingnya cuma berbalut kain hitam dan lampu kerlap-kerlip macam hiasan pohon natal?

Sebelum kita melanjutkan protas-protes ria ini, mungkin ada baiknya kita hening sejenak dan berpikir ulang. Apa betul keadaaan sinetron Indonesia yang seperti ini nih sungguh-sungguh jelek dan mutlak pol negatifnya? Apa benar akar masalahnya hanya ada pada masalah kejar tayang dan keterbatasan proses produksinya, sehingga pilihan-pilihan adegan sedemikian “progresif nan alternatif” boleh langsung diambil gambar?

Memang, jika dilihat dari sisi lain, di zaman penuh kehausan akan aktualisasi brand dan bacok-bacokan antar-netijen, semakin aneh sebuah adegan berarti semakin tinggi kemungkinannya untuk bisa viral. Itu juga bisa jadi salah satu “reward” bagi tim produser yang mungkin harus senantiasa kalang-kabut di balik penayangan tiap episode.

Tapi toh kita kerap mendapati situasi di mana sebuah keluarga berkumpul dengan tatapan tanpa kedipan, melekat kuat di layar TV, menonton adegan-adegan “konyol” tersebut dengan mata berkaca-kaca atau bibir yang mewek-mewek.

Sebuah adegan yang bagi kita langsung bikin tepok jidat, ternyata sebegitu serius bagi mereka. Sebuah adegan yang bagi kita hanya pantas dlirik satu kali, untuk langsung divonis sebagai ‘tayangan tak bermutu’, ternyata sanggup membikin orang lain nangis kejer atau berok-berok sambil lempar piring karena saking gumush-nya sama si tokoh jahat. Lalu reaksi mereka itu membuat kita tertawa karena lucunya, atau bagi yang lebih keji lagi, karena gobloknya.

Kita sendiri bisa dengan sombong bangga mengumumkan pada jagad raya, “Sori, ya. Aku cuma mau pakai merk ini, ini, dan ini karena value perusahaannya sesuai sama value aku”. Atau, “Selera aku tuh yang begini, nih. Kalau yang kayak gitu, em… nggak sesuai lah sama karakter aku”.

Maka boleh juga dong kita mengakui bahwa sinetron Indonesia, sejungkirbalik apapun logika yang ada di dalamnya, amatlah nggathuk sama pasarnya. Jangan-jangan, nilai dalam sinetron lucu-lucu ini sungguh mencerminkan nilai yang sama dalam kehidupan penggemarnya sehari-hari?

Bolehlah kita bilang adegan jenazah yang sudah dipocong kemudian terlempar dalam mesin molen itu kejadian ajaib. Tapi jika kemudian kita lihat keseharian mereka, bukankah hal-hal tak kalah ajaib juga sering terjadi?

Diiming-imingi kerjaan “enak”, tanpa perlu syarat ijazah dan pengalaman kerja, menggiring mereka pada situasi banting-tulang, pagi sampai tengah malam 7 hari seminggu. Beberapa di antara mereka sampai bertaruh keamanan diri, ketika terpaksa harus melakukan tindakan ilegal atau melawan hukum demi menjalankan apa kata bos. Ketika digaji cuma dapat sekian repes, nominal upah yang saking super ajaibnya sampai tak masuk akal dan nurani. Bekerja tanpa kontrak resmi, dan ketika terjadi kecelakaan kerja atau bahkan sampai meninggal, tidak mendapat pertanggungjawaban yang pantas.

Belum lagi jika masih ditambah kasak-kusuk, “Salah sendiri, dia mau sih kerja nggak bener begitu”. Kalau sudah begini, bukankah bibir-bibir yang demikian berujar sama saja durjananya dengan molen yang menggiling si pocong nahas?

Sama halnya dengan persoalan plot. Dalam sinetron ‘serial istri tersakiti’ misalnya. Banyak yang jadi gatal gara-gara kisahnya selalu dan melulu tentang suami yang “direbut” perempuan lain. Apa tidak bisa menemukan alur cerita lain? Kita senantiasa berharap seri selanjutnya akan hadir dengan penyajian yang berbeda. Ternyata memang berbeda… pemainnya, busananya, dan setting lokasinya. Plotnya sama.

Demikian pula dengan kehidupan para penonton setianya. Dalam setiap hari, minggu, dan bulan, mereka bekerjakeras berusaha meningkatkan derajat hidup. Atau minimal, supaya bisa sedikit menabung. Senangnya bukan main jika dapat lebihan pendapatan harian. Tapi penyakit yang muncul karena kelelahan bekerja membuat cuan ekstra itu harus direlakan demi pengobatan. Atau kalau sekarang, anaknya tiba-tiba butuh dibelikan kuota bejibun buat sekolah online. Tabungan amblas. Hidup akhirnya segitu-segitu aja.

Oke. Ada yang bilang kalau kualitas plot yang stagnan dalam sinetron adalah buah dari episode yang mulur-mulur macam keju pizza masih anget. Bisa jadi benar. Namun bukankah kehidupan mereka rasanya juga seperti itu? Berpanjang-panjang dan tak menentu. Seiring datangnya hari, bukannya semakin besar harapan dalam hati mereka, hidup justru makin bikin angkat tangan.

Ya sudahlah… Terserah dunia ini mau seperti apa. Apapun yang terjadi besok ya dihadapi saja. Kalau bagus ya syukur. Kalau nggak ya sudah… pasrah saja.’

Maka, dalam perkara stagnansi opera sabun negara zamrud khatulistiwa ini, sesungguhnya siapa yang akhirnya menginspirasi siapa?

Apakah tim produser selalu bertolak dari kehidupan nyata para pemirsanya, yang secerdas mungkin ditangkap dan diterjemahkan dalam bahasa layar kaca dengan segala keterbatasan yang menghadang? Atau stagnansi ini akhirnya dibentuk terbentuk demi mengobati perih luka dalam hati pemirsanya?

Supaya kalau hidup mereka gitu-gitu aja, tak kunjung menemui solusi, sering dibuat kalah-kalahan, serta nampak seperti benang membundel yang rumit dan tak berujung… ya sudah, tidak masalah.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alasan untuk Jangan Keburu Alergi terhadap Soal Hitungan di Tes Seleksi Kerja 0 130

Mengapa musti sulit belajar matematika dari TK sampai SMA? Sedang di kehidupan nyata cuma untuk menghitung uang kembalian, itupun sekarang sudah ada kalkulator? Telanjur capek-capek belajar dari bilangan eksponen, matriks, trigonometri, sampai geometri, gak bakalan dipakai buat bekal hidup!

Barangkali banyak dari Pembaca budiman yang beranggapan demikian. Apalagi kalau Pembaca bekerja atau berkuliah di luar jalur sains, pasti setuju kalau belajar matematika sampai muntah cecek ternyata tak berguna. Ada juga yang kesal dengan sistem seleksi calon karyawan yang menggunakan soal matematika (dalam TPA), sehingga kembali bertemu angka-angka brengsek itu.

Terlanjur move on dari matematika saat kuliah, banyak teman saya yang kaget harus kembali belajar matematika untuk kerja, sebal harus kembali berhadapan dengan musuhnya saat sekolah dulu. Dan itu termasuk saya. Namun, seorang pelanggan toko mengirim wahyu yang mengubah (dengan radikal dan revolusioner) pandangan-pandangan saya.

Suatu hari, seorang laki-laki tambun datang ke toko saya untuk membeli kaca untuk dekorasi kafenya. Ia minta dipotongkan kaca berbentuk segitiga sama kaki dengan alas 1 meter dan panjang kaki sebesar 20 cm. Sontak saya dan orang tua saya kaget dengan kompak.

“Mana bisa, Mas? Kan alasnya semeter, kalau sisinya 20 cm dong jadinya gini?” Jelas Mama saya sambil menunjukkan bentuk sisi segitiga yang tidak bisa menyatu. Ya, mirip pacaran berda agama.

Orang itupun nampak bingung.  “Berapa bisanya? Kalau 30 cm bisa gak?” Tanya orang tersebut.

“Ya gak bisa, Mas. Paling nggak sisi-sisinya semeter, nanti jadinya segitiga sama sisi,” jawab Papa saya.

Bukannya merasa tercerahkan, orang tersebut masih nampak bingung dengan urusan segitiganya. Padahal, selama sekolah, kita sudah mati-matian dihajar oleh segitiga. Dari yang paling sederhana, mencari keliling, hingga utak-atik sisi dan sudut menggunakan trigonometri. Kalaupun semisal mas-mas tersebut hanya lulusan SD, seharusnya ia sudah pernah belajar jenis-jenis segitiga, sifat-sifat segitiga, dan triple pythagoras.

Untuk mencari sisi yang pas untuk segitiga mas-mas tersebut sendiri cukup mudah. Yang paling gampang bisa menyamakan sisi kaki dengan sisi alasnya. Atau, kalau mas-mas tersebut kekeuh dengan bentuk segitiga sama kaki, bisa menggunakan angka triple pythagoras dan hasilnya adalah 130 cm.

Kejadian ini menunjukkan saya bahwa problem matematika di kehidupan sehari-hari tidak melulu soal uang. Selain masalah logika sederhana seperti tadi, pengetahuan matematis juga akan dijuji saat Anda mengerjakan tes IQ atau tes potensi akademik (TPA). Tes-tes itu, pembaca tahu, banyak diajukan dalam tes seleksi kerja atau CPNS.

“Lho, kan tidak semua orang dikaruniai kecerdasan numerikal?”

Yak, benar memang. Tes IQ sendiri juga banyak menuai kontra karena dianggap hanya melihat kecerdasan numerikal, linguistik, dan spasial. Tapi, bukan berarti Anda memilih untuk alergi apalagi fobia dengan urusan angka.

Saya sendiri menyarankan Anda untuk sesekali mengerjakan soal matematika sederhana seperti soal-soal TPA tatkala menganggur. Tenang, ini bukan rekomendasi abal-abal seperti inpluenser lokal (Baca: Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi). Tersebab, saya sudah melakukan riset kecil-kecilan mengenai kecerdasan.

Banyak teman saya yang lesu putus asa saat harus kembali belajar matematika untuk bisa mengerjakan TPA saat melamar pekerjaan. Sifat alergi itu datang lantaran pikiran mereka hanya dibayangi oleh bejibun angka-angka, tanpa tahu tujuan dari tes tersebut.

Secara sains, mengerjakan soal seperti ini terbukti meningkatkan IQ Anda. Dengan mengulas lagi pelajaran yang sudah usang, ikatan antar saraf otak Anda akan kembali terjalin dan menguat. Hubungan antar syaraf (sinapsis) pada otak inilah yang menentukan kecerdasan manusia.

Peningkatan IQ ini tidak hanya terkait kecerdasan numerikal saja. Setidaknya menurut pengalaman saya, mengerjakan soal TPA meningkatkan kemampuan menganalisis pola-pola dalam sebuah masalah, dan kemudian mencari solusinya. Mungkin, inilah mengapa banyak sekali perusahaan dan instansi yang menggunakan soal TPA untuk menyeleksi calon karyawan. Sekali lagi, bukan melihat kecerdasan numerikal namun identifikasi pola dalam masalah dan mencari solusinya.

Selain meningkatkan kecerdasan, belajar matematika juga melatih ketelitian. Saya rasa untuk poin ini, Anda sudah mengerti. Hal ini karena hasil yang benar tidak akan didapatkan apabila terdapat kesalahan dalam menghitung.

Di samping menguji ketelitian, mengerjakan soal matematika juga menguji kesabaran.  Tak jarang kita harus menghitung ulang saat tidak menemukan jawaban kita di pilihan jawaban…

Dan yang terakhir itu adalah manfaat tak terelakan, minimal meningkatkan kapasitas imej Anda di mata anak-anak kelak. Bayangkan bila suatu hari nanti anak-anak Anda meminta bantuan mengerjakan soal matematika sederhana, tetapi Anda tidak bisa mengerjakannya….

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

Ibadah yang Tertinggal di Ramadhan: Refleksi Diri Bagi Golongan Sok Sibuk 0 199

Oleh: Edeliya Relanika*

 

*Peringatan: Ini bukan artikel dakwah, jadi jangan cari petunjuk religi di bacaan ini

 

Yah, tak terasa Ramadhan di tahun 2021 sudah berlalu. Lebaran bahkan sudah lewat lebih dari seminggu lalu. Tapi kok hidup tetep gini-gini aja, gak ada fitri-fitrinya. Sedih rasanya harus melewatkan Ramadhan dengan begitu cepat—yang tentu saja masih digandeng mesra sama si COVID-19.

Selama Ramadhan kemarin, aku telah tertimbun oleh beratnya tugas kuliah dan proyek kepenulisan. Bukan karena aku jadi materialis dan sekonyong-konyong berorientasi pada pencapaian duniawi, aku juga banyak mulai memikirkan hal yang bahkan belum disadari pada Ramadhan beberapa tahun ke belakang:

Kehilangan kesempatan beribadah Ramadhan saat kita beranjak dewasa, akibat disibukkan dengan pencapaian duniawi yang paradoksal.

Menjadi lebih tua nyatanya bisa membuat kita jadi lebih sibuk pada hal-hal profan. Jika diputar ke sisi lainnya, pencapaian duniawi itu toh juga akan berhenti saat kita meninggal dunia. Mungkin warisan pencapaian itu masih akan tersimpan dan dinikmati oleh keturunan kita. Namun, apakah pencapaian duniawi itu akan menina bobokkan kita di alam kubur?

Mudah saja bagi orang dewasa muda hingga tua untuk memafhumkan pelewatan beberapa ritual ibadah Ramadhan—yang biasa rutin dijalankan ketika waktu lebih muda dahulu. Sebelum aku menjadi lebih tua dan semakin malas beribadah (karena sok sibuk banyak kerjaan), ada beberapa poin catatan pribadi yang mungkin bisa relate dengan para pembaca Kalikata, dan mungkin bisa diterapkan di Ramadhan tahun depan: (karena sesungguhnya Ramadhan tiap tahun harusnya membuat kita manusia yang lebih baik khan, azeq)

Tidak skip ibadah lima waktu salat fardu saat di tengah hari berpuasa.

Dengan alasan banyak tugas dan pekerjaan lainnya (masih yang bersifat duniawi), banyak dari golongan sok sibuk (((seperti aku dan kamu))) yang seringkali lalai untuk melaksanakan salat fardu lima waktu secara full time. Nah, itu ibadah wajib jangan sampai kalian skip kayak iklan di YouTube yang masih belum premium.

 

Kalau tugas ber-deadline tengah malam, mending coba salat Tarawih dulu saja.

Kalau kalian memiliki waktu luang sekitar pukul 7 hingga 9 malam, sempatkanlah untuk salat Tarawih. Bukannya malah latihan joget Tiktok biar masuk fyp. Kalau masih ada tanggungan tugas gimana dong, kak? Coba saja tugas tersebut diselesaikan di pagi, siang, atau sore harinya.

 

Jangan suka begadang nugas atau kerja hingga waktu sahur, lalu jadi kelelawar dan bobok hingga waktu berbuka puasa.

Ini sih dilema para pelajar (apalagi mahasiswa) dan pekerja lainnya. Udah skip banyak ibadah Ramadan dengan alasan kecapaian, eh tapi malah kuat begadang kerja hingga sahur. Kalau kasusnya seperti itu, cobalah kalian pikir ulang. Untuk nugas saja kuat; mengapa untuk ibadah sebentar saja malah banyak alasan? Xixixi.

 

Coba mendaras ayat-ayat Alquran secara konsisten, walau tak sampai puluhan ayat jumlahnya.

Bagi kalian yang berniat untuk membaca Alquran walau pun tidak khatam, tidak apa-apa. Belajarlah konsisten untuk tak luput memaknai isi Alquran. Kalau bisa khatam Alquran di bulan Ramadhan, tentu lebih baik lagi! Biar tiap tahun ada faedahnya Ramadhan kita.

 

Jangan lupa banyak beramal dan bersabar.

Kemenangan Hari Raya nanti akan menjadi lebih bermakna, apabila Ramadan ini dapat kita jalankan dengan beban yang diringankan bersama ikhtiar serta qonaah.

 

Catatan refleksi ini kuharap akan terus berakar dan bertumbuh; dalam menyadarkan kekhilafan kita yang suka skip berbagai ritual ibadah di bulan Ramadhan. Semangat berubah untuk lebih baik boleh-boleh saja berkembang, namun jangan dengan kemalasan diri pada golongan sok sibuk seperti kita hehehe.

Tumben banget Kalikata serius.

 

*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya. Tinggal di Gresik, dan menghasilkan karya dari hobi menulis, salah satunya “Antroposen” di Gramedia Writing Project (Instagram: @edeliyarerelala).

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks