Tak Ada Kejutan di Comeback Tonight Show 0 558

“Tonight’s mania??? Mantap!!”

Slogan begini sudah bisa ditemui lagi di layar kaca, ya? Bukannya kemarin sedih-sedihan setelah 7 tahun beracara dan malah berpamitan?

1 Juni kemarin acara Tonight Show di stasiun televisi yang mengklaim dirinya sebagai “masa kini” sudah bisa kembali dinikmati pemirsa. Memenuhi keinginan penonton garis kerasnya yang minta ditayangkan lagi barangkali menjadi salah satu alasan.

Sebelum wajah barunya yang sekarang, Tonight Show versi Indonesia – kita semua tahu kan, ada Tonight Show with Jimmy Fallon versi NBC – ini sudah berkali-kali ganti formasi. Sempat dibawakan oleh Arie Untung, juga diisi Aurellie sebagai co-host. Hingga akhirnya formasi yang empat orang sekarang ini – Vincent, Desta, Heti, Enzy – menjadi yang katanya paling difavoritkan penonton.

Perlu diakui memang, kemistri di antara mereka seakan nampak nyata di depan kamera. Kata netijen “ketawanya nular”. Tipikal host rame-an yang banyak melempar joke internal, namun mampu dipahami se-Indonesia raya.

Saat mengaku pamit 25 April lalu, mereka sebetulnya tidak benar-benar hilang dari peredaran dunia hiburan. Mereka membangun platform online, menghelat channel Youtube, yang belum ada kontennya saja sudah meraup 500 ribu lebih subscribers. Beda jauh kan sama kalian yang sudah tahunan juga subscribernya segitu-segitu aja. Thanks to nama besar dan popularitas.

Selama bulan puasa kemarin, mereka rajin menggelar live streaming dengan maksud menyapa para fans yang terkenal militan. Fans-nya bukanlah sebuah fandom biasa. Mereka bukan hanya yang setia menonton dan menunggu live Youtube, tapi bahkan telah berkumpul, saling bertemu, dan menggelar aksi penggalangan dana dalam rangka penanggulangan dampak pandemi.

Keempat figur publik ini sadar, bahwa televisi bukanlah satu-satunya yang bisa diandalkan di hari-hari ini. Bahwa semua saja harus mulai merayu pengguna dunia maya, memperkenalkan diri, membangun kerajaan bisnis di dalamnya.

Jika dulu “waktu” adalah musuh paling kuat di dunia, kini ia disubstitusi oleh “netijen”. Sebab netijen lah yang punya kemerdekaan menentukan jenis tayangan apa yang hendak ditonton, kapan dan di mana akan menyaksikannya. Konsekuensinya tentu pula menentukan nasib hajat hidup pekerja dunia hiburan.

Hal ini pun sudah disadari perusahaan media televisi. Pemilihan jam tayang di pukul 7 malam alias prime time, mengadu domba penonton sinetron dan acara dengan penonton bayaran di channel sebelah, bukan tanpa alasan. Mereka sadar betul, segmentasi penonton mereka adalah masyarakat urban penggemar on demand, TV kabel atau Youtube.

Tenang. Mereka tahu betul strategi apa yang harus diambil dalam perang ini. Bintang tamu dipilih dengan seksama.  Nassar saat tayangan edisi lebaran dan Rina Nose di pembukaan Juni. Merekalah yang punya daya tarik, yang mampu menggoda penonton untuk mengambil remot TV, yang membuat penonton mengganti channel demi seorang idola.

Selamat datang Iis Dahlia, Soimah, Raffi Ahmad, Ruben Onsu, dan Vicky Prasetyo! Bukan tidak mungkin kan, mereka adalah alternatif bintang tamu selanjutnya?

Dalam peperangan ini, musuh program-program televisi adalah mereka yang jatuh dalam dunia streaming dan anti-FTA (free to air). Sesungguhnya segala ragam games atau pertaruhan menggelar gimmick akan sia-sia belaka di hadapan kuasa netijen.

Musuh media mainstream kini adalah media online, sang adikuasa yang tak masuk hitungan rating and share Nielsen. Pilihannya ada dua: adaptasi atau mati.

Pada akhirnya, Tonight Show adalah satu lagi catatan tentang media kita yang berdilema antara bisnis dan idealis. Tidak ada yang baru bukan? Tak ada yang mengejutkan.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (Instagram: @petiteanette)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Selak dan Jampi-jampi Kakek 0 187

Ini cerita waktu dulu, saat saya berusia kurang dari sepuluh tahun. Saya dibesarkan oleh kakek dan nenek saya. Kakek saya merupakan orang yang cukup disegani di desa. Menurut cerita yang sudah beredar jauh sebelum saya lahir, kakek saya sering memenangkan perkelahian antar orang sakti.

Nenek saya juga pernah mengatakan, bahwa orang-orang yang hendak berbuat jahat di rumah saya atau kepada tetangga-tetangga, akan selalu berakhir buruk. Mereka tak pernah benar-benar bisa menyentuh halaman rumah kami, sebab yang akan mereka dapati hanya laut dan sebentang sawah. Dengan kata lain, bila anda mau mencuri ke rumah saya, maka penglihatan anda akan disulap menjadi “berbeda” dari yang sebenarnya.

Rumah saya letaknya di belakang tembok sekolah. Nah, di tembok itu, terdapat gerbang kecil yang mengarah ke halaman rumah saya. Suasana sekolah yang sepi ketika malam hari membuat saya selalu ketakutan tiap kali melaluinya.

Pada sebuah malam yang dingin, saya pulang dari mengaji seorang diri. Biasanya saya bersama tiga teman saya; Weli, Iwan dan Erik. Tapi malam itu mereka tak datang ke surau karena demam. Aneh memang, mereka demam secara bersamaan. Seperti kebetulan yang disengaja.

Entah bagaimana, malam itu ketakutan saya memuncak. Mungkin karena sebelumnya, teman mengaji saya bercerita tentang hilangnya seorang anak laki-laki di desa saya, setelah dikutuk ibunya karena belum menurunkan layangan ketika magrib naik. Saya yakin, anak itu diculik oleh Selak.

Saya berjalan lebih cepat dari biasanya, namun gerbang kecil yang mengarah menuju halaman rumah saya tak kunjung bisa saya dekati. Gerbang itu bagaikan berlari dari kejaran saya.

Saya akhirnya kelelahan, dan mencoba berjalan lambat.

Pada momen saya berjalan lambat itulah, saya melihat sosok gemuk berpakaian putih dan tinggi sedang berdiri di samping gerbang kecil yang mengarah ke halaman rumah saya.

Saya tidak mampu menggerakkan tubuh saya, bahkan untuk sekadar memejamkan mata. Sosok besar itu memiliki bola mata yang memancarkan cahaya hijau. Bola mata itu tampak melayang di antara pendar cahaya bulan.

Kejadian itu berlangsung hanya sekitar satu menit. Setelah saya kembali bisa menggerakkan tubuh saya, sosok besar itu menghilang. Lantas saya segera berlari sambil berteriak ketakutan.

Sesampainya di rumah, kakek dan nenek saya dan para tetangga sedang asyik menonton acara sinetron di televisi.

“Kenapa kamu lari-lari kayak habis dikejar selak?” kata nenek saya.

“Dia habis diganggu itu,” kata Inaq Rabitah, ibunya Iwan.

Bejarup dulu sana,” kata Kakek saya.

Saya terlalu ketakutan sehingga tidak sempat memberi tanggapan atas semua komentar itu. Saya masuk ke dalam kamar dan menggunakan sarung mengaji sebagai selimut, berusaha tidur sambil membaca ayat kursi.

Benar, saya yakin bahwa saya sudah tidur waktu itu. Bahkan saya mengingat mimpi saya; saya bermimpi sedang terjaga di sepertiga malam. Saya kembali melihat sosok besar yang sebelumnya menghadang saat pulang mengaji.

Sosok besar itu tengah menimang dan membawa saya ke ruang tamu. Saya melihat ruang tamu penuh oleh entah siapa, dan mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang sedang memakan jagung, ada yang sedang berkelahi, dan ada yang sekadar berbaring di lantai. Lampu di ruang tamu menjadi bercahaya hijau.

Meski memberontak, saya tidak merasakan tubuh saya bergerak. Sampai saya tiba-tiba terlepas dari tangan sosok besar itu. Tetapi tubuh saya tidak menyentuh lantai, melainkan kembali ke tempat saya tidur.

Sampai hari ini, saya masih mengingat mimpi itu dan menyimpannya juga dalam sebuah catatan.

Sebangunnya dari mimpi buruk, saya keluar dan mendapati kakek, nenek, dan para tetangga masih menonton televisi. Entah apa yang menggerakkan tubuh saya hingga berjalan menuju televisi lalu memencet tombol off. Spontan orang-orang yang berada di ruang tamu menatap saya sambil bergurau.

Waktu itu hanya rumah saya yang memiliki televisi di antara empat tetangga yang lain. Terkadang sebagai ucapan terima kasih karena telah menyediakan tontonan, mereka kerap secara sengaja memberikan beras dan gula sebagai semacam “tiket” masuk ke bioskop.

Nenek yang barangkali ketika itu menyadari tingkah saya yang ganjil segera menggendong dan mengembalikan saya ke kamar. Saya tak bisa tidur sampai jam dinding di kamar menunjuk angka sebelas. Bayangan sosok besar bermata hijau dan berpakaian putih itu terus menghantui saya.

Lama-kelamaan, para tetangga satu per satu mulai beranjak ke rumah mereka masing-masing. Suara sandal mereka yang menjauh dari rumah justru menambah ketegangan saya malam itu. Kakek dan nenek memadamkan televisi dan lampu ruang tamu.

Dalam kegelapan, saya bisa merasakan, bahwa saya tidak sendiri di kamar itu. Saya mendengar kain bermotif bangau yang menjadi pintu kamar saya bergerak. Suara kain yang disingkap itu jelas sekali.

Sekilas saya melihat sebentuk sosok dengan mata bercahaya hijau berdiri di ambang pintu kamar saya. Ketika hendak berteriak, suara saya seakan terhenti di leher.

Cukup lama saya merasakan ketegangan itu, sampai tubuh saya basah oleh keringat. Entah pada zikir ke berapa, kakek dan nenek akhirnya datang menolong saya. Lampu ruang tamu dan lampu kamar dihidupkan, dan saya diangkut masuk ke kamar mereka.

Wajah saya dibasuh oleh kakek menggunakan segelas air yang telah dijampi. Menggunakan tangannya, ia kemudian mengusap kedua kelopak mata saya seolah-olah sedang membersihkan apa yang sebelumnya saya lihat. Sejak saat itu, saya tak pernah lagi melihat sosok berbadan besar itu. Setidaknya sampai saya lulus SMA.

Saya pindah ke Kota Mataram dan bermukim bersama kedua orangtua saya pada pertengahan tahun 2012. Kakek meninggal pada tahun 2006, dan nenek terpaksa tinggal seorang diri, sebab anak-anaknya sudah berpencar ke luar daerah melanjutkan kehidupan masing-masing bersama keluarga baru.

Pada tahun 2015, saya mulai menempuh pendidikan S1 di Surabaya. Pada waktu itu pula, saya kembali merasakan ketakutan yang ganjil. Tepat ketika pesawat yang saya tumpangi hendak lepas landas, saya bisa melihat dari balik jendela, sosok berbadan besar dengan pakaian putih yang matanya menguarkan cahaya hijau sedang berdiri tidak jauh dari sayap pesawat. Sosok itu melambaikan tangannya kepada saya.

Catatan:

Selak: hantu atau manusia yang menggunakan ilmu hitam.

Bejarup: membasuh muka

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kita Hanyalah Penonton di Reshuffle Menteri 0 242

Semua mata tertuju pada Pak Jokowi dan Kyai Ma’ruf, yang melangkah dengan heroik ke hadapan media di beranda Istana. Sore itu konferensi pers berjalan diiringi harap cemas 200 juta lebih rakyat Indonesia. Semua karena berbagai peristiwa naas yang menimpa negara akhir-akhir ini.

Mulai dari Corona yang tak kunjung selesai, sampai 2 menteri korup dalam waktu bersamaan. Untuk itu, semua sedang menantikan langkah tegas Pak Presiden melengkapi tubuh kabinetnya.

6 nama baru kemudian diumumkan, mengisi dan/atau menggantikan nama-nama lama, menjabat menteri di era kedua Joko Widodo ini. Seperti biasa, kabar baru seperti penunjukan menteri ini menimbulkan beragam percakapan menarik di kalangan kita, rakyat jelata.

Pertama, di grup whatsapp saya menemukan sebuah meme yang bunyinya begini: “coblos Jokowi-Ma’ruf, bonus Prabowo-Sandi”. Kalimat dalam meme ini memang tidak asing. Dulu pernah keluar sejak aksi Jokowi dan Prabowo yang dengan mesranya naik satu gerbong MRT, hingga penunjukan Prabowo sebagai menteri pertahanan. Meme ini hangat dan relevan dimunculkan kembali, setelah nama Mas ganteng Sandiaga Salahuddin Uno yang ditunjuk sebagai Menparekraf, menggantikan Wishnutama.

Ini mungkin menjadi sejarah penting bagi perjalanan demokrasi Indonesia, di mana rival capres-cawapres yang menimbulkan berbagai drama india selama paling tidak 10 tahun terakhir ini, malah masuk dan merasuk menjadi satu kabinet. Sungguh dunia ini maha terbolak-balik, lawan jadi kawan, dan begitu pula sebaliknya.

Komentar yang muncul atas meme ini juga beragam, dan ada satu yang menarik perhatian saya: “semua akan cebong pada waktunya”. Ini suatu ironi. Kita sendiri yang sering mengeluh betapa melelahkannya perdebatan cebong vs kampret yang tak pernah berhenti. Tapi tanpa sadar, kita sendirilah yang mempopulerkannya, terus-terusan menggaungkannya, membicarakannya, mengomentarinya, dan menjadikannya wacana yang mencuat di ruang media sosial.

Situ tahu kan, kalau suatu trending topic di dunia maya, akan dijadikan agenda setting media mainstream juga. Jadi ya jangan heran, jika persaingan dua kubu akan tetap abadi. Lah wong kita sendiri yang terus menyebarkan meme-meme semacam ini. Sementara elit politik kita sibuk bernegosiasi dan ketawa hahahihi.

Kedua, seperti biasa reshuffle menteri menjadikan kita pakarnya pakar dan ahlinya ahli. Kita menganalisis dengan seksama rekam jejak, imej, dan prospek keenam nama menteri baru Jokowi ini. Kita mendadak jadi paling tahu alasan mengapa Wishnutama digantikan Sandi, sang pelopor giat UMKM Oke-oce. Kita mendadak menilai betapa tak punya pengalaman si Budi Gunadi di bidang kesehatan, tapi justru menggantikan menkes kesayangan Mbak Najwa Shihab, Terawan Agus Putranto, yang katanya kerja dalam diam di balik layar (mbuh layar tancep RT piro).

Kita juga tiba-tiba memuji-muji keputusan Jokowi dalam memilih Tri Rismaharini menjadi mensos, sang walikota kondang yang sukses mengijo-royo-royo-kan Surabaya. Kita mendadak sok tahu, berpikir sosok Risma paling pas untuk memberantas korupsi miris yang baru saja dilakukan pejabat sebelumnya, Juliari Batubara, hanya karena track record-nya yang tegas marah-marah ketika tamannya dirusak. Ingat ya, JIKA TAMANNYA DIRUSAK! (mbuh perkoro liyane)

Sementara itu kita mengenyampingkan bahwa fakta bahwa kursi menteri adalah bagi-bagi jatah partai politik. Mensos adalah jatahnya anak buah Megawati Soekarnoputri. Dan lantas kita jadi dibutakan imej tokoh politik yang selama ini sudah dipotret baik oleh media.

Ketiga, pidato penuh makna Mendag yang baru. Posisi menteri perdagangan diisi Muhammad Lutfi, seorang berpengalaman yang sering langganan menduduki kursi kabinet, dengan jabatan yang sama di masa silam.

Saya perhatikan betul pidatonya yang ternyata semakin mendekati akhir, malah semakin menyakiti hati saya sebagai rakyat biasa-biasa aja ini. Dengan gagah ia sampaikan rasa tanggung jawab besar membawa perekonomian nasional di tengah masa sulit pandemi. Pidato dilengkapi analogi bak pujangga melamar kekasih. Katanya, Mendag adalah wasit pertandingan tinju, pembeli dan penjual adalah petinjunya, dan rakyat adalah penontonnya. Ingat ya, RAKYAT ADALAH PENONTON!

Pak Mendag yang terhormat, bagaimana bisa negara demokrasi di mana rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi – setidaknya ini yang saya tahu dari pelajaran PPKN waktu SMP dulu – mosok cuma jadi penonton? Bagaimana sang promotor pertandingan tinju berhak menggelar acaranya di mana dan kapan saja, menentukan siapa wasitnya, petinju gontok-gontokan bertaruh nyawa, dan kita yang hanya penonton ini pasif dan tak berdaya, selain daripada memendam emosi melihat pertikaian, menaruh judi karena taruhan, atau ujung-ujungnya chaos antar pendukung.

Omongan Pak Mendag Lutfi ini memang problematis, tapi banyak benarnya. Bahwa kita, rakyat sebagai tingkatan terendah dalam rantai makanan perpolitikan Indonesia ini, hanya asyik menonton. Paling banter ya hanya bikin status WA atau story Instagram “hayo siapa yang kemarin bertengkar sampai putus kongsi gara-gara beda pilihan 01 dan 02?” sambil saling menertawakan satu sama lain. Tak lebih dan tak kurang.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Editor Picks