Daftar Komunitas Progresif yang Sebaiknya Dibentuk Selain “Indonesia Tanpa Pacaran” 0 276

Sudah lama sekali sejak 2015, komunitas Indonesia Tanpa Pacaran (ITP) bergerak bersama ribuan massanya di Indonesia dengan tekad mencegah perbuatan zina. Ribuan massa ini biasanya berkumpul dalam sebuah acara seminar yang menguak kunci kebahagiaan, yakni yang menurut mereka tiada lain adalah menikah. Bisa dibilang semacam acara Take Me Out versi Syariah.

Menurut hukum, menikah di Indonesia harus melibatkan laki-laki dan perempuan yang sudah berusia 21 tahun, sementara yang berusia kurang dari itu atau baru menginjak usia 19 tahun wajib mengantungi restu orang tua atau wali. Namun, apakah pernikahan tersebut berlangsung tidak di bawah tekanan orang tua yang ingin anaknya lebih bahagia dengan juragan tambang misalnya atau mafia sawit, itu adalah soal lain. Aturan ini terdengar sederhana memang, kendati syarat yang pertama masih bisa diperdebatkan. Namun, yang seringkali kemudian menjadi perkara adalah: “sulitnya mencari orang yang mau diajak menikah.”

Kesulitan inilah yang akhirnya dibaca oleh La Ode Munafar sebagai peluang memperoleh amal di dunia untuk dibawa kelak ke akhirat. Dengan membentuk ITP, La Ode berupaya mempertemukan orang-orang yang merasa kesulitan dalam mencari pasangannya. Untuk menggunakan jasa yang ditawarkan La Ode melalui komunitasnya itu, orang-orang cukup membayar murah kok bila dibandingkan dengan manfaat yang akan diperoleh. Sekitar 180 ribu rupiah kalau merujuk pada artikel di Tirto.id. Pokoknya murahlah. Setidaknya terjangkau oleh mereka yang jarang menggunakan uangnya karena hanya hidup sendiri.

Pun dalam hal ini, La Ode membantu negara untuk membuat stabil perekonomian masyarakat. Bayangkan saja, bila seseorang sudah berpacaran selama setengah dekade, namun berakhir putus karena alasan terlalu baik misalnya. Bila setiap minggunya orang baik ini terlanjur menghabiskan lima ratus ribu untuk berkencan, maka pengeluarannya dalam sebulan adalah satu setengah juta. Selebihnya hitung saja sendiri. Nah, daripada uang tersebut terbuang sia-sia, sebaiknya dipakai buat menikah saja langsung. Bahkan menurut data yang dimuat dalam media sosial Instagram ITP (@indonesiatanpapacaran), setidaknya butuh lima juta rupiah saja untuk memenuhi segala kebutuhan menikah.

Segala aktivitas progresif yang dilakukan ITP ini patut mendapat apresiasi dalam berbagai bentuk. Termasuk mengakui La Ode dan ITP-nya sebagai inspirasi bagi orang-orang lain yang juga ingin membuat komunitas yang progresif. Kemampuan menerawang apa yang paling dibutuhkan masyarakat saat ini adalah fondasi pembentukan komunitas. Mungkin seperti komunitas-komunitas berikut yang belum ada di Indonesia dan semestinya harus ada:

  1. Indonesia Tanpa Tukang Parkir Curang (ITTPC)

Indonesia Tanpa Tukang Parkir Curang sepertinya bisa menjadi ladang progresif selanjutnya bagi orang-orang yang ingin mengikuti jejak La Ode. Tukang parkir curang merupakan masalah serius dan belum ditemukan antidotnya sampai tulisan ini dibuat.

Dikatakan curang karena mereka tak terlihat ada ketika kita sedang bersiap-siap parkir. Namun, secara mengejutkan ada di dekat motor saat kita sudah bersiap pergi, lalu datang sambil meniup peluit dan melempar tatapan intimidatif.

Kalau ITTPC sudah dibentuk, bisa jadi akan disediakan tukang parkir dengan keuletan kerja yang luar biasa bagus yang rela dibayar seikhlasnya, sekalipun dengan fatihah.

 

  1. Indonesia Tanpa Paku Liar (ITPL)

Nah, saya kira ini juga patut diberi perhatian lebih. Sudah sering kita mengalami ini. Misalnya saat sedang terburu-buru menuju tempat kerja, tapi tiba-tiba ban motor yang kita kendarai bocor karena sebuah paku telah melubanginya. Maka, tak ada solusi lagi selain menambalnya ke tukang tambal ban yang sudah pasti berada tidak jauh dari tempat kejadian perkara. Atau, ketika sedang asyik mengitari kota sama doi sambil ngobrol tentang rencana-rencana masa depan, eh di tengah jalan terpaksa turun dari motor karena ban motor pecah, ya solusinya sama seperti kasus pertama.

Mari kita bayangkan seandainya paku-paku itu dibersihkan setiap hari oleh sekelompok orang yang mau meluangkan waktunya demi keselamatan kita di jalan, pasti ini akan menjadi amal yang baik pula bagi mereka. Mungkin, nanti anggota keluarga La Ode mau ekspansi dengan membentuk komunitas baru, maka inilah jawabannya. Pahala akan terhampar sepanjang jalan yang dibersihkan dari paku liar.

 

  1. Indonesia Tanpa Corona dan Oligarki (ITCDO)

Saya kira komunitas ini tak perlu dijelaskan apa yang melatarbelakangi pembentukannya. Semua akan paham dan bersolidaritas untuk membangunnya. Yang jelas, sama seperti La Ode dengan ITP-nya, bisa jadi tempat memetik rizki dan amal untuk dibawa ke akhirat. Hanya saja yang membedakannya, untuk terlibat di dalamnya, rasanya kita tak perlu membayar sepeser pun. Cukup dengan tekad dan kesadaran manusiawi.

 

  1. Indonesia Tanpa Indonesia Tanpa Pacaran

La Ode, perlu Anda ketahui, bahwa komunitas yang Anda dirikan dengan nama Indonesia Tanpa Pacaran ini telah banyak sekali mengundang pertengkaran. Buanyak alasannya. Pokoknya tidak jauh-jauh dari pertanyaan: “Sebenarnya pengetahuan Islam dan gender macam apa yang ingin Anda bentuk dalam komunitas ini?”

Nah, daripada komunitas Anda membuat umat Islam menjadi terpecah-belah, alangkah lebih baiknya Anda bubarkan saja komunitas ini. Saya rasa ini adalah sebijak-bijaknya cara untuk menghindari pertengkaran dan dosa. Ini saran yang saya peroleh di media sosial berkat para netijen budiman, lho. Suara netijen adalah suara kebenaran.

 

Btw, La Ode Munafar, pasti setiap ada seminar ITP selalu dapat tiket free pass, ya kan? Kalau boleh tahu, cita-cita mau punya istri berapa? Nggak sekalian buat komunitas Indonesia Tanpa Perselingkuhan? Hehehe…

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 137

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Film Tilik dan Perdebatan Eksistensi Wanita 0 198

Film ini sebetulnya sederhana saja. Dalam 32 menit, alur ceritanya adalah dialog ibu-ibu di atas truk dalam perjalanan dari desa ke kota. Tujuan truk itu juga sederhana: tilik atau menjenguk Bu Lurah yang sedang sakit keras di rumah sakit.

Bu Tejo, tokoh sentral dalam cerita itu, mendadak jadi idola arek-arek. Namanya disebut di banyak percakapan baik di dunia maya maupun dunia nyata. Kemunculannya di film “Tilik” viral dan ada banyak influencer yang mempromosikannya di media sosial. Padahal karya garapan Ravacana Films ini sudah diproduksi 2018 lalu.

Bagaimana tidak, kemampuan akting Siti Fauziah sebagai pemeran utama Bu Tejo ini memang sangat memukau. Ekspresi wajah dan gestur tubuhnya sangat mewakili betapa nyinyire emak-emak kampung, yang tidak pernah lelah membahas A-Z urusan orang lain.

Film ini lantas mengulik emosi penonton, akibat tema ceritanya yang sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. Perjalanan itu mungkin jauh dan menyusahkan. Harus berdiri di atas truk, tergoncang karena jalanan yang tidak rata, masuk angin, sampai harus menunduk ketika melewati pos polisi biar tidak ditilang. Tapi, perjalanan yang melelahkan itu tak sebanding dengan betapa asyiknya gibah rumah tangga tetangga.

Mungkin, premis cerita inilah yang kemudian berhasil menyihir penonton dan khalayak ramai, sampai mengeluarkan quote yg kini makin lacur penggunaannya: “kita semua adalah Bu Tejo ketika lagi gibah”. Artinya, akting Bu Tejo sebagai tokoh sentral dan keseluruhan jalan cerita Tilik ini mampu membuat penonton melakukan refleksi terhadap diri sendiri. Membuat penonton merasa “aku juga kayak gitu kalau gosip, mulutnya jahat banget”.

Menurut hemat penulis, sineas sudah berhasil mencapai tujuan terwahid dari penciptaan karya: membuat penikmatnya merenung, berpikir, dan berfantasi dalam batinnya.

Tapi, sebagaimana karya, kan gak semuanya mengilhami cerita seperti yang saya tanggapi. Tak selamanya film Tilik banjir pujian. Lah wong pada dasarnya kita ini berasal dari beragam latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi, dan budaya yang berbeda-beda. Tentu cara memandang dan menikmati karya juga beda selera.

Baru-baru ini, ada seorang mas-mas yang berkomentar atas buruknya kualitas ending film Tilik. Ia menganggap film Tilik gagal mengajarkan moral value, malah mendukung stigma perempuan tukang gosip, dan abai memberi solusi.

Bukan media sosial namanya kalau pendapat seperti mas ini tidak di-counter. Pendapat yang “lain” dari arus yang memuja-muja kemampuan sinematik dan konten cerita Tilik, langsung dibalasi netijen secara kompak.

Bagi netijen yang kontra dengan pendapat si mas-mas dengan akun Twitter @RoryAsyari ini mengatakan, bukan tugas film untuk mengajarkan nilai moral. Ada yang menghujat mungkin Mas Rory gak ngerti gaya bercerita satire. Ada pula yang menyuruh sebaiknya Mas Rory ini nonton film azab Ind*siar yang pesan moral agama dan sosialnya jelas.

Kali ini, saya, penulis, harus agak setuju dengan kebanyakan netijen itu. Mas Rory perlu tahu, bahwa Wahyu Agung Prasetyo sebagai sutradara hanya bercita-cita sederhana, menampilkan tradisi tilik di pedesaan. Warga perkampungan layaknya begitu, kerjasama menyewa kendaraan apapun –sekalipun truk pengangkut pasir – yang penting slamet sampai tujuan.

Mas Rory perlu tahu, kalau sekelompok ibu-ibu yang melakukan perjalanan dengan truk itu ibaratnya juga jalan hidup kita. Kadang suka, kadang duka. Kadang bisa bekerjasama antar-wanita, saling mengumpulkan uang, dijadikan satu amplop, agar ada “cindera mata” yang bisa dibawa untuk meringankan beban orang yang sedang ditiliki. Kadang gosip bareng, di mana bahan pembicaraan itu bisa menyatukan, tapi bisa juga bikin baper dan bikin gontok-gontokan.

Realita-realita ini ditangkap, diterjemahkan, dan digambarkan melalui serangkaian karya audio visual. Apa adanya, dengan sedikit sentuhan hiperbola tentu saja demi kebutuhan dramatisasi.

Mas Rory perlu tahu, memang ada sejuta sudut pandang yang bisa digambarkan pekerja seni untuk menggambarkan wanita. Mulai dari lukisan tubuh wanita karya pelukis-pelukis handal dunia, sampai karya film pendek festival macem Tilik.

Di Tilik, ada beragam perempuan yang coba digambarkan. Perempuan single dan punya jabatan macam Bu Lurah, yang dianggap hidupnya tak proporsional, yang dipandang penyebab penyakitnya adalah karena ulah suaminya ataupun ketidakmampuannya sebagai seorang wanita menjalani hidup.

Atau perempuan single, muda, pandai, dan memiliki karir baik, yang tak segera kunjung menikah dan kepergok jalan-jalan dengan om-om, pria yang jauh lebih tua. Yang otomatis dipandang sebelah mata, dianggap perempuan gak bener, atau pelakor macem drama koriyah yang populer itu.

Ada pilihan-pilihan hidup wanita yang dikenai standar ganda. Perempuan harus kuat, berkarya, punya karir baik, tapi juga harus santun, mengurusi keluarga, dan tak bebas dari stigma masyarakat atas kemerdekaan pilihan hidupnya sendiri.

Masih ada buanyak hal yang bisa diangkat dari sisi hidup wanita. Belum lagi sisi perempuan yang diberi kemampuan psikologis tersendiri oleh Tuhan: perhatian akan hal-hal detil.

Nih contoh aja ya, warung kelontong di sebelah kos saya dulu pegawainya mas-mas, barangnya gak pernah lengkap. Mau nyari margarin, habis. Nyari telur, kosong. Nyari air mineral dengan merek selain Aq*a biar gak mahal, dibilang belum dikirim sama distributor. Ada saja alasannya. Tapi sekarang, begitu ada mbak-mbak yang jadi penjaga toko, barang di warung selalu lengkap, bahkan bertambah variasinya. Kulkas isi minuman dingin sekarang jauh lebih bewarna. Dan aneka menu es krim Aic* juga lengkap tersedia di freezer.

Cerita kecil yang nyata dan ada di kehidupan sekitar kita tentang wanita. Kalau segi wanita yang ini, sepertinya belum ada yang bikin filmnya. Mungkin ada sineas yang tertarik? Saya volunteer jadi penyumbang ide cerita nih!

Hal lain yang mungkin terlewat diulas: film ini didanai Dinas Kebudayaan DIY. Ini adalah salah satu pertanda bahwa pemerintah mulai mendukung pekerja seni dengan segala idealismenya. Pekerja seni gak perlu jadi toa, melulu memerankan juru bicara prestasi yang mendanainya, tapi justru menyajikan kritik keras.

Ingat kan scene Bu Tejo ngasih uang ke Gotrek, driver truk, dengan sepik-sepik biar suaminya “direwangi” jadi lurah? Bahwa untuk jadi pemimpin, mungkin perlu “pemulus”. Ini kritik pada budaya pemerintah, yang juga dimasukkan secara mulus ke adegan cerita, tanpa merusak pula intisari tema hoax yang hendak diangkat di dalamnya.

Dan untuk gejala soal suap-menyuap ini, sudah akut dan menyerang siapa saja, mau pria ataupun wanita.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks