Daftar Komunitas Progresif yang Sebaiknya Dibentuk Selain “Indonesia Tanpa Pacaran” 0 563

Sudah lama sekali sejak 2015, komunitas Indonesia Tanpa Pacaran (ITP) bergerak bersama ribuan massanya di Indonesia dengan tekad mencegah perbuatan zina. Ribuan massa ini biasanya berkumpul dalam sebuah acara seminar yang menguak kunci kebahagiaan, yakni yang menurut mereka tiada lain adalah menikah. Bisa dibilang semacam acara Take Me Out versi Syariah.

Menurut hukum, menikah di Indonesia harus melibatkan laki-laki dan perempuan yang sudah berusia 21 tahun, sementara yang berusia kurang dari itu atau baru menginjak usia 19 tahun wajib mengantungi restu orang tua atau wali. Namun, apakah pernikahan tersebut berlangsung tidak di bawah tekanan orang tua yang ingin anaknya lebih bahagia dengan juragan tambang misalnya atau mafia sawit, itu adalah soal lain. Aturan ini terdengar sederhana memang, kendati syarat yang pertama masih bisa diperdebatkan. Namun, yang seringkali kemudian menjadi perkara adalah: “sulitnya mencari orang yang mau diajak menikah.”

Kesulitan inilah yang akhirnya dibaca oleh La Ode Munafar sebagai peluang memperoleh amal di dunia untuk dibawa kelak ke akhirat. Dengan membentuk ITP, La Ode berupaya mempertemukan orang-orang yang merasa kesulitan dalam mencari pasangannya. Untuk menggunakan jasa yang ditawarkan La Ode melalui komunitasnya itu, orang-orang cukup membayar murah kok bila dibandingkan dengan manfaat yang akan diperoleh. Sekitar 180 ribu rupiah kalau merujuk pada artikel di Tirto.id. Pokoknya murahlah. Setidaknya terjangkau oleh mereka yang jarang menggunakan uangnya karena hanya hidup sendiri.

Pun dalam hal ini, La Ode membantu negara untuk membuat stabil perekonomian masyarakat. Bayangkan saja, bila seseorang sudah berpacaran selama setengah dekade, namun berakhir putus karena alasan terlalu baik misalnya. Bila setiap minggunya orang baik ini terlanjur menghabiskan lima ratus ribu untuk berkencan, maka pengeluarannya dalam sebulan adalah satu setengah juta. Selebihnya hitung saja sendiri. Nah, daripada uang tersebut terbuang sia-sia, sebaiknya dipakai buat menikah saja langsung. Bahkan menurut data yang dimuat dalam media sosial Instagram ITP (@indonesiatanpapacaran), setidaknya butuh lima juta rupiah saja untuk memenuhi segala kebutuhan menikah.

Segala aktivitas progresif yang dilakukan ITP ini patut mendapat apresiasi dalam berbagai bentuk. Termasuk mengakui La Ode dan ITP-nya sebagai inspirasi bagi orang-orang lain yang juga ingin membuat komunitas yang progresif. Kemampuan menerawang apa yang paling dibutuhkan masyarakat saat ini adalah fondasi pembentukan komunitas. Mungkin seperti komunitas-komunitas berikut yang belum ada di Indonesia dan semestinya harus ada:

  1. Indonesia Tanpa Tukang Parkir Curang (ITTPC)

Indonesia Tanpa Tukang Parkir Curang sepertinya bisa menjadi ladang progresif selanjutnya bagi orang-orang yang ingin mengikuti jejak La Ode. Tukang parkir curang merupakan masalah serius dan belum ditemukan antidotnya sampai tulisan ini dibuat.

Dikatakan curang karena mereka tak terlihat ada ketika kita sedang bersiap-siap parkir. Namun, secara mengejutkan ada di dekat motor saat kita sudah bersiap pergi, lalu datang sambil meniup peluit dan melempar tatapan intimidatif.

Kalau ITTPC sudah dibentuk, bisa jadi akan disediakan tukang parkir dengan keuletan kerja yang luar biasa bagus yang rela dibayar seikhlasnya, sekalipun dengan fatihah.

 

  1. Indonesia Tanpa Paku Liar (ITPL)

Nah, saya kira ini juga patut diberi perhatian lebih. Sudah sering kita mengalami ini. Misalnya saat sedang terburu-buru menuju tempat kerja, tapi tiba-tiba ban motor yang kita kendarai bocor karena sebuah paku telah melubanginya. Maka, tak ada solusi lagi selain menambalnya ke tukang tambal ban yang sudah pasti berada tidak jauh dari tempat kejadian perkara. Atau, ketika sedang asyik mengitari kota sama doi sambil ngobrol tentang rencana-rencana masa depan, eh di tengah jalan terpaksa turun dari motor karena ban motor pecah, ya solusinya sama seperti kasus pertama.

Mari kita bayangkan seandainya paku-paku itu dibersihkan setiap hari oleh sekelompok orang yang mau meluangkan waktunya demi keselamatan kita di jalan, pasti ini akan menjadi amal yang baik pula bagi mereka. Mungkin, nanti anggota keluarga La Ode mau ekspansi dengan membentuk komunitas baru, maka inilah jawabannya. Pahala akan terhampar sepanjang jalan yang dibersihkan dari paku liar.

 

  1. Indonesia Tanpa Corona dan Oligarki (ITCDO)

Saya kira komunitas ini tak perlu dijelaskan apa yang melatarbelakangi pembentukannya. Semua akan paham dan bersolidaritas untuk membangunnya. Yang jelas, sama seperti La Ode dengan ITP-nya, bisa jadi tempat memetik rizki dan amal untuk dibawa ke akhirat. Hanya saja yang membedakannya, untuk terlibat di dalamnya, rasanya kita tak perlu membayar sepeser pun. Cukup dengan tekad dan kesadaran manusiawi.

 

  1. Indonesia Tanpa Indonesia Tanpa Pacaran

La Ode, perlu Anda ketahui, bahwa komunitas yang Anda dirikan dengan nama Indonesia Tanpa Pacaran ini telah banyak sekali mengundang pertengkaran. Buanyak alasannya. Pokoknya tidak jauh-jauh dari pertanyaan: “Sebenarnya pengetahuan Islam dan gender macam apa yang ingin Anda bentuk dalam komunitas ini?”

Nah, daripada komunitas Anda membuat umat Islam menjadi terpecah-belah, alangkah lebih baiknya Anda bubarkan saja komunitas ini. Saya rasa ini adalah sebijak-bijaknya cara untuk menghindari pertengkaran dan dosa. Ini saran yang saya peroleh di media sosial berkat para netijen budiman, lho. Suara netijen adalah suara kebenaran.

 

Btw, La Ode Munafar, pasti setiap ada seminar ITP selalu dapat tiket free pass, ya kan? Kalau boleh tahu, cita-cita mau punya istri berapa? Nggak sekalian buat komunitas Indonesia Tanpa Perselingkuhan? Hehehe…

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cetak Pemimpin Jalur Indie ala Ketua Kelas 0 99

Oleh: Edeliya Relanika*

 

Pernahkah salah seorang teman kuliahmu nyeletuk seperti ini:

”Eh kamu ngapain aja sih selama ini? Enggak gabut apa enggak ikut kepanitiaan atau organisasi di kampus?”

Kalau iya, selamat! Berarti kita masih berada dalam satu lingkaran konspirasi, hehe.

Rupanya berorganisasi di lingkup internal kampus tidak selamanya menjadi passion membara bagi sebagian mahasiswa. Ada yang fokus di organisasi masyarakat luar kampus dan ada juga yang mengembangkan kemampuan survival—dari kerasnya persaingan jadi budak kapital pasca lulus kuliah.

Jujur, saya ingin memberikan opini jalur alternatif terkait glorifikasi organisasi mahasiswa internal atau eksternal kampus sebagai sarana paling tepat memunculkan sari-sari kepemimpinan yang valid, no debat! Sebenarnya, ada banyak cara untuk menyemai jiwa kepemimpinan di lingkungan kampus. Salah satunya dengan menjadi ketua atau koordinator kelas secara sukarela.

Asal kalian pahami hikmahnya, menjadi ketua atau koordinator kelas itu adalah salah satu ajang penempa mental kepemimpinan dengan studi kasus yang tidak mengada-ada. Sini saya coba jelaskan dengan lebih terstruktur, sistematis, dan holistik:

 

Hadapi Berbagai Macam Karakter Dosen dengan Diplomatis

Brace yourself untuk menghadapi berbagai macam karakter dosen yang mengejutkan (seperti mainan Kinderj*y yang gak sebanding dengan mahalnya). Karena sebagai ketua atau koordinator kelas, kalian harus mampu menjembatani arahan dari dosen dengan aspirasi teman-teman sekelas.

Siapkan juga armor sekokoh milik Iron Man dan hati sekuat Superman di pilem Man of Steel. Seriusan deh, agar kalian tidak tumbang saat diberi amanah yang ngadi-ngadi atau terkena teguran hingga membuat klean PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) saat jadi ketua atau koordinator kelas.

 

Belajar Skill Manajemen Krisis Lebih Dini

Biasanya ini terjadi ketika ada dosenmu memberikan tugas — yang membuat anak satu kelas wasted dalam satu malam. Mau tidak mau, kalian harus mengumumkannya ke teman sekelas.

Seremnya nih, siap-siap kalian diprotes dan diumpat teman sekelasmu (akibat tidak terima dan sanggup dengan penugasan amsyong tersebut).

Agar terhindar dari dampratan bertubi-tubi, kalian harus menyusun strategi tertentu dalam mengumumkan tugas dari dosen. Kayak gimana contohnya? Ya cari sendiri dumz! Calon peminpin harus kreatif dalam mencari solusi!

 

Cari Tipe Jiwa Kepemimpinan yang Cocok Untukmu

Mengacu pada teori karakter personal dalam mempersuasi khalayak (dari seorang profesor di bidang Komunikasi asal Amerika serikat bernama Richard M. Perloff), kita bisa mengetahui ada tiga jenis karakter khalayak. Yaitu mereka yang suka dengan pendekatan kognitif tinggi (kritis banget), mereka yang pandai menyesuaikan diri pada situasi apa pun (seorang yang easy-going), dan mereka yang suka dengan ungkapan bersifat dogmatis (saklek/kolot gitu).

Agar setiap ucapan kalian minimal didengar dengan seksama, sesuaikan pesan yang akan disampaikan dengan karakter rata-rata anak di kelas. Walaupun ini agak ndakik, tapi semoga berguna ya ilmunya hehe.

 

Latihan Kerja Keras Bagai Quda

Terakhir nich, kalau lihat anak organisasi sering pulang larut (kadang sampai pagi lagi) karena ada acara kepanitiaan, ketua kelas juga akan mengalami hal serupa (walaupun gak terlalu ekstrem). Misalnya datang paling pagi kalau ada kelas pagi, terus pulang paling malam kalau ada kelas malam. Ya, mau gimana lagi, ketua kelas kan jadi ajudannya dosen hehehe.

 

Keuntungan lain menjadi ketua atau koordinator kelas adalah bisa jadi suatu saat kalian ditawari kerja proyek penelitian bareng dosen. Tentu dengan syarat bahwa kinerja kalian sangat memuaskan di mata dosen tersebut. Menang banyak bukhaan?

 

*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya. Tinggal di Gresik, dan menghasilkan karya dari hobi menulis, salah satunya “Antroposen” di Gramedia Writing Project (Instagram: @edeliyarerelala).

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Mengulang Pesan Boedi Oetomo untuk Gak Gampang Insekyur dengan Perbedaan 0 99

Oleh : Novirene Tania*

 

Tepat sudah 113 tahun kita terus mengulang momentum perayaan yang kita sebut “Hari Kebangkitan Nasional”. Buat kalian yang mungkin lupa mengapa hari kemarin penting, yuk mari merapat – kita ulang kembali ceramah guru sejarah kita dari SD sampai SMA!

Hari Kebangkitan Nasional menjadi salah satu hari penting buat bangsa ini, karena di sanalah awal mula perjuangan menghilangkan kubu. Di bawah inisiatif sekelompok pemuda STOVIA – mahasiswa kedokteran yang punya rasa peduli besar bagi sejarah nasional, semua perbedaan yang ada dihimpun dalam satu kesatuan.

Tanpa memandang perbedaan, tidak lagi peduli kamu dan aku darimana dan siapa kita. Jelas ini pesan yang perlu kembali digaungkan, saat dewasa ini isu perbedaan masih hangat jadi pemicu konflik antargolongan.

Gak hanya itu, kalo dipikir-pikir, 20 Mei juga membawa pesan yang tidak kalah penting: jangan gampang insekyur sama perbedaan.

Buat kita yang hidup pasca kemerdekaan dan terbiasa dengar kata “persatuan”, tentu bukan jadi barang asing. Sangat beda kondisinya saat Boedi Oetomo menggagas persatuan di tengah kelompok antarsuku masih dominan membawa semangat perjuangan masing-masing.

Andai saja saat itu dokumen sejarah bisa dengan detail menjelaskan berapa kali Boedi Oetomo rapat dan diskusi sampai sepakat bersatu di bawah bendera “persatuan nasional“, gak kebayang notulennya setebal apa.

Belum lagi dengan drama setuju tidak setuju yang pasti menimbulkan perdebatan alot. Ini tentu jelas beda dengan forum keluarga besar yang sekadar membahas liburan mau ke mana karena kemanapun opsinya asal ada waktu dan uang ya gas wae.

Kondisi ini bertolakbelakang dengan topik insekyur yang lagi rame banget dibahas. Lihat kiri kanan beda tujuan, beda strategi, bahkan beda hasil, langsung insekyur. Tambah insekyur lagi kalau merasa berjuangnya sama-sama, tapi hasilnya kok beda.

Bahkan tragisnya, jangankan berembug soal persatuan seperti Boedi Oetomo, kita-kita yang hobinya insekyur biasanya otomatis menjauhi lingkaran pertemanan. Peer pressure, istilahnya.

Daripada terus terbebani dengan kemajuan dia, mungkin baiknya memang buat circle sendiri aja,” ini jadi opsi terakhir para makhluk yang terjangkit insekyur.

Coba deh perhatikan dengan seksama, betulkah kita jadi tampak tidak terbiasa dengan perbedaan? Padahal kita bilangnya percaya banget kalo perbedaan itu indah pol no debat membuat kita kaya dan semakin kuat.

Semoga tulisan ini bisa jadi selingan refleksi kita selain posting ucapan selamat hari kebangkitan nasional dari organisasi kita masing-masing, mumpung momennya tepat.

 

*) Mahasiswi rantau Yogyakarta asal Bekasi. Baru-baru ini hobi memperhatikan hal-hal kecil sejak pandemi. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @novirenetania.

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Editor Picks