Daftar Komunitas Progresif yang Sebaiknya Dibentuk Selain “Indonesia Tanpa Pacaran” 0 718

Sudah lama sekali sejak 2015, komunitas Indonesia Tanpa Pacaran (ITP) bergerak bersama ribuan massanya di Indonesia dengan tekad mencegah perbuatan zina. Ribuan massa ini biasanya berkumpul dalam sebuah acara seminar yang menguak kunci kebahagiaan, yakni yang menurut mereka tiada lain adalah menikah. Bisa dibilang semacam acara Take Me Out versi Syariah.

Menurut hukum, menikah di Indonesia harus melibatkan laki-laki dan perempuan yang sudah berusia 21 tahun, sementara yang berusia kurang dari itu atau baru menginjak usia 19 tahun wajib mengantungi restu orang tua atau wali. Namun, apakah pernikahan tersebut berlangsung tidak di bawah tekanan orang tua yang ingin anaknya lebih bahagia dengan juragan tambang misalnya atau mafia sawit, itu adalah soal lain. Aturan ini terdengar sederhana memang, kendati syarat yang pertama masih bisa diperdebatkan. Namun, yang seringkali kemudian menjadi perkara adalah: “sulitnya mencari orang yang mau diajak menikah.”

Kesulitan inilah yang akhirnya dibaca oleh La Ode Munafar sebagai peluang memperoleh amal di dunia untuk dibawa kelak ke akhirat. Dengan membentuk ITP, La Ode berupaya mempertemukan orang-orang yang merasa kesulitan dalam mencari pasangannya. Untuk menggunakan jasa yang ditawarkan La Ode melalui komunitasnya itu, orang-orang cukup membayar murah kok bila dibandingkan dengan manfaat yang akan diperoleh. Sekitar 180 ribu rupiah kalau merujuk pada artikel di Tirto.id. Pokoknya murahlah. Setidaknya terjangkau oleh mereka yang jarang menggunakan uangnya karena hanya hidup sendiri.

Pun dalam hal ini, La Ode membantu negara untuk membuat stabil perekonomian masyarakat. Bayangkan saja, bila seseorang sudah berpacaran selama setengah dekade, namun berakhir putus karena alasan terlalu baik misalnya. Bila setiap minggunya orang baik ini terlanjur menghabiskan lima ratus ribu untuk berkencan, maka pengeluarannya dalam sebulan adalah satu setengah juta. Selebihnya hitung saja sendiri. Nah, daripada uang tersebut terbuang sia-sia, sebaiknya dipakai buat menikah saja langsung. Bahkan menurut data yang dimuat dalam media sosial Instagram ITP (@indonesiatanpapacaran), setidaknya butuh lima juta rupiah saja untuk memenuhi segala kebutuhan menikah.

Segala aktivitas progresif yang dilakukan ITP ini patut mendapat apresiasi dalam berbagai bentuk. Termasuk mengakui La Ode dan ITP-nya sebagai inspirasi bagi orang-orang lain yang juga ingin membuat komunitas yang progresif. Kemampuan menerawang apa yang paling dibutuhkan masyarakat saat ini adalah fondasi pembentukan komunitas. Mungkin seperti komunitas-komunitas berikut yang belum ada di Indonesia dan semestinya harus ada:

  1. Indonesia Tanpa Tukang Parkir Curang (ITTPC)

Indonesia Tanpa Tukang Parkir Curang sepertinya bisa menjadi ladang progresif selanjutnya bagi orang-orang yang ingin mengikuti jejak La Ode. Tukang parkir curang merupakan masalah serius dan belum ditemukan antidotnya sampai tulisan ini dibuat.

Dikatakan curang karena mereka tak terlihat ada ketika kita sedang bersiap-siap parkir. Namun, secara mengejutkan ada di dekat motor saat kita sudah bersiap pergi, lalu datang sambil meniup peluit dan melempar tatapan intimidatif.

Kalau ITTPC sudah dibentuk, bisa jadi akan disediakan tukang parkir dengan keuletan kerja yang luar biasa bagus yang rela dibayar seikhlasnya, sekalipun dengan fatihah.

 

  1. Indonesia Tanpa Paku Liar (ITPL)

Nah, saya kira ini juga patut diberi perhatian lebih. Sudah sering kita mengalami ini. Misalnya saat sedang terburu-buru menuju tempat kerja, tapi tiba-tiba ban motor yang kita kendarai bocor karena sebuah paku telah melubanginya. Maka, tak ada solusi lagi selain menambalnya ke tukang tambal ban yang sudah pasti berada tidak jauh dari tempat kejadian perkara. Atau, ketika sedang asyik mengitari kota sama doi sambil ngobrol tentang rencana-rencana masa depan, eh di tengah jalan terpaksa turun dari motor karena ban motor pecah, ya solusinya sama seperti kasus pertama.

Mari kita bayangkan seandainya paku-paku itu dibersihkan setiap hari oleh sekelompok orang yang mau meluangkan waktunya demi keselamatan kita di jalan, pasti ini akan menjadi amal yang baik pula bagi mereka. Mungkin, nanti anggota keluarga La Ode mau ekspansi dengan membentuk komunitas baru, maka inilah jawabannya. Pahala akan terhampar sepanjang jalan yang dibersihkan dari paku liar.

 

  1. Indonesia Tanpa Corona dan Oligarki (ITCDO)

Saya kira komunitas ini tak perlu dijelaskan apa yang melatarbelakangi pembentukannya. Semua akan paham dan bersolidaritas untuk membangunnya. Yang jelas, sama seperti La Ode dengan ITP-nya, bisa jadi tempat memetik rizki dan amal untuk dibawa ke akhirat. Hanya saja yang membedakannya, untuk terlibat di dalamnya, rasanya kita tak perlu membayar sepeser pun. Cukup dengan tekad dan kesadaran manusiawi.

 

  1. Indonesia Tanpa Indonesia Tanpa Pacaran

La Ode, perlu Anda ketahui, bahwa komunitas yang Anda dirikan dengan nama Indonesia Tanpa Pacaran ini telah banyak sekali mengundang pertengkaran. Buanyak alasannya. Pokoknya tidak jauh-jauh dari pertanyaan: “Sebenarnya pengetahuan Islam dan gender macam apa yang ingin Anda bentuk dalam komunitas ini?”

Nah, daripada komunitas Anda membuat umat Islam menjadi terpecah-belah, alangkah lebih baiknya Anda bubarkan saja komunitas ini. Saya rasa ini adalah sebijak-bijaknya cara untuk menghindari pertengkaran dan dosa. Ini saran yang saya peroleh di media sosial berkat para netijen budiman, lho. Suara netijen adalah suara kebenaran.

 

Btw, La Ode Munafar, pasti setiap ada seminar ITP selalu dapat tiket free pass, ya kan? Kalau boleh tahu, cita-cita mau punya istri berapa? Nggak sekalian buat komunitas Indonesia Tanpa Perselingkuhan? Hehehe…

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alasan untuk Jangan Keburu Alergi terhadap Soal Hitungan di Tes Seleksi Kerja 0 185

Mengapa musti sulit belajar matematika dari TK sampai SMA? Sedang di kehidupan nyata cuma untuk menghitung uang kembalian, itupun sekarang sudah ada kalkulator? Telanjur capek-capek belajar dari bilangan eksponen, matriks, trigonometri, sampai geometri, gak bakalan dipakai buat bekal hidup!

Barangkali banyak dari Pembaca budiman yang beranggapan demikian. Apalagi kalau Pembaca bekerja atau berkuliah di luar jalur sains, pasti setuju kalau belajar matematika sampai muntah cecek ternyata tak berguna. Ada juga yang kesal dengan sistem seleksi calon karyawan yang menggunakan soal matematika (dalam TPA), sehingga kembali bertemu angka-angka brengsek itu.

Terlanjur move on dari matematika saat kuliah, banyak teman saya yang kaget harus kembali belajar matematika untuk kerja, sebal harus kembali berhadapan dengan musuhnya saat sekolah dulu. Dan itu termasuk saya. Namun, seorang pelanggan toko mengirim wahyu yang mengubah (dengan radikal dan revolusioner) pandangan-pandangan saya.

Suatu hari, seorang laki-laki tambun datang ke toko saya untuk membeli kaca untuk dekorasi kafenya. Ia minta dipotongkan kaca berbentuk segitiga sama kaki dengan alas 1 meter dan panjang kaki sebesar 20 cm. Sontak saya dan orang tua saya kaget dengan kompak.

“Mana bisa, Mas? Kan alasnya semeter, kalau sisinya 20 cm dong jadinya gini?” Jelas Mama saya sambil menunjukkan bentuk sisi segitiga yang tidak bisa menyatu. Ya, mirip pacaran berda agama.

Orang itupun nampak bingung.  “Berapa bisanya? Kalau 30 cm bisa gak?” Tanya orang tersebut.

“Ya gak bisa, Mas. Paling nggak sisi-sisinya semeter, nanti jadinya segitiga sama sisi,” jawab Papa saya.

Bukannya merasa tercerahkan, orang tersebut masih nampak bingung dengan urusan segitiganya. Padahal, selama sekolah, kita sudah mati-matian dihajar oleh segitiga. Dari yang paling sederhana, mencari keliling, hingga utak-atik sisi dan sudut menggunakan trigonometri. Kalaupun semisal mas-mas tersebut hanya lulusan SD, seharusnya ia sudah pernah belajar jenis-jenis segitiga, sifat-sifat segitiga, dan triple pythagoras.

Untuk mencari sisi yang pas untuk segitiga mas-mas tersebut sendiri cukup mudah. Yang paling gampang bisa menyamakan sisi kaki dengan sisi alasnya. Atau, kalau mas-mas tersebut kekeuh dengan bentuk segitiga sama kaki, bisa menggunakan angka triple pythagoras dan hasilnya adalah 130 cm.

Kejadian ini menunjukkan saya bahwa problem matematika di kehidupan sehari-hari tidak melulu soal uang. Selain masalah logika sederhana seperti tadi, pengetahuan matematis juga akan dijuji saat Anda mengerjakan tes IQ atau tes potensi akademik (TPA). Tes-tes itu, pembaca tahu, banyak diajukan dalam tes seleksi kerja atau CPNS.

“Lho, kan tidak semua orang dikaruniai kecerdasan numerikal?”

Yak, benar memang. Tes IQ sendiri juga banyak menuai kontra karena dianggap hanya melihat kecerdasan numerikal, linguistik, dan spasial. Tapi, bukan berarti Anda memilih untuk alergi apalagi fobia dengan urusan angka.

Saya sendiri menyarankan Anda untuk sesekali mengerjakan soal matematika sederhana seperti soal-soal TPA tatkala menganggur. Tenang, ini bukan rekomendasi abal-abal seperti inpluenser lokal (Baca: Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi). Tersebab, saya sudah melakukan riset kecil-kecilan mengenai kecerdasan.

Banyak teman saya yang lesu putus asa saat harus kembali belajar matematika untuk bisa mengerjakan TPA saat melamar pekerjaan. Sifat alergi itu datang lantaran pikiran mereka hanya dibayangi oleh bejibun angka-angka, tanpa tahu tujuan dari tes tersebut.

Secara sains, mengerjakan soal seperti ini terbukti meningkatkan IQ Anda. Dengan mengulas lagi pelajaran yang sudah usang, ikatan antar saraf otak Anda akan kembali terjalin dan menguat. Hubungan antar syaraf (sinapsis) pada otak inilah yang menentukan kecerdasan manusia.

Peningkatan IQ ini tidak hanya terkait kecerdasan numerikal saja. Setidaknya menurut pengalaman saya, mengerjakan soal TPA meningkatkan kemampuan menganalisis pola-pola dalam sebuah masalah, dan kemudian mencari solusinya. Mungkin, inilah mengapa banyak sekali perusahaan dan instansi yang menggunakan soal TPA untuk menyeleksi calon karyawan. Sekali lagi, bukan melihat kecerdasan numerikal namun identifikasi pola dalam masalah dan mencari solusinya.

Selain meningkatkan kecerdasan, belajar matematika juga melatih ketelitian. Saya rasa untuk poin ini, Anda sudah mengerti. Hal ini karena hasil yang benar tidak akan didapatkan apabila terdapat kesalahan dalam menghitung.

Di samping menguji ketelitian, mengerjakan soal matematika juga menguji kesabaran.  Tak jarang kita harus menghitung ulang saat tidak menemukan jawaban kita di pilihan jawaban…

Dan yang terakhir itu adalah manfaat tak terelakan, minimal meningkatkan kapasitas imej Anda di mata anak-anak kelak. Bayangkan bila suatu hari nanti anak-anak Anda meminta bantuan mengerjakan soal matematika sederhana, tetapi Anda tidak bisa mengerjakannya….

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

Ibadah yang Tertinggal di Ramadhan: Refleksi Diri Bagi Golongan Sok Sibuk 0 272

Oleh: Edeliya Relanika*

 

*Peringatan: Ini bukan artikel dakwah, jadi jangan cari petunjuk religi di bacaan ini

 

Yah, tak terasa Ramadhan di tahun 2021 sudah berlalu. Lebaran bahkan sudah lewat lebih dari seminggu lalu. Tapi kok hidup tetep gini-gini aja, gak ada fitri-fitrinya. Sedih rasanya harus melewatkan Ramadhan dengan begitu cepat—yang tentu saja masih digandeng mesra sama si COVID-19.

Selama Ramadhan kemarin, aku telah tertimbun oleh beratnya tugas kuliah dan proyek kepenulisan. Bukan karena aku jadi materialis dan sekonyong-konyong berorientasi pada pencapaian duniawi, aku juga banyak mulai memikirkan hal yang bahkan belum disadari pada Ramadhan beberapa tahun ke belakang:

Kehilangan kesempatan beribadah Ramadhan saat kita beranjak dewasa, akibat disibukkan dengan pencapaian duniawi yang paradoksal.

Menjadi lebih tua nyatanya bisa membuat kita jadi lebih sibuk pada hal-hal profan. Jika diputar ke sisi lainnya, pencapaian duniawi itu toh juga akan berhenti saat kita meninggal dunia. Mungkin warisan pencapaian itu masih akan tersimpan dan dinikmati oleh keturunan kita. Namun, apakah pencapaian duniawi itu akan menina bobokkan kita di alam kubur?

Mudah saja bagi orang dewasa muda hingga tua untuk memafhumkan pelewatan beberapa ritual ibadah Ramadhan—yang biasa rutin dijalankan ketika waktu lebih muda dahulu. Sebelum aku menjadi lebih tua dan semakin malas beribadah (karena sok sibuk banyak kerjaan), ada beberapa poin catatan pribadi yang mungkin bisa relate dengan para pembaca Kalikata, dan mungkin bisa diterapkan di Ramadhan tahun depan: (karena sesungguhnya Ramadhan tiap tahun harusnya membuat kita manusia yang lebih baik khan, azeq)

Tidak skip ibadah lima waktu salat fardu saat di tengah hari berpuasa.

Dengan alasan banyak tugas dan pekerjaan lainnya (masih yang bersifat duniawi), banyak dari golongan sok sibuk (((seperti aku dan kamu))) yang seringkali lalai untuk melaksanakan salat fardu lima waktu secara full time. Nah, itu ibadah wajib jangan sampai kalian skip kayak iklan di YouTube yang masih belum premium.

 

Kalau tugas ber-deadline tengah malam, mending coba salat Tarawih dulu saja.

Kalau kalian memiliki waktu luang sekitar pukul 7 hingga 9 malam, sempatkanlah untuk salat Tarawih. Bukannya malah latihan joget Tiktok biar masuk fyp. Kalau masih ada tanggungan tugas gimana dong, kak? Coba saja tugas tersebut diselesaikan di pagi, siang, atau sore harinya.

 

Jangan suka begadang nugas atau kerja hingga waktu sahur, lalu jadi kelelawar dan bobok hingga waktu berbuka puasa.

Ini sih dilema para pelajar (apalagi mahasiswa) dan pekerja lainnya. Udah skip banyak ibadah Ramadan dengan alasan kecapaian, eh tapi malah kuat begadang kerja hingga sahur. Kalau kasusnya seperti itu, cobalah kalian pikir ulang. Untuk nugas saja kuat; mengapa untuk ibadah sebentar saja malah banyak alasan? Xixixi.

 

Coba mendaras ayat-ayat Alquran secara konsisten, walau tak sampai puluhan ayat jumlahnya.

Bagi kalian yang berniat untuk membaca Alquran walau pun tidak khatam, tidak apa-apa. Belajarlah konsisten untuk tak luput memaknai isi Alquran. Kalau bisa khatam Alquran di bulan Ramadhan, tentu lebih baik lagi! Biar tiap tahun ada faedahnya Ramadhan kita.

 

Jangan lupa banyak beramal dan bersabar.

Kemenangan Hari Raya nanti akan menjadi lebih bermakna, apabila Ramadan ini dapat kita jalankan dengan beban yang diringankan bersama ikhtiar serta qonaah.

 

Catatan refleksi ini kuharap akan terus berakar dan bertumbuh; dalam menyadarkan kekhilafan kita yang suka skip berbagai ritual ibadah di bulan Ramadhan. Semangat berubah untuk lebih baik boleh-boleh saja berkembang, namun jangan dengan kemalasan diri pada golongan sok sibuk seperti kita hehehe.

Tumben banget Kalikata serius.

 

*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya. Tinggal di Gresik, dan menghasilkan karya dari hobi menulis, salah satunya “Antroposen” di Gramedia Writing Project (Instagram: @edeliyarerelala).

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks