Daftar Komunitas Progresif yang Sebaiknya Dibentuk Selain “Indonesia Tanpa Pacaran” 0 183

Sudah lama sekali sejak 2015, komunitas Indonesia Tanpa Pacaran (ITP) bergerak bersama ribuan massanya di Indonesia dengan tekad mencegah perbuatan zina. Ribuan massa ini biasanya berkumpul dalam sebuah acara seminar yang menguak kunci kebahagiaan, yakni yang menurut mereka tiada lain adalah menikah. Bisa dibilang semacam acara Take Me Out versi Syariah.

Menurut hukum, menikah di Indonesia harus melibatkan laki-laki dan perempuan yang sudah berusia 21 tahun, sementara yang berusia kurang dari itu atau baru menginjak usia 19 tahun wajib mengantungi restu orang tua atau wali. Namun, apakah pernikahan tersebut berlangsung tidak di bawah tekanan orang tua yang ingin anaknya lebih bahagia dengan juragan tambang misalnya atau mafia sawit, itu adalah soal lain. Aturan ini terdengar sederhana memang, kendati syarat yang pertama masih bisa diperdebatkan. Namun, yang seringkali kemudian menjadi perkara adalah: “sulitnya mencari orang yang mau diajak menikah.”

Kesulitan inilah yang akhirnya dibaca oleh La Ode Munafar sebagai peluang memperoleh amal di dunia untuk dibawa kelak ke akhirat. Dengan membentuk ITP, La Ode berupaya mempertemukan orang-orang yang merasa kesulitan dalam mencari pasangannya. Untuk menggunakan jasa yang ditawarkan La Ode melalui komunitasnya itu, orang-orang cukup membayar murah kok bila dibandingkan dengan manfaat yang akan diperoleh. Sekitar 180 ribu rupiah kalau merujuk pada artikel di Tirto.id. Pokoknya murahlah. Setidaknya terjangkau oleh mereka yang jarang menggunakan uangnya karena hanya hidup sendiri.

Pun dalam hal ini, La Ode membantu negara untuk membuat stabil perekonomian masyarakat. Bayangkan saja, bila seseorang sudah berpacaran selama setengah dekade, namun berakhir putus karena alasan terlalu baik misalnya. Bila setiap minggunya orang baik ini terlanjur menghabiskan lima ratus ribu untuk berkencan, maka pengeluarannya dalam sebulan adalah satu setengah juta. Selebihnya hitung saja sendiri. Nah, daripada uang tersebut terbuang sia-sia, sebaiknya dipakai buat menikah saja langsung. Bahkan menurut data yang dimuat dalam media sosial Instagram ITP (@indonesiatanpapacaran), setidaknya butuh lima juta rupiah saja untuk memenuhi segala kebutuhan menikah.

Segala aktivitas progresif yang dilakukan ITP ini patut mendapat apresiasi dalam berbagai bentuk. Termasuk mengakui La Ode dan ITP-nya sebagai inspirasi bagi orang-orang lain yang juga ingin membuat komunitas yang progresif. Kemampuan menerawang apa yang paling dibutuhkan masyarakat saat ini adalah fondasi pembentukan komunitas. Mungkin seperti komunitas-komunitas berikut yang belum ada di Indonesia dan semestinya harus ada:

  1. Indonesia Tanpa Tukang Parkir Curang (ITTPC)

Indonesia Tanpa Tukang Parkir Curang sepertinya bisa menjadi ladang progresif selanjutnya bagi orang-orang yang ingin mengikuti jejak La Ode. Tukang parkir curang merupakan masalah serius dan belum ditemukan antidotnya sampai tulisan ini dibuat.

Dikatakan curang karena mereka tak terlihat ada ketika kita sedang bersiap-siap parkir. Namun, secara mengejutkan ada di dekat motor saat kita sudah bersiap pergi, lalu datang sambil meniup peluit dan melempar tatapan intimidatif.

Kalau ITTPC sudah dibentuk, bisa jadi akan disediakan tukang parkir dengan keuletan kerja yang luar biasa bagus yang rela dibayar seikhlasnya, sekalipun dengan fatihah.

 

  1. Indonesia Tanpa Paku Liar (ITPL)

Nah, saya kira ini juga patut diberi perhatian lebih. Sudah sering kita mengalami ini. Misalnya saat sedang terburu-buru menuju tempat kerja, tapi tiba-tiba ban motor yang kita kendarai bocor karena sebuah paku telah melubanginya. Maka, tak ada solusi lagi selain menambalnya ke tukang tambal ban yang sudah pasti berada tidak jauh dari tempat kejadian perkara. Atau, ketika sedang asyik mengitari kota sama doi sambil ngobrol tentang rencana-rencana masa depan, eh di tengah jalan terpaksa turun dari motor karena ban motor pecah, ya solusinya sama seperti kasus pertama.

Mari kita bayangkan seandainya paku-paku itu dibersihkan setiap hari oleh sekelompok orang yang mau meluangkan waktunya demi keselamatan kita di jalan, pasti ini akan menjadi amal yang baik pula bagi mereka. Mungkin, nanti anggota keluarga La Ode mau ekspansi dengan membentuk komunitas baru, maka inilah jawabannya. Pahala akan terhampar sepanjang jalan yang dibersihkan dari paku liar.

 

  1. Indonesia Tanpa Corona dan Oligarki (ITCDO)

Saya kira komunitas ini tak perlu dijelaskan apa yang melatarbelakangi pembentukannya. Semua akan paham dan bersolidaritas untuk membangunnya. Yang jelas, sama seperti La Ode dengan ITP-nya, bisa jadi tempat memetik rizki dan amal untuk dibawa ke akhirat. Hanya saja yang membedakannya, untuk terlibat di dalamnya, rasanya kita tak perlu membayar sepeser pun. Cukup dengan tekad dan kesadaran manusiawi.

 

  1. Indonesia Tanpa Indonesia Tanpa Pacaran

La Ode, perlu Anda ketahui, bahwa komunitas yang Anda dirikan dengan nama Indonesia Tanpa Pacaran ini telah banyak sekali mengundang pertengkaran. Buanyak alasannya. Pokoknya tidak jauh-jauh dari pertanyaan: “Sebenarnya pengetahuan Islam dan gender macam apa yang ingin Anda bentuk dalam komunitas ini?”

Nah, daripada komunitas Anda membuat umat Islam menjadi terpecah-belah, alangkah lebih baiknya Anda bubarkan saja komunitas ini. Saya rasa ini adalah sebijak-bijaknya cara untuk menghindari pertengkaran dan dosa. Ini saran yang saya peroleh di media sosial berkat para netijen budiman, lho. Suara netijen adalah suara kebenaran.

 

Btw, La Ode Munafar, pasti setiap ada seminar ITP selalu dapat tiket free pass, ya kan? Kalau boleh tahu, cita-cita mau punya istri berapa? Nggak sekalian buat komunitas Indonesia Tanpa Perselingkuhan? Hehehe…

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keterancaman Klepon yang Tak Islami 0 151

Kejutan deklaratif dari satu akun media sosial tentang pengumuman penting, bahwa klepon adalah jajanan “tak Islami”, menggegerkan orang banyak. Sebagian besarnya tentu saja mempertanyakan dengan nada nyinyir tapi juga was-was: apakah kita sepengangguran itu hingga menyoal sebuah objek tak penting dengan klaim biner Islami dan tak Islami? Apa kehabisan alternatip membahas yang lain, yang important-important aja gitu?

Eittsss. Maap, sekadar mengingatkan. Klepon adalah subjek maha-penting. Ia berdiri mewarisi ingatan kolektif populasi, mengantarai kenangan-kenangan bertetangga dan pulang kampung. Ia barang sederhana yang ditumpangi oleh bejibun kepentingan pertemuan, kenduren, rapat-rapat, dan bingkisan hangat — itu sebabnya, klepon juga bagian penting dari peristiwa kebudayaan. Singkatnya, klepon adalah pantulan diri kita sendiri. Menyebutnya sebagai tidak penting tentu adalah penyederhanaan dan ketakpahaman tentang hakikat rasa dan ikatan peristiwa.

Lalu, tentang klaim tak Islami. Kau tahu, resep berjualan praktis dan taktis kini sering mengawinkan apapun dengan agama: hotel Syariah, pariwisata Islami, bank Syariah, kredit umat (sebuah peristilahan yang sangat membingungkan), gadai Syariah dan tentu saja termasuk jajanan Islami.

Maka, kemegahan klepon sebagai barang maha-penting hanya bisa dikalahkan secara ekonomi dengan melabelinya sebagai yang lain, yang asing, yang ‘bukan Islam’. Seolah-olah kompetisi melawan klepon — seperti halnya politik — hanya dapat dimenangkan dengan jurus agama. Masih ingat dengan Inul Daratista? Ia harus dihajar dengan ‘goyang ngebor tak bermoral’ sekadar untuk menghabisinya dari puncak daftar lagu paling laku saat itu.

Tapi lalu tatkala dilacak muasal geger ini, tak ditemukan akun yang tersemat dalam gambar provokatif iklan klepon. Antara lenyap atau palsu. Dan, sebagaimana biasanya, segera muncul spekulasi bahwa ini adalah cara-cara licik untuk mendiskreditkan umat Islam. Sebuah pemikiran yang dapat saja diterima, meski tak kalah ganjilnya.

Keanehan terbesarnya adalah mengapa kita menjadi begitu mendarahdagingkan corak berpikir Islam dan bukan Islam, kelompok sana dan kelompok sini. Seolah-olah Islam senantiasa berada dalam keterancaman dari luar yang gawat, yang sangat genting dan berisiko membinasakan. Semua hal yang tak sesuai, berbeda, apalagi melawan, akan segera masuk kotak sebagai “mereka yang mengancam”, hal-hal yang nista dan patut diberi pelajaran.

Pada saat yang sama, ada semacam kesadaran bahwa kita mempersepsi diri sebagai kelompok yang sangat rapuh ringkih, yang mudah goyah oleh sesuatu yang berbeda. Kita paranoid dengan apa saja yang dikemas dengan agama. Kita ketakutan pada manipulasi postingan klepon hingga mengancam pelakunya sebagai mendiskreditkan Islam!

Kau kenal PKI? Yang katanya ateis itu? Berpuluh-puluh tahun punah, terlarang, dan dibunuh, tapi ada orang percaya bahwa 60 juta PKI masih hidup di Indonesia. Kita dibentuk dan dibesarkan oleh keyakinan politis bahwa eksistensi kita akan selalu rentan. Terhadap apapun yang diyakini berbahaya.

Mungkin saja ada benarnya, bahwa ada bahaya di luar sana. Bahwa ada upaya sistematis kebangkitan PKI, bahwa ada strategi rapi untuk melemahkan umat. Tapi, kita perlahan lupa hidup untuk apa. Terlampau sibuk mengutuki (hantu?) apa-apa saja yang dirasa tajam mengancam.

Dan yang jauh lebih gawat dari itu: kita larut pada bentukan-bentukan arah politik para elite nun jauh di sana. Kau tahu, mereka-mereka ini rajin sekali membentuk opini. Mereka harus membuatmu yakin terhadap musuh tertentu, agar kau menyatu bersama kau-kau yang lain, membentuk sekumpulan yang solid dan akan segera diklaim sebagai “dukungan politik” bagi elite yang memulai isu tersebut.

Kita seolah-olah dipersatukan sebagai umat yang melawan hal-hal tak “Islami”, tapi pada akhirnya, kita dilihat sebagai sekumpulan pemilik suara, digembalakan oleh pemandu yang mahir mengawin-ngawinkan apapun dengan agama. Untuk dukungan politik. Untuk pemilu lalu dan nanti tentu saja.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Kisah Qety, Nasib Satwa, dan Azab untuk Indonesia 0 83

Pada suatu pagi, seekor kucing betina, dengan warna dasar putih dan corak hitam di beberapa bagian badannya, datang ke rumah saya dalam kondisi bunting. Kucing itu langsung saya namai Sakura. Entah bagaimana nama itu bisa melintas dalam pikiran.

Pada pagi berikutnya, saya menemukan Sakura melahirkan empat ekor bayi kucing. Seminggu setelahnya, Sakura minggat entah ke mana, membiarkan empat anaknya yang bahkan belum mafhum merangkak.

Singkat cerita, empat kucing tersebut tumbuh begitu sehat. Mereka menjadi kucing yang berbakti. Tidak sembarangan mengambil lauk di meja makan, dengan sabar menunggu saya sarapan tanpa mengganggu. Pokoknya, mereka adalah kucing yang baik.

Namun, tiga di antara kucing-kucing itu pergi. Mencari jati diri mereka masing-masing. Kecuali Qety, kucing betina yang berbulu persis seperti ibunya. Qety memilih menetap di rumah saya, melanjutkan kehidupan sebagai kucing rumahan.

Lambat laun, ketika usia Qety menginjak delapan bulan, nalurinya sebagai kucing liar yang butuh kawin muncul. Qety berkencan dengan seekor kucing oren, sebut saja dia Tejo. Mereka sering kepergok kawin di semak-semak kebun yang mengampar di halaman rumah. Bagai lagu Jamrud: mereka melepas rindu di pematang sawah, hingga malam selimuti desa.

Tapi, saya kira Tejo bukanlah kucing yang berbudi baik dan berpendidikan. Pasalnya, setelah Qety hamil, tak sekali pun Tejo menunjukkan batang hidungnya. Qety mengandung seorang diri tanpa ditemani Tejo.

Semenjak hamil, Qety jadi cenderung selektif memilih makanan. Ia hanya mau seperempat daging ayam tiap harinya. Padahal daging ayam tidaklah murah harganya, apalagi buat ukuran saya yang hanya menjadi penulis lepas. Huft.

Qety melahirkan tiga bulan kemudian di usia muda. Namun, karena ketidakbecusan dan keawaman saya, dua dari empat anak Qety mati di usia sebelum sebulan. Ditambah lagi, Qety jarang mau menyusui anaknya. Maklum, mama muda masih dipengaruhi sifat labil.

Suatu hari saya menghukum Qety tidur di luar rumah, tentu bersama kedua anaknya, setelah menjatuhkan botol berisi ikan cupang peliharaan saya. Setiap menjelang tidur, Qety selalu mengeong memelas. Tapi hukuman tetaplah hukuman. Qety harus paham, ia lahir di negara hukum.

Tak lama setelah memberi hukuman pada Qety, saya malah ketiban (agak) sial. Sejumlah klien membatalkan rencana mereka menggunakan jasa saya sebagai penulis.

Pada akhirnya, saya mencabut hukuman terhadap Qety. Qety boleh kembali tidur di dalam rumah. Tapi, saya tidak bisa terus-terusan membelikan Qety daging ayam seperti sebelumnya.

Empat malam selanjutnya, saya bermimpi Qety mendatangi saya dan bicara: “Jangan terlalu pikirkan saya, Bung. Meski saya kucing rumahan yang sudah kelewat manja, saya tetaplah hewan yang punya naluri mencari makan sendiri”.

Sontak saya terbangun, seperti baru mendapat hidayah. Saya kemudian bertanya-tanya tentang nasib kucing di tengah pandemi pada pukul 1 dini hari.

Saya membuka laptop dan mencari sejumlah data yang berkaitan dengan populasi kucing. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan (DKPKP) Jakarta, populasi kucing terus meledak. Sepanjang 2018, jumlah kucing yang terdata di Jakarta mencapai 29.504 ekor, sudah termasuk kucing liar yang ditangkap pada saat penertiban, kucing yang divaksinasi dan yang disterilisasi (berpemilik), ditambah kucing liar yang disterilisasi di beberapa lokasi. Bahkan prediksinya, jumlah kucing di tahun 2020 mencapai 622.786 ekor dan meningkat di tahun 2021 dengan total 2.861.326 ekor.

Jumlah itu boleh kita anggap merepresentasikan jumlah kucing di Jakarta. Lantas bagaimana dengan populasi kucing se-Indonesia? Pasti masih banyak kucing terlantar di luar sana. Yang belum dapat edukasi tentang sex bebas. Kucing-kucing seperti Tejo, untuk pertimbangan tertentu boleh saja dikebiri. Namun bukankah cara ini terkesan mengerikan. Nabi menangis kalau mengetahui ini.

Tapi agak problematis juga, mengingat situasi seperti ini, membuat mereka mungkin akan berakhir menjadi kucing anarki, yang siap menjarah dapur rumah kita.

Kisah satwa menyedihkan lain datang dari Medan Zoo. Kebun binatang ini mengaku hanya punya simpanan finansial yang cukup untuk satu minggu, untuk mengakomodir pakan 7 ekor harimau Sumatera, 7 harimau benggala, 2 kucing mas, 1 kucing akar, 8 buaya, 15 elang, 2 ular, dan 2 biawak yang semuanya pemakan daging.

Hal ini berkaitan erat dengan berhenti beroperasinya kebun binatang sejak Maret 2020 lalu guna memutus rantai Covid-19. Padahal, jumlah satwa yang harus diberi pakan di kebun binatang se-Indonesia tidaklah sedikit. Berdasarkan data dari Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI), ada sebanyak 4.912 jenis dengan total 70.000 individu satwa yang terdiri dari mamalia, unggas, reptil dan ikan.

Tidak menutup kemungkinan, serentetan kasus terbengkalainya nasib hewan ini, menambah kemelut masalah (azab) di Indonesia. Sebelumnya, saya ingat betul, sehari setelah saya memberikan Qety kehidupan yang layak dan mencabut hukuman tidur di luar, sejumlah rizky yang sebelumnya pergi kembali menghampiri saya. Alhamdulillah.

Benar kata Mama saya, semakin baik tanggung jawab manusia terhadap alam dan sesama makhluk hidup, maka semakin baik pula dunia memperlakukan manusia. Lebih-lebih kepada kucing, hewan kesayangan nabi.

Sejumlah data yang sudah saya peroleh secara sembarangan membuktikan, bahwa nasib hewan di Indonesia tidak begitu baik. Mau hidup di alam saja diburu, minimal harus bersaing dengan para proyektor tambang atau pembuka lahan sawit. Mau hidup di kota, malah dikebiri dan dicap sebagai hama. Mau hidup di kebun binatang, malah sulit dapat makan dan harus menjadi objek hiburan manusia.

Tidak heran kenapa negara ini kesulitan mendapat rizky, kesulitan menangani pandemi, dan berbagai kesulitan lainnya. Alih-alih mencari barokah dengan merawat sesama makhluk hidup serta bersahabat dengan alam, negara malah rela menjadi penjahat demi cuan dan di-ninabobok-kan dengan status negara maju. Nauzubillah…

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks