Kemarahan Jokowi dan Kambing Hitam Menteri 0 300

Oleh: Reggy Dio Geo Fanny*

Beredar video Jokowi yang tengah marah-marah dan ancam akan reshuffle para menterinya, dalam Sidang Kabinet Paripurna tanggal 18 Juni lalu di Istana Negara. Saya tertarik dengan beberapa statement yang dikemukakan oleh sejumlah ahli terkait video tersebut. Salah satunya ialah dari Hendri Satrio, analis Komunikasi Politik dari Universitas Paramadina.

Hendri mengatakan: “Kemarahan ini seperti rakyat yang lagi marah” dan “Jokowi ini kerasukan rakyat, jiwa rakyat ada di dia.” Beberapa statement selanjutnya kemudian berusaha menghubungkan tindakan Jokowi sebagai sosok yang berada di pihak rakyat. Sementara para bawahannya sebagai pihak yang selama ini antipati terhadap situasi dan kondisi Indonesia.

Apakah benar seperti itu? Menurut saya, sebagian bisa jadi benar.

Salah satu indikator komunikasi kampanye sosial adalah role playing. Dalam tulisan Bettinghaus dan Cody di buku berjudul “Persuasive Communication” (1994), role playing adalah peran imajiner yang digunakan dengan sengaja untuk mempengaruhi orang lain agar dapat diterima di lingkungan sosial. Hal ini secara implisit ditunjukkan Jokowi dengan berusaha menunjukkan diri sebagai pemimpin yang berada di ‘pihak rakyat’. Di lain pihak, menciptakan peran kambing hitam: menteri dalam kabinetnya.

Tujuannya tidak lain adalah agar rakyat menerima pengakuan dosa dari pemerintah: kegagalan menjalankan tugas penanganan pandemi. Kalaupun rakyat tidak puas, masih ada ‘kambing hitam’ yang dapat mereka jadikan objek kekesalan, yaitu para menteri.

Namun, ada hal yang saya tetap tidak setuju.

Salah satunya ialah pernyataan Hendri yang menyamakan kemarahan ini sebagai kemarahan rakyat. Terlambat sudah untuk mengatakan ini adalah kemarahan rakyat. Kemarahan rakyat sudah terjadi sejak lama.

Rakyat sudah marah sejak beberapa pejabat istana terkesan menggampangkan Covid-19, seperti Menko Polhukam Mahfud MD yang mengatakan bahwa Covid-19 tidak akan masuk ke Indonesia karena susahnya perizinan. Rakyat sudah marah sejak beberapa pejabat pemerintah membuat gurauan terkait bahaya Covid-19, seperti pernyataan Menkes Terawan yang menyebut corona bak virus flu biasa dan dapat sembuh dengan sendirinya. Rakyat sudah lama marah sejak beberapa menteri terkesan tidak peduli terhadap Covid-19, seperti Menko Perekonomian Airlangga Hartanto yang justru ingin menambah anggaran influencer demi memancing masuknya turis.

Jadi, agak berlebihan untuk mengatakan kemarahan Jokowi merupakan kemarahan rakyat.

Jika pemerintah memang benar merupakan representasi dari rakyat, dan kemarahannya ialah kemarahan rakyat, maka Indonesia tidak akan mencapai taraf yang menyedihkan seperti sekarang – di mana angka penyebaran virus corona semakin tidak terkendali, fasilitas dan bantuan kesehatan tidak tersebar merata, dan tidak adanya kejelasan regulasi penanganan di daerah. Sebab – sekali lagi – bila Jokowi benar merupakan corong kemarahan rakyat, dia pasti telah marah jauh-jauh hari, bila perlu reshuffle kabinet lebih dini.

Akhir kata, perlu digarisbawahi bahwa di sini saya bukan tidak mendukung pernyataan atau ekspresi kemarahan Jokowi. Saya justru mengapresiasi tindakan ini sebagai hal yang positif, di tengah tabiat bawahannya yang nampak tidak serius di situasi darurat (atau extraordinary kalau kata beliau).

Saya hanya merasa bahwa hal ini tidak tepat untuk diglorifikasi. Toh faktanya, sejak kemarahan pakdhe sampai tulisan ini terunggah, masih belum ada perubahan signifikan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat (sebagai pihak yang disebut mewakili ‘kemarahan’).

 

*)Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Disebut kawan-kawan kampus ambisius ikut lomba kampus, padahal juga hobi ketiduran dan rebahan. Bisa dihubungi melalui akun medsos @reggydio.

*)Tulisan ini juga dimuat di e-Book “Eka-citta Writing Workshop Kamadhis UGM 2020” dan diedit seperlunya oleh tim redaksi.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 114

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 137

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks