Kisah Qety, Nasib Satwa, dan Azab untuk Indonesia 0 530

Pada suatu pagi, seekor kucing betina, dengan warna dasar putih dan corak hitam di beberapa bagian badannya, datang ke rumah saya dalam kondisi bunting. Kucing itu langsung saya namai Sakura. Entah bagaimana nama itu bisa melintas dalam pikiran.

Pada pagi berikutnya, saya menemukan Sakura melahirkan empat ekor bayi kucing. Seminggu setelahnya, Sakura minggat entah ke mana, membiarkan empat anaknya yang bahkan belum mafhum merangkak.

Singkat cerita, empat kucing tersebut tumbuh begitu sehat. Mereka menjadi kucing yang berbakti. Tidak sembarangan mengambil lauk di meja makan, dengan sabar menunggu saya sarapan tanpa mengganggu. Pokoknya, mereka adalah kucing yang baik.

Namun, tiga di antara kucing-kucing itu pergi. Mencari jati diri mereka masing-masing. Kecuali Qety, kucing betina yang berbulu persis seperti ibunya. Qety memilih menetap di rumah saya, melanjutkan kehidupan sebagai kucing rumahan.

Lambat laun, ketika usia Qety menginjak delapan bulan, nalurinya sebagai kucing liar yang butuh kawin muncul. Qety berkencan dengan seekor kucing oren, sebut saja dia Tejo. Mereka sering kepergok kawin di semak-semak kebun yang mengampar di halaman rumah. Bagai lagu Jamrud: mereka melepas rindu di pematang sawah, hingga malam selimuti desa.

Tapi, saya kira Tejo bukanlah kucing yang berbudi baik dan berpendidikan. Pasalnya, setelah Qety hamil, tak sekali pun Tejo menunjukkan batang hidungnya. Qety mengandung seorang diri tanpa ditemani Tejo.

Semenjak hamil, Qety jadi cenderung selektif memilih makanan. Ia hanya mau seperempat daging ayam tiap harinya. Padahal daging ayam tidaklah murah harganya, apalagi buat ukuran saya yang hanya menjadi penulis lepas. Huft.

Qety melahirkan tiga bulan kemudian di usia muda. Namun, karena ketidakbecusan dan keawaman saya, dua dari empat anak Qety mati di usia sebelum sebulan. Ditambah lagi, Qety jarang mau menyusui anaknya. Maklum, mama muda masih dipengaruhi sifat labil.

Suatu hari saya menghukum Qety tidur di luar rumah, tentu bersama kedua anaknya, setelah menjatuhkan botol berisi ikan cupang peliharaan saya. Setiap menjelang tidur, Qety selalu mengeong memelas. Tapi hukuman tetaplah hukuman. Qety harus paham, ia lahir di negara hukum.

Tak lama setelah memberi hukuman pada Qety, saya malah ketiban (agak) sial. Sejumlah klien membatalkan rencana mereka menggunakan jasa saya sebagai penulis.

Pada akhirnya, saya mencabut hukuman terhadap Qety. Qety boleh kembali tidur di dalam rumah. Tapi, saya tidak bisa terus-terusan membelikan Qety daging ayam seperti sebelumnya.

Empat malam selanjutnya, saya bermimpi Qety mendatangi saya dan bicara: “Jangan terlalu pikirkan saya, Bung. Meski saya kucing rumahan yang sudah kelewat manja, saya tetaplah hewan yang punya naluri mencari makan sendiri”.

Sontak saya terbangun, seperti baru mendapat hidayah. Saya kemudian bertanya-tanya tentang nasib kucing di tengah pandemi pada pukul 1 dini hari.

Saya membuka laptop dan mencari sejumlah data yang berkaitan dengan populasi kucing. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan (DKPKP) Jakarta, populasi kucing terus meledak. Sepanjang 2018, jumlah kucing yang terdata di Jakarta mencapai 29.504 ekor, sudah termasuk kucing liar yang ditangkap pada saat penertiban, kucing yang divaksinasi dan yang disterilisasi (berpemilik), ditambah kucing liar yang disterilisasi di beberapa lokasi. Bahkan prediksinya, jumlah kucing di tahun 2020 mencapai 622.786 ekor dan meningkat di tahun 2021 dengan total 2.861.326 ekor.

Jumlah itu boleh kita anggap merepresentasikan jumlah kucing di Jakarta. Lantas bagaimana dengan populasi kucing se-Indonesia? Pasti masih banyak kucing terlantar di luar sana. Yang belum dapat edukasi tentang sex bebas. Kucing-kucing seperti Tejo, untuk pertimbangan tertentu boleh saja dikebiri. Namun bukankah cara ini terkesan mengerikan. Nabi menangis kalau mengetahui ini.

Tapi agak problematis juga, mengingat situasi seperti ini, membuat mereka mungkin akan berakhir menjadi kucing anarki, yang siap menjarah dapur rumah kita.

Kisah satwa menyedihkan lain datang dari Medan Zoo. Kebun binatang ini mengaku hanya punya simpanan finansial yang cukup untuk satu minggu, untuk mengakomodir pakan 7 ekor harimau Sumatera, 7 harimau benggala, 2 kucing mas, 1 kucing akar, 8 buaya, 15 elang, 2 ular, dan 2 biawak yang semuanya pemakan daging.

Hal ini berkaitan erat dengan berhenti beroperasinya kebun binatang sejak Maret 2020 lalu guna memutus rantai Covid-19. Padahal, jumlah satwa yang harus diberi pakan di kebun binatang se-Indonesia tidaklah sedikit. Berdasarkan data dari Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI), ada sebanyak 4.912 jenis dengan total 70.000 individu satwa yang terdiri dari mamalia, unggas, reptil dan ikan.

Tidak menutup kemungkinan, serentetan kasus terbengkalainya nasib hewan ini, menambah kemelut masalah (azab) di Indonesia. Sebelumnya, saya ingat betul, sehari setelah saya memberikan Qety kehidupan yang layak dan mencabut hukuman tidur di luar, sejumlah rizky yang sebelumnya pergi kembali menghampiri saya. Alhamdulillah.

Benar kata Mama saya, semakin baik tanggung jawab manusia terhadap alam dan sesama makhluk hidup, maka semakin baik pula dunia memperlakukan manusia. Lebih-lebih kepada kucing, hewan kesayangan nabi.

Sejumlah data yang sudah saya peroleh secara sembarangan membuktikan, bahwa nasib hewan di Indonesia tidak begitu baik. Mau hidup di alam saja diburu, minimal harus bersaing dengan para proyektor tambang atau pembuka lahan sawit. Mau hidup di kota, malah dikebiri dan dicap sebagai hama. Mau hidup di kebun binatang, malah sulit dapat makan dan harus menjadi objek hiburan manusia.

Tidak heran kenapa negara ini kesulitan mendapat rizky, kesulitan menangani pandemi, dan berbagai kesulitan lainnya. Alih-alih mencari barokah dengan merawat sesama makhluk hidup serta bersahabat dengan alam, negara malah rela menjadi penjahat demi cuan dan di-ninabobok-kan dengan status negara maju. Nauzubillah…

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Indonesia Harus Mencetak Lebih Banyak Duta 0 156

Judul tulisan ini bukan sekadar bercanda. Kalimat dalam judul saya tuliskan karena kenyataannya, pada titik ini, Indonesia sudah banyak sekali merekrut duta baru.

Sebut saja dua duta masker dari Bekasi dan Surabaya. Mereka bukan datang dari kalangan orang-orang yang punya wawasan mendalam soal pandemi COVID-19, ataupun influencer yang suka mempromosikan protokol kesehatan.

Alkisah seorang pemuda masjid di Bekasi yang memantik adu mulut karena seorang jamaah pakai masker saat salat. Menurut kepercayaannya, dalam Al-Qur’an tak ada ajaran untuk pakai masker saat menjalankan ibadah.

Sementara itu, dari Surabaya, seorang pemuda di suatu mall dengan bangga memamerkan dirinya yang tak pakai masker, dan justru berteriak mengolok-olok pengunjung lain yang taat prokes.

Pembaca sudah tahu kan, apa kelanjutan kisah dari dua orang itu? Keduanya malah dinobatkan jadi duta masker. Hal inilah yang membuat sebagian dari masyarakat naik pitam.

Dari mana logika para pembuat kebijakan dan yang mengangkat mereka menjadi duta berasal? Bagaimana bisa, seorang pelanggar malah diangkat menjadi duta yang harusnya menjadi contoh bagi orang lain? Begitu paling tidak yang juga dikatakan Om Deddy Corbuzier di salah satu potkes “close the door”-nya.

Eits, tapi cara ini tak sepenuhnya salah, loh! Dalam ilmu psikologi, ada yang namanya reward atau penghargaan, dan punishment atau hukuman. Penelitian menyebut, memberi penghargaan lebih efektif daripada menjatuhi hukuman. Gak percaya? Sini saya jelaskan.

Menurut ilmu neuroscience untuk menjelaskan reward, seseorang akan berusaha keras dan melakukan suatu aksi. Ada sinyal di otak yang dipantik oleh neuron dopaminergik di bagian otak tengah yang bergerak ke motor cortex, dan memengaruhi aksi atau perilaku kita.

Mangkanya waktu kecil, kita diiming-imingi orang tua akan dibelikan es krim kalau nilai matematika bagus. Kita lalu berusaha keras untuk belajar siang-malam, mengerjakan soal ujian dengan sungguh-sungguh, agar meraih penghargaan yang telah dijanjikan orang tua.

Sebaliknya, punishment membuat seseorang berusaha untuk menghindari bahaya dengan cara tidak melakukan suatu aksi. Sinyal di otak yang terjadi hampir sama ketika kita memproses reward. Bedanya, punishment membuat sebuah efek “freeze” di otak, sehingga kita tidak jadi melakukan suatu tindakan.

Misalnya, kita diperingati orang tua untuk tidak suka memanjat pagar agar tidak jatuh. Karena kita tahu jika jatuh menyebabkan sakit, berdarah, dan luka, maka kita tak jadi melakukannya.

Nah, dari kedua reaksi otak dan aksi yang ditimbulkannya, peneliti tersebut menyebut otak lebih mudah menerima informasi positif ketimbang negatif. Artinya, ya manusia normal akan lebih mengejar reward dan menjalankan aksi, ketimbang menghindari aksi untuk tidak mendapat punsihment.

Sudah banyak contohnya kata ilmuan. Misalnya orang akan lebih mudah untuk dimotivasi berolahraga dan makan makanan sehat dengan sejumlah reward kecil berupa hadiah, daripada diingatkan tentang bahaya obesitas dan penyakit. Selain itu, masih buanyak contoh penelitian tentang persoalan ini.

Paling mudah lihat ke diri sendiri saja. Kita lebih suka diberi pujian (reward) oleh bos saat kerjaan kita baik. Kita jadi ingin terus-terusan kerja maksimal agar dipuji lagi. Sebaliknya, kita jadi bekerja makin males-malesan dan setengah hati, ketika terus-terusan diberi punishment oleh atasan. (hehe maaf curhat pengalaman pribadi)

Hal yang sama sebenarnya berlaku pada si duta masker, atau duta-duta lain termasuk Duta Sheila on 7. (sorry iki dicoret wae soale guyonane garing koyok bapack-bapack komplek)

Memberi jabatan sebagai duta sama saja dengan memberi penghargaan baru. Sekaligus justru menjadi tanggung jawab. Sebab, setelah menjadi duta, seseorang akan sadar bahwa dirinya menjadi panutan atau tolok ukur masyarakat.

Seperti pemuda di Bekasi yang bernama Nawir itu. Ia kini mengambil hikmah dari ribut-ribut soal masker dan salat itu. Kini ia jadi aktivis mengingatkan jamaah agar memakai masker sebelum memasuki area masjid. Bahkan ia membagi-bagikan secara gratis masker dan hand sanitizer.

Jika dibina baik-baik, pemuda-pemuda pengikut konspirasi elit global yang tak percaya COVID-19 bisa berubah 180 derajat, justru menjadi pelaku protokol kesehatan yang paling taat.

Jangan-jangan, Indonesia harus mulai memikirkan kembali mengapa rakyatnya sulit sekali memakai masker dan menjaga jarak. Seluruh sanksi sosial dan denda para pelanggar prokes mungkin tak cukup efektif. Justru sebaliknya, sediakan saja dana untuk mengangkat duta-duta baru. Selamat mencoba!

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Yakin Kekayaan Akan Sia-sia jika Meninggal? 0 230

Beberapa hari belakangan, banyak kenalan keluarga saya yang pergi meninggalkan dunia menuju ke alam baka. Bukan, bukan karena Covid-19 si virus membagongkan saja, tapi juga riwayat penyakit yang mereka idap. Tapi, bukan itu yang saya akan bahas.

Fenomena banyaknya orang meninggal di sekitar saya mengingatkan saya dengan quote (yang katanya bijak), “janganlah sibuk mengumpulkan harta di dunia, uangmu di dunia tidak bisa kamu bawa”. Ya kira-kira seperti itu kalimatnya. Kata-kata itu sering saya dengar di gereja dan orang-orang sekitar saya.

Mohon maaf, bukan bermaksud menyinggung, tapi saya mau menjawab: MATAMU!

Harta memang tidak dibawa mati, tapi mati juga butuh harta. Mati bukan berarti dengan enaknya pergi ke alam lain tanpa masalah. Mati juga menimbulkan masalah baru bagi keluarga yang ditinggalkan: biaya.

Siapa bilang upacara mahal hanya ditimbulkan oleh pernikahan atau swit sepentin yang digelar di hotel? Tidak! Meninggal juga butuh biaya. Mohon jangan berpikiran upacara pemakaman yang saya ceritakan adalah upacara pemakaman Ciputra yang super mevvah. Yang saya ceritakan adalah upacara pemakaman yang cukup sederhana.

Meski upacara tidak digelar mewah dan hanya di rumah duka sederhana, biayanya bisa menyamai orang menikah di hotel. Mahalnya biaya pamakaman di Indonesia bahkan masih terbilang lebih terjangkau dari pada negara lain seperti Jepang.

Menurut pengalaman salah seorang keluarga saya yang meninggal 2017 silam, hanya untuk peti mati saja bisa menelan biaya sebesar 80 juta rupiah! Itupun tidak mewah-mewah banget. Kira-kira bisa dapat 4 Prada “Saffiano” ukuran kecil. Mahalnya peti mati memang menjadi permasalahan, bahkan juga dialami di luar negeri seperti Amerika Serikat.

Ini masih peti mati saja, belum ditambah biaya lainnya. Sewa rumah duka kira-kira mencapai 1,5 juta per lokal dan per hari. Untuk jenazah dengan jumlah keluarga dan pelayat yang besar, biasanya menyewa 2-3 lokal. Selanjutnya biaya ketering yang mencapai 30 ribu per porsi untuk nasi goreng yang tidak enak. Nasi goreng yang semakin banyak porsinya semakin murah itu.

Lalu, masih ada biaya makam yang mencapai 18 juta untuk tempat yang biasa saja. Biasanya, masih ada biaya per bulan untuk perawatan dan lain-lain (menurut laporan Insert Investigasi belasan tahun lalu, biaya perawatan ini tidak berlaku di San Diego Hills). Untuk pemakaman di bukit, biasanya semakin tinggi letak kuburan, semakin tinggi juga harganya. Karena semakin dekat Surga katanya. Yah kalau letak kuburan menentukan orang masuk Surga, ngapain susah payah menjalankan keagamaan, ya kan?!

Kembali ke biaya, biaya lainnya adalah biaya EO duka (yang tahu istilah yang benar, komen di bawah), mobil jenazah, jajan, baju mayat, dan lainnya. Belum lagi pihak penyewa rumah duka tidak dibebaskan parkir, padahal kami harus bolak-balik rumah duka-rumah. Bayangkan berapa kali uang lima ribu rupiah yang terkorbankan. Ditambah, biasanya upacara duka ini berlasung setidaknya tiga hari sampai akhirnya sang jenazah dikuburkan.

Biaya kematian ini juga bervariasi tergantung agama dan adat. Tapi, apapun adat dan agamanya, kesamaannya adalah sama-sama mahal. Apalagi kepercayaan orang Tionghoa bilang kalau untuk acara orang meninggal, TIDAK BAIK UNTUK MENAWAR. Katanya akan menimbulkan marabahaya.

Sangking mahalnya biaya urusan kematian ini, setiap tamu atau pelayat yang datang bukannya mengungkapkan dukacita, tapi selalu bilang “bisnis orang mati ini enak, yo“. Bukannya sedih, tapi semua berandai-andai menjadi pemilik Adi Jasa (rumah duka terbesar di Surabaya).

Maka dari itu, saya mengimbau untuk Pembaca atau kawan Anda yang terpikirkan untuk bunuh diri dan menyerah akan hidup, renungkanlah ini! Keluarga Anda akan tertimba masalah yang besar. Bukan hanya ditinggal orang yang terkasih, namun kematian juga meninggalkan biaya fantastis bagi keluarga.

Maka dari itu, harta juga perlu dikumpulkan untuk bekal Anda meninggal. Bukan untuk dibawa ke Surga atau Neraka, tapi ya untuk upacara kematian Anda sendiri.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Editor Picks