Kisah Qety, Nasib Satwa, dan Azab untuk Indonesia 0 412

Pada suatu pagi, seekor kucing betina, dengan warna dasar putih dan corak hitam di beberapa bagian badannya, datang ke rumah saya dalam kondisi bunting. Kucing itu langsung saya namai Sakura. Entah bagaimana nama itu bisa melintas dalam pikiran.

Pada pagi berikutnya, saya menemukan Sakura melahirkan empat ekor bayi kucing. Seminggu setelahnya, Sakura minggat entah ke mana, membiarkan empat anaknya yang bahkan belum mafhum merangkak.

Singkat cerita, empat kucing tersebut tumbuh begitu sehat. Mereka menjadi kucing yang berbakti. Tidak sembarangan mengambil lauk di meja makan, dengan sabar menunggu saya sarapan tanpa mengganggu. Pokoknya, mereka adalah kucing yang baik.

Namun, tiga di antara kucing-kucing itu pergi. Mencari jati diri mereka masing-masing. Kecuali Qety, kucing betina yang berbulu persis seperti ibunya. Qety memilih menetap di rumah saya, melanjutkan kehidupan sebagai kucing rumahan.

Lambat laun, ketika usia Qety menginjak delapan bulan, nalurinya sebagai kucing liar yang butuh kawin muncul. Qety berkencan dengan seekor kucing oren, sebut saja dia Tejo. Mereka sering kepergok kawin di semak-semak kebun yang mengampar di halaman rumah. Bagai lagu Jamrud: mereka melepas rindu di pematang sawah, hingga malam selimuti desa.

Tapi, saya kira Tejo bukanlah kucing yang berbudi baik dan berpendidikan. Pasalnya, setelah Qety hamil, tak sekali pun Tejo menunjukkan batang hidungnya. Qety mengandung seorang diri tanpa ditemani Tejo.

Semenjak hamil, Qety jadi cenderung selektif memilih makanan. Ia hanya mau seperempat daging ayam tiap harinya. Padahal daging ayam tidaklah murah harganya, apalagi buat ukuran saya yang hanya menjadi penulis lepas. Huft.

Qety melahirkan tiga bulan kemudian di usia muda. Namun, karena ketidakbecusan dan keawaman saya, dua dari empat anak Qety mati di usia sebelum sebulan. Ditambah lagi, Qety jarang mau menyusui anaknya. Maklum, mama muda masih dipengaruhi sifat labil.

Suatu hari saya menghukum Qety tidur di luar rumah, tentu bersama kedua anaknya, setelah menjatuhkan botol berisi ikan cupang peliharaan saya. Setiap menjelang tidur, Qety selalu mengeong memelas. Tapi hukuman tetaplah hukuman. Qety harus paham, ia lahir di negara hukum.

Tak lama setelah memberi hukuman pada Qety, saya malah ketiban (agak) sial. Sejumlah klien membatalkan rencana mereka menggunakan jasa saya sebagai penulis.

Pada akhirnya, saya mencabut hukuman terhadap Qety. Qety boleh kembali tidur di dalam rumah. Tapi, saya tidak bisa terus-terusan membelikan Qety daging ayam seperti sebelumnya.

Empat malam selanjutnya, saya bermimpi Qety mendatangi saya dan bicara: “Jangan terlalu pikirkan saya, Bung. Meski saya kucing rumahan yang sudah kelewat manja, saya tetaplah hewan yang punya naluri mencari makan sendiri”.

Sontak saya terbangun, seperti baru mendapat hidayah. Saya kemudian bertanya-tanya tentang nasib kucing di tengah pandemi pada pukul 1 dini hari.

Saya membuka laptop dan mencari sejumlah data yang berkaitan dengan populasi kucing. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan (DKPKP) Jakarta, populasi kucing terus meledak. Sepanjang 2018, jumlah kucing yang terdata di Jakarta mencapai 29.504 ekor, sudah termasuk kucing liar yang ditangkap pada saat penertiban, kucing yang divaksinasi dan yang disterilisasi (berpemilik), ditambah kucing liar yang disterilisasi di beberapa lokasi. Bahkan prediksinya, jumlah kucing di tahun 2020 mencapai 622.786 ekor dan meningkat di tahun 2021 dengan total 2.861.326 ekor.

Jumlah itu boleh kita anggap merepresentasikan jumlah kucing di Jakarta. Lantas bagaimana dengan populasi kucing se-Indonesia? Pasti masih banyak kucing terlantar di luar sana. Yang belum dapat edukasi tentang sex bebas. Kucing-kucing seperti Tejo, untuk pertimbangan tertentu boleh saja dikebiri. Namun bukankah cara ini terkesan mengerikan. Nabi menangis kalau mengetahui ini.

Tapi agak problematis juga, mengingat situasi seperti ini, membuat mereka mungkin akan berakhir menjadi kucing anarki, yang siap menjarah dapur rumah kita.

Kisah satwa menyedihkan lain datang dari Medan Zoo. Kebun binatang ini mengaku hanya punya simpanan finansial yang cukup untuk satu minggu, untuk mengakomodir pakan 7 ekor harimau Sumatera, 7 harimau benggala, 2 kucing mas, 1 kucing akar, 8 buaya, 15 elang, 2 ular, dan 2 biawak yang semuanya pemakan daging.

Hal ini berkaitan erat dengan berhenti beroperasinya kebun binatang sejak Maret 2020 lalu guna memutus rantai Covid-19. Padahal, jumlah satwa yang harus diberi pakan di kebun binatang se-Indonesia tidaklah sedikit. Berdasarkan data dari Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI), ada sebanyak 4.912 jenis dengan total 70.000 individu satwa yang terdiri dari mamalia, unggas, reptil dan ikan.

Tidak menutup kemungkinan, serentetan kasus terbengkalainya nasib hewan ini, menambah kemelut masalah (azab) di Indonesia. Sebelumnya, saya ingat betul, sehari setelah saya memberikan Qety kehidupan yang layak dan mencabut hukuman tidur di luar, sejumlah rizky yang sebelumnya pergi kembali menghampiri saya. Alhamdulillah.

Benar kata Mama saya, semakin baik tanggung jawab manusia terhadap alam dan sesama makhluk hidup, maka semakin baik pula dunia memperlakukan manusia. Lebih-lebih kepada kucing, hewan kesayangan nabi.

Sejumlah data yang sudah saya peroleh secara sembarangan membuktikan, bahwa nasib hewan di Indonesia tidak begitu baik. Mau hidup di alam saja diburu, minimal harus bersaing dengan para proyektor tambang atau pembuka lahan sawit. Mau hidup di kota, malah dikebiri dan dicap sebagai hama. Mau hidup di kebun binatang, malah sulit dapat makan dan harus menjadi objek hiburan manusia.

Tidak heran kenapa negara ini kesulitan mendapat rizky, kesulitan menangani pandemi, dan berbagai kesulitan lainnya. Alih-alih mencari barokah dengan merawat sesama makhluk hidup serta bersahabat dengan alam, negara malah rela menjadi penjahat demi cuan dan di-ninabobok-kan dengan status negara maju. Nauzubillah…

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cetak Pemimpin Jalur Indie ala Ketua Kelas 0 99

Oleh: Edeliya Relanika*

 

Pernahkah salah seorang teman kuliahmu nyeletuk seperti ini:

”Eh kamu ngapain aja sih selama ini? Enggak gabut apa enggak ikut kepanitiaan atau organisasi di kampus?”

Kalau iya, selamat! Berarti kita masih berada dalam satu lingkaran konspirasi, hehe.

Rupanya berorganisasi di lingkup internal kampus tidak selamanya menjadi passion membara bagi sebagian mahasiswa. Ada yang fokus di organisasi masyarakat luar kampus dan ada juga yang mengembangkan kemampuan survival—dari kerasnya persaingan jadi budak kapital pasca lulus kuliah.

Jujur, saya ingin memberikan opini jalur alternatif terkait glorifikasi organisasi mahasiswa internal atau eksternal kampus sebagai sarana paling tepat memunculkan sari-sari kepemimpinan yang valid, no debat! Sebenarnya, ada banyak cara untuk menyemai jiwa kepemimpinan di lingkungan kampus. Salah satunya dengan menjadi ketua atau koordinator kelas secara sukarela.

Asal kalian pahami hikmahnya, menjadi ketua atau koordinator kelas itu adalah salah satu ajang penempa mental kepemimpinan dengan studi kasus yang tidak mengada-ada. Sini saya coba jelaskan dengan lebih terstruktur, sistematis, dan holistik:

 

Hadapi Berbagai Macam Karakter Dosen dengan Diplomatis

Brace yourself untuk menghadapi berbagai macam karakter dosen yang mengejutkan (seperti mainan Kinderj*y yang gak sebanding dengan mahalnya). Karena sebagai ketua atau koordinator kelas, kalian harus mampu menjembatani arahan dari dosen dengan aspirasi teman-teman sekelas.

Siapkan juga armor sekokoh milik Iron Man dan hati sekuat Superman di pilem Man of Steel. Seriusan deh, agar kalian tidak tumbang saat diberi amanah yang ngadi-ngadi atau terkena teguran hingga membuat klean PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) saat jadi ketua atau koordinator kelas.

 

Belajar Skill Manajemen Krisis Lebih Dini

Biasanya ini terjadi ketika ada dosenmu memberikan tugas — yang membuat anak satu kelas wasted dalam satu malam. Mau tidak mau, kalian harus mengumumkannya ke teman sekelas.

Seremnya nih, siap-siap kalian diprotes dan diumpat teman sekelasmu (akibat tidak terima dan sanggup dengan penugasan amsyong tersebut).

Agar terhindar dari dampratan bertubi-tubi, kalian harus menyusun strategi tertentu dalam mengumumkan tugas dari dosen. Kayak gimana contohnya? Ya cari sendiri dumz! Calon peminpin harus kreatif dalam mencari solusi!

 

Cari Tipe Jiwa Kepemimpinan yang Cocok Untukmu

Mengacu pada teori karakter personal dalam mempersuasi khalayak (dari seorang profesor di bidang Komunikasi asal Amerika serikat bernama Richard M. Perloff), kita bisa mengetahui ada tiga jenis karakter khalayak. Yaitu mereka yang suka dengan pendekatan kognitif tinggi (kritis banget), mereka yang pandai menyesuaikan diri pada situasi apa pun (seorang yang easy-going), dan mereka yang suka dengan ungkapan bersifat dogmatis (saklek/kolot gitu).

Agar setiap ucapan kalian minimal didengar dengan seksama, sesuaikan pesan yang akan disampaikan dengan karakter rata-rata anak di kelas. Walaupun ini agak ndakik, tapi semoga berguna ya ilmunya hehe.

 

Latihan Kerja Keras Bagai Quda

Terakhir nich, kalau lihat anak organisasi sering pulang larut (kadang sampai pagi lagi) karena ada acara kepanitiaan, ketua kelas juga akan mengalami hal serupa (walaupun gak terlalu ekstrem). Misalnya datang paling pagi kalau ada kelas pagi, terus pulang paling malam kalau ada kelas malam. Ya, mau gimana lagi, ketua kelas kan jadi ajudannya dosen hehehe.

 

Keuntungan lain menjadi ketua atau koordinator kelas adalah bisa jadi suatu saat kalian ditawari kerja proyek penelitian bareng dosen. Tentu dengan syarat bahwa kinerja kalian sangat memuaskan di mata dosen tersebut. Menang banyak bukhaan?

 

*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya. Tinggal di Gresik, dan menghasilkan karya dari hobi menulis, salah satunya “Antroposen” di Gramedia Writing Project (Instagram: @edeliyarerelala).

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Mengulang Pesan Boedi Oetomo untuk Gak Gampang Insekyur dengan Perbedaan 0 100

Oleh : Novirene Tania*

 

Tepat sudah 113 tahun kita terus mengulang momentum perayaan yang kita sebut “Hari Kebangkitan Nasional”. Buat kalian yang mungkin lupa mengapa hari kemarin penting, yuk mari merapat – kita ulang kembali ceramah guru sejarah kita dari SD sampai SMA!

Hari Kebangkitan Nasional menjadi salah satu hari penting buat bangsa ini, karena di sanalah awal mula perjuangan menghilangkan kubu. Di bawah inisiatif sekelompok pemuda STOVIA – mahasiswa kedokteran yang punya rasa peduli besar bagi sejarah nasional, semua perbedaan yang ada dihimpun dalam satu kesatuan.

Tanpa memandang perbedaan, tidak lagi peduli kamu dan aku darimana dan siapa kita. Jelas ini pesan yang perlu kembali digaungkan, saat dewasa ini isu perbedaan masih hangat jadi pemicu konflik antargolongan.

Gak hanya itu, kalo dipikir-pikir, 20 Mei juga membawa pesan yang tidak kalah penting: jangan gampang insekyur sama perbedaan.

Buat kita yang hidup pasca kemerdekaan dan terbiasa dengar kata “persatuan”, tentu bukan jadi barang asing. Sangat beda kondisinya saat Boedi Oetomo menggagas persatuan di tengah kelompok antarsuku masih dominan membawa semangat perjuangan masing-masing.

Andai saja saat itu dokumen sejarah bisa dengan detail menjelaskan berapa kali Boedi Oetomo rapat dan diskusi sampai sepakat bersatu di bawah bendera “persatuan nasional“, gak kebayang notulennya setebal apa.

Belum lagi dengan drama setuju tidak setuju yang pasti menimbulkan perdebatan alot. Ini tentu jelas beda dengan forum keluarga besar yang sekadar membahas liburan mau ke mana karena kemanapun opsinya asal ada waktu dan uang ya gas wae.

Kondisi ini bertolakbelakang dengan topik insekyur yang lagi rame banget dibahas. Lihat kiri kanan beda tujuan, beda strategi, bahkan beda hasil, langsung insekyur. Tambah insekyur lagi kalau merasa berjuangnya sama-sama, tapi hasilnya kok beda.

Bahkan tragisnya, jangankan berembug soal persatuan seperti Boedi Oetomo, kita-kita yang hobinya insekyur biasanya otomatis menjauhi lingkaran pertemanan. Peer pressure, istilahnya.

Daripada terus terbebani dengan kemajuan dia, mungkin baiknya memang buat circle sendiri aja,” ini jadi opsi terakhir para makhluk yang terjangkit insekyur.

Coba deh perhatikan dengan seksama, betulkah kita jadi tampak tidak terbiasa dengan perbedaan? Padahal kita bilangnya percaya banget kalo perbedaan itu indah pol no debat membuat kita kaya dan semakin kuat.

Semoga tulisan ini bisa jadi selingan refleksi kita selain posting ucapan selamat hari kebangkitan nasional dari organisasi kita masing-masing, mumpung momennya tepat.

 

*) Mahasiswi rantau Yogyakarta asal Bekasi. Baru-baru ini hobi memperhatikan hal-hal kecil sejak pandemi. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @novirenetania.

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Editor Picks