Kisah Qety, Nasib Satwa, dan Azab untuk Indonesia 0 149

Pada suatu pagi, seekor kucing betina, dengan warna dasar putih dan corak hitam di beberapa bagian badannya, datang ke rumah saya dalam kondisi bunting. Kucing itu langsung saya namai Sakura. Entah bagaimana nama itu bisa melintas dalam pikiran.

Pada pagi berikutnya, saya menemukan Sakura melahirkan empat ekor bayi kucing. Seminggu setelahnya, Sakura minggat entah ke mana, membiarkan empat anaknya yang bahkan belum mafhum merangkak.

Singkat cerita, empat kucing tersebut tumbuh begitu sehat. Mereka menjadi kucing yang berbakti. Tidak sembarangan mengambil lauk di meja makan, dengan sabar menunggu saya sarapan tanpa mengganggu. Pokoknya, mereka adalah kucing yang baik.

Namun, tiga di antara kucing-kucing itu pergi. Mencari jati diri mereka masing-masing. Kecuali Qety, kucing betina yang berbulu persis seperti ibunya. Qety memilih menetap di rumah saya, melanjutkan kehidupan sebagai kucing rumahan.

Lambat laun, ketika usia Qety menginjak delapan bulan, nalurinya sebagai kucing liar yang butuh kawin muncul. Qety berkencan dengan seekor kucing oren, sebut saja dia Tejo. Mereka sering kepergok kawin di semak-semak kebun yang mengampar di halaman rumah. Bagai lagu Jamrud: mereka melepas rindu di pematang sawah, hingga malam selimuti desa.

Tapi, saya kira Tejo bukanlah kucing yang berbudi baik dan berpendidikan. Pasalnya, setelah Qety hamil, tak sekali pun Tejo menunjukkan batang hidungnya. Qety mengandung seorang diri tanpa ditemani Tejo.

Semenjak hamil, Qety jadi cenderung selektif memilih makanan. Ia hanya mau seperempat daging ayam tiap harinya. Padahal daging ayam tidaklah murah harganya, apalagi buat ukuran saya yang hanya menjadi penulis lepas. Huft.

Qety melahirkan tiga bulan kemudian di usia muda. Namun, karena ketidakbecusan dan keawaman saya, dua dari empat anak Qety mati di usia sebelum sebulan. Ditambah lagi, Qety jarang mau menyusui anaknya. Maklum, mama muda masih dipengaruhi sifat labil.

Suatu hari saya menghukum Qety tidur di luar rumah, tentu bersama kedua anaknya, setelah menjatuhkan botol berisi ikan cupang peliharaan saya. Setiap menjelang tidur, Qety selalu mengeong memelas. Tapi hukuman tetaplah hukuman. Qety harus paham, ia lahir di negara hukum.

Tak lama setelah memberi hukuman pada Qety, saya malah ketiban (agak) sial. Sejumlah klien membatalkan rencana mereka menggunakan jasa saya sebagai penulis.

Pada akhirnya, saya mencabut hukuman terhadap Qety. Qety boleh kembali tidur di dalam rumah. Tapi, saya tidak bisa terus-terusan membelikan Qety daging ayam seperti sebelumnya.

Empat malam selanjutnya, saya bermimpi Qety mendatangi saya dan bicara: “Jangan terlalu pikirkan saya, Bung. Meski saya kucing rumahan yang sudah kelewat manja, saya tetaplah hewan yang punya naluri mencari makan sendiri”.

Sontak saya terbangun, seperti baru mendapat hidayah. Saya kemudian bertanya-tanya tentang nasib kucing di tengah pandemi pada pukul 1 dini hari.

Saya membuka laptop dan mencari sejumlah data yang berkaitan dengan populasi kucing. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan (DKPKP) Jakarta, populasi kucing terus meledak. Sepanjang 2018, jumlah kucing yang terdata di Jakarta mencapai 29.504 ekor, sudah termasuk kucing liar yang ditangkap pada saat penertiban, kucing yang divaksinasi dan yang disterilisasi (berpemilik), ditambah kucing liar yang disterilisasi di beberapa lokasi. Bahkan prediksinya, jumlah kucing di tahun 2020 mencapai 622.786 ekor dan meningkat di tahun 2021 dengan total 2.861.326 ekor.

Jumlah itu boleh kita anggap merepresentasikan jumlah kucing di Jakarta. Lantas bagaimana dengan populasi kucing se-Indonesia? Pasti masih banyak kucing terlantar di luar sana. Yang belum dapat edukasi tentang sex bebas. Kucing-kucing seperti Tejo, untuk pertimbangan tertentu boleh saja dikebiri. Namun bukankah cara ini terkesan mengerikan. Nabi menangis kalau mengetahui ini.

Tapi agak problematis juga, mengingat situasi seperti ini, membuat mereka mungkin akan berakhir menjadi kucing anarki, yang siap menjarah dapur rumah kita.

Kisah satwa menyedihkan lain datang dari Medan Zoo. Kebun binatang ini mengaku hanya punya simpanan finansial yang cukup untuk satu minggu, untuk mengakomodir pakan 7 ekor harimau Sumatera, 7 harimau benggala, 2 kucing mas, 1 kucing akar, 8 buaya, 15 elang, 2 ular, dan 2 biawak yang semuanya pemakan daging.

Hal ini berkaitan erat dengan berhenti beroperasinya kebun binatang sejak Maret 2020 lalu guna memutus rantai Covid-19. Padahal, jumlah satwa yang harus diberi pakan di kebun binatang se-Indonesia tidaklah sedikit. Berdasarkan data dari Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI), ada sebanyak 4.912 jenis dengan total 70.000 individu satwa yang terdiri dari mamalia, unggas, reptil dan ikan.

Tidak menutup kemungkinan, serentetan kasus terbengkalainya nasib hewan ini, menambah kemelut masalah (azab) di Indonesia. Sebelumnya, saya ingat betul, sehari setelah saya memberikan Qety kehidupan yang layak dan mencabut hukuman tidur di luar, sejumlah rizky yang sebelumnya pergi kembali menghampiri saya. Alhamdulillah.

Benar kata Mama saya, semakin baik tanggung jawab manusia terhadap alam dan sesama makhluk hidup, maka semakin baik pula dunia memperlakukan manusia. Lebih-lebih kepada kucing, hewan kesayangan nabi.

Sejumlah data yang sudah saya peroleh secara sembarangan membuktikan, bahwa nasib hewan di Indonesia tidak begitu baik. Mau hidup di alam saja diburu, minimal harus bersaing dengan para proyektor tambang atau pembuka lahan sawit. Mau hidup di kota, malah dikebiri dan dicap sebagai hama. Mau hidup di kebun binatang, malah sulit dapat makan dan harus menjadi objek hiburan manusia.

Tidak heran kenapa negara ini kesulitan mendapat rizky, kesulitan menangani pandemi, dan berbagai kesulitan lainnya. Alih-alih mencari barokah dengan merawat sesama makhluk hidup serta bersahabat dengan alam, negara malah rela menjadi penjahat demi cuan dan di-ninabobok-kan dengan status negara maju. Nauzubillah…

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 114

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 137

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks