Kisah Qety, Nasib Satwa, dan Azab untuk Indonesia 0 884

Pada suatu pagi, seekor kucing betina, dengan warna dasar putih dan corak hitam di beberapa bagian badannya, datang ke rumah saya dalam kondisi bunting. Kucing itu langsung saya namai Sakura. Entah bagaimana nama itu bisa melintas dalam pikiran.

Pada pagi berikutnya, saya menemukan Sakura melahirkan empat ekor bayi kucing. Seminggu setelahnya, Sakura minggat entah ke mana, membiarkan empat anaknya yang bahkan belum mafhum merangkak.

Singkat cerita, empat kucing tersebut tumbuh begitu sehat. Mereka menjadi kucing yang berbakti. Tidak sembarangan mengambil lauk di meja makan, dengan sabar menunggu saya sarapan tanpa mengganggu. Pokoknya, mereka adalah kucing yang baik.

Namun, tiga di antara kucing-kucing itu pergi. Mencari jati diri mereka masing-masing. Kecuali Qety, kucing betina yang berbulu persis seperti ibunya. Qety memilih menetap di rumah saya, melanjutkan kehidupan sebagai kucing rumahan.

Lambat laun, ketika usia Qety menginjak delapan bulan, nalurinya sebagai kucing liar yang butuh kawin muncul. Qety berkencan dengan seekor kucing oren, sebut saja dia Tejo. Mereka sering kepergok kawin di semak-semak kebun yang mengampar di halaman rumah. Bagai lagu Jamrud: mereka melepas rindu di pematang sawah, hingga malam selimuti desa.

Tapi, saya kira Tejo bukanlah kucing yang berbudi baik dan berpendidikan. Pasalnya, setelah Qety hamil, tak sekali pun Tejo menunjukkan batang hidungnya. Qety mengandung seorang diri tanpa ditemani Tejo.

Semenjak hamil, Qety jadi cenderung selektif memilih makanan. Ia hanya mau seperempat daging ayam tiap harinya. Padahal daging ayam tidaklah murah harganya, apalagi buat ukuran saya yang hanya menjadi penulis lepas. Huft.

Qety melahirkan tiga bulan kemudian di usia muda. Namun, karena ketidakbecusan dan keawaman saya, dua dari empat anak Qety mati di usia sebelum sebulan. Ditambah lagi, Qety jarang mau menyusui anaknya. Maklum, mama muda masih dipengaruhi sifat labil.

Suatu hari saya menghukum Qety tidur di luar rumah, tentu bersama kedua anaknya, setelah menjatuhkan botol berisi ikan cupang peliharaan saya. Setiap menjelang tidur, Qety selalu mengeong memelas. Tapi hukuman tetaplah hukuman. Qety harus paham, ia lahir di negara hukum.

Tak lama setelah memberi hukuman pada Qety, saya malah ketiban (agak) sial. Sejumlah klien membatalkan rencana mereka menggunakan jasa saya sebagai penulis.

Pada akhirnya, saya mencabut hukuman terhadap Qety. Qety boleh kembali tidur di dalam rumah. Tapi, saya tidak bisa terus-terusan membelikan Qety daging ayam seperti sebelumnya.

Empat malam selanjutnya, saya bermimpi Qety mendatangi saya dan bicara: “Jangan terlalu pikirkan saya, Bung. Meski saya kucing rumahan yang sudah kelewat manja, saya tetaplah hewan yang punya naluri mencari makan sendiri”.

Sontak saya terbangun, seperti baru mendapat hidayah. Saya kemudian bertanya-tanya tentang nasib kucing di tengah pandemi pada pukul 1 dini hari.

Saya membuka laptop dan mencari sejumlah data yang berkaitan dengan populasi kucing. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Perikanan (DKPKP) Jakarta, populasi kucing terus meledak. Sepanjang 2018, jumlah kucing yang terdata di Jakarta mencapai 29.504 ekor, sudah termasuk kucing liar yang ditangkap pada saat penertiban, kucing yang divaksinasi dan yang disterilisasi (berpemilik), ditambah kucing liar yang disterilisasi di beberapa lokasi. Bahkan prediksinya, jumlah kucing di tahun 2020 mencapai 622.786 ekor dan meningkat di tahun 2021 dengan total 2.861.326 ekor.

Jumlah itu boleh kita anggap merepresentasikan jumlah kucing di Jakarta. Lantas bagaimana dengan populasi kucing se-Indonesia? Pasti masih banyak kucing terlantar di luar sana. Yang belum dapat edukasi tentang sex bebas. Kucing-kucing seperti Tejo, untuk pertimbangan tertentu boleh saja dikebiri. Namun bukankah cara ini terkesan mengerikan. Nabi menangis kalau mengetahui ini.

Tapi agak problematis juga, mengingat situasi seperti ini, membuat mereka mungkin akan berakhir menjadi kucing anarki, yang siap menjarah dapur rumah kita.

Kisah satwa menyedihkan lain datang dari Medan Zoo. Kebun binatang ini mengaku hanya punya simpanan finansial yang cukup untuk satu minggu, untuk mengakomodir pakan 7 ekor harimau Sumatera, 7 harimau benggala, 2 kucing mas, 1 kucing akar, 8 buaya, 15 elang, 2 ular, dan 2 biawak yang semuanya pemakan daging.

Hal ini berkaitan erat dengan berhenti beroperasinya kebun binatang sejak Maret 2020 lalu guna memutus rantai Covid-19. Padahal, jumlah satwa yang harus diberi pakan di kebun binatang se-Indonesia tidaklah sedikit. Berdasarkan data dari Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI), ada sebanyak 4.912 jenis dengan total 70.000 individu satwa yang terdiri dari mamalia, unggas, reptil dan ikan.

Tidak menutup kemungkinan, serentetan kasus terbengkalainya nasib hewan ini, menambah kemelut masalah (azab) di Indonesia. Sebelumnya, saya ingat betul, sehari setelah saya memberikan Qety kehidupan yang layak dan mencabut hukuman tidur di luar, sejumlah rizky yang sebelumnya pergi kembali menghampiri saya. Alhamdulillah.

Benar kata Mama saya, semakin baik tanggung jawab manusia terhadap alam dan sesama makhluk hidup, maka semakin baik pula dunia memperlakukan manusia. Lebih-lebih kepada kucing, hewan kesayangan nabi.

Sejumlah data yang sudah saya peroleh secara sembarangan membuktikan, bahwa nasib hewan di Indonesia tidak begitu baik. Mau hidup di alam saja diburu, minimal harus bersaing dengan para proyektor tambang atau pembuka lahan sawit. Mau hidup di kota, malah dikebiri dan dicap sebagai hama. Mau hidup di kebun binatang, malah sulit dapat makan dan harus menjadi objek hiburan manusia.

Tidak heran kenapa negara ini kesulitan mendapat rizky, kesulitan menangani pandemi, dan berbagai kesulitan lainnya. Alih-alih mencari barokah dengan merawat sesama makhluk hidup serta bersahabat dengan alam, negara malah rela menjadi penjahat demi cuan dan di-ninabobok-kan dengan status negara maju. Nauzubillah…

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Panduan Killing Time 12 Tahun untuk yang Terkasih, Pak Juliari 0 252

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

 

Majelis hakim Pengadilan Tipikor sudah ketok palu vonis terhadap mantan Mensos Juliari Peter Batubara 12 tahun penjara dan denda 500 juta subsidair 6 bulan kurungan. Juliari terbukti sah menerima suap 10 ribu rupiah per bansos alias 32,4 M kalo dikumpulin.

Kami gak mau membuli seperti yang mahabenar tuan dan nyonya netijen. Kami tahu, betapa tersiksa batin Pak Juliari yang kami kasihi. Kalo katanya arek-arek saiki: sudah kena mental.

Apalagi, Bapak sempat memohon belas kasih buat meringankan hukuman, karena tak bisa membayangkan akan meninggalkan anak istri di rumah. Sungguh sebuah teladan family man bagi kaum penerus bangsa. Poin ini lebih membuat kami tak tega menambah-nambahi beban Bapak dengan sumpah serapah (karena porsi itu sudah diamalkan netijen dengan sebaik-baiknya).

Untuk itu, pada kesempatan ini, kami justru ingin memberi sejumlah saran: panduan mengisi waktu selama nanti di kurungan. Tujuannya tentu agar Bapak tidak cepat bosan.

Panduan ini kami rasa manjur buat Bapak. Karena, sebagian besarnya sudah kami lakukan selama 1,5 tahun ke belakang, yang harus banyak-banyak di rumah karena terdampak pandemi (dan terdampak dapet bansos kualitas jelek gara-gara anggarannya dipotong).

Ini yang pertama, Pak. Bapak tentu ingat kopi dalgona yang sempat tenar itu. Sudah lama sekali tren membuatnya ditinggalkan dengan begitu cepat. Ada baiknya tren ini dihidupkan kembali.

Ikuti panduannya ya, Pak! Campurkan kopi hitam sachet pahitnya kehidupan dengan air panasnya neraka bagi koruptor. Kemudian aduk terus menerus dengan rasa ego sampai berbusa dan meluapkan keserakahan. Terakhir, letakkan buih kopi itu di atas segelas susu Bear Brand yang masih aja 15 ribu sampe sekarang. Selamat menikmati!

Cara ini cukup mudah Pak. Kami rasa, meminta kopi dan susu ke sipir penjara bukan suatu hal yang neko-neko kok. Pasti dikabulkan. Wong minta kamar VIP aja (udah pasti) dilayani kan, hehehehe.

Kedua, era pandemi ini eranya webinar, Pak. Hidup ini gak afdol kalo belum ikut webinar, minimal sekali seminggu. Tentu posisi Bapak bukan sebagai peserta yang cuma nunut “izin nyimak”. Pak Juliari mah pantesnya narasumber utama, keynote speaker.

Tema yang cocok tentu: “Say No to Korupsi!”. Masyarakat di Indonesia kita tercinta ini Pak, lebih percaya testimoni daripada hasil riset, soalnya mereka males baca. Kita lebih suka motivasi dari mereka yang telah berpengalaman dan sukses, ya seperti Bapak ini.

Materinya sederhana, Pak. Boleh dilengkapi power point yang eye-catching biar keliatan berkredibel. Inti pembicaraannya cuma ini: “Sumpah gais, dipenjara itu gak enak. Plis jangan korupsi! Ini gak di-endorse ya. Real testi”

Sasaran peserta buat webinar ini luas banget, Pak. Mulai dari pejabat rt-rw, sampai lingkaran pertama kayak jabatan terdahulu Bapak. Materinya bakal relateable. Dan semoga mampu menyadarkan mereka biar kapok korupsi. Yah, meskipun kalimat terakhir ini kayaknya utopis hehe.

Ketiga, coba deh, Pak, mulai nonton drama korea. Atau kalau langkah itu masih terlalu ekstrem buat Bapak, minimal nonton video klip boyband dan girlband korea. Saya jamin sih nagih, pengen lagi, pengen terus.

Bapak juga harus ingat, sebagian dari netijen kita ini penggemar apa-apa yang berbau Korea, Pak. Apapun yang trending nomer 1 di Twitter sudah pasti adalah hasil cuitan akun berfoto idol Kpop yang substansinya gak nyambung sama sekali sama topik yang lagi dibicarakan. Itu sudah pertanda seberapa menguasainya populasi mereka di alam dunia maya.

Artinya, ini bisa jadi langkah strategis Bapak untuk menguasai mereka. Mulai dengan menyukai apa yang mereka sukai, dekati, rayu, dan jadi akrab sama mereka. Bila perlu, kita bisa bikin ruang diskusi di Clubhouse yang bahas soal drakor terbaru, Pak.

Hukuman Bapak cuma empat tahun untuk tidak dipilih dalam jabatan publik. Empat tahun itu cuma kurang dari 1 periode presiden, Pak. Bentar itu, mah. Selanjutnya, netijen Korean wave yang sudah mencintai Bapak, tetap bisa menghantarkan Bapak ke kursi tertinggi di dunya ini.

Yah kalo impian ini sulit terwujud, setidaknya Bapak nanti tinggal ganti nama jadi JPB, bikin Youtube, dan bismillah komisaris BUMN.

Demikian panduan ini dibuat dengan sepenuh hati Pak. Kami percaya Bapak pasti bisa melalui cobaan ini semua dengan kepala tegak dan kebanggaan di dada. Kalo kami aja bisa melakukan hal-hal ini selama setahun di rumah aja, Bapak juga pasti bisa, tinggal dikaliin 12.

Tipe-tipe Pasien Isolasi Mandiri (Kamuuuu Mungkin Salah Satunya) 0 371

Pernah menjadi pasien positif Covid-19 di Indonesia, atau setidaknya pernah berinteraksi dengan pasien positif, bisa memberikan sejumlah pengalaman unik dalam hidup.

Terlebih di kurun lonjakan kedua pandemi ini, saat mayoritas warga yang positif terpaksa isolasi mandiri alias ‘isoman’ di tempat tinggal masing-masing. Sebab kapasitas penanganan pasien di RS maupun puskesmas harus diprioritaskan bagi mereka yang bergejala sedang hingga berat.

Dibandingkan mereka yang harus berebut jatah ventilator oksigen atau dag-dig-dug menanti donor plasma konvalesen, tantangan yang dihadapi pasien isoman memang relatif lebih mudah. Paling-paling cuma ngelus dompet dada ketika nggak kebagian jatah obat gratis, atau nggak tahan pengen tahu hasil PCR dari puskesmas yang keluarnya dua minggu setelah di-swab.

Di sisi lain, situasi tersebut ternyata bisa memunculkan tabiat unik manusia yang kadang lucu-lucu kalau diperhatikan. Berikut beberapa tipe pasien isoman yang marak ditemui di Endonesah.

 

Tipe Esktra Waspada

Tipe ini didominasi mereka yang bisa merogoh kocek sedikit lebih dalam daripada orang lain. Bagaimana tidak? Sejak awal merasa tidak enak badan, nggak tanggung-tanggung langsung swab PCR. PCR di puskesmas hasilnya lama keluar? No problemo. Bisa PCR mandiri.

Begitu dapat hasil positif, mereka tidak bisa tidak bertanya-tanya: kok bisa? Padahal selama ini sudah menjalankan protokol kesehatan alias ‘prokes’ superketat, dengan alokasi investasi terbesar untuk sarung tangan plastik dan masker N95.

Sebagai warga negara yang baik, mereka langsung lapor ke RT dan RW sambil melarang betul-betul tetangga satu komplek untuk bertamu ke rumah. Kalau ada yang mau kirim barang atau makanan, boleh, tinggal dicentelin alias digantung di tempat gantungan yang sudah disiapkan di pagar.

Nggak dapat penanganan dari puskesmas nggak masalah. Toh mereka sudah gercep pesan obat-obatan, vitamin, dan oksimeter secara online. Tak lupa ketika paket datang, wajib disemprot disinfektan dulu sebelum masuk rumah. Karena memang dasarnya waspada gyet, mereka juga sudah siap tabung oksigen yang terisi penuh, oxycan, sampai nebulizer.

Isoman kelar, harus PCR lagi dong. Karena kalau belum melihat kata ‘negatif’, jiwa belum tenang shay

 

Tipe Denial

Ini tipe yang paling bikin repot, didominasi boomers dengan hobi mem-forward pesan dan video di WA secepat kilat. Tipe ini juga bisa dibagi jadi dua jenis.

Pertama, mereka yang menganut teori konspirasi, yang sejak awal tidak percaya ada virus Covid-19 dan tidak mau prokes. Kedua, mereka yang percaya corona itu ada, tapi entah bagaimana merasa diri mereka adalah manusia super nan spesial yang nggak mungkin terjangkit.

Keduanya sama. Begitu dibuktikan positif, masih saja tidak percaya. Kata-kata andalannya, “Ini tuh flu biasa!”

Kalau dilarang supaya jangan ketemu orang dulu, marah-marah. Kalau disuruh minum obat, menolak mentah-mentah. Walhasil yang jadi pusing dan turun imun bukan dia, tapi keluarganya.

 

Tipe Paulus

Nama tipe ini terinspirasi cerita Rasul Paulus dalam kitab suci umat Nasrani. Rasul yang dulu hater-nya Yesus itu, yang lalu berubah 180 derajat setelah dapat terapi syok dan berubah jadi penginjil relijius.

Pasien tipe ini awalnya sama seperti tipe denial. Anti-corona dan sangat vokal dalam menunjukkan pendiriannya itu. Senantiasa menantang, “Mana coba, corona itu?” Tentunya, mereka juga amat tidak taat prokes.

Sialnya, ketika dikecup oleh sang corona, mereka termasuk yang langsung mengalami gejala cukup berat. Makin stres setelah tidak ada RS yang bisa menerima, mereka terpaksa dirawat dengan seadanya dan sebisanya di rumah sendiri. Tak jarang anggota keluarga lain harus turut spaneng karena harus mencarikan obat-obatan, bahkan antre berjam-jam untuk dapat oksigen kalau mereka sudah mulai sesak napas.

Bagai tersiram cahaya surgawi, setelah sembuh dengan susah-payah, pasien tipe ini berubah menjadi penginjil Covid-19. Mau hidup dengan lebih sehat dan gencar menceritakan pengalaman pribadinya, walau kadang harus tahan diejek netijen. Beberapa bahkan bersedia jadi relawan, minimal di lingkup RT sendiri.

Tak bisa dipungkiri, kalau ketemu kisah pertobatan macam begini sensasinya bagaikan nonton video masak ASMR. Sooo satisfying… 🙂

 

Tipe Impulsif

Kalau yang satu ini karakternya gampang banget percaya sama video kesehatan dari TikTok yang berseliweran di media sosial. Mereka juga mudah percaya sama omongan teman-teman grup WA, sekalipun baru berupa “katanya si itu” dan “katanya si ini”.

Padahal info-info itu masih perlu dikroscek dulu dari sumber lain, apakah benar dan relevan dengan kebutuhan diri sendiri. Jangan-jangan, rekomendasi yang ditonton atau dibaca itu malah bisa membahayakan kesehatan.

Ada yang bilang harus minum antibiotik, langsung minum tanpa konsultasi dokter. Ada yang bilang produk MLM herbal ‘X’ bisa meningkatkan imun, langsung beli banyak. Ada yang bilang harus minum vitamin C 1000 setiap tiga jam, langsung diikuti. Jangankan malah jadi memicu penyakit lain, lambung nggak keburu modyar aja sudah alhamdulillah.

 

Tipe Woles Wae

Tipe ini didominasi oleh mereka yang tidak bergejala dan bergejala sangat ringan. Mereka cukup cuek kalau menerima pesan-pesan dari keluarga dan kerabat yang menyampaikan kekhawatiran berlebihan. Tidak merasa anxious maupun panik saat membaca update terbaru tentang situasi Covid-19, tapi juga tidak terlalu aktif mencari-cari berita.

Mungkin karena sudah tahu kalau tubuhnya punya imun yang kuat, pasien tipe ini merasa tidak perlu ada perubahan berarti dalam hidupnya. Ya paling istirahat diperbanyak, makanan dipastikan bergizi, dan tiap pagi hari berjemur. Pesan makanan bisa online. Kalau nggak begitu ya beli sendiri keluar rumah tapi dengan prokes lebih ketat. Beberapa bahkan merasa nggak perlu minum obat dan vitamin karena terasa berlebihan.

 

Tipe Selebriti

Nah, kalau tipe yang ini, begitu dapat surat pernyataan positif, langsung dipotret dan di-upload ke story Instagram. Diikuti dengan update setiap harinya bertajuk ‘Isoman day one’, ‘day two’, dan seterusnya lengkap dengan deskripsi gejala yang dirasakan.

Alhasil, banyak yang kirim DM menanyakan kabar, mendoakan supaya cepat sembuh, dan nanyain alamat yang tentu saja dijawab dengan, “Nggak usah repot-repot.” Kemudian melalui pola komunikasi tarik-ulur dan sungkan-sungkanan, mereka akhirnya membagikan alamat juga.

Setiap hari mereka dapat kiriman kue-kue favorit, vitamin, susu, dan lain-lain. Tentu saja semuanya difoto, diunggah ke story untuk bilang terima kasih sambil nge-tag si pengirim. Yaaa… Nggak ada yang salah sih. Semakin banyak dapat support, semakin hemat meningkat imun kita.

 

Bagi pembaca yang pernah positif, kalian termasuk tipe yang mana? Salah satu atau kombinasi? Tentu masih banyak tipe pasien isoman yang belum tertulis di sini.

Termasuk mereka yang tidak tertangani sebagaimana mestinya dan akhirnya tak mampu bertahan. Mari turut berdoa untuk mereka yang terpaksa harus meninggalkan orang-orang yang dicintai.

Di saat-saat seperti ini, badan dan akal jiwa yang sehat sungguh adalah sebuah kemewahan.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Editor Picks