Maudy Ayunda dan Kegagalan Kita Menghargai Privasi

Maudy maning, Maudy maning. Tidak cukup dengan dilemanya memilih kampus ternama, kini ia kembali menggegerkan warganet setelah melakukan live instagram yang memperdengarkan percakapan berbahasa Inggris bersama seorang pria. Oleh netijen yang maha benar, pria itu diduga kuat adalah pacar si Maudy.

Live Instagram itu sempat disaksikan oleh lebih dari 2000 penonton kendati hanya menampilkan black screen, sembari bertanya-tanya hebat di kolom komentar: apakah ketidaksengajaan, atau justru mantan gadis sampul itu sengaja merekam dan menyiarkan secara langsung melalui akun media sosial miliknya. Tapi, baru-baru ini akun gosip favorit kita semua: Lambe Turah telah mengonfirmasi, dengan kekuatan hengpon jadul penggalian informasi A1, bahwa kejadian live itu murni accident, alias kepencet. Kurang dari 1×24 jam pun, Maudy Ayunda mengonfirmasi secara implisit, lewat unggahan foto diri dengan keterangan “All is good” pada caption.

Namun, namanya juga netijen Indonesia, tidak akan puas jika peristiwa ini hanya berhenti di konfirmasi. Tangan-tangan jail itu tidak tinggal diam. Live streaming di Instagram itu lantas direkam dan dibagi-bagikan, dibicarakan hingga menduduki trending topic nomor wahid.

Sejumlah pendapat kemudian muncul. Pertama, dari netijen yang dengan derasnya berkomentar: “orang secantik dan sepinter Mbak Maudy, ternyata cuma manusia biasa yang bisa bertengkar sama pacarnya.”

(Pertanyaannya: Lah mbok peker selama iki Maudy Ayunda ki opo? Malaekat?)

Kedua, netijen yang kemudian mendadak bijak. Menilai dan menasihati secara seksama, tentang bagaimana seharusnya hubungan romantis dijalin. Percakapan Maudy dan pria dalam video itu dianalisis, memunculkan pendapat “seharusnya cowoknya jangan egois” atau “semua hubungan bergantung dari komunikasi”. Seakan-akan, kitalah yang paling tahu persoalan di balik kebocoran percakapan pribadi beberapa menit itu.

Ketiga, adu mulut Mbak Maudy dengan pacarnya ini malah dijadikan bahan bercanda. Katanya: “Dengerin Maudy sama pacarnya kayak lagi listening section di tes TOEFL.

Di mana rasa empati kita semua, kawula muda? Bagaimana bisa persoalan pelik yang bisa jadi menyesakkan dada dua sejoli ini, dengan teganya kita jadikan sumber lelucon?

Namun, jangan-jangan dugaan-dugaan dangkal dan juga keji ini, diakibatkan oleh sistem hidup kita yang gagal mengajarkan cara menghargai privasi. Sistem kehidupan masyarakat, terutama dalam pusaran bisnis, membuat kita menghidupi diri sebagai karakter yang kepo.

Pertama, kita yang hobi gosip, membahas persoalan domestik dan personal orang lain, telah ditanamkan sejak dini. Gosip dengan beragam tingkatannya, mulai dari ibu-ibu di gang ketika belanja sayur, per-nyinyir-an duniawi reuni keluarga, hingga media kita yang menyediakan program gosip selebriti. Alih-alih membahas kisah sukses dan karya figur publik, kita telah dididik dengan betapa pentingnya mengetahui mobil baru artis, perceraian artis, liburan artis, bahkan morning routine artis.

Kedua, media sosial yang kita gunakan telah mengaburkan jarak antara yang mana privasi dan yang mana konsumsi publik. Kita bisa bicara dan mengunggah konten tentang apa saja. Mulai dari “i woke up like this” sampai filter-filter kuis di Story Instagram. Media sosial yang membuat persoalan apapun; tak peduli seprivat apa kontennya; asal mendapat banyak like dan komen; menjadi trending dan bahkan ladang bisnis adsense.

Media sosial kitalah yang juga membuat betapa mudahnya kalau HP kepencet, bisa langsung naik live streaming, dan bisa jadi rahasia yang sungguh personal bisa dikonsumsi ribuan pasang mata dan telinga. Kecanggihan teknologi membuat kita asyik membagikan persoalan pribadi orang lain, tanpa merasa perlu meminta persetujuan. Sekali ter-upload, dianggap sah dimiliki khalayak ramai.

Ketiga, entah media massa ataupun media sosial adalah tempat memoles borok luka. Keduanya dapat membuat kita berpikir bahwa hidup seorang seperti Maudy Ayunda amatlah sempurna. Alhasil ketika terjadi cacat yang tak sengaja tampil, kita bisa langsung heboh dan kaget, dan tak jarang mencaci ketidaksempurnaan orang lain yang padahal mutlak adanya.

Yaaahh, akhir kata saya hanya bisa mendoakan, semoga Mbak Maudy dan siapapun orang spesial yang berdebat dengannya malam itu, cepat rujuk dan sayang-sayangan lagi!