Maudy Ayunda dan Kegagalan Kita Menghargai Privasi 0 202

Maudy maning, Maudy maning. Tidak cukup dengan dilemanya memilih kampus ternama (lihat tulisan: ‘Dilema Maudy, Dilema Kita Semua’), kini ia kembali menggegerkan warganet setelah melakukan live instagram yang memperdengarkan percakapan berbahasa Inggris bersama seorang pria. Oleh netijen yang maha benar, pria itu diduga kuat adalah pacar si Maudy.

Live Instagram itu sempat disaksikan oleh lebih dari 2000 penonton kendati hanya menampilkan black screen, sembari bertanya-tanya hebat di kolom komentar: apakah ketidaksengajaan, atau justru mantan gadis sampul itu sengaja merekam dan menyiarkan secara langsung melalui akun media sosial miliknya. Tapi, baru-baru ini akun gosip favorit kita semua: Lambe Turah telah mengonfirmasi, dengan kekuatan hengpon jadul penggalian informasi A1, bahwa kejadian live itu murni accident, alias kepencet. Kurang dari 1×24 jam pun, Maudy Ayunda mengonfirmasi secara implisit, lewat unggahan foto diri dengan keterangan “All is good” pada caption.

Namun, namanya juga netijen Indonesia, tidak akan puas jika peristiwa ini hanya berhenti di konfirmasi. Tangan-tangan jail itu tidak tinggal diam. Live streaming di Instagram itu lantas direkam dan dibagi-bagikan, dibicarakan hingga menduduki trending topic nomor wahid.

Sejumlah pendapat kemudian muncul. Pertama, dari netijen yang dengan derasnya berkomentar: “orang secantik dan sepinter Mbak Maudy, ternyata cuma manusia biasa yang bisa bertengkar sama pacarnya.”

(Pertanyaannya: Lah mbok peker selama iki Maudy Ayunda ki opo? Malaekat?)

Kedua, netijen yang kemudian mendadak bijak. Menilai dan menasihati secara seksama, tentang bagaimana seharusnya hubungan romantis dijalin. Percakapan Maudy dan pria dalam video itu dianalisis, memunculkan pendapat “seharusnya cowoknya jangan egois” atau “semua hubungan bergantung dari komunikasi”. Seakan-akan, kitalah yang paling tahu persoalan di balik kebocoran percakapan pribadi beberapa menit itu.

Ketiga, adu mulut Mbak Maudy dengan pacarnya ini malah dijadikan bahan bercanda. Katanya: “Dengerin Maudy sama pacarnya kayak lagi listening section di tes TOEFL.

Di mana rasa empati kita semua, kawula muda? Bagaimana bisa persoalan pelik yang bisa jadi menyesakkan dada dua sejoli ini, dengan teganya kita jadikan sumber lelucon?

Namun, jangan-jangan dugaan-dugaan dangkal dan juga keji ini, diakibatkan oleh sistem hidup kita yang gagal mengajarkan cara menghargai privasi. Sistem kehidupan masyarakat, terutama dalam pusaran bisnis, membuat kita menghidupi diri sebagai karakter yang kepo.

Pertama, kita yang hobi gosip, membahas persoalan domestik dan personal orang lain, telah ditanamkan sejak dini. Gosip dengan beragam tingkatannya, mulai dari ibu-ibu di gang ketika belanja sayur, per-nyinyir-an duniawi reuni keluarga, hingga media kita yang menyediakan program gosip selebriti. Alih-alih membahas kisah sukses dan karya figur publik, kita telah dididik dengan betapa pentingnya mengetahui mobil baru artis, perceraian artis, liburan artis, bahkan morning routine artis.

Kedua, media sosial yang kita gunakan telah mengaburkan jarak antara yang mana privasi dan yang mana konsumsi publik. Kita bisa bicara dan mengunggah konten tentang apa saja. Mulai dari “i woke up like this” sampai filter-filter kuis di Story Instagram. Media sosial yang membuat persoalan apapun; tak peduli seprivat apa kontennya; asal mendapat banyak like dan komen; menjadi trending dan bahkan ladang bisnis adsense.

Media sosial kitalah yang juga membuat betapa mudahnya kalau HP kepencet, bisa langsung naik live streaming, dan bisa jadi rahasia yang sungguh personal bisa dikonsumsi ribuan pasang mata dan telinga. Kecanggihan teknologi membuat kita asyik membagikan persoalan pribadi orang lain, tanpa merasa perlu meminta persetujuan. Sekali ter-upload, dianggap sah dimiliki khalayak ramai.

Ketiga, entah media massa ataupun media sosial adalah tempat memoles borok luka. Keduanya dapat membuat kita berpikir bahwa hidup seorang seperti Maudy Ayunda amatlah sempurna. Alhasil ketika terjadi cacat yang tak sengaja tampil, kita bisa langsung heboh dan kaget, dan tak jarang mencaci ketidaksempurnaan orang lain yang padahal mutlak adanya.

Yaaahh, akhir kata saya hanya bisa mendoakan, semoga Mbak Maudy dan siapapun orang spesial yang berdebat dengannya malam itu, cepat rujuk dan sayang-sayangan lagi!

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (Instagram: @petiteanette)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CCTV Setarbak dan Ekspektasi Kesetaraan Gender 0 138

Semua ini gara-gara mas-mas Setarbak. Karena keisengan mereka memperbesar layar monitor CCTV untuk melihat dan memuja-muja kemolekan tubuh pelanggan wanita yang sedang asyik menikmati kopi produk kapitalis dan penambal gengsi itu.  Setelah kejadian ini diketahui publik, perdebatan isu gender kembali mencuat ke permukaan, menjadi trending topic yang tak terelakkan. Netijen sibuk menguji materi dan menyebar twit mengenai siapa yang salah: yang ngintip atau yang pakai baju minim?

Kasus seperti ini bukan yang pertama kalinya. Sudah acap terjadi, bahkan membuat kita begah karena saking seringnya. Sudah capek rasanya diri ini mau membahas isu gender. Pembahasan gender seakan tak ada ujungnya, dan selalu memantik pertengkaran. Mereka yang setuju wanita harus menutup aurat versus mereka yang meminta laki-laki mengendalikan libidonya.

Misalkan kasus lain tentang istri yang membikinkan bekal untuk suaminya. Dalam kasus tersebut, banyak netijen berkomentar yang pada intinya berkata, bahwa thread viral “Bekal Buat Suami” telah menginjak-injak harga diri perempuan dan memposisikan perempuan sebatas babu rumah tangga. Dengan begitu tanggap, netijen segera membantu menghitung pendapatan yang mungkin bisa diterima sang istri jika bekerja, apabila tidak sibuk memasakkan makanan untuk suami.

Namun, tidak jarang perdebatan di kolom komentar tersebut justru menggeser cita-cita gerakan feminis sesungguhnya (baca: yang menginginkan kesetaraan gender). Kesan yang seringkali muncul – setidaknya bagi saya – dari perdebatan itu seakan-akan laki-laki harus dibasmi, hamil, mengurus anak, dan memasak di rumah adalah aktivitas yang haram dan ketinggalan zaman.

Walau demikian, kita memang tak boleh menyerah untuk mengedukasi pakdhe dan budhe kita, mengenai kesetaraan gender dan betapa muaknya kita dengan lelucon berbau seksis. Kita tetap harus optimis mengenai tatanan kehidupan baru (bukan new normal katanya pemerintah): di mana masyarakat kita sudah cukup memahami dan bisa berlaku adil dalam berhubungan intim, dan tentang betapa urgentnya meresmikan RUU PKS. Meski harapan ini rasanya masih terlalu jauh. Sebab kita harus ingat, bahwa kita sedang hidup di Indonesia dengan beragam konteks ruang dan waktunya saat ini. Kultur patriarki dan dominasi kepercayaan konservatif tentang perempuan harus menutup auratnya agar tak merangsang napsu pria masih terlalu kuat.

Kita harus sadar dan terbangun, bahwa kita masih berada di lingkungan yang akan menyalahkan pakaian korban perkosaan dan pelecehan seksual ketimbang menggali pikiran kotor pemerkosa itu. Tak jarang kita mendengar perempuan-perempuan yang hamil karena diperkosa, akhirnya dipaksa menikah demi menutupi aib keluarga.

Kamu semua boleh liberalis dan open minded, tapi jangan lupa bahwa kamu hidup di Indonesia yang yaaahh masih kayak gini. Butuh jalan yang puanjang untuk mengubah pola pikir ini, menghabiskan satu generasi terdahulu dan mendidik generasi Z dan seterusnya akan sex education yang baik dan benar. Ingat, penulis tak sedang berusaha bilang usaha ini tidak mungkin loh ya!

Kamu semua harus siap, jika berpendapat tentang isu kesetaraan gender, apapun bentuk dan konteks peristiwanya, akan mendapat nasihat “semoga kamu dapat hidayah”. Kamu juga harus siap, jika punya prinsip sex bebas dengan consent, akan dipandang rendah dan gagal jadi wanita. Pun kamu harus siaga jika tak bisa ikut tertawa di lelucon seksis teman-teman kantor, kamu akan dicap gak asik.

Kita hidup di negara yang hukum pelecehan dan kekerasan seksual masih belum dianggap penting dibawa pada prolegnas petinggi Senayan. Hukum yang lebih mudah menangkap pelaku pelecehan seksual jika sudah viral dan sudah ada aduan dari yang merasa dirugikan. Hukum yang cuma bisa menjerat pelaku yang ketahuan karena kontennya menyebar di media sosial: dengan UU ITE yang serba bisa dan maha benar itu.

Dan yang terpenting untuk kita sadari: kita bisa saja asyik berdebat di dunia maya, sementara petinggi-petinggi negeri ini tak menaruh peduli. Mereka sibuk mengejar kursi kepemimpinan dan menghitung keuntungan investasi asing. Mereka tidak menganggap suara-suara kita di medsos adalah wacana publik yang cukup signifikan dan layak diperhitungkan, untuk kemudian mengolah sistem pendidikan rakyat dan menjadikannya undang-undang.

Sementara ini, diskusi tentang gender dan segala cita-cita mulia lainnya masih menjadi sekadar algoritma yang berputar-putar di timeline media sosial bagai lingkaran setan.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art

Yang Dadakan Selain Sepeda dan Bekal buat Suami 0 255

Suatu malam saya bermotor mengitari jalanan Surabaya. Rupanya, di masa-masa (yang dipaksakan dinamai dengan) new normal, tak sedikitpun jalan raya terlihat sepi. Alih-alih berdiam di rumah sesuai yang dianjurkan kelompok elit dan tubir, orang-orang tampak menikmati cangkruk dengan asyik. Sekilas pemandangan ini tak aneh buat saya, karena toh, bahkan ketika sewaktu-waktu perang meletus di Ahmad Yani pun, saya yakin masih ada segerombolan pemuda lagi ngopi di pojokan Injoko.

Tapi hal lain di luar perhitungan saya adalah para pesepeda yang berbaris ngonthel di sepanjang jalan. Tak tanggung-tanggung, dari bundaran Waru sampai Taman Bungkul, sisi kiri jalan raya selalu dipenuhi orang-orang bersepeda. Jenis sepedanya pun variatif, sebutlah apapun itu, mau sepeda gunung, fixie, sepeda keranjang, sampai sepeda lipat-jungkir walik-ngarep­ mburi, semua ada. Pertanyaan yang muncul di benak saya cuma satu: apa kondisi pandemi semacam ini bikin orang gatel beli sepeda?

Saat di internet ramai orang-orang gemas mencibir mereka yang bersepeda lalu upload instastory, “stay healthy” dengan foto gagang sepeda, istilah ‘cyclist dadakan’ muncul. Mereka menganggap bahwa orang yang sepedaan rame-rame sambil merekam teman sesamanya lagi ngos-ngosan ngonthel adalah sekelompok orang yang latah kayak pemerintah. “Cycling kok cuma pas Koronah. Kayak ane dong, cycling terus tiap pagi,” kata mereka, suatu siang saat baru bangun tidur. Umpatan ini diperpanjang lagi dengan anggapan bahwa para pesepeda ini tidak taat berbaris di jalan raya, maunya jalan dipake sendiri, kata mereka yang sehari-hari naik motor tapi mencaplok jalur sepeda.

Menyambungkan istilah ‘cyclist’ dengan ‘dadakan’ ini cukup aneh. Bayangkan betapa murka perasaan bapak atau pakdhe yang mengajari kita naik sepeda saat masih balita. Coba ingat, betapa lebih ngawurnya kala itu sampai harus menabrak pagar rumah, nyasak bonsai tetangga yang lagi imut-imutnya, bahkan menyerempet betis ibu-ibu jual gethuk yang saban kali lewat depan rumah—apa kabar ya beliau? Kita semua telah menjadi cyclist sejak dini. No debat.

Jika kita pengen mendefinisikan ‘dadakan’ sebagai ‘ikut-ikutan’ tren, tengoklah upaya orang-orang sok yang berusaha menyamakan diri dengan pemikir feminis bahwa istri tak seharusnya membuatkan bekal buat suami. Bahwa istri melayani suami dan ditempatkan dalam peran pekerja di dalam rumah adalah warisan patriarki yang dimaktubkan dalam berbagai dokumen baik itu negara atau agama. Salah besar, pokoknya, kalau sampai istri merasa bekal buat suami adalah tanda cinta dan bukannya gejala kapitalisme di dalam rumah tangga. Argumen paling akut ialah melakukan perhitungan gaji yang bisa diterima oleh seorang istri kala melakukan pekerjaan domestik, seperti mbeteti gurami, mengganti popok bayi, mencuci, dan lain-lain.

Maria Mies dalam bukunya Patriarchy & Accumulation on a World State, memang menderma konsep ‘Housewifization’ untuk menunjuk hidung kapitalisme dan patriarki secara langsung, atas pembagian peran domestik dan publik antara perempuan dan laki-laki yang sangat timpang. Ia mengatakan kalo istri menempati peran yang sama dengan seorang housewife, yang dibayar untuk melakukan segala jenis kegiatan rumah.

Konsep ini krusial dalam mengkritik posisi gender di rumah tangga, itu benar. Tapi mbok ya dipahami, ketika ada seorang perempuan mengunggah foto makanan dengan caption ‘bekal buat suami’, itu artinya kan memang si istri membuatkan, atau memberi reward berupa bekal pada suami, ya toh? Apa iya, ibu mereka nggak pernah membuatkan bekal sewaktu mereka lagi SD dan duit jajan cuma gopek?

Bos, saya yakin, kalo istri para petani nggak membawakan rentengan buat suaminya di sawah, nasib beras yang kita makan nggak akan ikhlas menambal kebocoran lambung kita yang lapar.

Ih, bawa-bawa cinta. Tau nggak sih itu cuma dogma biar istri ikhlas melayani suami?

Karepmu, feminis dadakan.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks