Maudy Ayunda dan Kegagalan Kita Menghargai Privasi 0 306

Maudy maning, Maudy maning. Tidak cukup dengan dilemanya memilih kampus ternama (lihat tulisan: ‘Dilema Maudy, Dilema Kita Semua’), kini ia kembali menggegerkan warganet setelah melakukan live instagram yang memperdengarkan percakapan berbahasa Inggris bersama seorang pria. Oleh netijen yang maha benar, pria itu diduga kuat adalah pacar si Maudy.

Live Instagram itu sempat disaksikan oleh lebih dari 2000 penonton kendati hanya menampilkan black screen, sembari bertanya-tanya hebat di kolom komentar: apakah ketidaksengajaan, atau justru mantan gadis sampul itu sengaja merekam dan menyiarkan secara langsung melalui akun media sosial miliknya. Tapi, baru-baru ini akun gosip favorit kita semua: Lambe Turah telah mengonfirmasi, dengan kekuatan hengpon jadul penggalian informasi A1, bahwa kejadian live itu murni accident, alias kepencet. Kurang dari 1×24 jam pun, Maudy Ayunda mengonfirmasi secara implisit, lewat unggahan foto diri dengan keterangan “All is good” pada caption.

Namun, namanya juga netijen Indonesia, tidak akan puas jika peristiwa ini hanya berhenti di konfirmasi. Tangan-tangan jail itu tidak tinggal diam. Live streaming di Instagram itu lantas direkam dan dibagi-bagikan, dibicarakan hingga menduduki trending topic nomor wahid.

Sejumlah pendapat kemudian muncul. Pertama, dari netijen yang dengan derasnya berkomentar: “orang secantik dan sepinter Mbak Maudy, ternyata cuma manusia biasa yang bisa bertengkar sama pacarnya.”

(Pertanyaannya: Lah mbok peker selama iki Maudy Ayunda ki opo? Malaekat?)

Kedua, netijen yang kemudian mendadak bijak. Menilai dan menasihati secara seksama, tentang bagaimana seharusnya hubungan romantis dijalin. Percakapan Maudy dan pria dalam video itu dianalisis, memunculkan pendapat “seharusnya cowoknya jangan egois” atau “semua hubungan bergantung dari komunikasi”. Seakan-akan, kitalah yang paling tahu persoalan di balik kebocoran percakapan pribadi beberapa menit itu.

Ketiga, adu mulut Mbak Maudy dengan pacarnya ini malah dijadikan bahan bercanda. Katanya: “Dengerin Maudy sama pacarnya kayak lagi listening section di tes TOEFL.

Di mana rasa empati kita semua, kawula muda? Bagaimana bisa persoalan pelik yang bisa jadi menyesakkan dada dua sejoli ini, dengan teganya kita jadikan sumber lelucon?

Namun, jangan-jangan dugaan-dugaan dangkal dan juga keji ini, diakibatkan oleh sistem hidup kita yang gagal mengajarkan cara menghargai privasi. Sistem kehidupan masyarakat, terutama dalam pusaran bisnis, membuat kita menghidupi diri sebagai karakter yang kepo.

Pertama, kita yang hobi gosip, membahas persoalan domestik dan personal orang lain, telah ditanamkan sejak dini. Gosip dengan beragam tingkatannya, mulai dari ibu-ibu di gang ketika belanja sayur, per-nyinyir-an duniawi reuni keluarga, hingga media kita yang menyediakan program gosip selebriti. Alih-alih membahas kisah sukses dan karya figur publik, kita telah dididik dengan betapa pentingnya mengetahui mobil baru artis, perceraian artis, liburan artis, bahkan morning routine artis.

Kedua, media sosial yang kita gunakan telah mengaburkan jarak antara yang mana privasi dan yang mana konsumsi publik. Kita bisa bicara dan mengunggah konten tentang apa saja. Mulai dari “i woke up like this” sampai filter-filter kuis di Story Instagram. Media sosial yang membuat persoalan apapun; tak peduli seprivat apa kontennya; asal mendapat banyak like dan komen; menjadi trending dan bahkan ladang bisnis adsense.

Media sosial kitalah yang juga membuat betapa mudahnya kalau HP kepencet, bisa langsung naik live streaming, dan bisa jadi rahasia yang sungguh personal bisa dikonsumsi ribuan pasang mata dan telinga. Kecanggihan teknologi membuat kita asyik membagikan persoalan pribadi orang lain, tanpa merasa perlu meminta persetujuan. Sekali ter-upload, dianggap sah dimiliki khalayak ramai.

Ketiga, entah media massa ataupun media sosial adalah tempat memoles borok luka. Keduanya dapat membuat kita berpikir bahwa hidup seorang seperti Maudy Ayunda amatlah sempurna. Alhasil ketika terjadi cacat yang tak sengaja tampil, kita bisa langsung heboh dan kaget, dan tak jarang mencaci ketidaksempurnaan orang lain yang padahal mutlak adanya.

Yaaahh, akhir kata saya hanya bisa mendoakan, semoga Mbak Maudy dan siapapun orang spesial yang berdebat dengannya malam itu, cepat rujuk dan sayang-sayangan lagi!

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (Instagram: @petiteanette)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Huru-Hara Anti-masker di Negeri Pak Trump 0 110

Oleh: Deanita Nurkhalisa*

 

Kisah datang dari Amerika Serikat (AS), negeri nun jauh dengan jumlah penderita terkonfirmasi Covid-19 terbanyak di level global mencapai titik tertinggi 3,4 juta kasus, 67 ribu kasus baru dan total kematian sebanyak 136 ribu jiwa. Ketika tak kunjung tampak terobosan signifikan dalam penanganan kasus, pada saat yang sama muncul pula sikap meremehkan yang datang dari berbagai kelompok, dari awam hingga figur berpengaruh. Anjuran dan nasihat kesehatan dimentahkan oleh gerakan anti-masker.

Gerakan anti-masker (anti-mask) menuai perhatian semenjak persyaratan lockdown perlahan diangkat dan fasilitas umum kembali dibuka dengan ketentuan wajib seperti pengenaan masker. Mereka menentang keras pendapat ilmiah, seperti dari Central for Disease Control and Prevention (CDC) yang meyakinkan publik bahwa penggunaan masker mengurangi risiko penularan. Tindakan ini sejalan dengan istilah keren ‘flatten the curve’, merebahkan kurva jumlah penderita dengan menginstruksikan penggunaan masker atau sarana pencegahan lain demi menekan laju Covid-19.

Kerumunan anti-masker mencuri perhatian atas apa yang mereka lakukan di pusat-pusat perbelanjaan, provokasi demonstrasi, maupun menyuarakan aspirasi lewat pertemuan dewan kota. Bentuk protes terhadap mandat penggunaan masker juga ditunjukkan melalui ejekan penggunaan masker berbentuk jaring (mesh mask) yang tentunya tidak melindungi wajah dari partikel berbahaya. Di Roseville, Sacramento, seorang warga mengencingi lantai toko Verizon Store karena menolak diusir meninggalkan toko akibat tidak mengenakan masker.

Di kesempatan tertentu, sekelompok anti-maskers meneriakkan kalimat ‘I can’t breathe’ (‘aku ra isa ambegan’) yang sebelumnya menjadi slogan solidaritas gerakan Black Lives Matter, mengutip kalimat terakhir George Floyd sebelum ia menjadi korban rasisme yang dilakukan aparat kepolisian di AS. Ironisnya, kalimat tersebut diinisiasi oleh anggota dewan kota Scottsdale, Arizona, pada aksi protes pengenaan masker akhir bulan lalu. Fakta-fakta itu menunjukkan egoisme, ketidakpekaan, dan minimnya empati dalam kelompok protes tersebut.

Klaim utama kelompok antimasker adalah bahwa kewajiban penggunaan masker oleh pemerintah ‘merenggut hak asasi dan kebebasan atas tubuh’ atau ‘perbudakan, penundukan, dan penaklukan’ oleh negara atas warga.

Beberapa pernyataan ini mengherankan karena beberapa alasan.

Adanya pandemi global memerlukan pencegahan yang dalam jangka panjang dapat memberikan hasil efektif, apabila dilakukan dengan benar dan secara massal untuk mencegah penularan. Tujuan untuk kebaikan bersama tersebut yang menjadi dasar pemerintah menggalakkan penggunaan masker. Tidak ada yang dapat menjamin seseorang akan dapat terinfeksi atau bahkan menginfeksi orang lain. Namun, tindakan pencegahan dapat membantu menurunkan risiko tersebut.

Masker bukanlah simbol atas penaklukan, apalagi menempatkan penggunanya sebagai ‘budak’, melainkan hanyalah sebuah alat penghalau partikel berbahaya di udara agar tubuh manusia tidak terinfeksi. Tidak ada anggapan implisit rasis atau misoginis yang ditemukan dari pengenaan masker. Pun bukanlah wujud dari agenda politis pihak oposisi untuk tujuan tertentu.

Tindakan pencegahan di masa pandemi ini tidak seharusnya menjadi isu politis maupun konspiratif yang dapat memecah opini. Dibutuhkan solidaritas, empati dan kebesaran hati untuk bergerak saling melindungi demi berakhirnya pandemi. Hal tersebut juga harus diiringi oleh informasi yang sesuai dan data yang cukup serta kemampuan berdialog secara efektif berdasarkan fakta yang ada. Bukan didasari sentimen apapun seperti pandangan politik, sehingga perdebatan mengenai pengenaan masker setidaknya dapat dilakukan secara substantif dan tidak sewenang-wenang.

Begitu juga dengan figur pemerintah yang memiliki pengaruh signifikan ke masyarakat. Sudah seharusnya mereka menyediakan edukasi, jaminan dan kepastian yang dibutuhkan oleh masyarakat agar negara tetap utuh dalam menghadapi krisis pandemi global.

 

*)Mahasiswi yang senang puisi, kucing, dan antariksa. Terbuka atas masukan atau cuma basa-basi lewat akun Instagram @ohitsjustdenit.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Klasifikasi Netizen Pasca JRX Menjadi Tersangka 0 139

Oleh: Rio Abadi*

 

Beberapa waktu kebelakang, nama Jerinx/JRX kerap menjadi sorotan netizen karena unggahan media sosialnya di berbagai platform. Ya, JRX memang secara gamblang mengunggah teori konspirasi terkait Covid-19 meskipun kerap dikecam dan banyak yang tak sependapat. Tapi tak bisa ditampik bahwa ada juga yang sepaham dan mengamini apa yang disampaikan JRX. 

Segmentasi netizen yang mengisi kolom komentar setiap unggahan Instagram @jrxsid cenderung lebih mendukung setiap apa yang diumbar oleh JRX. Sedangkan di Twitter, netizen yang merespon cuitan @JRXSID_Official kerap kali memberi antitesis terhadap teori konspirasi yang dilontarkannya. Akun media sosial milik JRX di kedua platform tadi-pun, beberapa kali sempat di-suspend akibat dinamika bermedia sosial. 

Namun pada 7 Agustus lalu, JRX resmi menyandang status hukum sebagai tersangka yang ditetapkan oleh Polda Bali atas kasus dugaan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian. Dengan delik aduan, I Gede Ari Astina dilaporkan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) provinsi Bali, atas unggahan Instagram JRX dengan caption “Gara-gara bangga jadi kacung WHO, IDI dan rumah sakit dengan seenaknya mewajibkan semua orang yang akan melahirkan tes Covid-19”. 

Pasca ditetapkan sebagai tersangka, beragam reaksi netizen pun bermunculan. Di media sosial seperti Twitter, netizen terbagi menjadi tiga golongan: 

 

Die Hard JRX

Ini adalah golongan pembela JRX. Mereka mendukung teori konspirasi terkait Covid-19 yang sering diumbar JRX sejak virus Corona merambah ke Indonesia Mereka seolah mengamini bahwa Covid-19 adalah senjata biologis yang dirancang oleh para elit global seperti Bill Gates, atau dengan kata lain,  mereka mengimani bahwa Covid-19 tak lebih dari sekedar rekayasa dan alat propaganda. Mungkin hampir semua dari mereka adalah outsider. Bisa jadi juga mereka bukan penikmat musik SID, namun memiliki kekaguman terhadap teori konspirasi yang digembar-gemborkan oleh JRX.

Meski proses hukum tetap berjalan, ditetapkanya JRX sebagai tersangka mungkin menjadi suatu malapetaka bagi mereka. Bayangkan, salah satu orang yang berani menyuarakan konspirasi di tengah pandemi, berani memiliki sudut pandang yang berbeda dengan orang kebanyakan harus diborgol dengan kabel ties, diboyong ke markas polisi, dan dijebloskan ke rumah tahanan.

 

Anti JRX

Kalau golongan ini, adalah netizen yang kontra dengan segala pernyataan JRX terkait konspirasi Covid-19. Sebelum JRX berurusan dengan hukum, golongan ini menghujat seolah dia adalah orang yang paling hina seantero dunia. Mereka menganggap teori konspirasi yang dilontarkan JRX selama ini adalah sesuatu yang dapat menyesatkan masyarakat. 

Bagi golongan ini, ditangkapnya JRX diharapkan dapat menjadi peringatan bagi siapapun yang berani menebarkan teori konspirasi, walaupun JRX dijerat dengan pasal tersakti se-Indonesia Raya: Pasal 28 Ayat 2 UU ITE, dugaan pencemaran nama baik dan ujaran kebencian. Akibatnya, JRX terancam hukuman paling lama 6 tahun penjara dan denda maksimal 1 miliar rupiah. Hayo, kapokmu kapan?

 

Half JRX

Netizen yang berada dalam golongan ini adalah mereka yang tidak sepakat dengan teori konspirasi Covid-19, namun menentang penetapan JRX sebagai tersangka. Mereka tidak percaya teori konspirasi. Mereka meyakini eksistensi Covid-19 sebagai bencana non-alam. Mereka percaya meminimalisir kontak fisik antar individu dan menerapkan protokol kesehatan adalah cara untuk mencegah penyebaran Covid-19, sembari menunggu vaksin ditemukan oleh para ilmuwan. 

Tapi mereka tak setuju dengan “cara” menjerat JRX. Mereka menganggap UU ITE berisi pasal-pasal karet yang multitafsir nan mandraguna.

Tak sedikit pula yang membandingkan foto ketika JRX dengan tersangka kasus korupsi, ketika masuk ke tahanan. Bahkan sehari setelah JRX menjadi tersangka, muncul petisi dengan #BebaskanJrxSID. 

Entah siapa yang menginisiasi petisi tersebut, karena bisa jadi berasal dari golongan ini, tapi mungkin juga berasal dari mereka yang masuk dalam golongan pertama.

 

*) Seorang hamba Allah. Profil diri penulis yang lebih rinci sengaja dirahasiakan.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks