Maudy Ayunda dan Kegagalan Kita Menghargai Privasi 0 623

Maudy maning, Maudy maning. Tidak cukup dengan dilemanya memilih kampus ternama (lihat tulisan: ‘Dilema Maudy, Dilema Kita Semua’), kini ia kembali menggegerkan warganet setelah melakukan live instagram yang memperdengarkan percakapan berbahasa Inggris bersama seorang pria. Oleh netijen yang maha benar, pria itu diduga kuat adalah pacar si Maudy.

Live Instagram itu sempat disaksikan oleh lebih dari 2000 penonton kendati hanya menampilkan black screen, sembari bertanya-tanya hebat di kolom komentar: apakah ketidaksengajaan, atau justru mantan gadis sampul itu sengaja merekam dan menyiarkan secara langsung melalui akun media sosial miliknya. Tapi, baru-baru ini akun gosip favorit kita semua: Lambe Turah telah mengonfirmasi, dengan kekuatan hengpon jadul penggalian informasi A1, bahwa kejadian live itu murni accident, alias kepencet. Kurang dari 1×24 jam pun, Maudy Ayunda mengonfirmasi secara implisit, lewat unggahan foto diri dengan keterangan “All is good” pada caption.

Namun, namanya juga netijen Indonesia, tidak akan puas jika peristiwa ini hanya berhenti di konfirmasi. Tangan-tangan jail itu tidak tinggal diam. Live streaming di Instagram itu lantas direkam dan dibagi-bagikan, dibicarakan hingga menduduki trending topic nomor wahid.

Sejumlah pendapat kemudian muncul. Pertama, dari netijen yang dengan derasnya berkomentar: “orang secantik dan sepinter Mbak Maudy, ternyata cuma manusia biasa yang bisa bertengkar sama pacarnya.”

(Pertanyaannya: Lah mbok peker selama iki Maudy Ayunda ki opo? Malaekat?)

Kedua, netijen yang kemudian mendadak bijak. Menilai dan menasihati secara seksama, tentang bagaimana seharusnya hubungan romantis dijalin. Percakapan Maudy dan pria dalam video itu dianalisis, memunculkan pendapat “seharusnya cowoknya jangan egois” atau “semua hubungan bergantung dari komunikasi”. Seakan-akan, kitalah yang paling tahu persoalan di balik kebocoran percakapan pribadi beberapa menit itu.

Ketiga, adu mulut Mbak Maudy dengan pacarnya ini malah dijadikan bahan bercanda. Katanya: “Dengerin Maudy sama pacarnya kayak lagi listening section di tes TOEFL.

Di mana rasa empati kita semua, kawula muda? Bagaimana bisa persoalan pelik yang bisa jadi menyesakkan dada dua sejoli ini, dengan teganya kita jadikan sumber lelucon?

Namun, jangan-jangan dugaan-dugaan dangkal dan juga keji ini, diakibatkan oleh sistem hidup kita yang gagal mengajarkan cara menghargai privasi. Sistem kehidupan masyarakat, terutama dalam pusaran bisnis, membuat kita menghidupi diri sebagai karakter yang kepo.

Pertama, kita yang hobi gosip, membahas persoalan domestik dan personal orang lain, telah ditanamkan sejak dini. Gosip dengan beragam tingkatannya, mulai dari ibu-ibu di gang ketika belanja sayur, per-nyinyir-an duniawi reuni keluarga, hingga media kita yang menyediakan program gosip selebriti. Alih-alih membahas kisah sukses dan karya figur publik, kita telah dididik dengan betapa pentingnya mengetahui mobil baru artis, perceraian artis, liburan artis, bahkan morning routine artis.

Kedua, media sosial yang kita gunakan telah mengaburkan jarak antara yang mana privasi dan yang mana konsumsi publik. Kita bisa bicara dan mengunggah konten tentang apa saja. Mulai dari “i woke up like this” sampai filter-filter kuis di Story Instagram. Media sosial yang membuat persoalan apapun; tak peduli seprivat apa kontennya; asal mendapat banyak like dan komen; menjadi trending dan bahkan ladang bisnis adsense.

Media sosial kitalah yang juga membuat betapa mudahnya kalau HP kepencet, bisa langsung naik live streaming, dan bisa jadi rahasia yang sungguh personal bisa dikonsumsi ribuan pasang mata dan telinga. Kecanggihan teknologi membuat kita asyik membagikan persoalan pribadi orang lain, tanpa merasa perlu meminta persetujuan. Sekali ter-upload, dianggap sah dimiliki khalayak ramai.

Ketiga, entah media massa ataupun media sosial adalah tempat memoles borok luka. Keduanya dapat membuat kita berpikir bahwa hidup seorang seperti Maudy Ayunda amatlah sempurna. Alhasil ketika terjadi cacat yang tak sengaja tampil, kita bisa langsung heboh dan kaget, dan tak jarang mencaci ketidaksempurnaan orang lain yang padahal mutlak adanya.

Yaaahh, akhir kata saya hanya bisa mendoakan, semoga Mbak Maudy dan siapapun orang spesial yang berdebat dengannya malam itu, cepat rujuk dan sayang-sayangan lagi!

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (Instagram: @petiteanette)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dukun Abal-abal dan Fitnah pada Genderuwo Nakal 0 144

Oleh: Yogi Dwi Pradana*

 

Nasib tragis dialami seorang bocah perempuan berusia 7 tahun bernama Aisyah. Ia menjadi sebuah korban percobaan dukun abal-abal di Desa Bejen, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Aisyah meninggal dunia setelah disuruh memakan cabai dan bunga mahoni oleh dukun abal-abal tersebut, serta ia diminta menenggelamkan kepala di dalam air untuk mengetahui apakah benar Aisyah ini keturunan genderuwo atau bukan.

Kisah ini tragis, tapi juga aneh. Sebab, setahu saya dari cerita rakjat, genderuwo tidak seiseng itu untuk merasuki anak kecil dan membuatnya jadi nakal. Salah satunya adalah Mbah Wagini dari Alas Purwo. Ia diyakini sebagai seorang keturunan genderuwo dengan seluruh badannya ditumbuhi bulu lebat.

Walaupun terlihat menakutkan, Mbah Wagini di alam gaib adalah makhluk yang dipuja. Begitu kata Eyang Ratih, pengasuhnya sejak kecil. Dan dia tidak nakal ya, ingat. Gak semua genderuwo seperti kata dukun abal-abal itu.

Poin lain yang mengherankan bagi saya dari peristiwa ini adalah, motivasi sang orang tua membawa Aisyah ke dukun. Tentu, setelah bertahun-tahun mengasuhnya, mereka sampai pada titik lelah, sehingga tak sanggup lagi mengatasi kenakalan si anak dengan kekuatannya sendiri.

Padahal, bukankah 7 tahun adalah usia normal anak bersikap aktif dan banyak tingkah misalnya, jika demikian yang dikategorikan nakal oleh kebanyakan orang. Di usia ini, anak sudah siap masuk ke jenjang sekolah dasar dan siap beradaptasi dengan hal-hal yang baru ia temui. Justru peranan orang tua dalam mendidik anak di usia ini sangat penting.

Menurut saya yang belum punya anak ini, masih ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mendidik anak nakal usia 7 tahun. Misalnya, mengedepankan komunikasi dengan anak. Aktif berbincang untuk mengetahui apa yang dipikirkan dan diinginkan si anak. Selanjutnya, ajak anak untuk terbiasa mengatasi masalah secara bersama-sama. Orang tua tugasnya kan membimbing, bukan cuma ngasih makan.

Beberapa poin yang saya sebut tadi, ujungnya adalah agar orang tua bisa mengenali sisi emosi anak. Kalau orang tua kesusahan, “anak nakal” seharusnya bisa diatasi oleh ahlinya. Konsultasi ke psikolog misalnya.

Anak yang nakal seharusnya mendapat edukasi dari orang tua, bukan malah dibawa ke dukun untuk dirukiyah. Kan kita semua tahu, sudah banyak kejadian-kejadian yang tidak diinginkan terjadi ketika menyelesaikan masalah dengan dukun.

Salah satu kisah soal ini datang Nanang (bukan nama sebenarnya) dari Tasikmalaya, Jawa Barat yang mengaku sebagai dukun. Alih-alih mengobati pasien, Nanang meminta pasien-pasien yang datang padanya untuk melayani hasrat seksualnya.

Eits, tapi tidak semua dukun itu abal-abal dan nol keahlian ya. Nyuwun pangapunten Mbah Dukun! Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk melarang pembaca datang ke dukun (semua kembali ke kepercayaan masing-masing).

Tapi dari pengalaman ini kita belajar, untuk mengatasi persoalan dengan hati dan wawasan yang luas. Jika sudah mentok dengan usaha sendiri, baiknya memang datang ke pakar dengan ilmu yang pasti-pasti aja.

 

*)Seorang mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Aktif di organisasi Susastra KMSI UNY, bergiat di komunitas sastra Lampu Tidurmu, dan menjadi penulis artikel di UNY Community.

*) Ilustrasi oleh Brigitha Aidha Jannah

Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi 0 218

Apakah hanya saya saja di sini yang sudah sulit percaya ulasan influencer Indonesia? Sudah bukan sekali dua kali saya kemakan omongan influencer Indonesia. Sumpah jujur, guys, beneran gak bohong, aku udah kapok cari rekomendasi dari influencer negeri +62.

Entah kenapa influencer Indonesia suka melebih-lebihkan fakta kalau mengulas suatu produk. Apa yang dikatakan mereka rupanya tak sesuai fakta dan kenyataan yang ada.

Belakangan ini saya tertarik mempelajari parfum-parfuman di internet. Lalu, saya mencari ulasan tentang eau de parfum yang agak terjangkau lewat video seorang youtuber. Bisa dibilang youtuber ini masih micro influencer. Menurut jurnal yang saya baca, micro influencer merupakan opinion leader yang baik untuk mempengaruhi keputusan pembelian. Apalagi, dalam mengulas produk tersebut, youtuber ini tidak dibayar, melainkan membeli dengan uangnya sendiri. Jadi, saya rasa, lambenya masih kredibel lah.

Saat ia mengulas sebuah parfum, tertariklah saya untuk membeli parfum tersebut. Youtuber tersebut dapat mendeskripsikan aroma dari notes parfum tersebut dengan cukup baik dan meyakinkan.

“Hmm yang ini ada vanilla-vanillanya. Lama-lama wanginya enak, soft, elegant gitu, katanya sambil mencium pergelangan tangannya yang sudah disemprot parfum.

Sebagai pecinta vanilla, gourmand, dan oriental notes, saya tertarik untuk membeli parfum tersebut seketika. Apalagi katanya wangi vanillanya kuat. Tanpa pikir panjang akhirnya saya membeli parfum yang katanya bau vanilla banget itu.

Setelah saya beli dan semprot ke tangan saya, saya endus-endus baunya, hmm…. Ini kan bau Adi Jasa (rumah duka terbesar di Surabaya). Dari top notes hingga base notes-nya membentuk aroma bunga sedap malam yang mulai kecoklatan alias sudah tidak segar. Alhasil, bau badan saya mirip karangan bunga ucapan duka cita yang sudah tiga hari bertengger di rumah duka. Bahkan meski sudah tersisa base notes, masih tidak tercium aroma vanilla sama sekali.

Ini bukan yang pertama. Sebelumnya ada youtuber yang mengulas eau de parfum lokal dengan berkata, “sungguan ini enak banget, wanginya mirip permen tapi yang mewah gitu, guys. Kalian pasti suka.” Setelah saya cium, baunya sangat identik dengan aroma permen Alpenlibe rasa susu dan stroberi. Ya sudah, mungkin Mbak Youtuber tersebut merasa permen yang ada di Indomaret ini sangat mewah.

Selanjutnya, saya pernah membeli masker wajah karena kena “racun” selebgram. Saya tertarik setelah melihat wajahnya jadi lebih cerah dan bersih.

Tuh, lihat muka aku jadi bersih banget, OMG!” Katanya sambil mendekatkan wajahnya ke kamera.

Setelah saya coba, memang wajah saya langsung seputih Song Hye Kyo. Namun, bukan karena sel-sel kulit mati yang terangkat, melainkan sisa-sisa masker clay tersebut tidak bisa hilang dari muka saya meski sudah dibilas berkali-kali.

Tapi setidaknya, saya masih mengapresiasi influencer yang menjerumuskan saya tadi. Setidaknya, ia bisa mendeskripsikan barang tersebut dengan “baik”.

Lain halnya dengan influencer G yang mendeskripsikan parfum seperti ini “kalau yang ini baunya kayak bau cewek-cewek kaya yang baru keluar dari toko baju mewah, ngerti kan, ya, lo maksud gue?” Ya gimana kita bisa ngerti kalau Anda menjelaskan seperti ini, Maemunah?!

Dari sini saya menarik kesimpulan bahwa banyak dari influencer Indonesia yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup sebagai influencer dalam bidang tersebut. Padahal dalam kelas public speaking, mempresentasikan topik di luar kemampuan kita adalah BIG NO. Akibatnya ya begini ini, jadi misleading dan menyesatkan audiens.

Selain kesal dengan ulasan yang tak sesuai fakta, saya juga heran kenapa gaya mengulas para influencer ini sama. Dengan mata mendelik, nada naik, dan penekanan di semua kata, seakan berusaha keras membuat audiens tertarik. Ditambah template, “ih beneran, guys ini enak banget,” “gak bohong kalian harus coba,” “sumpah gak bohong, kalian pasti suka“, dan semacamnya.

Joe Navarro, seorang ahli body language asal America Serikat mengatakan bahwa orang yang tidak jujur akan berusaha “keras” untuk membuat Anda percaya. Usaha seperti apa? Bisa dalam bentuk ekspresi yang berlebihan, mengulang kata, dan menambahkan bumbu penyedap pada kalimat.

Contohnya influencer kuliner yang bilang enak aja harus pake “sumpah sumpah, enak banget gak bohong, serius gue mau mati,” sambil melotot dan dengan penekatan di setiap huruf. Harusnya dijelaskan yang bikin enak apa, rasanya seperti apa, bumbunya apa saja. Kalau memang enak beneran, masa tidak bisa mendeskripsikan? Apalagi sudah menyandang title sebagai influencer yang harusnya punya pengetahuan lebih tentang kuliner dari orang awam.

Mungkin secuil ilmu dari Navarro ini bisa jadi guideline kita untuk memilah mana ulasan yang valid dan tidak dengan melihat cara influencer tersebut berbicara.

Selain itu, sebisa mungkin jangan hanya mengandalkan satu influencer, apalagi kalau influencer tersebut bekerja sama dalam paid partnership, endorsement, apalagi kalau sudah didapuk jadi brand ambassador. Biasanya ulasan sudah tidak objektif lagi.

Carilah video ulasan sebanyak-banyaknya dari influencer berbeda! Kalau bisa, influencer yang memang memiliki pengetahuan mumpuni dalam bidang tersebut.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks