Maudy Ayunda dan Kegagalan Kita Menghargai Privasi 0 427

Maudy maning, Maudy maning. Tidak cukup dengan dilemanya memilih kampus ternama (lihat tulisan: ‘Dilema Maudy, Dilema Kita Semua’), kini ia kembali menggegerkan warganet setelah melakukan live instagram yang memperdengarkan percakapan berbahasa Inggris bersama seorang pria. Oleh netijen yang maha benar, pria itu diduga kuat adalah pacar si Maudy.

Live Instagram itu sempat disaksikan oleh lebih dari 2000 penonton kendati hanya menampilkan black screen, sembari bertanya-tanya hebat di kolom komentar: apakah ketidaksengajaan, atau justru mantan gadis sampul itu sengaja merekam dan menyiarkan secara langsung melalui akun media sosial miliknya. Tapi, baru-baru ini akun gosip favorit kita semua: Lambe Turah telah mengonfirmasi, dengan kekuatan hengpon jadul penggalian informasi A1, bahwa kejadian live itu murni accident, alias kepencet. Kurang dari 1×24 jam pun, Maudy Ayunda mengonfirmasi secara implisit, lewat unggahan foto diri dengan keterangan “All is good” pada caption.

Namun, namanya juga netijen Indonesia, tidak akan puas jika peristiwa ini hanya berhenti di konfirmasi. Tangan-tangan jail itu tidak tinggal diam. Live streaming di Instagram itu lantas direkam dan dibagi-bagikan, dibicarakan hingga menduduki trending topic nomor wahid.

Sejumlah pendapat kemudian muncul. Pertama, dari netijen yang dengan derasnya berkomentar: “orang secantik dan sepinter Mbak Maudy, ternyata cuma manusia biasa yang bisa bertengkar sama pacarnya.”

(Pertanyaannya: Lah mbok peker selama iki Maudy Ayunda ki opo? Malaekat?)

Kedua, netijen yang kemudian mendadak bijak. Menilai dan menasihati secara seksama, tentang bagaimana seharusnya hubungan romantis dijalin. Percakapan Maudy dan pria dalam video itu dianalisis, memunculkan pendapat “seharusnya cowoknya jangan egois” atau “semua hubungan bergantung dari komunikasi”. Seakan-akan, kitalah yang paling tahu persoalan di balik kebocoran percakapan pribadi beberapa menit itu.

Ketiga, adu mulut Mbak Maudy dengan pacarnya ini malah dijadikan bahan bercanda. Katanya: “Dengerin Maudy sama pacarnya kayak lagi listening section di tes TOEFL.

Di mana rasa empati kita semua, kawula muda? Bagaimana bisa persoalan pelik yang bisa jadi menyesakkan dada dua sejoli ini, dengan teganya kita jadikan sumber lelucon?

Namun, jangan-jangan dugaan-dugaan dangkal dan juga keji ini, diakibatkan oleh sistem hidup kita yang gagal mengajarkan cara menghargai privasi. Sistem kehidupan masyarakat, terutama dalam pusaran bisnis, membuat kita menghidupi diri sebagai karakter yang kepo.

Pertama, kita yang hobi gosip, membahas persoalan domestik dan personal orang lain, telah ditanamkan sejak dini. Gosip dengan beragam tingkatannya, mulai dari ibu-ibu di gang ketika belanja sayur, per-nyinyir-an duniawi reuni keluarga, hingga media kita yang menyediakan program gosip selebriti. Alih-alih membahas kisah sukses dan karya figur publik, kita telah dididik dengan betapa pentingnya mengetahui mobil baru artis, perceraian artis, liburan artis, bahkan morning routine artis.

Kedua, media sosial yang kita gunakan telah mengaburkan jarak antara yang mana privasi dan yang mana konsumsi publik. Kita bisa bicara dan mengunggah konten tentang apa saja. Mulai dari “i woke up like this” sampai filter-filter kuis di Story Instagram. Media sosial yang membuat persoalan apapun; tak peduli seprivat apa kontennya; asal mendapat banyak like dan komen; menjadi trending dan bahkan ladang bisnis adsense.

Media sosial kitalah yang juga membuat betapa mudahnya kalau HP kepencet, bisa langsung naik live streaming, dan bisa jadi rahasia yang sungguh personal bisa dikonsumsi ribuan pasang mata dan telinga. Kecanggihan teknologi membuat kita asyik membagikan persoalan pribadi orang lain, tanpa merasa perlu meminta persetujuan. Sekali ter-upload, dianggap sah dimiliki khalayak ramai.

Ketiga, entah media massa ataupun media sosial adalah tempat memoles borok luka. Keduanya dapat membuat kita berpikir bahwa hidup seorang seperti Maudy Ayunda amatlah sempurna. Alhasil ketika terjadi cacat yang tak sengaja tampil, kita bisa langsung heboh dan kaget, dan tak jarang mencaci ketidaksempurnaan orang lain yang padahal mutlak adanya.

Yaaahh, akhir kata saya hanya bisa mendoakan, semoga Mbak Maudy dan siapapun orang spesial yang berdebat dengannya malam itu, cepat rujuk dan sayang-sayangan lagi!

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (Instagram: @petiteanette)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 219

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Konten Pacaran Artis dan Komentar Jahat Netijen 0 222

Oleh: Annisa Pinastika*

Beberapa waktu lalu, menjelang peringatan Muharram, jagat maya digemparkan dengan tangkapan layar Instagram Story aktris muda tanah air. Video berdurasi kurang dari lima belas detik tersebut menayangkan saat kekasih sang aktris (sebut saja Zara JKT48) menyentuh bagian vitalnya dengan sengaja.

Hal yang menjadi pergunjingan netijen ialah respon dari si aktris yang tidak menunjukkan penolakan atas tindakan kekasih. Malahan menunjukkan ekspresi senang dan meminta perbuatan tersebut diulangi. Jari jemari netizen tentu riuh membagikan ulang lengkap dengan komentar keji dan sumpah serapah.

Netizen maha benar. Tidak hanya mengunggah ulang story tersebut, mereka juga merundung akun orang tua dan saudara dari si aktris dengan kata-kata makian dan hinaan. Tanpa disadari, perilaku mereka telah mencerminkan kekerasan berbasis gender online (KBGO). Salah satu ciri ialah perusakan reputasi atau kredibilitas seseorang baik dengan berbagi data pribadi dengan tujuan merusak reputasi pengguna serta membuat komentar yang bernada menyerang, meremehkan, dengan maksud mencoreng reputasi seseorang (Kusuma dan Arum, 2019).

Fenomena KBGO sendiri mengalami peningkatan selama tiga tahun terakhir. Catahu Komnas Perempuan 2019 menunjukkan bahwa kekerasan jenis ini telah bertambah menjadi 98 kasus pada tahun 2018, meningkat dari tahun 2017 yang mencetak sebanyak 65 kasus dan tahun 2016 yang mencatat lima kasus.

Jika kita mengamati dengan seksama, pembaca yang budiman, kegiatan KBGO, khususnya pada konteks peristiwa ini, sebenarnya dilakukan netizen yang senang melihat orang lain susah. Fenomena kesenangan ketika melihat orang lain sedang bernasib buruk dikenal dengan sebutan “schadenfreude” (van Dijk, Ouwerkerk, van Koningsbruggen & Wesseling, 2011).

Aurelia (2019) memaparkan sebuah penelitian dalam makalah “Schadenfreude Deconstructed and reconstructed: A Tripartite Motivational Modeldalam New Ideas of Psychology. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa responden puas melihat orang sukses sedang mengalami kegagalan dan menganggap hal tersebut layak dialami oleh orang yang “high achiever”.  Dengan begitu, netizen insecure tentu merasa jaya bak di singgasana ketika melihat aktris layar lebar bertalenta di usia muda, dulunya anggota idol yang jago menyanyi dan menari, penyandang gelar brand ambassador produk-produk terkenal, kini tercoreng nama baiknya karena satu konten.

Alih-alih merasa simpati, beberapa golongan justru bangga menjadi agen pelaku kekerasan berbasis gender online dengan berlomba-lomba mereproduksi konten tersebut. Bahkan akun-akun gosip kawakan dan media massa tanpa rasa bersalah memonetisasi video sang aktris yang masih di bawah umur.

Sesungguhnya rasa iri yang memicu schadenfreude mendorong kita untuk bertindak sebagai pelaku kekerasan. Kita lupa bahwasannya setiap orang memiliki kesalahan dan dosa yang berbeda-beda. Apesnya saja si aktris yang-yangan di depan kamera dan tersebar di sosial media. Padahal belum tentu para tukang bully online itu tidak melakukan hal yang serupa. Wong digrepe itu enak, kok!

Mengakhiri tulisan ini, penulis hanya bisa berpesan pada netizen: mbok ya kalau ada skandal, melibatkan anak di bawah umur, jangan lantas senang dan nyumpah-nyumpahin sampe ke keluarganya segala! Malu, lah sama umur! Mending energinya dipakai buat bercocok tanam atau bisnis makanan rumahan gitu, lho!

Melihat tangkah netizen seperti ini justru makin membuat penulis yakin bahwa sekarang masyarakat lebih takut melihat pasangan saling mencinta daripada menyakiti perasaan sesama manusia.

 

*)Perempuan yang menjuluki diri “Ratu Mahabencana”. Enggan mengklaim dirinya sebagai feminis meski suka menulis tentang feminisme.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

 

 

Editor Picks