Menangisi Gagalnya Nobar di Bioskop 0 775

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Cucu Ahmad Kurnia, sudah fix menunda pembukaan bioskop yang seharusnya terjadwal 29 Juli ini, sampai waktu yang belum ditentukan. Tentu saja niatnya baik: demi memutus mata rantai penularan COVID-19, yang makin hari angkanya makin naik gak karu-karuan.

Di kolom ini tentu saja kita tidak perlu membahas efektivitas kebijakan menahan pembukaan sejumlah tempat hiburan malam dan bioskop, namun membiarkan tempat wisata lain (yang lebih banyak digunakan untuk pesepeda dadakan) tetap beroperasi.

Yang jelas, sebagian dari kita tentu mengeluh dalam hati. Rasanya bak diberi harapan tapi diputus tiba-tiba. Setelah lebih dari seribu bioskop di 52 kota di Indonesia tutup sejak 26 Maret 2020, mengurung jiwa-jiwa hedon kita. Berbulan-bulan loh gak nonton bioskop! Rasanya mau mati, kalau katanya influencer review makanan. Se-introvert-introvert-nya saya (maaf ngaku-ngaku), saya pun sama dengan kalian: rindu nonton bioskop.

Saya paham betul anyep-nya ketawa sendirian sepanjang nonton film genre komedi, dan sepinya menangis sendiri saat nonton adegan yang mengharukan. Saya sadar betul betapa gak mbois-nya nonton film di layar kecil HP, atau paling banter di layar laptop 14 inci. Saya juga gak bisa merasakan sensasi spiker D*lby all around you, apalagi layar Imax yang segede lapangan futsal itu.

Kita tentu rindu rasa-rasa ketika baru masuk gedung bioskop, mendengar teriakan mas-mas penjual popcorn supaya kita tertarik beli dagangannya, berasa artis yang disoraki fans. Kita tentu kangen sekali perjuangan mencari promo tiket melalui platform daring. Kita mungkin rindu rasa balap-balapan pre-order booking kursi untuk penayangan premiere film kesayangan yang sudah kita tunggu-tunggu serialnya.

Sudah lama juga ya rasanya gak makan popcorn, yang gara-gara saking asyiknya sampai habis duluan sebelum filmnya mulai. Sampai lupa rasanya pamer foto tiket nobar bioskop film yang sedang hype di Instagram Story—yang kalau teman-teman kita kebetulan sudah nonton duluan, kita wajib ancam mereka dengan segenap kekuatan jiwa-raga supaya mereka tidak spoiler.

Tentu jadi kerinduan bersama pula buat pegangan tangan dengan kekasih sepanjang film berlangsung—apalagi kalau filmnya horor (wes ngakuo ae, aku yo eruh modusmu!)—untuk saling menyalurkan rasa hangat tubuh, meminimalisir begitu br*ngs*knya dinginnya AC gedung teater. Hal sesederhana tertawa bersama penonton lain di adegan-adegan konyol, atau berteriak bersama ketika ada jumpscare, semua itu bikin kangen.

Kita semua memang bersedih dan tak kunjung kelar mengeluh dengan tertundanya pembukaan bioskop ini. Mengutuki dalam hati: koronah gatheeeel! Walau sebenarnya sudah ada Netflix yang sudah dibuka blokirnya oleh Indihome, atau aplikasi lain (dan website streaming ilegal yang belum diblokir pemerintah) yang bisa diakses, menambal kerinduan-kerinduan kita akan nobar di bioskop.

Tapi mungkin gara-gara kita sibuk berduka, kita sampai lupa ada yang nasibnya lebih terkatung-katung.

Ketua Umum Asosisasi Produser Film Indonesia menyebut, ada sekitar 15 proyek film yang gagal produksi tahun ini. Hal ini tentu berdampak pula bagi para sutradara dan kisah produksi mereka. Mulai dari Joko Anwar sampai Livi Zheng, semua gigit jari.

Para aktor dan aktris, walau setenar Reza Rahadian dan Tara Basro sekalipun, di masa begini, pupus sudah seluruh jadwal syuting yang telah tersusun rapi sepanjang tahun 2020. Jangan lupa keseluruhan kru film, yang dalam sekali pembuatan film, bisa ada 80-100 orang bahkan lebih. Bisa jadi, side job supir G*jek sempat melintas di benak mereka (atau bahkan ada yang sudah merealisasikannya) demi menyambung hidup.

“Loh kan filmnya bisa tayang secara onlen”. Mulut gampang bicara. Tapi bagaimana menggaji kru film dan biaya produksi yang bermiliar-miliar hanya dengan online streaming? Bagaimana caranya menutup kekurangan biaya 80-90 persen yang selama ini didapatnya dari bioskop?

Juga mereka, para reviewer atau kritikus film, tak lagi punya bahan untuk dikomentari. Tak lagi mereka mengirim tulisan untuk media, di mana juga berarti hilangnya sebagian besar penghasilan (dan passion) mereka.

Mbak-mbak penyobek tiket nontonmu, mereka yang membersihkan sampah bekas popcorn yang kamu tinggalkan begitu saja di kursi, tukang pel kamar mandi eks-eks-wan, mereka semua juga ingin kembali ke bioskop. Mereka yang harus dirumahkan, kena pengurangan gaji, atau bahkan PHK, semua sama kangennya dengan bioskop seperti kita, gaes!

Tapi, berbeda dengan kamu semua yang rindu mencari hiburan di tengah kebosanan, mereka ingin kembali ke bioskop karena rindu kembali bekerja.

Kata Kakak Anji: “Corona gak semengerikan itu kok”. Mungkin benar bagi sebagian orang, tapi tidak bagi mereka, para pejuang seni garda terdepan dan pekerja kreatif, yang sama sekali kehilangan pekerjaannya gara-gara Corona.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Shang Chi dan Bagaimana Kita Bisa Tergoda Menontonnya 0 285

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

 

Kali ini kita bahas film yang sedang happening bingits. Mungkin penyebab ke-viral-annya adalah antara karena kalian ingin melengkapi puzzle cerita Marvel Cinematic Universe, atau karena udah kangen sensasi nonton bioskop setelah berbulan-bulan PPKM. Perbedaannya memang tipis.

Shang Chi and the Legend of the Ten Rings” memulai kisah pada Xu Wenwu alias Mandarin (kita harap kalian belum lupa villain di Iron Man 3), pemilik dan penguasa kekuatan Ten Rings. Selama seribu tahun, ia berusaha menguasai dunia, sampai akhirnya ambisi itu buyar karena jatuh cinta pada seorang penjaga gerbang bernama Ying Li dari desa magis Ta Lo. Keduanya menikah dan dikarunia 2 orang anak: Shang Chi dan Xia Ling.

Singkat cerita, Ying Li, ibunya Shang Chi meninggal karena dibunuh musuh Mandarin di masa lalu. Tidak terima dengan kepergian istrinya, Mandarin dibayang-banyangi suara mistis kekuatan jahat yang menyerupai istrinya. Mandarin berusaha membangunkan kembali kekuatan jahat yang lama tertidur, demi menyelamatkan istrinya yang sebenarnya cuma ada di bayang-bayangnya (mungkin doi susah move-on, sama kayak kamu).

Nah, cerita ini jadi seru karena Shang Chi, si tokoh protagonis berusaha menghalangi bapaknya untuk membangunkan kekuatan jahat itu. Tentu saja tujuannya sama seperti format film superhero pada umumnya: saving the world. Karena kekuatan jahat itu bisa mengambil arwah manusia sak-dunya.

Satu hal yang melintas di benak saya mulai dari sebelum, selama, dan sesudah nonton film ini adalah: pinter, ya, Marvel merebut hati orang Asia!

Pertama, dengan mengangkat tema keluarga. Inti konflik film ini jelas sekali menunjukkan konflik keluarga antara ayah-ibu, yang berbeda karakter dan latar belakang, dan 2 anaknya.

Format cerita keluarga kayak gini gak banyak dipakai oleh Marvel. Kita gak pernah tahu background keluarga Captain America misalnya, Avengers pertama. Siapa bapak-ibunya, apa kerjaan mereka, hanya Tuhan dan penulis cerita yang tahu. Demikian pula Black Widow, sebelum akhirnya tema konsep keluarga diangkat di film barunya tahun ini.

Ini semua karena budaya barat, pada umumnya, tidak familiar dengan keluarga sebagai poros hidup mereka. Apa yang menjadikan mereka berhasil ya semata karena potensi dan perjuangan diri sendiri. Pandangan hidup ini, beda banget sama kita, orang Asia. Keluarga adalah fokus kehidupan, yang membentuk ‘siapa diri kita’ dan ‘gimana cara kita melihat dunia’.

Budaya ketimuran, kebanyakan, menjunjung tinggi bagaimana anak selayaknya menjaga nama baik keluarga dan berbakti pada orang tuanya (mau se-bajingan apapun sifat mereka). Poin ini sangat banyak nampak pada alur cerita. Karakter Shang Chi dibentuk oleh percampuran sisi dingin, tegas, dan ambisius bapaknya, dengan sisi lemah lembut tapi kuat dari ibunya.

Buanyak juga adegan menyentuh seperti flashback Shang Chi dan adik perempuannya ke masa lalu, saat bersatu sebagai keluarga (ideal). Sampai-sampai memori masa lalu itu, menggagalkan niatan Shang Chi buat bunuh bapaknya waktu beradu kekuatan di klimaks cerita. Semua karena Shang Chi ingat, sebesar apapun dendamnya, dia tetap menghormati seorang ayah. Khas sekali orang Asia, bukan? Alias, pinter juga nih Marvel bikin mewek penonton.

Kedua, dengan memainkan isu kesetaraan gender. Di Asia ini, laki-laki cenderung mendominasi ruang dan kekuasaan. Perempuan sulit dapat porsi dan kesempatan mengembangkan potensi. Meminjam kalimat adik perempuannya Shang Chi: “kamu cukup anggukkan kepala dan diam, karena kalaupun kamu ngomong, kamu gak bakal didengarkan dan gak dianggap ada”.

Ya, isu ini, pembaca tahu, sudah banyak diperjuangkan oleh SJW-SJW feminis kita.

Tapi, film ini juga tidak buta dengan kenyataan. Walaupun perlahan mulai diakui, perempuan tetap harus berjuang  untuk bisa stand-out.

Xia Ling tidak mendapat peran utama di film ini. Itu poin yang harus kita catat. Ia adalah supporting character.

Lalu, bagaimana nasibnya dalam cerita ini? Xia Ling harus belajar kemampuan bela diri selama belasan tahun dalam diam, bukan latihan bareng sama laki-laki lainnya. Dia harus meniti karir dulu untuk bisa sehebat kakak laki-lakinya, yang dari awal sudah dapat privilege kesempatan belajar. Tokoh perempuan yang berjuang sendiri, tanpa bantuan siapa pun.

Penulis adalah orang yang tidak membaca komik originnya, jadi pengetahuan soal bagaimana Xia Ling diceritakan tentu sangat terbatas. Tetapi dengan penggambaran yang ada di film ini, tentu bisa cukup menyimpulkan bagaimana Marvel menarik hati orang Asia, dengan memberi porsi bagi perempuan, yang selama ini cuma ada di belakang layar.

Ketiga, bermain dengan naga. Kayaknya Asia dan naga itu dua sejoli yang susah dipisahkan. Setidaknya dalam sudut pandang pembuat film.

Artinya, orang Asia selalu direpresentasikan sebagai masyarakat yang percaya magical atau untagible things: kepercayaan pada kekuatan yang lebih besar dari dirinya. Cara penggambaran yang paling gampang ya dengan hewan mitologi, naga, favorit orang Asia.

Ini bukan pertama kalinya Disney memakai naga. Dalam versi animasi kartun, Mulan (1998) juga punya naga, walaupun naganya cupu. Terbaru, Raya juga menampilkan naga (yang lebih mirip naga Barbie) (Baca lagi: “Rayu Sang Raya pada Asia Tenggara”).

Jadi, kurang afdol dong rasanya, jika Shang Chi yang sangat berbudaya Tionghoa ini gak ada adegan naga-nagaan. Kekuatan baik dan kekuatan jahat bukan digambarkan sebagai manusia, tapi menjelma dalam rupa naga.

Oh ya, sebagai tambahan, buat menarik perhatian saya dan anda untuk nonton Shang Chi, Marvel juga menggandeng Rich Brian dan Niki buat jadi pengisi soundtrack film ini. Lengkap sudah strategi mereka menarik hati orang Asia.

Belum lagi, banyak sekali percakapan di film yang menggunakan Bahasa Mandarin. Semua martial arts yang dipakai juga sangat Asia timur, mulai dari wingchun sampai taichi (dan barangkali kombinasi lainnya).

Sejumlah unsur yang sangat Asia dipakai dengan cerdas, buat menenangkan dan mendekatkan cerita ke kita-kita, para penikmat film berkulit kuning ke sawo matang ini (atau lebih tepatnya jadi konsumen, sasaran pasar belaka).

 

 

Alasan Mengapa Penampilan Kim Kardashian di MET Gala 2021 Patut Diacungi Jempol 0 326

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

 

Sempat batal diselenggarakan setahun yang lalu karena pandemi, akhirnya acara fesyen paling eksklusif, MET Gala, kembali hadir tahun ini. Diselenggarakan pada 13 September di Metropolitan Museum of Arts, New York, MET Gala 2021 mengusung tema “American Independence“, sehingga tamu undangan bisa bebas berdandan apa saja pokoknya sesuai tema.

Seperti biasa, MET Gala selalu mengundang perhatian karena dihadiri oleh bintang-bintang internasional dan menjadi ajang bagi desainer papan atas untuk  pamer kreativitas. Bahkan saking hebohnya, sampai-sampai muncul kekhawatiran bahwa MET Gala akan overshade acara New York Fashion Week yang juga digelar berdekatan dengan acara yang diketuai Anna Wintour tersebut.

Salah satu selebritis yang mengundang perhatian publik adalah Kim Kardashian. Biasa tampil seksi, kini ia secara ekstrem berpenampilan tertutup. Literally.

Putri dari Kris Jenner ini mengenakan pakaian serba hitam berbahan kaus dari Balenciaga hingga menutupi semua kulitnya. Hanya rambut super panjangnya yang terlihat.

Penampilan nyeleneh Kim ini sontak menjadi bahan lelucon bagi publik. Banyak yang menyamakannya dengan Dementor yang ada di film Harry Potter. Selain itu, banyak orang juga membuat Kim Kardashian menjadi bahan meme di media sosial. Kasihan!

Meski banyak diejek, saya menilai penampilan Kim Kardashian patut diacungi jempol. Bahkan Bryan Boy, salah satu fashion influencer ternama juga menilai demikian. Bahkan, Diet Prada juga memasukkan kakak Kendall Jenner ini dalam dereran Best Dressed.

Jadi sebelum menghina Kim Kardashian, coba baca dulu penjelasan saya kenapa penampilan Kim yang bikin kita ikut selempeken ini keren abis.

  1. Menarik Perhatian

Tidak ada aturan kalau kamu harus tampil cantik dan stylish saat menghadiri MET Gala. Berbeda dari acara red carpet lainnya, para tamu diharapkan untuk tampil seunik mungkin, asalkan sesuai tema. Semakin nyentrik, semakin menarik perhatian, semakin jadi bahan perbincangan, semakin bagus!

Justru penampilan aneh macam Kim Kardashian inilah yang membuat kita selalu menunggu MET Gala setiap tahunnya. Publik menjadi penasaran dan menantikan outfit-outfit cetar nan mentereng dari para bintang yang tidak dapat ditemui di acara lain. Dengan menjadikan Kim dan Balenciaga sebagai buah bibir di media sosial, saya menilai kostum Dementor milik Kim MET Gala worthy banget!

 

  1. Sesuai Tema

Mengenakan gaun menyerupai T-shirt dengan tambahan “ekor”, Kim jelas mengikuti tema yang ada. T-shirt merupakan item fesyen yang ditemukan dan dipopulerkan oleh orang Amerika, sehingga bisa dibilang penampilan bintang “Keeping Up With The Kardashians” ini sudah Amerika banget!

Selain “Amerika” banget karena sejarahnya, outfit dari Kim juga sangat merefleksikan kebebasan.

T-Shirt alias kaus oblong pada awalnya merupakan pakaian dalam tentara Inggris dan Amerika pada abad ke-19 sampai awal abad ke-20. Item fesyen ini mulai populer setelah dikenakan aktor legendaris Marlon Brando pada tahun 1947 ketika ia memerankan tokoh Stanley Kowalsky dalam pentas broadwayA Street Named Desire” di Amerika Serikat.  Sejak itu, T-shirt booming di kalangan anak muda. Meski dianggap tidak sopan bagi orang-orang tua, para pemuda Amerika Serikat menjadikannya simbol kebebasan dan juga bagian dari identitas mereka.

Baik Kim maupun Balenciaga secara kreatif menginterpretasi tema bahwa American Independence tidak melulu terinspirasi dari bendera dan juga patung Liberty saja.

 

  1. Contoh Baik Taat Prokes

Perlu diingat bahwa event tahunan ini diselanggarakan di tengah-tengah pandemi Covid-19. Kim Kardashian patut dipuji dengan mengenakan outfit yang sesuai dengan prokes: pakai masker, kurangi kontak langsung dengan kulit, dan pembatasan sosial. Sayangnya Kim tinggal di Amerika, andai saja ia tinggal di Indonesia, pasti sudah segera dilantik jadi Duta Prokes Cegah Covid-19 hehe…

Kim tahu benar bahwa masker tidak terlalu ampuh melindunginya dari paparan virus. Masker masih saja menyisakan celah, terutama di area hidung. Untuk itu, Kim menutupi keseluruhan wajahnya dengan masker berbahan mirip stocking berwarna hitam. Alhasil, dia tidak perlu repot-repot mengenakan masker dan face shield.

Tak hanya itu, Kim juga memikirkan kehigienisan dengan menutup seluruh kulit di area tangan dan kaki. Sehingga, saat tamu lain bersalaman atau tidak sengaja menyentuh Kim, mereka tidak bersentuhan secara langsung. Penularan Covid-19 pun dapat diminimalisasi.

Yang terakhir, outfit Kim ini menjaganya dan para tamu lainnya untuk melakukan pembatasan sosial. Outfit serba tertutup nan horor ini membuat orang jadi malas rumpik bersama Kim, sehingga orang akan secara otomatis menjaga jarak dengannya. Apalagi, acara ini diselenggarakan pada malam hari, alhasil banyak orang yang jangankan dekat-dekat, melihatnya saja tidak bisa. Menyatu dengan gelapnya malam.

 

  1. Inspirasi Tampil Cetar dengan Budget Seadanya

Last but not least, outfit Kim dapat menjadi inspirasi bagi Pembaca yang ingin tampil mentereng di pesta dengan budget minimalis. Balenciaga tidak perlu bermodal banyak untuk menjadikan Kim Kardashian sebagai pusat perhatian di MET Gala. Cukup dua bahan: kaus dan stocking!

Nah, Pembaca bisa tuh DIY (do it yourself) kaus yang ada. Tinggal beli kain kaus untuk ekor tambahan, lalu dibawa ke penjahit terdekat. Akan lebih bagus kalau Pembaca bisa menjahit sendiri.

Selain bahannya cukup bersahabat di kantong, Pembaca juga tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk menyewa jasa MUA (make-up artist). Banyak perempuan yang rela membayar jutaan rupiah demi menjadi pusat perhatian di pesta. Tetapi, dengan ide outfit dari Kim Kardashian ini, Pembaca tidak usah repot-repot merogoh kocek mendalam, bukan?

Editor Picks