Menghidupkan Kembali Klise Kesadaran Kolektif 0 255

Oleh: Novirene Tania*

 

Perubahan sejumlah gaya hidup di tengah kenormalan baru rasa-rasanya memang tidak semudah itu untuk diadopsi dipraktikkan. Wajar, semua perubahan butuh waktu dan butuh adaptasi. Cepat lambatnya tergantung dari seberapa sering kita berusaha menjadikan sesuatu yang awalnya “tidak biasa” menjadi “biasa”.

Pandemi COVID-19 sampai saat ini nyatanya masih menyarang di negeri kita, memaksa kita sebagai makhluk sosial menjaga jarak. Pembatasan kontak fisik demi mencegah penularan mau tidak mau setiap kali di luar rumah. Sedih sih sebenarnya ketika kita refleks mau hahahihi sambil dorong manja lawan bicara, harus sedikit direm. Tos atau jabat tangan sebagai budaya yang telah mendarah daging di masyarakat kita, kini jadi ragu-ragu untuk dilakukan.

Berada dalam fase kenormalan baru, tidak sedikit tentunya dari kita yang terlibat dalam pembicaraan dengan topik seperti di atas. Melihat beberapa orang bergerombol di pojok lain ruang yang sama, gak sedikit menimbulkan pernyataan spontan, “memang susah orang jaman sekarang dibilangin”.

Di media sosial pun banyak ditemukan seperti ini, lebih parah bahkan. Teringat unggahan Mba Najwa Shihab yang berjudul “Kenapa Tidak Sia-Sia #dirumahaja” di akun yutupnya, banyak orang merasa pengorbanannya kesadarannya untuk di rumah aja sia-sia. Toh nyatanya banyak orang yang gak bisa nahan hasrat ke luar rumah bahkan untuk hal-hal yang tidak penting.

Berbagai literatur menyebut istilah kesadaran kolektif, yang saya rasa bisa mewakili hati kalian yang merasa tersakiti: aku dan kamu harusnya sama-sama saling mengusahakan. Namun, melihat semua orang belum seiya sepakat untuk cepat memberantas virus yang masih betah ini, istilah “kesadaran kolektif” yang begitu dalam makna menjadi tidak lebih dari sekadar klise.

Mewarisi stigma sebagai orang timur yang dikenal dengan semangat gotong royong tinggi, istilah kesadaran kolektif mungkin masih bisa ditoleransi. Kerja bakti membersihkan kampung, misalnya. Tentu ada saja kasus ketika satu dua orang malah melipir ke dalam kamar dan mengunci pintu gerbang rapat-rapat, pura-pura tidak ada di rumah. Akhirnya, daripada harus mengudak-ngudak yang suka main petak umpet, dengan armada yang sedikit pun, kampung tetap bisa bersih sekalipun memakan waktu lebih lama.

Namun, beda halnya dengan kesepakatan yang perlu dibangun di masa pandemi ini. COVID-19 bagaikan limbah dunia yang harus dilawan bersama. Perlu komitmen dari semua pihak tanpa membedakan siapa mereka dan apa perannya.

Ya, intinya semua orang mau tidak mau harus menegakkan protokol kesehatan. Bangun pola pikir paling sederhana, bahwa ketidaktaatan kita bisa berdampak buruk bagi keselamatan nyawa orang lain. Demikianlah kesadaran kolektif, sangat jelas maknanya.

Lalu, kini, pertanyaannya adalah bagaimana membangun kesadaran kolektif? Sebagai makhluk yang dianugerahi akal dan pikiran, sudah selayaknya pemahaman dilebarkan, mendobrak sekat-sekat kebingungan, menjawab“saya bisa bertindak apa?”

Partisipasi melawan pandemi tidak harus dengan menerjunkan diri sebagai garda terdepan penanganan jika kita bukan tenaga medis. Masih banyak cara, bahkan dari yang paling sederhana: membangun kesadaran individu.

Bagi kita yang masih bisa melakukan anjuran di rumah aja, sudah seharusnya kita bisa tetap menahan diri. Tetap duduk anteng di depan ponsel atau laptop, melakukan hal-hal produktif jarak jauh. Gunakan media sosial sebagai ajang untuk bisa membagikan energi positif. Berhenti menebar kebencian yang hanya mengundang orang-orang terpancing hingga berbuat anarkis.

Percayalah, efek domino akan terjadi: satu kesadaran baik akan menular kepada yang lain. Memang klise, tapi tak ada salahnya kita lakukan untuk menghadapi Corona.

 

*) Mahasiswi rantau Yogyakarta asal Bekasi. Baru-baru ini hobi memperhatikan hal-hal kecil sejak pandemi. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @novirenetania.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ruwetnya Kerja dengan Orang Jawa 0 395

Jika pembaca sedang melamar pekerjaan dan mengetahui bos Anda adalah orang Jawa, atau Anda sebagai atasan dan seorang pelamar kerja imut-imut bau kencur yang akan jadi bawahan adalah orang Jawa, sebaiknya mengambil ancang-ancang 10 ribu kali. Jika perlu, berpuasalah 3 siang-malam untuk mendapat ilham cara bertahan hidup ke depannya.

Bekerjasama dengan orang Jawa itu ruwet. Ini adalah keniscayaan.

Sebab, (kami) orang Jawa adalah suatu suku di muka bumi ini yang diberi kelebihan oleh Sang Kuasa sebagai orang-orang perasa.

Kami sarankan kepada para bos, mohon kalau bicara atau memberi perintah jangan sambil berteriak. Usahakan volume suara Anda tetap dalam tataran normal ke sedang, tidak terlalu pelan untuk bisa didengar, namun juga tidak terlalu kencang sampai membuat jantung copot. Sebab mendengar suara bos membentak-bentak membuat hati kami ciut, terlepas dari karakter vokal dan kebiasaan sehari-hari sang pemilik suara.

Selain berteriak, bos-bos yang hobi bicara lembut tapi nyelekit juga suatu tantangan bagi kami. Walau mungkin konteks pembicaraan adalah dalam lingkup profesionalitas kerja, tanpa menyinggung persona, kami akan menyimpannya dalam hati dan kepikiran sampai berhari-hari. Secuil kesalahan kami yang dikoreksi atasan dengan kritikan pedas, rasanya seperti telah memporak-porandakan seluruh imej dan karir.

Kami peringatkan juga untuk para bos agar cukup tegar hatinya. Karena kami, para pegawai kelas menengah akan kerap ngrasani di belakang. Kami tak punya cukup nyali untuk berargumen di depan bos. Alasannya, tentu karena kami sangat menjunjung tinggi unggah-ungguh bersikap dengan atasan. Sebaliknya, kami terbiasa mbendol mburi. Cacat-cela – sekecil apapun – akan menjadi bahan rasan-rasan kami ketika ngopi bareng.

Sesungguhnya, selain dengan bos, keruwetan itu juga terjadi dalam hubungan yang sederajat. Dalam berbagai proyek, kami dituduh klemar-klemer. Kalian perlu tahu, wahai fellow buruh bayaran, ini bukan karena kami tak tangkas bekerja, tapi karena mengutamakan kehati-hatian. Kami berpikir sebelum bicara, bukannya gamang. Penuh perhitungan sebelum bertindak, bukan bimbang.

Persoalan pelik lain dengan sesama karyawan, tentu saja perihal penggunaan bahasa. Padahal komunikasi yang baik adalah koentji kekompakan dalam lingkungan kerja. Namun, tak jarang kami kesulitan menerjemahkan maksud kami ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa gaul lain yang bisa dipahami secara nasional.

Terkadang yang ada di otak maunya melontarkan satu kalimat utuh atau pendeskripsian situasi dalam bahasa Jawa, tapi sadar betul bahwa lawan bicara kemungkinan besar tak akan mengerti. Butuh setidaknya 5 detik supaya otak dapat meng-google-translate­-kannya. Jangan heran bila dalam percakapan sehari-hari, ada jeda waktu yang tercipta dari antara jawaban-ke-jawaban yang keluar dari mulut kami. Tentu, proses internal kami memakan waktu dan tenaga yang tak sedikit.

Lha wong buat ngobrol biasa saja kami ngos-ngosan beradaptasi, apalagi mau bercanda.

Beberapa permasalahan yang telah dijabarkan di atas, belum termasuk fakta-fakta di lapangan bagi kami yang bekerja di ibu kota. Mendengar logat kami yang khas, dengan penekanan huruf mati yang muanteb (baca: medhok), sesama karyawan biasanya akan bertanya “Asalnya dari mana? Dari Jawa ya?”

Entah apa maksud pertanyaan ini, benar ingin tahu atau menertawakan logat kami yang unik. Pun pertanyaan ini sungguh lucu dan menampik kenyataan bahwa ia, yang bertanya, dan tempat kami berdiri ini, juga namanya Pulau Jawa.

Tapi tak mengapa. Pengalaman yang terakhir itu wajar adanya. Sama seperti gaya bicara ke-Jakarta-jakarta-an yang terdengar di tongkrongan tempat asal saya, yang terdengar asing dan menggemaskan.

Oh iya, di Pulau Jawa yang maha-sempit namun sok-sokan menjadi pusat dunia ini, ada beragam variasi orang Jawa dengan segala kelakuannya di tempat kerja. Barangkali, yang tertulis di sini adalah kisah satu jenis orang Jawa saja.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 199

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks