Menghidupkan Kembali Klise Kesadaran Kolektif 0 186

Oleh: Novirene Tania*

 

Perubahan sejumlah gaya hidup di tengah kenormalan baru rasa-rasanya memang tidak semudah itu untuk diadopsi dipraktikkan. Wajar, semua perubahan butuh waktu dan butuh adaptasi. Cepat lambatnya tergantung dari seberapa sering kita berusaha menjadikan sesuatu yang awalnya “tidak biasa” menjadi “biasa”.

Pandemi COVID-19 sampai saat ini nyatanya masih menyarang di negeri kita, memaksa kita sebagai makhluk sosial menjaga jarak. Pembatasan kontak fisik demi mencegah penularan mau tidak mau setiap kali di luar rumah. Sedih sih sebenarnya ketika kita refleks mau hahahihi sambil dorong manja lawan bicara, harus sedikit direm. Tos atau jabat tangan sebagai budaya yang telah mendarah daging di masyarakat kita, kini jadi ragu-ragu untuk dilakukan.

Berada dalam fase kenormalan baru, tidak sedikit tentunya dari kita yang terlibat dalam pembicaraan dengan topik seperti di atas. Melihat beberapa orang bergerombol di pojok lain ruang yang sama, gak sedikit menimbulkan pernyataan spontan, “memang susah orang jaman sekarang dibilangin”.

Di media sosial pun banyak ditemukan seperti ini, lebih parah bahkan. Teringat unggahan Mba Najwa Shihab yang berjudul “Kenapa Tidak Sia-Sia #dirumahaja” di akun yutupnya, banyak orang merasa pengorbanannya kesadarannya untuk di rumah aja sia-sia. Toh nyatanya banyak orang yang gak bisa nahan hasrat ke luar rumah bahkan untuk hal-hal yang tidak penting.

Berbagai literatur menyebut istilah kesadaran kolektif, yang saya rasa bisa mewakili hati kalian yang merasa tersakiti: aku dan kamu harusnya sama-sama saling mengusahakan. Namun, melihat semua orang belum seiya sepakat untuk cepat memberantas virus yang masih betah ini, istilah “kesadaran kolektif” yang begitu dalam makna menjadi tidak lebih dari sekadar klise.

Mewarisi stigma sebagai orang timur yang dikenal dengan semangat gotong royong tinggi, istilah kesadaran kolektif mungkin masih bisa ditoleransi. Kerja bakti membersihkan kampung, misalnya. Tentu ada saja kasus ketika satu dua orang malah melipir ke dalam kamar dan mengunci pintu gerbang rapat-rapat, pura-pura tidak ada di rumah. Akhirnya, daripada harus mengudak-ngudak yang suka main petak umpet, dengan armada yang sedikit pun, kampung tetap bisa bersih sekalipun memakan waktu lebih lama.

Namun, beda halnya dengan kesepakatan yang perlu dibangun di masa pandemi ini. COVID-19 bagaikan limbah dunia yang harus dilawan bersama. Perlu komitmen dari semua pihak tanpa membedakan siapa mereka dan apa perannya.

Ya, intinya semua orang mau tidak mau harus menegakkan protokol kesehatan. Bangun pola pikir paling sederhana, bahwa ketidaktaatan kita bisa berdampak buruk bagi keselamatan nyawa orang lain. Demikianlah kesadaran kolektif, sangat jelas maknanya.

Lalu, kini, pertanyaannya adalah bagaimana membangun kesadaran kolektif? Sebagai makhluk yang dianugerahi akal dan pikiran, sudah selayaknya pemahaman dilebarkan, mendobrak sekat-sekat kebingungan, menjawab“saya bisa bertindak apa?”

Partisipasi melawan pandemi tidak harus dengan menerjunkan diri sebagai garda terdepan penanganan jika kita bukan tenaga medis. Masih banyak cara, bahkan dari yang paling sederhana: membangun kesadaran individu.

Bagi kita yang masih bisa melakukan anjuran di rumah aja, sudah seharusnya kita bisa tetap menahan diri. Tetap duduk anteng di depan ponsel atau laptop, melakukan hal-hal produktif jarak jauh. Gunakan media sosial sebagai ajang untuk bisa membagikan energi positif. Berhenti menebar kebencian yang hanya mengundang orang-orang terpancing hingga berbuat anarkis.

Percayalah, efek domino akan terjadi: satu kesadaran baik akan menular kepada yang lain. Memang klise, tapi tak ada salahnya kita lakukan untuk menghadapi Corona.

 

*) Mahasiswi rantau Yogyakarta asal Bekasi. Baru-baru ini hobi memperhatikan hal-hal kecil sejak pandemi. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @novirenetania.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 114

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 137

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks