Menghidupkan Kembali Klise Kesadaran Kolektif 0 593

Oleh: Novirene Tania*

 

Perubahan sejumlah gaya hidup di tengah kenormalan baru rasa-rasanya memang tidak semudah itu untuk diadopsi dipraktikkan. Wajar, semua perubahan butuh waktu dan butuh adaptasi. Cepat lambatnya tergantung dari seberapa sering kita berusaha menjadikan sesuatu yang awalnya “tidak biasa” menjadi “biasa”.

Pandemi COVID-19 sampai saat ini nyatanya masih menyarang di negeri kita, memaksa kita sebagai makhluk sosial menjaga jarak. Pembatasan kontak fisik demi mencegah penularan mau tidak mau setiap kali di luar rumah. Sedih sih sebenarnya ketika kita refleks mau hahahihi sambil dorong manja lawan bicara, harus sedikit direm. Tos atau jabat tangan sebagai budaya yang telah mendarah daging di masyarakat kita, kini jadi ragu-ragu untuk dilakukan.

Berada dalam fase kenormalan baru, tidak sedikit tentunya dari kita yang terlibat dalam pembicaraan dengan topik seperti di atas. Melihat beberapa orang bergerombol di pojok lain ruang yang sama, gak sedikit menimbulkan pernyataan spontan, “memang susah orang jaman sekarang dibilangin”.

Di media sosial pun banyak ditemukan seperti ini, lebih parah bahkan. Teringat unggahan Mba Najwa Shihab yang berjudul “Kenapa Tidak Sia-Sia #dirumahaja” di akun yutupnya, banyak orang merasa pengorbanannya kesadarannya untuk di rumah aja sia-sia. Toh nyatanya banyak orang yang gak bisa nahan hasrat ke luar rumah bahkan untuk hal-hal yang tidak penting.

Berbagai literatur menyebut istilah kesadaran kolektif, yang saya rasa bisa mewakili hati kalian yang merasa tersakiti: aku dan kamu harusnya sama-sama saling mengusahakan. Namun, melihat semua orang belum seiya sepakat untuk cepat memberantas virus yang masih betah ini, istilah “kesadaran kolektif” yang begitu dalam makna menjadi tidak lebih dari sekadar klise.

Mewarisi stigma sebagai orang timur yang dikenal dengan semangat gotong royong tinggi, istilah kesadaran kolektif mungkin masih bisa ditoleransi. Kerja bakti membersihkan kampung, misalnya. Tentu ada saja kasus ketika satu dua orang malah melipir ke dalam kamar dan mengunci pintu gerbang rapat-rapat, pura-pura tidak ada di rumah. Akhirnya, daripada harus mengudak-ngudak yang suka main petak umpet, dengan armada yang sedikit pun, kampung tetap bisa bersih sekalipun memakan waktu lebih lama.

Namun, beda halnya dengan kesepakatan yang perlu dibangun di masa pandemi ini. COVID-19 bagaikan limbah dunia yang harus dilawan bersama. Perlu komitmen dari semua pihak tanpa membedakan siapa mereka dan apa perannya.

Ya, intinya semua orang mau tidak mau harus menegakkan protokol kesehatan. Bangun pola pikir paling sederhana, bahwa ketidaktaatan kita bisa berdampak buruk bagi keselamatan nyawa orang lain. Demikianlah kesadaran kolektif, sangat jelas maknanya.

Lalu, kini, pertanyaannya adalah bagaimana membangun kesadaran kolektif? Sebagai makhluk yang dianugerahi akal dan pikiran, sudah selayaknya pemahaman dilebarkan, mendobrak sekat-sekat kebingungan, menjawab“saya bisa bertindak apa?”

Partisipasi melawan pandemi tidak harus dengan menerjunkan diri sebagai garda terdepan penanganan jika kita bukan tenaga medis. Masih banyak cara, bahkan dari yang paling sederhana: membangun kesadaran individu.

Bagi kita yang masih bisa melakukan anjuran di rumah aja, sudah seharusnya kita bisa tetap menahan diri. Tetap duduk anteng di depan ponsel atau laptop, melakukan hal-hal produktif jarak jauh. Gunakan media sosial sebagai ajang untuk bisa membagikan energi positif. Berhenti menebar kebencian yang hanya mengundang orang-orang terpancing hingga berbuat anarkis.

Percayalah, efek domino akan terjadi: satu kesadaran baik akan menular kepada yang lain. Memang klise, tapi tak ada salahnya kita lakukan untuk menghadapi Corona.

 

*) Mahasiswi rantau Yogyakarta asal Bekasi. Baru-baru ini hobi memperhatikan hal-hal kecil sejak pandemi. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @novirenetania.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Panduan Killing Time 12 Tahun untuk yang Terkasih, Pak Juliari 0 251

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

 

Majelis hakim Pengadilan Tipikor sudah ketok palu vonis terhadap mantan Mensos Juliari Peter Batubara 12 tahun penjara dan denda 500 juta subsidair 6 bulan kurungan. Juliari terbukti sah menerima suap 10 ribu rupiah per bansos alias 32,4 M kalo dikumpulin.

Kami gak mau membuli seperti yang mahabenar tuan dan nyonya netijen. Kami tahu, betapa tersiksa batin Pak Juliari yang kami kasihi. Kalo katanya arek-arek saiki: sudah kena mental.

Apalagi, Bapak sempat memohon belas kasih buat meringankan hukuman, karena tak bisa membayangkan akan meninggalkan anak istri di rumah. Sungguh sebuah teladan family man bagi kaum penerus bangsa. Poin ini lebih membuat kami tak tega menambah-nambahi beban Bapak dengan sumpah serapah (karena porsi itu sudah diamalkan netijen dengan sebaik-baiknya).

Untuk itu, pada kesempatan ini, kami justru ingin memberi sejumlah saran: panduan mengisi waktu selama nanti di kurungan. Tujuannya tentu agar Bapak tidak cepat bosan.

Panduan ini kami rasa manjur buat Bapak. Karena, sebagian besarnya sudah kami lakukan selama 1,5 tahun ke belakang, yang harus banyak-banyak di rumah karena terdampak pandemi (dan terdampak dapet bansos kualitas jelek gara-gara anggarannya dipotong).

Ini yang pertama, Pak. Bapak tentu ingat kopi dalgona yang sempat tenar itu. Sudah lama sekali tren membuatnya ditinggalkan dengan begitu cepat. Ada baiknya tren ini dihidupkan kembali.

Ikuti panduannya ya, Pak! Campurkan kopi hitam sachet pahitnya kehidupan dengan air panasnya neraka bagi koruptor. Kemudian aduk terus menerus dengan rasa ego sampai berbusa dan meluapkan keserakahan. Terakhir, letakkan buih kopi itu di atas segelas susu Bear Brand yang masih aja 15 ribu sampe sekarang. Selamat menikmati!

Cara ini cukup mudah Pak. Kami rasa, meminta kopi dan susu ke sipir penjara bukan suatu hal yang neko-neko kok. Pasti dikabulkan. Wong minta kamar VIP aja (udah pasti) dilayani kan, hehehehe.

Kedua, era pandemi ini eranya webinar, Pak. Hidup ini gak afdol kalo belum ikut webinar, minimal sekali seminggu. Tentu posisi Bapak bukan sebagai peserta yang cuma nunut “izin nyimak”. Pak Juliari mah pantesnya narasumber utama, keynote speaker.

Tema yang cocok tentu: “Say No to Korupsi!”. Masyarakat di Indonesia kita tercinta ini Pak, lebih percaya testimoni daripada hasil riset, soalnya mereka males baca. Kita lebih suka motivasi dari mereka yang telah berpengalaman dan sukses, ya seperti Bapak ini.

Materinya sederhana, Pak. Boleh dilengkapi power point yang eye-catching biar keliatan berkredibel. Inti pembicaraannya cuma ini: “Sumpah gais, dipenjara itu gak enak. Plis jangan korupsi! Ini gak di-endorse ya. Real testi”

Sasaran peserta buat webinar ini luas banget, Pak. Mulai dari pejabat rt-rw, sampai lingkaran pertama kayak jabatan terdahulu Bapak. Materinya bakal relateable. Dan semoga mampu menyadarkan mereka biar kapok korupsi. Yah, meskipun kalimat terakhir ini kayaknya utopis hehe.

Ketiga, coba deh, Pak, mulai nonton drama korea. Atau kalau langkah itu masih terlalu ekstrem buat Bapak, minimal nonton video klip boyband dan girlband korea. Saya jamin sih nagih, pengen lagi, pengen terus.

Bapak juga harus ingat, sebagian dari netijen kita ini penggemar apa-apa yang berbau Korea, Pak. Apapun yang trending nomer 1 di Twitter sudah pasti adalah hasil cuitan akun berfoto idol Kpop yang substansinya gak nyambung sama sekali sama topik yang lagi dibicarakan. Itu sudah pertanda seberapa menguasainya populasi mereka di alam dunia maya.

Artinya, ini bisa jadi langkah strategis Bapak untuk menguasai mereka. Mulai dengan menyukai apa yang mereka sukai, dekati, rayu, dan jadi akrab sama mereka. Bila perlu, kita bisa bikin ruang diskusi di Clubhouse yang bahas soal drakor terbaru, Pak.

Hukuman Bapak cuma empat tahun untuk tidak dipilih dalam jabatan publik. Empat tahun itu cuma kurang dari 1 periode presiden, Pak. Bentar itu, mah. Selanjutnya, netijen Korean wave yang sudah mencintai Bapak, tetap bisa menghantarkan Bapak ke kursi tertinggi di dunya ini.

Yah kalo impian ini sulit terwujud, setidaknya Bapak nanti tinggal ganti nama jadi JPB, bikin Youtube, dan bismillah komisaris BUMN.

Demikian panduan ini dibuat dengan sepenuh hati Pak. Kami percaya Bapak pasti bisa melalui cobaan ini semua dengan kepala tegak dan kebanggaan di dada. Kalo kami aja bisa melakukan hal-hal ini selama setahun di rumah aja, Bapak juga pasti bisa, tinggal dikaliin 12.

Tipe-tipe Pasien Isolasi Mandiri (Kamuuuu Mungkin Salah Satunya) 0 371

Pernah menjadi pasien positif Covid-19 di Indonesia, atau setidaknya pernah berinteraksi dengan pasien positif, bisa memberikan sejumlah pengalaman unik dalam hidup.

Terlebih di kurun lonjakan kedua pandemi ini, saat mayoritas warga yang positif terpaksa isolasi mandiri alias ‘isoman’ di tempat tinggal masing-masing. Sebab kapasitas penanganan pasien di RS maupun puskesmas harus diprioritaskan bagi mereka yang bergejala sedang hingga berat.

Dibandingkan mereka yang harus berebut jatah ventilator oksigen atau dag-dig-dug menanti donor plasma konvalesen, tantangan yang dihadapi pasien isoman memang relatif lebih mudah. Paling-paling cuma ngelus dompet dada ketika nggak kebagian jatah obat gratis, atau nggak tahan pengen tahu hasil PCR dari puskesmas yang keluarnya dua minggu setelah di-swab.

Di sisi lain, situasi tersebut ternyata bisa memunculkan tabiat unik manusia yang kadang lucu-lucu kalau diperhatikan. Berikut beberapa tipe pasien isoman yang marak ditemui di Endonesah.

 

Tipe Esktra Waspada

Tipe ini didominasi mereka yang bisa merogoh kocek sedikit lebih dalam daripada orang lain. Bagaimana tidak? Sejak awal merasa tidak enak badan, nggak tanggung-tanggung langsung swab PCR. PCR di puskesmas hasilnya lama keluar? No problemo. Bisa PCR mandiri.

Begitu dapat hasil positif, mereka tidak bisa tidak bertanya-tanya: kok bisa? Padahal selama ini sudah menjalankan protokol kesehatan alias ‘prokes’ superketat, dengan alokasi investasi terbesar untuk sarung tangan plastik dan masker N95.

Sebagai warga negara yang baik, mereka langsung lapor ke RT dan RW sambil melarang betul-betul tetangga satu komplek untuk bertamu ke rumah. Kalau ada yang mau kirim barang atau makanan, boleh, tinggal dicentelin alias digantung di tempat gantungan yang sudah disiapkan di pagar.

Nggak dapat penanganan dari puskesmas nggak masalah. Toh mereka sudah gercep pesan obat-obatan, vitamin, dan oksimeter secara online. Tak lupa ketika paket datang, wajib disemprot disinfektan dulu sebelum masuk rumah. Karena memang dasarnya waspada gyet, mereka juga sudah siap tabung oksigen yang terisi penuh, oxycan, sampai nebulizer.

Isoman kelar, harus PCR lagi dong. Karena kalau belum melihat kata ‘negatif’, jiwa belum tenang shay

 

Tipe Denial

Ini tipe yang paling bikin repot, didominasi boomers dengan hobi mem-forward pesan dan video di WA secepat kilat. Tipe ini juga bisa dibagi jadi dua jenis.

Pertama, mereka yang menganut teori konspirasi, yang sejak awal tidak percaya ada virus Covid-19 dan tidak mau prokes. Kedua, mereka yang percaya corona itu ada, tapi entah bagaimana merasa diri mereka adalah manusia super nan spesial yang nggak mungkin terjangkit.

Keduanya sama. Begitu dibuktikan positif, masih saja tidak percaya. Kata-kata andalannya, “Ini tuh flu biasa!”

Kalau dilarang supaya jangan ketemu orang dulu, marah-marah. Kalau disuruh minum obat, menolak mentah-mentah. Walhasil yang jadi pusing dan turun imun bukan dia, tapi keluarganya.

 

Tipe Paulus

Nama tipe ini terinspirasi cerita Rasul Paulus dalam kitab suci umat Nasrani. Rasul yang dulu hater-nya Yesus itu, yang lalu berubah 180 derajat setelah dapat terapi syok dan berubah jadi penginjil relijius.

Pasien tipe ini awalnya sama seperti tipe denial. Anti-corona dan sangat vokal dalam menunjukkan pendiriannya itu. Senantiasa menantang, “Mana coba, corona itu?” Tentunya, mereka juga amat tidak taat prokes.

Sialnya, ketika dikecup oleh sang corona, mereka termasuk yang langsung mengalami gejala cukup berat. Makin stres setelah tidak ada RS yang bisa menerima, mereka terpaksa dirawat dengan seadanya dan sebisanya di rumah sendiri. Tak jarang anggota keluarga lain harus turut spaneng karena harus mencarikan obat-obatan, bahkan antre berjam-jam untuk dapat oksigen kalau mereka sudah mulai sesak napas.

Bagai tersiram cahaya surgawi, setelah sembuh dengan susah-payah, pasien tipe ini berubah menjadi penginjil Covid-19. Mau hidup dengan lebih sehat dan gencar menceritakan pengalaman pribadinya, walau kadang harus tahan diejek netijen. Beberapa bahkan bersedia jadi relawan, minimal di lingkup RT sendiri.

Tak bisa dipungkiri, kalau ketemu kisah pertobatan macam begini sensasinya bagaikan nonton video masak ASMR. Sooo satisfying… 🙂

 

Tipe Impulsif

Kalau yang satu ini karakternya gampang banget percaya sama video kesehatan dari TikTok yang berseliweran di media sosial. Mereka juga mudah percaya sama omongan teman-teman grup WA, sekalipun baru berupa “katanya si itu” dan “katanya si ini”.

Padahal info-info itu masih perlu dikroscek dulu dari sumber lain, apakah benar dan relevan dengan kebutuhan diri sendiri. Jangan-jangan, rekomendasi yang ditonton atau dibaca itu malah bisa membahayakan kesehatan.

Ada yang bilang harus minum antibiotik, langsung minum tanpa konsultasi dokter. Ada yang bilang produk MLM herbal ‘X’ bisa meningkatkan imun, langsung beli banyak. Ada yang bilang harus minum vitamin C 1000 setiap tiga jam, langsung diikuti. Jangankan malah jadi memicu penyakit lain, lambung nggak keburu modyar aja sudah alhamdulillah.

 

Tipe Woles Wae

Tipe ini didominasi oleh mereka yang tidak bergejala dan bergejala sangat ringan. Mereka cukup cuek kalau menerima pesan-pesan dari keluarga dan kerabat yang menyampaikan kekhawatiran berlebihan. Tidak merasa anxious maupun panik saat membaca update terbaru tentang situasi Covid-19, tapi juga tidak terlalu aktif mencari-cari berita.

Mungkin karena sudah tahu kalau tubuhnya punya imun yang kuat, pasien tipe ini merasa tidak perlu ada perubahan berarti dalam hidupnya. Ya paling istirahat diperbanyak, makanan dipastikan bergizi, dan tiap pagi hari berjemur. Pesan makanan bisa online. Kalau nggak begitu ya beli sendiri keluar rumah tapi dengan prokes lebih ketat. Beberapa bahkan merasa nggak perlu minum obat dan vitamin karena terasa berlebihan.

 

Tipe Selebriti

Nah, kalau tipe yang ini, begitu dapat surat pernyataan positif, langsung dipotret dan di-upload ke story Instagram. Diikuti dengan update setiap harinya bertajuk ‘Isoman day one’, ‘day two’, dan seterusnya lengkap dengan deskripsi gejala yang dirasakan.

Alhasil, banyak yang kirim DM menanyakan kabar, mendoakan supaya cepat sembuh, dan nanyain alamat yang tentu saja dijawab dengan, “Nggak usah repot-repot.” Kemudian melalui pola komunikasi tarik-ulur dan sungkan-sungkanan, mereka akhirnya membagikan alamat juga.

Setiap hari mereka dapat kiriman kue-kue favorit, vitamin, susu, dan lain-lain. Tentu saja semuanya difoto, diunggah ke story untuk bilang terima kasih sambil nge-tag si pengirim. Yaaa… Nggak ada yang salah sih. Semakin banyak dapat support, semakin hemat meningkat imun kita.

 

Bagi pembaca yang pernah positif, kalian termasuk tipe yang mana? Salah satu atau kombinasi? Tentu masih banyak tipe pasien isoman yang belum tertulis di sini.

Termasuk mereka yang tidak tertangani sebagaimana mestinya dan akhirnya tak mampu bertahan. Mari turut berdoa untuk mereka yang terpaksa harus meninggalkan orang-orang yang dicintai.

Di saat-saat seperti ini, badan dan akal jiwa yang sehat sungguh adalah sebuah kemewahan.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Editor Picks