Menyoal Kegalauan Mahasiswa Baru yang Merasa Salah Pilih Jurusan 0 446

Oleh: Jaysen Brian Susanto*

Ketika dulu bekerja sampingan sebagai guru les Fisika untuk mengisi liburan, para camaba (calon mahasiswa baru) sering meminta pendapat saya mengenai perguruan tinggi. Pernah suatu ketika, ada yang berkata seperti ini.

Mas, saya sudah diterima di ***, tapi gak suka sama jurusannya, rasanya pingin ikut tes lagi.”

Saya pun menjawab, “Lah, kalo gak suka sama jurusannya, ngapain daftar di sana?”

Itu sekadar pendahuluan. Mungkin beberapa dari Anda mangkel bacanya (termasuk saya sendiri). Padahal, ia hanya tinggal mendaftar ulang, sedangkan teman-temannya di luar sana masih harus berjuang, bergelut dengan buku-buku  tebal, dan soal-soal yang tiada habisnya. Bagaimanapun, kasus-kasus semacam ini memang sering terjadi pada camaba yang mendaftar perguruan tinggi, baik itu PTN (Perguruan Tinggi Negeri), PTK (Perguruan Tinggi Kedinasan), maupun PTS (Perguruan Tinggi Swasta).

Setiap tahunnya, sekitar 3,5 juta siswa lulus dari SLTA sederajat. Meskipun tidak semuanya melanjutkan kuliah, tetap saja daya tampung universitas masih jauh lebih kecil daripada jumlah pendaftar yang ada. Oleh karena itu, lebih sering kita mendengar “isak tangis” daripada “tangis haru”.

Lalu, bagaimana dengan yang sudah mendapatkan kursi, namun memilih untuk ikut tes masuk di perguruan tinggi lain? Apabila ia diterima (lagi), ia harus memilih salah satu (atau salah banyak) untuk dilepaskan. Kursi tersebut akhirnya menjadi kosong dan akan tetap kosong! Dengan kata lain, pihak universitas tidak mau susah payah mencari penggantinya.

Tentunya banyak pihak yang dirugikan, terutama bagi camaba yang benar-benar menginginkan jurusan tersebut. Beginilah reaksi netizen yang saya temukan baik di Instagram atau Twitter secara umum menanggapi masalah ini:

Ah contoh manusia kurang bersyukur!”

“Manusia emang gak pernah puas, ya!”

Kufur nikmat!”

“Kasih kesempatan buat yang lain, lah! Dasar EGOIS!”

Oke, cukup!

Di sini muncul kata baru “egois” yang artinya tindakan mementingkan diri sendiri di atas kepentingan orang lain. Sebelum kita membahas apakah tindakan tes PTN lagi termasuk ‘egois’ atau tidak, terdapat beberapa poin penting yang harus diketahui.

Yang pertama, kita sadar bahwa setiap orang memiliki visi hidup. Visi tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk life-plan atau rencana hidup, salah satunya berkuliah. Merencanakan kuliah (menentukan jurusan dan kampus) itu bukan perkara mudah.

Butuh pertimbangan yang mendalam. Memahami minat dan bakat, konsultasi dengan orang terdekat, bahkan sampai menelusuri jati diri untuk memastikan jurusan yang dipilih tepat atau tidak. Bukankah kita sudah sering mendengar berita mahasiswa mengakhiri hidup karena tidak sanggup menjalani perkuliahan?

Lalu, pasti ada yang bertanya-tanya, kalau sedari awal sudah mengetahui minat dan bakat, mengapa sampai harus gonta-ganti jurusan? Pada kenyataannya, tidak sesederhana itu! Seperti yang kita ketahui, manusia adalah makhluk yang memiliki akal, budi, dan perasaan!

Misalkan saya ingin masuk ke universitas A, jurusan B. Ada juga orang di luar sana yang mempunyai mimpi serupa. Malah bukan hanya ada, tapi banyak! Itulah persaingan.

Setiap orang menanggapi persaingan dengan sikap yang berbeda. Ada yang optimistis, ambisius, pragmatis dan ada juga yang pesimistis. Dua tipe terakhir ini merasa kurang percaya diri, minder, dan takut gagal. Alih-alih memperjuangkan mimpinya, mereka memilih untuk “berhenti di tengah” dan “cari aman” dengan mendaftar jurusan lain yang tidak sesuai minat. Setelah dinyatakan lolos, mereka kemudian menyesal, lalu kembali mengejar mimpinya yang sudah ‘dikubur’ itu.

Ada juga yang sekadar ingin coba-coba untuk menguji kemampuan, padahal sebenarnya ia tidak benar-benar ingin lolos.

Kemudian terdapat faktor eksternal, salah satunya adalah orang tua. Sungguh bahagia rasanya ketika orang tua mendukung jurusan apapun yang diminati anaknya. Tapi, bagaimana jika sebaliknya? Yang didapat justru bukan dukungan, melainkan cemoohan. Hal ini akan berdampak pada psikis dan mental camaba serta menghancurkan mimpi-mimpi mereka.

Ada juga kasus di mana orang tua sebenarnya mendukung, hanya saja terkendala ekonomi. Pada akhirnya, tidak sedikit yang memutuskan untuk mengundurkan diri dan mengikuti tes di lain tempat.

Lalu, kembali ke topik awal. Tidak etis rasanya jika mereka yang tidak lolos tes menyalahkan secara sepihak karena yang lolos melepaskan kursinya. Bisa saja mereka telah belajar dengan keras, mempersiapkan diri sebaik mungkin, namun tidak jadi mengambilnya karena suatu alasan. Siapa yang lebih siap bersaing, dialah yang akan menang.

Namun, jika pembaca menganggap tindakan ini sebagia egois, penyebabnya ada dua kemungkinan: Anda hanya merasa tidak senang, atau Anda pernah menjadi korban dari ‘ketidakadilan’ ini. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa tindakan ini juga merampas hak dan kesempatan orang lain untuk dapat berkuliah.

Pada akhirnya, persoalan egois atau tidak, semua itu kembali ke sudut pandang dan pola pikir masing-masing. Saya berharap artikel ini dapat memberikan wawasan baru dari sudut pandang yang berbeda, tanpa berusaha untuk mengajak debat atau percekcokan yang tidak perlu.

 

*) Lahir di Mataram pada 29 Oktober 2001, kini Penulis menuntut ilmu di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Mohon maaf bagi para gadis di luar sana, karena Penulis telah mengabdikan cinta matinya kepada Matematika dan Fisika.

*)Tulisan ini juga dimuat di e-Book “Eka-citta Writing Workshop Kamadhis UGM 2020” dan diedit seperlunya oleh tim redaksi.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 195

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 219

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks