Menyoal Kegalauan Mahasiswa Baru yang Merasa Salah Pilih Jurusan 0 1080

Oleh: Jaysen Brian Susanto*

Ketika dulu bekerja sampingan sebagai guru les Fisika untuk mengisi liburan, para camaba (calon mahasiswa baru) sering meminta pendapat saya mengenai perguruan tinggi. Pernah suatu ketika, ada yang berkata seperti ini.

Mas, saya sudah diterima di ***, tapi gak suka sama jurusannya, rasanya pingin ikut tes lagi.”

Saya pun menjawab, “Lah, kalo gak suka sama jurusannya, ngapain daftar di sana?”

Itu sekadar pendahuluan. Mungkin beberapa dari Anda mangkel bacanya (termasuk saya sendiri). Padahal, ia hanya tinggal mendaftar ulang, sedangkan teman-temannya di luar sana masih harus berjuang, bergelut dengan buku-buku  tebal, dan soal-soal yang tiada habisnya. Bagaimanapun, kasus-kasus semacam ini memang sering terjadi pada camaba yang mendaftar perguruan tinggi, baik itu PTN (Perguruan Tinggi Negeri), PTK (Perguruan Tinggi Kedinasan), maupun PTS (Perguruan Tinggi Swasta).

Setiap tahunnya, sekitar 3,5 juta siswa lulus dari SLTA sederajat. Meskipun tidak semuanya melanjutkan kuliah, tetap saja daya tampung universitas masih jauh lebih kecil daripada jumlah pendaftar yang ada. Oleh karena itu, lebih sering kita mendengar “isak tangis” daripada “tangis haru”.

Lalu, bagaimana dengan yang sudah mendapatkan kursi, namun memilih untuk ikut tes masuk di perguruan tinggi lain? Apabila ia diterima (lagi), ia harus memilih salah satu (atau salah banyak) untuk dilepaskan. Kursi tersebut akhirnya menjadi kosong dan akan tetap kosong! Dengan kata lain, pihak universitas tidak mau susah payah mencari penggantinya.

Tentunya banyak pihak yang dirugikan, terutama bagi camaba yang benar-benar menginginkan jurusan tersebut. Beginilah reaksi netizen yang saya temukan baik di Instagram atau Twitter secara umum menanggapi masalah ini:

Ah contoh manusia kurang bersyukur!”

“Manusia emang gak pernah puas, ya!”

Kufur nikmat!”

“Kasih kesempatan buat yang lain, lah! Dasar EGOIS!”

Oke, cukup!

Di sini muncul kata baru “egois” yang artinya tindakan mementingkan diri sendiri di atas kepentingan orang lain. Sebelum kita membahas apakah tindakan tes PTN lagi termasuk ‘egois’ atau tidak, terdapat beberapa poin penting yang harus diketahui.

Yang pertama, kita sadar bahwa setiap orang memiliki visi hidup. Visi tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk life-plan atau rencana hidup, salah satunya berkuliah. Merencanakan kuliah (menentukan jurusan dan kampus) itu bukan perkara mudah.

Butuh pertimbangan yang mendalam. Memahami minat dan bakat, konsultasi dengan orang terdekat, bahkan sampai menelusuri jati diri untuk memastikan jurusan yang dipilih tepat atau tidak. Bukankah kita sudah sering mendengar berita mahasiswa mengakhiri hidup karena tidak sanggup menjalani perkuliahan?

Lalu, pasti ada yang bertanya-tanya, kalau sedari awal sudah mengetahui minat dan bakat, mengapa sampai harus gonta-ganti jurusan? Pada kenyataannya, tidak sesederhana itu! Seperti yang kita ketahui, manusia adalah makhluk yang memiliki akal, budi, dan perasaan!

Misalkan saya ingin masuk ke universitas A, jurusan B. Ada juga orang di luar sana yang mempunyai mimpi serupa. Malah bukan hanya ada, tapi banyak! Itulah persaingan.

Setiap orang menanggapi persaingan dengan sikap yang berbeda. Ada yang optimistis, ambisius, pragmatis dan ada juga yang pesimistis. Dua tipe terakhir ini merasa kurang percaya diri, minder, dan takut gagal. Alih-alih memperjuangkan mimpinya, mereka memilih untuk “berhenti di tengah” dan “cari aman” dengan mendaftar jurusan lain yang tidak sesuai minat. Setelah dinyatakan lolos, mereka kemudian menyesal, lalu kembali mengejar mimpinya yang sudah ‘dikubur’ itu.

Ada juga yang sekadar ingin coba-coba untuk menguji kemampuan, padahal sebenarnya ia tidak benar-benar ingin lolos.

Kemudian terdapat faktor eksternal, salah satunya adalah orang tua. Sungguh bahagia rasanya ketika orang tua mendukung jurusan apapun yang diminati anaknya. Tapi, bagaimana jika sebaliknya? Yang didapat justru bukan dukungan, melainkan cemoohan. Hal ini akan berdampak pada psikis dan mental camaba serta menghancurkan mimpi-mimpi mereka.

Ada juga kasus di mana orang tua sebenarnya mendukung, hanya saja terkendala ekonomi. Pada akhirnya, tidak sedikit yang memutuskan untuk mengundurkan diri dan mengikuti tes di lain tempat.

Lalu, kembali ke topik awal. Tidak etis rasanya jika mereka yang tidak lolos tes menyalahkan secara sepihak karena yang lolos melepaskan kursinya. Bisa saja mereka telah belajar dengan keras, mempersiapkan diri sebaik mungkin, namun tidak jadi mengambilnya karena suatu alasan. Siapa yang lebih siap bersaing, dialah yang akan menang.

Namun, jika pembaca menganggap tindakan ini sebagia egois, penyebabnya ada dua kemungkinan: Anda hanya merasa tidak senang, atau Anda pernah menjadi korban dari ‘ketidakadilan’ ini. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa tindakan ini juga merampas hak dan kesempatan orang lain untuk dapat berkuliah.

Pada akhirnya, persoalan egois atau tidak, semua itu kembali ke sudut pandang dan pola pikir masing-masing. Saya berharap artikel ini dapat memberikan wawasan baru dari sudut pandang yang berbeda, tanpa berusaha untuk mengajak debat atau percekcokan yang tidak perlu.

 

*) Lahir di Mataram pada 29 Oktober 2001, kini Penulis menuntut ilmu di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Mohon maaf bagi para gadis di luar sana, karena Penulis telah mengabdikan cinta matinya kepada Matematika dan Fisika.

*)Tulisan ini juga dimuat di e-Book “Eka-citta Writing Workshop Kamadhis UGM 2020” dan diedit seperlunya oleh tim redaksi.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengapa Pejabat Emoh dengan Media dan Memilih Channel Deddy Corbuzier 0 302

Pejabat atau pemerintah atau orang-orang penting seperti selebriti sekalipun, dari dulu takut dengan media. Sebab apapun pernyataan yang muncul dari mulut, tentu akan dikutip dan dijadikan judul berita, dari sudut beragam rupa, tergantung siapa wartawannya dan di media mana ia bekerja. Bahkan ketika si figur publik diam saja, bahasa tubuhnya tetap akan jadi berita, lengkap dengan kutipan narasumber ahli pembaca mimik wajah.

Tapi ada satu rahasia: sampai sekarang mereka-mereka ini masih takut dengan media.

Buktinya, mereka lebih mudah ditemui tampil di Youtube sekarang. Seorang teman wartawan dengar-dengar sempat sebel dengan seorang sosok penting. Katanya berhari-hari mengejarnya demi wawancara tak kunjung digubris. Begitu diundang Om Deddy Corbuzier untuk “wan tu tri klos de dor”, langsung mau ngomong panjang lebar dengan durasi 1 jam.

Pembaca tahu kan, channel Om Deddy itu memang ajaib. Di kursi potkesnya, segala macam menteri mulai dari yang kemudian digotong KPK, sampai Lord Luhut, sudah pernah duduk dan bercengkeramah di sana. Bahkan terakhir, sejumlah media mainstream sampai mengutip omongan Luhut dari Youtube Om Deddy, soal cara penanganan corona di Indonesia.

Beberapa orang yang dulu kita temui tenar sekali di layar kaca, sekarang bahkan membangun kanal Youtube sendiri. Buanyak contohnya. Saya rasa pembaca bahkan salah satu subscribernya. Mulai Raffi Ahmad sampai Bambang Soesatyo Ketua MPR RI, kini bikin channel sendiri.

Setidaknya, penulis membaca fenomena ini sebagai berikut:

Pertama, karena mereka-mereka ini tahu siapa target yang disasarnya. Kaum milenial sampai generasi Z dan Alpha. Mereka yang sudah mulai, bahkan sama sekali, meninggalkan media mainstream. Mereka yang menghabiskan hari-hari berselancar di media sosial. Mereka-mereka ini, terlebih para pejabat publik, berusaha meraih perhatian mereka dengan turut aktif bermedsos. Tentu untuk membangun citra baik.

Sebut saja Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta yang selalu jadi tempat menumpahkan sumpah serapah penyebab banjir, macet, dan episentrum covid-nya ibu kota. Baru kali ini saya lihat Anies marah-marah (loh kok niru-niru mantan walikotaku seh) pada pemimpin perusahaan non-esensial yang masih buka di kala PPKM Darurat mengharuskan 100 persen WFH.

Aksi itu bukan terekam di layar kaca berita loh ya, tapi di story Instargram-nya. Hal ini terjadi di tengah iritnya humas pemprov membagi agenda harian sidak-sidak gubernur pada awak media.

Belum lagi Khofifah Indar Parawansa, bunda-ne arek-arek, yang baru saja mengunggah foto tak biasa di akun Instagramnya. Bukan program kerja, melainkan tangkapan layar balas-balasan komennya dengan seorang netijen pemuda patah hati. Pendekatan yang sama juga sudah lama dilakukan Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng, dan terlebih Ridwan Kamil, Gubernur Jabar.

Mereka paham betul bagaimana bahasa yang harus digunakan pada para muda, dan topik apa saja yang menarik dibahas. Eh ralat, mungkin merekanya gak paham, setidaknya tim jubir, tim staf khusus ahli komunikasi, atau tim kampanye 2024-nya yang paham strategi memenangkan hati rakjat.

Hal kedua, ya tetap bermuara pada kesimpulan pejabat takut dengan media. Podcast para youtuber bisa menjadi pelarian yang paling tepat. Sebab hanya di medsos-lah, pejabat-pejabat ini bisa dengan bebas ngobrol soal musik favorit, hobi, bahkan love story. Hanya di sana, mereka bisa libur sejenak dari pertanyaan-pertanyaan memuakkan wartawan media mainstream yang tak pernah lelah “menyudutkan” (baca: mengkritisi).

Tapi gak apa-apa. Saya rasa, media mainstream tak perlu ikut-ikutan gaya youtuber agar disukai masyarakat atau membuat pejabat mau diwawancarai. Media cukup menjadi dirinya sendiri. Sebab apapun dalam kue kehidupan di dunya ini punya potongan dan porsinya masing-masing.

Media idealnya memang pilar keempat demokrasi dengan segala kekakuan prinsip, struktur, dan etika profesinya. Sementara medsos harus tetap ada pada pondasinya untuk membuat masyarakat kita berproses.

Masyarakat kita bisa tetap kok memilih media mainstream sebagai jujugan utama, landasan teori dan mewacanakan diskursus, yang kemudian bisa direalisasikan dalam tukar pendapat di medsos yang tak ada ambang batasnya, kecuali UU ITE.

Tapi, hal yang barusan saya bicarakan di atas itu kayaknya ya hanya harapan kita saja. Hari-hari ini, pembaca semua tahu, media mainstream dan media sosial sudah dikapitalisasi, jika tak terlalu kasar kita menyebutnya dimonopoli, oleh mereka yang berduit dan berkuasa saja, tak mampu membuat kita bebas mencerna dan berbagi wawasan.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Indonesia Harus Mencetak Lebih Banyak Duta 0 328

Judul tulisan ini bukan sekadar bercanda. Kalimat dalam judul saya tuliskan karena kenyataannya, pada titik ini, Indonesia sudah banyak sekali merekrut duta baru.

Sebut saja dua duta masker dari Bekasi dan Surabaya. Mereka bukan datang dari kalangan orang-orang yang punya wawasan mendalam soal pandemi COVID-19, ataupun influencer yang suka mempromosikan protokol kesehatan.

Alkisah seorang pemuda masjid di Bekasi yang memantik adu mulut karena seorang jamaah pakai masker saat salat. Menurut kepercayaannya, dalam Al-Qur’an tak ada ajaran untuk pakai masker saat menjalankan ibadah.

Sementara itu, dari Surabaya, seorang pemuda di suatu mall dengan bangga memamerkan dirinya yang tak pakai masker, dan justru berteriak mengolok-olok pengunjung lain yang taat prokes.

Pembaca sudah tahu kan, apa kelanjutan kisah dari dua orang itu? Keduanya malah dinobatkan jadi duta masker. Hal inilah yang membuat sebagian dari masyarakat naik pitam.

Dari mana logika para pembuat kebijakan dan yang mengangkat mereka menjadi duta berasal? Bagaimana bisa, seorang pelanggar malah diangkat menjadi duta yang harusnya menjadi contoh bagi orang lain? Begitu paling tidak yang juga dikatakan Om Deddy Corbuzier di salah satu potkes “close the door”-nya.

Eits, tapi cara ini tak sepenuhnya salah, loh! Dalam ilmu psikologi, ada yang namanya reward atau penghargaan, dan punishment atau hukuman. Penelitian menyebut, memberi penghargaan lebih efektif daripada menjatuhi hukuman. Gak percaya? Sini saya jelaskan.

Menurut ilmu neuroscience untuk menjelaskan reward, seseorang akan berusaha keras dan melakukan suatu aksi. Ada sinyal di otak yang dipantik oleh neuron dopaminergik di bagian otak tengah yang bergerak ke motor cortex, dan memengaruhi aksi atau perilaku kita.

Mangkanya waktu kecil, kita diiming-imingi orang tua akan dibelikan es krim kalau nilai matematika bagus. Kita lalu berusaha keras untuk belajar siang-malam, mengerjakan soal ujian dengan sungguh-sungguh, agar meraih penghargaan yang telah dijanjikan orang tua.

Sebaliknya, punishment membuat seseorang berusaha untuk menghindari bahaya dengan cara tidak melakukan suatu aksi. Sinyal di otak yang terjadi hampir sama ketika kita memproses reward. Bedanya, punishment membuat sebuah efek “freeze” di otak, sehingga kita tidak jadi melakukan suatu tindakan.

Misalnya, kita diperingati orang tua untuk tidak suka memanjat pagar agar tidak jatuh. Karena kita tahu jika jatuh menyebabkan sakit, berdarah, dan luka, maka kita tak jadi melakukannya.

Nah, dari kedua reaksi otak dan aksi yang ditimbulkannya, peneliti tersebut menyebut otak lebih mudah menerima informasi positif ketimbang negatif. Artinya, ya manusia normal akan lebih mengejar reward dan menjalankan aksi, ketimbang menghindari aksi untuk tidak mendapat punsihment.

Sudah banyak contohnya kata ilmuan. Misalnya orang akan lebih mudah untuk dimotivasi berolahraga dan makan makanan sehat dengan sejumlah reward kecil berupa hadiah, daripada diingatkan tentang bahaya obesitas dan penyakit. Selain itu, masih buanyak contoh penelitian tentang persoalan ini.

Paling mudah lihat ke diri sendiri saja. Kita lebih suka diberi pujian (reward) oleh bos saat kerjaan kita baik. Kita jadi ingin terus-terusan kerja maksimal agar dipuji lagi. Sebaliknya, kita jadi bekerja makin males-malesan dan setengah hati, ketika terus-terusan diberi punishment oleh atasan. (hehe maaf curhat pengalaman pribadi)

Hal yang sama sebenarnya berlaku pada si duta masker, atau duta-duta lain termasuk Duta Sheila on 7. (sorry iki dicoret wae soale guyonane garing koyok bapack-bapack komplek)

Memberi jabatan sebagai duta sama saja dengan memberi penghargaan baru. Sekaligus justru menjadi tanggung jawab. Sebab, setelah menjadi duta, seseorang akan sadar bahwa dirinya menjadi panutan atau tolok ukur masyarakat.

Seperti pemuda di Bekasi yang bernama Nawir itu. Ia kini mengambil hikmah dari ribut-ribut soal masker dan salat itu. Kini ia jadi aktivis mengingatkan jamaah agar memakai masker sebelum memasuki area masjid. Bahkan ia membagi-bagikan secara gratis masker dan hand sanitizer.

Jika dibina baik-baik, pemuda-pemuda pengikut konspirasi elit global yang tak percaya COVID-19 bisa berubah 180 derajat, justru menjadi pelaku protokol kesehatan yang paling taat.

Jangan-jangan, Indonesia harus mulai memikirkan kembali mengapa rakyatnya sulit sekali memakai masker dan menjaga jarak. Seluruh sanksi sosial dan denda para pelanggar prokes mungkin tak cukup efektif. Justru sebaliknya, sediakan saja dana untuk mengangkat duta-duta baru. Selamat mencoba!

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Editor Picks