Menyoal Kegalauan Mahasiswa Baru yang Merasa Salah Pilih Jurusan 0 729

Oleh: Jaysen Brian Susanto*

Ketika dulu bekerja sampingan sebagai guru les Fisika untuk mengisi liburan, para camaba (calon mahasiswa baru) sering meminta pendapat saya mengenai perguruan tinggi. Pernah suatu ketika, ada yang berkata seperti ini.

Mas, saya sudah diterima di ***, tapi gak suka sama jurusannya, rasanya pingin ikut tes lagi.”

Saya pun menjawab, “Lah, kalo gak suka sama jurusannya, ngapain daftar di sana?”

Itu sekadar pendahuluan. Mungkin beberapa dari Anda mangkel bacanya (termasuk saya sendiri). Padahal, ia hanya tinggal mendaftar ulang, sedangkan teman-temannya di luar sana masih harus berjuang, bergelut dengan buku-buku  tebal, dan soal-soal yang tiada habisnya. Bagaimanapun, kasus-kasus semacam ini memang sering terjadi pada camaba yang mendaftar perguruan tinggi, baik itu PTN (Perguruan Tinggi Negeri), PTK (Perguruan Tinggi Kedinasan), maupun PTS (Perguruan Tinggi Swasta).

Setiap tahunnya, sekitar 3,5 juta siswa lulus dari SLTA sederajat. Meskipun tidak semuanya melanjutkan kuliah, tetap saja daya tampung universitas masih jauh lebih kecil daripada jumlah pendaftar yang ada. Oleh karena itu, lebih sering kita mendengar “isak tangis” daripada “tangis haru”.

Lalu, bagaimana dengan yang sudah mendapatkan kursi, namun memilih untuk ikut tes masuk di perguruan tinggi lain? Apabila ia diterima (lagi), ia harus memilih salah satu (atau salah banyak) untuk dilepaskan. Kursi tersebut akhirnya menjadi kosong dan akan tetap kosong! Dengan kata lain, pihak universitas tidak mau susah payah mencari penggantinya.

Tentunya banyak pihak yang dirugikan, terutama bagi camaba yang benar-benar menginginkan jurusan tersebut. Beginilah reaksi netizen yang saya temukan baik di Instagram atau Twitter secara umum menanggapi masalah ini:

Ah contoh manusia kurang bersyukur!”

“Manusia emang gak pernah puas, ya!”

Kufur nikmat!”

“Kasih kesempatan buat yang lain, lah! Dasar EGOIS!”

Oke, cukup!

Di sini muncul kata baru “egois” yang artinya tindakan mementingkan diri sendiri di atas kepentingan orang lain. Sebelum kita membahas apakah tindakan tes PTN lagi termasuk ‘egois’ atau tidak, terdapat beberapa poin penting yang harus diketahui.

Yang pertama, kita sadar bahwa setiap orang memiliki visi hidup. Visi tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk life-plan atau rencana hidup, salah satunya berkuliah. Merencanakan kuliah (menentukan jurusan dan kampus) itu bukan perkara mudah.

Butuh pertimbangan yang mendalam. Memahami minat dan bakat, konsultasi dengan orang terdekat, bahkan sampai menelusuri jati diri untuk memastikan jurusan yang dipilih tepat atau tidak. Bukankah kita sudah sering mendengar berita mahasiswa mengakhiri hidup karena tidak sanggup menjalani perkuliahan?

Lalu, pasti ada yang bertanya-tanya, kalau sedari awal sudah mengetahui minat dan bakat, mengapa sampai harus gonta-ganti jurusan? Pada kenyataannya, tidak sesederhana itu! Seperti yang kita ketahui, manusia adalah makhluk yang memiliki akal, budi, dan perasaan!

Misalkan saya ingin masuk ke universitas A, jurusan B. Ada juga orang di luar sana yang mempunyai mimpi serupa. Malah bukan hanya ada, tapi banyak! Itulah persaingan.

Setiap orang menanggapi persaingan dengan sikap yang berbeda. Ada yang optimistis, ambisius, pragmatis dan ada juga yang pesimistis. Dua tipe terakhir ini merasa kurang percaya diri, minder, dan takut gagal. Alih-alih memperjuangkan mimpinya, mereka memilih untuk “berhenti di tengah” dan “cari aman” dengan mendaftar jurusan lain yang tidak sesuai minat. Setelah dinyatakan lolos, mereka kemudian menyesal, lalu kembali mengejar mimpinya yang sudah ‘dikubur’ itu.

Ada juga yang sekadar ingin coba-coba untuk menguji kemampuan, padahal sebenarnya ia tidak benar-benar ingin lolos.

Kemudian terdapat faktor eksternal, salah satunya adalah orang tua. Sungguh bahagia rasanya ketika orang tua mendukung jurusan apapun yang diminati anaknya. Tapi, bagaimana jika sebaliknya? Yang didapat justru bukan dukungan, melainkan cemoohan. Hal ini akan berdampak pada psikis dan mental camaba serta menghancurkan mimpi-mimpi mereka.

Ada juga kasus di mana orang tua sebenarnya mendukung, hanya saja terkendala ekonomi. Pada akhirnya, tidak sedikit yang memutuskan untuk mengundurkan diri dan mengikuti tes di lain tempat.

Lalu, kembali ke topik awal. Tidak etis rasanya jika mereka yang tidak lolos tes menyalahkan secara sepihak karena yang lolos melepaskan kursinya. Bisa saja mereka telah belajar dengan keras, mempersiapkan diri sebaik mungkin, namun tidak jadi mengambilnya karena suatu alasan. Siapa yang lebih siap bersaing, dialah yang akan menang.

Namun, jika pembaca menganggap tindakan ini sebagia egois, penyebabnya ada dua kemungkinan: Anda hanya merasa tidak senang, atau Anda pernah menjadi korban dari ‘ketidakadilan’ ini. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa tindakan ini juga merampas hak dan kesempatan orang lain untuk dapat berkuliah.

Pada akhirnya, persoalan egois atau tidak, semua itu kembali ke sudut pandang dan pola pikir masing-masing. Saya berharap artikel ini dapat memberikan wawasan baru dari sudut pandang yang berbeda, tanpa berusaha untuk mengajak debat atau percekcokan yang tidak perlu.

 

*) Lahir di Mataram pada 29 Oktober 2001, kini Penulis menuntut ilmu di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Mohon maaf bagi para gadis di luar sana, karena Penulis telah mengabdikan cinta matinya kepada Matematika dan Fisika.

*)Tulisan ini juga dimuat di e-Book “Eka-citta Writing Workshop Kamadhis UGM 2020” dan diedit seperlunya oleh tim redaksi.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alasan untuk Jangan Keburu Alergi terhadap Soal Hitungan di Tes Seleksi Kerja 0 123

Mengapa musti sulit belajar matematika dari TK sampai SMA? Sedang di kehidupan nyata cuma untuk menghitung uang kembalian, itupun sekarang sudah ada kalkulator? Telanjur capek-capek belajar dari bilangan eksponen, matriks, trigonometri, sampai geometri, gak bakalan dipakai buat bekal hidup!

Barangkali banyak dari Pembaca budiman yang beranggapan demikian. Apalagi kalau Pembaca bekerja atau berkuliah di luar jalur sains, pasti setuju kalau belajar matematika sampai muntah cecek ternyata tak berguna. Ada juga yang kesal dengan sistem seleksi calon karyawan yang menggunakan soal matematika (dalam TPA), sehingga kembali bertemu angka-angka brengsek itu.

Terlanjur move on dari matematika saat kuliah, banyak teman saya yang kaget harus kembali belajar matematika untuk kerja, sebal harus kembali berhadapan dengan musuhnya saat sekolah dulu. Dan itu termasuk saya. Namun, seorang pelanggan toko mengirim wahyu yang mengubah (dengan radikal dan revolusioner) pandangan-pandangan saya.

Suatu hari, seorang laki-laki tambun datang ke toko saya untuk membeli kaca untuk dekorasi kafenya. Ia minta dipotongkan kaca berbentuk segitiga sama kaki dengan alas 1 meter dan panjang kaki sebesar 20 cm. Sontak saya dan orang tua saya kaget dengan kompak.

“Mana bisa, Mas? Kan alasnya semeter, kalau sisinya 20 cm dong jadinya gini?” Jelas Mama saya sambil menunjukkan bentuk sisi segitiga yang tidak bisa menyatu. Ya, mirip pacaran berda agama.

Orang itupun nampak bingung.  “Berapa bisanya? Kalau 30 cm bisa gak?” Tanya orang tersebut.

“Ya gak bisa, Mas. Paling nggak sisi-sisinya semeter, nanti jadinya segitiga sama sisi,” jawab Papa saya.

Bukannya merasa tercerahkan, orang tersebut masih nampak bingung dengan urusan segitiganya. Padahal, selama sekolah, kita sudah mati-matian dihajar oleh segitiga. Dari yang paling sederhana, mencari keliling, hingga utak-atik sisi dan sudut menggunakan trigonometri. Kalaupun semisal mas-mas tersebut hanya lulusan SD, seharusnya ia sudah pernah belajar jenis-jenis segitiga, sifat-sifat segitiga, dan triple pythagoras.

Untuk mencari sisi yang pas untuk segitiga mas-mas tersebut sendiri cukup mudah. Yang paling gampang bisa menyamakan sisi kaki dengan sisi alasnya. Atau, kalau mas-mas tersebut kekeuh dengan bentuk segitiga sama kaki, bisa menggunakan angka triple pythagoras dan hasilnya adalah 130 cm.

Kejadian ini menunjukkan saya bahwa problem matematika di kehidupan sehari-hari tidak melulu soal uang. Selain masalah logika sederhana seperti tadi, pengetahuan matematis juga akan dijuji saat Anda mengerjakan tes IQ atau tes potensi akademik (TPA). Tes-tes itu, pembaca tahu, banyak diajukan dalam tes seleksi kerja atau CPNS.

“Lho, kan tidak semua orang dikaruniai kecerdasan numerikal?”

Yak, benar memang. Tes IQ sendiri juga banyak menuai kontra karena dianggap hanya melihat kecerdasan numerikal, linguistik, dan spasial. Tapi, bukan berarti Anda memilih untuk alergi apalagi fobia dengan urusan angka.

Saya sendiri menyarankan Anda untuk sesekali mengerjakan soal matematika sederhana seperti soal-soal TPA tatkala menganggur. Tenang, ini bukan rekomendasi abal-abal seperti inpluenser lokal (Baca: Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi). Tersebab, saya sudah melakukan riset kecil-kecilan mengenai kecerdasan.

Banyak teman saya yang lesu putus asa saat harus kembali belajar matematika untuk bisa mengerjakan TPA saat melamar pekerjaan. Sifat alergi itu datang lantaran pikiran mereka hanya dibayangi oleh bejibun angka-angka, tanpa tahu tujuan dari tes tersebut.

Secara sains, mengerjakan soal seperti ini terbukti meningkatkan IQ Anda. Dengan mengulas lagi pelajaran yang sudah usang, ikatan antar saraf otak Anda akan kembali terjalin dan menguat. Hubungan antar syaraf (sinapsis) pada otak inilah yang menentukan kecerdasan manusia.

Peningkatan IQ ini tidak hanya terkait kecerdasan numerikal saja. Setidaknya menurut pengalaman saya, mengerjakan soal TPA meningkatkan kemampuan menganalisis pola-pola dalam sebuah masalah, dan kemudian mencari solusinya. Mungkin, inilah mengapa banyak sekali perusahaan dan instansi yang menggunakan soal TPA untuk menyeleksi calon karyawan. Sekali lagi, bukan melihat kecerdasan numerikal namun identifikasi pola dalam masalah dan mencari solusinya.

Selain meningkatkan kecerdasan, belajar matematika juga melatih ketelitian. Saya rasa untuk poin ini, Anda sudah mengerti. Hal ini karena hasil yang benar tidak akan didapatkan apabila terdapat kesalahan dalam menghitung.

Di samping menguji ketelitian, mengerjakan soal matematika juga menguji kesabaran.  Tak jarang kita harus menghitung ulang saat tidak menemukan jawaban kita di pilihan jawaban…

Dan yang terakhir itu adalah manfaat tak terelakan, minimal meningkatkan kapasitas imej Anda di mata anak-anak kelak. Bayangkan bila suatu hari nanti anak-anak Anda meminta bantuan mengerjakan soal matematika sederhana, tetapi Anda tidak bisa mengerjakannya….

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

Ibadah yang Tertinggal di Ramadhan: Refleksi Diri Bagi Golongan Sok Sibuk 0 184

Oleh: Edeliya Relanika*

 

*Peringatan: Ini bukan artikel dakwah, jadi jangan cari petunjuk religi di bacaan ini

 

Yah, tak terasa Ramadhan di tahun 2021 sudah berlalu. Lebaran bahkan sudah lewat lebih dari seminggu lalu. Tapi kok hidup tetep gini-gini aja, gak ada fitri-fitrinya. Sedih rasanya harus melewatkan Ramadhan dengan begitu cepat—yang tentu saja masih digandeng mesra sama si COVID-19.

Selama Ramadhan kemarin, aku telah tertimbun oleh beratnya tugas kuliah dan proyek kepenulisan. Bukan karena aku jadi materialis dan sekonyong-konyong berorientasi pada pencapaian duniawi, aku juga banyak mulai memikirkan hal yang bahkan belum disadari pada Ramadhan beberapa tahun ke belakang:

Kehilangan kesempatan beribadah Ramadhan saat kita beranjak dewasa, akibat disibukkan dengan pencapaian duniawi yang paradoksal.

Menjadi lebih tua nyatanya bisa membuat kita jadi lebih sibuk pada hal-hal profan. Jika diputar ke sisi lainnya, pencapaian duniawi itu toh juga akan berhenti saat kita meninggal dunia. Mungkin warisan pencapaian itu masih akan tersimpan dan dinikmati oleh keturunan kita. Namun, apakah pencapaian duniawi itu akan menina bobokkan kita di alam kubur?

Mudah saja bagi orang dewasa muda hingga tua untuk memafhumkan pelewatan beberapa ritual ibadah Ramadhan—yang biasa rutin dijalankan ketika waktu lebih muda dahulu. Sebelum aku menjadi lebih tua dan semakin malas beribadah (karena sok sibuk banyak kerjaan), ada beberapa poin catatan pribadi yang mungkin bisa relate dengan para pembaca Kalikata, dan mungkin bisa diterapkan di Ramadhan tahun depan: (karena sesungguhnya Ramadhan tiap tahun harusnya membuat kita manusia yang lebih baik khan, azeq)

Tidak skip ibadah lima waktu salat fardu saat di tengah hari berpuasa.

Dengan alasan banyak tugas dan pekerjaan lainnya (masih yang bersifat duniawi), banyak dari golongan sok sibuk (((seperti aku dan kamu))) yang seringkali lalai untuk melaksanakan salat fardu lima waktu secara full time. Nah, itu ibadah wajib jangan sampai kalian skip kayak iklan di YouTube yang masih belum premium.

 

Kalau tugas ber-deadline tengah malam, mending coba salat Tarawih dulu saja.

Kalau kalian memiliki waktu luang sekitar pukul 7 hingga 9 malam, sempatkanlah untuk salat Tarawih. Bukannya malah latihan joget Tiktok biar masuk fyp. Kalau masih ada tanggungan tugas gimana dong, kak? Coba saja tugas tersebut diselesaikan di pagi, siang, atau sore harinya.

 

Jangan suka begadang nugas atau kerja hingga waktu sahur, lalu jadi kelelawar dan bobok hingga waktu berbuka puasa.

Ini sih dilema para pelajar (apalagi mahasiswa) dan pekerja lainnya. Udah skip banyak ibadah Ramadan dengan alasan kecapaian, eh tapi malah kuat begadang kerja hingga sahur. Kalau kasusnya seperti itu, cobalah kalian pikir ulang. Untuk nugas saja kuat; mengapa untuk ibadah sebentar saja malah banyak alasan? Xixixi.

 

Coba mendaras ayat-ayat Alquran secara konsisten, walau tak sampai puluhan ayat jumlahnya.

Bagi kalian yang berniat untuk membaca Alquran walau pun tidak khatam, tidak apa-apa. Belajarlah konsisten untuk tak luput memaknai isi Alquran. Kalau bisa khatam Alquran di bulan Ramadhan, tentu lebih baik lagi! Biar tiap tahun ada faedahnya Ramadhan kita.

 

Jangan lupa banyak beramal dan bersabar.

Kemenangan Hari Raya nanti akan menjadi lebih bermakna, apabila Ramadan ini dapat kita jalankan dengan beban yang diringankan bersama ikhtiar serta qonaah.

 

Catatan refleksi ini kuharap akan terus berakar dan bertumbuh; dalam menyadarkan kekhilafan kita yang suka skip berbagai ritual ibadah di bulan Ramadhan. Semangat berubah untuk lebih baik boleh-boleh saja berkembang, namun jangan dengan kemalasan diri pada golongan sok sibuk seperti kita hehehe.

Tumben banget Kalikata serius.

 

*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya. Tinggal di Gresik, dan menghasilkan karya dari hobi menulis, salah satunya “Antroposen” di Gramedia Writing Project (Instagram: @edeliyarerelala).

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks